PANDANGAN  HANS-GEORG GADAMER TENTANG BAHASA 

Riwayat hidup Gadamer

Gadamer adalah seorang filsuf terkemuka di bidang Hermeneutika Filosofis. Adapun karangannya yang tersohor di bidang Hermeneutika adalah Truth and Method. [1]

Hans-Georg Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900. Ia belajar filsafat pada universitas di kota asalnya, antara lain pada Nikolai Hartmann (1882-1950) dan Martin Heidegger (1887-1976). Ia  mengikuti kuliah juga pada Rudolf Bultmann (1884-1976). Sekolah Teolog Protestan yang ternama. Pada tahun 1922 ia meraih gelar “Doktor Filsafat”. Pada tahun 1929 ia menjadi Privatdozent di Marburg  hingga menjadi  profesor di tempat yang sama. Pada tahun 1939 ia pindah ke Leipzig dan pada tahun 1947 ke Frankfurt am Main. Sejak tahu 1949 ia mengajar di Heidelberg sampai dengan pensiun.[2]

 Bahasa sebagai perantara pengalaman hermeneutik .  

Secara etimologis hermeneutik berasal dari  bahasa Yunani hermeneuein. Hermeneuein berarti “menginterpretasikan”, “menafsirkan”. Kita sudah sering mendengar dan menggunakan kata menginterpretasi atau interpretasi. Kata itu dipakai hampir di semua ruang lingkup hidup. Kata Yunani ini, hermeneuein memuat 3 arah arti , yakni: “menyatakan” atau “mengungkapkan dengan lantang”, ‘meresitir’; menjelaskan” atau menerangkan situasi’; “menerjemahkan” atau ‘mengalihbahasakan ke bahasa asing’. Makna menerjemahkan (mengalih-bahasakan ke bahasa asing) inilah yang dimengerti dewasa ini. Hermeneutik menuntun orang pada pemahaman (understanding) dalam arti luas, hermeneutika adalah sebuah disiplin yang berurusan dengan logos., bukan hanya interpretasi makna tekstual, tetapi juga arti realitas.[3]

Bagi Gadamer, bahasa merupakan  suatu realitas yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman, pemahaman, maupun pikiran manusia. Karena untuk mengerti sesuatu kita tidak mungkin lepas dari bahasa, begitu juga halnya dengan pengalaman hermeneutik pun tidak lepas dari bahasa. Bagi Gadamer, bahasa merupakan medium pengalaman hermeneutik.[4]

Menurut Gadamer, bahasa yang umum harus dicari dalam setiap pengalaman hermeneutik. Sebab jika para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorangpun mengerti, ini berarti sama saja mereka tidak berbicara apa-apa (nihil). Dengan ini Gadamer mau menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hemeneut. Pemahaman hanya mungkin dimulai bila bermacam-macam pandangan menemukan satu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap.[5] 

Orang yang mampu menjembatani jurang antara dua bahasa, memberi titk terang yang penting. Terjemahan bagaikan interpretasi dan penerjemahnya, seperti juga pada hermeneut, akan menggunakan bahasa untuk menentukan bahasa. Sebagaimana disebutkan bahwa tugas hermeneutik adalah terutama memahami teks, maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan yang fundamental dengan bahasa. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsur-unsur penting dari pemahaman, sehingga para pembicara asli (native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa bahasanya sendiri. Memang kita akui juga memindahkan konsep dalam bahasa yang satu ke bahasa yang lain bukanlah perkara yang gampang. Kita ambil contoh kata pain (bahasa Inggris). Dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksud dengan kata Pain. Maka dicari istilah dalam bahasa serumpun yang lazim. Untuk itu, kata pain (Inggris) lebih tepat diterjemahkan nyeri (bahasa Sunda).[6]

Perpaduan antara cakrawala mungkin selalu efektif di dalam penerjemahan. Namun Gadamer menegaskan bahwa interpretasi/terjemahan akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasanya yang teratur. Dengan kata lain terjemahan itu akan indah sekali bila tidak setia pada bahasa aslinya dan bila setia sering terjemahan itu tidak indah lagi. Artinya terjemahan yang baik tidak menurut kata-perkata (letterlet) tetapi disesuaikan dengan lagak ragam bahasa sendiri.

Dalam berbicara, hermeneutik adalah bagaikan terjemahan. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokumen tertulis saja melainkan juga benda-benda yang bukan bahasa seperti patung, komposisi musik, lukisan-lukisan, dsb.

Jadi bahasa sekali adalah medium penting dalam pengalaman hermeneutik. Dalam percakapan misalnya Gadamer menekankan bahwa keseluruhan proses percakapan- berkaitan dengan bahasa. Bahasa adalah pertengahan daerah dalam mana pengertian dan persetujuan mengenai objek, mengambil tempat di antara dua orang yang melakukan percakapan. Gadamer memberi contoh yang kedua ini yakni dalam hal menerjemahkan sebuah percakapan yang dilakukan dalam dua bahasa berbeda (tadi contoh pertama adalah tentang teks). Penerjemah dalam hal ini tentu saja tidak secara bebas mengartikan apa yang person lain katakan. Arti percakapan-itu lagi-lagi harus dipelihara dan juga harus dimengerti dalam sebuah bahasa baru dan dengan cara yang baru . Agar dua orang sungguh saling mengerti dalam percakapan dibutuhkan suatu bahasa (umum) yang oleh keduanya bahasa tersebut dapat dimengerti dalam hal ini bahasa merupakan perantara untuk saling mengerti. Ciri-ciri khas dari setiap percakapan yang benar adalah masing-masing person membuka dirinya sendiri kepada person yang lain.

Dari semua uraian di atas Gadamer mau memperlihatkan – bahwa pemahaman (pengertian) adalah interpretasi dan interpretatasi itu terjadi dengan perantara bahasa. Bahasa sebagai perantara pengalaman hermeneutik berkaitan erat dengan teks yang mau dipahami. Dalam hal ini Gadamer tidak mencari pengarang yang bersembunyi di belakang teks melainkan mencari apa yang terjadi di antara teks dan juru tafsir. Penafsiran teks-teks dapat disebut suatu percakapan dimana bahasa berfungsi sebagai perantara antara teks dan si penafsir.

 Bahasa: Bukan Tanda, Bentuk, dan Alat 

Secara etimologis kata  “bahasa” berasal dari bahasa Latin “Lingua” yang berarti lidah atau bahasa. “Lingua” diartikan sebagai kumpulan kata-kata, arti kata yang standar dengan bentuk ucapan yang digunakan dan sebagai metode komunikasi. Bahasa sebagai kegiatan universal insani untuk membentuk sistem dan tanda-tanda sesuai dengan aturan asumsi yang diterima secara umum.[7]

Hans-Georg Gadamer memberikan sebuah pandangan yang beharga untuk kita pahami tentang bahasa. Konsep bahasa yang dimaksud Gadamer bukan hanya dalam pemahaman saja, tetapi lebih pada bentuk bahasa itu yang biasa kita pakai. Kenyataan tidak pernah berlangsung di belakang panggung bahasa melainkan selalu berada dalam diri bahasa itu sendiri. Oleh Karena itu setiap dialog atau komunikasi yang kita lakukan sehari-hari tergantung pada luasnya pengetahuan kita tentang bahasa.[8]

Menurut Gadamer, sejak dipakainya ide “logos” di dalam pemikiran Yunani, bahasa diperlakukan sebagai teori tanda. Sejak saat itu kata menjadi tanda dari suatu realitas yang telah ditentukan batas-batasnya sesuai dengan hakekat sebagai tanda, kata berfugsi untuk diterapkan kepada suatu hal. Karena kata sebagai tanda dan tanda tersebut siap dipakai, maka kata terserah atau diserahkan kepada pemakai kata (tanda) tersebut. Dengan demikian bahasa menjelma sebagai alat subjek semata yang terpisah dari realitas yang dipikirkan. Konsekuensi dari bahasa menjadi tanda adalah bahwa kata berasal dari manusia dan kata berada di bawah manusia. Bagi Gadamer hal itu kurang tepat. Karena kata itu sendiri adalah milik realitas. Realitas sendirilah yang mengungkapkan diri dalam kata-kata. Konsepsi yang mengatakan bahwa kita menciptakan kata dan kemudian memberinya arti: menurut Gadamer konsep itu tidak benar, karena kata bukan hasil pemikiran refleksi. Pada setiap pengalaman, kita tidak mencari suatu kata untuk menujukkkan objek yang sudah dialami. Kalau kita mencari kata yang tepat tidak berarti bahwa kita mencari tanda untuk objek yang sudah hadir.[9]

Bahasa merupakan keseluruhan sistematis yang terdiri dari unsur-unsur yang masing-masing mempunyai fungsinya sendiri. Bahasa itu bukan substansi, melainkan bentuk saja. Maksudnya bahwa dari mana bahasa itu ada tidak mempunyai peranan. Yang terpenting dalam bahasa adalah aturan-aturan yang mengkonstitusinya. Gadamer mengatakan bahwa bahasa itu bukanlah bentuk melainkan yang dikatakan itulah yang merupakan pokok masalah.

Bahasa lebih daripada suatu sistem tanda-tanda saja. Pandangan ini bertitik tolak dari adanya kata-kata yang memandang objek-objek sebagai suatu yang kita kenal lewat sumber lain. Antara kata dan benda terdapat kesatuan yang begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan melekat pada benda. Demikian bahasa bagi pemikiran Gadamer membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.[10]

Bahasa sebagai alat yang tumbuh dengan menghasilkan perkembangan pemikiran sehingga pengaruhnya memiliki struktur dan pemikiran yang jelas. Menurut Gadamer banyak problem tentang bahasa tidak terpecahkan. Bagi Gadamer bahasa adalah alat komunikasi dalam pergaulan manusia. Tetapi hal itu bukanlah makna tedalam dari bahasa itu sendiri. Bila bahasa dipandang sebagai alat saja, berarti suatu saat bahasa dapat ditinggalkan atau dibuang apabila tidak diperlukan. Namun tidak demikian halnya. Pengalaman kita tidak mulai tanpa kata-kata. Antara kedua hal ini memiliki kaitan yang erat. Gadamer menekankan bahwa pemikiran dan pengalaman bersifat kebahasaan. Oleh karena itu, Gadamer menyebut bahasa sebagai perantara bukan alat, tanda, dan bukan bentuk.

Dari uraian di atas, Gadamer mau menekankan bahwa bahasa merupakan realitas yang tidak terpisakan dari pengalaman, pemahaman, dan pemikiran manusia sendiri. Dengan demikian bahasa adalah perantara pengalaman nyata. Sehingga konsekuensi positifnya bahwa bahasa merupakan bagian dari filsafat yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan tanda tanya.

Namun dalam sesi ini kiranya perlu menyampaikan kritik negatif dari Habermus. Ada satu hal yang kurang disetujui oleh Habermus atas pandangan Gadamer, yakni yang berkaitan dengan pokok yang membicarakan bahasa bukan tanda. Bahasa menurut Gadamer adalah milik realitas. Realitas sendiri yang mengatakan, membahasa, dan mengungkapkan diri terhadap manusia. Bila bahasa dipandang sebagai tanda, maka sesuai dengan hakekatnya fungsi kata diterapkan pada suatu hal. Dengan demikian bahasa adalah alat subjek semata yang terpisah dari realitas. Konsekuensinya adalah bahwa kata berasal dari manusia, tidak lagi dari realitas dan kata berada di bawah kuasa manusia.

Kritik lain yang dikemukakan oleh Habermus adalah mengenai penilaian atas otoritas dan tradisi. Beliau mengatakan bahwa otoritas hanya sama dengan menindas realitas (kebenaran).[11]

Relevansi

Kita memahami bahasa sebagai alat komunikasi atau suatu sistem tanda atau lambang bunyi. Pengertian ini tidak sejalan dengan pemikiran Gadamer mengenai bahasa. Ia melihat bahasa dari dua sisi yakni: bahasa sebagai perantara pengalaman Hermeneutika dan bahasa bukan sekedar tanda, bentuk,dan alat.

Bagi Gadamer bahasa dan pemikiran adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tetapi bahasa tidak terutama mengungkapkan pemikiran, melainkan bahasa adalah objek itu sendiri. Dalam arti ini dapat dikatakan bahwa obejek yang kita lihat menyatakan dirinya kepada kita secara penuh. Maka tejadi komunikasi antara kita dengan objek yang tampak.

Pemikiran Gadamer mengenai bahasa ini sangat actual untuk digunakan pada  zaman ini. Kita sekarang hanya mengerti bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi dan untuk mengungkapkan pikiran. Jkita tidak pernah tahu bahwa bahasa adalah suatu relitasa yang tidak terpisahkan dari pengalaman, pemahaman, maupun pemikiran manusia. Dengan kata lain realitas sendirilah yang mengungkapkan diri dalam kata-kata.

Bahasa sebagai pegalaman Hermeneutika. Dalam hal ini, Gadamer menunjukkan bahwa bahasa merupakan perantara interpretasi kita atas pengalaman. Maka sebenarnya sadar atau tidak sekarang ini kita telah menerapkan fungsi bahasa sebagai pengalaman Hermeneutika dalam hidup harian kita. karena pengalaman yang kita peroleh kita mengertoi sebagai pengalaman. Dan untuk mengerti pengalaman itu kita harus menggunakan bahasa, sebab tidak mungkin kita dapat mengerti sesuatu tanpa bahasa. Bahasa di sini berfungsi sebagai perantara antara kita dengan objek yang akan kita pahami.

Di sisi lain Gadamer melihat bahwa bahasa bukan tanda, bentuk, dan alat. Jika bahasa hanya dipandang sebagai tanda, maka bahasa itu hanya sebagai alat subjek yang tepisah dari realitas. Padahal seharusnya bahasa bukan berasal dari objek tetapi dari objek. Jika bahasa berasal dari subjek maka kita tidak dapat sungguh-sungguh mengerti apa yang kita alami. Tetapi bahasa yang berasal dari objek menunjukkan bahwa objek itu sendirilah yang menyatakan dirinya kepad akita secara penuh dan kita mengerti tentang objek itu dengan bahasa.

Sebagaimana pandangan Gadamer bahwa bahasa merupakan reaitas demikian pula halnya yang terjadi dalam kehidupan kita. kita seringkali tidak menyadari bahwa apa yang kita katakana sebenarnya bukan berasal dari diri kita melainkan dari realitas yang kita alami. Karena jika kita melihat sesuatu  dan kita mengatakan tentang sesuatu itu, maka konsep yang kita katakan itu bukan datang dari apa yang kita pikirkan tentaang sesuatu itu, melainkan datang dari sesuatu yang kita lihat. Jadi objek yang mengatakan tentang dirinya kepada kita dan kita mengungkapkannya dengan bahasa kita. maka bahasa adalah realitas dan milik realitas itu sendiri, dan bagi kita bahasa adalah perantara pengalaman nyata supaya kita dapat memahami apa yang kita alami.

  

DAFTAR PUSTAKA

   Bretens, K,  Filsafat Barat Abad XX,  Jakarta: 1983

   Erwin, F. X, “Hermeneutik Filosofis Menurut Hans-Gorg Gadamer.” (Skripsi Sarjana 

                        Filsafat Agama Katolik UNIKA St. Thomas, Pematangsiantar:1993, tanpa

                        tanpa terbit)      

   Hardiman F., Budi, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Yogyakarta: 2003.

   Poesprodjo, P., L. Ph., Interpretasi, Bandung: 1987


[1] Fransiskus Xaverius Erwin, Hermeneutik Filosofis menurut Hans-Georg Gadamer. (Pematangsiantar: 1993), hlm. IV

[2] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX. (Jakarta: 1983), hlm. 223

[3] Serpulus Simamora,Hermeneutika: Persoalan Filosofis – Biblis Penggalian Makna Tekstual. dalam Logos vol. 4 no. 2. Juni 2005/2006. (Pematangsiantar: 2006), hlm. 84

[4] Fransiskus Xaverius Erwin, “Hermeneutik…….., 69

[5] E. Sumaryono, Hermeneutik. (Yogyakarta: 1984), hlm. 74

[6] EYD ( buku terbitan Departemen Pendidikkan)

[7] Lorens Bagus, “Bahasa” dalam Kamus Filsafat. (Jakarta: 2000), hlm. 720

[8] F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas. (Yogyakarta: 2003), hlm. 111-113

[9] P. Peosprodjo, L.Ph., Interpretasi. (Bandung: 1987), hlm. 110-114

[10] K. Bertens, Filsafat………, 231-232

[11] K. Bertens, Filsafat………., 233