Archive for Artikel Batak

MULAJADI NABOLON & KONSEP MITOLOGIS PENCIPTAAN BATAK TOBA

PENGANTAR
Manusia yang paling primitif, yang sama sekali belum mengenal konsep Allah, sebenarnya sudah bersentuhan dengan realitas kelahian dalam hidupnya. Mereka mengalami apa yang disebut oleh Rudolf Otto dengan mysterium tremendum dan mysterium fascinosum. Justru karena pengalaman menyenangkan dan menakutkan itu adalah eksistensial manusia. Manusia hidup dalam bingkai ruang dan waktu. Ia terikat. Ia terbatas. Menyadari keterbatasannya, manusia bertanya-tanya dan heran bahwa memang ada kekuatan lain yang melampaui di luar dirinya. Kekuatan itu bersifat tak terbatas, adi kodrati, supernatural. Dan, pengalaman inilah yang disebut manusia sebagai pengalaman akan Allah.
Oleh karena itu, pengalaman manusia akan Allah bersifat universal, lintas budaya, lintas waktu, suku, dan generasi. Meski tidak se-‘definitif’ sekarang ini, manusia sejak awal mula keberadaannya sebenarnya sudah mengenal dan bersentuhan dengan realitas Allah (pengalaman bahwa ada Yang Tak Terbatas). Dalam hal ini, suku Batak juga sudah mempunyai gambaran akan keilahian itu. Keilahian itu memang masih dirumuskan secara primitif dalam bentuk konsep mitologis. Mitos adalah persiapan ke logos, maka sering disebut bahwa mitos adalah pralogos. Untuk itu, nanti pada bagian terakhir adalah tepat jika konsep kepercayaan Batak Toba itu dikaitkan dengan sekilas konsep Orang Kristen mengenai Allah dan Penciptaan itu sendiri.
Judul tulisan ini sengaja dibuat MULAJADI NABOLON & KONSEP MITOLOGIS PENCIPTAAN DALAM BUDAYA BATAK TOBA. Bagi suku Batak Toba, kisah penciptaan dan Mulajadi Nabolon adalah dua hal yang tak pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Maka, judul di atas sangat tepat. Justru karena namaNya disebut Mulajadi Nabolon, orang Batak Toba selalu mengaitkannya dengan penciptaan segala sesuatu. Segala sesuatu datang dari Pemula Agung Genesis itu. Hal inilah yang akan kita coba telusuri secara sederhana dalam tulisan ini.

A. MULAJADI NABOLON

1. SIAPA MULAJADI NABOLON BAGI ORANG BATAK TOBA: asal-usul dan arti nama
Masyarakat Batak Toba menamai Allahnya (The High God) dengan Mulajadi Nabolon. Ada beberapa variasi nama yang dialamatkan kepada Allah Tinggi Orang Batak tersebut yakni: Ompu Tuan Mulajadi Nabolon, Debata Mulajadi Nabolon, Mulajadi Nabolon, Ompu Silaon Nabolon, Tuan Bubi Nabolon, & Raja Minangkabau. Dari beberapa variasi nama itu, nama Mulajadi Nabolon merupakan nama yang paling umum dan sering digunakan dalam literatur Batak Toba.
Arti Mulajadi Nabolon sendiri diartikan sebagai Pemula Agung Genesis (menjadi alasan mengapa tulisan ini mau tidak mau menghubungkan Mulajadi Nabolon dengan penciptaan, sebagaimana disebut dalam Pengantar). Mulajadi merupakan komposisi dari 3 kata: mula, jadi, dan bolon. Mula berarti awal atau permulaan; jadi berarti menjadi (dalam bentuk aktif intransitif, manjadi). Bolon berarti besar, agung. Nabolon adalah unsur gelar yang merupakan paduan dari 2 kata: na (yang) dan bolon (besar, agung). Karena merupakan unsur nama keduanya dipadukan. Kodding mengartikan Mulajadi Nabolon dengan “der groβe Anfang des Werdens oder der seinen Anfang in sich selbst hat.” Oleh Edwin M. Loeb diterjemahkan dengan “Pemula Agung segala yang ada atau ‘Dia yang memiliki awal dalam dirinya sendiri.’” Ph. L. Tobing, mengikuti Warneck, menyebutnya sebagai Sang Asal Kejadian (The Origin of Genesis). Sementara Anicetus B. Sinaga menerjemahkannya dengan Sang Pemula Agung Genesis.
Sebelumnya, dalam budaya Batak Toba, perlu dipahami perbedaan arti: mula dan bona. Memang, kedua-duanya menunjuk pada ide/paham permulaan. Bona (marbona) bisa dibandingkan dengan batang atau dasar dari sebuah pohon. Bona menyatakan asal-usul (origin) yang bentuk aktif transitifnya adalah ‘marbona.’ Kata ini tidak pernah dihubungkan dengan nama Allah Tinggi. Sementara, mula berarti awal. Memaknai nuansa kata ini, maka Mulajadi Nabolon diartikan sebagai ‘Pemula dari Genesis’. Dari analisis ini kita sampai pada kesimpulan: a. Ciptaan itu selalu mulai dengan waktu berlawanan dengan awal yang abadi dari Allah Tinggi, b. Allah Tinggi adalah Pemula tidak hanya sebagai “awal.” Dia dipahami sebagai penyebab kejadian yang dengan aktif memulai penciptaan; ‘Awal Agung Genesis’ menjadi ‘Pemula Agung Genesis.’
Orang Batak Toba memakai terminologi langit untuk menyebut surga. Diyakini bahwa surga terdiri dari 7 lapis/tingkat (langit sipitu lampis). Mulajadi Nabolon tinggal di surga paling tinggi, pada langit ketujuh. Keyakinan ini tampak dalam kata-kata doa datu Orang Batak Toba: Daompung Debata natolu, na tolu suhu na tolu harajaon sian langit na pitu tindi, sian ombun na pitu lampis, sahata saoloan Ho dohot Debata mulamula, Debata Mulajadi, na pande manuturi, na malo mangajari.

2. MULAJADI NABOLON SEBAGAI ALLAH YANG MENGATASI WAKTU
Mulajadi Nabolon adalah Awal yang abadi
“Adong ma nasaingan, nasaingan ni narobi, namargoar Ompunta Tuan Bubi na Bolon i, ima Debata na sasada i.” ‘Pada awal mula’ menunjukkan mula yang abadi, Mulajadi Nabolon. Tampubolon membuat rumusan yang menegasikan temporalitas Allah Tinggi: ‘Dia tidak mempunyai awal, datang dari yang tak berawal, yang tidak berawal dan berakhir.’ (Tampubolon, 1964:3).

Immoralitas Mulajadi Nabolon
Ungkapan Toba menyebut Mulajadi Nabolon sebagai na so ra mate, na so ra matua (…..dia tidak mati atau bertambah tua…). Pernyataan ini menegasikan pengalaman human manusia yang bertambah tua dan mati. M. Loeb menyimpulkan bahwa Mulajadi Nabolon immortal dan Mahakuasa.
Kekekalan sebagai bagian dari transendensinya
Kekekalan Allah menjadi komponen transenden karena dua hal ini:
 Mulajadi Nabolon memiliki keberadaan, hidup aktual, dan sempurna dalam dirinya sendiri berbeda dari dan tak sama dengan ciptaan
 Penjadian ‘dunia fenomenal’ dapat diperkecil pada aktivitas penciptaan Allah Tinggi.

3. MULAJADI NABOLON DISAPA SEBAGAI OMPU(NG)
Kedua kata Ompu dan Ompung mempunyai arti yang identik. Kata Ompung biasa dipakai sebagai bentuk vokatif/sapaan. Dalam budaya Batak Toba, gelar Ompu menunjuk pada setiap orang dari generasi satu kakek atau mereka yang lebih tua. Sapaan akan gelar itu menandakan kuasa (power), kehormatan (dignity), dan kekudusan/mulia (holiness).
Warneck menyebut Allah Tinggi dengan Ompu Tuhan Mulajadi Nabolon. Sementara, W.A. Braasem menyebut Ompunta Debata Nabolon dan Ompunta Tuan Bubi Nabolon. Dalam konteks religius, Ompu ditujukan untuk hal yang dianggap kudus. Para dewa dan hal-hal supernatural termasuk Allah Tinggi disebut Ompung. Gelar Ompung adalah gelar terluhur dan tertinggi. Keluhuran dan kemuliaan Mulajadi Nabolon itu tampak dalam ungkapan: “Ho, ale Ompung, Mulajadi Nabolon, na hundul di tatuan, di ginjang ni ginjangan, di langit ni langitan.”

B. MITOLOGI PENCIPTAAN DALAM BUDAYA BATAK TOBA

a. Kata ‘manompa’ & ‘manjadihon’ eksklusif ditujukan kepada Mulajadi Nabolon
Sudah dikatakan tadi bahwa nama Mulajadi Nabolon sendiri sudah menunjuk kepada hakikat Allah Tinggi sebagai pen-jadi, pencipta segala sesuatu.
Bahasa yang dipakai dalam mitologi Batak Toba berkaitan dengan tema ini adalah: “Ditompa Debatama inanta Sorimala Matabun….” Teks lain berbunyi: “Ibana do manjadihon nasa na adong; jala ndang adong nanggo sada sian angka na adong i, na so marmula sian Ibana……boi do tarjadihonsa manang aha na naeng patupaonna holan marhite hatana sambing.” (Hoetagalung, 1926:6).
Fokus kita adalah kata “menjadikan.” Menjadikan mengutarakan empat padanan kata “menyebabkan,” yakni: manjadihon (menjadikan), manompa (menciptakan), manopa (menempa), dan mambahen (membentuk). Ditegaskan bahwa manompa & mambahen dapat dikenakan atau kepada manusia atau kepada Allah. Sementara manjadihon dan manompa eksklusif hanya dikenakan kepada tindakan Allah. Manjadihon dan manompa adalah dua kata yang merupakan padanan dari kata Latin creare (creatio).

b. Mitologi Penciptaan Bumi, Tumbuh-tumbuhan, Hewan, dan Manusia dalam Budaya Batak
Mengenai penciptaan sendiri dalam Budaya Batak Toba beredar begitu banyak mitologi yang dikisahkan turun-temurun. Juga mengenai penciptaan manusia. Banyaknya legenda yang beredar (baik tertulis terlebih lisan) bisa dimengerti karena pemberitaan dongeng, legenda, dan cerita-cerita rakyat pada zaman dahulu dilakukan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Akibatnya beredar kisah yang hampir mirip di setiap cerita. Namun di antara banyak cerita mitologi penciptaan yang paling terkenal adalah cerita yang disajikan oleh W.M.Hoetagaloeng dalam bukunya “Pustaha taringot tu Tarombo ni Bangso Batak.” Di dalam buku itu, diceritakan secara panjang lebar tentang pembuatan bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia pertama, yang menjadi nenek moyang bangsa Batak. Namun, mengingat ceritanya yang panjang lebar, sedapat mungkin dalam tulisan ini akan dirangkum tanpa menghilangkan inti cerita.

Mulajadi Nabolon menciptakan anak-anaknya di Banua Ginjang – Terjadinya Bumi
Mulajadi Nabolon adalah ilah tidak bermula dan tidak berakhir. Semua yang ada berawal dari padanya. Ketika Mulajadi Nabolon menciptakan terang di langit ketujuh, dia juga menjadikan Manukmanuk Hulambujati. Suatu hari, Manukmanuk Hulambujati bertelur 3 butir. Namun, karena besar telurnya melebihi besar badannya, Manukmanuk Hulambujati memanggil Leangleang Mandi Untung-untung na bolon untuk menyampaikan kebingungannya kepada Mulajadi Nabolon. Mulajadi Nabolon mengatakan agar Manukmanuk Hulambujati tidak perlu kuatir karena Mulajadi Nabolon sendiri tahu akan apa yang diperbuatnya. Mulajadi Nabolon memerintahkan Manukmanuk Hulambujati mengerami telurnya dan memberi 12 butir padi sebagai bahan makanan selama mengeram (1 butir/bulan) kepada Manukmanuk Hulambujati.
Dari telur pertama keluarlah: Batara Guru dan Raja Odap-odap, Si Debata Moelasongta, Si Debata Moelasongti, ima sipasongta-sipasongti parroahaon di saluhut siulaon di na tinompana i. Dari telur kedua lahirlah: Debata Sori, sori so haliapan na pitu hali malim, na pitu hali solam, sinolamhon ni ibotona si boru panolaman dan Tuan Dihurmajati (dewa halilintar dan petir). Dari telur ketiga: Balabulan (penguasa ilmu hitam dan putih) dan Raja Padoha yang bertanduk tujuh.
Mulajadi Nabolon memerintahkan Leangleang Mandi Untung-untung na bolon untuk membawa sepotong bambu dan menanamkannya di dekat Manukmanuk Hulambujat. Disertakan juga 11 butir padi sebagai makanan Manukmanuk Hulambujati. Dari pohon bambu itu keluarlah 3 anak perempuan. Atas perintah Mulajadi Nabolon, ketiga orang perempuan dinikahkan dengan anak-anak Manukmanuk Hulambujati, masing-masing satu untuk Batara Guru, satu untuk sori so haliapan, satu orang untuk Bala bulan. Tiga anak yang lain harus menunggu sampai 3 saudara mereka kelak mempunyai anak perempuan. Beberapa tahun kemudian, Batara Guru memperoleh: 1 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Yang paling bungsu disebut Siboru Deak Parujar, Ibu segala yang hidup. Soripada memperoleh satu orang anak laki-laki dan satu orang perempuan (Nan Bauraja). Dan, Bala bulan memperoleh satu orang anak laki-laki dan satu orang perempuan (Narudang Ulubegu). Mulajadi Nabolon memerintahkan supaya Siboru Deak Parujar dinikahkan dengan Raja Odap-odap, Nan Bauraja dengan Dihurmajati, dan Narudang Ulubegu dengan Raja Padoha. Namun, Siboru Deak Parujar menolak untuk menikah. Melihat itu, sang dewata marah lalu melemparkan Siboru Deak Parujar ke banua tonga yang penuh dengan air. Melihat itu, Mulajadi Nabolon menjadi kasihan. Ia meminta Siboru Deak Parujar kembali ke banua ginjang tetapi ia tidak mau. Mulajadi Nabolon lalu mengirimkan tanah untuk diolah oleh Siboru Deak Parujar. Dari tanah itulah, Siboru Deak Parujar menciptakan bumi yang pertama. Namun, Naga Padoha Menghancurkan dunia pertama itu. Kembali Siboru Deak Parujar meminta seenggan tanah ke banua ginjang. Bukan hanya tanah, juga pedang dan tangkai pohon kehidupan, Hariara Tumburjati. Lalu, Siboru Deak Parujar menikam Naga Padoha dengan pedang itu. Naga Padoha tidak mati hanya dilemahkan. Sementara itu, Siboru Deak Parujar menimbuninya dengan tanah. Timbunan tanah yang dibuat Siboru Deak Parujar itu semakin besar dan tinggi. Naga Padoha tidak mati tetapi tetap hidup di bawah bumi. Dia tidak berdaya kecuali sekali-sekali mengetarkan bumi dan menggelorakan laut.

Terjadinya Tumbuh-tumbuhan, Hewan, dan Burung-burung
Mulajadi Nabolon mengutus Leangleang Mandi Untung-untung na bolon kepada Si Boru Deak Parujar untuk memberinya bibit dari segala jenis pohon dan tanaman yang ada di langit. Bibit itu dimasukkan ke dalam arung. Menerima itu, Si Boru Deak Parujar segera membentangkan tikar dan meletakkan batang arung di atasnya. Bibit-bibit itu keluar dan berubah menjadi pasangan pohon, hewan, dan burung-burung.

Terjadinya manusia pertama
Mulajadi Nabolon masih mengharapkan Si Boru Deak Parujar kembali ke Banua Ginjang tetapi dia tetap tidak mau. Oleh karena itu, Mulajadi Nabolon memanggil dan mengutus Raja Odap-odap yang dulu ditunangkan dengan Si Boru Deak Parujar ke banua tonga. Akhirnya, Si Boru Deak Parujar dan Raja Odap-odap secara tidak sengaja bertemu di banua tonga. Si Boru Deak Parujar masih marah kepada Raja Odap-odap. Namun kata-kata Raja Odap-odap menghibur hati Si Boru Deak Parujar: “Naung Pardanbirbiran, hea do pardantaboan. Naung hinagigian gabe halomoan; ai apal tarjua rokkap.” (Apa yang dahulu dibenci, dapat saja menjadi sangat disenangi kemudian). Akhirnya, mereka jadi menikah. Si Boru Deak Parujar tak lama mengandung anaknya. Ia meminta Pagar Paralisian (jimat penolak bala pada masa hamil) kepada Mulajadi Nabolon. Ia akhirnya melahirkan anak kembar: satu laki-laki (Raja Ihatmanisia) dan satu orang perempuan (Boru Itammanisia). Para penghuni Banua Ginjang diundang untuk memestakan pesta suka cita itu. Mulajadi Nabolon, Dewa Sori, Dewa Balabulan, Dewa Asiasi, ayahnya Bataraguru dan saudara-saudaranya turun dengan seutas tali di Pusuk Buhit. Setelah pesta itu, mereka semua kembali ke Banua Ginjang termasuk Si Boru Deak Parujar dan Raja Odap-odap. Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia juga sempat ikut tetapi tali keburu putus setelah para penghuni Banua Ginjang itu tiba di banua ginjang. Debata Asiasi juga tertinggal karena kakinya pincang. Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia sebagai nenek moyang manusia pertama melanjutkan keturunan di banua tonga dan lahirlah: Raja Miok-miok, Raja Patundalnibegu, dan Raja Ajilampas-lampas.

C. KONSEP PENCIPTAAN DALAM PEMAHAMAN KRISTEN
a. Penciptaan ex-nihilo
Dalam kekristenan diimani bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya dari ketiadaan menjadi ada. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong…” (Kej. 1:1-2a). Hal ini mau menandaskan bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Allah saja. Dengan kata lain, teori/paham ini tidak harus menyangkal berbagai teori yang seolah-olah bertentangan dengannya. Misalnya saja teori evolusi Darwin. Teori Evolusi Darwin tidak bisa menggoyahkan tesis ini. Teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia dan ciptaan lain berasal dari proses evolusi panjang dan lama tidak harus menyangkal bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Meski sama-sama menyumbang dan memperkaya dalam ranah perspektif eksplorasi, namun masing-masing harus menyadari batasan kompetensinya. Teori Evolusi Darwin berhasil memecahkan kebuntuan soal terbentuknya manusia dan ciptaan lain. Tetapi kajian itu lebih bersifat empiris-kategorial saja. Tetapi, teori itu mau tidak mau harus sampai pada pengakuan bahwa ada penggerak yang tidak digerakkan lagi (motor immotus). Itulah yang kita sebut Allah. Dan menyentuh wilayah ini hanyalah kompetensi dari teori penciptaan sendiri yang bersifat transendental. Ia bergulat dengan realitas ADA.
Karya penciptaan itu karya Tuhan. Dan hanya Tuhan sajalah yang dapat menciptakan. Bagi manusia, memahami penciptaan berarti menyadari bahwa ia makhluk, yang seluruhnya bergantung pada Tuhan sebagai sumber hidupnya. Ia berbeda total dengan DIA yang memberikan hidup kepadanya.

b. Manusia sebagai pusat dan puncak ciptaan
Manusia adalah makhluk paling istimewa yang dicipta oleh Allah. Kata-kata kunci menampakkannya dalam bahasa penciptaan manusia. “Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi…..maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu sungguh amat baik.” (Kej. 1:26.31). Manusia dianugerahi: akal-budi, kehendak, iman, rasa, kebebasan, gender, hati-nurani, & badan-jiwa-roh. Semua itu membedakannya dari makhluk lain.
Kisah penciptaan merupakan refleksi atas misteri manusia yang dikasihi oleh Allah. Hal itu nyata dalam bahasa pemazmur. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mzm. 8:5-6). Allah mengadakan manusia sebagai mitra dialog, menjadi sahabatnya. Dari kebebasanNya yang tak terbatas, Tuhan mengadakan manusia sebagai subyek yang bebas juga, yang otonom, dan berdikari. Mencipta manusia sebagai subyek rahmat itulah tindakan Allah yang paling dasariah.

c. Perbandingan paham penciptaan Kristen dan Batak Toba
Kalau dibandingkan, paham penciptaan Kristen jelas berbeda dengan mitologi penciptaan Batak Toba. Hal itu sudah bisa kita lihat lewat pemaparan singkat di atas. Pada bagian ini, baiklah kita menelusuri ‘persamaan’nya saja. Beberapa hal bisa disebut. Paham penciptaan Kristen mau menyatakan bahwa segala ciptaan terlebih manusia tergantung secara total (contingens) kepada Allah Pencipta (substingens, tak terbatas). Hal senada terbersit dari mitologi penciptaan Batak Toba. Hal itu tampak jelas dari berbagai ungkapan (umpama): marsigantung tu Debata do saluhutna; molo dihalomohon Debata boi do gabe poso naung matua; molo ditudi Debata, andor pe boi gabe sipanganon.
Sense of sacred terhadap Allah Tinggi adalah keyakinan yang cukup kuat baik di kalangan orang Kristen pun suku Batak Toba. Manusia tidak bisa sembarangan menyebut nama Tuhan. (Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat). Dalam rumusan doa-doa, harus dihaturkan kata-kata pilihan baik doa Kristen pun doa datu orang Batak.
Allah Orang Kristen memang berbeda dari ciptaan. Pencipta tidak identik dengan ciptaanNya. Meski demikian, Ia adalah Allah yang hidup, peduli, dan aktif tinggal bersama dengan umatNya. Ia bukan seperti tukang arloji, yang selesai membuatnya lalu meninggalkannya. Allah mencipta dunia khususnya manusia untuk memulai sejarah penyelamatanNya. Pencipta merupakan awal keselamatan justru karena Allah itu peduli. Bagi Orang Batak juga, Mulajadi Nabolon (Allah Tinggi) itu bukan sekedar prinsip melainkan seorang pribadi (Allah Personal) yang kerap dilukiskan secara antrofomorfistis. Ködding adalah orang pertama yang mengonsepsikan Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang sungguh transendens (pure transendence). Ia membandingkan Mulajadi Nabolon dengan Brahmanisme dalam agama Hindu yang dipandang sebagai kekal. J. Warneck juga setuju dengan sifat transendensi Mulajadi Nabolon. Edwin van Loeb agak membingungkan, di satu pihak dia menyebut Mulajadi Nabolon sebagai Allah personal di pihak lain sebagai ‘an otiose deity’ (Allah Penganggur). P.L. Lbn. Tobing, seorang antropolog Batak adalah orang yang dengan tegas mengatakan bahwa Mulajadi Nabolon sungguh personal/imanen. Immanensi Mulajadi Nabolon tampak dalam: totalitasnya, kehadirannya, dan identitasnya. Membandingkan pendapat-pendapat yang beragam ini, Anicetus B. Sinaga menyintesekan paham Mulajadi Nabolon dengan rumusan singkat-padat: “Allah-Tinggi Orang Batak Toba yang sekaligus transendens dan immanens.” (The Toba-Batak High God is Transendence and Immanence). Allah tetap dialami sebagai yang punya kuasa Mahakuat tetapi Ia juga dilihat immanen karena Ia adalah sumber hidup dan penghiburan untuk menangkal setan. Maka bagi orang Batak, mustahillah hidup tanpa relasi dengan Mulajadi Nabolon.

BIBLIOGRAFI

IMAN KATOLIK Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius, 1996

Hutagalung, W. M. Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak. (tanpa tempat): Tulus Jaya, 1991

Lumbantobing, Andar M. Makna Wibawa Jabatan dalam Gereja Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Saragih, Johanes Paulus. GERAKAN-GERAKAN MESIANIS DI TOBA Suatu tinjauan sosio-politis-religius. Sinaksak: STFT St. Yohanes, 2008

Sinaga, Anicetus B. Dendang Bakti: Inkulturasi Teologi dalam Budaya Batak. Medan: Bina Media Perintis, 2004

Sinaga, Anicetus B. Toba-Batak High God: Transcendence and Immanence. West Germany: Anthropos Institut, 1981

Leave a comment »

Horas Tano Batak

  

  

Batak (Indonesia)

batak
Total population
6 million (2000 census)
Regions with significant populations
North Sumatra: 4.9 million
Language(s)
Batak languages (Alas-Kluet, Angkola, Dairi, Karo, Mandailing, Simalungun, Toba), Malay, Indonesian
Religion(s)
Christian, Muslim, Parmalim, Hinduism
Related ethnic groups
Malay

Batak is a collective term used to identify a number of ethnic groups found in the highlands of North Sumatra Indonesia. Their heartland lies to the west of Medan centred on Lake Toba. In fact the “Batak” include several groups with distinct, albeit related, languages and customs (adat). While the term is used to include the Toba, Karo, Pak Pak, Simalungun, Angkola and Mandailing groups, some of these peoples prefer not to be known as Batak.

 Society

Batak societies are patriarchal organized along clans known as Marga. The Toba Batak believe that they originate from one ancestor “Si Raja Batak”, with all Margas, descended from him. A family tree that defines the father-son relationship among Batak people is called tarombo. Toba Batak are known traditionally for their weaving, wood carving and especially ornate stone tombs. Their burial and marriage traditions are very rich and complex. The burial tradition includes a ceremony in which the bones of one’s ancestors are reinterred several years after death. This secondary burial is known among the Toba Batak as (mangongkal holi).

A traditional Batak house

A traditional Batak house

Before they became subjects of the colonial Dutch East Indies government, the Batak had a reputation for being fierce warriors. Today the Batak are mostly Christian with a Muslim minority. Presently the largest Christian congregation in Indonesia is the HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Christian church. The dominant Christian theology was brought by Lutheran German missionaries in the 19th century, including the well-known missionary Ludwig Ingwer Nommensen. Christianity was introduced to the Karo by Dutch Calvinist missionaries and their largest church is the GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Mandailing Batak were converted to Islam in the early 19th century.

[edit] Language

Batak speak a variety of closely related languages, all members of the Austronesian language family. There are two major branches, a northern branch comprising the Pakpak and Karo languages that are similar to each other but distinctly different from the languages of the southern branch comprising three mutually intelligible dialects: Toba, Angkola and Mandailing. Simalungun Batak is an early offspring of the southern branch. Some Simalungun dialects can be understood by speakers of Karo Batak whereas other dialects of Simalungun can be understood by speakers of Toba. This is due to the existence of a linguistic continuum that often blurres the lines between the six Batak dialects.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.