MERENUNGKAN HIDUP LEWAT PERAYAAN EKARISTI

“Akulah roti hidup” kata Yesus dalam Injil hari ini, “Barangsiapa makan roti ini, ia tidak akan mati.” Yesus menunjuk Diri-Nya sendiri, barangsiapa percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal. Kehadiran Yesus yang real, bukan sekadar kenangan, tetapi hadir sekarang di sini menujuk pada Ekaristi yang kita rayakan hari ini. Dalam Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan liturgi Gereja. Dalam perayaan itu, simbol roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus lewat tangan imam. Barangkali sudah biasa kita dengar, dalam Perayaan Ekaristi, kata-kata ini diucapkan oleh imam ketika ia mengamdil roti: Dia mengambil (dipilih) roti, mengucap syukur dan memuji (diberkati) Dikau, memecah-mecahkan (dipecah-pecahkan) roti itu, dan memberikanNya kepada murid-muridNya. Kata “diambil/dipilih”, “diberkati”, “dipecah-pecahkan”, dan “dibagi-bagi” adalah juga simbol hidup kita manusia dan menjadi permenungan kali ini.

Hidup yang Dipilih…

 

Entah siapa pun kita, anak-anak maupun orang tua, baik kaya maupun miskin, baik hitam maupun putih, baik…maupun…., adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Kita berharga di mata Tuhan, kita sangat unik, khas, dan istimewa. Untuk kita masing-masing, rencana Tuhan sangat indah. Katanya, dari keabadian, sebelum dilahirkan dan menjadi bagian dari sejarah kita sudah berada dalam hati Allah. Nilai dan keistimewaan kita tidak ditentukan oleh dunia, tetapi karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi (bdk.1Yoh:10). Kalau anda dipilih itu BUKAN berarti bahwa orang lain ditolak, melainkan sebaliknya, orang lain semakin kita cintai terutama karena mereka berbeda dari saya. Karena “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah juga kita saling mengasihi…Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita” (1Yoh 4:11-12).

Hidup yang Diberkati….

 

Dalam bahasa Latin, kata “memberkati” adalah benedicere yang berarti berbicara (dictio) baik (bene), mengatakan sesuatu yang baik. Kadang-kadang memang sulit mengatakan/membicarakan hal yang baik. Yang bahkan biasa terjadi adalah sebaliknya, kata-kata kita lebih gampang membicarakan kelemahan dan kekurangan sesama di sekitar kita. Maka, tidak mengherankan bahwa tindakan memuji sulit kita dengar kecuali dari orang-orang yang memang senantiasa menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah besar dari Tuhan.

Ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, kata-kata ini terdengar dari langit, “Engkau adalah Anak yang Kukasihi, kepadaMu Aku berkenan”. Berkat inilah yang menyertai Yesus dalam misi-Nya di dunia, baik dalam kekaguman maupun hinaan. Dalam hidup kita kerap mengalami saat-saat gelap juga. Dalam saat-saat itu jiwa kita sebenarnya membutuhkan hiburan dalam keheningan. Ya..dalam keheningan dan doa, di sana akan mampu mendengar suara Dia yang mengatakan bahwa kita adalah “Anak yang Dikasihi”. Bunda Theresia mengatakan: “Keheningan membuatmu selalu melihat dengan cara baru, hal-hal yang barangkali sudah sangat biasa!” Dalam dunia modern yang terlalu sibuk ini, kita ditantang untuk selalu peka mengalami berkat yang ada di sekeliling kita setiap hari. Suara Tuhan memang sangat halus, bahkan terlalu halus, sehingga kita perlu menajamkan mata dan telinga. Dan rupanya berkat-berkat itu tidak harus kita cari-cari, selalu ada di sekitar kita: pengemis yang mengulurkan tangannya, teman yang sedang dalam masalah/kesulitan, kegiatan harian kita, tanaman dan apa saja di sekeliling kita,…..

Hidup yang Dipecah-pecahkan….

 

Orang Katolik selalu menandai diri dengan tanda salib. Di salib tampak cinta Allah yang total kepada kita. Itu juga lah yang kita rayakan dalam Ekaristi. Dengan mengatakan, “Barangsiapa tidak menyangkal dirinya dan memanggul salib dia tidak layak menjadi pengikutku”, Yesus sebenarnya bukan mau menyampaikan suatu aturan kepada kita. Di atas semua itu, Yesus mau menggambarkan kenyataan hidup kita yang nyata-nyata memang tidak bisa lepas dari kesulitan dan penderitaan. Ada penggalan tulisan (M.Scott Peck) mengatakan demikian: ”Hidup itu pada prinsipnya adalah sulit. Ini merupakan kebenaran yang agung, salah satu dari kebenaran-kebenaran yang paling agung… Sebagian besar orang tidak sepenuhnya melihat kebenaran ini, yakni bahwa hidup itu sulit. Malahan, mereka mengeluh tiada hentinya, entah ribut entah pelan, tentang besarnya masalah mereka, beban mereka, dan kesulitan-kesulitan mereka, seolah-olah biasanya hidup itu mudah, seakan hidup itu seharusnya mudah…Saya tahu mengenai keluhan ini karena saya telah mengalaminya. Hidup adalah serangkaian persoalan.”

Saya sangat yakin, bahwa penderitaan kita masing-masing tidak sama. Namun, kita harus yakin juga, bahwa penderitaan dan keterpecahanku menyatakan keistimewaan diriku sebagai anak Allah yang dikasihi. Bila anda tidak pernah mengalami masalah, anda perlu berlari kencang dan masuk kamar berdoa sambil menangis: ”Tuhan, apakah Engkau tidak mempercayaiku lagi sehingga Engkau tidak memberi aku masalah?” Tuhan tahu, hanya lewat masalah dan persoalan manusia menjadi semakin kuat. Tidak jarang, musik yang sangat terkenal, lukisan atau pahatan yang terbaik serta buku yang paling banyak dibaca adalah ungkapan dari keadaan manusia yang terpecah-pecah. Yesus harus menderita dan pasrah, ”Bukan kehendakKu melainkan kehendakMulah terjadi!”

Hidup yang Dibagi-bagikan….

 

Hidup kita menjadi indah bila kita ‘memberi’ dan ‘menerima’ (TAKE & GIVE). Hidup kurang berarti bila hanya menerima dan menyimpan dalam diri. Mengapa memberi diri itu juga indah? Katanya, karena hidup kita sendiri adalah pemberian dari Allah. Di Palestina ada dua laut: Laut Galilea dan Laut Mati. Air danau Galilea jernih, dapat diminum, ikan-ikan hidup di dalamnya. Di pinggiran danau itu terdapat ladang hijau dan perumahan penduduk. Sebaliknya dengan Laut Mati. Asin dan tak seekor ikan pun hidup di dalamnya. Tak seorag pun yang ingin tinggal dekat laut ini, karena baunya yang tak sedap. Yang menarik ialah ada satu sungai, Yordan, mengalir ke keduanya. Danau Galilea menerima aliran sungai dan mengalirkannya lagi, sementara Laut Mati menerima dan menyimpannya. Laut Mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya. Hal itulah yang membuatnya mati, karena hanya menerima dan tidak memberi.

Seseorang dihargai bukan karena apa (pangkat, jabatan, dll) yang dimilikinya, tetapi karena apa yang dia berikan. Keterpecah-pecahan membuat kita semakin mampu saling membagikan kehidupan. Hal ini bisa kita rasakan bila ada orang yang membagirasakan beban dan penderitaannya kepada kita (sharing). Itu membuat kita juga akan terbuka membagikan beban hidup kepadanya, ini menjadi ungkapan saling kepercayaan.

Leave a comment »

MEMBELA IMAN TRINITER (ben’z)

Hantaran Awal

 

Rumusan baku Gereja tentang Trinitas (Allah Tritunggal), sebagaimana sekarang ini, tidak terjadi begitu saja: butuh proses yang panjang dalam perjalanan sejarah Gereja. Gereja berkembang dan bertumbuh dalam sejarahnya.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru sendiri sebenarnya ’tidak ada’ eksplisit ajaran tentang Allah Tritunggal. Hal ini tidak mengherankan sebab pada umumnya kitab suci Perjanjian Baru kurang bermaksud menyampaikan ajaran tertentu. Tujuan utamanya adalah memaklumkan Kerajaan Allah. Namun, akar-akar ajaran Trinitas dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tersebut. Akar-akar ajaran Trinitas itu bisa dipahami demikian.

Allah Perjanjian Baru adalah Allah Yang Esa. Lingkungan agama kristiani yang asali, yaitu agama Yahudi, amat ketat monoteismenya. Berlawanan dengan politeisme yang dianut oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal YHWH. Monoteisme dipeluk bersama-sama oleh orang Kristen dan orang Yahudi meskipun pemahaman yang berbeda-beda.

Selain percaya akan Allah dalam arti YHWH, Allah Abraham dan Allah Ishak, orang Kristen juga percaya akan Yesus Kristus. Berkat terjadinya peristiwa Yesus dalam sejarah umat manusia, kita diperkenalkan dengan misteri Trinitas. Bisa dikatakan bahwa setelah Yesus dari Nazareth hilang dari panggung sejarah mulailah berkembang sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai “kristologi”. Mereka yang dahulu menjadi pengikut Yesus mulai memikirkan, mengkonseptualkan dan membahasakan Yesus dan pengalaman mereka dengan Yesus. Kesadaran akan situasi itu hanya bisa menimbulkan rasa kagum atas prestasi teologis yang menjadi jasa unggul dua-tiga generasi kristen pertama seperti yang tercantum dalam karangan-karangan Perjanjian Baru.

Kita semua tahu: iman para murid berakar dalam peristiwa kebangkitan. Yesus yang telah bangkit itu dikenal sebagai Anak Allah (Rm 1:4). Hanya dalam rangka kepercayaan akan Allah, Sang Bapa, maka pengakuan iman akan Yesus itu memperoleh bobotnya.

Kristus yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa itu diyakini sebagai Juru Selamat yang bersatu dengan Bapa secara tak terpisahkan dan tak terbandingkan, dan dengan cara itu juga menjadi gambar Allah (2 Kor 4:4; Kol 1:15). Dalam diri Yesuslah, Logos ilahi yang pada awal mula bersama-sama dengan Allah telah menjelma menjadi manusia. Dengan demikian ditegaskan di sini bahwa Yesus Kristus itu pra-ada: Ia sudah ada sebelum Ia di bumi ini (Yoh 1:1-18). Juga beberapa teks lain menyebutkan atau mengandaikan pra-eksistensi Kristus itu (Flp 2:5-11; Rm 8:32; 2 Kor 8:9). Pelbagai pengarang Perjanjian Baru berpikir tentang Yesus sebagai Allah, tanpa melepaskan keyakinan bahwa Yesus pun seorang manusia sejati.

Pemahaman akan Kristus yang sedang berkembang dalam umat purba itu ditentukan juga oleh Roh Kudus sebagai nilai pengalaman yang lain di samping Bapa. Roh hanya dapat didekati melalui Kristus, dan Kristus melalui Roh. Maka, Roh Kudus tidak dapat disamakan dengan Bapa maupun dengan Putera. Menyadari bahwa dalam ketiga nama ilahi termaktublah seluruh tindakan penyelamatan, Paulus merumuskan ucapan berkah: ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13).

Dalam tulisan lain Perjanjian Baru masih terdapat beberapa teks lain yang menyebutkan triade Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam arti yang ketat, rumus ini memang belum dapat dikatakan ”trinitaris” karena ketiga nama itu hanya dideretkan saja tanpa merefleksikan keesaan Allah. Juga Ef 4:4-6 tidak memberikan penjelasan lebih lanjut walaupun menekankan kata ”satu”: orang kristen percaya akan satu Allah, bukan tiga allah. Begitu pula perintah untuk membaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19) tidak memaksudkan tiga nama melainkan satu, sebagaimana tampak dari bentuk tunggal dari kata Yunani onoma (nama). Pengakuan akan Allah yang satu itu rupanya tidak menghindari Santo Paulus untuk juga mengakui Tuhan yang satu (1Kor 8:6;bdk. Gal 3:20; 1Tim 2:5) dan Roh yang satu (1Kor 12:11-13).

Bapa: Sumber Keilahian

 

Allah berada dalam “hierarki asal-usul” (Hierarchy of origin): Bapa sebagai sumber keilahian, dari pada-Nya dilahirkan Putera dan Roh Kudus. Dalam karya teologisnya yang terbesar, “De Principiis” (Prinsip-prinsip yang Pertama), Origenes memulai pernyataan dengan mengatakan bahwa Allah adalah roh. Ia adalah cahaya. Mata kita, bagaimanapun, tidak akan dapat melihat kodrat cahaya Allah. Namun, sedikit saja dari cahaya itu dapat menerangi tubuh kita yang fana.

Dalam diri orang-orang Kudus, Allah berkarya secara nyata. Dan, hal ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak memiliki tubuh, tetapi Ia hadir dan menjiwai orang-orang kudus tersebut. Allah dikatakan roh untuk membedakan Allah dari makhluk-makhuk yang bertubuh. Dan Yesus menamai Allah kebenaran untuk membedakan-Nya dari bayang-bayang dan gambaran hampa.

Allah sendiri tidak dilahirkan (agennetos). Ia bebas dari segala materi. Oleh karena itu, Origenes sangat tegas menghindari gambaran dan pemahaman-pemahaman antropomorfisme yang dialamatkan kepada Allah. Allah tidak bisa dipikirkan sebagai Dia yang memiliki tubuh atau makhluk yang bertubuh, tetapi suatu kodrat intelektual saja (simplex intellectualis natura). Di dalam Dia tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang tetapi segala-galanya sempurna. Dia adalah permulaan segala sesuatu.

Putera sebagai ‘Deuteros Theos’ dan Pengantara

 

Putera dilahirkan dari keabadian dan menjadi pengantara antara Allah dan dunia. Menurut Origenes, kelahiran Putera dapat dibandingkan dengan Hikmat sebagaimana terdapat dalam Ams 8:22-25, “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir.” Hal ini juga terdapat dalam tulisan pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Kor 1:24).

Pemikiran Origenes tentang Putera sebagai Hikmat Ilahi ini sebenarnya sudah lazim dalam tradisi Kristen-Yunani. Firman itu sezat dengan Allah yang satu dan esa. Tidak terlalu jelas bagaimana Origenes memikirkan relasi antara Firman/Hikmat ilahi dan Allah. Origenes untuk pertama kalinya dalam rangka kristologi memakai istilah “homo-ousios”, yang sebenarnya merupakan istilah yang sudah lama ada dalam kaum gnostisisme. Maka Origenes dapat menyebut Firman itu sebagai Allah. Rupanya Firman itu dipikirkan sebagai semacam ‘emanasi’ (kekal) dari Allah. Hal ini melatarbelakangi mengapa Origenes menyebut Firman itu sebagai “Allah kedua (deutheros Theos)”.

Firman itu adalah Pengantara, melalui Dia Allah menciptakan segala sesuatu. Tetapi penciptaan itu terjadi dalam dua tahap. Firman Allah, ialah Hikmat dan gambaran-Nya mengandung di dalam diri-Nya segala cita-cita makhluk. Lalu dalam langkah pertama diciptakan dunia rohani, yang terdiri atas cita-cita, gambaran-gambaran, bagan segala makhluk. Itulah tingkat tengah kosmos. Akhirnya menurut gambaran-gambaran itu tingkat bawah dijadikan.

Firman/Anak Allah yang pra-eksisten itu benar-benar menjadi manusia, secara utuh-lengkap, serupa dengan manusia lain. Origenes menekankan bahwa pada Yesus Kristus ada ”dua kodrat”, yang ilahi dan manusiawi. Kedua kodrat itu dipersatukan oleh Firman/Anak Allah itu. Dengan demikian Firman/Anak Allah ”menghampakan diri” dan Ia serentak Allah (Ilahi) dan manusia. Origenes menerima apa yang disebut ”communicatio ideomatum”, artinya: dua rangkaian ciri (ilahi dan insani) tergabung dalam satu subjek sehingga subjek itu dapat bergilir ganti disebut menurut ciri-ciri yang berbeda itu, sehingga ciri-ciri yang berbeda itu serentak dikatakan mengenai subjek yang sama.

Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, menyelamatkan seluruh manusia. Origenes mengulang dan memperuncing prinsip karya penyelamatan yang menegaskan: apa yang tidak dipersatukan dengan Firman, tidak diselamatkan pula. Dalam rangka komentarnya atas Roma 3:8 Origenes dengan panjang lebar menguraikan tradisi yang mengartikan kematian Yesus di salib sebagai korban pemulihan dan penyilih dosa, korban pendamaian. Dosa-dosa manusia menuntut penyilihan dan pemulihan. Dan Kristus dengan rela dan sebagai pengganti orang berdosa dan Imam besar menawarkan diri menjadi korban pendamaian.

Roh-Kudus sebagai Pengudus (Sanctifier)

 

            Allah, dengan cinta yang besar, menciptakan Roh-Kudus dengan perantaraan Logos (Sabda). Maka hubungan Roh-Kudus dan Putera terutama sangat erat bagaikan kesatuan tubuh dan jiwa (seperti bara api dan api).

            Roh-Kudus berfungsi sebagai Pengudus. Ia memberi kekuatan dan menguduskan orang-orang pilihannya untuk memberi kesaksian seperti pengalaman Daniel yang mampu meramalkan mimpi Raja Nebukadnezar, ”Pada akhirnya Daniel datang menghadap aku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus” (Dan 4:8). Ia memberi inspirasi bagi para penulis Kitab Suci.

Roh dicurahkan hanya pada mereka yang ikut ambil bagian dalam perjalanan pendidikan ilahi demi penyempurnaan dan pengilahian, dan pada akhirnya dibentuk menjadi Anak Allah. Orang yang dicurahi Roh itu tampak dari perbuatan etis dan asketisnya. Hanya manusia yang dicurahi oleh Roh-lah dimampukan oleh Roh untuk menerima Kristus dan mengkontemplasikan Allah, demikian hanya Dia berhasil memahami dimensi spiritual yang mendalam dari Kitab Suci.

Dalam Perjanjian Baru, diceritakan bahwa Roh-Kudus turun ke atas Yesus setelah pembaptisan. Hal yang sama terjadi ketika pembaptisan di dalam Kisah Para Rasul, ” Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka” (Kis 8:16-18). Yesus sendiri pun pada akhirnya menghembusi para murid-Nya dengan Roh-Kudus, ”Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus …” (Yoh 20:22). Paulus mengatakan bahwa pengakuan kita atas siapa Yesus itu adalah karunia Roh-Kudus yang berkarya dalam diri kita, ” Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1Kor 12:3).

Karena bantuan Roh-Kudus, kita bisa mengenal siapa Bapa. Karya Bapa dan Putera dalam segala makhluk terjadi karena kekuatan Roh-Kudus. Trinitas dipersatukan oleh Roh-Cinta, yakni Roh-Kudus sehingga setiap orang dituntun untuk hidup yang lebih baik. Roh Allah itu berkarya baik dalam diri orang-orang berdosa maupun dalam diri orang-orang kudus.

Penutup: Membela Iman Trinitas: Percaya kepada Satu Allah, Tiga Pribadi

Persoalan Trinitaris pada prinsipnya adalah bahwa Allah itu satu mono + theis): satu substansi Ilahi yang mempunyai tida pribadi (Bapa, Putera dan Roh-Kudus). Tiga pribadi itu memang berbeda tetapi tida berbeda secara terputus. Maka, persoalan utama bukan unitas-multisitas (cenderung modalistik), melainkan unisitas-unitas (persekutuan dan kesatuan/relasi atau kesatuan yang ke-tiga-an). Allah itu satu dengan tiga hypostasis/triade: Bapa, Putera, dan Roh-Kudus. Namun, masing-masing pribadi memiliki kekhasan: Bapa sebagai sumber keilahian, Putera sebagai Pengantara, dan Roh-Kudus sebagai Pengudus.

Dalam buku ”Iman Katolik” diungkapkan bahwa iman kita itu esa tetapi tidak serta merta mengatakan bahwa pribadi Trinitas itu sama saja: ”Iman Kristen mengakui ”Allah itu esa”, tetapi ”esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4). ”Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, melainkan juga ”di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef 3:12).Iman akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh-Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai ”Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Maka, bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa ”Tuhan itu esa” (Mrk12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus sebagai Dia ”yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36). Orang yang      percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja, melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh karena anugerah Roh-Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.

Leave a comment »

PERTOBATAN DALAM BINGKAI SEJARAH

1. Pertobatan dalam Kitab Suci
a. Perjanjian Lama
Kata Ibrani syuv berarti berputar, berbalik kembali. Hal itu mengacu pada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama, kata yang dipakai untuk pertobatan adalah “kembalilah” (Yer 3:14), “berbalik” (Mzm 78:34), dan “bertobat” (Yer 18:8). Perjanjian Lama jarang sekali mencatat pertobatan individual (Mzm 51:14) tetapi menubuatkan pertobatan ‘segala ujung bumi’ kepada Allah (Mzm 22:28). Kalau seluruh bangsa ingin kembali damai dan sejahtera, mereka harus bertobat. Pertobatan itu bisa merupakan pertobatan yang diungkapkan dalam bentuk tanda ataupun acara kultis, seperti berkumpul untuk mengaku dosa (Ezr 9:13; Neh 9:36-37), berpuasa (Neh 9:1; Yl 1:14), mengenakan kain kabung (Neh 9:1; Yl 1:13), duduk di atas abu atau menaburkan abu di kepala (Yer 6:26; Yun 3:6), dan menyampaikan korban bakaran (Im 16:1-19).
Perjanjian Lama menekankan bahwa cakupan pertobatan melebihi duka-cita penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apapun pertobatan yang sungguh kepada Allah mencakup perendahan diri batiniah, perubahan hati yang sungguh, dan benar-benar merindukan Yahweh (Ul 4:29; 30:2,10; Yes 6:9; Yer 24:7), disertai pengenalan yang jelas dan baru akan Diri-Nya dan jalan-Nya (Yer 24:7; bdk. 2 Raj 5:15; 2 Taw 33:13). Pertobatan batin ini harus juga berdampak sosial, “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Namun, akhirnya seluruh pertobatan itu adalah karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga orang mau bertobat (bdk. Mzm 51:12; Yer 31:33).
b. Perjanjian Baru
Ada dua istilah yang dipakai oleh Perjanjian Baru berkaitan dengan pertobatan, yakni metanoia dan epistrefô. Kata metanoia muncul dalam Perjanjian Baru kira-kira 58 kali dan selalu diterjemahkan “bertobat”, kecuali Luk 17:3 (‘menyesal’) dan Ibr 12:17 (‘memperbaiki kesalahan’, yang lebih merupakan tafsiran ketimbang terjemahan). Arti asasi kata metanoia adalah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, dan pandangan. Sementara kata epistrefô muncul kira-kira 30 kali. Dalam arti harafiah kata ini diterjemahkan ‘kembali’ atau ‘berpaling’ (Mat 10:13; 24:18; Kis 16:18; Why 1:12). Kata kerja biasa strefo juga diterjemahkan ‘bertobat’ dalam Mat 18:3.
Jadi epistrefô menunjuk kepada tindakan ‘putar balik’ atau ‘pertobatan’ kepada Allah, unsur yang sangat menentukan dan dengan itu orang berdosa masuk ke dalam eskatologis Kerajaan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus dan menerima pengampunan dosa. Tindakan ini menjamin perolehan keselamatan yang dibawa oleh Kristus, dan sifatnya adalah sekali untuk selamanya.
Sejak awal karya publik-Nya, Yesus mewartakan perlunya pertobatan untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi Diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalakan para Rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23).

2. Sakramen Tobat dalam Praksis dan Ajaran Gereja
2.1 Rekonsiliasi Jemaat menurut Model Tobat Publik pada Zaman Patristik
Dari kesaksian Surat Klemens (tahun 93-97) diungkapkan model pertobatan dengan pengakuan dosa. Demikian pula pada pertengahan abad II, Didache menyatakan bahwa pengakuan dosa dan pengampunan dosa menjadi pengandaian seseorang boleh ikut Perayaan Ekaristi. Tertulianus pada akhir abad II menyebut tobat publik. Tobat publik ini diperuntukkan bagi warga Gereja yang melakukan dosa berat dan dilaksanakan sekali saja seumur hidup.

2.2 Tobat Pribadi atau Pengakuan Dosa Pribadi sejak Abad VI
Praktik yang berat dari tobat publik (sekali saja seumur hidup) membuat orang cenderung menghindarinya dan baru menerimanya menjelang datangnya ajal. Tobat pribadi menjadi solusi untuk ini. Tobat ini berasal dari para rahib Irlandia pada abad VI. Mulai tahun 800, tobat publik sudah mendominasi seluruh Gereja Barat. Pada abad XIII, tobat pribadi diterima dan diajarkan dengan resmi oleh Gereja melalui Konsili Lateran IV (1215).

2.3 Teologi Skolastik mengenai Sakramen Tobat
Tekanan teologi skolastik mengenai sakramen Tobat pada umumnya adalah ciri pengadilan dari sakramen Tobat tersebut. Pokok yang didiskusikan adalah kuasa imam untuk memberikan absolusi atau pelepasan dari dosa.

2.4 Ajaran Resmi Gereja pada Abad Pertengahan mengenai Sakramen Tobat
Konsili Lateran IV (1215) mewajibkan semua umat beriman untuk mengaku dosa di hadapan imam sedikitnya sekali setahun dan untuk berusaha melakukan penitensi (DH 812). Konsili Trente (1551) menegaskan ajaran tentang sakramen Tobat sebagai berikut:
– Sakramen Tobat ditetapkan oleh Kristus sendiri dan dapat diulangi
– Gereja mempunyai kuasa untuk melepaskan dan mengampuni dosa
– Pengakuan sakramental di hadapan imam sesuai dengan perintah Kristus dan ditetapkan oleh hukum ilahi
– Menurut hukum Ilahi, pengakuan pribadi atas dosa berat adalah keharusan
– Semua orang kristiani wajib mengaku dosa sekali setahun
– Hanya imam, juga kalau ia berdosa berat, yang mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa.

2.5 Sakramen Tobat dalam Semangat Konsili Vatikan II
Konsili Vatikan II meninjau kembali Sakramen Tobat. Pertama-tama, konsili memakai lagi istilah ” Sakramen Tobat”. Sebab yang terpenting memang tobat dan ”orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan (LG 11). Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam Sakramen Tobat ada dua hal, yakni pengakuan dan penitensi (denda). Tetapi hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku tapa dan mati raga sukarela.
Atas kehendak Konsili Vatikan II, disusunlah buku perayaan sakramen Tobat yang baru, ”Ordo Penitentiae” (1973). Dalam pedoman umum ini ditampakkan dimensi ekklesial dan perayaan dari sakramen Tobat.

Leave a comment »

kartu natal di era modern

Sebentar lagi kita akan menikmati lagi gempita Natal dan semarak Tahun Baru. Momen sangat berharga dalam hidup kita. Serentak kita akan disuguhi ragam hiasan Natal dan Tahun Baru: pohon terang, lagu-lagu Natal, gua/kandang natal, kue-kue tahun baru, “marayat-ayat”, yang akhir-akhir ini agak terlupakan: kartu natal, dan seribu satu macam ornamen lainnya. “Kartu natal” itulah yang menjadi fokus kita dalam goresan kecil ini.
Tulisan ini sangat personal sifatnya. Saya menyebutnya “sharing tertulis” dengan para pembaca budiman sekalian. Bermula dari celotehan ringan dengan saudara-saudara di biara tempat kami tinggal. Tidak ada pretensi dari pihak saya untuk suatu ‘debat’ ilmiah atasnya. Ia lahir melulu hasil refleksi. Refleksi atas makin tersisihnya kartu natal oleh tekhnologi modern. Atau bisa jadi karena sudah terlalu biasa sehingga maknanya yang sejati makin luntur. Kadang terlupakan bahwa ia berasal dari tradisi yang sangat mulia. Fenomena ini membeku jadi sebentuk keprihatinan saya pribadi atas sinyalemen itu.

TAHUKAH ANDA………?!
(Sejarah kartu natal)
Tahukah anda…… memberikan hadiah adalah bagian tak terpisahkan dari masa Natal. Kebiasaan itu berasal dari kebiasaan Romawi kuno yang membagi-bagikan hadiah selama festival musim semi. Di beberapa Negara, seperti Italia dan Spanyol, anak-anak tidak memperoleh hadiah pada hari Natal (25 Des.) tetapi memperolehnya pada 05 Januari, malam epifani. (bdk. Compton’s Pictured Encyclopedia vol.3, 326).
Tahukah anda…….bahwa kartu natal yang adalah bagian dari hadiah natal itu lahir dari keinginan setiap orang yagn ingin berbagi suka cita dan harapan pada saat yang istimewa ini: KRISTUS YANG LAHIR KE DUNIA. Ia menjadi manusia – inkarnasi (‘in’ + ‘carne’ = menjadi daging). Konon kartu natal pertama di dunia dilukis oleh seorang seniman Inggris, John Calcott Horsley (1818-1903) atas perintah Sir Henry Cole pada tahun 1843. kartu ini terbagi atas 3 bingkai. Bingkai tengah menunjukkan gambar sebuah keluarga sedang menikmati makan malam Natal. Bingkai yang lebih kecil di kedua sisi menunjukkan perbuatan yang berlandaskan nilai-nilai kristiani. Bingkai sebelah kiri menggambarkan pemberian makanan pada orang lapar, sedang bingkai sebelah kanan menggambarkan pemberian pakaian pada fakir miskin. Di bagian bawah tertulis ucapan terkenal yang dipakai untuk hari Natal “A Merry Christmas & happy New Year to You.”

Tahukah anda…….bahwa mencetak kartu natal kenegaraan dimulai oleh Ratu Victoria pada tahun 1840-an. Kartu natal berwarna pertama kali diterbitkan oleh Louis Prang pada 1847. Ia adalah seorang penerbit yang pertama kali mencetak kartu natal komersial di Boston, Amerika Serikat. Ia dijuluki “Bapak Kartu Ucapan” dari Amerika. Kepopuleran kartu natal mencapai puncaknya pada 1920 hingga saat ini.
Tahukah anda…….bahwa kartu natal paling kecil terbuat dari sebutir beras. Kartu ini diberikan kepada Pangeran Wales dari Inggris pada 1929. Kartu Natal terbesar (53×84 cm) adalah kartu natal yang dipersembahkan kepada Presiden A.S. Calvin Coolidge tahun 1924.

KARTU NATAL BERMAKNA SIMBOLIS
Adalah Ernst Cassirer, seorang profesor Jerman yang mengatakan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional (animal rationale) tetapi sekaligus makhluk simbolis (animal symbolicum). Apa maksudnya? Simbol dari bahasa Yunani = sym-ballein artinya “jatuh bersama.” Dalam simbol, tanda dan makna (yang ditandakan) hadir sekaligus. (bdk. Kenang-kenangan yang berupa sapu tangan misalnya yang diberi oleh seseorang. Sapu tangan itu lebih dari sekadar kain belaka. Dalam sapu tangan itu hadir sekaligus orang yang kita cintai yang memberi sapu tangannya kepada kita; melihat sapu tangan itu melihat dia yang kita cintai). Untuk itulah manusia tidak sekadar punya nalar melulu, ia makhluk simbolis. Artinya, ia mampu mengungkapkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Simbol mengungkapkan lebih kaya dari pada apa yang dapat diucapkan bibir. (mengatakan cinta saja bisa dengan banyak simbol: bunga mawar, “ULOS”, surat, dan kartu (natal), dll). Dengan kata lain, manusia mampu menghayati sesuatu ‘yang tidak hadir’ pada sesuatu ‘yang hadir.’
Kartu natal itu bermakna simbolis. Sejajar dengan ungkapan: “Sebuah kartu mewakili kehadiran seseorang.” Mengapa? Karena sebuah kartu sejatinya ditulis oleh orang-orang yang mau berbagi suka cita dengan orang istimewa. Ia (dan suka citanya) ‘hadir bersama’ hadirnya kartu itu. Kartu mengungkap lentingan hati seseorang yang terangkum dalam kata-kata sederhana nan mulia: “Semoga Kristus lahir di hati kita,” “Semoga damai Natal membaharui hidup kita,” “Semoga…..”

KARTU NATAL MULAI DILUPAKAN (?)
Ketika berselancar di dunia maya internet, dengan kata kunci “kartu + natal” mesin pencari google memuat banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa MAKNA kartu natal mulai ditinggalkan orang di zaman modern ini. Saya sangat setuju. Kartu natal memang ‘mulai’ dilupakan banyak orang, untuk tidak mengatakan makna sejatinya ditinggalkan sama sekali. Tekhnologi modern menjadi saingan pertama dari kartu natal. Via sms, e-mail, sejenisnya memang lebih praktis, murah, cepat, dan keren (up-to-date). Sementara membuat kartu natal butuh waktu lama.
Menjelang Natal, biasanya ornamen-ornamen natal (kartu natal, cs) membanjiri toko-toko, mall-mall, dan plaza. Beragam jenis dijajakan mulai dari yang paling sederhana sampai yang super-mewah, buatan lokal sampai yang berkualitas ekspor. “Bisnis semusim” ini memang sangat menjanjikan. Banyak orang yang berlomba-lomba membelinya, rela merogoh kocek besar demi si mungil kartu natal yang mewah nan menarik. Bagi saya, hal itu sah-sah saja. Asalkan tidak dipungkiri juga bahwa yang murah tidak semuanya buruk, simple is beautiful. Justru Natal berarti Yesus menjadi manusia, lahir di kandang hina mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia (lih. Flp. 2:1-11). Yang paling penting hal itu berasal dari kedalaman hati seseorang untuk saat yang istimewa itu. Pengalaman saya, kartu natal ‘buatan tangan’ seseorang itu meski jelek jauh lebih bermakna.
Satu hal yang kadang tidak disadari, membuat dan menerima kartu natal seakan menjadi ‘rutinitas semusim.’ “Yah…sudah natal, kita buatlah kartu natal!’ Dua kemungkinan dari terlalu biasa: atau makin bermakna atau menjadi formalitas belaka. Sejauh saya lihat pemaknaannya cenderung pada kemungkinan kedua. Kartu natal seakan berlalu begitu saja, kartu yang dibuat dan diterima kurang dilihat dalam maknanya yang sejati. Padahal kartu natal itu bermakna simbolis tidak melulu pelengkap semarak dan penambah ornamen-ornamen di pohon terang.

PENUTUP
NATAL adalah saat mulia: mengenang kelahiran Yesus Kristus. Ia rela menjadi manusia dan miskin supaya kita menjadi kaya karena kemiskinanNya. Maka tepatlah kita bersuka cita karenanya. Suka cita itu bisa diungkapkan lewat pengiriman kartu natal.
Di awal saya menandaskan bahwa tulisan ini hanya sebatas refleksi dan sharing pribadi atas sinyalemen ‘kartu natal makin terlupakan’ di era modern. Sinyalemen itu kiranya menjadi aba-aba bagi kita untuk semakin jeli membaca tanda-tanda zaman. Kartu natal tetap bermakna sekalipun dihimpit tekhnologi modern. Ia bermakna simbolis, lahir dari tradisi mulia, lebih dari sekadar penghias meja belajar, lemari pakaian, pun penambah hiasan pohon terang.
Menutup nukilan ringan ini, saya mau mengutip pendapat filsuf terkenal “si melankolis” Soren Kierkegaard (1813-1855): “Surat tetap merupakan sarana yang tak tertandingi untuk mengesankan seseorang; huruf yang mati itu sering berpengaruh lebih kuat dari pada kata yang hidup.”

Leave a comment »

NATAL: KELAHIRAN RAJA DAMAI

PENGANTAR
Kata “damai” tentu tidak asing lagi bagi kita. Mungkin kita biasa mendengar kata damai itu dalam bahasa asingnya, pax (b. Latin) atau peace (b. Inggris). Dalam setiap foto hasil jepretan kamera sering tampak orang membuat tanda V dengan jari telunjuk dan tengah teracung ke atas – ”damai!” Hidup damai berarti hidup dalam kebahagiaan utuh-menyeluruh (baik relasi manusia-Allah, manusia-manusia, dan manusia-alam semesta) karena kesatuan dengan Allah (bdk. kata Ibrani šālôm: ’damai-sejahtera’). St. Agustinus dari Hippo (354-430) menyebut damai sebagai ”kemantapan tata-kehidupan.”
Ketika anda membaca tulisan ini, saya sangat yakin bahwa anda (dan saya) sedang dalam keprihatinan mendalam akan karut-marut kehidupan bangsa kita akhir-akhir ini. Kita dibuat bimbang dan resah oleh praktik peradilan yang tidak jelas, perseteruan dalam tubuh Bank Century yang tak kunjung selesai, tuntutan hukum bagi ”penghilangan orang”, dan seribu satu kasus lain yang makin biasa di telinga kita dan pada akhirnya terlupakan begitu saja.
Situasi ini memaksa kita untuk mengamini bahwa damai semakin mahal di negeri ini. Kendati sulit digapai tetapi kita sangat memimpikannya, kini dan saat ini. Kita memimpikan damai yang membuat kita mampu memandang setiap orang adalah saudara. Damai yang mengubah kecondongan hati dari “menguasai” ke sikap hati “melayani” seorang terhadap yang lain.

NAFSU UNTUK MENGUASAI
Adalah filsuf eksistensialis berdarah Jerman, Friederich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), yang mengklaim bahwa dalam diri setiap manusia terdapat ‘kehendak-untuk-berkuasa’ (The will to power).. Setiap orang ingin menjadi yang terkemuka, dianggap paling baik, paling pintar, paling kaya, dll dalam setiap dimensi hidup. Jalan yang paling tepat ke arah itu menurut Nietzsche adalah lewat pengetahuan; “pengetahuan bekerja sebagai alat kekuasaan. Kehendak untuk mengetahui sesuatu tergantung pada kehendak untuk menguasai.”
Kendati dalam hidupnya Nietzsche cemerlang dalam bidang pengetahuan dan menguasai banyak hal, ia merasa senantiasa masih ada kekuatan lain di luar dirinya yang menandingi, yakni Tuhan. Kekuatan Tuhan dan nilai-nilai agama menjadi tandingan yang memenjara dirinya. Tuhan mengawas-awasi dan membuat banyak orang terbelenggu tak berkembang. Untuk itu, ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati! (God was dead!)”. Bagi Nietzsche, Tuhan yang selama ini mengawasi dirinya harus mati supaya ia berkuasa atas segala-galanya.
Tuhan memang tidak akan pernah ’mati’, Ia hidup dan berkarya senantiasa di tengah-tengah umat-Nya. Namun, sadar atau tidak sadar, kita mengakui kebenaran dalam pendapat Nietzsche bahwa tiap manusia dalam dirinya pada hakikatnya memiliki ”kehendak-untuk-berkuasa”. Kita akui memang dimensi itu (”kehendak-untuk-berkuasa”) tetap ada dalam diri kita tetapi manusia sejatinya harus mampu melampauinya.
Nafsu untuk berkuasa ini kerap mempersulit relasi damai dan harmoni. Hal ini akan ditunjukkan pada bagian akhir tulisan ini dalam pertengkaran murid-murid Yesus perihal siapa yang terbesar di antara mereka; kecemasan para murid untuk dipandang terbesar mewakili kelemahan manusiawi kita. Nafsu untuk berkuasa sangat kontras dalam diri Yesus Kristus, Raja Damai yang telah lahir.

NATAL: KELAHIRAN RAJA DAMAI
Nubuat tentang kelahiran Raja Damai tampak dalam nubuat Nabi Yesaya, salah satunya Yes 9:1-7. Raja Damai akan menghalau kegelapan umat-Nya. Kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan ketika masa pemerintahan Ahaz, yang menolak perintah dan perjanjian dengan Allah. Namun, Allah akan menolong umat-Nya lewat raja yang akan datang. Yes 9:2-3 menceritakan situasi baru di mana Allah akan membebaskan mereka.
Kegembiraan akan lahirnya Raja Damai pada Yes 9:5 dibuka dengan kata ’sebab’ (b. Ibrani, kî). Kegembiraan datang karena Allah membebaskan umat-Nya dari penindasan. Siapakah Raja Damai yang dimaksud? Hal ini menunjuk pada figur eskatologis, Mesias. Anak yang lahir itu akan menunjukkan bahwa Allah ada beserta kita/Immanuel (Yes 7:14). Anak ini merupakan pemenuhan paling agung (ultimate fulfillment) – bdk. Yes 11:1-5. Dia akan memiliki kekuatan dalam kelemahan, kemenangan dalam penderitaan, dan kehidupan dalam kematian (bdk. Yes 42:1-4; 49:4, 21; 50:4-9; 52:13-53).
Orang-orang Kristen kemudian melihat dan mengimani bahwa nubuat nabi Yesaya ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus; memang seluruh nubuat Perjanjian Lama terpenuhi seluruhnya secara sempurna dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Raja Damai yang akan datang bagi seluruh bangsa. Malaikat yang menyampaikan kabar kegembiraan ini kepada para gembala mengatakan: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11). Dan sejumlah besar bala tentara surga memuji Allah: ”Gloria in altissimus Deo, et in terra pax hominibus bonae voluntatis” (“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”) (Luk 2:14).
Para malaikat mewartakan perdamaian sebagai anugerah kebaikan Allah. Kaisar Agustus memang dianggap mendatangkan kedamaian di wilayah kekaisaran tahun 29 SM sesudah pemberontakan sipil. Tetapi, Pax Romana adalah kedamaian semu yang dipaksakan oleh kekuatan militer. Kedamaian sejati akan datang melalui Yesus Kristus (Yoh 14:27).

DAMAI YANG SEMAKIN MAHAL
Seorang Bapak dengan nada seloroh pernah berkomentar demikian: ”Saat ini semua harga barang-barang naik; minyak naik, beras naik, biaya ini-itu naik. Hanya harga manusia yang semakin turun!” Memang, dunia kita saat ini ditandai dengan pola hidup yang mengorbankan hak azasi setiap manusia. Atas nama persaingan, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Budaya acuh tak acuh, indifferentisme, materialisme, hedonisme mewarnai keseharian kita. Nilai-nilai agama yang luhur dan suci dianggap klise, basi sehingga diabaikan begitu saja.
Seorang penulis rohani Katolik Henri J. M. Nouwen berujar: ”Kita adalah orang-orang yang diliputi ketakutan. Tampaknya, rasa takut sudah merasuki setiap segi kehidupan kita sedemikian rupa. Kebanyakan kita yang hidup pada abad ini hidup dalam rumah yang menyebarkan ketakutan sepanjang masa. Kita merindukan rumah yang bernafaskan kasih. Rumah itu adalah rumah Kristus. Di sana, Ia akan menemani kita dan berkata: ”Aku ini, jangan takut!” (Yoh 6:20).
Selama hasrat untuk berkuasa senantiasa menguasai hidup kita selama itu pula kita akan merasakan ketakutan yang menghantui. Akibatnya, kita tidak akan pernah merasa at home di manapun kita berada. Selama itu pula suasana damai semakin sulit kita alami.

TUHAN, JADIKANLAH AKU PEMBAWA DAMAI!
Peristiwa Natal menyadarkan kita bahwa pembicaraan mengenai damai bukanlah pembicaraan yang utopis begitu saja. Dalam Dia, kita meyakini bahwa damai bisa terwujud di tempat kita masing-masing. Untuk itu, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai.
Mengupayakan perdamaian berarti berjuang untuk membela kehidupan; berani berkata TIDAK untuk ketidakadilan dan YA untuk damai sejahtera. Namun, kita perlu berhati-hati. Kegagalan yang kerap terjadi ialah bukan karena tidak adanya pihak yang mau mewujudkan perdamaian. Kegagalan umumnya terletak pada cara yang tidak tepat untuk mewujudkan damai sehingga akhirnya ditafsirkan keliru. Banyak pihak berusaha mewujudkan damai lewat cara-cara yang justru menakutkan: senjata, tentara, ancaman, dll.
Perlawanan seorang kristiani adalah perlawanan tanpa kekerasan. Damai diberikan bukan oleh balas dendam, melainkan oleh keberanian memberi pipi kiri bila ditampar pipi kanan. Damai tidak diberikan oleh kekuasaan melainkan oleh kasih, ”kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yoh 4:18). Marthin Luther King, Jr mengungkapkan: ”Membalas kekerasan dengan kekerasan akan melipatgandakan kekerasan. Kekerasan akan menambah pekatnya gelap malam yang tiada bintang. Kegelapan tidak akan mampu menghalau kegelapan. Hanya cahaya yang dapat menghalau kegelapan. Hanya cinta yang dapat menghalau kebencian.” namun, usaha itu bukan tanpa tantangan sama sekali. Yesus sendiri sudah mengetahuinya, ”Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.” (Luk 21:12).
Kiranya perayaan Natal semakin menyadarkan kita bahwa ”Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Kor 15:54). Dengan demikian kita tidak akan gentar. Sebaliknya, kita semakin gigih mewujudkan damai dimana-mana ”sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.” (1 Yoh 5:4). Ketika murid-murid Yesus mempertentangkan siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus menegur mereka seraya berkata: ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk 9:35).
Semoga NATAL (b. Latin, natio-onis F: kelahiran (bdk. kata kerja: nascere 3)) melahirkan pembawa-pembawa damai! SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU!

Leave a comment »

KEHENINGAN yang ‘PENUH SUARA’

Dulu, sewaktu masih di Seminari-Menengah (Pematangsiantar), ada saat tertentu yang dikhususkan untuk silentium magnum (b.Latin = hening ‘besar’) bagi kami para seminaris. Sebagai seorang remaja, aturan itu lebih kerap dipandang sebagai ‘ancaman’ yang menakutkan. Menakutkan karena waktu itu belum persis kami tahu apa makna di balik ‘kebisuan’ itu. Maka tidak mengherankan jika pastor yang sedang mengawas sering menegur kami manakala kecolongan riuh dan ribut.
Pengalaman itu menjadi sangat bermakna bagi saya ketika menjejaki jenjang hidup religius yang lebih tinggi. Saya makin sadar juga bahwa hening tidak sama dengan sepi. Adalah menakutkan jika kesunyian dan kesendirian dipahami dalam bingkai sepi. Tidak sedikit orang yang mengalami demikian, sehingga banyak orang yang tidak bisa belajar kalau tidak ditemani musik ingar-bingar atau barangkali tidak bisa sendirian duduk di kamar barang sekejap saja. Lantas banyak orang yang mencari hiburan batin ke tempat-tempat ramai, ngobrol yang terlalu panjang dengan teman, tertawa terbahak-bahak, ‘mengungsi’ ke mall-mall, super-market, dll. Rupanya memang rasa sepi hilang sebentar, tetapi sebenarnya rasa sepi itu tetap ada. Malahan dengan itu kesepian makin dilipatgandakan sehingga dicari dan dicari terus.
Hening adalah senjata, suluh untuk semakin mengenal diri sendiri dan mengusir kegelapan (kesepian) dari dalam diri, kata Henri J.M.Nouwen. Hening itu penuh suara (angin yang berdesir, kenderaan yang berpacu di aspal hitam). Di dalamnya kita bebas untuk berjalan-jalan mengelilingi kebun kehidupan kita sendiri, menyapu dedaunan yang berserakan dalam diri kita, bebas untuk menyiangi rumput-rumput yang tumbuh liar di dalam diri, menyirami hati kita yang gersang dan menata serta menghiasnya sedemikian rupa. Hening adalah syarat untuk menjadi diri yang sejati. “Ukuran bagi seorang manusia adalah berapa lama dan sampai sejauh mana ia dapat menanggung kesendiriannya,” demikian Sören Kierkegaard.
Dalam Mrk. 1:35-39 dikisahkan bagaimana Yesus di tengah-tengah kesibukanNya masih menyempatkan diri bergelut di dalam keheningan dan berdoa di sana “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun & pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Dengan me-mundur-kan diri Yesus mau maju karena sadar bahwa kesunyian itu memperkaya dan menyumbang. Justru, rahasia tempat pelayanan Yesus tersembunyi di tempat sunyi sehingga Ia berani untuk mengikuti kehendak Bapa. Dari tempat sunyi Yesus berani berserah pada Bapa “Ya Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu tetapi bukanlah kehendakKu melainkan kehendakMulah terjadi.” (Luk. 22:42)
Di tengah modernitas yang mengagungkan persaingan dan prestasi, banyak orang yang melihat hening sebagai momok yang harus dihindari. Persaingan dan prestasi dilihat sebagai ukuran seorang manusia. Itulah wajah zaman kita. Manusia meragukan daya yang diusung oleh keheningan. Padahal janji yang dibawa oleh keheningan itu ialah bahwa kehidupan baru dapat dilahirkan di dalamnya. Sedikit demi sedikit kita akan mampu melepaskan mimpi-mimpi yang membuat kita terlalu ambisius, melepaskan nafsu-nafsu tidak teratur dan membantu kita mencintai sesama apa-adanya dia sebagai manusia.

Leave a comment »

JANJI YAHWEH MENGENAI KERAJAAN DAMAI Uraian Eksegetis atas Yeh 34:23-31

1. Pengantar
Dalam dunia Timur Tengah Antik (Ancient Near East), penggunaan metafora gembala adalah hal yang biasa. Metafora gembala dipakai untuk menyatakan fungsi seorang raja yang memimpin sebuah bangsa. Salah satu contoh ialah raja-raja Sumeria pada millennium ke-3 B.C. yang menyebut diri mereka sebagai gembala atas rakyatnya. Seruan itu dilukiskan sebagai berikut: “Jika orang itu mengindahkan kata-kataku yang kutulis dalam stela, dan tidak meninggalkan hukumku,…semoga Shamash menjadikan orang itu memerintah lama seperti aku, raja keadilan; semoga dia menggembalakan rakyatnya dalam keadilan!”
Dalam kitab Yehezkiel, elaborasi dalam bentuk metafora adalah salah satu kekhasan kitab itu. Memang, dalam buku-buku kenabian yang lain kita menemukan juga bentuk-bentuk metaforis tetapi tidak seluas (extensive) metafora dalam kitab Yehezkiel. Susunan metafora-metafora Yehezkiel tampak disengaja dan sistematis.

2. Uraian Eksegetis atas Yeh 34: 23-31
2.1 Catatan Awal
Secara garis besar Kitab Yehezkiel terdiri atas 3 bagian besar, yakni bab 1-24 (nubuat penghukuman atas penduduk Yehuda dan Yerusalem), bab 25-32 (nubuat penghukuman atas bangsa-bangsa asing), dan bab 33-48 (nubuat keselamatan). Dengan demikian, Yeh 34 masuk pada pembagian ketiga yakni nubuat keselamatan.
Yeh 34 merupakan salah satu metafora gembala yang terkenal dalam kitab suci Ibrani. Di dalamnya ditampilkan para gembala yaitu para pemimpin rohani dan politik yang tidak melaksanakan peranan yang diberikan Yahweh kepada mereka. Akibatnya adalah orang-orang Israel tercerai berai seperti domba tanpa gembala (ay. 1-10). Oleh karena itu, Yahweh sendiri akan mengurusi dan mengumpulkan kembali domba-domba-Nya terutama mereka yang lemah dan terluka (ay. 11-16). Namun, tidak semua domba-domba itu akan dipulangkan Yahweh. Yahweh akan memisahkan domba-domba yang baik dari domba-domba yang jahat (ay. 17-22). Pada tahap akhir Yahweh menjanjikan kedatangan gembala yang baru dari keturunan Daud (ay. 23-31). Daud historis adalah orang yang berkenan kepada Yahweh (2 Raj 8:19). Melalui Daud Yahweh bukan saja membebaskan bangsa Israel dari gangguan bangsa Filistin, tetapi juga membawa mereka ke dalam kesejahteraan dan kekuatan. Ide dan harapan akan kehidupan dalam kerajaan demikian muncul dalam tema yang akan kita lihat dalam pembahasan sederhana ini.

2.2 Kesatuan Teks Yeh 34:23-31
Pada umumnya para ahli membuat Yeh 34:23-31 sebagai satu kesatuan unit. Unit Yeh 34:23-31 dibedakan dan dipisahkan karena bagian ini memperluas tema yang sudah ada dalam Yeh 34:1-22. Setelah domba-domba diselamatkan (ay.16) dan domba-domba yang baik dipisahkan dari domba-domba jahat (ay.17-22), seruan yang menyegarkan dimulai dengan janji Yahweh yang akan mempersatukan kawanan itu di bawah satu gembala, yakni seorang dari keturunan Daud. Figur yang diungkapkan dalam ayat 17-22 dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu, Hölscher melihat bahwa ayat 23-31 ini adalah tambahan kemudian yang diduga berasal dari tangan lebih dari satu orang. Yeh 34: 23-31 berisi janji Yahweh mengenai kerajaan damai bagi umat-Nya. Bagian ini dibagi menjadi dua bagian:
o Ayat 23-34: janji Yahweh mengenai Daud Redivivus.
o Ayat 25-34: kemakmuran bagi bangsa.

2.3 Janji Yahweh Mengenai Daud Redivivus (ayat 23-24)
Ayat 23: Ungkapan ”Aku akan mengangkat satu orang gembala”di sini dikaitkan dengan Am 9:11 (pendirian kembali pondok Daud yang telah roboh) dan II Sam 7:12 (pembangkitan kembali keturunan Daud). Bila dikaitkan dengan Yeh 37:24, ”satu orang gembala” mengimplisitkan satu kawanan, yakni penyatuan kerajaan-kerajaan (bdk. satu kawanan, dengan satu gembala (Yoh 10:16)).
”… yaitu Daud, hamba-Ku….” Ada beberapa perbedaan pendapat para ahli dalam memandang sebutan Daud di sini. Beberapa melihatnya sebagai janji Yahweh mengenai kedatangan seorang raja damai dari keturunan Daud sebagaimana harapan kenabian tradisional. Yang lain melihat bahwa Yahweh akan menghidupkan Daud kembali. Kata hēqīm dipakai untuk menyatakan pengangkatan seorang pemimpin, yakni ide tentang kebangkitan Raja Daud dari kematian. Pendapat ketiga berusaha memperlihatkan bahwa apa yang ditekankan di sini adalah pengembalian kembali dinasti Daud dahulu. Akibatnya, ungkapan ”hambaku Daud” dapat dimengerti bukan secara individual tetapi kolektif.
Para ahli sekarang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sebutan Daud adalah kedatangan seorang dari keturunan Daud (Daud Redivivus). Istilah yang dipakai adalah mengangkat, dan bukan membangkitkan. Sifat-sifat yang dialamatkan kepada Daud Redivivus itu adalah sifat religius-etis (setia kepada Yahweh sehingga disebut hamba Yahweh (ebed-Yahweh) dan sifat politis. Dalam Yeh 37:25 Daud akan menjadi raja untuk selama-lamanya. Ungkapan ini secara lebih penuh terdapat dalam 37:22-25 yang merupakan seruan ulang dari Yer 23;57; 30:9; Zak 2:16.
”… dia akan menggembalakan mereka dan menjadi gembalanya.” Sebutan gembala adalah fenomena yang umum dalam dunia Timur Tengah Antik (lihat pengantar). Kekhasan bagian ini terletak pada pemakaian istilah yang kini digunakan pada mesias dari keturunan Daud yang akan datang.
Ayat 24: Interpretasi atas ayat 23 dikonfirmasikan lewat ayat 24 yang memasukkan pelantikan ”hamba Daud” dalam rumusan perjanjian yang lebih tua. Rumusan itu kemudian menunjukkannya sebagai bagian integral perjanjian yang baru: ’Aku, Yahweh akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud akan menjadi raja di tengah-tengah mereka.’ Bagian kedua dari rumusan perjanjian ”mereka akan menjadi umat-Ku” sengaja dihilangkan karena inti utama yang hendak ditekankan adalah berkat tertinggi yang akan diberikan dengan kehadiran personal raja damai. Rumusan perjanjian yang penuh diungkapkan justru dalam ayat 30 untuk menyimpulkan keseluruhan bagian.

2.4 Kemakmuran bagi Bangsa (ayat 25-31)
Ayat 25: ayat 25 berbicara tentang penyimpulan perjanjian yang baru. Keistimewaan dari nubuat ini terletak pada pemakaian istilah berith syalom. Berith bermakna perjanjian tanpa pamrih dari Yahweh. Perjanjian seperti ini diberikan (karat-le) bukan disepakati (karat-et). Mereka tidak lagi jarahan bangsa-bangsa dan binatang (bdk. ay 28). Janji ini identik dengan Im 26:6. Perjanjian itu akan mengubah binatang-binatang buas yang berbahaya (Yes 2:6-8; 35:9; 65:25; Ayub 5:22-33).
Pandangan yang agak berbeda mengenai berith syalom diberikan oleh J. Pedersen. J.Pedersen menterjemahkan MELY xIXA (bryt slwm, ”perjanjian damai”) dalam 34:25; 37:26; Yes 54:10 dengan ”perjanjian yang tidak dapat rusak” (unbreakable covenant).
”… mereka dapat diam di padang gurun dengan aman tenteram dan dapat tidur di hutan-hutan.” Tekanan pada jaminan hidup (ay. 25, 27, 28) menunjukkan betapa bahaya kehidupan berlangsung lama pada periode sebelumnya. Namun, bangsa itu akan diam dengan aman di daerah padang gurun (Yer 5:6) dan hutan-hutan, di mana biasannya terdapat binatang-binatang buas yang melukai manusia (Yer 5:6). Kata הטבל (lbth, ”dalam keamanan”) (28:26;34:25, 27f; 38:8, 11, 14; 39:26) adalah kata kunci bagi kebebasan dari rasa takut yang di masa depan akan diberi damai oleh Yahweh. Upah ketaatan manusia dalam Im 26:5bβ, 6 muncul di sini sebagai rahmat gratis dari Yahweh bagi umat-Nya.
Ayat 26-27: Pada bagian ini diungkapkan berkat atas tanah yang menghasilkan. Hujan berlimpah yang menjadikan pohon-pohon menghasilkan buah dan tanah yang memberi hasilnya (Im 26:4), akan menjadi tanda dengan mana Yahweh menyatakan Diri-Nya sendiri. Yehezkiel mengulangi apa yang dikatakan nabi pendahulunya, Yesaya, yang berbicara mengenai hujan musim yang akan menyuburkan tanah (ay.27). Hujan yang dimaksud di sini adalah hujan pada musim dingin (géshem, kadang-kadang disebut hujan terakhir) dari pertengahan Desember-Maret; Hujan itu akan membasahi tanah dan mengisi mata air dan waduk sebelum musim kering tiba (Mei-Oktober); lihat Ul 2:14; 28:12; Zak 10:1, Ayub 38:26f. Bahasa itu mirip dengan ungkapan Im 26:4a.
Ungkapan מטות שבר (sbr mtwt, ”mematahkan penghalang”) terdapat juga dalam Yeh 30:18. Sementara kata על (’l, ”kuk”) tidak terdapat di tempat lain dalam kitab Yehezkiel. Kata itu terdapat dalam Yes 9:3; 10:27; 14:25; Yer 28:2, 4, 11; 30:8.
Ayat 28: Perihal bagaimana bangsa itu datang untuk diam dengan aman di tanah terjanji tidak seperti ungkapan Yes 2:4 dan Hos 2:18 yang memasuki tanah dengan senjata dan kerja keras. Mereka akan melepaskan kuk (beban) yang selama ini memenjarakan mereka.
Ayat 29: Sekali lagi diberikan ungkapan damai di mana tidak seseorang pun merasa takut lagi (39:26; bdk. Im 26:6a), bebas dari kelaparan (5:12, 16f; 6:11f; 7:15; 12:16, 14:13, 21; bdk. Im 26:5bα) sebagaimana dalam 36:29f dan dari hukuman bagi bangsa-bangsa dalam 36:6f, 15. Frase “taman kebahagiaan” tidak sepenuhnya jelas. Barangkali hal itu dibuat berdasarkan keterangan Yeremia mengenai keselamatan dengan ide tanaman. Sementara kata מטע (mt‘, “taman”) yang dipakai dalam Yeh 17:7; 31:4 bukanlah rumusan dari kitab itu sendiri, barangkali dapat dilihat dalam kitab Trito-Yesaya (61:3; bdk 60:21).
Taman keselamatan, atau damai, tempat šālōm tinggal dan yang memiliki korelasi dengan berit šālōm dari ay 25, menyajikan paralel yang tepat dengan Yes 32:15-18, di mana hutan belantara akan diubah menjadi lahan produktif. Di sana, menurut Yesaya, keadilan dan kebenaran akan diam, dan buahnya akan menjadi damai serta bertahan selama-lamanya.
Ayat 30: Ungkapan rumusan perkenalan rata-rata berdiri sendiri dengan bahan yang berasal dari rumusan perjanjian…. Ketika rumusan perjanjian dikatakan: ”Akulah Yahweh, Allah mereka,” karakter perjanjian sebagai anugerah secara jelas digarisbawahi dengan tambahan dalam Teks Masoreticus: “Aku, Yahweh, Allah mereka, menyertai mereka”.
Bentuk “bahwa Aku…menyertai mereka” tidak mempunyai paralel dalam kitab Yehezkiel. Barangkali dengan mereka telah disalin dengan salah dari kata engkau (ye, konsonan yang sama dalam bahasa Ibrani) dalam ay. 31. “…dan mereka adalah umat-Ku” bisa dibandingkan dengan Hos 2:25; Yes 51:16; 67:8 yang diambil alih kemudian oleh Zak 13:9.
Ayat 31: Kata עאן (‘’n, “kawanan”) dijelaskan secara terperinci dalam ayat 31 dalam dua bentuk berbeda. Bentuk pertama dijelaskan dengan tambahan מרעיתי (mr‘yty, “gembalaku”) yang dikecualikan dari Yer 23:1, ditemukan dalam bahasa-bahasa pemazmur (Mzm 74:1; 79:13; 95:7; 100:3). Bentuk kedua dijelaskan dengan tambahan אדם (‘dm, “manusia”) yang membuat tokoh yang dibicarakan diaplikasikan pada manusia (lih. juga 36:38). Akan tetapi tidak berarti bahwa kata אדם (‘dm, “manusia”) hanya terbatas pada bangsa Israel saja. R. Simeon b.Yohai berkata: “Engkau disebut manusia (אדם) tetapi penyembah-penyembah berhala tidak disebut demikian.”

3. Penutup
Setelah mengikuti pemaparan di atas, kita mendapat gambaran mengenai Yahweh sebagai Allah yang peduli dan terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Kepedulian itu ditampakkan lewat tindakan Yahweh yang akan memilih dan mengangkat seorang gembala dari keturunan Daud (Yeh 34:23-24). Gembala yang akan dipilih ini akan hidup sesuai dengan kehendak Yahweh. Yahweh sebagai gembala sejati atas Israel akan menjadi teladan hidup. Figur gembala ini tentu amat berlawanan dengan pemimpin-pemimpin politik dan religius pada masa itu yang melupakan tugas dan tanggung jawab mereka untuk menciptakan keadilan.
Pilihan Yahweh untuk mengangkat seseorang gembala semata-mata untuk mewujudkan kerajaan damai bagi umat-Nya. Kerajaan seperti itu ditandai oleh kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat di tanah yang mereka tempati (Yeh 34:25-31). Kemakmuran dan kesejahteraan ini mengindikasikan komitmen Yahweh yang penuh cinta terhadap umat-Nya.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.