Archive for artikel tentang gender

GENDER

MEMPERJUANGKAN KESETARAAN GENDER

KATA PENGANTAR

             Tiada kata terbaik untuk memulai tulisan ini selain mengucap: Puji & Syukur kepada Allah Bapa, Putera, dan Roh-kudus, atas rahmat yang dianugerahkanNya kepada saya hingga paper ini dapat diselesaikan.            Makalah ini ditulis dalam rangka berpartisipasi dalam perlombaan karya tulis yang diselenggarakan oleh majalah Rajawali, majalah ilmiah STFT St. Yohanes Pematangsiantar. Tetapi di atas semua itu, saya turut prihatin dengan fenomena yang marak terjadi di negara kita akhir-akhir ini yakni perendahan martabat wanita, yang juga adalah perendahan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Untuk itu melalui tulisan ini saya merasa terpanggil menuliskan segelintir realitas itu dan upaya-upaya memperjuangkan kesetaraan gender.            Dalam proses penyelesaian tulisan ini saya mendapat bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu saya mengucapakan terimakasih terutama kepada teman-teman tingkat I di konvik Alverna, juga kepada mereka yang embantu saya yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu.            Saya berharap, semoga tulisan ini semakin menggugah kita untuk menghormati wanita sebagai makhluk Tuhan. Dan akhirnya, saya menyadari keterbatasan saya dalam menulis makalah ini. Tulisan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan tulisan ini. Terimakasih, Pematangsiantar, 19 Mei 2007 Penulis      

BAB I

PENDAHULUAN                                 BAB IIIDEALISME RELASI PRIA DAN WANITA dalam PANDANGAN GEREJA KATOLIK 1. Pria dan wanita dalam teks Kitab Suci Perjanjian Lama Kej. 1:27, 2:18-22, 24            Allah menciptakan manusia pria dan wanita menurut gambarNya. Wanita dibangun Allah dari tulang rusuk pria. Allah Berfirman: “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong bagimu yang sepadan dengan dia.” (Kej.2:18). “Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak, ketika ia tidur Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawanya kepada manusia itu.” (Kej. 2: 21-22).            Allah menciptakan manusia pria dan wanita menurut gambarNya. Wanita dibangun Allah dari tulang rusuk pria. Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi membentuk suatu persekutuan. Rusuk pria sebagai asal seorang wanita adalah simbol bahwa wanita sama derajatnya dengan pria. Perbedaan itu diciptakan agar wanita dan pria saling membutuhkan. Kelembutan, kehalusan, ketelitian, dan sifat-sifat khas wanita merupakan kelebihan wanita yang dibutuhkan oleh pria. Keperkasaan, keberanian, dan sifat-sifat khas pria merupakan kelebihan pria yang dibutuhkan oleh wanita. Tuhan menghendaki manusia bersatu, karena pria dan wanita diciptakan sederajat.2. Wanita dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.            Dunia Perjanjian Baru adalah dunia yang cenderung berwarna lelaki dan terarah pada suasana lelaki. Dalam sebuah dunia yang demikian, membela hak, kehormatan, dan kesempatan yang mestinya dimiliki oleh kaum perempuan sama sulitnya dengan menyerbu sebuah benteng seorang diri.            Kitab Suci yang menghidupi alam pemikiran dan perjuangan Yesus Kristus menceritakan kisah tentang kedudukan dan peranan wanita dalam 2 pola pemikiran. Pertama, pola pemikiran yang menemptkan wanita dalam hubungan saling melengkapi kehidupan manusia. Wanita dan pria diciptakan mengatur alam yang kacau dan teratur. Kedua, pola yang menempatkan kedudukan dan peranan wanita yang tunduk kepada wibawa pria yakni kisah wanita yang diambil dari rusuk Adam. Dua cakrawala itu silih berganti berperan dalam tradisi dn budaya Yahudi sampai jaman Yesus. Yesus sendiri menampilkan sikap yang sangat terbuka bagi peranan dan kedudukan wanita dalam hidup bersama.[1]            Dalam Injil sinoptik dan Kisah Pararasul, perempuan mempunyai kemerdekaan dan kehormatan tersendiri, mungkin karena kesetiaan penginjil terhadap Yesus sendiri. pandangan terhadap peran perempuan terasa amat leluasa dan bebas. Memang benar ada warna dominasi laki-laki dalam rumusan dan bahasa, tetapi hal itu diimbangi oleh pengakuan akan peran perempuan yang cukup terbuka. Dominasi lelaki seperti muncul dalam gambaran wanita lahir dari rusuk pria (Kej. 2:21) tidak muncul, sedang yang kerap muncul adalah peranan yang terbuka di samping kegiatan laki-laki.[2]            Dalam Injil Yohanes ternyata kedudukan dan peranan wanita dalm kehidupan iman diterima secara positif. Pengakuan akan kepribadian, hak, kemerdekaan, dan tanggung jawab wanita mendapat tempat yang amat penting dalam Injil Yohanes. Wanita dalam Injil ini mempunyai peranan yang cukup berarti dalam saat-saat kritis, kendati dengan keterbatasan mereka, namun kelebihan mereka dalam menanggapi tawaran Yesus Kristus ternyata jauh lebih positif dibandingkan dengan murid-murid yang lain. Injil ini secara kualitatif menampilkan kedudukan dan peranan wanita yang penting dalam kehidupan Gereja Perdana.[3]            Tampaknya bahaya besar zaman ini bagi kemerdekaan peranan perempuan adalah seperti yang dihidupi oleh Santo Paulus yakni ancaman terhadap moral dan tata susunan masyarakat. Sebagai orang Kristen ktia menghargai peran perempuan. Santo Paulus tidak salah menangkap semangat Yesus ketika menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada laki-laki dan perempuan, Yunani atau Yahudi, budak atau tuan (Gal. 3:28). Tanggungjawablah yang akan memberi nilai penuh pada kemerdekaan tersebut.[4] 3. Relasi antara pria dan wanita dalam Gaudium et Spes nomor 12 dan Katekismus Gereja Katolik.            Adapun Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah; ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya. Allah tidak menciptakan manusia itu seorang diri; sebab sejak awal mula “Ia menciptakan mereka pria dan wanita.” (Kej. 1:27).rukun hidup mereka merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang paling dalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya.[5]            Pria dan wanita diciptakan artinya dikehendaki oleh Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam kepriaan dan kewanitaannya, mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.[6]      BAB IIIRELASI PRIA DAN WANITA DARI SUDUT BIOLOGIS, SOSIOLOGIS, DAN PSIKOLOGIS A. PRIA DAN WANITA DARI SISI BIOLOGIS            Harus diakui kenyataan bahwa fisik kaum pria lebih kuat dari wanita. Pria ditandai dengan ciri-ciri berikut: tubuh, kaki, dan tangan tegak, kuat, kekar, berotot dan suaranya besar serta keras. Ini semua melambangkan keperkasaan dan kekuatan. Untuk itu, pria sangat tertarik kepada pekerjaan-perkerjaan yang mebutuhkan tenaga besar. Sedangkan wanita, fisiknya lebih lemah yang ditandai dengan: tubuh, kaki, dan tangan yang lembut, halus, lemas, dan suara yang kecil merdu. Ini melambangkan kelembutan, kasih sayang, dan perasaan aman. Untuk itu, wanita lebih  mencintai tugas-tugas yang ringan atau pekerjaan yang membutuhkan ‘kelembutan dan ketekunan.’            Dengan keadaan fisik yang ada ini, kaum pria merasa dirinya lebih kuat atau hebat, sedangkan kaum wanita dipandang sangat lemah sehingga akhirnya ditindas. B. RELASI PRIA DAN WANITA DARI SEGI SOSIOLOGIS[7]            Pola pergaulan ditentukan oleh peranan, kedudukan, dan identitas/citra diri.Peranan            Dalam pergaulan setiap individu berhubungan dengan pihak lain, maka biasanya setiap individu mempunyai “set of roles” (kumpulan peranan). Kumpulan peranan ini berubah terus tergantung jaman dan tempat serta umur si individu tersebut. Pentingnya peranan menjadi jelas dengan definisi bahwa peranan adalah petunjuk kelakuan yang diatur menurut norma-norma yang berlaku.            Setiap tahap perkembangan memuat peranan-peranan tertentu. Dulu si individu bersekolah sekarang peranan berganti menjadi guru. Maka cara seorang individu menghadapai “sekarang” tergantung bagaimana caranya mengolah waktu lampau. ‘Cara’nya itu menjadi identitasnya. Si Ani yang sejak kecil berperanan sebagai ‘ibu’ akan mempengaruhi peranannya sebagai ibu ‘asli’ kelak. Sebaliknya Anton dengan peranan sebagai “bapak” mempengaruhi peranannya sebagai bapak ‘asli’ kelak.Kedudukan            Tidak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan. Setiap pergaulan hidup telah dinilai, telah diberikan posisi atau status yang tetap dalam interaksi sosial. Peranan seorang pendeta lebih tinggi daripada jemaatnya. Sistem kedudukan disusun secara hierarkis.            Berhubungan dengan peranan pria dan wanita, secara hierarkis dalam masyarakat. Status pria lebih tinggi daripada si wanita. Dalam rumah tangga si ibu dibebani dengan banyak kewajiban banyak kewajiban seperti membesarkan anak serta mendampingi. Fenomena ini sangat jelas tampak dalam masyarakat yang berideologi patriarkhal.[8]Identitas dan citra diri (self concept)            Pada wakt kelahiran seorang bayi belum tahu tentang identitasnya sebagai pria atau wanita. Sesudah lehir si bayi diberi nama lelaki atau perempuan, memakai anting-anting atau tidak. Semua menjadi tanda bagi orang di sekitar untuk memperlakukan berbeda antara si pria dan wanita. Si pria diberi mainan: mobil-mobilan, layang-layang, dan dia didorong mengimitasikan ayahnya. Si wanita diberi mainan boneka, mencuci piring dan didorong mengimitasikan ibunya.            Identitas ini yang diterima anak dari dunia luar, menghasilkan suatu citra diri di dalam si anak. Baik identitas maupun citra diri muncul dari interaksi sosial.III RELASI PRIA DAN WANITA DARI SEGI PSIKOLOGIS[9]            Konstitusi biologis membedakan tidak hanya peranan dan identitas pria dan wanita tetapi juga corak kepribadian mereka. Kalau aspek sosiologis menyoroti pengaruh lingkungan atau perkembangan seorang individu, aspek psikologis menekankan pengaruh watak dalam proses menjadi dewasa.            Dari pelbagai teori kepribadian akan diangkat 3 saja aliran psikologi yang berkaitan dengan tema kita kali ini yakni: teori social learning¸ self-theory, dan psikoanalisis teori Freud dan C.G. Jung.Teori social learning            Istilah ‘social learning’ berarti proses belajar yang didasarkan pada dorongan sosial. Menurut teori ini unsur-unsur tabiat adalah hasil proses belajar sosial. Kepribadian manusia terbentuk dalam interaksi dengan orang lain yang dimulai dari keluarga. Misalnya anak laki-laki sudah biasa memakai celana sedangkan anak perempuan baju atau rok. Masing-masing diindoktrinasikan dengan kebiasaan-kebiasaan itu.Self-theory            Menurut teori ini, proses belajar tidak didasarkan atas dorongan sosial – dari luar – tetapi atas dorongan batin. Kebutuhan paling fundamental manusia adalah kebutuhan aktualisasi diri (the need for self-actualization). Untuk it dibutuhkan keberanian melawan pengaruh lingkungan. Misalnya dalam dirinya seorang wanita ingin maju dalamm karier tetapi dia menghadapi tekanan kuat dari orang-tuanya untuk kawin. Maka dorongan dalam batinnya ‘memaksa’ dia untuk aktualisasi diri itu.Teori Freud             Psikolog Freud (1856-1939) memaparkan bahwa dalam jiwa manusia terdapat banyak gejala psikis yang hidup dalam ketidak sadaran. Ia membedakan 3 tahapan dalam hidup manusia:1.       tahap oral: tahap kenikmatan berada di daerah mulut2.       tahap anal: tahap kenikmatan pada aktifitas kencing dan buagn air besar3.       tahap falik: tahap kenikmatan pada alat kelamin.Pada fase falik ini anak mulai memperhatikan perbedaan anatomik pria dan wanita. Namun bagi Freud, pria dan wanita di sini adalah dua dunia yang berbeda (dualistis) yagn tidak dapat dijembatani.Teori C.G. Jung            Bertentangan dengan teori ‘dualisme’-nya Freud, C.G. Jung (1875-1961) mengatakan bahwa pria dan wanita bersifat bi-seksual. Secara amat sederhana psikolog C.G. Jung melukiskan bahwa di dalam setiap pribadi terdapat sekaligus dua unsur (animus = “maleness” = kelaki-lakian & anima = “femalenes” = kewanitaan). Pada diri laki-laki normal yang disadari dan nyata adalah animusnya meski terdapat juga unsur anima. Untuk itu pria lebih obyektif dan mengandalkan rasio dalam setiap pemecahan persoalan. Dalam diri wanita meski terdapat unsur animus, tetapi yang dominan adalah unsur animanya. Karena itu, wanita dianggap kurang mampu memecahkan suatu persoalan/masalah, karena terlalu menekankan perasaan (subyektif).[10]           BAB IVKEDUDUKAN PRIA DAN WANITA DALAM BERBAGAI BUDAYA            Pada bagian ini akan dibahas 3 budaya yakni: suku Batak, Jawa, dan Minangkabau. Suku Batak dengan segala etnisnya menganut sistem patrilineal, suku Jawa berideologi —–, dan suku Minangkabau dengan sistem matrilineal. Ketiganya dianggap sudah ‘mewakili’ sistem kekerabatan dalam banyak budaya di persada nusantara ini.a. Suku Batak            Suku Batak dengan beberapa etnisnya seperti Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing menganut sistem patrilineal. Anak-anak yang lahir akan menyandang marga bapaknya. Jadi garis keturunan mengikuti garis ayah. Sementara itu, wanita (boru) akan menjadi bagian dari kelompok marga suaminya.            Dalam budaya Batak Toba misalnya, kedudukan seorang wanita dikenal dengan istilah patimbohon parik ni halak, yang artinya memperkuat barisan marga lain. Istilah tersebut daat diartikan bahwa bila wanita menikah, ia akan menjadi anggota keluarga pihak suami yang akan menambah kekuatan masyarakat tempat suaminya tinggal atau berasal.            Hal ini berpengaruh luas dalam berbagai aspek kehidupan orang Batak Toba, misalnya dalam hal warisan. Yang berhak mendapat warisan hanya laki-laki sedangkan anak perempuan akan mendapat warisan melalui keluarga suaminya. Bila sudah menikah dengan anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (matrilateral cross-cousin), si isteri dibeli (dituhor) dan masuk pada keluarga laki-laki dan tinggal padanya (patrilokal), pengelompokan ini menjadikan si ayah sebagai ketua (patriarkhat). [11]  b. suku Jawa            Dalam masyarakat Jawa, garis keturunan tidak terlalu dibedakan apakah harus mengikuti ayah atau ibu. Tidak ada marga yang harus dipertahankan. Baik anak laki-laki  pun perempuan adalah penerus keluarga.            Walau demikian, peran yang harus dilakukan pria berbeda juga dengan peranyagn harus dilakukan wanita. Pria yang dianggap lebih kuat harus melindungi wanita. Wanita dianggap lebih lemah hingga harus senantiasa dilindungi.dalam kehidupan keluarga, pria menjadi pemimpin. Ia diwajibkan memenuhi nafkah keluarga dan wanita diharapkan ikut membantu perekonomian keluarga.c. suku Minangkabau            Budaya Minangkabau menganut sistem matrilineal yang menempatkan perempuan pada posisi penting dalam proses perujukan garis keturunan. Anak-anak yang lahir akibat suatu perkawinan dalam sebuah keluarga adalah anak-anak yang mempunyai suku yang sama dengan ibu. Anak-anak itu adalah “milik’ kerabat ibu. Sedangkan bagi kerabat ayah, anak-anak itu hanyalah “anak pisang”. Di samping itu, perempuan dalam kacamata budaya Minangkabau adalah “amban puro”, pemegang kunci kendali hasil ekonomi sawah dan ladang. Padanya terletak keputusan penggunaan sawah dan ladang yang tersimpan dalam rangkiang. Ia adalah “juragan” hasil pertanian dan perkebunan yang telah dikelola dan diusahakan bersama oleh keluarga dan anggota kerabat yang lain.            Sistem perkawinan yang eksogami meletakkan perempuan pada status yang setara dengan lelaki. Mereka tidak menjadi lebur ke dalam tali kerabat masing-masing. Pola perkawinan demikian menyebabkan perempuan tidak tergantung kepada laki-laki yang menjadi suaminya. Ia mandiri. Konsep demikian, memberi tempat yang baik, terhormat kepada perempuan.            Di samping pekerjaan domestik (rumah tangga), perempuan juga melakukan kegiatan sampingan yang produktif. Mereka itu turun ke sawah dan ladang mengolah lahan pertanian dan perkebunan bersama kaum lelaki. Hanya saja masih terdapat segmentasi kerja antara lelaki dan perempuan. Pekerjaan awal yang lebih berat dikerjakan oleh lelaki, sedangkan tahap kedua ketika lahan telah dialiri air perempuan berperan untuk menghaluskan tanah dengan mencangkulnya. Pada tahap mancangkua (mencangkul) inilah perempuan bekerja secara bersama-sama di sawah dalam kelompok masing-masing. Biasanya kelompok terdiri dari beberapa orang petani perempuan yang berstatus sebagai atau penggarap sawah. Sistem berkelompok ini dalam tradisi Minang disebut barombai.[12] 

BAB V

GERAKAN YANG MEMPERJUANGKAN KESETARAAN GENDER1. Emansipasi wanitaKata emansipasi berasal dari kata Latin emancipare (“emansipasi”) yang berarti membebaskan diri atau memerdekakan diri dari (kuasa, hukum), membebaskan diri dari suatu kedudukan yang tidak merdeka.            Salah satu persepsi publik yang paling populer adalah anggapan bahwa makna emansipasi wanita adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Persepsi itu sangat keliru, namun kaprah dipertahankan. Apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan kaum wanita. Sebaliknya hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita, akibat realita kewajiban masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati tidak sama. makna emansipasi wantia yang benar adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan mentukan nasib sendiri. sampai kini, mayoritas wantia Indonesia terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum sadar atas hak memilih dan mentukan nasib sendiri akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural serba keliru.Tokoh emansipasi wanita Indonesia yang terkenal adalah R. A. Kartini yang hidup pada masa pemerintahan Hindi-Belanda.[13] b. Feminisme            Kata Latin “Femina” berarti wanita (Genus Femininum dalam vocabulary Latin berarti: yang bersifat wanita, yang hanya menerima kekuatan dari Masculinum) Gerakan ini mengkritik struktur patriarkat dan berusaha mengadakan suatu struktur masyarakat yang lebih adil.  Gerakan ini memperjuangkan pembebasan perempaun dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan muncul dengan kelahiran era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middleburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad ke-19 feminisme lahir menjadi gerkan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan-perempuan di negara-negara penjajah Eropa memerjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Berbagai aliran  Feminisme dapat disebut di sini:a. Feminisme liberal: pandangan yang menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf.b. Feminisme radikal: muncul pertengahan 1970-an yang menawarkan perjuangan separatisme perempuan. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjaid akibat sistem patriarki.c. Feminisme Post-Modern: berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.d. Feminisme anarkis: suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.e. Feminisme Marxis: memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. f. Feminisme Sosialis: berjuang untuk menghapus sistem pemilikan berupa pemilikan pria atas harta dan istri dalam lembaga perkawinan.g. Feminisme Post-kolonial: menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.[14] 

BAB VI

TOKOH-TOKOH WANITA YANG TERKENAL            Kiranya masih banyak tokoh wanita ‘berprestasi’ yang pernah hidup. Namun ketiga tokoh yang akan disebutkan di sini yakni: R. A. Kartini, Muder Teresa, dan Bunda Maria mewakili wanita-wanita tersebut. Ketiga tokoh ini saya anggap penting karena masing-masing —————1. Raden Ajeng Kartini            “…Pada waktu kata ‘emansipasi’ belum mempunyai arti apa-apa bagi saya, dalam hati saya sudah timbul keinginan yang kian lama kian membesar: keinginan kepada kemerdekaan, kebebasan, dan untuk berdiri sendiri……..Maka mari, ibu-ibu, wanita-wanita, gadis-gadis, bangkitlah, mari kita berbimbingan tangan dan bekerja sama untuk merubah keadaan yang tak tertahankan ini.” Nukilan surat ini ditulis oleh seorang tokoh wanita kita untuk  kedua sahabatnya Nn. Stella dan Ny. van Kol. Beliau adalah R.A. Kartini. R.A.Kartini adalah salah satu tokoh terkenal emansipasi wanita Indonesia. Ia hidup pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Ia lahir 21 April 1877 di Jepara. Satu hal yang istimewa pada dirinya yakni bahwa ia dapat bersekolah di sekolah dasar Belanda (Eropeesce Lagere School) di Jepara. Di sekolah ini Kartini berkenalan dengan teman-temannya bangsa Belanda dan bersentuhan dengan alam pikiran Barat.            Pandangan, sikap, dan tindakan Kartini di jamannya memang kontroversial. Setidaknya bagi dirinya, kesadaran persamaan hak dengan pria jauh melebihi wanita-wanita sejamannya yang masih terbelenggu tirani budaya konco wingking, lemah, dan tabu kerja di sektor publik. Status dan tugas semata-mata untuk mengabdi keluarga dan suami dengan “3 m”: masak, manak, dan macak.            Ia menikah dengan Raden Adipati Ario Joyodiningrat, Bupati Rembang pada tanggal 08 November 1903. Dalam biografinya terdapat sebuah surat yang isinya, “Jangan khawatir. Tunanganku tidak akan memotong sayapku….Ia malahan akan memberi lebih banyak kesempatan kepadaku untuk mengembangkan sayapku. Ia menghargai aku.” Sepenggal suratnya ini dikirim kepada sahabatnya Ny. Abendanon di Belanda. Suaminya memang mendukung sepenuhnya cita-citanya ini.            Setelah melahirkan putera satu-satunya Raden Mas Sualit pada 17 September 1904, Kartini wafat sebagai seorang pejuang.[15]2. Muder Teresa            The fruit of life is silence; The fruit of SILENCE is prayer, the fruit of PRAYER is faith; The fruit of FAITH is love. The fruit of LOVE is service; The fruit of SERVICE is PEACE. Inilah kata-kata seorang wanita beriman yang masih dekat ke jaman kita ini, Muder Teresa dari Calcutta, India. Ia perempuan biasa dengan perbuatan biasa namun telah mengejutkan dunia secara luar biasa. Semua karena iman.            Muder Teresa lahir pada tahun 1910 di Skopje, bekas negara Yugoslavia (sekarang Makedonia) dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu. Orangtuanya Nikola dan Dronda Bojaxhiu adalah orang Albania yang bertempat tinggal di Skopje. Agnes Gonxha Bojaxhiu bergabung dengan para suster dari Loreto (Sister of Loreto) pada tahun 1928. Tahun 1929, Muder Teresa ditugaskan mengajar Ilmu Bumi di SMA Putri Santa Maria di Calcutta, bagian selatan kota Darjeeling, India. Di kota itu banyak terdapat pengemis, penderita kusta dan para tuna wisma. Muder Teresa merasa terpanggil melayani mereka. Atas permintaannya sendiri, tahun 1948 P.Pius XII memberikan izin bagi Muder Teresa untuk memulai kongregasi suster yang berdiri sendiri. Kongregasi itu (Missionary of Charity) mengabdikan diri secara khusus bagi orang-orang miskin, sakit, dan hampir mati atau tak berdaya.            Tahun 1971 P. Paulus VI memberi tanda penghargaan sebagai hadiah nobel perdamaian dari P.Yohanes XXIII. Tahun 1972 beliau mendapat penghargaan Jawahalal Nehru dari Pemerintah India. Tahun 1979 Muder Teresa menerima hadiah nobel perdamaian dari PBB.[16] 3. BUNDA MARIA SEBAGAI TELADAN MARTABAT WANITA DALAM SEJARAH KESELAMATAN             Dalam Injil Lukas 1: 33-45, Maria disebut sebagai wanita yang berbahagia karena percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan terlaksana. Maria adalah salah satu wanita yang mendapat penghargaan tinggi dari Allah selaku wanita beriman. Karena imannya, Maria lebih dihormati dibandingkan dengan Zakharia. Maria tidak ragu-ragu akan apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel. Kepercayaan yang tanpa syarat inilah yang menyebabkan Maria disebut sebagai ibu yang berbahagia. Dengan penuh sukacita ia menerima diri menjadi ibu Tuhan, di mana ia harus  mengandung walaupun ia belum mempunyai suami.            Maria adalah wanita yang penuh perhatian terhadap keprihatinan yang dialami orang lain. Ketika mendengar dari malaikat bahwa Elisabet tengah mengandung, bergegaslah ia menemuinya.selain ingin menolong, alasan lain adalah di Nazaret tak ada seorang pun yang dapat diajak bicara oleh Maria mengenai pengalamannya. Sebagaimana kodrat wanita yang selalu membutuhkan tempat berbagi, maka Maria pergi ke Air Karim karena ingin bertukar pikiran dengan Elisabet, satu-satunya orang yang tahu tentang rahasia Maria.            Kata-kata Elisabeth: “Siapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” dengan kata-kata ini, Elisabet mau memberi kesaksian tentang Maria sebagai bunda Kristus. Anak dalam kandungan Elisabeth, Yohannes Pembabtis, adalah yang nantinya membuka jalan dan menunjuk Yesus sebagai Mesias.            Maria membuktikan ketaatan imannya. Oleh karena itu, ia disebut yang berbahagia karena ia telah percaya. Pantaslah Maria dijadikan teladan karena imannya. Dia adalah teladan bagi wanita yang hanya mau mengandalkan Tuhan. Dia, yang adalah wanita dipilih dan dicintai Tuhan. 

BAB VII

UPAYA SEDINI MUNGKIN MENANAMKAN NILAI-NILAI KESETARAAN GENDER  BAB VIIIPENUTUPA. Kesimpulan    


[1] St. Darmawijaya, Pr., Perempuan dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 109-110.

[2] St. Darmawijaya, Pr., Perempuan…, hlm. 44

[3]  St. Darmawijaya, Pr., Perempuan…, hlm. 63

[4]  St. Darmawijaya, Pr., Perempuan…, hlm. 112

[5]  Konsili Vatikan II, “Dekrit tentang Gereja dalam Dunia Modern” (GS), no. 12, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahakan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumnetasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993), hlm. 521.

[6]  Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan oleh P. Herman Embuiru, SVD (Ende: Percetakan Arnoldus, 1995), hlm. 125.

[7] Anne Hommes, Perubahan Peran Pria dan Wanita dalam Gereja dan Masyarakat (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 19-27

[8] Sistem Patriarkal adalah sistem kekerabatan yang lebih—————————

[9] Anne Hommes, Perubahan…, hlm. 30-37

[10]

[11] “Patrilineal”, dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, vol. 12 (1930 ed.), hlm. —————–

[12] Silvia Rosa, “Fenomena Androginik Masyarakat Minangkabau”, dalam Basis, No. 09-10 (September – Oktober 2000), hlm.44-47

[13] “Emansipasi Wanita”,  dalam http://www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/kelirumologi.htm. Akses tanggal 15 Mei 2007.

[14] “Sejarah Feminisme”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme. Akses tanggal 15 Mei 2007.

[15] Emilianus Elip, “Mau sampai Batas mana Tuntutan Wanita”, dalam Basis, XXXIX (Desember 1990), hlm. 489-490.

[16] Philipus Tole, SVD, Ildefonsa, SSpS, & Florentina, SSpS (ed.), Para Perempuan sekitar Yesus (Ende:Nusa Indah, 2000), hlm. 201-212.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.