Archive for KUMPULAN RENUNGAN

MERENUNGKAN HIDUP LEWAT PERAYAAN EKARISTI

“Akulah roti hidup” kata Yesus dalam Injil hari ini, “Barangsiapa makan roti ini, ia tidak akan mati.” Yesus menunjuk Diri-Nya sendiri, barangsiapa percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal. Kehadiran Yesus yang real, bukan sekadar kenangan, tetapi hadir sekarang di sini menujuk pada Ekaristi yang kita rayakan hari ini. Dalam Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan liturgi Gereja. Dalam perayaan itu, simbol roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus lewat tangan imam. Barangkali sudah biasa kita dengar, dalam Perayaan Ekaristi, kata-kata ini diucapkan oleh imam ketika ia mengamdil roti: Dia mengambil (dipilih) roti, mengucap syukur dan memuji (diberkati) Dikau, memecah-mecahkan (dipecah-pecahkan) roti itu, dan memberikanNya kepada murid-muridNya. Kata “diambil/dipilih”, “diberkati”, “dipecah-pecahkan”, dan “dibagi-bagi” adalah juga simbol hidup kita manusia dan menjadi permenungan kali ini.

Hidup yang Dipilih…

 

Entah siapa pun kita, anak-anak maupun orang tua, baik kaya maupun miskin, baik hitam maupun putih, baik…maupun…., adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Kita berharga di mata Tuhan, kita sangat unik, khas, dan istimewa. Untuk kita masing-masing, rencana Tuhan sangat indah. Katanya, dari keabadian, sebelum dilahirkan dan menjadi bagian dari sejarah kita sudah berada dalam hati Allah. Nilai dan keistimewaan kita tidak ditentukan oleh dunia, tetapi karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi (bdk.1Yoh:10). Kalau anda dipilih itu BUKAN berarti bahwa orang lain ditolak, melainkan sebaliknya, orang lain semakin kita cintai terutama karena mereka berbeda dari saya. Karena “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah juga kita saling mengasihi…Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita” (1Yoh 4:11-12).

Hidup yang Diberkati….

 

Dalam bahasa Latin, kata “memberkati” adalah benedicere yang berarti berbicara (dictio) baik (bene), mengatakan sesuatu yang baik. Kadang-kadang memang sulit mengatakan/membicarakan hal yang baik. Yang bahkan biasa terjadi adalah sebaliknya, kata-kata kita lebih gampang membicarakan kelemahan dan kekurangan sesama di sekitar kita. Maka, tidak mengherankan bahwa tindakan memuji sulit kita dengar kecuali dari orang-orang yang memang senantiasa menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah besar dari Tuhan.

Ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, kata-kata ini terdengar dari langit, “Engkau adalah Anak yang Kukasihi, kepadaMu Aku berkenan”. Berkat inilah yang menyertai Yesus dalam misi-Nya di dunia, baik dalam kekaguman maupun hinaan. Dalam hidup kita kerap mengalami saat-saat gelap juga. Dalam saat-saat itu jiwa kita sebenarnya membutuhkan hiburan dalam keheningan. Ya..dalam keheningan dan doa, di sana akan mampu mendengar suara Dia yang mengatakan bahwa kita adalah “Anak yang Dikasihi”. Bunda Theresia mengatakan: “Keheningan membuatmu selalu melihat dengan cara baru, hal-hal yang barangkali sudah sangat biasa!” Dalam dunia modern yang terlalu sibuk ini, kita ditantang untuk selalu peka mengalami berkat yang ada di sekeliling kita setiap hari. Suara Tuhan memang sangat halus, bahkan terlalu halus, sehingga kita perlu menajamkan mata dan telinga. Dan rupanya berkat-berkat itu tidak harus kita cari-cari, selalu ada di sekitar kita: pengemis yang mengulurkan tangannya, teman yang sedang dalam masalah/kesulitan, kegiatan harian kita, tanaman dan apa saja di sekeliling kita,…..

Hidup yang Dipecah-pecahkan….

 

Orang Katolik selalu menandai diri dengan tanda salib. Di salib tampak cinta Allah yang total kepada kita. Itu juga lah yang kita rayakan dalam Ekaristi. Dengan mengatakan, “Barangsiapa tidak menyangkal dirinya dan memanggul salib dia tidak layak menjadi pengikutku”, Yesus sebenarnya bukan mau menyampaikan suatu aturan kepada kita. Di atas semua itu, Yesus mau menggambarkan kenyataan hidup kita yang nyata-nyata memang tidak bisa lepas dari kesulitan dan penderitaan. Ada penggalan tulisan (M.Scott Peck) mengatakan demikian: ”Hidup itu pada prinsipnya adalah sulit. Ini merupakan kebenaran yang agung, salah satu dari kebenaran-kebenaran yang paling agung… Sebagian besar orang tidak sepenuhnya melihat kebenaran ini, yakni bahwa hidup itu sulit. Malahan, mereka mengeluh tiada hentinya, entah ribut entah pelan, tentang besarnya masalah mereka, beban mereka, dan kesulitan-kesulitan mereka, seolah-olah biasanya hidup itu mudah, seakan hidup itu seharusnya mudah…Saya tahu mengenai keluhan ini karena saya telah mengalaminya. Hidup adalah serangkaian persoalan.”

Saya sangat yakin, bahwa penderitaan kita masing-masing tidak sama. Namun, kita harus yakin juga, bahwa penderitaan dan keterpecahanku menyatakan keistimewaan diriku sebagai anak Allah yang dikasihi. Bila anda tidak pernah mengalami masalah, anda perlu berlari kencang dan masuk kamar berdoa sambil menangis: ”Tuhan, apakah Engkau tidak mempercayaiku lagi sehingga Engkau tidak memberi aku masalah?” Tuhan tahu, hanya lewat masalah dan persoalan manusia menjadi semakin kuat. Tidak jarang, musik yang sangat terkenal, lukisan atau pahatan yang terbaik serta buku yang paling banyak dibaca adalah ungkapan dari keadaan manusia yang terpecah-pecah. Yesus harus menderita dan pasrah, ”Bukan kehendakKu melainkan kehendakMulah terjadi!”

Hidup yang Dibagi-bagikan….

 

Hidup kita menjadi indah bila kita ‘memberi’ dan ‘menerima’ (TAKE & GIVE). Hidup kurang berarti bila hanya menerima dan menyimpan dalam diri. Mengapa memberi diri itu juga indah? Katanya, karena hidup kita sendiri adalah pemberian dari Allah. Di Palestina ada dua laut: Laut Galilea dan Laut Mati. Air danau Galilea jernih, dapat diminum, ikan-ikan hidup di dalamnya. Di pinggiran danau itu terdapat ladang hijau dan perumahan penduduk. Sebaliknya dengan Laut Mati. Asin dan tak seekor ikan pun hidup di dalamnya. Tak seorag pun yang ingin tinggal dekat laut ini, karena baunya yang tak sedap. Yang menarik ialah ada satu sungai, Yordan, mengalir ke keduanya. Danau Galilea menerima aliran sungai dan mengalirkannya lagi, sementara Laut Mati menerima dan menyimpannya. Laut Mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya. Hal itulah yang membuatnya mati, karena hanya menerima dan tidak memberi.

Seseorang dihargai bukan karena apa (pangkat, jabatan, dll) yang dimilikinya, tetapi karena apa yang dia berikan. Keterpecah-pecahan membuat kita semakin mampu saling membagikan kehidupan. Hal ini bisa kita rasakan bila ada orang yang membagirasakan beban dan penderitaannya kepada kita (sharing). Itu membuat kita juga akan terbuka membagikan beban hidup kepadanya, ini menjadi ungkapan saling kepercayaan.

Leave a comment »

merenung itu indah


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Franklin Gothic Medium”; panose-1:2 11 6 3 2 1 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Kristen ITC”; mso-font-alt:”Bradley Hand ITC”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; mso-bidi-font-weight:normal;} h2 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:14.0pt; font-family:Arial; font-style:italic;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:6.0pt; margin-left:14.15pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:348020943; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1762714186 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:10.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:28.8pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l1 {mso-list-id:1422725190; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1840072222;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

YESUS, SANG TERANG

Yes 8,23b-9,3; 1 Kor 1,10-17; Mt 4,12-23 / MB3-A

Pada tahun-tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat mengalami pemadaman listrik. Masyarakat telah menjadi korban pemadaman listrik secara bergiliran. Ada dua hal penting dapat kita petik dari peristiwa pemadaman listrik ini. Pertama, kita mengalami hambatan untuk memakai barang-barang elektronik. Kedua, pada saat pemadaman listrik itu, kita baru sadar betapa kita sangat membutuhkan terang untuk mengalahkan kegelapan. Selama listrik tidak padam, mungkin kita tidak akan begitu mengambil makna akan kebutuhan listrik itu dan terang tersebut. Dengan kata lain ada pemaknaan lain akan terang tersebut. Terang sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita ini.

Bacaan-bacaan pada hari ini memperdengarkan kepada kita tentang Yesus sebagai terang. Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah mengenai tanah Zebulon dan Naftali yang jatuh ke tangan raja Assyur. Sebagian penduduk kota dibuang ke Assyur. Pembuangan ini dipandang sebagai kesalahan kolektif. Mereka telah melanggar perjanjian mereka dengan Yahwe. Nabi Yesaya tampil dan menubuatkan kebebasan dan kelepasan. Kebebasan dari perbudakan itu diibaratkan bagaikan bangsa yang berjalan dalam kegelapan kini melihat terang yang besar. Kebebasan itu membawa sukacita dan sorak-sorai. Sebab kuk yang menekan, gandar yang di atas bahu dan tongkat si penindas dipatahkan. Orang yang tertindas mengalami pembebasan. Mereka menemukan terang kembali.

Bacaan II pada hari ini menyebutkan bahwa terjadi perpecahan di antara umat Korintus. Paulus meminta kepada mereka agar segera rukun kembali dengan menyampingkan perselisihan mereka. Orang-orang Kristen di sana membentuk kelompok-kelompok, dengan mengandalkan nama rasul Paulus, Apollos, Petrus dalam Gereja Perdana. Paulus bertanya secara ironis bagaimana orang-orang Kristen yang satu dalam Kristus menjadi terpecah. Kristus mati untuk kita semua. Kita semua dibaptis dalam nama-Nya. Dalam Kristus, semua bangsa dipersatukan

Injil hari ini menceritakan kisah Yesus yang menyingkir ke Galilea dan memanggil para murid. Yesus meninggalkan Nazaret dan menetap di Kafernaum. Awal karya Yesus di Galilea dilihat oleh Mateus sebagai penggenapan nubuat nabi Yesaya. Galilea, daerah yang dipandang rendah oleh orang-orang Yerusalem pada masa Yesus, justru yang pertama menyaksikan peristiwa yang paling besar dalam kehidupan Yesus di hadapan umum. Demikian Galilea, wilayah bangsa-bangsa kafir, bangsa yang hidup dalam kegelapan telah melihat Terang, yakni Yesus.

Yesus sebagai Terang mewartakan pertobatan, “Bertobatlah, sebab kerajaan surga sudah dekat”. Panggilan murid-murid pertama dalam Injil pada hari ini merupakan tanda pertobatan. Sebelum perjumpaan dengan Guru dari Nazaret, dalam diri mereka tentunya telah berlangsung suatu proses iman lewat pendengaran, pergaulan, dan pengalaman. Mereka terbuka dan peka terhadap panggilan Yesus. Maka, begitu Yesus menyapa dan memanggil, merekapun segera mengikutinya. Para murid tidak ragu-ragu, tidak tanggung-tanggung, tidak plin-plan, melainkan dengan tampak radikal mengikuti-Nya.

Kita menjadi Kristen harus secara total dan tidak tanggung-tanggung. Demikianlah pada hakikatnya baik panggilan Kristus maupun jawaban kita terhadap panggilan-Nya lewat proses yang pelan-pelan. Berkembang atau tidaknya tergantung dari sikap kita yang konsekuen. Ini meminta pengurbanan. Dan di sinilah arti dari penghayatan iman. Iman itu benar-benar menjadi nyata dalam menghadapi hidup kongkrit dengan segala pilihan dan kemungkinan. Sikap Petrus dan murid-murid lain hendaknya menjadi sikap kita juga. Kita berani menanggapi panggilan-Nya dalam hidup kita. Aku mau menjadi pengikut Kristus berarti berani menjadi terang dan berani berkurban. Kita menjadi terang berarti menghadirkan perdamaian yang tulus, persaudaraan yang sejati dan memberi diri tanpa berharap akan balas budi. Beranikah kita menjadi terang di depan orang?

Menghargai Sesama

2 Sam 5: 1-7. 10; Mrk 3: 22-30

Dalam diri manusia ada dua (2) pribadi: satu kita tunjukkan kepada orang lain dan satu lagi kita sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang dan berpuasa sampai badan kering-kerongtang, suka melakukan amal, berkotbah dengan suara manis madu kepada semua orang yang dijumpainya di jalan. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan serta memberi “cap” yang kotor terhadap orang lain dan banyak lagi.

Kedua bentuk pribadi ini ada dalam diri setiap manusia tidak terkecuali para ahli taurat pada zaman Yesus seperti yang diketengahkan kepada kita melalui bacaan hari ini. Para ahli taurat, setelah melihat peristiwa-peristiwa ajaib/mujizat yang dibuat Yesus, mereka (ahli taurat) langsung memberi tuduhan kepada Yesus dengan menyatakan Yesus bersekutu dengan Belzebul “raja lalat” dewa Accaron, atau “Tuan Rumah”. Berhadapan dengan tuduhan itu Yesus tentu membuat pembelaan diri dengan memberi jawaban berupa perumpamaan berbentuk kiasan. Perumpaman itu diibaratkan seperti sebuah kerajaan yang hancur karena pertentangan dalam kerajaan itu dan perumpamaan yang kedua dengan gaya semit, Ia melukiskan nasib yang sama menimpa sebuah rumah tangga yang terpecah belah akibata pertentangan dalam kehidupan rumah tangga tersebut.

Mungkin kita bertanya apa maksud perumpamaan ini. Maksudnya adalah setan menghancurkan diri sendiri jika ia terlalu bodoh mengutus Yesus untuk mewarta di dunia ini.

Begitu juga dalam hidup manusi. Kerap kita langsung memberi “cap” yang buruk atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci dan dendam. Misalnya tidak memberi dukungan kepada orang yang melakukan amal kasih, kepada orang yang menyatakan kebenaran, dan banyak hal lain lagi bahkan kita akan mengumpat mereka baik secara langsung maupun dalam hati. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai pengahalang sehingga memunculkan iri hati, dendam, benci dalam hati kita. Kurangnya penghargaan terhadap sesama kurang kita tanamkan dalam diri kita, hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, main hakim sendiri dan penebangan hutan yang meraja lela sehingga keutuhan ciptaan tidak lestari lagi. Para buruh kurang mendapat perhatian dan mendapat tindakan semena-mena dan banyak hal lagi yang menyelimuti negara kita ini.

Melalui permenungan kali ini Yesus mengajak kita untuk mengharagai sesama manusia. Mengahargai manusia berarti menghargai segala usaha dan karyanya, menerima mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya karena segala bentuk kejahatan yang kita perbuat dianggap melawan Roh dan hukumannya sangatlah berat. Tuhan berbelas kasih terhadap manusia dan belas kasihan itu tidak akan pernah dicabut oleh-Nya karena Ia menyebut hal-hal yang harus dijauhi manusia.

Doa

Yesus Tuhanku dan penyelamatku berilah aku hati yang murni supaya aku dapat memuji dan memuliakan Dikau. Syukur dan pujian itu ingin saya tunjukkan untuk menghargai sesamaku manusia apa adanya. Yesus bantulah aku untuk memberikan cinta kasih-Mu kepada setiap orang. Amen.

“Kriteria menjadi ibu, saudara dan saudari Yesus”

Bacaan I; 2 Sam 6: 12b-15. 17-19; Injil Mark 3: 31-35.

Syarat utama menjadi seorang pemenang suatu pertandingan ialah, jika peserta melakukan segala kriteria yang telah ditentukan oleh panitia atau oleh dewan juri. Pastilah yang dapat melakukan seluruh kriteria dengan sebaik mungkin, itulah yang layak disebut sebagai pemenang.

Injil hari ini, menyatakan kepada kita kriteria untuk menjadi “ibu, saudara dan saudari Yesus”. “Ibu dan sudara-saudari” Yesus adalah yang melakukan kehendak Allah. Yesus dalam pewartaan-Nya, menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah, banyak orang yang menganggap Yesus gila. Ketika orang banyak (terutama yang menaruh benci kepada Yesus) melihat bahwa ada orang yang mencari Yesus dan mengaku sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya”, orang-orang itu ingin memojokkan Yesus atas pengakuan-Nya sebagai Putra Allah. Tetapi Yesus menjawab mereka dengan menyatakan “kriteria” untuk menjadi “ibu dan saudara-saudari-Nya”. Yang menjadi ibu dan saudara-saudari Yesus adalah yang melaksanakan kehendak Allah. Saudara dan saudari Yesus yang dimaksud di sini bukanlah anak-anak Maria tetapi kaum kerabat seperti kemanakan disebut juga sebagai saudara. Dengan menyatakan “ibu-Ku, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan” kekerabatan badaniah dikalahkan oleh kekerabatab rohaniah. Persaudaraan yang disatukan oleh api dan air pembabtisan (rohani) lebih kuat dari pada persaudaraan yang disatukan oleh darah. Hari ini Yesus menyatakan “kriteria” untuk menjadi ibu, saudara dan saudari-Nya yankni harus melakukan kehendak Allah. Yesus tidak menghendaki orang-orang yang hanya mendengar kehendak Allah saja tetapi yang terutama harus melakukannya.

Bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap kehendak Allah yang kita dengar, kita renungkan atau kita baca dari Kitab Suci? apakah kita hanya mendengar seperti orang-orang di sekeliling Yesus? Layakkah saya disebut sebagai “ibu, saudara dan saudari” Yesus melalui hidup saya sebagai orang kristen? Kita akan menjadi kerabat Yesus jika kita melakukan kehendak Allah serta merasa diri sebagai “ibu, saudara dan saudari dengan orang lain yang telah dipersatukan dengan kita oleh api dan air pembabtisan. Seperti seseorang yang turut dalam suatu pertandingan, kita harus melakukan syarat-syarat atau kriterua yang diharuskan. Demikian juga jika hendak menjadi “ibu dan saudara-saudari Yesus, kita harus melakukan criteria-kriteria yang dikehendaki oleh Yesus untuk pantas disebut sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya. Maka dengan demikian Yesus akan berkata kepada kita, “kaulah ibu-Ku, kaulah saudara-Ku, kaulah saudari-KU”.

Penabur Itu Manaburkan Firman

(Mrk. 4:14)

Setiap orang yang ingin menanam tanaman tertentu, pastilah ia akan menanam atau menabur benih pilihan dan benih unggul di lahan yang ia sudah persiapkan dengan sebaik mungkin. Demikian juga “Sang Penabur”, Yesus Kristus yang menaburkan Firman Allah.

Sang Penabur menaburkan Firman Allah ke dalam hati para murid-Nya. Jika para murid-Nya menerima Firman Allah dengan lapang dada dan hati terbuka, maka Firman itu akan tetap berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah. Namun, kalau Firman itu tidak diterima dengan lapang dada dan hati terbuka maka Firman itu akan seperti benih yang jatuh di jalan dan burung-burung mematuk benih itu, karena lebih mudah menemukannya daripada di alur ladang, dan juga seperti benih yang jatuh di tanah berbatu-batu dan di tengah semak berduri, ia akan cepat layu, kering karena tidak berakar dan ia juga tidak berbuah karena semak itu menghimpit dan semakin besar. Tetapi jika benih itu jatuh di tanah yang subur seperti di Galilea, benih itu akan berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah.

Demikian juga Firman Allah yang ditaburkan oleh “Sang Penabur” ke dalam hati para murid-Nya akan memberikan hikmat yang menuntun mereka pada keselamatan , karena kasih setia Allah tidak akan hilang (2 Sam 7:15a) jika mereka menerima Firman itu dengan lapang dada dan hati terbuka. Firman itu akan menuntun mereka pada keselamatan, memperbaiki kelakuan mereka, mendidik mereka dalam kebenaran, menyingkirkan semak duri dan batu-batu dalam hati mereka seperti hati yang tegar, keras, dingin, cuek, dan egois. Sebab dengan demikian Firman itu akan tetap bertumbuh dan berkembang dengan subur sampai menghasilkan buah melimpah , karena kasih setiah Allah tidak akan hilang, seperti yang Allah hilangkan daripada Saul, yang telah Allah jauhkan dari hadapan Nattan (2 Sam. 7:15).

Bagaimana dengan persoalan kita sekarang yang hidup di dunia modern ini. Di mana kita sibuk dengan pribadi kita masing-masing, bahkan kita sendiri tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkan Firman Allah. Sehingga kita semakin sulit untuk membuka diri bagi sesama dan terutama sulit membuka hati kita ke dalam Firman Allah. Walaupun ada, itu mungkin hanya sebatas suatu rutinitas dan kewajiban belaka, syukurlah kalau masih ada dengan tulus hati membuka diri bagi Firman itu. Namun, persoalan itu tidak hanya sulitnya untuk membuka hati kepada Firman Allah tetapi juga soal benih yang kita tanamkan dalam hati kita. Itu Karena kita sulit mendengarkan dan membuka diri pada “Benih” yang unggul itu, yaitu; Firman Allah. Maka kita tanpa sadar, kita kerap menanamkan benih amarah, irih, dengki, perpecahan, dsb. di dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan pergaulan kita sehari-hari atau bahkan dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati dan membiarkan “Benih” itu bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah rahmat melimpah, yang menuntun kita pada keselamatan, mendidik dan memperbaiki kelakuan kita ke dalam kebenaran. Sehingga Kasih Allah yang Ia taburkan dalam hati kita tumbuh subur dan menghasilkan rahmat melimpah, yang akhirnya menuntun kita kepada kebenaran, cinta, damai, adil dan jujur.

Doa

Ya Allah Sumber segala kasih bukalah hati kami supaya kami mampu mendegarkan Firman Allah. Singkirkanlah segala semak berduri dan batu-batu penghalang bagi Firman-Mu yang ada dalam hati kami. Supaya “Benih-Benih” Sabda-Mulah yang tertanam dalam hati kami dan bukan benih-benih kebencian, kesombongan, kedengkian dan semua sifat buruk yang dapat merusak cinta-Mu yang membawa kami menuju keselamatan. Demi Kristus Tuhan dan perantara kami. Amin.

Sang Primadona Utama

2 Sam 7:18-19.24-29; Mrk 4:21-25

Dalam dunia percintaan terkenal ungkapan: “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang”. Pada lingkup yang lebih luas, ungkapan ini menggambarkan realitas manusia zaman sekarang yang semakin materialistis dan hedonis. Segala sesuatu diukur dengan uang, dan tanpa uang berarti hidup dalam penderitaan. Uang dianggap sebagai primadona yang harus dikejar karena dapat memberikan kehidupan. Uang membuat manusia dapat menikmati hidupnya, karena uangnya-lah yang bekerja bagi dirinya. Karena itu, sulit kita temukan lagi figur-figur yang sungguh mau memberikan bantuan secara tulus, tanpa menuntut balasan.

Mungkin kita pun temasuk dalam lingkaran kaum materialis dan hedonis tersebut. Kita memberi sesuatu karena mengharapkan sesuatu. Padahal kita lupa bahwa segala sesuatu yang telah kita terima itu berasal dari Tuhan. Tuhan telah memberikannya kepada kita secara cuma-cuma, hanya karena kasih karunia-Nya yang besar bagi kita. Maka, jika kita menuntut balasan atas perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, Tuhan pun akan menuntut hal yang sama dari diri kita, seperti kata-Nya: “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mrk 4:24b). Itu berarti, Dia menuntut kita untuk semakin memberi prioritas utama bagi-Nya dalam hidup.

Kekristenan yang sejati hanya dapat dicapai dengan cara keluar dari kenikmatan diri sendiri, dan berbagi “cahaya pelita” dengan sesama. Uang bukanlah segalanya, karena akan lapuk dan hancur bersama tubuh di dalam liang kubur. Tetapi kesiapsediaan memberi tanpa pamrih seperti Tuhan Yesus, pasti akan diganjar pula dengan berkat yang berlimpah oleh Allah. Pemberian itu bukan hanya sebatas memberikan sedekah bagi orang lain, tetapi lebih daripada itu: Memberikan tenaga, waktu, bahkan hidup demi Tuhan Yesus. Karena hanya Dialah yang layak menjadi primadona dan prioritas utama bagi hidup kita!

Doa:

Ya Tuhan, kami sering melupakan Engkau dan sesama yang menderita. Kami sibuk dengan kegiatan kami untuk mengejar kekayaan duniawi. Kami mohon: Sadarkanlah kami agar senantiasa menempatkan Dikau sebagai prioritas utama hidup kami, dan bukalah mata kami agar selalu bersedia memberikan batuan secara tulus bagi sesama kami yang menderita. Amin.

MENABUR

2 Sam 11: 1-2. 4a-5-10a. 13-17; Mrk 4:25-34

Udin masih kecil, ia baru saja naik ke kelas dua SD. Pada suatu sore ia menaburkan benih kembang di kebun dengan ibunya. Hari berikutnnya ia bangun pagi-pagi lalu begegas melihat benih yang ia tabur demikian juga pada sore harinya. “Anakku sabarlah beberapa hari lagi benih itu akan tumbuh” demikian nasehaat ibunya. Akan tetapi Udin patah semangat, ia tidak mau melihat tanaman itu lagi. Dua minggu kemudian ibunya menasehatinya “ anakku pergilah kekebun, lihat benih yang kau taburkan itu!” ketika ia tiba di kebun ia heran melihat benih yang ia tabur itu sudah tumbuh. Hatinya sangat girang pulang ke rumah.

Injil hari ini menceritakan dua perumpamaan, yang pertama tentang benih yang tumbuh; perumpamaan tentang biji sesawi. Perumpamaan pertama kita bisa mengambil kata kunci ‘proses’. Proses mengandaikan waktu, maka dalam proses kadang kita jatuh , tetapi ada harapan satu ketika kemenangan akan muncul. Seperti halnya biji sesawi, proses juga berlaku untuk manusia; bayi yang baru lahir, belum dapat berjalan akan tetapi pelan-palan ia akan berdiri kemudian berjalan. Perkembangan hidup rohani-pun membutuhkan ‘proses’ untuk tumbuh, berkembang dan mengalami pematangan. Sebagai orang katolik pada saat pembabtisan, Sabda Allah disemaikan, bertambah umur, sabda Allah itu dikuatkan dan dijiwai dengan Sakramen Ekaristi serta dimatangkan dengan Sakramen Krisma. Dengan bimbingan para gembala sabda itu diharapkan menghasilkan buah berlimpah.

Para rasul juga mengalami ‘proses’ dalam pertumbuhan imannya. Rasul Petrus dalam beberapa perikop Injil tampak bahwa imannya akan Yesus belum matang; ketika ia membujuk Yesus agar tidak memanggul salib-Nya, ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, dan ketika Yesus tidak lagi bersama mereka, ia bersama dengan rasul yang lain meninggalkan tugasnya sebagai rasul kembali menjadi nelayan. Iman mereka akan Yesus menjadi matag ketika mereka menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta dan sebagai pembuktian kematangan iman itu mereka tunjukkan gengan tidak gentar dalam menghadapi segala dan rela menderita demi INJIL.

Dalam perikop yang kedua, perumpamaan tentang biji sesawi, yang ditabur di ladang. Sesawi bijinya kecil akan tetapi dia akan tumbuh dan menjadi besar. Menurut kebiasaan orang Jahudi biji sesawi ditabur di kebun bukan di ladang. Tanah ladang kurang baik untuk pertumbuhan sesawi perumpamaan ini dipakai penginjil untuk menggambarkan bagaimana Sabda Allah yang telah ditaburkan diantara manusia dimana sekitarnya ditumbnuhi banyak lalang. Sehingga sabda Allah kurang subur dan tetap kerdil, buah tidak melimpah. Kerajaan Allah hampir tidak tampak diantara manusia ia tenggelam ditengah hiruk-pikuk dunia. Ahirnya kita harus kembali pada kesadara semua memiliki ‘proses’ yang penting adalah bagaimana agar kerajaaan Allah itu dirasakan oleh orang lain?

Di Padanggurun ditemukan sebatang pohon yang sudah berusia ribuan tahun. Ketika berbuah oleh pemililnya pohon itu dipagar agar tidak diambil orang, sebenarnya banyak orang yang berminat untuk menikmati buah pohon itu. Apa yang terjadi ?. pohon tua itu akhirnya mati. Katanya pohon memiliki prinsip yang sama dengan manusia: berhienti memberi berati mati.

Lalu sekarang apa yang perlu kita buat?. Yesus dalam perumpamaanya memberi contoh kepada kita. Menabur. Memberi kepada yang lain sekecil apapun kasih yang kita berikan kepada orang lain amat berharga bagi mereka. Seperti biji sesawi yang kecil tumbuh menjadi pohon sesawi yang besar, menjadi tempat berlindung bagi burung di udara.

Pesta Yesus dipersembahkan di bait Allah

Mal 3: 1-4 / Ibr 2: 14-18; Luk 2:22-35.39-40.

Untuk Allah dan Sesama

Bagi orang Batak pada umumnya anak laki-laki dan sulung merupakan pewaris dan penerus garis keturunan dalam suatu marga. Oleh karena itu, kelahiran anak laki-laki sangat didambakan dalam keluarga. Akan menjadi kesulitan bagi orang tua untuk memberikan anak laki-laki menjadi seorang imam atau biarawan. Apalagi anak tersebut merupakan anak tunggal, pilihan menjadi imam atau biarawan akan menimbulkan kontradiksi.

Josep dan Maria sebagai orang tua yang taat kepada hukum Taurat pada hari ini mempersembahkan Yesus di bait Allah. Mereka menyadari betapa pentingnya pendidikan religius bagi Yesus dan yang paling penting mereka menyadari bahwa Yesus adalah milik-Nya. Kedatangan mereka ke bait Allah disambut dengan penuh suka cita oleh dua orang suci, Simeon dan Hana, yang menanti-nantikan kedatangan Sang Mesias. Melalui kidung Simeon misi Yesus ke dunia diungkapkan. Yesus adalah penyelamat bagi semua orang yang percaya dan sekaligus menjadi kontradiksi bagi mereka yang tidak percaya. Yesus membawa keselamatan bagi semua orang secara khusus bagi bangsa Israel tetapi Yesus juga membawa api perpecahan bagi orang-orang Israel. Misi Yesus ini nantinya akan berakhir di kayu salib.

Maria ibu Yesus juga turut serta dalam karya misi ini. Sebgai konsekuensinya sebilah pedang akan menembus hati Maria. Hal ini melambangkan bahwa Maria yang tetap setia dalam perjalanan panggilannya bersama Puteranya akan ikut serta menyaksikan derita dan sengsara Yesus serta menyaksikan perpecahan di antara bangsanya.

Semua orang tua bertanggung jawab akan pendidikan anak-anaknya tetapi orang tua tidak berhak menentukan segala-galanya untuk anaknya. Setiap orang berhak memilih cara hidupnya, yang tentu dikehendaki oleh Allah. Karena dalam pribadi setiap orang Allah meletakkan rencana-Nya. Walaupun akhirnya pilihan itu selalu menjadi bahan pergulatan sepanjang perjalanan hidup kita, kita yakin bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita memperoleh keselamatan.

Yesus mau memberikan diri-Nya demi Allah dan sesama. Maka kita juga sebagai pengikut Yesus harus mau berkorban demi Allah dan sesama. Pengabdian kepada Allah dan sesama dapat dilakukan dengan menjalani hidup baik dengan panggilan maupun panggilan khusus. Apakah kita mau hidup lebih dekat dengan Tuhan? Apakah kita mendukung oarang mau mendekatkan diri kepada Tuhan melalui hidup sebagai imam atau biarawan-biarawati? Atau apakah kita justru meghalanginya?

Doa

Ya Tuhan ajarilah kami untuk tidak takut mengikuti Engkau secara lebih dekat sekalipun dengan menjalani panggilan khusus. Semoga melalui hidup dan karya kami, kami dapat melayani Engkau dan sesama. Amin.

Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 13:11-13; Yoh 3:16-18

(HR. Tri Tunggal Mahakudus)

Katanya, ketika St. Agustinus sedang berjalan-jalan di tepi pantai sambil memikirkan misteri Allah Tri Tunggal: “Tiga tetapi satu, satu tetapi tiga”, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang ingin memasukkan seluruh air laut ke dalam lobang kecil yang ia gali di pasir pantai. St. Agustinus mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan sia-sia dan mustahil. Si anak lalu menjawab bahwa lebih mustahillah memasukkan Allah yang begitu Mahabesar ke dalam otak manusia yang kecil itu.

Allah itu tiga tetapi satu. Bagaimana itu dapat terjadi? Karena Allah adalah “cinta”! Cinta selalu mengandaikan ada dua pihak, yaitu yang mencintai dan yang dicintai. Dua pihak yang saling mencintai dengan benar akan dipenuhi dengan cinta yang melimpah-limpah. Begitu melimpahnya cinta yang ada pada mereka itu, sehingga mereka tidak akan menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Cinta yang melimpah itu mendorong mereka untuk membaginya juga kepada yang lain. Begitulah cinta itu akan selalu mengalir, tidak akan berhenti.

Allah adalah cinta. Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dalam misteri Tri Tunggal Mahakudus, menjadi lambang persekutuan cinta sejati. Bapa mengasihi Putera, demikian juga Putera mengasihi Bapa. Cinta yang ada pada Bapa dan Putera juga dialami oleh Roh Kudus, dan lewat Roh Kudus itu, kepada kita dicurahkan roh cinta kasih yang sejati.

Allah adalah cinta. Cinta itu memberi. Itulah pesan yang mau disampaikan warta Injil hari ini kepada kita. Pemberian terbesar sebagai ungkapan cinta adalah diri sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Allah sendiri. Karena begitu besar cinta Allah kepada dunia, Ia memberikan diri kepada manusia lewat Putera-Nya Yesus Kristus

Warta Injil hari ini tidak mau memberi kunci jawaban tentang misteri Allah Tri Tunggal Mahakudus. Allah terlalu besar untuk kita mengerti lewat budi kita. Di hadapan Allah kita hanya dapat merendahkan diri dan memohon supaya diberi karunia untuk mencintai seperti cinta yang ditunjukkan-Nya kepada dunia. Lewat pembaptisan, kita telah dimasukkan menjadi anggota keluarga Allah. Sebagai anak-anak Allah, adalah tugas kita untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana hidup dalam persekutuan cinta Allah Tri Tunggal Mahakudus. Bagaimana itu kita laksanakan? Berilah cinta kepada orang lain. Sebab dengan memberi cinta kepada orang lain, engkau juga mengajari orang lain untuk mencintai.

Doa

Tuhan, aku mohon kepada-Mu supaya daya tarik cinta kasih-Mu yang menyala-nyala dan laut madu itu, menyerap hatiku dari segala sesuatu yang ada di bawah kolong langit, agar aku mati karena cintaku kepada cinta kasih-Mu, yang telah memperkenankan Engkau mati karena cinta kasih kepada cintaku. Amin.

Yak 3: 13 – 18, Mrk 9: 14 – 29

Mendengar untuk Berkeutamaan 1

Bisu dan tuli kerap bersama-sama kita temukan dalam diri satu orang. Hampir semua orang tuli tidak dapat berbicara. Alasannya cukup terang: orang yang tidak pernah mengenal suara tidak tahu apa itu suara dan dengan demikian tidak tahu mengeluarkan suara. Yang tidak dapat mendengar kata-kata, tidak tahu apa itu kata-kata. Mendengar dan memperdengarkan kata-kata ada bersama-sama. Orang yang tuli hanya mengetahui apa yang ada di kepalanya.

Perikop hari ini mengetengahkan kepada kita kisah tentang pengusiran roh dari anak yang bisu dan tuli. Sang anak telah dirasuki roh jahat sejak kecilnya, roh yang menulikan dan roh yang membisukan. Roh tersebut kerap membantingnya ke tanah dan menyeretnya ke dalam api.

Adakah ada usaha untuk menyembuhkan si anak yang kerasukan tersebut? Sangat jelaaslah dari perikop, bahwa sang ayah si anak telah cukup berusaha. Barangkali, ayahnya telah berkali-kali membawanya ke tabib, tetapi tidak juga mengalami kesembuhan. Ketika sang ayah mendengar bahwa ada murid Yesus yang nota bene dapat menyembuhkan penyakit, ia langsung membawanya kepada mereka. Peliklah bahwa murid Yesus yang sudah diberi kuasa menyembuhkan tersebut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap roh yang merasuki si anak tersebut. Hanya Yesuslah yang akhirnya dapat mengusir penyakit si anak tersebut.

Barangkali penyakit bisu dan tuli tersebut ada di tengah-tengah kita: pada orang di sekitar kita atau pada diri kita sendiri. Tuli dan bisu rohani lebih menyeret kita ke dalam kebinasaan. Tuli berarti tidak dapat mendengar. Bisu berarti tidak dapat berkata-kata. ‘Roh jahat bisu-tuli’ bisa saja telah membelenggu kita. Kita tuli terhadap suara Tuhan yang selalu menggema di dalam batin kita, maupun di dalam perjumpaan kita dengan sesama. Orang yang ‘tuli’ itu tertutup, sombong dan merasa telah ‘mengetahui segalanya. Ia menonjolkan keakuannya; hidup seturut kehendak dan perasaannya; lebih mementingkan diri; dan dikendalikan oleh segala keinginan dan hawa nafsunya. Orang yang tuli hatinya tidak dapat mendengar suara Tuhan. Karena tidak mendengar, ia juga tidak dapat memperdengarkannya. Orang yang tuli hatinya adalah oang yang munafik dan egois. Dalam dirinya hanya ada kekacauan dan perbuatan jahat. Inilah hikmat yang berasal dari setan.

Orang yang ‘mendengar’ adalah orang yang dapat menangkap kata-kata dan dengan demikian dapat kembali memperdengarkan kata-kata tersebut. Orang yang mendengar adalah gambaran orang yang terbuka terhadap segala perubahan dan pertobatan. Ia mempunyai kerinduan akan sesuatu yang baik; selalu mau belajar; selalu ingin mendengar suara Tuhan; mendengar kata hatinya; merefleksi diri; dan akhirnya melahirkan keutamaan-keutamaan: penurut, peramah dan penuh belas kasih. Syarat untuk berubah adalah mau diubah. Syarat untuk mewarta adalah mau mendengar. Untuk memiliki keutaman. ‘mendengarlah’!

Apakah aku seorang yang ’tuli dan bisu’? Kalau saya barangkali seorang tuli dan bisu, sampai di manakah tingkat ketuli-bisuan saya? Maukah saya mendengar dan percaya? Maukah saya disembuhka

TERDAHULU DENGAN MELAYANI

(Mrk. 9:30-37; Yak. 4:1-10)

Kita semua tahu, rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Juga tidak sama dengan tinggi hati. Rendah diri, pun tinggi hati adalah dua hal negatif. Rendah diri lebih kerap lahir akibat adanya tekanan (depresi). Rahmat yakni dirinya sendiri tidak mekar dan kurang berbuah dalam dirinya. Kalau tinggi hati atau kesombongan kerap lahir karena fanatisme diri serentak meremehkan orang lain. Keduanya BURUK! Lain dengan rendah hati, orang yang rendah hati lebih bebas pengungkapannya, berani tampil apa adanya tanpa kehilangan nilai dirinya yang sejati. Namun, dalam kenyataan rendah diri dan rendah hati kerap kabur dipahami. Kadang rendah diri dipakai menjadi senjata rasionalisasi untuk berendah hati. Karena rendah diri, potensi-potensi, bakat dan banyak anugerah lain tidak disalurkan, dengan itu orang berkata bahwa ia mau rendah hati. Keliru benar. Rendah hati tidak menutup diri akan realitas diri yang sebenarnya dengan segala kemampuan di dalamnya.

Perikop Injil kali ini mengajak kita untuk berendah hati yang benar. Kita mendengar bagaimana di jalan menuju Kapernaum, Yesus mendengar murid-muridNya bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus menegur mereka dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Anak kecil dalam tradisi bangsa Yahudi adalah orang yang tidak dihormati, tidak dihargai, dari mereka dituntut saja ketaatan, mereka tidak berhak bersuara. Yang mau diajarkan oleh Yesus adalah: menjadi rendah seperti anak kecil, yakni melayani saja. Anak kecil itu bukan hanya sebagai contoh, tetapi dalamnya Yesus mewahyukan diriNya. Ia seperti anak kecil, tidak mempunyai kuasa, tanpa hak, hanya taat saja kepada Bapa sampai mati bahkan mati di kayu salib. Tujuannya ialah melayani supaya umat manusia selamat. Pelayanan itu adalah suatu segi dari salibNya; mengosongkan diri, menyangkal diri, menjadi kecil, menjadi yang terakhir, bagai hamba yang tak berguna, yang dapat dipergunakan dan dibuang sebagai sampah. Ia hidup sebagai hamba Allah dan manusia. Yesus mencintai anak-anak kecil yang rendah itu karena sifat-sifat itu dilihatNya dalam mereka. Ia memihak kepada orang yang rendah hati karena memang ‘Allah membenci orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.’

Ada begitu banyak orang di dunia ini seperti murid-murid yang bertengkar mengenai siapa yang terbesar. Pertanyaan Rasul Yakobus dalam suratnya amatlah tepat menggambarkan situasi demikian: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Serentak, ada begitu banyak juga orang yang bernasib seperti anak kecil tadi, yang tak berdaya itu. murid-murid Yesus yang sejati harus siap menjadi pelayan bagi mereka. Ia berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini, ia menyambut Aku.” Dengan kedatanganNya ke dunia Yesus telah mengajarkan pola pikir baru yang bertentangan dengan pikiran manusia yang mau menjadi besar hanya karena kuasa (memerintah). Bagi Yesus menjadi besar harus seperti anak kecil itu yang kebesarannya justru nampak dalam pelayanan kepada sesama. Orang yang mau melayani hanyalah orang yang rendah hatinya

DEKAT DENGAN YESUS SAJA

Yak 4: 1-10; Mrk 9:38-40

Suatu kali, seorang pengurus Gereja menyaksikan bahwa seorang bapak, yang bukan pengurus, mampu menyembuhkan anak kecil yang sakit keras. Ia melihat bapak itu hanya memakai doa novena. Orang-orang menjadi takjub akan praktek penyembuhan itu. Pengurus gereja itu menjadi iri hati karena banyak pujian dan perhatian dilimpahkan kepada bapak itu. Ia mulai membeli semua buku-buku novena dan mencoba mempraktekkan penyembuhan terhadap orang yang sakit. Ia berharap umat akan menyanjungnya, namun ia gagal.

Dalam kehidupan konkret kita, perbuatan-perbuatan luar biasa yang terjadi melalui manusia sering dilihat sebagai hasil kekuatan manusia belaka, bukan kekuatan Allah yang berkarya melalui manusia. Ketika Yohanes mencegah orang asing yang mengusir setan dengan menggunakan nama Yesus, Yesus keberatan. Meskipun orang asing itu menggunakan nama-Nya hanya untuk mencari untung—dan ternyata berhasil, Yesus melihat dalam tindakan itu suatu jalan untuk beriman kepada-Nya.

Kristus berkarya melalui siapa saja yang Ia kehendaki, yang tentu saja yang berkenan kepada-Nya. Kristuslah sebenarnya yang menyembuhkan setiap orang dan mengusir roh-roh jahat. Kita tidak perlu iri hati kalau melihat orang lain mengusir roh jahat atau menyembuhkan, kerena mereka itu sangat dekat dengan Yesus. Hanya dengan kuasa Yesuslah kita mampu berbuat demikian. Kita hanya perlu melihat kembali kedekatan kita dengan Yesus, dan membarui hidup kita agar kita semua dipilih oleh Yesus untuk mengusir roh-roh jahat dari muka bumi ini dan menyembuhkan semua yang sakit. Kita tidak perlu mencegah dan menghalangi orang lain, tetapi harus selalu berusaha mendekatkan diri dengan Yesus.

Apakah selama ini kita sudah mendekatkan diri dengan Yesus? Ataukah kita hanya memanfaatkan nama Yesus untuk keuntungan pribadi?

DOA: Yesus, aku sadar bahwa sekalipun aku berusaha mengejar kemuliaan duniawi dengan memanfaatkan nama-Mu, tapi tanpa Engkau dekat di sisiku, maka aku akan binasa. Ajrilah aku semangat kerahiman-Mu, agar setiap hari aku benar-benar mengandalkan kekuatan-Mu dan bukan kekuatanku. Amin.

Bacaan : Yak. 5:1-6

: Mrk. 9:41-50

AKU ADA UNTUK TUHAN DAN SESAMA

Pernahkah kita memikirkan dan merenungkan betapa mulianya Tuhan yang telah menciptakan tubuh kita dengan begitu sempurna? Dan tahukah kita apa sebenarnya tujuan Tuhan menciptakan kita? Tangan, kaki, mata, mulut, dan lain sebagainya. Sebenarnya semua ini untuk apa? Apakah hanya untuk membantu kita memenuhi kebutuhan sehari-hari atau ada fungsi lain selain hal tersebut?

Kita adalah ciptaan yang paling luhur yang pernah ada, namun kendatipun demikian kita tetap dan bahkan selalu tergantung kepada orang lain karena memang demikianlah kodrat kita sebagai manusia. Kita saling membutuhkan! Benarlah ungkapan asing yang mengatakan “no man is an island”

Mungkin di antara kita berkata: “bagaimana saya dapat membantu orang menuju kepada keselamatan sedangkan saya sendiri terlahir tidak sempurna?” mungkin Saudara cacat: bisu, tuli, buta, dan mungkin cacat fisik lain atau kita begitu sempurna secara fisik namun enggan bertindak karena menganggap tidak layak. Ungkapan-ungkapan demikian memang sangat manusiawi. Ya, memang kita selalu menganggap diri kita rendah di hadapan Tuhan; dan, memang begitulah seharusnya kita bersikap di hadapan Tuhan. Namun yang menjadi permenungan kita berikutnya adalah bagaimana kekurangan itu kita bawakan dalam hidup sehari-hari.

Injil hari ini membawa kita kepada permenungan tentang fungsi badan kita; tubuh yang telah dianugerahkan Tuhan; baik yang sempurna ataupun yang kurang sempurna hendaknya kita gunakan untuk keselamtan diri kita dan juga bagi orang lain sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan. Tuhan kita melalui Injilnya mengajak kita untuk menggunakan tubuh kita sebagai alat atau perpanjangan tangan Tuhan supaya semakin banyak orang diselamatkan. Dengan tegas, Injil hari ini mengatakan “Jika matamu menyesatkan… lebih baik mata itu dicongkel..lebih baik kamu masuk surga dengan… Keterbatasan dan kemampuan yang kita miliki hendaknya kita gunakan untuk membantu orang lain supaya semakin dekat dengan Tuhan bukan membuat orang lain semakin jauh dari Tuhan. Kalau memang anggota tubuh kita hanya kita gunakan untuk keuntungan pribadi hendaknya mulai saat ini kita merobah diri supaya dapat diterima Tuhan kelak.

Segala kebaikan yang pernah kita lakukan tidak akan pernah dilupakanTuhan dan akan tiba waktunya Dia memperhitungkannya bagi kita. Maka marilah kita hidup sebagai garam yang baik, yang menggarami kehidupan orang-orang di sekitar kita supaya kelak kita dapat berbahagia dengan-Nya. Mari menggunakan seluruh anugerah Tuhan yang telah kita terima demi kemuliaan-Nya dan keselamatan orang lain.

Doa

Ya Tuhan, kami sering menggunakan tubuh kami hanya untuk kesenangan kami sendiri, bahkan kami terkadang menggunakan kepintaran kami untuk memojokkan orang yang sederhana. Kami mohon semoga lewat sabda-Mu hari ini kami semakin mampu mewartakan kasih-Mu kepada sesama kami sehingga anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami sungguh berguna bagi keselamatan jiwa-jiwa dan demi kemuliaan-Mu.

Kebersamaan dan Kesetiaan dalam Kehidupan

(Yak 5 : 9-12 ; Mrk 10:1-12)

Salah satu berita yang ramai diberitakan media massa adalah berita tentang perceraian para selibritis, mulai dari yang belia sampai yang sudah ujur usia perkawinannya. Mulai dari perceraian Tamara Blenzky sampai perceraian Enno Lerian tak ketinggalan dipergunjingkan. Perceraian itu terjadi dengan macam ragam alasan. Namun yang jelas bahwa di dalam perkawinan mereka itu tidak ada lagi cinta-kasih sehingga dengan mudah minta diceraikan. Penyebab utama dari perceraian itu adalah hilangnya kesetiaan di antara pasangan itu. Kesetiaan sangat dituntut dalam hidup kebersamaan. Tanpa kesetiaan pastilah kebersamaan sulit dijalankan.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kepada kita – dengan pertanyaan orang Farisi tentang apakah seorang suami boleh menceraikan isterinya. Untuk mengerti konteks pembicaraan ini, kita melihat posisi seorang wanita dalam budaya Jahudi. Seorang wanita di pandang sebagai pelengkap saja. Dengan kata lain tidak masuk bilangan. Kaum wanita dipandang sebagai orang rumah saja. Pandangan ini membuat para para raja bahkan orang orang biasa pun dalam budaya Jahudi dulu, banyak yang menceraikan isterinya dan kawin lagi dengan wanita yang lain.

Dalam kitab Musa dan pada masa Musa sendiripun praktek seperti ini masih berjalan dan dianggap tidak melanggar hukum. Musa sendiri mengeluarkan surat cerai kepada seorang suami untuk menceraikan isterinya. Dalam taurat Musa perceraian seing terjadi karesalah satu dari pasanagn itu berbuat dosa, perjinahan dan percabulan. Yesus tidak mau menghilangkan hukum Musa itu. Bahkan satu iota pun Ia tidak mau menghilangkannya. Namun Yesus juga dengan tegas menjelaskan kepada orang Farisi itu (kita di sini ) bahwa hokum taurat berlaku sampai jaman Yohanes. Kata-kata ini mengandung makna bahwa hokum taurat dipakai sampai jaman Yohanes dan sesudahnya (jaman Yesus hokum taurat digenapi dengan hukum “kasih” yang diajarkan Yesus sendiri). Dengan hukum kasih ini genaplah seluruh Fiman yang diterima oleh Musa.

Sudah sejak awal mula dunia, dari diri manusia dituntut kebersamaan, karena Allahpun menciptakan manusia itu secara bersama laki-laki dan perempuan. “Demikianlah manusia itu tidak lagi dua tetapi telah menjadi satu daging…” Perkawinan menyatukan manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi satu. Satu di sini bukan hanya menyangkut daging saja secara jasmani tetapi juga menyangkut segala aspek hidup baik jasmani maupun rohani. Kalau Allah, pemilik manusia itu sendiri mnyatukan manusia itu sejak semuala mengapa manusia berani menceraikannya?

Manusia menginginkan keterpisahan karena dalam diri manusia itu ada sifat egoisme, sikap mementingkan diri sendiri. Sikap mau menang sendiri dan mau benar sendiri. Sifat-sifat negatif inilah yang memicu lahirnya keterpisahan.

Kunci utama untuk mempertahankan kebersamaan ini adalah kesetiaan. Kesetiaan mengandaikan cinta. Cinta mengandaikan pengorbanan. Tanpa pengorbanan cinta akan musnah (Cinta Yesus dibuktikan dengan pengorbanan di salib).

Doa Permohonan.

· Allah sumber hidup kami, kami mohon kepada-Mu bantulah orang-orang yang bersatu dalam ikatan perkawinan untuk memahami makna perkawinan yang mereka janjikan. Hadirlah diantara pasanagan yang sedang mengalami permasalahan dalam keluarga. Semoga kasih-Mu senantiasa tampak dalam diri mereka. Semoga perkawinan tidak dianggap sebagai kebutuhan jasmani saja teapi karena kemurahan-Mu yang tak ternilai. Demi Kristus pengantara kami.

Yak 5:13-20;Mrk 10:13-16

Menjadi kebiasaan/ tradisi di daerah kita untuk tidak mengikut sertakan anak-anak dalam suatu rapat atau diskusi dalam keluarga atau rapat-rapat lain. Dalam pertemuan seperti itu anak-anak biasanya dipersilahkan untuk bermain di halaman agar tidak menggangu jalannya rapat. Hal lain yang ialah anak-anak tidak perlu tahu apa yang dibicarakan oleh orang tua. Memang masuk akal hampir tak ada keuntungan dengan mengikut sertakan anak-anak dalam pertemuan. Selain menjadi penggangguyang memperlambat jalannya rapat.

Kejadian seperti itu juga telah berlangsung pada jaman Yesus. Para rasul mempunyai pemahaman yang hampir sama dengan orang zaman sekarang, menilai anak-anak sebagai pengganggu, perusak, kurangbijak, tak banyak tahu. Maka ketika seseorang mengantar anak-anak kepada Yesus mereka sangat keberatan, marah. Dalam Kitab Suci anak-anak melambangkan orang lemah, tak berdaya, miskin. Tidak demikian dengan orang dewasa. Begitulah anak-anak ia tidak memikirkan efek dari perbuatannya, ia katakana senang jika senang, marah jika marah, jika sedih ia akan menangis. Tidak banyak mereka tahu perihal menjaga perasaan orang lain. Mereka polos. Tidak demikian dengan orang dewasa, mereka lebih berpengalaman, bijaksana, “agar demikian maka harus begitu” tak jarang muncul korban di sekitarnya. Pengalaman dan kebijaksanaan kadang menjadikan mereka kurang bijaksana. Bagai mana pengalaman kita?

Maka ketika anak-anak itu dihantar untuk mendekati Yesus, para rasul marah. Sayang tak diceritakan bagaimana Yesus marah. Apa yang dipikirkan para rasul lain dengan apa yang dipikirkan Yesus. Ia marah kepada para Rasul “Biar anak-anak itu datang kepda-Ku, jangan menghalang-halangi mereka sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Surga”. Bahan ialah refleksi bagi kita, apa keunggulan anak-anak itu ?. lalu Ia menandaskannya lagi “barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti anak kecil ini ia tidak akan masuk ke dalamnya”. Apa yang kita pikirkan lain dengan apa yang dipikirkan Yesus. Anak-anak memiliki nilai Plus, yang berikut Yesus tidak hanya mencintai orang dewasa ia cinta kepada semua orang termasuk orang yang tidak mendapat perhatian dari saudaranya, lemah, miskin.

Apa yang dikehendaki Yesus dari kita? Ia meminta kepada kita untuk mencintai, ,memperhatikan saudara yang lemah, mengulurkan bantuan, pertolongan. Bantuan tidak hanya dalam bentuk materi tetapi perhatian, kerelaan mendengar. Ketika terjadi Tsunami di Aceh dan Nias orang yang kehilangan barang, anggota keluarga yang dicintai akan tetapi begitu banyak orang yang rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga, kemapaman hidup, orang yang dicintai untuk membagi cinta, kasih dan mendengar ‘saudara’.

DOA

Yesus yang baik, Engkau telah memulai dan memberi kami teladan cinta sekarang kami Engkau serahkan tugas untuk melanjutkan karya-Mu di dunia ini. Engkau tahu tugas ini amat berat dan membutuhkan keberanian, maka kami mohon kuatkan dan semangati kami. Agar kami semakin peka dan bersedia membagi cinta, cinta yang tulus iklas. AMEN

Bacaan I : Yer 20: 7-9

II: Rom 12:1-2

III: Mat 16: 21-27

Minggu Biasa ke-22

Menjadi Murid Kristus

Alkisah ada seekor burung yang bersarang di sebuah pohon yang sudah busuk. Pada waktu hujan lebat disertai angin kencang, pohon itu tumbang dan menghancurkan sarangnya. Terpaksa burung itu terbang bermil-mil jauhnya hingga ia sampai ke hutan yang lebat. Di sana ia membuat sarang yang baru di atas pohon yang daunnya lebat dan menikmati hidup yang menyenangkan.

Manusia punya kecenderungan untuk mengindari penderitaan, beban. Sebaliknya ia selalu mengharapkan hal-hal yang menguntungkan, yang menyenangkan. Manusia tak lagi dapat melihat penderitaan sebagai jalan menuju kebahagiaan. Seperti kisah burung di atas, lewat penderitaan ia menemukan kebahagiaan. Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus…memikul salibnya dan mengikut Aku”. Apakah salib kita? Tak perlu kita mencari-cari penderitaan atau salib untuk kita pikul. Salib dan penderitaan selalu ada pada kita. Tetapi, apakah kita bersedia memikulnya, menerimanya sebagai salib kita?

Mengikut Kristus berarti bersedia memanggul salib. Mungkin kita bukan orang kaya, kurang kemampuan belajar, tidak tampan/cantik, mungkin kita merasa tertekan, mungkin kita mengalami konflik dalam keluarga, mungkin kita menjadi korban kekerasan atau pelecehan. Kita tidak memilih penderitaan itu, tetapi itulah yang terjadi pada kita. Kita dapat tidak mengacuhkannya, menolaknya atau menbencinya. Tetapi kita dapat juga memikulnya dan dengan itu mengikuti Yesus. Derita dan salib tak pernah sia-sia bagi orang yang percaya akan Kristus yang menderita dan kemudian bangkit jaya.

Doa:

Tuhan Yesus Kristus, lewat derita-Mu di salib Engkau memberi makna baru penderitaan. Bantulah kami agar bersedia dan mampu memanggul salib kami dan mengikuti Engkau dalam hidup kami sehari-hari.

Siap untuk Ditolak

1 Kor 2:1-5; Luk 4:16-30

Seorang yang hendak dipercayakan untuk mengemban suatu tugas besar dan berat biasanya harus menjalani berbagai macam ujian, mulai dari kelengkapan administratif sampai pada penelusuran riwayat hidup dan pengalaman kerja. Orang yang dipercayakan untuk mengemban tugas seperti ini biasanya orang yang punya etos kerja tinggi, pantang menyerah dan berani menerima kegagalan secara positif.

Tuhan Yesus adalah figur teladan bagi para pemimpin. Beratnya tugas yang diemban oleh Yesus sudah mulai tampak ketika Dia ditolak oleh orang-orang di kampung halaman-Nya sendiri. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan-Nya, yang seharusnya memberikan dukungan terhadap proyek keselamatan yang mulai dirintis-Nya. Tetapi justru merekalah yang kini berusaha melemahkan semangat Yesus.

Namun Yesus adalah pribadi yang berpandangan global. Keselamatan bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi bagi semua orang. Meskipun berkarakter pemimpin, Dia tidak memaksa orang lain untuk percaya kepada-Nya. Dia hanya hendak membuka mata sekalian orang bahwa apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi kini telah terlaksana: Roh Tuhan ada pada-Nya; Dialah yang terurapi; Sang Kristus yang diutus untuk mewartakan kabar gembira (bdk. Luk 4:18-21).

Kita mungkin pernah mengalami pengalaman ditolak oleh orang lain, bahkan oleh orang yang dekat dengan kita hanya karena iman kita akan Kristus. Kita tidak perlu kecewa jika kita ditolak karena menegakkan kebenaran sesuai dengan iman kekristenan kita. Seruan kenabian harus kita gemakan pada zaman kita sekarang ini. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus juga pernah ditolak, bahkan sampai menderita dan wafat di kayu salib. Tetapi justru melalui peristiwa itu Dia diangkat oleh Allah menjadi Raja di dunia dan di surga. Bersediakah kita ditolak karena menjadi saksi Kristus?

Doa:

Ya Tuhan, kami sering putus asa bila kami ditolak karena berusaha melakukan yang baik. Masih banyak orang yang tumpul mata hatinya dan tidak mau mengenal ajaran cinta kasih-Mu. Bantulah kami agar berani menjadi saksi-Mu di tengah-tengah dunia dan mampu menjadi teladan kebaikan bagi sekalian orang. Amin.

ALLAH YANG BERKARYA

Bac I: 1 Kor 2 :10b-16, Luk 4:31-37

Sudah sekian lama orang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan bahkan sampai sekarang ini. Lebih khusus pada zaman ini, orang berlomba-lomba mencari kesuksesan atau prestasi yang bisa menaikkan status atau jabatan sampai mereka disebut sebagai orang ternama. Ketika kesuksesan itu tercapai banyak orang menjadi lupa akan siapa dirinya sebenarnya, padahal mereka adalah orang-orang yang senantiasa tergantung pada rahmat Allah. Prestasi yang diraih atau segala hasil buah pemikiran atau bahkan penemuan-penemuan yang mengundang perhatian banyak orang dijadikan alat untuk mengatakan bahwa orang itu bisa berbuat apa-apa dengan meggunakan intelektual atau kepintaran, kebolehan sendiri, tanpa melihat rahmat Allah yang senatiasa berperan dalam dirinya.

Situasi ini berbeda dengan bacaan injil saat ini. Injil mengetengahkan Yesus sebagai orang yang memiliki kemampuan besar dalam melumpuhkan kekuatan jahat. Ini tampak ketika Yesus mengusir setan yang merasuki diri seseorang di dalam rumah ibadat di Kapernaun. Ketika yesus berkata: “diam, keluarlah dari padanya,” maka seketika itu juga setan itu keluar dari orang yang dirasukinya tanpa menyakiti orang tersebut. Sebab, setan itu tahu bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Atas peristiwa ini, banyak orang menjadi takjub dan terheran-heran karena kuasa dan kekuatan yang ada dalam diri Yesus. Mereka takjub, karena dengan penuh wibawa dan kuasa Yesus mampu mengusir kuasa serta setan itu sendiri dari orang yang dirasukinya. Lukas memperlihatkan Yesus sebagai Allah yang penuh kekuatan sekaligus kekuasaan. Tetapi, kekuatan atau kekuasaan yang diperlihatkan

Yesus di depan orang banyak bukanlah bersumber dari kemampuan manusia yang pada dasarnya terbatas. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan Allah sendiri. Allahlah yang berkarya. Untuk itu Yesus yang menunjukkan kebesaran Allah dengan segala kemampuannya yang maha kuat bukan untuk memamerkan siapa dirinya sebenarnya melainkan tetap dalam bingkai karya penyelamatan Allah.

Demikianlah tampak bahwa Yesus yang berkarya tetap berada di jalan yang menunjukkan bahwa Allahlah yang berkarya, berkuasa. Sementara sekarang ini, peristiwa yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang sukses dalam meraih cita-cita, harapan terutama disebabkan oleh kemampuan orang itu sendiri. Allah yang berkarya tampaknya menjadi dinomorduakan. Gejala semacam ini, nampak ketika orang membanggakan dan mengagungkan kemampuannya sendiri baik di kalangan kaum terpelajar atau bahkan sampai pada golongan orang menengah ke bawah. Karena itu injil saat ini memberi pesan bagi kita untuk melihat akan besarnya karya Allah baik di kala kita merasa sulit atau bahkan pada saat-saat mencapai kesuksesan entah itu dalam kerja, studi, atau bidang-bidang yang lain sejauh itu dialami dengan cara yang baik dan benar. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing , sejauh mana aku telah melakukan ini?

Doa: Allah yang penuh belas kasih, Engkau selalu hadir dalam diri kami entah di dalam situasi apapun. Engkau mengharapkan supaya kami selamat kelak. Karena itu, kami mohon berkenanlah mengajar kami untuk tidak menyombongkan diri karena kebolehan kami tetapi tetap bersyukur sebab semua ini adalah anugerah kasih-Mu.

Gembira bersama Orang Lain

Bacaan I : 1 Kor 3:1-9 II: Luk 4: 38-44

Setiap orang adalah unik, istimewa. Tidak ada orang lain yang sepenuhnya merasa seperti kita, berpikir seperti kita, atau berlaku seperti kita. Kita berbeda dari orang lain. Tetapi apakah perbedaan ini memisahkan kita dari orang lain?

Hidup bersama orang lain yang tidak sama dengan kita menuntut kita untuk tidak berprasangka buruk terhadap mereka. Kadang-kadang bahkan kita tidak sadar betapa dalamnya akar-akar prasangka dalam diri kita. Dalam hidup sehari-hari nampaknya kita sudah berusaha memandang orang yang berbeda dari kita sebagai sesama. Tetapi dalam kenyataan tidak selalu demikian. Kita sering berprasangka buruk terhadap orang yang berbeda dengan kita. Orang-orang asing, mereka yang berbeda dari kita, menimbulkan rasa takut, tidak enak, tidak senang, atau bahkan curiga serta benci. Orang yang berbeda dari kita, kita anggap sebagai ancaman.

Setiap orang memang berbeda dari orang lain, tetapi semuanya sama sebagai ciptaan Allah, warga umat manusia. Orang lain adalah sesama, sahabat, teman seperjalanan. Orang juga dicintai Allah dengan cinta yang sama yang kita terima juga. Cinta Allah diberi kepada semua orang tanpa memandang muka. Cinta Allah yang kita terima adalah cinta tanpa pengotakan. Maka, mencintai orang lain berarti membagi cinta Allah, yang terbuka untuk semua orang. Hanya dengan kesadaran bahwa Allah mencintai kita semua apa adanya kita mampu menerima dan hidup bersama orang lain.

Kita semua berasal dari Allah yang sama dan akan kembali kepada Allah yang sama pula. Mangapa kita harus saling membenci, memisahkan diri dari orang lain?. Semua yang ada pada kita adalah semata-mata anugerah Allah, mengapa kita harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang kita miliki?

Doa:

Tuhan Yesus, Engkau mencintai semua orang tanpa memandang muka. Tolonglah kami agar mampu meneladan cinta-Mu yang tidak bersyarat itu. Bantulah kami semua orang, juga yang berbeda agama, suku, bahasa, warna kulit dari kami. Amin.

DUC IN ALTUM!

1 Kor 3:18-23; Luk 5:1-11

Kita cukup mafhum bila ada yang mengatakan bahwa zaman ini adalah handphone’s generation. Gadget (perangkat) yang satu ini memang sudah menyandang predikat “must have” buat orang-orang dengan alasan yang variatif, seperti kepentingan komunikasi atau bahkan sekadar mengikuti tren. Mulai dari tukang sayur di pasar sampai anak TK, semua sudah memegang handphone (HP), apalagi kini disertai dengan fitur-fitur yang membantu kemudahan pekerjaan manusia. Tetapi, dengan tidak disadari semangat instan mulai menggerogoti mereka pelan-pelan. Orang-orang jarang ke gereja dan mulai melupakan Tuhan. Posisi Kitab suci digantikan oleh HP.

Dalam injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk “duc in altum”, bertolak lebih dalam. Biarpun kecewa kerja semalaman tidak mendapat ikan, Simon siap sedia melakukan perintah Yesus, duc in altum. Sikap itulah yang memungkinkan terjadinya keajaiban. Ia menangkap sejumlah besar ikan hingga jalanya mulai koyak, sehingga kawan-kawannya datang membantu. Lalu, mereka mengisi kedua perahu mereka penuh dengan ikan hingga hampir tenggelam.keajaiban itu membuka mata Simon terhadap pernyataan kuasa ilahi dan tanda hadirnya Yang Mahakudus, sehingga ia menyadari betapa tak pantas: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Dan akhirnya Yesus mulai mengalihtugaskan Simon dari penjala ikan menjadi penjala manusia.

Dengan ini kita diajak membuka hati terhadap aliran rahmat dan membiarkan sabda Kristus merasuk dalam diri kita dengan kekuatan “duc in altum”. Kekuatan dan kemenarikan HP akan kalah jikalau kita mau duc in altum untuk mengimani, berdoa, dan berdialog dengan Tuhan. Sebagai pengikut Yesus yang sejati, kita harus siap duc in altum dengan semangat kerja keras, seperti Simon, untuk menemukan Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus, tuntunlah perahu hidupku menuju tempat yang lebih dalam. Yakinkan aku bahwa di tempat itulah aku akan menemukan-Mu. Amin.

1 Kor 4: 1-5

Luk 5: 33-39

Doa dan Puasa dalam Relasi Cinta dengan Tuhan2

Santo Fransiskus selalu mengadakan puasa dengan begitu ketat dan teratur. Suatu malam pada masa puasa, seorang saudaranya mengerang kesakitan karena lapar. Semua saudara yang lain berusaha meneguhkan supaya saudara tersebut tetap bertahan hingga tiba waktunya untuk makan. Namun, ketika Fransiskus mendengar erangan saudara tersebut, ia membangunkan semua saudaranya dan mengajak mereka untuk makan, supaya saudara yang mengerang kelaparan tersebut tidak merasa malu untuk mengatasi rasa laparnya yang begitu hebat.

Jika saya ingin berdoa dan ingin memiliki kesalehan, apakah di baliknya? Apakah motivasiku? Kerap kita temukan bahwa motivasi kita sebenarnya tidak murni ketika melakukan sesuatu. Saya rutin ke Gereja setiap minggu. Ketika saya ke gereja, saya mempersiapkan diri mulai dari sikap, penampilan, kekhusukan ketika ibadat, dan kesiapan melayani kebaktian di gereja. Ketika pulang dari gereja, saya melihat orang lain yang tidak ke Gereja dan dengan spontan saja saya mengumpat dalam hati, “Tidak bisakah si anu itu memberikan waktunya ke gereja?” Bisa saja umpatan kita benar, namun dengan tidak kita sadari kita telah menggunakan ‘prestasi’ kita untuk menghakimi orang lain. Saya rajin berdoa supaya dipuji orang; supaya dikatakan saleh, taat, beriman dan lain sebagainya. Motivasi kita bisa terselubung dan tidak lagi berada di jalur yang semestinya.

Orang Farisi telah merasa melakukan kewajiban agamanya dengan sebaik-baiknya. Mereka telah melakukan puasa; telah menunaikan hukum Tuhan. Dengan itulah mereka mempertanyakan mengapa para murid Yesus tidak berpuasa. Jika kelompok Yesus tidak melakukan puasa, berarti mereka bukanlah kelompok yang benar. Orang Farisi merasa sudah benar. Karena itu, mereka menilai yang lain yang tidak melakukan seperti yang mereka lakukan sebagai orang yang tidak benar. Mereka menjadi hakim bagi yang lain. Tanggapan Yesus mengimplisitkan ketidakmurnian motivasi orang-orang Farisi dalam melakukan puasa dan aneka kegiatan ibadat lainnya. Yang paling penting adalah Tuhan selalu bersama kita. Kehadiran Tuhan dalam diri kita; kebersamaan kita dengan Tuhan berada di atas segalanya. Yesus tidak menganjurkan supaya kita tidak berpuasa, tetapi supaya kita terlebih dahulu melihat dan mendalami apa motivasi kita ketika melakukan kewajiban keagamaan kita. Tujuan Doa dan puasa kita kiranya bukanlah supaya kita dipui dan dianggap orang sebagai orang yang saleh dan dekat dengan Tuhan. Doa dan puasa kita kiranya hanya demi membangun dan memupuk hubungan kita dengan Tuhan, supaya kita selalu bersama Tuhan di dalam cinta. Dan dengan itu kita juga selalu di dalam kebersamaan dengan sesama kita di dalam cinta. Janganlah kita yang menjadi hakim bagi mereka yang kita rasa kurang atau tidak melakukan kewajibannya dalam hidup menggereja. Allahlah hakim satu-satunya yang tahu sampai di mana kedalaman iman dan perbuatan umat-Nya. Yang terutama menjadi tujuan doa dan puasa adalah terjalinnya relasi kita dengan Tuhan dan sesama di dalam cinta.

Doa

Bapa yang mahacinta, Engkau menghendaki kami untuk selalu menjalin relasi cinta kepada-Mu. Terangilah kiranya kami, sehingga kami tetap berada pada terang kehendak-Mu. Dampingilah kami supaya motivasi kami benar-benar murni untuk memuji dan memuliakan Dikau. Jauhkanlah sikap kesombongan dan kemunafikan dari kami. Amen.

Hukum diperuntukkan bagi manusia.

(Luk. 6: 1 – 5; I Kor. 4:9-5))

Dalam budaya dan adat istiadat Batak Toba dikenal istilah Marbao. Marbao adalah relasi antara istri seseorang dengan suami kakak atau adik perempuannya. Secara hukum dalam adat Batak Toba mereka tidak boleh berkomunikasi seorang terhadap yang lain. Bahkan lebih tegas dikatakan tidak boleh duduk dalam satu jalur lantai rumah (papan, lantai rumah adat Batak Toba). Hukum ini pada awalnya dimaksudkan untuk menghindari bahaya perselingkuhan. Karena itu, sangat dilarang menikahi bao kalau ia menjadi janda. Pada perkembangan selanjutnya, budaya marbao tetap dijalankan meski mungkin generasi yang berikut tidak ingat lagi apa tujuan awal dari marbao tersebut (yakni menghindari adanya perselingkuhan). Pokoknya yang menjadi pegangan bahwa mereka tidak boleh berbicara seorang dengan yang lain meski misalnya seorang melihat bao-nya tertimpa musibah. Hukum demikian rasanya terlalu kaku.

Perikop ini mengingatkan kita betapa hukum yang terlalu kaku itu tidak baik. Ketika murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya, Orang-orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Pertanyaan Orang-orang Farisi ini hendak menegur mereka mengapa tidak taat pada hukum yang berlaku dalam adat Yahudi. Yesus mencela dengan mengingatkan mereka pada apa yang pernah dibuat oleh Daud. Ketika Daud dan para pengikutnya sedang lapar, mereka masuk ke rumah Allah dan mengambil roti sajian lalu memakannya padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Yesus mau menegur Orang-orang Farisi yang taat secara buta terhadap hukum tanpa tahu lagi untuk apa sebenarnya hukum itu dibuat. Pokoknya, hari Sabat yah tidak boleh bekerja, itu saja. Padahal kita tahu, Yesus tidak pernah mau menghapus hukum yang lama, ia mau menyempurnakannya. Ia mau menggenapinya. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Penafsiran Yesus ini telah merobek kulit ‘perfeksionisme’ manusia yang kaku dan membawa kembali orang-orang pada para bijak pendahulu Daud. Jadi, hukum ilahi mengenai kelangsungan hidup mempunyai hak-hak yang mengatasi hukum-hukum liturgis Musa.

Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja kita, dikenal istilah “Salus animarum suprema lex” (keselamatan jiwa-jiwa adalah undang-undang yang tertinggi). Jelaslah, bahwa hukum diperuntukkan bagi manusia dan bukan sebaliknya manusia mengabdi kepada hukum. Penghargaan atas martabat manusia tetaplah undang-undang yang tertinggi, mengatasi segala hukum manapun. Itu harus menjadi pegangan. Kritisisme Yesus atas penerapan hukum ini merupakan hal baru yang membuka cakrawala kita. Kita teringat akan hukum utama dan pertama yang pernah disabdakanNya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Aturan dan hukum haruslah dipandang dan dihayati dalam bingkai cintai.

BERSYUKUR BAGI YESUS SANG “TABIB”

Bac I: 2 raja 51:4-17; Bac II: 2 Tim 2: 8-!3

Injil: Luk 17:11-19

Saya mau berbagi pengalaman konkrit dengan para saudara dan saudari yang hadir di sini. Ketika saya masih Novis bersama-sama dengan saudara saudara satu angkatan. Kami mengadakan immersion selama dua minggu di Belidahan (Tebing Tinggi). Immersion di tempat orang-orang yang berpenyakit kusta dan tinggal di tempat mereka. Awalya bertemu dengan mereka sepertinya saya merasa takut karena penyakit itu katanya menular. Tetapi karena sudah diberi penyuluhan oleh dokter saya tidak lagi merasa takut. Singkat cerita, selama dua minggu disana kami bekerja bersama-sama dan berbagi cerita dengan mereka. Mereka senang dengan kedatangan kami. Selama disana kami mencat gereja dan membuat parit jalan. Kami makan bersama dan berbagi cerita dengan mereka. Dari cerita itu mereka berkata kepada kami bahwa mereka bersyukur dan berterimakasih karena kami diperhatikan para Frater, Pastor dan juga Suster serta orang lain. Kami menjadi semangat menjalani hidup ini dengan situasi dan kondisi kami yang seperti ini. Anak-anak kami sehat tidak berpenyakit kusta dan kami dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga kami. Kami tetap bersyukur dan berterimakasih, kami tidak merasa mindir. Syukur atas hidup yang diberkan kepada kami, inilah pengakuan mereka kepada saya juga dengan para frater yang lainnya.

Dalam bacaan pertama kita telah mendengar bagaiman Allah menyembuhkan seorang panglima raja Aram yang berpenyakit kusta. Allah tidak langsung mengatakan hai kamu yang berpenyaakit kusta sembuh, tidak.tetapi sebelum Allah menyembuhkan, iman Naaman di uji terlebih dahulu dengan perantaraan nabi Elisa. Nabi Elisa mengatakan kepada Naaman supaya masuk ke sungai dan membenamkan dirinya tujuh kali di sungai Yordan itu. Naaman tanpa habis piker, taat dan melaksanakan apa yang dikatakan oleh abdi Allah itu. Sesudah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh abdi Allah itu Naaman menjadi sembuh dan tahir. Dan sesudah ia mengalami penyembuhan berkat imannya kepada Allah dan ketaatannya kepada abdi Allah itu, Naaman bersyukur dan berterimakasih kepada Abdi Allah itu dan Naaman menawarkan imbalan atas apa yang dialaminya. Tetapi nabi Elisa tidak menerimanya, ia mengatakan bahwa bukan dia yang menyembuhkan tetapi Allah. Namun Naaman tetap bersi keras akan membalas kebaikan Allah dan Naaman berjanji tidak akan berbalik dari Allah.

Injil hari ini juga berbicara tentang Yesus menyembuhkan sepuluh orang yang berpenyakit kusta. Hal ini dapat kita ketahui ketika Yesus mengadakan perjalanan ke Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Waktu itu Yesus memasuki suatu desa dan dari jauh orang kusta itu melihat Yesus dan berteriak minta dikasihani. Orang kusta itu berteriak keras dan mengatakan: “Yesus guru kasihanilah kami”. Pada waktu itu orang yang berpenyakit kusta dianggap tidak ada atau mati. Orang-orang tidak menerima mereka, mereka dikucilkan. Orang yang berpenyakit kusta itu dianggapkutukan atas dosa dosa yang mereka perbuat dan mereka mendapat ganjarannya dengan penyakit yang mereka derita. Tetapi Yesus berbeda dari orang orang Yahudi itu, Ia mendengarkan jeritan orang yang berpenyakit kusta itu dan mengabulkan permohonan mereka. Namun sebelumnya sama seperti yang dialami oleh Naaman dalam bacaan pertama tadi. Bahwa Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka bim sala bim sembuh, tidak. Yesus terlebih dahulu menguji iman dan kepercayaannya. Yesus menyuruh kesepuluh orang kusta itu untuk pergi menghadap imam. Sebab pada waktu itu dengan menghadap imam mereka dapat diterima dalam kalangan masyarakat. Kesepuluh orang kusta itu melaksanakan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka pergi menghadap imam. Namun dalam perjalanan sebelum sampai kepada imam, kesepuluh orang kusta itu mengalami penyembuhan. Mereka menjadi sembuh dan menjadi tahir.

Sesudah mereka sembuh dan tahir salah satu dari yang sepuluh itu yakni orang Samaria datang kepada Yesus tersungkur dihadapan-Nya dan mengucap syukur dan berterimakasih atas penyembuhan yang dia alami. Lalu Yesus bertanya kepada orang Samaria itu. Dimanakah yang sembilan orang lagi? Apakah mereka juga tidak ikut bersama denganmu?. Lalu Yesus berkata kepada orang Samaria itu bangun dan pergilah , imanmu telah menyelamatkanmu. Kesembilan orang itu tidak kembali kepada Yesus mereka tidak tahu mengucap syukur atas apa yang mereka terima. Sudah layak dan sepantasnya orang mengucap syukur dan terimakasih terhadap kebaikan orang kepadanya, Apalah susahnya mengucap syukur kepada Yesus sebab mereka sudah disembuhkan dari penyakitnya. Inilah orang-orang yang tidak tahu di untung atau seperti pepatah yang mengatakan kacang lupa akan kulitnya, sudah di tolong malah lupa mengucap syukur.

Bersyukur dan berterimakasih merupakan ungkapan yang paling mulia bagi orang orang yang berbuat baik. Mengucap syukur atau berterimakasih salah satu tindakan kita untuk menghargai pemberian dan kebaikan orang lain kepada kita. meskipun kecil pemberian itu ataupun tampaknya tidak bernilai itu harus kita syukuri. Bersyukur dan berterimakasih tidak harus memberi imbalan berupa materi atau berupa bentuk barang melainkan dengan mengatakan syukur serta terimakasih dengan tulus dan dari hati kita yang paling dalam itu sudah sangat berharga bagi orang lain.

Sekarang ini juga dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kita tidak sadar seseorang telah berbuat baik kepada kita namun kita tidak mengungkapkan apa-apa kepadanya. Pada hal itu mudah untuk diungkapkan. Apakah kata-kata itu kita ucapkan kepada orang lain atau kepada Allah atas apa yang kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari? Dalam suku Batak Toba terkenal kata ini yakni: “Dang di boto magona”. Kata kata ini dipakai untuk seseorang yang tidak tahu berterimakasih, tidak tahu mengucap syukur, tidak tahu malu atas apa yang diperolehnya dari orang lain ataupun dari Allah. Seperti sembilan orang berpenyakit kusta yang disembuhkan tadi dalam Injil. Seseorang itu berhasil atau hidupnya sukses karena orang lain tetapi dia tidak memperhitungkan kebaikan orang lain tersebut. Maka orang ini disebut orang yang tidak tahu diuntung. Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ini, apakah masih seperti yang terdapat dalam bacaan pertama tadi yakni Naaman dan orang Samaria yang terdapat dalam injil yang tahu mengucap syukur dan berterimakasih. Ma;lah sebaliknya dalam kehidupan kita sekarang ini masih mempunyai sifat seperti kesembilan orang dalam injil yang tidak tahu mengucap syukur itu? Tetapi kedua sifat ini pasti ada dalam kehidupan kita sekarang ini yakni bersyukur dan tidak bersyukur.

Mudah-mudahan dengan mendengar dan merenungkan sabda Allah ini kita dapat menempatkan diri kita kepada hal yang baik. Semoga dengan sabda Allah ini kita diajak supaya kita tetap bersyukur dan berterimakasih kepada Allah dan sesame. Kita percaya bahwa Allah selalu memperhatikan umat-Nya. Dan Allah tidak mau umatnya menderita malah sebaliknya. Meskipun kita susah atau senang kita harus tetap bersyukur dan berpegang pada penyelenggaraan Ilahi atas hidup kita. Kita pantas mengucap syukur dan berterimakasih kepada Allah. Hal ini dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari melalui lingkungan keluarga, masyarakat dan juga melalui yang lainnya. Ucapan syukur tidak harus dengan memberi imbalan berupa materi ataupun bentuk lain tetapi dengan ucapan kata-kata syukur dan terimakasih yang paling dalam dari diri kita. Ini merupakan satu hal yang paling berharga dan mulia atas pemberian orang lain kepada kita. Sebelum saya menutup kotbah ini saya mau menyayikan sebuah lagu yang berjudul “SYUKUR BAGIMU YA TUHAN”

REFF. Syukur bagi-Mu ya Tuhan, syukur bagi-Mu ya Tuhan

Karena dunia yang baik, dan yang bagus ini

Kau cipta bagi kami PutraMu. Reff

Kau slamatkan kami, dalam diri Yesus

Dan Kau bersama kami selalu. Reff

Terimakasih, amin.

Minggu XXXII

ADA KEHIDUPAN SESUDAH MATI

Bac. I: 2 Mak 7:1-2, 9-14, Bac.II: 2 Tes 2:16-

Injil. Luk 20:27-38

Hari ini kita akan mendengar tentang kehidupan sesudah mati. Bagaimana orang-orang benar dihadapan Tuhan hidup kembali karena mereka percaya akan hukum Allah dan melaksanakannya. Biarpun mereka mati, namun mati karena melaksanakan hukum Allah mereka bersedia. Sebab mereka yakin ada kehidupan sesudah mati. Zaman kita sekarang ini juga masih percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati. Ini jelas dapat kita ketahui dari adat dan tradisi kita masing-masing. Seperti orang batak, biasanya orang yang telah meninggal ada sesuatu yang diletakkan dalam peti matinya berupa pakaian, sepatu dan lain-lain. Mengapa ini dibuat supaya ada dipakai di dunia sesudah mati yakni dunia yang baru dimana mereka hidup bersama dengan Allah. Inilah yang dipercayai orang batak hingga saat ini juga.

Bacaan-bacaan hari ini juga berbicara tentang kehidupan sesudah mati. Orang benar dihadapan Allah akan memperoleh hidup bersama dengan Allah yakni didalam surga. Orang-orang yang tidak percaya akan Allah memperoleh kehidupan di neraka.

Dalam bacaan pertama kita telah mendengar dan mengetahui bagaimana orang-orang yang percaya akan hukum Allah mempertaruhkan nyawanya dan berani menderita bahkan sampai mati akibat hukuman dan tindakan yang kejam yang diberikan sang raja yang tidak percaya kepada Allah itu kepada mereka. Tetapi karena mereka percaya bahwa sesudah mati akan dibangkitkan oleh Allah mereka pasrah.

Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Makabe dimana tujuh orang bersaudara dan ibunya dipaksa oleh raja untuk memakan daging yang haram bagi mereka. Namun mereka tidak mau sebab mereka tidak mau melanggar hukum nenek moyangnya. Meskipun mereka dipaksa dan disiksa sampai mati mereka tetap tidak mau, mereka menolak perintah sang raja. Bahkan salah satu dari mereka berkata kepada sang raja. Kami lebih baik mati dari pada melanggar hukum Allah. Mereka berkata biarpun raja membunuh kami, kami tetap tidak melakukannya sebab kami yakin akan bangkit kembali bersama-sama dengan Allah. Seperti yang terdapat dalam mazmur yang mengatakan lebih baik satu hari dihalamanmu dari pada seribu hari ditempat orang asing. Maksudnya meskipun umur kami pendek atau singkat di dunia ini karena taat pada Allah kami yakin akan berbahagia bersama Allah. Dari pada lama hidup di dunia ini namun melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Allah. Orang seperti itu tidak akan dibangkitkan oleh Allah.

Dalam mazmur juga dikatakan bahwa orang benar dan yang melakukan kehendak Allah akan memperoleh kehidupan di surga bersama-sama dengan Allah. Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang menderita, disiksa bahkan mati karena percaya kepadanya memperoleh hidup di dunia pana. Zaman kita sekarang ini juga ada yang disebut mati martir dan ini diperingati dalam gereja kita sebab mereka mati karena membela iman akan Allah.

Dalam injil hari ini juga berbicara tentang kehidupan sesudah mati. Pada zaman Yesus sebagian orang sudah percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Namun ada sekelompok lain yang tidak percaya akan kehidupan sesudah mati yakni orang-orang Saduki. Kelompok Saduki adalah kelompok kaum imam. Mereka tidak percaya dengan kehidupan sesudah mati. Oleh sebab itu mereka mencobai Yesus dengan melontarkan pertanyaan mengenai perempuan yang menikah dan mempunyai tujuh orang suami. Dia menikah dengan yang pertama namun meninggal tanpa mempunyai keturunan. Sehingga harus dinikahi oleh saudaranya yang lain. Sebab dalam adat Yahudi bila tidak mempunyai keturunan tidak sah dalam pernikahan karena itu adalah meneruskan generasi. Kemudian suami yang kedua meninggal dan seterusnya sampai yang ketujuh. Perempuan itu juga meninggal. Orang saduki itu bertanya kepada Yesus siapakah yang menjadi suami dari perempuan yang mempunyai tujuh orang suami itu. Lalu Yesus menjawab, Dalam kehidupan yang baru tidak ada kawin dan dikawinkan sebab semua adalah anak-anak Allah yang baru. Mereka seperti malaikat. Allah kita juga bukan Allah orang mati melainkan Allah orang yang hidup. Kehidupan sesudah mati juga ada dan ini jelas dalam kematian Yesus dimana pada hari ketiga Yesus bangkit dari mati dan naik kesurga dan tnggal bersama dengan Allah. Inilah yang kita imani sebagai orang yang percaya akan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita percaya bahwa orang benar akan dibangkitkan oleh Allah dan memperoleh hidup yang kekal. Dan orang yang tidak percaya akan memperoleh hidup di neraka. Sekarang tergantung dengan kita. Apakah kita akan memperoleh kehidupan sesudah kematian? Surga atau neraka? Ada sebuah cerita, seorang anak kecil yang mempunyai seorang kakek yang memiliki gelar profesor doktor. Anak itu pergi ke halaman rumah mencari capung. Dan anak itu menangkap satu dan menggemgam capung itu di dalam tangannya. Lalu anak kecil itu bertanya kepada kakek itu. Kek coba tebak apakah capung yang ada didalam tanganku ini hidup atau mati. Lalu kakek itu berpikir sejenak. Bila saya katakan hidup anak itu akan mematikan capung itu. Bila saya katakan capung itu sudah mati. Anak itu akan melepaskan capung itu lalu terbang. Namun kakek itu mengalah supaya cucunya senang ia menjawab capung itu sudah mati. Kemudian anak kecil itu membuka tangannya dan capung itu terbang. Anak kecil itu berkata pada kakeknya, kakek kalah. Sekarang, kita sendiri yang menentukan kita memperoleh kehidupan sesudah mati (surga) atau neraka. Kuncinya ada di tangan kita. Amin.

TERDAHULU DENGAN MELAYANI

(Mrk. 9:30-37; Yak. 4:1-10)

Kita semua tahu, rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Juga tidak sama dengan tinggi hati. Rendah diri, pun tinggi hati adalah dua hal negatif. Rendah diri lebih kerap lahir akibat adanya tekanan (depresi). Rahmat yakni dirinya sendiri tidak mekar dan kurang berbuah dalam dirinya. Kalau tinggi hati atau kesombongan kerap lahir karena fanatisme diri serentak meremehkan orang lain. Keduanya BURUK! Lain dengan rendah hati, orang yang rendah hati lebih bebas pengungkapannya, berani tampil apa adanya tanpa kehilangan nilai dirinya yang sejati. Namun, dalam kenyataan rendah diri dan rendah hati kerap kabur dipahami. Kadang rendah diri dipakai menjadi senjata rasionalisasi untuk berendah hati. Karena rendah diri, potensi-potensi, bakat dan banyak anugerah lain tidak disalurkan, dengan itu orang berkata bahwa ia mau rendah hati. Keliru benar. Rendah hati tidak menutup diri akan realitas diri yang sebenarnya dengan segala kemampuan di dalamnya.

Perikop Injil kali ini mengajak kita untuk berendah hati yang benar. Kita mendengar bagaimana di jalan menuju Kapernaum, Yesus mendengar murid-muridNya bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus menegur mereka dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Anak kecil dalam tradisi bangsa Yahudi adalah orang yang tidak dihormati, tidak dihargai, dari mereka dituntut saja ketaatan, mereka tidak berhak bersuara. Yang mau diajarkan oleh Yesus adalah: menjadi rendah seperti anak kecil, yakni melayani saja. Anak kecil itu bukan hanya sebagai contoh, tetapi dalamnya Yesus mewahyukan diriNya. Ia seperti anak kecil, tidak mempunyai kuasa, tanpa hak, hanya taat saja kepada Bapa sampai mati bahkan mati di kayu salib. Tujuannya ialah melayani supaya umat manusia selamat. Pelayanan itu adalah suatu segi dari salibNya; mengosongkan diri, menyangkal diri, menjadi kecil, menjadi yang terakhir, bagai hamba yang tak berguna, yang dapat dipergunakan dan dibuang sebagai sampah. Ia hidup sebagai hamba Allah dan manusia. Yesus mencintai anak-anak kecil yang rendah itu karena sifat-sifat itu dilihatNya dalam mereka. Ia memihak kepada orang yang rendah hati karena memang ‘Allah membenci orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.’

Ada begitu banyak orang di dunia ini seperti murid-murid yang bertengkar mengenai siapa yang terbesar. Pertanyaan Rasul Yakobus dalam suratnya amatlah tepat menggambarkan situasi demikian: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Serentak, ada begitu banyak juga orang yang bernasib seperti anak kecil tadi, yang tak berdaya itu. murid-murid Yesus yang sejati harus siap menjadi pelayan bagi mereka. Ia berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini, ia menyambut Aku.” Dengan kedatanganNya ke dunia Yesus telah mengajarkan pola pikir baru yang bertentangan dengan pikiran manusia yang mau menjadi besar hanya karena kuasa (memerintah). Bagi Yesus menjadi besar harus seperti anak kecil itu yang kebesarannya justru nampak dalam pelayanan kepada sesama. Orang yang mau melayani hanyalah orang yang rendah hatinya.

Hukum diperuntukkan bagi manusia.

(Luk. 6: 1 – 5; I Kor. 4:9-5))

Dalam budaya dan adat istiadat Batak Toba dikenal istilah Marbao. Marbao adalah relasi antara istri seseorang dengan suami kakak atau adik perempuannya. Secara hukum dalam adat Batak Toba mereka tidak boleh berkomunikasi seorang terhadap yang lain. Bahkan lebih tegas dikatakan tidak boleh duduk dalam satu jalur lantai rumah (papan, lantai rumah adat Batak Toba). Hukum ini pada awalnya dimaksudkan untuk menghindari bahaya perselingkuhan. Karena itu, sangat dilarang menikahi bao kalau ia menjadi janda. Pada perkembangan selanjutnya, budaya marbao tetap dijalankan meski mungkin generasi yang berikut tidak ingat lagi apa tujuan awal dari marbao tersebut (yakni menghindari adanya perselingkuhan). Pokoknya yang menjadi pegangan bahwa mereka tidak boleh berbicara seorang dengan yang lain meski misalnya seorang melihat bao-nya tertimpa musibah. Hukum demikian rasanya terlalu kaku.

Perikop ini mengingatkan kita betapa hukum yang terlalu kaku itu tidak baik. Ketika murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya, Orang-orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Pertanyaan Orang-orang Farisi ini hendak menegur mereka mengapa tidak taat pada hukum yang berlaku dalam adat Yahudi. Yesus mencela dengan mengingatkan mereka pada apa yang pernah dibuat oleh Daud. Ketika Daud dan para pengikutnya sedang lapar, mereka masuk ke rumah Allah dan mengambil roti sajian lalu memakannya padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Yesus mau menegur Orang-orang Farisi yang taat secara buta terhadap hukum tanpa tahu lagi untuk apa sebenarnya hukum itu dibuat. Pokoknya, hari Sabat yah tidak boleh bekerja, itu saja. Padahal kita tahu, Yesus tidak pernah mau menghapus hukum yang lama, ia mau menyempurnakannya. Ia mau menggenapinya. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Penafsiran Yesus ini telah merobek kulit ‘perfeksionisme’ manusia yang kaku dan membawa kembali orang-orang pada para bijak pendahulu Daud. Jadi, hukum ilahi mengenai kelangsungan hidup mempunyai hak-hak yang mengatasi hukum-hukum liturgis Musa.

Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja kita, dikenal istilah “Salus animarum suprema lex” (keselamatan jiwa-jiwa adalah undang-undang yang tertinggi). Jelaslah, bahwa hukum diperuntukkan bagi manusia dan bukan sebaliknya manusia mengabdi kepada hukum. Penghargaan atas martabat manusia tetaplah undang-undang yang tertinggi, mengatasi segala hukum manapun. Itu harus menjadi pegangan. Kritisisme Yesus atas penerapan hukum ini merupakan hal baru yang membuka cakrawala kita. Kita teringat akan hukum utama dan pertama yang pernah disabdakanNya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Aturan dan hukum haruslah dipandang dan dihayati dalam bingkai cintai.

TIDAK MELEKAT PADA “HARTA YANG SEMENTARA”

Luk. 8:1 – 3

I Tim. 6:2b – 12

Sebuah cerita ringan nan bermakna: “Seorang Guru sedang bermeditasi di tepi sungai. Muridnya datang, membungkuk, dan meletakkan 2 butir mutiara indah di kakinya sebagai tanda hormat-bakti. Guru membuka matanya, mengangkat salah satu butir mutiara itu dan memegangnya sembarangan sehingga mutiara itu jatuh dan menggelinding masuk ke dalam sungai. Murid itu cemas dan segera meloncat masuk ke dalam sungai. Akan tetapi, meskipun berkali-kali menyelam ia tidak berhasil. “Guru tahu di mana mutiara itu jatuh. Tunjukkanlah tempatnya supaya saya dapat mengambilnya,” kata sang murid. Guru itu mengangkat mutiara yang lain, melemparkannya ke dalam sungai dan berkata, “Di situ!!!”

Guru dalam cerita di atas meyakinkan kita bahwa benda (harta duniawi) tidak dapat sungguh dimiliki. Justru, manusia menjadi ‘penguasa ciptaan’ ketika ia tidak melekat padanya. Tidak dikatakan bahwa harta tidak penting, tetapi melekat padanya membuat hati kita terpaku pada yang sementara, lupa pada yang abadi “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat.6:21). Sementara manusia harus mengabdi Tuhan dengan utuh dan hati tak terbagi, maka mustahil baginya mengabdi dua tuan sekaligus. “Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain.” (Mat.6:24). Pada 1 Tim 6:7.9 dikatakan:”Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat…..kebinasaan.” Meminjam bahasa Ayub, kita ‘keluar dari rahim ibu dengan telanjang dan dengan telanjang akan kembali ke dalamnya.’ Perempuan-perempuan (Maria dari Magdala, Yohana isteri Khuza, dan banyak permepuan lain) dalam perikop Injil yang kita renungkan saat ini sangat bijaksana. bukannya melekat pada harta duniawi, tetapi mereka melayani rombongan Yesus dan para murid yang baru saja berkeliling memberitakan Injil KA. “Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (ay.3b).

Para perempuan dalam Injil memberi teladan kepada kita bahwa benda, materi, harta kekayaan pada dirinya tidak cemar dan berdosa., Namun, selekas manusia melekat selekas itu pula ruan bagi Allah tertutup. Manusia berpikir bahwa orang akan memiliki kulitas lebih jika memiliki harta yang lebih banyak. Harta menjadi ukuran. Padahal (seperti kata Henri J.M.Nouwen) “Harta manusia tidak sama dengan jati diri manusia itu. Manusia jauh lebih berharga dari pada apa yang dapat dihasilkannya, dari pada apa yang dimilikinya.” Tuhan mencintai kita sebagaimana kita ada bukan sebagaimana kita berkarya atau memiliki benda/harta.

UCAPAN BAHAGIA

Minggu Biasa IV:

° Zef. 2:3, 3:12-13

° I Kor. 1:26-31

° Mat. 5:1-12

Saya teringat akan masa kecilku di kampung. Ketika itu, saya seorang yang sangat rajin bekerja. Tanpa disuruh sekalipun oleh orang tua, saya sudah pergi bekerja ke ladang. Begitulah, suatu hari saya mendengar ibu-ibu di depan rumah kami bercerita tentang banyak hal. Mereka bercerita mulai dari yang paling kecil sampai ke hal-hal yang paling serius. Termasuk di dalamnya saya dengar litani pujian dan keluhan tentang anak-anak mereka. Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang hampir sepanjang hari tidur terus mulai dari pagi sampai ke pagi berikutnya diselingi kadang-kadang ke luar rumah, ke warung kopi misalnya. Ada juga ibu yang mengeluhkan anaknya yang sering mendapat nilai rendah di sekolah dan biasa menjadi ranking terakhir, maklum IQ sudah rendah dilengkapi lagi karena seringnya dia membolos dari sekolah. Tiba-tiba saya dengar seorang ibu berkata kepada ibu saya begini: “Ah..Mama si Benny inilah yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bapak itu baik, anak-anaknya baik dan rajin bekerja belum lagi semua mendapat ranking di sekolah. Alangkah senangnya punya anak-anak seperti mereka,” demikian pujian ibu itu. Ketika mendengar litani pujian ini spontan saya terkejut sekali, terkejut karena gembira. Saya tidak menduga sebegitu tinggi penilaian orang terhadap kami; apalagi merasa bahwa saya dan adik-adik tidaklah sehebat pujian itu. Maka, saya bertambah semangat dalam hidup berkat pujian-pujian itu.

Benar atau tidak pujian mereka bukan itulah yang terpenting. Emosi gembira yang timbul spontan karena pujian itu, menggugahku ketika mempersiapkan renungan ini. Luapan gembira yang saya dengar itulah yang juga saya kira dirasakan oleh mereka yang mendengar kotbah Yesus di bukit; ‘Berbahagialah kamu…..’ Betapa gembira dan bersemangat dan bahagianya mereka. Mereka tentu ‘dihidupkan lagi’ karena litani pujian itu, sebab Sabda Bahagia Yesus ini terutama menyentuh pendengarNya yang nyata-nyata adalah orang-orang yang sederhana (yang tak terpandang pada zamannya). Dan begitulah memang salah satu sifat manusia, suka dipuji. Yang kiranya menjadi perhatian dan kekaguman kita adalah ini: betapa Yesus adalah seorang pengkotbah yang ulung dan punya wibawa, Dia begitu mengerti psikologi massa (dengan ucapan berbahagia) dan memadukannya dengan inti-inti pengajarannya (mereka yang miskin, mereka yang berdukacita, mereka yang lemah-lembut,…..dst). Kata “berbahagialah….” Yang dipakai oleh Yesus itupun kena sasarannya, demi tujuan pewartaannya disertai cara yang baik.

Dalam Bacaan pertama kita mendengar : ‘Mereka yang hanya mencari Tuhan (yang bermegah hanya di dalam Tuhan); orang yang rendah hati dan lemah yang hanya mengandalkan Tuhan saja,’ orang demikianlah yang berbahagia. Mengandalkan Tuhan tentu punya arti bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi poros dan fokus hidup mereka. Mereka bukan lagi anak-anak kegelapan – tidak melakukan kelaliman, atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu. Orang demikianlah yang sesungguhnya berbahagia, yang bagi dunia adalah suatu kebodohan. Tetapi justru, yang ‘bodoh bagi dunia, yang lemah, dipilih oleh Allah untuk memalukan orang-orang yang kuat dan apa yang terpandang hina bahkan yang tidak berarti dipilih oleh Allah untuk meniadakan apa yang berarti.’

“Berbahagialah orang yang miskin, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Allah,” mau menyatakan bahwa bukan kemiskinan itu yang membuat manusia berbahagia, tetapi mereka yang selalu berharap akan Allah. yang pertama-tama dimaksud oleh Matius adalah mereka yang miskin dalam Roh. Mengapa dikatakan bahwa orang miskinlah yang berbahagia? Karena orang miskin itu tidak mungkin mengandalkan dirinya sendiri sebab harta tidak dimilikinya. Dia hanya berharap melulu pada belaskasih orang dan terutama pada belaskasih Tuhan. Kekayaan pada dirinya sebenarnya tidak salah, tetapi ketika orang mulai melekat pada hartanya, di sinilah letak kesalahannya. Kekayaan boleh dipandang positif, hanya perlu diingat jangan melekat pada yang sementara. Tetapi, kerap juga kita melihat dan mungkin alami, harta benda lebih cenderung menggoda kita untuk melekat. Keadaan inilah yang akan mengawali pada kebinasaan. Jika harta sudah habis, maka pupuslah juga harapan hidup. Padahal harta itu sendiri, tidak kekal, hanya sementara.

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, sebab mereka akan dipuaskan.” Yang dimaksud pertama-tama adalah mereka yang tugas pokok dalam hidupnya memenuhi kehendak Allah saja.

Ada pergantian dari berbahagia karena ketergantungan kepada Allah (miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar akan kebenaran), menjadi berbahagia karena tindakan-tindakan kita yang meneladan Allah.

Apa arti murah hati? Dalam Kitab Suci terdapat berbagai bentuk kata murah hati yang dipakai lebih banyak untuk menyatakan kemurahan hati Allah daripada kemurahan hati manusia. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita bermurah hati kita bertindak seperti Allah. Secara umum, bermurah hati adalah mengampuni yang salah dan memberi kepada yang miskin.

Menjadi “suci hati” tidaklah berarti menghindari pikiran yang tidak murni, tetapi berarti memiliki integritas dan kebulatan hati. Kita dapat mengatakan “kebulatan hati”, yang berarti mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita dikhususkan bagiNya, dalam arti ini, murni, bagaikan kurban yang tiada bercela.

Damai dalam arti biblis bukan hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi merupakan keadaan utuh, kepenuhan dan kelimpahan. Orang-orang pencipta perdamaian merupakan saluran kurnia Allah. St. Fransiskus bermegah dengan mengatakan, “Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai ‘kan kudamaikan silang-selisih!”

Sabda Bahagia yang pertama sampai ketujuh mempunyai pengertian yang menjelaskan syarat-syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan orang yang memenuhi persyaratan ini disebut orang yang berbahagia. Sabda Bahagia yang kedelapan (ayat 10) dan perluasannya dalam ayat 11 dan 12, mau menegaskan bahwa seorang pengikut Kristus yang sejati itu harus diuji. Sebagaimana pada zaman kekristenan awal banyak orang dianiaya; banyak yang menjadi martir. Sekarang ini, sebagian besar dari kita tidak dianiaya ataupun dirugikan karena menjadi Kristen. Tetapi bila kita harus berpendirian kuat mengenai isu yang berkenaan dengan moral pada zaman ini misalnya soal aborsi, pelecehan seksual, etik kerja atau mengenai banyak hal, tentu kita akan mengalami banyak hal sebagaimana disebutkan Yesus dalam kotbah ini. Yesus tentu menghendaki kita menjadi saksiNya dan hal ini bisa membuat hidup kita kurang menyenangkan; meski membahagiakan untuk hidup akhirat.

Sabda Bahagia ini ditutup dengan kalimat yang bernada akhir zaman: ‘Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.’ Inilah yang menyemangati kita kembali. Kita akan mengambil bagian dalam kebahagiaan yang akan diberikan oleh bentuk kehidupan yang lebih penuh dengan Allah. Hidup kita yang hanya mengandalkan Tuhan itu ternyata lebih kekal ketimbang kesusahan, penganiayaan yang kita alami di dunia ini. Selayaknya kita bergembira karena janji itu, karena Tuhan tidak pernah melupakan kita. Dengan demikian, mendengar seruan kotbah Yesus di bukit ini membuat kita semakin berani untuk menjawabnya, karena seruan ini menjadi semakin berarti. Apapun kesulitan kita, kita adalah orang yang berbahagia, karena kita bertindak menurut teladanNya. Dia telah menderita bagi kita dan telah berjanji bahwa kesaksian kita tidaklah sia-sia. AMIN!!!!!

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.