Judul                : BUKAN PASAR MALAM (novel 1)

Penulis              : Pramoedya Ananta Toer

Tahun               : 1959

Penerbit            : Balai Pustaka Jakarta

Tebal                : 108 halaman

  

a. Pengantar

             Lihatlah, hari berganti            Namun tiada sindah dulu            …..untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi….. 

            Kita semua pasti hafal syair lagu ‘Ayah’ di atas. Lagu ini mau menggambarkan seorang ayah tercinta yang senantiasa dirindukan oleh anak-anaknya. Waktu berubah (Tempora mutantur et nos mutamur in illis), semua berubah, ‘tiada seindah dulu lagi’.

            Lagu ini sangat tepat dialamatkan pada tokoh ayah dan Gus, sebagai pemeran utama dalam novel-nya Pram ini. Kecintaan sang “ayah” kepada negara (rasa patriotisme dan nasionalisme) menjadi teladan bagi anak-anaknya. Untuk itulah dia begitu ‘tercinta’.

Dalam novel ini diceritakan tentang seorang bapak yang sakit keras dan meminta anaknya di perantauan supaya pulang. Suasana masyarakat yang dilukiskan adalah situasi pasca kemerdekaan tahun 1949; baru tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno – Hatta. Warna kehidupan yang masih baru merdeka begitu terasa dalam novel ini. Novelis Pramoedya Ananta Toer sesekali menggunakan alur mundur untuk menceritakan getirnya perjuangan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah; menjadi tawanan perang, kehilangan harta benda, kehilangan orang-orang yang dicintai (seperti ayah, ibu, kakek, nenek, adik), penyakit yang datang setelah peperangan – sebagaimana dialami oleh bapak dan anak sulungnya sebagai tokoh utama dalam novel ini. serentak dengan itu, dengan piawainya Pram melukiskan bagaimana cinta dan pengorbanan seorang bapak terhadap anak-anaknya dan cinta anak-anak terhadap bapaknya. Ini saja sebenarnya inti sari dari novel ini.

  

b. Isi dan refleksi

            Gus, demikian nama panggilan anak sulung seorang bapak yang sedang sakit keras itu, sedang berada di perantauan (kota Jakarta) ketika datang surat yang memberitahukan bahwa ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Ia diminta untuk segera pulang ke kampung halamannya (Blora) karena ayahnya sakit keras. Gus bekerja di Percetakan Balai Pustaka. Keadaan ekonominya tidak ‘terlalu baik’ untuk tidak mengatakan miskin. Mendengar ayahnya sakit keras dan disuruh pulang, maka satu hal yang langsung diingatnya adalah perihal uang. Terpaksa ia mengedari kota Jakarta, untuk mencari dan meminjam uang dari teman-temannya. Untunglah uang itu segera diperolehnya.

            Dalam perjalanan Jakarta – Blora bersama isterinya, Gus teringat banyak peristiwa selama masa penjajahan dulu (masa mudanya) tatakala melewati tempat-tempat tertentu. Misalnya di Tjakung ia ingat akan kapal tjapung Belanda melempari petani dengan granat-tangan. Adakalanya juga tjapung itu mendarat di lapangan tandus dan mencuri kambing penduduk. Di Krandji, Tambun, Tjikarang ia teringat akan rangkaian pertahanan sebelum aksi militer pertama. Di Lemah Abang, dengan tak terduga Belanda menghujani pertahanan pasukan Indonesia dari tiga penjuru dengan delapan atau sepuluh pujuk howitser. Dan sambil mengenang peristiwa-peristiwa itu, kereta api yang mereka tumpangi sudah tiba di stasiun Blora. Dari stasiun Blora mereka menuju rumah dengan dokar.

            Adik-adik Gus menyambut kedatangan mereka kala tiba di depan rumah. Gus adalah anak sulung dalam keluarganya. Dulu ketika mau merantau, ia masih berstatus ‘single.’  Berbeda sekarang dimana ia sudah punya isteri. Dan ‘status’-nya yang baru ini membuat adik-adiknya agak segan, tidak sebebas dulu lagi. Meski demikian, kerinduan adik-adiknya pastilah terobati. Adik-adiknya yang rindu itupun terus menemani abang mereka, mengobrol tentang banyak hal: tentang Jakarta, Semarang, mobil, dan banyak lagi. Mengobrol memang pekerjaan yang tidak pernah membosankan, menyenangkan, dan selalu menyisakan kebahagiaan tertentu. Ayah yang mau dijumpainya itu masih dirawat di rumah sakit. Ayah yang sangat dicintai karena teladan hidupnya.

            Rumah sakit terletak kira-kira 2 km dari rumah Gus. Dengan dokar mereka menuju ke sana; dokar adalah satu-satunya alat transportasi yang biasa kala itu. di kamar 13 ayahnya terbarng lemah tak berdaya di tempat tidurnya. Badan yang dahulu tegap itu tak ubahnya sebilah papan saja. Bak sebilah papan yang tertarik-tarik karena badai batuk yang tak henti-hentinya menyerang. Suara yang lantang dan selamanya mematahkan pendebat di tiap permusyawaratan itu kini tak punya tenaga lagi. Mata yang selalu menundukkan kepala orang itu kini tak bercahaya lagi. Begitulah, yang kni dia saksikan pada ayahnya tersisa hanya penyakit, batuk, darah, dan keluhan tertahan.

            Gus menangis menyaksikan penderitaan ayahnya. Ia tidak menyangka sudah sedemikian buruk kesehatan ayahnya. Di rumah, adiknya yang keempat bercerita tentang bagaimana kisah ayahnya hingga mengalami penderitaan sesemikian hebat. Awalnya, ayahnya ditangkap oleh Pasukan Merah. Lalu ia dipenjarakan di Blora, digiring jalan kaki ke Rembang, ke Siliwangi. Di Siliwangi ia dibebaskan. Ketika pulang dari sana badan ayah mereka sudah begitu kurus. Itu belum seberapa. Tak lama kemudian Belanda menyerang daerah Blora. Ayahnya melarikan diri bersama beberapa gerilyawan  lainnya. Namun, akhirnya ia tertangkap juga oleh Belanda di Ngawen. Tak lama, ayahnya dibebaskan oleh Belanda. Namun keadaannya semakin parah, lebih tua dari seharusnya, memakai tongkat, dan rambutnya menjadi putih. Oleh Belanda, ia diangkat menjadi pengawas sekolah.

            Sebenarnya ayah mereka, pejuang itu, pernah juga mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Namun ia menolak tawaran itu, meski dari sisi ekonomi dan jabatan sangat menguntungkan. Ayah mereka mengatakan bahwa perwakilan rakyat itu hanya panggung sandiwara. Dia tidak suka jadi badut meski badut besar sekalipun. Juga, ia pernah mendapat tawaran menjadi koordinator pengajaran untuk seluruh daerah Pati. Namun, kesempatan itu ditolaknya karena menurutnya ia tidak dipanggil bekerja di kantor. Tempatnya hanya di sekolah. Guru-guru di tanah air ini menjadi pelita bagi anak-anak bangsa, demikian menurutnya.

            Namun sang ayah terlalu banyak bekerja untuk republik, ia terlalu banyak berjuang untuk hidupnya republik. Dan ketika kemerdekaan republik ini dimaklumkan, ayah mereka jatuh sakit. Tiga bulan dirawat di rumah sakit tetapi ia tetap banyak berpikir dan bekerja. Akhirnya terasa juga olehnya bahwa kesehatannya semakin menurun dan tak mengijinkan lagi. Satu demi satu jabatannya  dalam pergerakan politik dan sosial dilepaskan. Meski demikian, kesehatannya yang dulu itu tidak kembali lagi. Ia jatuh sakit lagi hingga pada keadaannya yang sekarang.

            Semua pengakuan adiknya ini membuat Gus terharu tetapi bangga juga. Bangga karena pengurbanan ayahnya yang tidak kenal pamrih itu. Pengakuan adiknya ini diteguhkan lagi oleh ayahnya sendiri. Menjelang detik-detik ‘kepergiannya’ ayahnya berujar tegas: “Aku tak mau jadi ulama. Aku mau jadi nasionalis.” Gus dan adik-adinya terharu mendengar pengakuan ayah mereka ini. Ayahnya melanjutkan lagi bahwa untuk itulah ia rela menjadi guru. Beliau mau menumbuhkan hati anak-anak bangsa ini terlebih anak-anaknya sendiri untuk pergi ke taman patriotisme. Memang beratlah panggilan menjadi nasionalis. Tetapi itu bukan beban melainkan kebanggaan. Ia rela menjadi nasionalis dengan menjadi guru serentak juga rela menjadi kurban atas apa yang telah dilaluinya.

            Tak lama setelah pengakuannya, sang nasionalis pejuang itupun menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal sebgai seorang pejuang. Ia mewariskan kemerdekaan bagi bangsanya, mewariskan nilai-nilai luhur bagi anak-anaknya dan bagi setiap orang yang pernah bergaul dengannya.

            Banyak pelayat yang datang. Mereka ingin menyaksikan wajah pejuang itu untuk terakhir kalinya. Beragam percakapan yang memuji kegigihan perjuangannya membahana di sana sini. Mereka mengenang hidup pejuang yang berani itu, yang kini tergeletak tak bernyawa itu. Menutup novel ini, seorang pelayat Tionghoa (rekan pejuang itu) berujar mengapa dunia ini tidak seperti pasar malam saja. Yah…. seperti pasar malam, di mana orang-orang beramai-ramai lahir lalu beramai-ramai mati. Mengapa manusia harus lahir dan mati seorang diri saja? Mengapa manusia harus tercerai berai dalam maut seperti dialami mendiang yang telah menghadap Tuhannya itu? Namun, kita semua tahu, semua orang dipanggil oleh Tuhan untuk menyelamatkan dan membangun dunia dengan cara masing-masing. Dan di dunia ini, manusia bukannya datang berduyun-duyun, bukannya lahir serentak beramai-ramai dan berduyun-duyun pula kembali pada Yang Kuasa. Bukan! Manusia datang seorang demi seorang. Selanjutnya, seorang demi seorang mereka ‘pergi.’ Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawa terbang entah kemana………………………………

          

Judul                : PERBURUAN (novel 2)

Penulis              : Pramoedya Ananta Toer

Tahun               : 1959

Penerbit            : Balai Pustaka Jakarta

Tebal                : 216 halaman

  

a. Pengantar

           

Novel ini berkisah tentang  seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Rentang waktu cerita berkisar pada penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia (saat Jepang menyerah pada sekutu). Sang pejuang ini rela meninggalkan orang tuanya, tunangannya, harta, dan kesenangan-kesenangannya demi satu tekad: merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Kalau disimak dengan teliti, cerita dalam novel inipun berciri nasionalistis. Semangat nasionalisme dan patriotisme selalu menginspirasi Pram dan karya-karyanya. Langsung saja kita simak sinopsis cerita berikut.

  

b. Isi

            Adalah Hardo, demikian nama tokoh utama dalam novel ini, menjadi buronan Nippon yang berbahaya. Hardo sebelumnya adalah anggota PETA dengan pangkat shodanco, organisasi bentukan Jepang. Namun, ia dan rekan-rekan lain begitu mencintai negeri ini sehingga keluar dari perkumpulan itu. Mereka dituduh pengkhianat Nippon dan menjadi buronan berbahaya. Berbagai cara mereka lakukan agar lepas dari intaian pasukan Nippon. Salah satunya dengan menjadi kere. Yah…kere yang malang dan tak diperhitungkan dalam masyarakat.

            Sebelum menjadi buronan Hardo telah bertunangan dengan Ningsih, putri Lurah Kaliwangan. Untuk itulah, dia menyamar sebagai kere ketika datang mengemis bersama kere-kere lain ke rumah lurah itu. Di rumah lurah itu sedang dilangsungkan pesta sunatan. Adik Ningsih yang baru berumur 12 tahun itu disunat. ‘Koor’ para kere berkumandang meminta sedekah kepada yang empunya rumah. Atas permintaan anaknya yang baru disunat, ibu rumah rela membagi-bagikan penganan kepada sederetan tangan yang mengiba memohon. Namun ada seorang kere yang tidak mau menerima sedekah. Ia tidak juga pergi meski semua kere lain telah pergi. Di tengah keheranan, anak ibu yang baru disunat itu tiba-tiba berseru bahwa kere itu seperti Den Hardo yang dikenalnya. Memang, dia adalah Hardo. Ibu rumah sangat terkejut karena seorang Hardo bukanlah orang asing baginya. Hardo itu tunangan putrinya Ningsih dan kini ia buronan Nippon. Belum sirna keheranannya, si kere buru-buru meninggalkan tempat itu.

            Hardo berjalan lesu karena tidak berhasil berjumpa dengan Ningsih. Tak dinyana, lurah Kaliwangan calon mertuanya itu tiba-tiba ada di tempat itu. Malam semakin gelap. Hardo duduk tak jauh dari tempat lurah itu. ia mendengarkan keluhan-keluhannya. Ternyata, kedatangan pak lurah tak lain tak bukan ingin berjumpa dengan Hardo. Atas permintaan anaknya (sebagai hadiah sunatan) ia mau membujuk kere itu pulang. Anaknya rindu pada kere itu, meski kini ia tidak suka lagi dengan kere malang itu.

Dalam kegelapan, Hardo mendekati orang tua itu. Mereka sebenarnya tidak bisa saling melihat karena pekatnya malam, mereka hanya dapat bersentuhan. Lurah mengenal Hardo lewat sentuhan. Ia kenal benar ciri khas Hardo yakni tangan kanannya yang terkena bayonet Nippon. Lurah itu berusaha keras membujuk Hardo supaya mau pulang. Ia mengatakan bahwa orang-orang di kampung begitu merindukan kehadirannnya terutama Ningsih, adik Ningsih, dan isterinya. Ia lalu menawarkan rokok dan uang. Memberitahu Hardo bahwa ibunya telah meninggal. Tetapi tidak berhasil karena jauh sebelumnya Hardo telah mengetahui tipu dan muslihat lurah itu, lurah itu seorang pengkhianat dan mata-mata Nippon. “Bapak pergi saja pulang. Saya tidak mau ikut. Saya mau ke bintang,” itu saja jawaban yang diperoleh oleh lurah itu. Jawaban Hardo ini sangat membingungkan bagi lurah tersebut. Karena tidak tahan lagi, akhirnya lurah itu memilih pulang sendiri. Kebetulan, gerobak yang menuju ke kampungnya sudah datang.

            Bersamaan dengan kepergian lurah itu, Hardo buru-buru membelok ke kanan meninggalkan tempat itu menuju timur laut. Ia mencium bahaya yang akan datang jika ia tetap berada di situ. Dalam gelapnya malam ia melompat dengan sigapnya. Ia lari menuju kebun jagung milik ayahnya. Namun, barusan ia tiba di gubuk yang ada di tengah kebun itu, ayahnya datang. Ayahnya bekas wedana Karangjati baru pulang bermain judi. Mereka bertemu dalam kegelapan. Kere itu tahu benar bahwa orang tua itu adalah ayahnya sendiri namun si ayah itu hanya tahu bahwa temannya sekarang adalah seorang pengembara. Demikian diperkenalkan oleh Hardo. Ia tidak mau menyusahkan ayahnya. Ia tidak mau juga ayahnya menghalanginya dalam merebut kemerdekaan. Cukuplah pertemuan malam itu melepas rindunya kepada ayah. Tetapi seorang bapak pasti mengenal anaknya sampai pada hal terkeceil pun. Ia sudah hampir berhasil ‘menemukan’ anaknya lewat suara yang didengarnya. Suaramu seperti suara anakku katanya. Dia tidak kehabisan akal dalam membenarkan dugaannya, bahwa yang ada didepannya sekarang adalah anaknya sendiri. Ia mengatakan bahkan sudah pernah ke gua Sampur di Plantungan. Gua itu tergolong angker sehingga jarang dimasuki orang. Dan di gua angker itu kata orang anaknya bersembunyi. Karena cintanya dia memasuki juga gua angker itu, meski tidak menemukan apa-apa di sana. Tetapi apa boleh buat Hardo rupanya sudah terlatih dengan kamuflase yang mampu meyakinkan setiap orang. Ia memanfaatkan kegelapan malam dan kepikunan orang tua itu. Akhirnya, Hardo ‘menang.’ Walau demikian banyak juga informasi penting yang diperolehnya dari ayahnya: ibunya sudah meninggal dunia, ayahnya sudah dipecat dari kedudukannya sebagai wedana Karangjati dan sekarang kebiasaan buruknya jadi penjudi.

            Lama mereka berbicara tentang banyak hal. Akhirnya Hardo letih juga. Ia minta diri untuk tidur. Sementara tidur, ayahnya pergi keluar membakar jagung. Tiba-tiba, degup kaki sekelompok orang makin mendekat. Ternyata mereka adalah pasukan Nippon yang sedang mencari dan ingin menangkap Hardo. Meski sudah menghalangi dengan sekuat cara, pasukan Nippon itu berhasil juga merangsek masuk ke dalam gubuk tua tempat Hardo tidur. Namun mereka lagi-lagi tidak menemukan siapa-siapa. Insting tajam Hardo telah lebih dahulu mengingatkannya akan bahaya penggrebekan itu. Insting yang selalu  membuat ia semakin berbahaya bagi musuh. Ia berhasil kabur. Kabur….dan kabur terus. Ia beranjak ke kolong jembatan kaki Lusi di timur stasiun Blora. Di kolong gelap itu ia tidur dengan kere lainnya. Di sana ia bertemu dengan rekannya, Dipo dan Kartiman. Sebagaimana Hardo, Dipo juga adalah mantan shodanco dan Kartiman itu anak buah mereka. Mereka sebagian dari sisa-sisa pencinta negeri ini yang masih tetap setia. Hardo, Dipo, dan Karmin adalah mantan shodanco PETA. Ketiganya pernah berjanji akan menuju ke bintang (kata lain dari memperjuangkan kebebasan). Namun seorang dari mereka, Karmin, berkhianat. Itulah yang membuat Dipo kesal dan berjanji akan membunuhnya. Tetapi Hardo tidak segampang itu menuduh sembarangan. Ia berpandangan lain. Karmin berhianat karena tunangannya direbut orang lain. Jadi penghianatannya melulu pelampiasan kekecewaan. Ia yakin suatu hari Karmin akan bertobat. Dan lagi bagaimanapun mereka toh membutuhkan  juga tenaga, pengaruh, kecakapan, dan pasukan Karmin. Hardo memang lebih tenang dari Dipo. Kartiman yang sejak tadi tidur tidak lama kemudian bangun. Ternyata ia membawa “kabar raksasa.” Kabar yang mereka nanti-nantikan, kabar yang mendukung perjuangan mereka saat ini. “Jepang sudah menyerah pada sekutu,” itulah intinya. Berita itu diperolehnya dari kakaknya yang bekeja di kantor pos. Melalui tilgram dari Jakarta diberitahuakan bahwa Jepang telah menyerah Orang Indonesia mulai bergerak dan melakuan perebutan kekuasaan. Mendengar berita ini, mereka bertiga mengatur siasat. Mereka sadar di daerah mereka Nippon masih kuat. Lantas mereka bersembunyi di antara ilalang luas yang berjejer bergoyang ke sana kemari.

            Dugaan mereka memang benar. Nippon dan rombongannya segera menyisir tempat itu. Ikut bersama mereka Shodanco Karmin, Lurah Kaliwangan, Wedana Karangjati. Sidokan Jepang dan yang lainnnya begitu kecewa karena “kere-kere” yang mereka cari tidak ada di tempat. Karmin menuduh lurah Kaliwangan sebagai biang semuanya. Opsir Jepang memaksa lurah itu mengaku siapa teman terdekat Hardo. “Ayahnya,”jawab lurah itu. Tetapi jawaban ini tidak terlalu memuaskan karena ayah Hardo sudah ditangkap namun Hardo belum ditemukan. Dengan berat dan takut ia terpaksa mengakui putrinya sendiri, Ningsih. Ia menunjuk rumah Ningsih di sebelah barat laut agak ke atas. Jepang itu lalu menugaskan shodanco Karmin untuk memeriksa Ningsih di tempatnya.

            Ningsih dan Karmin sudah lama berkenalan. Dulu Karmin juga menyukai Ningsih, tetapi ditolak karena Hardo sudah sudah lebih dahulu dan Ningsih sangat menanti tunangannya itu. Di hadapan Ningsih, Karmin mengaku menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Ia takut karena telah menjadi pengkhianat bangsa. Kini dia ingin bertobat. Dia mau menebus kesahalannya dengan menyelamatkan Ningsih dari penangkapan Nippon. Ia memberitahu bahwa ayah Ningsih adalah penyebab semua ini. Ayahnya memberitahu keberadaan Hardo ketika bercakap-cakap di jalan, sehingga tentara Jepang melakukan pengeroyokan ke sana. Tetapi Hardo tidak juga ditemukan. Ia juga yang memberitahu Jepang bahwa Ningsih putrinya adalah tunangan Hardo. Untuk itu, Karmin datang sekarang. Tetapi Karmin benar-benar mau kembai ke ‘jalan benar.’ Terlebih dahulu ia mau menyelamatkan Ningsih lalu nanti kembali pada Hardo dan teman-teman lain. Dan usahanya berhasil. Ketika rombongan lurah dan Jepang datang, ia berhasil meyakinkan Jepang  itu bahwa Ningsih tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Hardo sekarang.

            Belum tuntas drama penyisiran Jepang ini, tiba-tiba Ningsih dan Karmin dikejutkan oleh peristiwa yang tidak mereka duga. Peristiwa yang membuat mereka sedih tetapi menggembirakan bagi lurah dan opsir-opsir Jepang. Peristiwa apa itu? ‘Hardo, Dipo dan Kartiman telah berhasil ditangkap oleh keibodan Jepang.’ Opsir Jepang dan para pendukungnya bukan main girangnya. Mereka sangata gembira karena mangsa telah ditemukan. Dalam keadaan terjepit itu Hardo menyempatkan melirik Ningsih dan juga Karmin yang berdiri di belakang Jepang itu. Sementara konfrontasi yang menegangkan itu, terdengar suara orang-orang dari truk yang berseru dengan pengeras suara bahwa Indonesia sudah merdeka. Jepang sudah kalah dan menyerah pada sekutu tanpa syarat. Soekarno dan Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan. Mereka memerintahkan agar Hinomaru yang masih berkibar agar diganti dengan bendera Indonesia. Jepang itu pucat pasi. Tembakan parabellum-nya terpaksa diarahkan pada massa di depannya secara membabi buta. Sebentar kemudian tembakan senjata otomatis itu berhenti. Hardo dan teman-temannya berhasil melumpuhkan anak-anak Jepang itu dan kini menguasai keadaan. Dipo yang berdarah panas membunuh Jepang yang tadi menginterogasi mereka dengan samurai milik Jepang itu sendiri. Kini gilirang Karmin. Dipo sangat membencinya. Bak gayung bersambut massa yang berkerumun di sekitar menyorakinya untuk membunuh Karmin. Mereka menuduh Karmin sebagai pengkhianat bangsa. Terhuyung-huyung Hardo berhasil membatalkan samurai Dipo yang mengarah pada tengkuk Karmin yang tunduk dengan ksatrianya. Wibawa Hardo memadamkan nyala api benci, baik pada Dipo maupun massa itu. Tetapi satu hal terlupakan, Ningsih. Ternyata peluru parabellum Jepang telah menembus dadanya. Hanya kata-kata ini yang tersisa dari mulutnya “Jangan ganggu aku. Biar aku mati tenang…..dengan kenangan indah……..”  

c. Refleksi

            Pada akhir bulan Februari lalu diadakan Festival Kreasi Anak Muda bertema “Indonesia dalam Bumi Manusia”. (lihat KOMPAS, Senin, 04 Juni 2007 hal. 37). Festival ini diselenggarakan untuk menghormati Pram oleh FIB UI dan Jaringan Kerja Budaya (JKB) bertempat di Fakultas Ilmu Budaya (FIB UI), Depok. Sebuah kalimat kecil “Pram tahu kita bukan kacangan……” tertulis di pojok kanan sebuah alas dari karton.

            Membaca artikel ini, saya teringat akan novel karangan Pram yang sudah kubaca ini. Memang rasa nasionalisme Pram membuat ia selalu kontroversial terhadap ‘kemapanan semu’ di negara ini. Dia selalu punya pemikiran yang berbeda (dalam arti positif) dari orang lain.

            Dalam novel ‘Perburuan’ ini pun saya merasakan aroma nasionalisme itu. kisah Hardo sebagai tokoh utama sedapat mungkin mau dilukiskannya sebagai pejuang yang mencintai negerinya. Dengan kata lain ia mau menunjukkan bahwa anak-anak bangsa ini tidak kalah hebat dari bari bangsa lain, kita bukan ‘kacangan’ – kita bisa ke bintang (kebebasan/merdeka). Bagaimanapun, perjuangan atas dasar nasionalisme mutlak perlu (conditio sine qua non) dalam membangun sebuah bangsa. Rasa itu yang perlu ada untuk selanjutnya melangkah labih jauh. Selain itu, bekerja sama sebagai ‘partner’, bahwa bahu-membahu dalam kebersamaan, juga hal yang tidak boleh dilupakan. Hal ini tampak dari relasi Hardo, Dipo, dan Kartiman. Meski berbeda (karakter) mereka tetap bersatu. Dipo dilukiskan dalam novel ini sebagai orang yang berkarakter keras, ceplas-ceplos, dan lebih menonjolkan rasio. Berkali-kali ia memaksa Hardo untuk membuang sentimen, termasuk meninggalkan wanita yang membuat Hardo jadi susah. Manusia sejati harus berani bertindak tanpa sentimen. Kadang ada benarnya juga tetapi tidak mutlak demikian. Bahwa percintaan mengambil bagian penting dalam hidup manusia, adalah fakta yang tidak dapat disangkal kebenarannya. Begitulah, pendapat mereka sering berseberangan, tetapi tidak memadamakan semangat persahabatan mereka. Mereka tetap satu dalam cita-cita yang luhur.

PENUTUP

            Persoalan bangsa selalu menjadi perhatian Pram dan karya-karyanya, termasuk dalam dua novel yang telah kubaca. Hal itu sekaligus menjadi semangat dan inspirasi bagiku memilih novel ini. Sosok Pram yang selalu menggugat dan memberontak pada kemapanan membuat karya-karyanya diminati oleh mereka yang mencintai rasa nasionalisme. Itulah Pram! Karya-karyanya diakui dunia internasional – nampak dari penghargaan-penghargaan yang diterimanya – namun ditolak di negerinya sendiri. Ia dipenjara selama belasan tahun tanpa prosedur hukum. Yah karena itu tadi, karya-karyanya yang memberontak dianggap berbahaya.         

Dua novel Pram yang telah kubaca ini mampu membangkitkan rasa nasionalisme dalam diriku pribadi. Tentu demikian dengan karya-karyanya yang lain. Untuk itu kita sebagai bangsa layak berterimakasih kepada sasterawan besar ini, Pramoedya Ananta Toer. Maka untuk kali ini, hanya itulah yang dapat saya sampaikan. Tidak bisa semua. Terima kasih.