SANTO BONAVENTURA

       (1221-1274) 

PENGANTAR

            Sengaja saya memilih karya St. Bonaventura untuk diterjemahkan bukan karena kini saya bergabung dalam ordo fransiskan tetapi pertama-tama karena beliau adalah tokoh besar dan sangat berpengaruh di zamannya (sebagaimana kami pelajari pada les “Fransiskanologi” ketika Post-Nopisiat). Sebenarnya, ada 3 poin besar yang dibahas dalam buku yang kuterjemahkan. Namun, karena terlalu banyak saya memilih satu saja dari ketiganya yakni bagian kedua yang berjudul “Nature” (ALAM). Berikut saya coba terjemahkan.

II. ALAM

            Bonaventura memilih teori fisika Aristoteles tentang materi dan bentuk untuk menjelaskan aneka alam ciptaan dan untuk mempertahankan pandangan kuno sejauh hal itu mungkin. Akan tetapi, dia memperluas pandangan ini dan menambahkan nuansa metafisika. Perbedaan materi dan bentuk  menyatakan realitas, susunan fundamental yang masing-masing menampakkan keberadaan yang kontingens (tergantung). Hal itu dengan benar diterapkan pada tiap ciptaan, teristimewa ciptaan Tuhan, yang sendiri merupakan ’actus purus’, satu-satunya keberadaan yang terbebaskan dari materi.

            Cara menginterpretasikan hilemorfisme memungkinkan Bonaventura untuk mempertahankan empat proposisi penting Agustinus.

Proposisi I : materi pertama adalah ‘actus’ yang tidak lengkap.

            Dalam pandangan Aristoteles, materi yang utama dipahami sebagai potensi yang murni dan yang dihilangkan secara mutlak dari adanya ketentuan. Karena ketaktentuan ini, St. Bonaventura menyimpulkan, seseorang dapat memandangnya dalam semua ciptaan tanpa perkecualian, walaupun dia menambahkan bahwa “materi yang biasa” ini begitu dipertimbangkan adalah kecuali suatu keberadaan yang ideal belaka dan tidak dapat ditemukan dalam alam. Lalu, setiap materi yang nyata karena esensinya harus diistimewakan dengan suatu permulaan dari actus dan tuntutan, bentuk yang tetap sebagai pelengkap.

            Paham ini dapat dibandingkan dengan pandangan kaum Thomist yang membedakan antara esensi dan eksistensi. Dalam kedua kasus itu, ada pertanyaan atas suatu aktus yang tinggal tetap dalam suatu hubungan yang terbatas dalam dirinya sendiri, potensial dan tidak lengkap, seraya mengharuskan penyempurnaan atas bentuk terakhir atau atas aktus yang tertinggi. Dalam cara ini, dari sudut kepentingan metafisik, ada pembedaan atas materi-bentuk yang bagi Bonaventura, menempatkan kembali perbedaan esensi-eksistensi. Realitas perbedaan yang terakhir itu tidak diklarifikasikan oleh Bonaventura; tampak bahwa ia memandangnya sebagai pembedaan logis yang sederhana, buah dari abstraksi intelektual.

Proposisi II: materi spiritual.

Jika perbedaan yang nyata materi dan bentuk memberi ciri kepada keberadaan-keberadaan yang kontingens, jelaslah bahwa manusia, jiwa yang terpisah, dan roh murni adalah juga keberadaan-keberadaan yang  material, selama mereka hidup. Maka, malaikat-malaikat, seperti juga makhluk-makhluk badaniah, dapat berkembang secara numerikal, karena mempunyai materi sebagai prinsip individuasi mereka. Di lain pihak, materi supaya diindividukan bertindak sebagai penghubung dengan bentuk.

            Perbedaan yang esensial di antara materi jasmani dan spiritual hendaknya diperhatikan. Yang pertama adalah sumber kwantitas dan yang selanjutnya dapat dibagi  & batasan ruang; materi spiritual sepenuhnya dibebaskan dari ketidaksempurnaan ini. Yang pertama adalah sumber dari yang terus-menerus dan perubahan besar yang menuntun pada perubahan dan kematian, karena hal itu tidak pernah sepenuhnya digerakkan oleh bentuk yang dimilikinya. Sebaliknya, materi spiritual tidak menghalangi hal yang tidak dapat berubah atau yang tidak dapat mati, karena sepenuhnya didominasi oleh bentuknya yang menggerakkan.

            Dalam pandangan St. Bonaventura, dominansi dan tidak dapat berubah bentuk spiritual ini didasarkan pada cara kerja intelektual. Roh itu tidak bertentangan dengan perbuatan merusak yang akan menjadi sasaran (pokok) karena Roh itu memiliki dan mendapat kenyataan paling bertentangan dengan gagasan yang sama. Maka dengan gagasan itu dihasilkan (warna) hitam dan putih. Karena itu, meskipun materinya, malaikat-malaikat, dan jiwa manusia secara alami tidak dapat rusak.

            Wujud spiritual yang tidak dapat rusak itu tidak dapat dihasilkan melalui generasi, tetapi harus secara langsung diciptakan oleh Allah; tradusianisme harus ditanggalkan.

            Di lain pihak, karena tiap jiwa selanjutnya menderita dengan porsi materi, maka jika jiwa telah mengambilnya dari materi alam semesta yang ada sebelumnya, jumlah yang akan dibuang akan berkurang tanpa berhenti. Jadi, agar tidak mengganggu tatanan dunia, Allah menciptakan pada tiap manusia materi spiritual.

Proposisi III : alasan-alasan yang bersifat seminal.

            Selama materi jasmani pasif, sendiri dia tidak dapat menjelaskan transformasi alam; causa efficiens harus diakui. Pengaruh ini ditundukkan pada hukum yang penjelasannya dapat ditemukan dalam materi yang pertama. Karena aktus-nya tidak lengkap, materi pertama yang menyesuaikan diri terhadap bentuk-bentuk kategori tertentu, dianugerahi dengan bermacam-macam keutamaan seraya memungkinkannya berturut-turut dilengkapi dengan bermacam-macam bentuk petunjuk dari perubahan substansial. Pra-eksistensi yang sebenarnya ini dalam alasan-alasan yang seminal dipahami dalam kerangka St. Bonaventura, sehingga alasan-alasan yang seminal itu muatannya menentang bentuk-bentuk, dan sebagai akibatnya selalu membutuhkan tidakan yang tertentu dari causa efficiens.

Proposisi IV: pluralitas bentuk.            Dengan maksud menetapkan materi, terdapat sejumlah bentuk hierarki tertentu pada tiap ciptaan; mulai dari yang paling umum bergerak (turun) pada bentuk yang spesifik. Banyak dari hal itu adalah tambahan dan bersifat aksidental, tetapi yang lainnya adalah dari golongan substansial. Menurut St. Bonaventura, kesatuan substansi itu harmonis dengan pluralitas bentuk-bentuk substansial dengan syarat bahwa bentuk-bentuk substansial adalah sebagai keberadaan-keberadaan tak lengkap yang saling melengkapi satu dengan yang lain, dan pada akhirnya bentuk yang spesifik sepenuhnya mendominasi yang lainnya dan memaksakan kesatuannya pada mereka (incomplete beings).

            Ada dua bentuk substansial utama pada manusia, masing-masing mempunyai materi yang sama, bentuk jasmani dan jiwa rohani. Jiwa rohani bukan hanya jiwa berpikir (intelektual), melainkan juga diangkat oleh kesatuan tiga prinsip hidup (pertumbuhan, kebijaksanaan, dan hidup akali), yang sebagai tiga keberadaan tak lengkap secara alamiah diperuntukkan membentuk kesatuan. Jadi, jiwa dan badan adalah dua substansi, masing-masing melengkapi dengan genus-nya; namun karena mereka dipersiapkan satu untuk yang lain, satu berfungsi sebagai potensi & yang lain sebagai aktus, dan mereka bersatu membentuk substansi manusia yang unik.

            Ide keberadaan-keberadaan tak lengkap (tak sempurna) ini jauh dari mustahil, dan benar-benar menguatkan kesatuan substansial, selama seseorang menganggap bahwa keragaman dan bagian-bagian yang benar-benar nyata digerakkan oleh kodratnya untuk membentuk kesatuan. Tentu saja, jika suatu teori masuk akal tidak dengan sendirinya benar atau mengungkapkan realitas sebagaimana adanya. Sebagaimana St. Thomas buktikan, jika pikiran kita menggambarkan pengetahuannya dari hal-hal dengan abstraksi, seseorang tidak dapat menyimpulkan secara sah pada susunan elemen-elemen benda nyata dalam pola materi dan bentuk, kecuali jika hal yang membutuhkan penjelasan menyatakan dirinya untuk mengalami sebagai yang dilawan dan tidak dapat diuraikan lagi, seraya seraya menjauhkan masing-masing dari istilah kesempurnaan dan ketidaksempurnaan.

            Kini aneka tingkatan yang dicoba untuk menjelaskan bermacam-macam bentuknya ini tidak ditentang dalam makna sebenarnya; mereka melengkai satu dengan lainnya dalam tatanan aktus. Maka hidup yang penuh perasaan bukannya menyangkal tetapi melengkapi hidup pertumbuhan; inteligensi bukannya menyangkal tetapi melengkapi pengetahuan intuisi.. Karena itu, realitas dapat dijelaskan sepenuhnya oleh satu bentuk unik dalam tiap substansi.

            Hal ini merupakan solusi yang benar-benar obyektif, di mana masalah dipecahkan dalam dirinya sendiri dan secara bebas solusi dilengkapi dengan tradisi. Posisi St. Bonaventura begitu memikat dengan agungnya dalam perjalanan sejarah, meskipun hal itu sekurang-kurangnya adalah manfaat  memperkenalkan kesatuan ke dalam keberagaman proposisi Agustinus.

PENUTUP

            Ketika menterjemahkan bagian ini, saya belum mendapat mata kuliah yang membahas St. Bonaventura dan ajarannya. Jadi pemikiran St. Bonaventura ini masih baru sekaligus menjadi kendala bagi saya ketika menterjemahkan bagian ini. Banyak istilah dan topik tertentu membingungkan. Jujur saja, secara keseluruhan kurang saya mengerti secara mendalam. Meski demikian, sedapat mungkin saya terjemahkan dengan sebaik-baiknya.

            Satu hal yang menarik bagi saya dikatakan secara tidak langsung bahwa Allah telah mengatur alam ini sedemikian sehingga tidak terjadi perpecahan di dalamnya. Termasuk tiga keberadaan yang tak lengkap (pertumbuhan, perasaan, dan hidup akali) secara alamiah diperuntukkan membentuk kesatuan. Mereka saling melengkapi dan bersatu membentuk substansi manusia yang unik. Saya kira inilah salah satu yang menunjukkan keagungan Allah. Dalam perbedaan-perbedaan yang otonom sekaligus justru terdapat di dalamnya persatuan yang saling mendukung. Dari fenomena ini, manusia dengan segala keberagaman dapat belajar juga untuk membentuk kesatuan baik dalam dirinya sendiri, dengan sesama, dengan, lingkungan, dan dengan Tuhannya.

SUMBER:

            Thonnard, A. A. F. J. A Short History of Philosophy. New York: Desclee Company, 1956.