Arsip untuk November, 2008

merenung itu indah


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Franklin Gothic Medium”; panose-1:2 11 6 3 2 1 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Kristen ITC”; mso-font-alt:”Bradley Hand ITC”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; mso-bidi-font-weight:normal;} h2 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:14.0pt; font-family:Arial; font-style:italic;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:6.0pt; margin-left:14.15pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:348020943; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1762714186 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:10.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:28.8pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l1 {mso-list-id:1422725190; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1840072222;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

YESUS, SANG TERANG

Yes 8,23b-9,3; 1 Kor 1,10-17; Mt 4,12-23 / MB3-A

Pada tahun-tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat mengalami pemadaman listrik. Masyarakat telah menjadi korban pemadaman listrik secara bergiliran. Ada dua hal penting dapat kita petik dari peristiwa pemadaman listrik ini. Pertama, kita mengalami hambatan untuk memakai barang-barang elektronik. Kedua, pada saat pemadaman listrik itu, kita baru sadar betapa kita sangat membutuhkan terang untuk mengalahkan kegelapan. Selama listrik tidak padam, mungkin kita tidak akan begitu mengambil makna akan kebutuhan listrik itu dan terang tersebut. Dengan kata lain ada pemaknaan lain akan terang tersebut. Terang sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita ini.

Bacaan-bacaan pada hari ini memperdengarkan kepada kita tentang Yesus sebagai terang. Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah mengenai tanah Zebulon dan Naftali yang jatuh ke tangan raja Assyur. Sebagian penduduk kota dibuang ke Assyur. Pembuangan ini dipandang sebagai kesalahan kolektif. Mereka telah melanggar perjanjian mereka dengan Yahwe. Nabi Yesaya tampil dan menubuatkan kebebasan dan kelepasan. Kebebasan dari perbudakan itu diibaratkan bagaikan bangsa yang berjalan dalam kegelapan kini melihat terang yang besar. Kebebasan itu membawa sukacita dan sorak-sorai. Sebab kuk yang menekan, gandar yang di atas bahu dan tongkat si penindas dipatahkan. Orang yang tertindas mengalami pembebasan. Mereka menemukan terang kembali.

Bacaan II pada hari ini menyebutkan bahwa terjadi perpecahan di antara umat Korintus. Paulus meminta kepada mereka agar segera rukun kembali dengan menyampingkan perselisihan mereka. Orang-orang Kristen di sana membentuk kelompok-kelompok, dengan mengandalkan nama rasul Paulus, Apollos, Petrus dalam Gereja Perdana. Paulus bertanya secara ironis bagaimana orang-orang Kristen yang satu dalam Kristus menjadi terpecah. Kristus mati untuk kita semua. Kita semua dibaptis dalam nama-Nya. Dalam Kristus, semua bangsa dipersatukan

Injil hari ini menceritakan kisah Yesus yang menyingkir ke Galilea dan memanggil para murid. Yesus meninggalkan Nazaret dan menetap di Kafernaum. Awal karya Yesus di Galilea dilihat oleh Mateus sebagai penggenapan nubuat nabi Yesaya. Galilea, daerah yang dipandang rendah oleh orang-orang Yerusalem pada masa Yesus, justru yang pertama menyaksikan peristiwa yang paling besar dalam kehidupan Yesus di hadapan umum. Demikian Galilea, wilayah bangsa-bangsa kafir, bangsa yang hidup dalam kegelapan telah melihat Terang, yakni Yesus.

Yesus sebagai Terang mewartakan pertobatan, “Bertobatlah, sebab kerajaan surga sudah dekat”. Panggilan murid-murid pertama dalam Injil pada hari ini merupakan tanda pertobatan. Sebelum perjumpaan dengan Guru dari Nazaret, dalam diri mereka tentunya telah berlangsung suatu proses iman lewat pendengaran, pergaulan, dan pengalaman. Mereka terbuka dan peka terhadap panggilan Yesus. Maka, begitu Yesus menyapa dan memanggil, merekapun segera mengikutinya. Para murid tidak ragu-ragu, tidak tanggung-tanggung, tidak plin-plan, melainkan dengan tampak radikal mengikuti-Nya.

Kita menjadi Kristen harus secara total dan tidak tanggung-tanggung. Demikianlah pada hakikatnya baik panggilan Kristus maupun jawaban kita terhadap panggilan-Nya lewat proses yang pelan-pelan. Berkembang atau tidaknya tergantung dari sikap kita yang konsekuen. Ini meminta pengurbanan. Dan di sinilah arti dari penghayatan iman. Iman itu benar-benar menjadi nyata dalam menghadapi hidup kongkrit dengan segala pilihan dan kemungkinan. Sikap Petrus dan murid-murid lain hendaknya menjadi sikap kita juga. Kita berani menanggapi panggilan-Nya dalam hidup kita. Aku mau menjadi pengikut Kristus berarti berani menjadi terang dan berani berkurban. Kita menjadi terang berarti menghadirkan perdamaian yang tulus, persaudaraan yang sejati dan memberi diri tanpa berharap akan balas budi. Beranikah kita menjadi terang di depan orang?

Menghargai Sesama

2 Sam 5: 1-7. 10; Mrk 3: 22-30

Dalam diri manusia ada dua (2) pribadi: satu kita tunjukkan kepada orang lain dan satu lagi kita sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang dan berpuasa sampai badan kering-kerongtang, suka melakukan amal, berkotbah dengan suara manis madu kepada semua orang yang dijumpainya di jalan. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan serta memberi “cap” yang kotor terhadap orang lain dan banyak lagi.

Kedua bentuk pribadi ini ada dalam diri setiap manusia tidak terkecuali para ahli taurat pada zaman Yesus seperti yang diketengahkan kepada kita melalui bacaan hari ini. Para ahli taurat, setelah melihat peristiwa-peristiwa ajaib/mujizat yang dibuat Yesus, mereka (ahli taurat) langsung memberi tuduhan kepada Yesus dengan menyatakan Yesus bersekutu dengan Belzebul “raja lalat” dewa Accaron, atau “Tuan Rumah”. Berhadapan dengan tuduhan itu Yesus tentu membuat pembelaan diri dengan memberi jawaban berupa perumpamaan berbentuk kiasan. Perumpaman itu diibaratkan seperti sebuah kerajaan yang hancur karena pertentangan dalam kerajaan itu dan perumpamaan yang kedua dengan gaya semit, Ia melukiskan nasib yang sama menimpa sebuah rumah tangga yang terpecah belah akibata pertentangan dalam kehidupan rumah tangga tersebut.

Mungkin kita bertanya apa maksud perumpamaan ini. Maksudnya adalah setan menghancurkan diri sendiri jika ia terlalu bodoh mengutus Yesus untuk mewarta di dunia ini.

Begitu juga dalam hidup manusi. Kerap kita langsung memberi “cap” yang buruk atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci dan dendam. Misalnya tidak memberi dukungan kepada orang yang melakukan amal kasih, kepada orang yang menyatakan kebenaran, dan banyak hal lain lagi bahkan kita akan mengumpat mereka baik secara langsung maupun dalam hati. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai pengahalang sehingga memunculkan iri hati, dendam, benci dalam hati kita. Kurangnya penghargaan terhadap sesama kurang kita tanamkan dalam diri kita, hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, main hakim sendiri dan penebangan hutan yang meraja lela sehingga keutuhan ciptaan tidak lestari lagi. Para buruh kurang mendapat perhatian dan mendapat tindakan semena-mena dan banyak hal lagi yang menyelimuti negara kita ini.

Melalui permenungan kali ini Yesus mengajak kita untuk mengharagai sesama manusia. Mengahargai manusia berarti menghargai segala usaha dan karyanya, menerima mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya karena segala bentuk kejahatan yang kita perbuat dianggap melawan Roh dan hukumannya sangatlah berat. Tuhan berbelas kasih terhadap manusia dan belas kasihan itu tidak akan pernah dicabut oleh-Nya karena Ia menyebut hal-hal yang harus dijauhi manusia.

Doa

Yesus Tuhanku dan penyelamatku berilah aku hati yang murni supaya aku dapat memuji dan memuliakan Dikau. Syukur dan pujian itu ingin saya tunjukkan untuk menghargai sesamaku manusia apa adanya. Yesus bantulah aku untuk memberikan cinta kasih-Mu kepada setiap orang. Amen.

“Kriteria menjadi ibu, saudara dan saudari Yesus”

Bacaan I; 2 Sam 6: 12b-15. 17-19; Injil Mark 3: 31-35.

Syarat utama menjadi seorang pemenang suatu pertandingan ialah, jika peserta melakukan segala kriteria yang telah ditentukan oleh panitia atau oleh dewan juri. Pastilah yang dapat melakukan seluruh kriteria dengan sebaik mungkin, itulah yang layak disebut sebagai pemenang.

Injil hari ini, menyatakan kepada kita kriteria untuk menjadi “ibu, saudara dan saudari Yesus”. “Ibu dan sudara-saudari” Yesus adalah yang melakukan kehendak Allah. Yesus dalam pewartaan-Nya, menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah, banyak orang yang menganggap Yesus gila. Ketika orang banyak (terutama yang menaruh benci kepada Yesus) melihat bahwa ada orang yang mencari Yesus dan mengaku sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya”, orang-orang itu ingin memojokkan Yesus atas pengakuan-Nya sebagai Putra Allah. Tetapi Yesus menjawab mereka dengan menyatakan “kriteria” untuk menjadi “ibu dan saudara-saudari-Nya”. Yang menjadi ibu dan saudara-saudari Yesus adalah yang melaksanakan kehendak Allah. Saudara dan saudari Yesus yang dimaksud di sini bukanlah anak-anak Maria tetapi kaum kerabat seperti kemanakan disebut juga sebagai saudara. Dengan menyatakan “ibu-Ku, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan” kekerabatan badaniah dikalahkan oleh kekerabatab rohaniah. Persaudaraan yang disatukan oleh api dan air pembabtisan (rohani) lebih kuat dari pada persaudaraan yang disatukan oleh darah. Hari ini Yesus menyatakan “kriteria” untuk menjadi ibu, saudara dan saudari-Nya yankni harus melakukan kehendak Allah. Yesus tidak menghendaki orang-orang yang hanya mendengar kehendak Allah saja tetapi yang terutama harus melakukannya.

Bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap kehendak Allah yang kita dengar, kita renungkan atau kita baca dari Kitab Suci? apakah kita hanya mendengar seperti orang-orang di sekeliling Yesus? Layakkah saya disebut sebagai “ibu, saudara dan saudari” Yesus melalui hidup saya sebagai orang kristen? Kita akan menjadi kerabat Yesus jika kita melakukan kehendak Allah serta merasa diri sebagai “ibu, saudara dan saudari dengan orang lain yang telah dipersatukan dengan kita oleh api dan air pembabtisan. Seperti seseorang yang turut dalam suatu pertandingan, kita harus melakukan syarat-syarat atau kriterua yang diharuskan. Demikian juga jika hendak menjadi “ibu dan saudara-saudari Yesus, kita harus melakukan criteria-kriteria yang dikehendaki oleh Yesus untuk pantas disebut sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya. Maka dengan demikian Yesus akan berkata kepada kita, “kaulah ibu-Ku, kaulah saudara-Ku, kaulah saudari-KU”.

Penabur Itu Manaburkan Firman

(Mrk. 4:14)

Setiap orang yang ingin menanam tanaman tertentu, pastilah ia akan menanam atau menabur benih pilihan dan benih unggul di lahan yang ia sudah persiapkan dengan sebaik mungkin. Demikian juga “Sang Penabur”, Yesus Kristus yang menaburkan Firman Allah.

Sang Penabur menaburkan Firman Allah ke dalam hati para murid-Nya. Jika para murid-Nya menerima Firman Allah dengan lapang dada dan hati terbuka, maka Firman itu akan tetap berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah. Namun, kalau Firman itu tidak diterima dengan lapang dada dan hati terbuka maka Firman itu akan seperti benih yang jatuh di jalan dan burung-burung mematuk benih itu, karena lebih mudah menemukannya daripada di alur ladang, dan juga seperti benih yang jatuh di tanah berbatu-batu dan di tengah semak berduri, ia akan cepat layu, kering karena tidak berakar dan ia juga tidak berbuah karena semak itu menghimpit dan semakin besar. Tetapi jika benih itu jatuh di tanah yang subur seperti di Galilea, benih itu akan berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah.

Demikian juga Firman Allah yang ditaburkan oleh “Sang Penabur” ke dalam hati para murid-Nya akan memberikan hikmat yang menuntun mereka pada keselamatan , karena kasih setia Allah tidak akan hilang (2 Sam 7:15a) jika mereka menerima Firman itu dengan lapang dada dan hati terbuka. Firman itu akan menuntun mereka pada keselamatan, memperbaiki kelakuan mereka, mendidik mereka dalam kebenaran, menyingkirkan semak duri dan batu-batu dalam hati mereka seperti hati yang tegar, keras, dingin, cuek, dan egois. Sebab dengan demikian Firman itu akan tetap bertumbuh dan berkembang dengan subur sampai menghasilkan buah melimpah , karena kasih setiah Allah tidak akan hilang, seperti yang Allah hilangkan daripada Saul, yang telah Allah jauhkan dari hadapan Nattan (2 Sam. 7:15).

Bagaimana dengan persoalan kita sekarang yang hidup di dunia modern ini. Di mana kita sibuk dengan pribadi kita masing-masing, bahkan kita sendiri tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkan Firman Allah. Sehingga kita semakin sulit untuk membuka diri bagi sesama dan terutama sulit membuka hati kita ke dalam Firman Allah. Walaupun ada, itu mungkin hanya sebatas suatu rutinitas dan kewajiban belaka, syukurlah kalau masih ada dengan tulus hati membuka diri bagi Firman itu. Namun, persoalan itu tidak hanya sulitnya untuk membuka hati kepada Firman Allah tetapi juga soal benih yang kita tanamkan dalam hati kita. Itu Karena kita sulit mendengarkan dan membuka diri pada “Benih” yang unggul itu, yaitu; Firman Allah. Maka kita tanpa sadar, kita kerap menanamkan benih amarah, irih, dengki, perpecahan, dsb. di dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan pergaulan kita sehari-hari atau bahkan dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati dan membiarkan “Benih” itu bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah rahmat melimpah, yang menuntun kita pada keselamatan, mendidik dan memperbaiki kelakuan kita ke dalam kebenaran. Sehingga Kasih Allah yang Ia taburkan dalam hati kita tumbuh subur dan menghasilkan rahmat melimpah, yang akhirnya menuntun kita kepada kebenaran, cinta, damai, adil dan jujur.

Doa

Ya Allah Sumber segala kasih bukalah hati kami supaya kami mampu mendegarkan Firman Allah. Singkirkanlah segala semak berduri dan batu-batu penghalang bagi Firman-Mu yang ada dalam hati kami. Supaya “Benih-Benih” Sabda-Mulah yang tertanam dalam hati kami dan bukan benih-benih kebencian, kesombongan, kedengkian dan semua sifat buruk yang dapat merusak cinta-Mu yang membawa kami menuju keselamatan. Demi Kristus Tuhan dan perantara kami. Amin.

Sang Primadona Utama

2 Sam 7:18-19.24-29; Mrk 4:21-25

Dalam dunia percintaan terkenal ungkapan: “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang”. Pada lingkup yang lebih luas, ungkapan ini menggambarkan realitas manusia zaman sekarang yang semakin materialistis dan hedonis. Segala sesuatu diukur dengan uang, dan tanpa uang berarti hidup dalam penderitaan. Uang dianggap sebagai primadona yang harus dikejar karena dapat memberikan kehidupan. Uang membuat manusia dapat menikmati hidupnya, karena uangnya-lah yang bekerja bagi dirinya. Karena itu, sulit kita temukan lagi figur-figur yang sungguh mau memberikan bantuan secara tulus, tanpa menuntut balasan.

Mungkin kita pun temasuk dalam lingkaran kaum materialis dan hedonis tersebut. Kita memberi sesuatu karena mengharapkan sesuatu. Padahal kita lupa bahwa segala sesuatu yang telah kita terima itu berasal dari Tuhan. Tuhan telah memberikannya kepada kita secara cuma-cuma, hanya karena kasih karunia-Nya yang besar bagi kita. Maka, jika kita menuntut balasan atas perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain, Tuhan pun akan menuntut hal yang sama dari diri kita, seperti kata-Nya: “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mrk 4:24b). Itu berarti, Dia menuntut kita untuk semakin memberi prioritas utama bagi-Nya dalam hidup.

Kekristenan yang sejati hanya dapat dicapai dengan cara keluar dari kenikmatan diri sendiri, dan berbagi “cahaya pelita” dengan sesama. Uang bukanlah segalanya, karena akan lapuk dan hancur bersama tubuh di dalam liang kubur. Tetapi kesiapsediaan memberi tanpa pamrih seperti Tuhan Yesus, pasti akan diganjar pula dengan berkat yang berlimpah oleh Allah. Pemberian itu bukan hanya sebatas memberikan sedekah bagi orang lain, tetapi lebih daripada itu: Memberikan tenaga, waktu, bahkan hidup demi Tuhan Yesus. Karena hanya Dialah yang layak menjadi primadona dan prioritas utama bagi hidup kita!

Doa:

Ya Tuhan, kami sering melupakan Engkau dan sesama yang menderita. Kami sibuk dengan kegiatan kami untuk mengejar kekayaan duniawi. Kami mohon: Sadarkanlah kami agar senantiasa menempatkan Dikau sebagai prioritas utama hidup kami, dan bukalah mata kami agar selalu bersedia memberikan batuan secara tulus bagi sesama kami yang menderita. Amin.

MENABUR

2 Sam 11: 1-2. 4a-5-10a. 13-17; Mrk 4:25-34

Udin masih kecil, ia baru saja naik ke kelas dua SD. Pada suatu sore ia menaburkan benih kembang di kebun dengan ibunya. Hari berikutnnya ia bangun pagi-pagi lalu begegas melihat benih yang ia tabur demikian juga pada sore harinya. “Anakku sabarlah beberapa hari lagi benih itu akan tumbuh” demikian nasehaat ibunya. Akan tetapi Udin patah semangat, ia tidak mau melihat tanaman itu lagi. Dua minggu kemudian ibunya menasehatinya “ anakku pergilah kekebun, lihat benih yang kau taburkan itu!” ketika ia tiba di kebun ia heran melihat benih yang ia tabur itu sudah tumbuh. Hatinya sangat girang pulang ke rumah.

Injil hari ini menceritakan dua perumpamaan, yang pertama tentang benih yang tumbuh; perumpamaan tentang biji sesawi. Perumpamaan pertama kita bisa mengambil kata kunci ‘proses’. Proses mengandaikan waktu, maka dalam proses kadang kita jatuh , tetapi ada harapan satu ketika kemenangan akan muncul. Seperti halnya biji sesawi, proses juga berlaku untuk manusia; bayi yang baru lahir, belum dapat berjalan akan tetapi pelan-palan ia akan berdiri kemudian berjalan. Perkembangan hidup rohani-pun membutuhkan ‘proses’ untuk tumbuh, berkembang dan mengalami pematangan. Sebagai orang katolik pada saat pembabtisan, Sabda Allah disemaikan, bertambah umur, sabda Allah itu dikuatkan dan dijiwai dengan Sakramen Ekaristi serta dimatangkan dengan Sakramen Krisma. Dengan bimbingan para gembala sabda itu diharapkan menghasilkan buah berlimpah.

Para rasul juga mengalami ‘proses’ dalam pertumbuhan imannya. Rasul Petrus dalam beberapa perikop Injil tampak bahwa imannya akan Yesus belum matang; ketika ia membujuk Yesus agar tidak memanggul salib-Nya, ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, dan ketika Yesus tidak lagi bersama mereka, ia bersama dengan rasul yang lain meninggalkan tugasnya sebagai rasul kembali menjadi nelayan. Iman mereka akan Yesus menjadi matag ketika mereka menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta dan sebagai pembuktian kematangan iman itu mereka tunjukkan gengan tidak gentar dalam menghadapi segala dan rela menderita demi INJIL.

Dalam perikop yang kedua, perumpamaan tentang biji sesawi, yang ditabur di ladang. Sesawi bijinya kecil akan tetapi dia akan tumbuh dan menjadi besar. Menurut kebiasaan orang Jahudi biji sesawi ditabur di kebun bukan di ladang. Tanah ladang kurang baik untuk pertumbuhan sesawi perumpamaan ini dipakai penginjil untuk menggambarkan bagaimana Sabda Allah yang telah ditaburkan diantara manusia dimana sekitarnya ditumbnuhi banyak lalang. Sehingga sabda Allah kurang subur dan tetap kerdil, buah tidak melimpah. Kerajaan Allah hampir tidak tampak diantara manusia ia tenggelam ditengah hiruk-pikuk dunia. Ahirnya kita harus kembali pada kesadara semua memiliki ‘proses’ yang penting adalah bagaimana agar kerajaaan Allah itu dirasakan oleh orang lain?

Di Padanggurun ditemukan sebatang pohon yang sudah berusia ribuan tahun. Ketika berbuah oleh pemililnya pohon itu dipagar agar tidak diambil orang, sebenarnya banyak orang yang berminat untuk menikmati buah pohon itu. Apa yang terjadi ?. pohon tua itu akhirnya mati. Katanya pohon memiliki prinsip yang sama dengan manusia: berhienti memberi berati mati.

Lalu sekarang apa yang perlu kita buat?. Yesus dalam perumpamaanya memberi contoh kepada kita. Menabur. Memberi kepada yang lain sekecil apapun kasih yang kita berikan kepada orang lain amat berharga bagi mereka. Seperti biji sesawi yang kecil tumbuh menjadi pohon sesawi yang besar, menjadi tempat berlindung bagi burung di udara.

Pesta Yesus dipersembahkan di bait Allah

Mal 3: 1-4 / Ibr 2: 14-18; Luk 2:22-35.39-40.

Untuk Allah dan Sesama

Bagi orang Batak pada umumnya anak laki-laki dan sulung merupakan pewaris dan penerus garis keturunan dalam suatu marga. Oleh karena itu, kelahiran anak laki-laki sangat didambakan dalam keluarga. Akan menjadi kesulitan bagi orang tua untuk memberikan anak laki-laki menjadi seorang imam atau biarawan. Apalagi anak tersebut merupakan anak tunggal, pilihan menjadi imam atau biarawan akan menimbulkan kontradiksi.

Josep dan Maria sebagai orang tua yang taat kepada hukum Taurat pada hari ini mempersembahkan Yesus di bait Allah. Mereka menyadari betapa pentingnya pendidikan religius bagi Yesus dan yang paling penting mereka menyadari bahwa Yesus adalah milik-Nya. Kedatangan mereka ke bait Allah disambut dengan penuh suka cita oleh dua orang suci, Simeon dan Hana, yang menanti-nantikan kedatangan Sang Mesias. Melalui kidung Simeon misi Yesus ke dunia diungkapkan. Yesus adalah penyelamat bagi semua orang yang percaya dan sekaligus menjadi kontradiksi bagi mereka yang tidak percaya. Yesus membawa keselamatan bagi semua orang secara khusus bagi bangsa Israel tetapi Yesus juga membawa api perpecahan bagi orang-orang Israel. Misi Yesus ini nantinya akan berakhir di kayu salib.

Maria ibu Yesus juga turut serta dalam karya misi ini. Sebgai konsekuensinya sebilah pedang akan menembus hati Maria. Hal ini melambangkan bahwa Maria yang tetap setia dalam perjalanan panggilannya bersama Puteranya akan ikut serta menyaksikan derita dan sengsara Yesus serta menyaksikan perpecahan di antara bangsanya.

Semua orang tua bertanggung jawab akan pendidikan anak-anaknya tetapi orang tua tidak berhak menentukan segala-galanya untuk anaknya. Setiap orang berhak memilih cara hidupnya, yang tentu dikehendaki oleh Allah. Karena dalam pribadi setiap orang Allah meletakkan rencana-Nya. Walaupun akhirnya pilihan itu selalu menjadi bahan pergulatan sepanjang perjalanan hidup kita, kita yakin bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita memperoleh keselamatan.

Yesus mau memberikan diri-Nya demi Allah dan sesama. Maka kita juga sebagai pengikut Yesus harus mau berkorban demi Allah dan sesama. Pengabdian kepada Allah dan sesama dapat dilakukan dengan menjalani hidup baik dengan panggilan maupun panggilan khusus. Apakah kita mau hidup lebih dekat dengan Tuhan? Apakah kita mendukung oarang mau mendekatkan diri kepada Tuhan melalui hidup sebagai imam atau biarawan-biarawati? Atau apakah kita justru meghalanginya?

Doa

Ya Tuhan ajarilah kami untuk tidak takut mengikuti Engkau secara lebih dekat sekalipun dengan menjalani panggilan khusus. Semoga melalui hidup dan karya kami, kami dapat melayani Engkau dan sesama. Amin.

Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 13:11-13; Yoh 3:16-18

(HR. Tri Tunggal Mahakudus)

Katanya, ketika St. Agustinus sedang berjalan-jalan di tepi pantai sambil memikirkan misteri Allah Tri Tunggal: “Tiga tetapi satu, satu tetapi tiga”, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang ingin memasukkan seluruh air laut ke dalam lobang kecil yang ia gali di pasir pantai. St. Agustinus mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan sia-sia dan mustahil. Si anak lalu menjawab bahwa lebih mustahillah memasukkan Allah yang begitu Mahabesar ke dalam otak manusia yang kecil itu.

Allah itu tiga tetapi satu. Bagaimana itu dapat terjadi? Karena Allah adalah “cinta”! Cinta selalu mengandaikan ada dua pihak, yaitu yang mencintai dan yang dicintai. Dua pihak yang saling mencintai dengan benar akan dipenuhi dengan cinta yang melimpah-limpah. Begitu melimpahnya cinta yang ada pada mereka itu, sehingga mereka tidak akan menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Cinta yang melimpah itu mendorong mereka untuk membaginya juga kepada yang lain. Begitulah cinta itu akan selalu mengalir, tidak akan berhenti.

Allah adalah cinta. Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dalam misteri Tri Tunggal Mahakudus, menjadi lambang persekutuan cinta sejati. Bapa mengasihi Putera, demikian juga Putera mengasihi Bapa. Cinta yang ada pada Bapa dan Putera juga dialami oleh Roh Kudus, dan lewat Roh Kudus itu, kepada kita dicurahkan roh cinta kasih yang sejati.

Allah adalah cinta. Cinta itu memberi. Itulah pesan yang mau disampaikan warta Injil hari ini kepada kita. Pemberian terbesar sebagai ungkapan cinta adalah diri sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Allah sendiri. Karena begitu besar cinta Allah kepada dunia, Ia memberikan diri kepada manusia lewat Putera-Nya Yesus Kristus

Warta Injil hari ini tidak mau memberi kunci jawaban tentang misteri Allah Tri Tunggal Mahakudus. Allah terlalu besar untuk kita mengerti lewat budi kita. Di hadapan Allah kita hanya dapat merendahkan diri dan memohon supaya diberi karunia untuk mencintai seperti cinta yang ditunjukkan-Nya kepada dunia. Lewat pembaptisan, kita telah dimasukkan menjadi anggota keluarga Allah. Sebagai anak-anak Allah, adalah tugas kita untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana hidup dalam persekutuan cinta Allah Tri Tunggal Mahakudus. Bagaimana itu kita laksanakan? Berilah cinta kepada orang lain. Sebab dengan memberi cinta kepada orang lain, engkau juga mengajari orang lain untuk mencintai.

Doa

Tuhan, aku mohon kepada-Mu supaya daya tarik cinta kasih-Mu yang menyala-nyala dan laut madu itu, menyerap hatiku dari segala sesuatu yang ada di bawah kolong langit, agar aku mati karena cintaku kepada cinta kasih-Mu, yang telah memperkenankan Engkau mati karena cinta kasih kepada cintaku. Amin.

Yak 3: 13 – 18, Mrk 9: 14 – 29

Mendengar untuk Berkeutamaan 1

Bisu dan tuli kerap bersama-sama kita temukan dalam diri satu orang. Hampir semua orang tuli tidak dapat berbicara. Alasannya cukup terang: orang yang tidak pernah mengenal suara tidak tahu apa itu suara dan dengan demikian tidak tahu mengeluarkan suara. Yang tidak dapat mendengar kata-kata, tidak tahu apa itu kata-kata. Mendengar dan memperdengarkan kata-kata ada bersama-sama. Orang yang tuli hanya mengetahui apa yang ada di kepalanya.

Perikop hari ini mengetengahkan kepada kita kisah tentang pengusiran roh dari anak yang bisu dan tuli. Sang anak telah dirasuki roh jahat sejak kecilnya, roh yang menulikan dan roh yang membisukan. Roh tersebut kerap membantingnya ke tanah dan menyeretnya ke dalam api.

Adakah ada usaha untuk menyembuhkan si anak yang kerasukan tersebut? Sangat jelaaslah dari perikop, bahwa sang ayah si anak telah cukup berusaha. Barangkali, ayahnya telah berkali-kali membawanya ke tabib, tetapi tidak juga mengalami kesembuhan. Ketika sang ayah mendengar bahwa ada murid Yesus yang nota bene dapat menyembuhkan penyakit, ia langsung membawanya kepada mereka. Peliklah bahwa murid Yesus yang sudah diberi kuasa menyembuhkan tersebut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap roh yang merasuki si anak tersebut. Hanya Yesuslah yang akhirnya dapat mengusir penyakit si anak tersebut.

Barangkali penyakit bisu dan tuli tersebut ada di tengah-tengah kita: pada orang di sekitar kita atau pada diri kita sendiri. Tuli dan bisu rohani lebih menyeret kita ke dalam kebinasaan. Tuli berarti tidak dapat mendengar. Bisu berarti tidak dapat berkata-kata. ‘Roh jahat bisu-tuli’ bisa saja telah membelenggu kita. Kita tuli terhadap suara Tuhan yang selalu menggema di dalam batin kita, maupun di dalam perjumpaan kita dengan sesama. Orang yang ‘tuli’ itu tertutup, sombong dan merasa telah ‘mengetahui segalanya. Ia menonjolkan keakuannya; hidup seturut kehendak dan perasaannya; lebih mementingkan diri; dan dikendalikan oleh segala keinginan dan hawa nafsunya. Orang yang tuli hatinya tidak dapat mendengar suara Tuhan. Karena tidak mendengar, ia juga tidak dapat memperdengarkannya. Orang yang tuli hatinya adalah oang yang munafik dan egois. Dalam dirinya hanya ada kekacauan dan perbuatan jahat. Inilah hikmat yang berasal dari setan.

Orang yang ‘mendengar’ adalah orang yang dapat menangkap kata-kata dan dengan demikian dapat kembali memperdengarkan kata-kata tersebut. Orang yang mendengar adalah gambaran orang yang terbuka terhadap segala perubahan dan pertobatan. Ia mempunyai kerinduan akan sesuatu yang baik; selalu mau belajar; selalu ingin mendengar suara Tuhan; mendengar kata hatinya; merefleksi diri; dan akhirnya melahirkan keutamaan-keutamaan: penurut, peramah dan penuh belas kasih. Syarat untuk berubah adalah mau diubah. Syarat untuk mewarta adalah mau mendengar. Untuk memiliki keutaman. ‘mendengarlah’!

Apakah aku seorang yang ’tuli dan bisu’? Kalau saya barangkali seorang tuli dan bisu, sampai di manakah tingkat ketuli-bisuan saya? Maukah saya mendengar dan percaya? Maukah saya disembuhka

TERDAHULU DENGAN MELAYANI

(Mrk. 9:30-37; Yak. 4:1-10)

Kita semua tahu, rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Juga tidak sama dengan tinggi hati. Rendah diri, pun tinggi hati adalah dua hal negatif. Rendah diri lebih kerap lahir akibat adanya tekanan (depresi). Rahmat yakni dirinya sendiri tidak mekar dan kurang berbuah dalam dirinya. Kalau tinggi hati atau kesombongan kerap lahir karena fanatisme diri serentak meremehkan orang lain. Keduanya BURUK! Lain dengan rendah hati, orang yang rendah hati lebih bebas pengungkapannya, berani tampil apa adanya tanpa kehilangan nilai dirinya yang sejati. Namun, dalam kenyataan rendah diri dan rendah hati kerap kabur dipahami. Kadang rendah diri dipakai menjadi senjata rasionalisasi untuk berendah hati. Karena rendah diri, potensi-potensi, bakat dan banyak anugerah lain tidak disalurkan, dengan itu orang berkata bahwa ia mau rendah hati. Keliru benar. Rendah hati tidak menutup diri akan realitas diri yang sebenarnya dengan segala kemampuan di dalamnya.

Perikop Injil kali ini mengajak kita untuk berendah hati yang benar. Kita mendengar bagaimana di jalan menuju Kapernaum, Yesus mendengar murid-muridNya bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus menegur mereka dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Anak kecil dalam tradisi bangsa Yahudi adalah orang yang tidak dihormati, tidak dihargai, dari mereka dituntut saja ketaatan, mereka tidak berhak bersuara. Yang mau diajarkan oleh Yesus adalah: menjadi rendah seperti anak kecil, yakni melayani saja. Anak kecil itu bukan hanya sebagai contoh, tetapi dalamnya Yesus mewahyukan diriNya. Ia seperti anak kecil, tidak mempunyai kuasa, tanpa hak, hanya taat saja kepada Bapa sampai mati bahkan mati di kayu salib. Tujuannya ialah melayani supaya umat manusia selamat. Pelayanan itu adalah suatu segi dari salibNya; mengosongkan diri, menyangkal diri, menjadi kecil, menjadi yang terakhir, bagai hamba yang tak berguna, yang dapat dipergunakan dan dibuang sebagai sampah. Ia hidup sebagai hamba Allah dan manusia. Yesus mencintai anak-anak kecil yang rendah itu karena sifat-sifat itu dilihatNya dalam mereka. Ia memihak kepada orang yang rendah hati karena memang ‘Allah membenci orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.’

Ada begitu banyak orang di dunia ini seperti murid-murid yang bertengkar mengenai siapa yang terbesar. Pertanyaan Rasul Yakobus dalam suratnya amatlah tepat menggambarkan situasi demikian: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Serentak, ada begitu banyak juga orang yang bernasib seperti anak kecil tadi, yang tak berdaya itu. murid-murid Yesus yang sejati harus siap menjadi pelayan bagi mereka. Ia berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini, ia menyambut Aku.” Dengan kedatanganNya ke dunia Yesus telah mengajarkan pola pikir baru yang bertentangan dengan pikiran manusia yang mau menjadi besar hanya karena kuasa (memerintah). Bagi Yesus menjadi besar harus seperti anak kecil itu yang kebesarannya justru nampak dalam pelayanan kepada sesama. Orang yang mau melayani hanyalah orang yang rendah hatinya

DEKAT DENGAN YESUS SAJA

Yak 4: 1-10; Mrk 9:38-40

Suatu kali, seorang pengurus Gereja menyaksikan bahwa seorang bapak, yang bukan pengurus, mampu menyembuhkan anak kecil yang sakit keras. Ia melihat bapak itu hanya memakai doa novena. Orang-orang menjadi takjub akan praktek penyembuhan itu. Pengurus gereja itu menjadi iri hati karena banyak pujian dan perhatian dilimpahkan kepada bapak itu. Ia mulai membeli semua buku-buku novena dan mencoba mempraktekkan penyembuhan terhadap orang yang sakit. Ia berharap umat akan menyanjungnya, namun ia gagal.

Dalam kehidupan konkret kita, perbuatan-perbuatan luar biasa yang terjadi melalui manusia sering dilihat sebagai hasil kekuatan manusia belaka, bukan kekuatan Allah yang berkarya melalui manusia. Ketika Yohanes mencegah orang asing yang mengusir setan dengan menggunakan nama Yesus, Yesus keberatan. Meskipun orang asing itu menggunakan nama-Nya hanya untuk mencari untung—dan ternyata berhasil, Yesus melihat dalam tindakan itu suatu jalan untuk beriman kepada-Nya.

Kristus berkarya melalui siapa saja yang Ia kehendaki, yang tentu saja yang berkenan kepada-Nya. Kristuslah sebenarnya yang menyembuhkan setiap orang dan mengusir roh-roh jahat. Kita tidak perlu iri hati kalau melihat orang lain mengusir roh jahat atau menyembuhkan, kerena mereka itu sangat dekat dengan Yesus. Hanya dengan kuasa Yesuslah kita mampu berbuat demikian. Kita hanya perlu melihat kembali kedekatan kita dengan Yesus, dan membarui hidup kita agar kita semua dipilih oleh Yesus untuk mengusir roh-roh jahat dari muka bumi ini dan menyembuhkan semua yang sakit. Kita tidak perlu mencegah dan menghalangi orang lain, tetapi harus selalu berusaha mendekatkan diri dengan Yesus.

Apakah selama ini kita sudah mendekatkan diri dengan Yesus? Ataukah kita hanya memanfaatkan nama Yesus untuk keuntungan pribadi?

DOA: Yesus, aku sadar bahwa sekalipun aku berusaha mengejar kemuliaan duniawi dengan memanfaatkan nama-Mu, tapi tanpa Engkau dekat di sisiku, maka aku akan binasa. Ajrilah aku semangat kerahiman-Mu, agar setiap hari aku benar-benar mengandalkan kekuatan-Mu dan bukan kekuatanku. Amin.

Bacaan : Yak. 5:1-6

: Mrk. 9:41-50

AKU ADA UNTUK TUHAN DAN SESAMA

Pernahkah kita memikirkan dan merenungkan betapa mulianya Tuhan yang telah menciptakan tubuh kita dengan begitu sempurna? Dan tahukah kita apa sebenarnya tujuan Tuhan menciptakan kita? Tangan, kaki, mata, mulut, dan lain sebagainya. Sebenarnya semua ini untuk apa? Apakah hanya untuk membantu kita memenuhi kebutuhan sehari-hari atau ada fungsi lain selain hal tersebut?

Kita adalah ciptaan yang paling luhur yang pernah ada, namun kendatipun demikian kita tetap dan bahkan selalu tergantung kepada orang lain karena memang demikianlah kodrat kita sebagai manusia. Kita saling membutuhkan! Benarlah ungkapan asing yang mengatakan “no man is an island”

Mungkin di antara kita berkata: “bagaimana saya dapat membantu orang menuju kepada keselamatan sedangkan saya sendiri terlahir tidak sempurna?” mungkin Saudara cacat: bisu, tuli, buta, dan mungkin cacat fisik lain atau kita begitu sempurna secara fisik namun enggan bertindak karena menganggap tidak layak. Ungkapan-ungkapan demikian memang sangat manusiawi. Ya, memang kita selalu menganggap diri kita rendah di hadapan Tuhan; dan, memang begitulah seharusnya kita bersikap di hadapan Tuhan. Namun yang menjadi permenungan kita berikutnya adalah bagaimana kekurangan itu kita bawakan dalam hidup sehari-hari.

Injil hari ini membawa kita kepada permenungan tentang fungsi badan kita; tubuh yang telah dianugerahkan Tuhan; baik yang sempurna ataupun yang kurang sempurna hendaknya kita gunakan untuk keselamtan diri kita dan juga bagi orang lain sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan. Tuhan kita melalui Injilnya mengajak kita untuk menggunakan tubuh kita sebagai alat atau perpanjangan tangan Tuhan supaya semakin banyak orang diselamatkan. Dengan tegas, Injil hari ini mengatakan “Jika matamu menyesatkan… lebih baik mata itu dicongkel..lebih baik kamu masuk surga dengan… Keterbatasan dan kemampuan yang kita miliki hendaknya kita gunakan untuk membantu orang lain supaya semakin dekat dengan Tuhan bukan membuat orang lain semakin jauh dari Tuhan. Kalau memang anggota tubuh kita hanya kita gunakan untuk keuntungan pribadi hendaknya mulai saat ini kita merobah diri supaya dapat diterima Tuhan kelak.

Segala kebaikan yang pernah kita lakukan tidak akan pernah dilupakanTuhan dan akan tiba waktunya Dia memperhitungkannya bagi kita. Maka marilah kita hidup sebagai garam yang baik, yang menggarami kehidupan orang-orang di sekitar kita supaya kelak kita dapat berbahagia dengan-Nya. Mari menggunakan seluruh anugerah Tuhan yang telah kita terima demi kemuliaan-Nya dan keselamatan orang lain.

Doa

Ya Tuhan, kami sering menggunakan tubuh kami hanya untuk kesenangan kami sendiri, bahkan kami terkadang menggunakan kepintaran kami untuk memojokkan orang yang sederhana. Kami mohon semoga lewat sabda-Mu hari ini kami semakin mampu mewartakan kasih-Mu kepada sesama kami sehingga anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami sungguh berguna bagi keselamatan jiwa-jiwa dan demi kemuliaan-Mu.

Kebersamaan dan Kesetiaan dalam Kehidupan

(Yak 5 : 9-12 ; Mrk 10:1-12)

Salah satu berita yang ramai diberitakan media massa adalah berita tentang perceraian para selibritis, mulai dari yang belia sampai yang sudah ujur usia perkawinannya. Mulai dari perceraian Tamara Blenzky sampai perceraian Enno Lerian tak ketinggalan dipergunjingkan. Perceraian itu terjadi dengan macam ragam alasan. Namun yang jelas bahwa di dalam perkawinan mereka itu tidak ada lagi cinta-kasih sehingga dengan mudah minta diceraikan. Penyebab utama dari perceraian itu adalah hilangnya kesetiaan di antara pasangan itu. Kesetiaan sangat dituntut dalam hidup kebersamaan. Tanpa kesetiaan pastilah kebersamaan sulit dijalankan.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kepada kita – dengan pertanyaan orang Farisi tentang apakah seorang suami boleh menceraikan isterinya. Untuk mengerti konteks pembicaraan ini, kita melihat posisi seorang wanita dalam budaya Jahudi. Seorang wanita di pandang sebagai pelengkap saja. Dengan kata lain tidak masuk bilangan. Kaum wanita dipandang sebagai orang rumah saja. Pandangan ini membuat para para raja bahkan orang orang biasa pun dalam budaya Jahudi dulu, banyak yang menceraikan isterinya dan kawin lagi dengan wanita yang lain.

Dalam kitab Musa dan pada masa Musa sendiripun praktek seperti ini masih berjalan dan dianggap tidak melanggar hukum. Musa sendiri mengeluarkan surat cerai kepada seorang suami untuk menceraikan isterinya. Dalam taurat Musa perceraian seing terjadi karesalah satu dari pasanagn itu berbuat dosa, perjinahan dan percabulan. Yesus tidak mau menghilangkan hukum Musa itu. Bahkan satu iota pun Ia tidak mau menghilangkannya. Namun Yesus juga dengan tegas menjelaskan kepada orang Farisi itu (kita di sini ) bahwa hokum taurat berlaku sampai jaman Yohanes. Kata-kata ini mengandung makna bahwa hokum taurat dipakai sampai jaman Yohanes dan sesudahnya (jaman Yesus hokum taurat digenapi dengan hukum “kasih” yang diajarkan Yesus sendiri). Dengan hukum kasih ini genaplah seluruh Fiman yang diterima oleh Musa.

Sudah sejak awal mula dunia, dari diri manusia dituntut kebersamaan, karena Allahpun menciptakan manusia itu secara bersama laki-laki dan perempuan. “Demikianlah manusia itu tidak lagi dua tetapi telah menjadi satu daging…” Perkawinan menyatukan manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi satu. Satu di sini bukan hanya menyangkut daging saja secara jasmani tetapi juga menyangkut segala aspek hidup baik jasmani maupun rohani. Kalau Allah, pemilik manusia itu sendiri mnyatukan manusia itu sejak semuala mengapa manusia berani menceraikannya?

Manusia menginginkan keterpisahan karena dalam diri manusia itu ada sifat egoisme, sikap mementingkan diri sendiri. Sikap mau menang sendiri dan mau benar sendiri. Sifat-sifat negatif inilah yang memicu lahirnya keterpisahan.

Kunci utama untuk mempertahankan kebersamaan ini adalah kesetiaan. Kesetiaan mengandaikan cinta. Cinta mengandaikan pengorbanan. Tanpa pengorbanan cinta akan musnah (Cinta Yesus dibuktikan dengan pengorbanan di salib).

Doa Permohonan.

· Allah sumber hidup kami, kami mohon kepada-Mu bantulah orang-orang yang bersatu dalam ikatan perkawinan untuk memahami makna perkawinan yang mereka janjikan. Hadirlah diantara pasanagan yang sedang mengalami permasalahan dalam keluarga. Semoga kasih-Mu senantiasa tampak dalam diri mereka. Semoga perkawinan tidak dianggap sebagai kebutuhan jasmani saja teapi karena kemurahan-Mu yang tak ternilai. Demi Kristus pengantara kami.

Yak 5:13-20;Mrk 10:13-16

Menjadi kebiasaan/ tradisi di daerah kita untuk tidak mengikut sertakan anak-anak dalam suatu rapat atau diskusi dalam keluarga atau rapat-rapat lain. Dalam pertemuan seperti itu anak-anak biasanya dipersilahkan untuk bermain di halaman agar tidak menggangu jalannya rapat. Hal lain yang ialah anak-anak tidak perlu tahu apa yang dibicarakan oleh orang tua. Memang masuk akal hampir tak ada keuntungan dengan mengikut sertakan anak-anak dalam pertemuan. Selain menjadi penggangguyang memperlambat jalannya rapat.

Kejadian seperti itu juga telah berlangsung pada jaman Yesus. Para rasul mempunyai pemahaman yang hampir sama dengan orang zaman sekarang, menilai anak-anak sebagai pengganggu, perusak, kurangbijak, tak banyak tahu. Maka ketika seseorang mengantar anak-anak kepada Yesus mereka sangat keberatan, marah. Dalam Kitab Suci anak-anak melambangkan orang lemah, tak berdaya, miskin. Tidak demikian dengan orang dewasa. Begitulah anak-anak ia tidak memikirkan efek dari perbuatannya, ia katakana senang jika senang, marah jika marah, jika sedih ia akan menangis. Tidak banyak mereka tahu perihal menjaga perasaan orang lain. Mereka polos. Tidak demikian dengan orang dewasa, mereka lebih berpengalaman, bijaksana, “agar demikian maka harus begitu” tak jarang muncul korban di sekitarnya. Pengalaman dan kebijaksanaan kadang menjadikan mereka kurang bijaksana. Bagai mana pengalaman kita?

Maka ketika anak-anak itu dihantar untuk mendekati Yesus, para rasul marah. Sayang tak diceritakan bagaimana Yesus marah. Apa yang dipikirkan para rasul lain dengan apa yang dipikirkan Yesus. Ia marah kepada para Rasul “Biar anak-anak itu datang kepda-Ku, jangan menghalang-halangi mereka sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Surga”. Bahan ialah refleksi bagi kita, apa keunggulan anak-anak itu ?. lalu Ia menandaskannya lagi “barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti anak kecil ini ia tidak akan masuk ke dalamnya”. Apa yang kita pikirkan lain dengan apa yang dipikirkan Yesus. Anak-anak memiliki nilai Plus, yang berikut Yesus tidak hanya mencintai orang dewasa ia cinta kepada semua orang termasuk orang yang tidak mendapat perhatian dari saudaranya, lemah, miskin.

Apa yang dikehendaki Yesus dari kita? Ia meminta kepada kita untuk mencintai, ,memperhatikan saudara yang lemah, mengulurkan bantuan, pertolongan. Bantuan tidak hanya dalam bentuk materi tetapi perhatian, kerelaan mendengar. Ketika terjadi Tsunami di Aceh dan Nias orang yang kehilangan barang, anggota keluarga yang dicintai akan tetapi begitu banyak orang yang rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga, kemapaman hidup, orang yang dicintai untuk membagi cinta, kasih dan mendengar ‘saudara’.

DOA

Yesus yang baik, Engkau telah memulai dan memberi kami teladan cinta sekarang kami Engkau serahkan tugas untuk melanjutkan karya-Mu di dunia ini. Engkau tahu tugas ini amat berat dan membutuhkan keberanian, maka kami mohon kuatkan dan semangati kami. Agar kami semakin peka dan bersedia membagi cinta, cinta yang tulus iklas. AMEN

Bacaan I : Yer 20: 7-9

II: Rom 12:1-2

III: Mat 16: 21-27

Minggu Biasa ke-22

Menjadi Murid Kristus

Alkisah ada seekor burung yang bersarang di sebuah pohon yang sudah busuk. Pada waktu hujan lebat disertai angin kencang, pohon itu tumbang dan menghancurkan sarangnya. Terpaksa burung itu terbang bermil-mil jauhnya hingga ia sampai ke hutan yang lebat. Di sana ia membuat sarang yang baru di atas pohon yang daunnya lebat dan menikmati hidup yang menyenangkan.

Manusia punya kecenderungan untuk mengindari penderitaan, beban. Sebaliknya ia selalu mengharapkan hal-hal yang menguntungkan, yang menyenangkan. Manusia tak lagi dapat melihat penderitaan sebagai jalan menuju kebahagiaan. Seperti kisah burung di atas, lewat penderitaan ia menemukan kebahagiaan. Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus…memikul salibnya dan mengikut Aku”. Apakah salib kita? Tak perlu kita mencari-cari penderitaan atau salib untuk kita pikul. Salib dan penderitaan selalu ada pada kita. Tetapi, apakah kita bersedia memikulnya, menerimanya sebagai salib kita?

Mengikut Kristus berarti bersedia memanggul salib. Mungkin kita bukan orang kaya, kurang kemampuan belajar, tidak tampan/cantik, mungkin kita merasa tertekan, mungkin kita mengalami konflik dalam keluarga, mungkin kita menjadi korban kekerasan atau pelecehan. Kita tidak memilih penderitaan itu, tetapi itulah yang terjadi pada kita. Kita dapat tidak mengacuhkannya, menolaknya atau menbencinya. Tetapi kita dapat juga memikulnya dan dengan itu mengikuti Yesus. Derita dan salib tak pernah sia-sia bagi orang yang percaya akan Kristus yang menderita dan kemudian bangkit jaya.

Doa:

Tuhan Yesus Kristus, lewat derita-Mu di salib Engkau memberi makna baru penderitaan. Bantulah kami agar bersedia dan mampu memanggul salib kami dan mengikuti Engkau dalam hidup kami sehari-hari.

Siap untuk Ditolak

1 Kor 2:1-5; Luk 4:16-30

Seorang yang hendak dipercayakan untuk mengemban suatu tugas besar dan berat biasanya harus menjalani berbagai macam ujian, mulai dari kelengkapan administratif sampai pada penelusuran riwayat hidup dan pengalaman kerja. Orang yang dipercayakan untuk mengemban tugas seperti ini biasanya orang yang punya etos kerja tinggi, pantang menyerah dan berani menerima kegagalan secara positif.

Tuhan Yesus adalah figur teladan bagi para pemimpin. Beratnya tugas yang diemban oleh Yesus sudah mulai tampak ketika Dia ditolak oleh orang-orang di kampung halaman-Nya sendiri. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan-Nya, yang seharusnya memberikan dukungan terhadap proyek keselamatan yang mulai dirintis-Nya. Tetapi justru merekalah yang kini berusaha melemahkan semangat Yesus.

Namun Yesus adalah pribadi yang berpandangan global. Keselamatan bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi bagi semua orang. Meskipun berkarakter pemimpin, Dia tidak memaksa orang lain untuk percaya kepada-Nya. Dia hanya hendak membuka mata sekalian orang bahwa apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi kini telah terlaksana: Roh Tuhan ada pada-Nya; Dialah yang terurapi; Sang Kristus yang diutus untuk mewartakan kabar gembira (bdk. Luk 4:18-21).

Kita mungkin pernah mengalami pengalaman ditolak oleh orang lain, bahkan oleh orang yang dekat dengan kita hanya karena iman kita akan Kristus. Kita tidak perlu kecewa jika kita ditolak karena menegakkan kebenaran sesuai dengan iman kekristenan kita. Seruan kenabian harus kita gemakan pada zaman kita sekarang ini. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus juga pernah ditolak, bahkan sampai menderita dan wafat di kayu salib. Tetapi justru melalui peristiwa itu Dia diangkat oleh Allah menjadi Raja di dunia dan di surga. Bersediakah kita ditolak karena menjadi saksi Kristus?

Doa:

Ya Tuhan, kami sering putus asa bila kami ditolak karena berusaha melakukan yang baik. Masih banyak orang yang tumpul mata hatinya dan tidak mau mengenal ajaran cinta kasih-Mu. Bantulah kami agar berani menjadi saksi-Mu di tengah-tengah dunia dan mampu menjadi teladan kebaikan bagi sekalian orang. Amin.

ALLAH YANG BERKARYA

Bac I: 1 Kor 2 :10b-16, Luk 4:31-37

Sudah sekian lama orang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan bahkan sampai sekarang ini. Lebih khusus pada zaman ini, orang berlomba-lomba mencari kesuksesan atau prestasi yang bisa menaikkan status atau jabatan sampai mereka disebut sebagai orang ternama. Ketika kesuksesan itu tercapai banyak orang menjadi lupa akan siapa dirinya sebenarnya, padahal mereka adalah orang-orang yang senantiasa tergantung pada rahmat Allah. Prestasi yang diraih atau segala hasil buah pemikiran atau bahkan penemuan-penemuan yang mengundang perhatian banyak orang dijadikan alat untuk mengatakan bahwa orang itu bisa berbuat apa-apa dengan meggunakan intelektual atau kepintaran, kebolehan sendiri, tanpa melihat rahmat Allah yang senatiasa berperan dalam dirinya.

Situasi ini berbeda dengan bacaan injil saat ini. Injil mengetengahkan Yesus sebagai orang yang memiliki kemampuan besar dalam melumpuhkan kekuatan jahat. Ini tampak ketika Yesus mengusir setan yang merasuki diri seseorang di dalam rumah ibadat di Kapernaun. Ketika yesus berkata: “diam, keluarlah dari padanya,” maka seketika itu juga setan itu keluar dari orang yang dirasukinya tanpa menyakiti orang tersebut. Sebab, setan itu tahu bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Atas peristiwa ini, banyak orang menjadi takjub dan terheran-heran karena kuasa dan kekuatan yang ada dalam diri Yesus. Mereka takjub, karena dengan penuh wibawa dan kuasa Yesus mampu mengusir kuasa serta setan itu sendiri dari orang yang dirasukinya. Lukas memperlihatkan Yesus sebagai Allah yang penuh kekuatan sekaligus kekuasaan. Tetapi, kekuatan atau kekuasaan yang diperlihatkan

Yesus di depan orang banyak bukanlah bersumber dari kemampuan manusia yang pada dasarnya terbatas. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan Allah sendiri. Allahlah yang berkarya. Untuk itu Yesus yang menunjukkan kebesaran Allah dengan segala kemampuannya yang maha kuat bukan untuk memamerkan siapa dirinya sebenarnya melainkan tetap dalam bingkai karya penyelamatan Allah.

Demikianlah tampak bahwa Yesus yang berkarya tetap berada di jalan yang menunjukkan bahwa Allahlah yang berkarya, berkuasa. Sementara sekarang ini, peristiwa yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang sukses dalam meraih cita-cita, harapan terutama disebabkan oleh kemampuan orang itu sendiri. Allah yang berkarya tampaknya menjadi dinomorduakan. Gejala semacam ini, nampak ketika orang membanggakan dan mengagungkan kemampuannya sendiri baik di kalangan kaum terpelajar atau bahkan sampai pada golongan orang menengah ke bawah. Karena itu injil saat ini memberi pesan bagi kita untuk melihat akan besarnya karya Allah baik di kala kita merasa sulit atau bahkan pada saat-saat mencapai kesuksesan entah itu dalam kerja, studi, atau bidang-bidang yang lain sejauh itu dialami dengan cara yang baik dan benar. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing , sejauh mana aku telah melakukan ini?

Doa: Allah yang penuh belas kasih, Engkau selalu hadir dalam diri kami entah di dalam situasi apapun. Engkau mengharapkan supaya kami selamat kelak. Karena itu, kami mohon berkenanlah mengajar kami untuk tidak menyombongkan diri karena kebolehan kami tetapi tetap bersyukur sebab semua ini adalah anugerah kasih-Mu.

Gembira bersama Orang Lain

Bacaan I : 1 Kor 3:1-9 II: Luk 4: 38-44

Setiap orang adalah unik, istimewa. Tidak ada orang lain yang sepenuhnya merasa seperti kita, berpikir seperti kita, atau berlaku seperti kita. Kita berbeda dari orang lain. Tetapi apakah perbedaan ini memisahkan kita dari orang lain?

Hidup bersama orang lain yang tidak sama dengan kita menuntut kita untuk tidak berprasangka buruk terhadap mereka. Kadang-kadang bahkan kita tidak sadar betapa dalamnya akar-akar prasangka dalam diri kita. Dalam hidup sehari-hari nampaknya kita sudah berusaha memandang orang yang berbeda dari kita sebagai sesama. Tetapi dalam kenyataan tidak selalu demikian. Kita sering berprasangka buruk terhadap orang yang berbeda dengan kita. Orang-orang asing, mereka yang berbeda dari kita, menimbulkan rasa takut, tidak enak, tidak senang, atau bahkan curiga serta benci. Orang yang berbeda dari kita, kita anggap sebagai ancaman.

Setiap orang memang berbeda dari orang lain, tetapi semuanya sama sebagai ciptaan Allah, warga umat manusia. Orang lain adalah sesama, sahabat, teman seperjalanan. Orang juga dicintai Allah dengan cinta yang sama yang kita terima juga. Cinta Allah diberi kepada semua orang tanpa memandang muka. Cinta Allah yang kita terima adalah cinta tanpa pengotakan. Maka, mencintai orang lain berarti membagi cinta Allah, yang terbuka untuk semua orang. Hanya dengan kesadaran bahwa Allah mencintai kita semua apa adanya kita mampu menerima dan hidup bersama orang lain.

Kita semua berasal dari Allah yang sama dan akan kembali kepada Allah yang sama pula. Mangapa kita harus saling membenci, memisahkan diri dari orang lain?. Semua yang ada pada kita adalah semata-mata anugerah Allah, mengapa kita harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang kita miliki?

Doa:

Tuhan Yesus, Engkau mencintai semua orang tanpa memandang muka. Tolonglah kami agar mampu meneladan cinta-Mu yang tidak bersyarat itu. Bantulah kami semua orang, juga yang berbeda agama, suku, bahasa, warna kulit dari kami. Amin.

DUC IN ALTUM!

1 Kor 3:18-23; Luk 5:1-11

Kita cukup mafhum bila ada yang mengatakan bahwa zaman ini adalah handphone’s generation. Gadget (perangkat) yang satu ini memang sudah menyandang predikat “must have” buat orang-orang dengan alasan yang variatif, seperti kepentingan komunikasi atau bahkan sekadar mengikuti tren. Mulai dari tukang sayur di pasar sampai anak TK, semua sudah memegang handphone (HP), apalagi kini disertai dengan fitur-fitur yang membantu kemudahan pekerjaan manusia. Tetapi, dengan tidak disadari semangat instan mulai menggerogoti mereka pelan-pelan. Orang-orang jarang ke gereja dan mulai melupakan Tuhan. Posisi Kitab suci digantikan oleh HP.

Dalam injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk “duc in altum”, bertolak lebih dalam. Biarpun kecewa kerja semalaman tidak mendapat ikan, Simon siap sedia melakukan perintah Yesus, duc in altum. Sikap itulah yang memungkinkan terjadinya keajaiban. Ia menangkap sejumlah besar ikan hingga jalanya mulai koyak, sehingga kawan-kawannya datang membantu. Lalu, mereka mengisi kedua perahu mereka penuh dengan ikan hingga hampir tenggelam.keajaiban itu membuka mata Simon terhadap pernyataan kuasa ilahi dan tanda hadirnya Yang Mahakudus, sehingga ia menyadari betapa tak pantas: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Dan akhirnya Yesus mulai mengalihtugaskan Simon dari penjala ikan menjadi penjala manusia.

Dengan ini kita diajak membuka hati terhadap aliran rahmat dan membiarkan sabda Kristus merasuk dalam diri kita dengan kekuatan “duc in altum”. Kekuatan dan kemenarikan HP akan kalah jikalau kita mau duc in altum untuk mengimani, berdoa, dan berdialog dengan Tuhan. Sebagai pengikut Yesus yang sejati, kita harus siap duc in altum dengan semangat kerja keras, seperti Simon, untuk menemukan Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus, tuntunlah perahu hidupku menuju tempat yang lebih dalam. Yakinkan aku bahwa di tempat itulah aku akan menemukan-Mu. Amin.

1 Kor 4: 1-5

Luk 5: 33-39

Doa dan Puasa dalam Relasi Cinta dengan Tuhan2

Santo Fransiskus selalu mengadakan puasa dengan begitu ketat dan teratur. Suatu malam pada masa puasa, seorang saudaranya mengerang kesakitan karena lapar. Semua saudara yang lain berusaha meneguhkan supaya saudara tersebut tetap bertahan hingga tiba waktunya untuk makan. Namun, ketika Fransiskus mendengar erangan saudara tersebut, ia membangunkan semua saudaranya dan mengajak mereka untuk makan, supaya saudara yang mengerang kelaparan tersebut tidak merasa malu untuk mengatasi rasa laparnya yang begitu hebat.

Jika saya ingin berdoa dan ingin memiliki kesalehan, apakah di baliknya? Apakah motivasiku? Kerap kita temukan bahwa motivasi kita sebenarnya tidak murni ketika melakukan sesuatu. Saya rutin ke Gereja setiap minggu. Ketika saya ke gereja, saya mempersiapkan diri mulai dari sikap, penampilan, kekhusukan ketika ibadat, dan kesiapan melayani kebaktian di gereja. Ketika pulang dari gereja, saya melihat orang lain yang tidak ke Gereja dan dengan spontan saja saya mengumpat dalam hati, “Tidak bisakah si anu itu memberikan waktunya ke gereja?” Bisa saja umpatan kita benar, namun dengan tidak kita sadari kita telah menggunakan ‘prestasi’ kita untuk menghakimi orang lain. Saya rajin berdoa supaya dipuji orang; supaya dikatakan saleh, taat, beriman dan lain sebagainya. Motivasi kita bisa terselubung dan tidak lagi berada di jalur yang semestinya.

Orang Farisi telah merasa melakukan kewajiban agamanya dengan sebaik-baiknya. Mereka telah melakukan puasa; telah menunaikan hukum Tuhan. Dengan itulah mereka mempertanyakan mengapa para murid Yesus tidak berpuasa. Jika kelompok Yesus tidak melakukan puasa, berarti mereka bukanlah kelompok yang benar. Orang Farisi merasa sudah benar. Karena itu, mereka menilai yang lain yang tidak melakukan seperti yang mereka lakukan sebagai orang yang tidak benar. Mereka menjadi hakim bagi yang lain. Tanggapan Yesus mengimplisitkan ketidakmurnian motivasi orang-orang Farisi dalam melakukan puasa dan aneka kegiatan ibadat lainnya. Yang paling penting adalah Tuhan selalu bersama kita. Kehadiran Tuhan dalam diri kita; kebersamaan kita dengan Tuhan berada di atas segalanya. Yesus tidak menganjurkan supaya kita tidak berpuasa, tetapi supaya kita terlebih dahulu melihat dan mendalami apa motivasi kita ketika melakukan kewajiban keagamaan kita. Tujuan Doa dan puasa kita kiranya bukanlah supaya kita dipui dan dianggap orang sebagai orang yang saleh dan dekat dengan Tuhan. Doa dan puasa kita kiranya hanya demi membangun dan memupuk hubungan kita dengan Tuhan, supaya kita selalu bersama Tuhan di dalam cinta. Dan dengan itu kita juga selalu di dalam kebersamaan dengan sesama kita di dalam cinta. Janganlah kita yang menjadi hakim bagi mereka yang kita rasa kurang atau tidak melakukan kewajibannya dalam hidup menggereja. Allahlah hakim satu-satunya yang tahu sampai di mana kedalaman iman dan perbuatan umat-Nya. Yang terutama menjadi tujuan doa dan puasa adalah terjalinnya relasi kita dengan Tuhan dan sesama di dalam cinta.

Doa

Bapa yang mahacinta, Engkau menghendaki kami untuk selalu menjalin relasi cinta kepada-Mu. Terangilah kiranya kami, sehingga kami tetap berada pada terang kehendak-Mu. Dampingilah kami supaya motivasi kami benar-benar murni untuk memuji dan memuliakan Dikau. Jauhkanlah sikap kesombongan dan kemunafikan dari kami. Amen.

Hukum diperuntukkan bagi manusia.

(Luk. 6: 1 – 5; I Kor. 4:9-5))

Dalam budaya dan adat istiadat Batak Toba dikenal istilah Marbao. Marbao adalah relasi antara istri seseorang dengan suami kakak atau adik perempuannya. Secara hukum dalam adat Batak Toba mereka tidak boleh berkomunikasi seorang terhadap yang lain. Bahkan lebih tegas dikatakan tidak boleh duduk dalam satu jalur lantai rumah (papan, lantai rumah adat Batak Toba). Hukum ini pada awalnya dimaksudkan untuk menghindari bahaya perselingkuhan. Karena itu, sangat dilarang menikahi bao kalau ia menjadi janda. Pada perkembangan selanjutnya, budaya marbao tetap dijalankan meski mungkin generasi yang berikut tidak ingat lagi apa tujuan awal dari marbao tersebut (yakni menghindari adanya perselingkuhan). Pokoknya yang menjadi pegangan bahwa mereka tidak boleh berbicara seorang dengan yang lain meski misalnya seorang melihat bao-nya tertimpa musibah. Hukum demikian rasanya terlalu kaku.

Perikop ini mengingatkan kita betapa hukum yang terlalu kaku itu tidak baik. Ketika murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya, Orang-orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Pertanyaan Orang-orang Farisi ini hendak menegur mereka mengapa tidak taat pada hukum yang berlaku dalam adat Yahudi. Yesus mencela dengan mengingatkan mereka pada apa yang pernah dibuat oleh Daud. Ketika Daud dan para pengikutnya sedang lapar, mereka masuk ke rumah Allah dan mengambil roti sajian lalu memakannya padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Yesus mau menegur Orang-orang Farisi yang taat secara buta terhadap hukum tanpa tahu lagi untuk apa sebenarnya hukum itu dibuat. Pokoknya, hari Sabat yah tidak boleh bekerja, itu saja. Padahal kita tahu, Yesus tidak pernah mau menghapus hukum yang lama, ia mau menyempurnakannya. Ia mau menggenapinya. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Penafsiran Yesus ini telah merobek kulit ‘perfeksionisme’ manusia yang kaku dan membawa kembali orang-orang pada para bijak pendahulu Daud. Jadi, hukum ilahi mengenai kelangsungan hidup mempunyai hak-hak yang mengatasi hukum-hukum liturgis Musa.

Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja kita, dikenal istilah “Salus animarum suprema lex” (keselamatan jiwa-jiwa adalah undang-undang yang tertinggi). Jelaslah, bahwa hukum diperuntukkan bagi manusia dan bukan sebaliknya manusia mengabdi kepada hukum. Penghargaan atas martabat manusia tetaplah undang-undang yang tertinggi, mengatasi segala hukum manapun. Itu harus menjadi pegangan. Kritisisme Yesus atas penerapan hukum ini merupakan hal baru yang membuka cakrawala kita. Kita teringat akan hukum utama dan pertama yang pernah disabdakanNya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Aturan dan hukum haruslah dipandang dan dihayati dalam bingkai cintai.

BERSYUKUR BAGI YESUS SANG “TABIB”

Bac I: 2 raja 51:4-17; Bac II: 2 Tim 2: 8-!3

Injil: Luk 17:11-19

Saya mau berbagi pengalaman konkrit dengan para saudara dan saudari yang hadir di sini. Ketika saya masih Novis bersama-sama dengan saudara saudara satu angkatan. Kami mengadakan immersion selama dua minggu di Belidahan (Tebing Tinggi). Immersion di tempat orang-orang yang berpenyakit kusta dan tinggal di tempat mereka. Awalya bertemu dengan mereka sepertinya saya merasa takut karena penyakit itu katanya menular. Tetapi karena sudah diberi penyuluhan oleh dokter saya tidak lagi merasa takut. Singkat cerita, selama dua minggu disana kami bekerja bersama-sama dan berbagi cerita dengan mereka. Mereka senang dengan kedatangan kami. Selama disana kami mencat gereja dan membuat parit jalan. Kami makan bersama dan berbagi cerita dengan mereka. Dari cerita itu mereka berkata kepada kami bahwa mereka bersyukur dan berterimakasih karena kami diperhatikan para Frater, Pastor dan juga Suster serta orang lain. Kami menjadi semangat menjalani hidup ini dengan situasi dan kondisi kami yang seperti ini. Anak-anak kami sehat tidak berpenyakit kusta dan kami dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga kami. Kami tetap bersyukur dan berterimakasih, kami tidak merasa mindir. Syukur atas hidup yang diberkan kepada kami, inilah pengakuan mereka kepada saya juga dengan para frater yang lainnya.

Dalam bacaan pertama kita telah mendengar bagaiman Allah menyembuhkan seorang panglima raja Aram yang berpenyakit kusta. Allah tidak langsung mengatakan hai kamu yang berpenyaakit kusta sembuh, tidak.tetapi sebelum Allah menyembuhkan, iman Naaman di uji terlebih dahulu dengan perantaraan nabi Elisa. Nabi Elisa mengatakan kepada Naaman supaya masuk ke sungai dan membenamkan dirinya tujuh kali di sungai Yordan itu. Naaman tanpa habis piker, taat dan melaksanakan apa yang dikatakan oleh abdi Allah itu. Sesudah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh abdi Allah itu Naaman menjadi sembuh dan tahir. Dan sesudah ia mengalami penyembuhan berkat imannya kepada Allah dan ketaatannya kepada abdi Allah itu, Naaman bersyukur dan berterimakasih kepada Abdi Allah itu dan Naaman menawarkan imbalan atas apa yang dialaminya. Tetapi nabi Elisa tidak menerimanya, ia mengatakan bahwa bukan dia yang menyembuhkan tetapi Allah. Namun Naaman tetap bersi keras akan membalas kebaikan Allah dan Naaman berjanji tidak akan berbalik dari Allah.

Injil hari ini juga berbicara tentang Yesus menyembuhkan sepuluh orang yang berpenyakit kusta. Hal ini dapat kita ketahui ketika Yesus mengadakan perjalanan ke Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Waktu itu Yesus memasuki suatu desa dan dari jauh orang kusta itu melihat Yesus dan berteriak minta dikasihani. Orang kusta itu berteriak keras dan mengatakan: “Yesus guru kasihanilah kami”. Pada waktu itu orang yang berpenyakit kusta dianggap tidak ada atau mati. Orang-orang tidak menerima mereka, mereka dikucilkan. Orang yang berpenyakit kusta itu dianggapkutukan atas dosa dosa yang mereka perbuat dan mereka mendapat ganjarannya dengan penyakit yang mereka derita. Tetapi Yesus berbeda dari orang orang Yahudi itu, Ia mendengarkan jeritan orang yang berpenyakit kusta itu dan mengabulkan permohonan mereka. Namun sebelumnya sama seperti yang dialami oleh Naaman dalam bacaan pertama tadi. Bahwa Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka bim sala bim sembuh, tidak. Yesus terlebih dahulu menguji iman dan kepercayaannya. Yesus menyuruh kesepuluh orang kusta itu untuk pergi menghadap imam. Sebab pada waktu itu dengan menghadap imam mereka dapat diterima dalam kalangan masyarakat. Kesepuluh orang kusta itu melaksanakan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka pergi menghadap imam. Namun dalam perjalanan sebelum sampai kepada imam, kesepuluh orang kusta itu mengalami penyembuhan. Mereka menjadi sembuh dan menjadi tahir.

Sesudah mereka sembuh dan tahir salah satu dari yang sepuluh itu yakni orang Samaria datang kepada Yesus tersungkur dihadapan-Nya dan mengucap syukur dan berterimakasih atas penyembuhan yang dia alami. Lalu Yesus bertanya kepada orang Samaria itu. Dimanakah yang sembilan orang lagi? Apakah mereka juga tidak ikut bersama denganmu?. Lalu Yesus berkata kepada orang Samaria itu bangun dan pergilah , imanmu telah menyelamatkanmu. Kesembilan orang itu tidak kembali kepada Yesus mereka tidak tahu mengucap syukur atas apa yang mereka terima. Sudah layak dan sepantasnya orang mengucap syukur dan terimakasih terhadap kebaikan orang kepadanya, Apalah susahnya mengucap syukur kepada Yesus sebab mereka sudah disembuhkan dari penyakitnya. Inilah orang-orang yang tidak tahu di untung atau seperti pepatah yang mengatakan kacang lupa akan kulitnya, sudah di tolong malah lupa mengucap syukur.

Bersyukur dan berterimakasih merupakan ungkapan yang paling mulia bagi orang orang yang berbuat baik. Mengucap syukur atau berterimakasih salah satu tindakan kita untuk menghargai pemberian dan kebaikan orang lain kepada kita. meskipun kecil pemberian itu ataupun tampaknya tidak bernilai itu harus kita syukuri. Bersyukur dan berterimakasih tidak harus memberi imbalan berupa materi atau berupa bentuk barang melainkan dengan mengatakan syukur serta terimakasih dengan tulus dan dari hati kita yang paling dalam itu sudah sangat berharga bagi orang lain.

Sekarang ini juga dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kita tidak sadar seseorang telah berbuat baik kepada kita namun kita tidak mengungkapkan apa-apa kepadanya. Pada hal itu mudah untuk diungkapkan. Apakah kata-kata itu kita ucapkan kepada orang lain atau kepada Allah atas apa yang kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari? Dalam suku Batak Toba terkenal kata ini yakni: “Dang di boto magona”. Kata kata ini dipakai untuk seseorang yang tidak tahu berterimakasih, tidak tahu mengucap syukur, tidak tahu malu atas apa yang diperolehnya dari orang lain ataupun dari Allah. Seperti sembilan orang berpenyakit kusta yang disembuhkan tadi dalam Injil. Seseorang itu berhasil atau hidupnya sukses karena orang lain tetapi dia tidak memperhitungkan kebaikan orang lain tersebut. Maka orang ini disebut orang yang tidak tahu diuntung. Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ini, apakah masih seperti yang terdapat dalam bacaan pertama tadi yakni Naaman dan orang Samaria yang terdapat dalam injil yang tahu mengucap syukur dan berterimakasih. Ma;lah sebaliknya dalam kehidupan kita sekarang ini masih mempunyai sifat seperti kesembilan orang dalam injil yang tidak tahu mengucap syukur itu? Tetapi kedua sifat ini pasti ada dalam kehidupan kita sekarang ini yakni bersyukur dan tidak bersyukur.

Mudah-mudahan dengan mendengar dan merenungkan sabda Allah ini kita dapat menempatkan diri kita kepada hal yang baik. Semoga dengan sabda Allah ini kita diajak supaya kita tetap bersyukur dan berterimakasih kepada Allah dan sesame. Kita percaya bahwa Allah selalu memperhatikan umat-Nya. Dan Allah tidak mau umatnya menderita malah sebaliknya. Meskipun kita susah atau senang kita harus tetap bersyukur dan berpegang pada penyelenggaraan Ilahi atas hidup kita. Kita pantas mengucap syukur dan berterimakasih kepada Allah. Hal ini dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari melalui lingkungan keluarga, masyarakat dan juga melalui yang lainnya. Ucapan syukur tidak harus dengan memberi imbalan berupa materi ataupun bentuk lain tetapi dengan ucapan kata-kata syukur dan terimakasih yang paling dalam dari diri kita. Ini merupakan satu hal yang paling berharga dan mulia atas pemberian orang lain kepada kita. Sebelum saya menutup kotbah ini saya mau menyayikan sebuah lagu yang berjudul “SYUKUR BAGIMU YA TUHAN”

REFF. Syukur bagi-Mu ya Tuhan, syukur bagi-Mu ya Tuhan

Karena dunia yang baik, dan yang bagus ini

Kau cipta bagi kami PutraMu. Reff

Kau slamatkan kami, dalam diri Yesus

Dan Kau bersama kami selalu. Reff

Terimakasih, amin.

Minggu XXXII

ADA KEHIDUPAN SESUDAH MATI

Bac. I: 2 Mak 7:1-2, 9-14, Bac.II: 2 Tes 2:16-

Injil. Luk 20:27-38

Hari ini kita akan mendengar tentang kehidupan sesudah mati. Bagaimana orang-orang benar dihadapan Tuhan hidup kembali karena mereka percaya akan hukum Allah dan melaksanakannya. Biarpun mereka mati, namun mati karena melaksanakan hukum Allah mereka bersedia. Sebab mereka yakin ada kehidupan sesudah mati. Zaman kita sekarang ini juga masih percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati. Ini jelas dapat kita ketahui dari adat dan tradisi kita masing-masing. Seperti orang batak, biasanya orang yang telah meninggal ada sesuatu yang diletakkan dalam peti matinya berupa pakaian, sepatu dan lain-lain. Mengapa ini dibuat supaya ada dipakai di dunia sesudah mati yakni dunia yang baru dimana mereka hidup bersama dengan Allah. Inilah yang dipercayai orang batak hingga saat ini juga.

Bacaan-bacaan hari ini juga berbicara tentang kehidupan sesudah mati. Orang benar dihadapan Allah akan memperoleh hidup bersama dengan Allah yakni didalam surga. Orang-orang yang tidak percaya akan Allah memperoleh kehidupan di neraka.

Dalam bacaan pertama kita telah mendengar dan mengetahui bagaimana orang-orang yang percaya akan hukum Allah mempertaruhkan nyawanya dan berani menderita bahkan sampai mati akibat hukuman dan tindakan yang kejam yang diberikan sang raja yang tidak percaya kepada Allah itu kepada mereka. Tetapi karena mereka percaya bahwa sesudah mati akan dibangkitkan oleh Allah mereka pasrah.

Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Makabe dimana tujuh orang bersaudara dan ibunya dipaksa oleh raja untuk memakan daging yang haram bagi mereka. Namun mereka tidak mau sebab mereka tidak mau melanggar hukum nenek moyangnya. Meskipun mereka dipaksa dan disiksa sampai mati mereka tetap tidak mau, mereka menolak perintah sang raja. Bahkan salah satu dari mereka berkata kepada sang raja. Kami lebih baik mati dari pada melanggar hukum Allah. Mereka berkata biarpun raja membunuh kami, kami tetap tidak melakukannya sebab kami yakin akan bangkit kembali bersama-sama dengan Allah. Seperti yang terdapat dalam mazmur yang mengatakan lebih baik satu hari dihalamanmu dari pada seribu hari ditempat orang asing. Maksudnya meskipun umur kami pendek atau singkat di dunia ini karena taat pada Allah kami yakin akan berbahagia bersama Allah. Dari pada lama hidup di dunia ini namun melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Allah. Orang seperti itu tidak akan dibangkitkan oleh Allah.

Dalam mazmur juga dikatakan bahwa orang benar dan yang melakukan kehendak Allah akan memperoleh kehidupan di surga bersama-sama dengan Allah. Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang menderita, disiksa bahkan mati karena percaya kepadanya memperoleh hidup di dunia pana. Zaman kita sekarang ini juga ada yang disebut mati martir dan ini diperingati dalam gereja kita sebab mereka mati karena membela iman akan Allah.

Dalam injil hari ini juga berbicara tentang kehidupan sesudah mati. Pada zaman Yesus sebagian orang sudah percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Namun ada sekelompok lain yang tidak percaya akan kehidupan sesudah mati yakni orang-orang Saduki. Kelompok Saduki adalah kelompok kaum imam. Mereka tidak percaya dengan kehidupan sesudah mati. Oleh sebab itu mereka mencobai Yesus dengan melontarkan pertanyaan mengenai perempuan yang menikah dan mempunyai tujuh orang suami. Dia menikah dengan yang pertama namun meninggal tanpa mempunyai keturunan. Sehingga harus dinikahi oleh saudaranya yang lain. Sebab dalam adat Yahudi bila tidak mempunyai keturunan tidak sah dalam pernikahan karena itu adalah meneruskan generasi. Kemudian suami yang kedua meninggal dan seterusnya sampai yang ketujuh. Perempuan itu juga meninggal. Orang saduki itu bertanya kepada Yesus siapakah yang menjadi suami dari perempuan yang mempunyai tujuh orang suami itu. Lalu Yesus menjawab, Dalam kehidupan yang baru tidak ada kawin dan dikawinkan sebab semua adalah anak-anak Allah yang baru. Mereka seperti malaikat. Allah kita juga bukan Allah orang mati melainkan Allah orang yang hidup. Kehidupan sesudah mati juga ada dan ini jelas dalam kematian Yesus dimana pada hari ketiga Yesus bangkit dari mati dan naik kesurga dan tnggal bersama dengan Allah. Inilah yang kita imani sebagai orang yang percaya akan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita percaya bahwa orang benar akan dibangkitkan oleh Allah dan memperoleh hidup yang kekal. Dan orang yang tidak percaya akan memperoleh hidup di neraka. Sekarang tergantung dengan kita. Apakah kita akan memperoleh kehidupan sesudah kematian? Surga atau neraka? Ada sebuah cerita, seorang anak kecil yang mempunyai seorang kakek yang memiliki gelar profesor doktor. Anak itu pergi ke halaman rumah mencari capung. Dan anak itu menangkap satu dan menggemgam capung itu di dalam tangannya. Lalu anak kecil itu bertanya kepada kakek itu. Kek coba tebak apakah capung yang ada didalam tanganku ini hidup atau mati. Lalu kakek itu berpikir sejenak. Bila saya katakan hidup anak itu akan mematikan capung itu. Bila saya katakan capung itu sudah mati. Anak itu akan melepaskan capung itu lalu terbang. Namun kakek itu mengalah supaya cucunya senang ia menjawab capung itu sudah mati. Kemudian anak kecil itu membuka tangannya dan capung itu terbang. Anak kecil itu berkata pada kakeknya, kakek kalah. Sekarang, kita sendiri yang menentukan kita memperoleh kehidupan sesudah mati (surga) atau neraka. Kuncinya ada di tangan kita. Amin.

TERDAHULU DENGAN MELAYANI

(Mrk. 9:30-37; Yak. 4:1-10)

Kita semua tahu, rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Juga tidak sama dengan tinggi hati. Rendah diri, pun tinggi hati adalah dua hal negatif. Rendah diri lebih kerap lahir akibat adanya tekanan (depresi). Rahmat yakni dirinya sendiri tidak mekar dan kurang berbuah dalam dirinya. Kalau tinggi hati atau kesombongan kerap lahir karena fanatisme diri serentak meremehkan orang lain. Keduanya BURUK! Lain dengan rendah hati, orang yang rendah hati lebih bebas pengungkapannya, berani tampil apa adanya tanpa kehilangan nilai dirinya yang sejati. Namun, dalam kenyataan rendah diri dan rendah hati kerap kabur dipahami. Kadang rendah diri dipakai menjadi senjata rasionalisasi untuk berendah hati. Karena rendah diri, potensi-potensi, bakat dan banyak anugerah lain tidak disalurkan, dengan itu orang berkata bahwa ia mau rendah hati. Keliru benar. Rendah hati tidak menutup diri akan realitas diri yang sebenarnya dengan segala kemampuan di dalamnya.

Perikop Injil kali ini mengajak kita untuk berendah hati yang benar. Kita mendengar bagaimana di jalan menuju Kapernaum, Yesus mendengar murid-muridNya bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus menegur mereka dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Anak kecil dalam tradisi bangsa Yahudi adalah orang yang tidak dihormati, tidak dihargai, dari mereka dituntut saja ketaatan, mereka tidak berhak bersuara. Yang mau diajarkan oleh Yesus adalah: menjadi rendah seperti anak kecil, yakni melayani saja. Anak kecil itu bukan hanya sebagai contoh, tetapi dalamnya Yesus mewahyukan diriNya. Ia seperti anak kecil, tidak mempunyai kuasa, tanpa hak, hanya taat saja kepada Bapa sampai mati bahkan mati di kayu salib. Tujuannya ialah melayani supaya umat manusia selamat. Pelayanan itu adalah suatu segi dari salibNya; mengosongkan diri, menyangkal diri, menjadi kecil, menjadi yang terakhir, bagai hamba yang tak berguna, yang dapat dipergunakan dan dibuang sebagai sampah. Ia hidup sebagai hamba Allah dan manusia. Yesus mencintai anak-anak kecil yang rendah itu karena sifat-sifat itu dilihatNya dalam mereka. Ia memihak kepada orang yang rendah hati karena memang ‘Allah membenci orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.’

Ada begitu banyak orang di dunia ini seperti murid-murid yang bertengkar mengenai siapa yang terbesar. Pertanyaan Rasul Yakobus dalam suratnya amatlah tepat menggambarkan situasi demikian: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Serentak, ada begitu banyak juga orang yang bernasib seperti anak kecil tadi, yang tak berdaya itu. murid-murid Yesus yang sejati harus siap menjadi pelayan bagi mereka. Ia berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini, ia menyambut Aku.” Dengan kedatanganNya ke dunia Yesus telah mengajarkan pola pikir baru yang bertentangan dengan pikiran manusia yang mau menjadi besar hanya karena kuasa (memerintah). Bagi Yesus menjadi besar harus seperti anak kecil itu yang kebesarannya justru nampak dalam pelayanan kepada sesama. Orang yang mau melayani hanyalah orang yang rendah hatinya.

Hukum diperuntukkan bagi manusia.

(Luk. 6: 1 – 5; I Kor. 4:9-5))

Dalam budaya dan adat istiadat Batak Toba dikenal istilah Marbao. Marbao adalah relasi antara istri seseorang dengan suami kakak atau adik perempuannya. Secara hukum dalam adat Batak Toba mereka tidak boleh berkomunikasi seorang terhadap yang lain. Bahkan lebih tegas dikatakan tidak boleh duduk dalam satu jalur lantai rumah (papan, lantai rumah adat Batak Toba). Hukum ini pada awalnya dimaksudkan untuk menghindari bahaya perselingkuhan. Karena itu, sangat dilarang menikahi bao kalau ia menjadi janda. Pada perkembangan selanjutnya, budaya marbao tetap dijalankan meski mungkin generasi yang berikut tidak ingat lagi apa tujuan awal dari marbao tersebut (yakni menghindari adanya perselingkuhan). Pokoknya yang menjadi pegangan bahwa mereka tidak boleh berbicara seorang dengan yang lain meski misalnya seorang melihat bao-nya tertimpa musibah. Hukum demikian rasanya terlalu kaku.

Perikop ini mengingatkan kita betapa hukum yang terlalu kaku itu tidak baik. Ketika murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya, Orang-orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Pertanyaan Orang-orang Farisi ini hendak menegur mereka mengapa tidak taat pada hukum yang berlaku dalam adat Yahudi. Yesus mencela dengan mengingatkan mereka pada apa yang pernah dibuat oleh Daud. Ketika Daud dan para pengikutnya sedang lapar, mereka masuk ke rumah Allah dan mengambil roti sajian lalu memakannya padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Yesus mau menegur Orang-orang Farisi yang taat secara buta terhadap hukum tanpa tahu lagi untuk apa sebenarnya hukum itu dibuat. Pokoknya, hari Sabat yah tidak boleh bekerja, itu saja. Padahal kita tahu, Yesus tidak pernah mau menghapus hukum yang lama, ia mau menyempurnakannya. Ia mau menggenapinya. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Penafsiran Yesus ini telah merobek kulit ‘perfeksionisme’ manusia yang kaku dan membawa kembali orang-orang pada para bijak pendahulu Daud. Jadi, hukum ilahi mengenai kelangsungan hidup mempunyai hak-hak yang mengatasi hukum-hukum liturgis Musa.

Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja kita, dikenal istilah “Salus animarum suprema lex” (keselamatan jiwa-jiwa adalah undang-undang yang tertinggi). Jelaslah, bahwa hukum diperuntukkan bagi manusia dan bukan sebaliknya manusia mengabdi kepada hukum. Penghargaan atas martabat manusia tetaplah undang-undang yang tertinggi, mengatasi segala hukum manapun. Itu harus menjadi pegangan. Kritisisme Yesus atas penerapan hukum ini merupakan hal baru yang membuka cakrawala kita. Kita teringat akan hukum utama dan pertama yang pernah disabdakanNya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Aturan dan hukum haruslah dipandang dan dihayati dalam bingkai cintai.

TIDAK MELEKAT PADA “HARTA YANG SEMENTARA”

Luk. 8:1 – 3

I Tim. 6:2b – 12

Sebuah cerita ringan nan bermakna: “Seorang Guru sedang bermeditasi di tepi sungai. Muridnya datang, membungkuk, dan meletakkan 2 butir mutiara indah di kakinya sebagai tanda hormat-bakti. Guru membuka matanya, mengangkat salah satu butir mutiara itu dan memegangnya sembarangan sehingga mutiara itu jatuh dan menggelinding masuk ke dalam sungai. Murid itu cemas dan segera meloncat masuk ke dalam sungai. Akan tetapi, meskipun berkali-kali menyelam ia tidak berhasil. “Guru tahu di mana mutiara itu jatuh. Tunjukkanlah tempatnya supaya saya dapat mengambilnya,” kata sang murid. Guru itu mengangkat mutiara yang lain, melemparkannya ke dalam sungai dan berkata, “Di situ!!!”

Guru dalam cerita di atas meyakinkan kita bahwa benda (harta duniawi) tidak dapat sungguh dimiliki. Justru, manusia menjadi ‘penguasa ciptaan’ ketika ia tidak melekat padanya. Tidak dikatakan bahwa harta tidak penting, tetapi melekat padanya membuat hati kita terpaku pada yang sementara, lupa pada yang abadi “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat.6:21). Sementara manusia harus mengabdi Tuhan dengan utuh dan hati tak terbagi, maka mustahil baginya mengabdi dua tuan sekaligus. “Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain.” (Mat.6:24). Pada 1 Tim 6:7.9 dikatakan:”Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat…..kebinasaan.” Meminjam bahasa Ayub, kita ‘keluar dari rahim ibu dengan telanjang dan dengan telanjang akan kembali ke dalamnya.’ Perempuan-perempuan (Maria dari Magdala, Yohana isteri Khuza, dan banyak permepuan lain) dalam perikop Injil yang kita renungkan saat ini sangat bijaksana. bukannya melekat pada harta duniawi, tetapi mereka melayani rombongan Yesus dan para murid yang baru saja berkeliling memberitakan Injil KA. “Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (ay.3b).

Para perempuan dalam Injil memberi teladan kepada kita bahwa benda, materi, harta kekayaan pada dirinya tidak cemar dan berdosa., Namun, selekas manusia melekat selekas itu pula ruan bagi Allah tertutup. Manusia berpikir bahwa orang akan memiliki kulitas lebih jika memiliki harta yang lebih banyak. Harta menjadi ukuran. Padahal (seperti kata Henri J.M.Nouwen) “Harta manusia tidak sama dengan jati diri manusia itu. Manusia jauh lebih berharga dari pada apa yang dapat dihasilkannya, dari pada apa yang dimilikinya.” Tuhan mencintai kita sebagaimana kita ada bukan sebagaimana kita berkarya atau memiliki benda/harta.

UCAPAN BAHAGIA

Minggu Biasa IV:

° Zef. 2:3, 3:12-13

° I Kor. 1:26-31

° Mat. 5:1-12

Saya teringat akan masa kecilku di kampung. Ketika itu, saya seorang yang sangat rajin bekerja. Tanpa disuruh sekalipun oleh orang tua, saya sudah pergi bekerja ke ladang. Begitulah, suatu hari saya mendengar ibu-ibu di depan rumah kami bercerita tentang banyak hal. Mereka bercerita mulai dari yang paling kecil sampai ke hal-hal yang paling serius. Termasuk di dalamnya saya dengar litani pujian dan keluhan tentang anak-anak mereka. Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang hampir sepanjang hari tidur terus mulai dari pagi sampai ke pagi berikutnya diselingi kadang-kadang ke luar rumah, ke warung kopi misalnya. Ada juga ibu yang mengeluhkan anaknya yang sering mendapat nilai rendah di sekolah dan biasa menjadi ranking terakhir, maklum IQ sudah rendah dilengkapi lagi karena seringnya dia membolos dari sekolah. Tiba-tiba saya dengar seorang ibu berkata kepada ibu saya begini: “Ah..Mama si Benny inilah yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bapak itu baik, anak-anaknya baik dan rajin bekerja belum lagi semua mendapat ranking di sekolah. Alangkah senangnya punya anak-anak seperti mereka,” demikian pujian ibu itu. Ketika mendengar litani pujian ini spontan saya terkejut sekali, terkejut karena gembira. Saya tidak menduga sebegitu tinggi penilaian orang terhadap kami; apalagi merasa bahwa saya dan adik-adik tidaklah sehebat pujian itu. Maka, saya bertambah semangat dalam hidup berkat pujian-pujian itu.

Benar atau tidak pujian mereka bukan itulah yang terpenting. Emosi gembira yang timbul spontan karena pujian itu, menggugahku ketika mempersiapkan renungan ini. Luapan gembira yang saya dengar itulah yang juga saya kira dirasakan oleh mereka yang mendengar kotbah Yesus di bukit; ‘Berbahagialah kamu…..’ Betapa gembira dan bersemangat dan bahagianya mereka. Mereka tentu ‘dihidupkan lagi’ karena litani pujian itu, sebab Sabda Bahagia Yesus ini terutama menyentuh pendengarNya yang nyata-nyata adalah orang-orang yang sederhana (yang tak terpandang pada zamannya). Dan begitulah memang salah satu sifat manusia, suka dipuji. Yang kiranya menjadi perhatian dan kekaguman kita adalah ini: betapa Yesus adalah seorang pengkotbah yang ulung dan punya wibawa, Dia begitu mengerti psikologi massa (dengan ucapan berbahagia) dan memadukannya dengan inti-inti pengajarannya (mereka yang miskin, mereka yang berdukacita, mereka yang lemah-lembut,…..dst). Kata “berbahagialah….” Yang dipakai oleh Yesus itupun kena sasarannya, demi tujuan pewartaannya disertai cara yang baik.

Dalam Bacaan pertama kita mendengar : ‘Mereka yang hanya mencari Tuhan (yang bermegah hanya di dalam Tuhan); orang yang rendah hati dan lemah yang hanya mengandalkan Tuhan saja,’ orang demikianlah yang berbahagia. Mengandalkan Tuhan tentu punya arti bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi poros dan fokus hidup mereka. Mereka bukan lagi anak-anak kegelapan – tidak melakukan kelaliman, atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu. Orang demikianlah yang sesungguhnya berbahagia, yang bagi dunia adalah suatu kebodohan. Tetapi justru, yang ‘bodoh bagi dunia, yang lemah, dipilih oleh Allah untuk memalukan orang-orang yang kuat dan apa yang terpandang hina bahkan yang tidak berarti dipilih oleh Allah untuk meniadakan apa yang berarti.’

“Berbahagialah orang yang miskin, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Allah,” mau menyatakan bahwa bukan kemiskinan itu yang membuat manusia berbahagia, tetapi mereka yang selalu berharap akan Allah. yang pertama-tama dimaksud oleh Matius adalah mereka yang miskin dalam Roh. Mengapa dikatakan bahwa orang miskinlah yang berbahagia? Karena orang miskin itu tidak mungkin mengandalkan dirinya sendiri sebab harta tidak dimilikinya. Dia hanya berharap melulu pada belaskasih orang dan terutama pada belaskasih Tuhan. Kekayaan pada dirinya sebenarnya tidak salah, tetapi ketika orang mulai melekat pada hartanya, di sinilah letak kesalahannya. Kekayaan boleh dipandang positif, hanya perlu diingat jangan melekat pada yang sementara. Tetapi, kerap juga kita melihat dan mungkin alami, harta benda lebih cenderung menggoda kita untuk melekat. Keadaan inilah yang akan mengawali pada kebinasaan. Jika harta sudah habis, maka pupuslah juga harapan hidup. Padahal harta itu sendiri, tidak kekal, hanya sementara.

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, sebab mereka akan dipuaskan.” Yang dimaksud pertama-tama adalah mereka yang tugas pokok dalam hidupnya memenuhi kehendak Allah saja.

Ada pergantian dari berbahagia karena ketergantungan kepada Allah (miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar akan kebenaran), menjadi berbahagia karena tindakan-tindakan kita yang meneladan Allah.

Apa arti murah hati? Dalam Kitab Suci terdapat berbagai bentuk kata murah hati yang dipakai lebih banyak untuk menyatakan kemurahan hati Allah daripada kemurahan hati manusia. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita bermurah hati kita bertindak seperti Allah. Secara umum, bermurah hati adalah mengampuni yang salah dan memberi kepada yang miskin.

Menjadi “suci hati” tidaklah berarti menghindari pikiran yang tidak murni, tetapi berarti memiliki integritas dan kebulatan hati. Kita dapat mengatakan “kebulatan hati”, yang berarti mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita dikhususkan bagiNya, dalam arti ini, murni, bagaikan kurban yang tiada bercela.

Damai dalam arti biblis bukan hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi merupakan keadaan utuh, kepenuhan dan kelimpahan. Orang-orang pencipta perdamaian merupakan saluran kurnia Allah. St. Fransiskus bermegah dengan mengatakan, “Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai ‘kan kudamaikan silang-selisih!”

Sabda Bahagia yang pertama sampai ketujuh mempunyai pengertian yang menjelaskan syarat-syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan orang yang memenuhi persyaratan ini disebut orang yang berbahagia. Sabda Bahagia yang kedelapan (ayat 10) dan perluasannya dalam ayat 11 dan 12, mau menegaskan bahwa seorang pengikut Kristus yang sejati itu harus diuji. Sebagaimana pada zaman kekristenan awal banyak orang dianiaya; banyak yang menjadi martir. Sekarang ini, sebagian besar dari kita tidak dianiaya ataupun dirugikan karena menjadi Kristen. Tetapi bila kita harus berpendirian kuat mengenai isu yang berkenaan dengan moral pada zaman ini misalnya soal aborsi, pelecehan seksual, etik kerja atau mengenai banyak hal, tentu kita akan mengalami banyak hal sebagaimana disebutkan Yesus dalam kotbah ini. Yesus tentu menghendaki kita menjadi saksiNya dan hal ini bisa membuat hidup kita kurang menyenangkan; meski membahagiakan untuk hidup akhirat.

Sabda Bahagia ini ditutup dengan kalimat yang bernada akhir zaman: ‘Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.’ Inilah yang menyemangati kita kembali. Kita akan mengambil bagian dalam kebahagiaan yang akan diberikan oleh bentuk kehidupan yang lebih penuh dengan Allah. Hidup kita yang hanya mengandalkan Tuhan itu ternyata lebih kekal ketimbang kesusahan, penganiayaan yang kita alami di dunia ini. Selayaknya kita bergembira karena janji itu, karena Tuhan tidak pernah melupakan kita. Dengan demikian, mendengar seruan kotbah Yesus di bukit ini membuat kita semakin berani untuk menjawabnya, karena seruan ini menjadi semakin berarti. Apapun kesulitan kita, kita adalah orang yang berbahagia, karena kita bertindak menurut teladanNya. Dia telah menderita bagi kita dan telah berjanji bahwa kesaksian kita tidaklah sia-sia. AMIN!!!!!

Leave a comment »

PERTOBATAN FRANSISKUS DAN ‘KITA’: option for the poor.


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PERTOBATAN FRANSISKUS DAN ‘KITA’: option for the poor.

Dari buku-buku yang memuat kisah Fransiskus dapat ditarik 3 hal (peristiwa) yang sangat menentukan pertobatan Fransiskus. Pertama, pertemuannya dengan orang kusta, di mana kepahitan menjadi kemanisan bagi F. “Apa yang dulu pahit bagiku, kini berubah jadi kemanisan jiwa dan badan…,” sepenggal kata-kata F dalam wasiatnya. Kedua, dalam perjalanan kembali ke Assisi, ia tiba di San Damiano dan berdoa di depan salib:”Allah yang Maha Tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku ya Tuhan, perasaan peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus dan takkan menyesatkan.” Dari salib terdengar suara:”Perbaikilah rumahKu yang mau roboh!” Dengan lebih syahdu dalam iringan melodi dan nada suara akan dikumandangkan saudara-saudara tingkat II nanti (SABAR SAJA!!!). Ketiga, pengadilan di mana ayah Fransiskus menuntut anaknya F di depan uskup Guido sebagai hakimnya. F menanggalkan semua pakaiannya dan melemparkannya kepada ayahnya. Dengan telanjang bulat di depan orang banyak F berkata dengan suara nyaring:”Mulai sekarang dengan dengan sungguh dapat kukatakan “Bapa Kami yang ada di Surga”. Serentak dengan itu, semua makhluk manusia dan non-manusia dihayati sebagai saudara, anak-anak dari Bapa yang satu dan sama; orang-orang kusta, miskin, kaya, Kristiani, Muslim, dan semua elemen lingkungan hidup lainnya. Tiga persitiwa ini sangat berarti dan sangat menentukan dalam pertobatan F meski memang kita tahu bahwa sedari awal pertobatan F adalah sebuah proses.

Dalam refleksi mengenai tema pertobatan F ini, satu hala yang sangat menarik bagiku dari 3 peristiwa pertobatan F di atas dan itulah yang mau saya angkat dalam permenungan kali ini: soal perjumpaan F dengan orang kusta. Baik diulang apa yang dikatakan oelh St. F dalam wasiatnya:”Beginilah Tuhan telah menganugerahkan kepadaku, Sdr. F, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Tetapi, Tuhan sendiri mengantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Dan setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan, dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia.” Hal senada diceritakan dalam “legenda maior” yang ditulis oleh St. Bonaventura (hal.8): “Dari situ ia selaku pencinta kerendahan hati sepenuhnya pergi kepada orang kusta dan tinggal serta mereka. Dengan amat rajin ia melayani semua demi Allah. Dibasuhnya kaki mereka, dibalutnya borok mereka, dikeluarkannya borok dari jaringan-jaringan dan dibersihkannya kotoran dari luka-luka. Malahan karena baktinya yang menakjubkan ia yang tak lama kemudian akan menjadi tabib Injil, mencium luka yang bernanah. Oleh sebab itulah ia memperoleh kekuatan yang amat besar dari Tuhan sehingga ia mendapat kemampuan yang menakjubkan dalam melenyapkan secara ajaib penyakit-penyakit rohaian dan jasmaniah. Suatu hari di daerah Spoleto ada seorang pria yang menderita penyakit yang mengerikan, sampai mulut dan pipinya digerogoti oleh kebusukan dan ia tidak dapt ditolong dengan obat manapun juga. Maka terjadilah, bahwa orang itu mengunjungi makam Rasul-rasul untuk memohon pahala Rasul-rasul itu. Ketika ia kemudian berjalan pulang dari ziarah itu, ia kebetulan berjumpa dengan hamba Allah, tetapi hamba yang rendah hati itu tidak membiarkannya; tetapi orang yang hendak mencium kakinya itu malah dicium mulutnya.” Pokok-pokok inilah yang menjadi landasan permenungan kita ke depan yakni bagaimana F, pengagum Kristus yang rendah hati itu menyatakan pertobatannya dengan mengabdi pada orang-orang yang terpinggirkan/tak terhitung di zamannya. (option for the poor F, biasa kita sebut).

Sdra/i (para fr, sr, br…) sekalian, dalam perikop Injil yang baru kita dengar tadi diceritakan tentang seorang kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Pada zaman Yesus (juga F) penyakit kusta diyakini sebagai kutukan bagiorang yang menderita penyakit itu. Mereka adalah kaum terisolir dan terpinggirkan, tidak dihargai sebagai manusia cara wajar. Maka, mendengar nama Yesus, orang malang yang penuh dengan kusta itu segera “tersungkur dan memohon”. Dengan sikap ini, si kusta menyadari ketidaklayakannya dan tahu bahwa ia adalah orang tersisih. Yesus penuh kuasa, orang kusta itupun segera sembuh. Si kusta (atau tepatnya mantan kusta itu) bukan main girangnya sehingga kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan berbondong-bondonglah orang sakit datang kepadaNya.

Bagaimana dengan F sendiri? P. Adelbert (ompung) menuturkan dengan sangat indah dalam majalah ‘Persaudaraan’ Kapusin Propinsi Medan edisi Jan-Mrt 2006: “Dalam sejarah hidup F, tidak ada orang kusta, orang lumpuh ataupun orang buta yang datang ke hadapan F dengan permohonan “Buatlah aku sembuh…!” yang menonjol bukan ornag kusta yang datang kepada F dengan harapan pertama-tama agar sembuh secara tetapi sebaliknya! Dalam wasiat St. F sangat jelas dikatakan: “Tuhan sendiri yang mengantar aku ke tengah-tengah mereka….dan aku tinggal bersama mereka.” Frase Tuhan sendiri dan kata tinggal memberi arti yang mendalam. F adalah hamba rendah hati dan bukan Tuhan yang utamanya punya kuasa menyembuhkan. Ia adalah abdi Tuhan, selebihnya tidak. F menjadi sesama bagi mereka yang kecil, menjadi sahabat, saudara, dan famili mereka. Memang seruan mendalam dalam hati setiap manusia khususnya orang tersisih (kusta, cacat, dll):”Terimalah aku…” Mereka butuh perhatian dan penerimaan. Dengan demikian kehadiran F mempertinggi mutu kehadiran.

PENUTUP – bagaimana dengan kita (menerjemahkan “yang miskin” dalam konteks zaman sekarang)

Lantas, bagaimana pertobatan F itu sungguh mengilhami ki ta di zaman sekarang ini? Dalam sejarah ordo Kapusin, banyak sudara yang terjun dan dekat dengan orang-orang kecil (kaum marginal). Ketika wabah sampar menyerang, banyak saudara yang malah berbondong-bondong untuk melayani mereka meski penyakit itu sungguh berbahaya. Sungguh, mereka adalah pengikut-pengikut F yang sejati. Memang, umumnya para pengikut F itu amat dekat dengan orang kecil, itu menjadi kekhasan. P. Elpidius van Duijnhoven (ompung dolok) – rasul di daerah kami (Simalungun), P. Kerkers, P. Benyamin Djikstra, P. Diego, dll adalah contoh-contoh panutan yang masih dekat dengan zaman kita. Mereka sangat dekat dengan masyarakat (umat) yang miskin, tinggal dan bersahabat dengan mereka. Saya kira para suster juga punya tokoh-tokoh idola yang tak kalah hebat dari mereka…… Dan, kita semua yang hadir di sini adalah generasi selanjutnya dari mereka.

Saudara/i, saat inipun kita berhadapan dengan banyak orang “miskin”, baik itu teman-teman, umat, kenalan, orang yang kita jumpai, dst. Dalam zaman kita mungkin orang-orang miskin bisa lebih diperluas lagi; tidak sebatas yang berpenyakit fisik saja. Orang-orang kusta/miskin perlu diterjemahkan dengan cara baru pula. Di sekitar kita banyak orang miskin: mereka yang tersisih dalam lingkungan pergaulan, mereka yang lemah dalam studi, doa, kerja, mereka yang mungkin kurang berbakat baik dalam O.R, seni, dll, yang gampang putus asa, yang menghadapi masalah tertentu,…banyak lagi. masing-masing kita punya kelemahan juga kekuatan tersendiri. Menerima fakta ini membuat kita menjadi orang yang benar-benar abdi. Pertanyaan refleksi bagi kita, sungguhkah pengosongan diri Fransiskus yang dekat dengan orang-orang tersisih masih mengilhami kita? Masihkah pengingkaran diri sebagai buah pertobatan F masih menjiwai kita sebagaimana para pendahulu kita tadi? Kita yakin dan percaya bahwa KASIH menyembuhkan semua orang baik yang menerima maupun yang memberikannya. Dari pengalaman kita semakin yakin bahwa saling mencintai, saling menerima kelemahan dan kekuatan (maklum), membuat kita berbuah ganda. Lagi, mencintai orang-orang miskin dalam arti baru, dekat dengan mereka, menjadi sahabat, teman, dan keluarga bagi siapa saja menghasilkan suatu energi yagn besar terlebih bagi orang tersebut; cinta dan perhatian kita mampu menumbuhkan buah dan ‘kesegaran’ mereka yang papa di sekitar kita. Memang kerap kita lupa, dan itu sangat manusiawi tak perlu kita sesali. Kecenderungan manusia kita memang lebih tertarik kepada yang kuat, yang lebih bergengsi, yang terpandang, kaya,…..Untuk itu marilah kita berdoa bersama dengan doa St. F dengan doa di depan salib San Damiano yang sebentar lagi akan kami lantunkan; kita mohon kekuatan dari Tuhan agar kita mampu, kita resapkan maknaya dalam hati kita masing-masing:

mauliate:sdrbennyardimanurung.

Leave a comment »

FRANSISKUS, LINGKUNGAN HIDUP, DAN KEBERPIHAKANNYA


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:normal;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1881480200; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:507814526;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:2045402570; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:67698703;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

FRANSISKUS, LINGKUNGAN HIDUP, DAN KEBERPIHAKANNYA

I. PENGANTAR

“Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala bintang melata yang merayap di bumi,” firman Allah (Kej.1:26). Allah menjadikan manusia berkuasa tetapi tidak identik dengan eksploitasi dan penghancuran. Penerjemahan arti berkuasa sedemikian mewarnai rusaknya alam yang kita huni sekarang ini. berkuasa berarti mencintai, menghargai, menggunakan, mengolah bukan semata-mata demi kepentingan sepihak (manusia) tetapi demi kesejahteraan semua baik makhluk human pun infra human. Hildegarde dari Bingen menulis: “Bahwa bumi sekaligus sebagai ibu, dia adalah ibu dari segala yang alamiah, ibu dari segala kemanusiaan. Semua ciptaan datang dari bumi….” Saat ini, idealisme itu semakin jauh dari realitas. Dengan bengis manusia menyisakan kegetiran dan kengerian demi kepentingannya saja.

Fransiskus adalah seorang ekolog, cintanya pada lingkungan hidup adalah wujud cintanya terhadap Pencipta. Menjadi pengikutnya, ‘memaksa’ saya untuk meneladani sikapnya yang sarat cinta dan sayang pada lingkungan hidup. Dengan tulisan singkat ini, saya mau berefleksi serentak menumbuhkan sikap dan komitmen atas semangat Bapa Fransiskus. Membahas mengenai lingkungan hidup adalah tema yang menarik, apalagi zaman sekarang yang dilanda isu (atau lebih tepat fakta) semakin minimnya perhatian/keyakinan orang akan kesejatian lingkungan hidup itu sendiri.

II. SEGELINTIR KISAH-KISAH FRANSISKUS

1. Berkotbah kepada burung-burung

Dalam Kisah Ketiga Sahabat dikisahkan pengalaman unik St. Fransiskus. Ketika St. Fransiskus dekat kota Bawangnya, ia pergi kepada burung-burung untuk mengutarakan isi hatinya. Katanya: “Sang Pencipta telah menganugerahkan banyak kebaikan kepadamu. Ia telah memberimu bulu-bulu yang indah dan sayap-sayap supaya kamu boleh melayang dan terbang. Sang Allah Yang Maha Baik melindungi keluargamu.” Mendengar lentingan suara orang suci itu, burung-burung itu tidak takut. Mereka mendengarkan dia penuh perhatian.

2. Serigala dari Gubbio

Ada seekor serigala yang bukan hanya memangsa binatang tetapi juga manusia. Serigala ini amat ditakuti warga setempat. Oleh karena itu, banyak orang melarang sekaligus tidak percaya bahwa Fransiskus begitu nekat ingin berjumpa dengan serigala itu. Tetapi Fransiskus teguh pada keyakinannya, bahwa serigala itu adalah sahabat. ketika serigala itu melihat ke arah Fransiskus, iapun menyerbunya dengan cakar-cakar terbuka. Ketika ia mendekat, Fransiskus membuat tanda salib di atasnya seraya menyapa: “Saudara Serigala! Demi nama Kristus aku memerintahkan kepadamu, jangan menyerang aku atau orang lain!” Imannya menang, serigala itu taat.

3. Cacing di tengah jalan

Ketika melihat cacing sedang bergeliat di tengah jalan, Fransiskus jadi iba. Lalu, diliputi kasih sayang dia memindahkan cacing tersebut ke tempat yang aman agar tidak terinjak orang yang lewat.

4. Seekor kelinci yang terperangkap

Pada suatu hari dalam perjalanan melintasi Greccio, kota di mana Fransiskus mengikutkan hewan-hewan pada gua Natal pertama di dunia, sang santo berjumpa dengan seekor kelinci yang terperangkap. Fransiskus membebaskan hewan tersebut dan berkata: “Saudaraku kelinci, kemarilah!” Si kelincipun melompat ke atas tangannya dan tinggal di sana sampai sang santo menyuruhnya untuk kembali ke dalam kandangnya.

5. Benda-benda matipun adalah saudara

Fransiskus tidak berhenti pada hewan-hewan hidup dan bernafas saja, ia membuka tangan bagi semua elemen ciptaan Tuhan; di sana juga ia menemukan Tuhan. ia melarang para saudara membuang bara yang setengah membara ke arah angin; ia menghendakinya ditaruh dengan lembut di tanah karena rasa hormatnya pada Dia yang telah menciptakannya. Bahkan ia menyebut saudara api ketika besi panas yang hendak mengobati kebutaannya itu didekatkan ke matanya. Ketika kematiannya sudah mendekat, ia dengan berani menyapa ‘saudari maut’.

III. MENGAPA FRANSISKUS SEDEMIKIAN CINTA?

Manusia modern yang serba kritis bisa saja meragukan ‘kebodohan’ St. Fransiskus. Perilaku ekstrem; menyapa burung, menyelamatkan cacing, berbicara dengan serigala yang menakutkan, dll tampaknya kurang menyentuh soal kekinian. Apa yang membuat Fransiskus tenggelam begitu dalam pada apa yang dijumpainya? Apa yang membuat dia begitu tergila-gila dengan semua elemen lingkungan hidup itu? Satu hal yang paling mendasar bahwa Fransiskus amat mencintai Allah sedemikian besar sehingga ia menginginkan seluruh ciptaan ikut bersamanya. Itulah alasan mengapa ia sering berkotbah kepada hadirin non-manusia. Ia tengah mendorong semua ciptaan Tuhan untuk memuji Allah dengan cara unik masing-masing. Ia tidaklah sinting, primitif, dan kuno dengan berpura-pura bahwa alam ini memiliki karakterisitik manusiawi.

Fransiskus berusaha menyangkal diri dengan menyamakan diri dengan ciptaan lain. Dia merasa hina, rendah, dan tidak berarti. Pengakuan ini selalu dilatarbelakangi suatu keyakinan bahwa semua yang ada di atas bumi berasal dari Pencipta yang sama dan satu. Kepekaan iman sedemikian tinggi membuat ia berani mencinta, hingga menyentuh segala aspek ciptaan paling rendah sekalipun. Tidak menghargai ciptaan berarti tidak menghargai Allah. Tetapi, bukan berarti pula ciptaan dan Pencipta adalah sama (bdk. Kaum pantheis). Allah dan alam adalah terpisah, meski saling terkait. Ia tidak memuja alam, yang ia pandang tidak sempurna dalam beberapa hal, seperti halnya keadaan manusia yang sangat jelas tidak sempurna. Tetapi, ia memuji Allah melalui alam itu.

IV. ALAM YANG SEMAKIN “DIMILIKI”

- Fransiskus pencinta alam berhadapan dengan fenomena hangat zaman sekarang ­-

Kalau dibandingkan, zaman Fransiskus memang sudah amat beda dari sekarang. Terlepas dari berubahnya zaman dan alam juga karena sudah sulit ditemukan pribadi-pribadi seperti Fransiskus yang cinta pada lingkungan hidup. Saat ini manusia menghancurkan beberapa tahun saja karya agung yang dikerjakan berabad-abad lamanya. Tanpa sadar, manusia menggali kebinasaannya sendiri. Anthony Mille, S.J. dalam bukunya “Dunia di Ambang Kepunahan” memaparkan dunia yang kita huni ini tidak berumur panjang. Indikasi ke arah itu banyak sekali: banjir, gelombang panas, lubang ozon, el nino, dan la nina. Ia di ambang kepunahan andaikata para penghuninya tidak cepat mengambil sikap konstruktif dan terpadu secara global.

Pada kesempatan ini, ada 2 hal yang menjadi sorotan dan refleksiku yakni: pemanasan global (global warming) dan pembalakan hutan (alam) secara liar. Saya tidak mau mengulasnya sampai tuntas, cukuplah sekilas. Dua fenomena in menjadi bahan diskusi hangat yang mencuat akhir-akhir ini di planet bumi kita.

a. Global Warming (pemanasan global)

Para ilmuwan sepakat, pemanasan bumi disebabkan peningkatan CO2 di atmosfer. Konsentrasi CO2 meningkat 25% setelah Revolusi Industri di Inggris. Pusat pemantau cuaca Amerika di Mauna Loa, Hawaii, memperlihatkan kenaikan CO2 18 % dari tahun 1958-2002 dan kenaikan suhu dari 0,5 hingga 2 derajat Celcius. Menarik menyimak artikel KOMPAS rubrik opini, Selasa, 11 September 2007 berjudul “Pemanasan Bumi dan Dosa Arsitek.” Di sana coba dipaparkan dampak negatif dan penyebab pemanasan global. Badai laut, topan tornado, bencana alam, dan cuaca ekstrem adalah indikasi dari pemanasan global. Situasi demikian mengancam ‘ketenangan’ es di Kutub Utara dan Selatan. Dikatakan bahwa arsitek berperan besar dalam memanaskan bumi sebab mereka merancang kota, mengubah wajah kota, dan mengukir permukaan tanah kota. Kekeliruan tangan arsitek dalam memanaskan bumi lebih berpotensi membinasakan manusia ketimbang para teroris. Namun bagi saya pribadi, kita tidak boleh hanya menyudutkan para arsitek. Dalam arti tertentu mereka tidak boleh disalahkan seorang diri; setiap orang bertanggung jawab menyelamatkan bumi dengan menanam pohon (dan tanaman lain) mengimbangi penyebab polusi udara. Diskusi akan semakin problematis jika peran arsitek dikaitkan dengan tuntutan zaman modern sekarang.

b. Pembalakan alam (hutan) secara liar

TEMPO edisi………..menyorot khusus mengenai hutan di Kalimantan……..

Tentu belum lekang dari ingatan kita beberapa waktu lalu (dan mungkin sampai sekarang) perihal ekspor asap dari hutan Indonesia ke negara tetangga, Malaysia. Di daerah kita ini, PT TOBA-PULP LESTARI yang amat meresahkan warga setempat masih tetap beroperasi, masih aktif. Alam yang semakin genting ini adalah buah dari kerakusan dan sifat loba manusia yang terlibat di dalamnya. Padahal, alam sebagai ciptaan dalam dirinya adalah baik adanya. Meniru ucapan J.J. Rouseau (1756):”Alam tidak pernah membangun rumah yang runtuh menimpa penghuninya.”

Melihat fenomena ini, lingkungan hidup tampaknya tinggal yang buram saja dan tidak menampakkan kepada kita nilainya yang sejati karena dieksploitasi dan digunakan secara paksa. Alam kini dipandang sebagai ‘milik.’ Inilah biang keburaman itu. Memprihatinkan bahwa pada zaman kita ini orang tidak lagi percaya akan peranan pelayanan alam bagi manusia. Begitu diharapkan munculnya jiwa seperti Fransiskus di zaman ini; jiwa yang penuh perhatian pada lingkungan hidup. Jiwa sedemikian akan membuat alam tidak lagi yang membinasakan melainkan berfungsi menyembuhkan, menghibur, mengajar, dan menjadi sumber hidup yang takkan pernah layu.

V. PENUTUP

Bapa Fransiskus adalah seorang pencinta lingkungan hidup (ekologi). Dalam dan melalui ciptaan dia dapat sampai kepada permenungan mendalam kepada Pencipta. Dengan menghormati alam, dia berkuasa atasnya. Fransiskus menjadi pionir yang bertindak sebagai tuan dengan memakhlukkan alam; ke-kuasa-annya terletak di situ. Ia jadi tuan sekaligus abdi yang butuh alam sehingga menaati hukum alam. meneladani hidup Fransiskus, secara bersama-sama kita membaca jejak penghargaan atas ciptaan sebagai tindak penghormatan kepada Sang Pencipta. Fransiskus yang merasa hina itu menyebut dan menyapa bumi sebagai Ibu Pertiwi.

Dari uraian-uraian di atas kita dapat melihat dan mengetahui tindakan-tindakan Bapa Fransiskus terhadap lingkungan hidup; bagaimana keikhlasan dan kemurnian hatinya melihat realitas Allah dalam makhluk dan alam ciptaanNya. Kita mengiyakan tindakan Fransiskus tersebut karena yakin juga bahwa seluruh alam menyembunyikan rahasia agung, yang tidak mau menyatakan dirinya kalau kita tidak mau mendengarkannya dengan sabar dan penuh perhatian.

Lantas, dari balik tembok biara, apa yang dapat kita buat dalam melestarikan keutuhan ciptaan? Apa reaksi spontan yang muncul di hati kita selaku pengikut Fransiskus, melihat banyaknya penindasan terhadap alam di sekitar kita? Saya kira kita semua sekata untuk memulai segelintir dari lingkungan kita: menanam pohon, memelihara tumbuhnya tanam-tanaman, mengolah kompos, dll. Serentak dengan itu mari mewartakan cinta lingkungan hidup dilandasi semangat St. Fransiskus dalam setiap bentuk pewartaan kita. Kita berdoa agar semua umat manusia makin insaf bahwa alam pertama-tama bukanlah milik yang harus digunakan melainkan anugerah yang harus diterima dengan penuh syukur dan terima kasih. Dengan demikian, alam akan berubah dari yang buram menjadi transparan sehingga menyatakan maknanya yang sesungguhnya. Maka, sejatinya kita semakin berkuasa.

Mauliate, sdr.bennymanurung.

Leave a comment »

PEMILIHAN USKUP MENURUT CYPRIANUS: PARTISIPASI KLERIKUS DAN AWAM

PEMILIHAN USKUP MENURUT CYPRIANUS:

PARTISIPASI KLERIKUS DAN AWAM


PENGANTAR

Cyprianus “tidak akan pernah berhenti berbicara bahkan hingga akhir dunia ini, ” demikian dituturkan oleh Deacon Pontius, penulis biografi pertama uskup-martir di Kartago. Popularitas abadi Cyprianus berada dalam tataran yang agung, seperti ditulis oleh Quasten, “bagi mutu hatinya yang luhur yang menunjukkan cinta kasih dan kelemahlembutan, kebijaksanaan dan jiwa pemersatu.”

Dalam komunitas Gereja Katolik Roma saat ini tulisan-tulisan Cyprianus masih sangat berpengaruh. Cyprianus memberi informasi bernilai dalam pelaksanaan praktis pemilihan uskup. Dia menyatakan dengan tegas bahwa keseluruhan komunitas – imam, awam, dan sesama uskup – untuk berpartisipasi dalam menyeleksi pemimpin-pemimpin di keuskupan. Konsistensi Cyprianus dalam mendengarkan suara rakyat dalam pemilihan uskup secara khusus sangat sesuai jika dibandingkan dengan ajarannya tentang status uskup yang ditinggikan. Dia, sebagaimana dicatat oleh Monceaux, “a men of authority” yang menegaskan bahwa tindakan-tindakan uskup hanya bisa diadili oleh Tuhan.

Dalam bagian ini terutama lebih disoroti peran imam dan awam dalam pemilihan uskup dengan penekanan umum pada apa yang biasa disebut suffragium. Akan dibagi dalam 2 seksi: pertama, gambaran proses pemilihan itu sendiri -elemen-elemen utama, otoritasnya, dan luas wilayahnya; kedua, pengujian peran spesifik yang dimainkan oleh imam, awam, dan uskup-uskup lain.

GAMBARAN PROSES PEMILIHAN

Elemen-elemen dasar

Tahta lowong diisi dalam cara berikut. Dalam suasana tenang, ketika perkumpulan-perkumpulan Kristen telah diizinkan, komunitas lokal tanpa uskup itu berkumpul bersama dan seorang uskup terpilih “sub omnium oculis.” Dalam perkumpulan ini hadir imam setempat, umat dan uskup-uskup dari provinsi itu. Setiap anggota berpartisipasi. Maka, Cyprianus disejajarkan dengan “universae fraternitas suffragium,” “Publicum iudicum ac testimonium,” & “omnium suffragium et iudicium.” Dia diserahi tugas-tugas khusus oleh para imam, awam, dan uskup-uskup. Maka terdapatlah “cleri suffragium” dan “clericorum suffragium.” Dia bahkan menyebut “suffragium ” & “testimonium et iudicium” para umat. Akhirnya, “colegarum testimonium et iudicium” & “coepiscorum consensus.” Akan tetapi, elemen yang paling penting, yang mempersatukan dan paling mensahkan seluruh prosedur itu adalah “Dei iudicium” atau “divinum iudicium.” Inilah yang terpenting, karena semua itu “Allah yang menjadikan (memilih) uskup.”

Tujuan proses yang telah digariskan di atas adalah untuk memilih jabatan uskup sesuai calon yang kecakapannya dikenal oleh semua. Cyprianus memerlukan partisipasi semua level dalam keanggotaan G agar “tak seorangpun yang tidak layak berada dalam pelayanan altar.” Prosedur demikian sesuai dengan pertimbangan biblis: pengangkatan Eleazar sebagai imam agung, Mathias, dan tujuh orang yang dipilih melayani orang miskin.

Otoritas

Otoritas tertinggi dalam pemilihan uskup bagi Cyprianus adalah Allah sendiri. Cyprianus tetap berpegang bahwa ajarannya adalah bagian dari kebenaran bapa-bapa leluhur dan berakar dalam kehendak Allah. Maka, adalah “divina auctoritas” jika seorang uskup dipilih di hadapan semua umat, agar pentahbisan itu menjadi “justa et legitima.” Praktik sedemikian merupakan “traditio divina et apostolica observatio.”

Jangkauan geografis

Cyprianus mengatakan bahwa dia telah dipilih menjadi uskup dengan “populi universo suffragio.” Dia juga menyatakan bahwa kebiasaan pemilihan oleh umat sudah dilaksanakan bukan hanya di Afrika (“apud nos”) tetapi “fere per provincias universas.” (fere = hampir).

Pandangan ini sejajar dengan pendapat 2 Bapa Gereja pada abad ke-3, Hyppolitus dan Origenes. Hyppolitus dari Roma, dalam Traditio apostolica-nya menulis: “Biarlah uskup ditahbiskan sesudah ia dipilih oleh semua umat.” Traditio Apostolica setuju dengan ide Cyprianus tentang pemilihan uskup dan barangkali juga mengindikasikan bahwa praktik pemilihan uskup oleh umat juga sah dijalankan di beberapa Gereja di wilayah Timur. Hal ini dipertegas oleh Origenes. Uskup akan ditahbiskan “di hadapan seluruh awam, agar semua mengetahui dengan pasti bahwa orang yang terpilih untuk jabatan episkopal dari seluruh umat itu adalah yang paling unggul.”

Tentu tidak dapat dikatakan dengan pasti bahwa uskup-uskup telah dipilih oleh para imam dan umat di setiap Gereja Kristen selama abad ke 3. Akan tetapi, pemilihan uskup oleh umat adalah yang paling banyak dipakai dan diterima dalam tradisi di banyak Gereja Penggunaan kecakapan dari fere barangkali mengindikasikan bahwa C mengawaskan beberapa G (satu sekurang-kurangnya, tetapi mau juga lebih) di mana suatu praktik pemilihan uskup yang berbeda berlaku. Apakah teks ini menunjuk pada G Alexandria? Menurut Hyeronimus, di sana terdapat suatu tradisi sejak pendiriannya pada abad ke 3 bahwa imam-imam dipilih oleh paus.

baik wilayah timur pun barat.

PERAN KHUSUS IMAM, AWAM, DAN USKUP-USKUP LAIN

Term-term yang biasa dipakai oleh Cyprianus berkaitan dengan pemilihan uskup adalah consensus, deligo, iudicium, suffragium, dan testimonium. Semua komentator setuju bahwa bahwa C memimpikan suatu proses yang partisipatif; namun terdapat keragaman pendapat yang besar manakala itu sampai pada pemberian makna spesifik pada tiap-tiap kelompok dalam komunitas.

Imam

Tindakan imam meliputi testimonium dan suffragium. Termasuk juga iudicium, karena Cyprianus berbicara tentang “Publicum iudicium dan omnium iudicium.”

Awam

Awam menurut Cyprianus memberi testimonium, suffragium, dan iudicium. Ranah interpretasi utama berpusat pada arti suffragium itu. Ada dua pandangan berkaitan dengan arti suffragium: pandangan pertama berarti suara aktual (dikaitkan dengan praktik pertemuan-pertemuan rakyat Roma kuno, di mana suara direkam dalam fragmen-fragmen.), yang lain menyamakannya dengan persetujuan (menyamakannya dengan pengesahan)

Uskup-uskup

Cyprianus memakai term-term suffragium, iudicium, dan consensus dalam konteks ini. Dia tidak pernah memakai suffragium merujuk pada tindakan uskup. Semua menyetujui bahwa terdapat pengesahan hakim menyangkut satu aspek dari peran uskup: hanya uskup yang punya hak menyelenggarakan ritual pentahbisan aktual. Mayoritas komentator menganggap suatu peran tetap berasal dari uskup dan membantah bahwa uskup memiliki pengadilan memutuskan yang tertinggi.

Berikut dianalisa perbedaan fungsi-fungsi operatif dalam pemilihan uskup:

Pertama, testimonium adalah tindakan yang oleh seluruh komunitas (imam, umat, & uskup) menunjukkan secara publik pandangan mereka tentang batasan (kualifikasi) para kandidat untuk tugas jabatan uskup. Saat sede vacante adalah satu kesempatan bagi semua untuk mendiskusikan secara terbuka kwalitas seseorang menyangkut keunggulan dan kelemahan yang barangkali paling dikenal oleh kebanyakan dari mereka yang hadir. Tujuan mendengarkan itu adalah untuk memastikan bahwa orang yang akhirnya terpilih adalah layak untuk menerima tugas uskup.

Kedua, suffragium adalah tindakan dengan mana imam atau umat (bukan uskup) mengindikasikan beberapa sikap yang mereka inginkan untuk menjadi uskup. Hasil yang diinginkan dari suffragium adalah suatu keputusan dengan suara bulat, tetapi ini tidak selalu merupakan tujuan utama. Dalam pemilihan Cyprianus sendiri, terdapat beberapa orang yang tidak mendukung dia. Akan tetapi, paling tidak mayoritas dari mereka yang hadir memberi pilihan yang menyetujui.

Ketiga, iudicium adalah tindakan dengan mana seluruh pihak pemilih (termasuk uskup) menyetujui secara publik hasil suffragium. Dengan iudicium orang yang terpilih diberi mandat umat. Iudicium dan consensus dari sesama uskup memiliki tuntutan kanonik dan berarti penerimaan seseorang kedalam kolegialitas para uskup.

KESIMPULAN

Apa signifikansi teologis dari pendapat Cyprianus dalam rangka pemilihan uskup? Tiga observasi kiranya dapat dibuat. Pertama, Cyprianus mendasarkan teologinya pada tradisi apostolik dan kuasa ilahi. dia sebenarnya tidak terlalu menekankan bahwa partisipasi umatlah yang paling esensial. Cita-cita Cyprianus adalah sebuah idealisme. Dia mengabadikan idealisme ini di dalam tradisi dan berpegang bahwa hal itu masuk akal dan dapat dibenarkan secara teologis. Kedua, idealisme ini gagal idteruskan karena 3 alasan ini: berkurangnya awam yang terpelajar, penyalahgunaan proses pemilihan tradisional, dan campur tangan penguasa-penguasa duniawi. Ketiga, berdasarkan teori Cyprianus, partisipasi klerus dan awam dalam pemilihan uskup kontemporer dapat dipahami sebagai sebuah tujuan fungsional. Vatikan II mendukung prosedur ini dengan menegaskan persamaan hak yang fundamental dari umat Allah juga prinsip kolegialitas dan subsidiaritas.

Apa yang diharapkan sekarang adalah sebuah prosedur pemilihan yang terbuka yang menjamin akuntabilitas dan partisipasi yang sungguh-sungguh dari semua anggota Gereja.

Leave a comment »

KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA (sebuah terjemahan)

KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

(sebuah terjemahan)

Perjanjian Lama adalah hasil dari proses panjang di mana bahan dikumpulkan, diteruskan (turun-temurun), dikerjakan ulang, dan diberi bentuk final. Dalam bentuknya yang terakhir kita mendapatinya dalam sejumlah kitab. Beberapa dari kitab ini dengan jelas adalah kesatuan literer yang berdiri sendiri / independen (sebagai contoh Kitab Mazmur, Ayub, Kitab Amsal). (Kitab) yang lain pada saat yang sama terbukti menjadi anggota-anggota (bagian) dalam komposisi yang lebih besar yang pada tiap kesempatan hendaknya diperhitungkan (sebagai contoh 5 buku Pentateukh, Buku-buku Sejarah Deuteronomistis).

Cara-cara (tekhnik) yang sungguh-sungguh berbeda berhadapan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama dapat dipakai. Seseorangpun dapat mulai dengan tradisi individual yang paling awali dan berupaya mengikuti kursus mereka hingga pada bentuknya yang terakhir dan menyusut (mundur) dari situ ke tingkatan tradisi yang lebih awal. Pada pendekatan yang pertama, perkembangan dan pertumbuhan teks menjadi pedoman tersendiri pada jalan cerita – dan di sini kebanyakan harus tinggal (sebatas) hipotetis; pada pendekatan kedua, analisis terbalik menetapkan jalan cerita – dan di sini perubahan metode-metode dan sudut pandang para penafsir bersumber pada kepentingan yang besar.

Pendekatan cara pertama diterapkan oleh Hermann Gunkel dengan pernyataan sementara “Sejarah Literatur Israel”. Akan tetapi, dia sendiri hanya menghasilkan laporan cerita sejarah pendek yang pertama, di mana dia tidak menemukan sampai bentuk terakhir buku Kitab Suci; hal itu di luar keinginannya. Sejak itu kemudian, teorinya (pernyataan) lebih sering dikenal sebagai pembenaran, tetapi di mana-mana teori (pernyataan) itu tidak juga membantu. Dlam cerita keseluruhan yang lebih baru sebagai contoh Kaiser memilih kursus (jalan) tengah (12), sedangkan Smend secara eksplisit memilih pendekatan kedua (11); akan tetapi dia juga kurang memuaskan dalam buku-buku Perjanjian Lama dalam bentuknya yang terakhir.

Meski beragam pendekatan, laporan cerita umum yang lebih baru pada dasarnya bekerja dalam cara yang sama. Mereka didominasi dengan analisis teks-teks, dimana tingktan yagn bervariasi, sumber, tingkatan tradisi, peredaksian, dan seterusnya dikerjakan – tetapi bentuk terakhir kitab-kitab yang berdiri sendiri (individual) sebagaimana yang ada sekarang, dan Kitab Suci perjanjian Lama sebagai satu kesatuan, dikerjakan dengan susah-payah ke dalam bentuk cerita. Hal yang mendasarinya adalah konsep (yang pada usaha terakhir kembali pada HERDER (what’s mean?) dan zaman romantik) bahwa yang lebih tua dan lebih awal adalah ‘asli’ (original) dan oleh karena itu bernilai lebih besar; apa yang ditambahkan kemudian dianggap sebagai yang diturnukan (derifatif) dan dianggap sebagai “yang kedua” atau “diredaksi”.

Di atas semuanya ini, Brevard S. Childs kini secara serius menekankan bahwa perhatian khusus dibutuhkan pada bentuk akhir kitab-kitab Perjanjian Lama karena Perjanjian Lama ini bukanlah hasil proses dari kurang lebih pengumpulan dan peredaksian yang kebetulan saja tetapi merupakan ungkapan dari proses yang disadari (disengaja) atas pembentukan penyusunan tulisan ‘kanonik’ yang dalam bentuknya yang terakhir telah menjadi dasar hidup religius Komunitas orang Yahudi – dan kemudian juga untuk Orang Kristen. Keturunan menggabungkan pendekatan dengan kritisisme dasar atas “dekanonisasi” teks-teks dalam metode-metode eksegetikal yang terbaru.

Tuntutan ini sama sekali dibenarkan. Bentuk terakhir buku-buku Perjanjian Lama dan tujuan/maksud teologis yang diungkapkan di dalamnya harus ditempatkan secara serius dalam cara yang sungguh berbeda dari apa yang telah lama menjadi norma dalam ilmu pengetahuan tentang Perjanjian Lama. Akan tetapi, menurut pandangan saya, hal ini tidak harus menuntun pada perbedaan mendasar di antara keduanya dan pada pendekatan metodologis lainnya. Anak-anak/keturunan merupakan kebenaran pasti bahwa ketertarikan sezaman akan karya ilmiah di atas Perjanjian Lama adalah yang terpenting dalam penyelidikan sejarah awal atas teks kanonis dan dalam penafsiran tingkatan yang berbeda-beda dari sejarah ini dalam berbagai macam konteks historisnya. Seseorang mestinya juga sependapat dengan pandangannya bahwa dalam proses ini, keingintahuan/ketertarikan pada bentuk terakhir dari teks telah hilang dan bahwa sekarang ini ilmu pengetahuan akan Perjanjian Lama tidak memiliki pendekatan metodologis yang mana dapat memperbaiki kehilangan ini. Tetapi pertanyaan menyisakan apakah yang ini perlu ada dan juga menyisakan masalah.

Dalam pandangan saya, karya histories-tradisional dalam Perjanjian Lama yang dibawa/dibahas secara terus-menerus, dapat dan harus melebihi perlawanan yang sekarang ada di antara pendekatan yang diarahkan hanya kepada sejarah tradisi dan di sisi lain diarahkan hanya dalam bentuk terakhir kanonisasi. Secara menyeluruh, tradisi dibuat dengan serius, selanjutnya bentuk terakhir kanonis dari buku-buku individual dan dari Perjanjian Lama sebagai suatu kesatuan juga memiliki tempat di dalamnya. Setelah itu, tak perlulah untuk membela suatu metode khusus penafsiran bagi bentuk terakhir kanonisasi yang berlawanan dengan metode tradisi histories itu.

Akan tetapi, perkiraan bagi sebuah pengembangan yang tetap sedemikian atas metode tradisi histories adalah bahwa literature dan karya teologis yang berperan pada bentuk terakhir ada sekarang hendaknya dibuat secara serius. Sejarah tradisi tidak hanya pengembangan lebih bentuk kritisisme, tetapi dibuat langkah pada taraf berikutnya, pada poin dimana teks menuinggalkan keaslian keadaaan/letak dan menjadi objek literature dan pemeriksaan/penyelidikan teologis dan penafsiran.

Di dalam kerangka buku ini, saya akan coba mendalami perubahan ini dengan suatu metode kemudian memberikan suatu tanggapan di dalamnya. Pada bagian dua, suatu pendekatan telah dibuat untuk memahami teks-teks Perjanjian Lama yang mempunyai ungkapan-ungkapan berbeda menurut bidang-bidang kehidupan di Israel; di mana pusat perhatian yang terpenting ialah sejarah atau terjadinya bangsa Israel dan kemudian bidang social serta lembaga-lembaga religius. Pada bagian tiga, kita sekarang harus mengikuti alur tradisi-tradisi sebagai bahan tambahan; bahwa cara yang terutama sekali untuk diperhatian sebagai literatur teologi pendek tetap saja dibatasi oleh sebagian institusi.

Agar catatan itu dapat dimengerti, perlulah dibuat suatu alasan seperti yang dibuat oleh Childs, Blenkinsopp yakni suatu ‘tujuan kanonik’yang para teolog kerjakan agar dapat dimengerti. Tidaklah cukup hanya memperhatikan kerja otoritas teologi baik ikhusus maupun kelompok. Yang terpenting daripada itu ialah mengenali masing-masing Perjajian Lama yang cenderung mengakhiri dan menyimpulkan pelbagai macam tradisi-tradisi Israel di dalam salah satu catatan pinggir kanon. Apabila cara tersebut digunakan, di mana ada pembaharuan ‘Sitz im Leben’: komunitas religius Yahudi yang memperkaya literature kanon dari tulisan religius mereka, maka terbentuklah suatu dasar kehidupan religius yang pada akhirnya diambilalih serta diakui sebagai kanon leh komunitas kristiani yang berkembang dari komunitas Yahudi.

Kendatipun penting melihat awal mula kanonisasi tersebut, masih butuh tindaklanjutan sebelum kanonisasi tersebut dapat diadakan. Oleh karena itu pengadaan kanonisasi akan terwujud bila mengusulkan jalan keluarnya , tanpa kesanggupan ini semuanya akan berakhir dengan sia-sia. Saya masih saja berharap bahwa hal tersebut menjadi mungkin untuk diketahui direksi dalam menjawab pertanyaan dari tradisi-tradisi Perjanjian Lama hingga pada akhirnya sanggup menindaklanjutinya.

Saya tidak memberikan secara rinci isi dari penyelidikan sejarah tersebut. Hal tersebut telah menjadi bahan diskusi yang lengkap dan rinci disatukan di dalam buku yang ditulis oleh Kaiser dan Smend. Bagaimanapun saya telah mencoba menguraikan masing-masing peristiwa tersebut secara teratur dan juga telah menujukkan bagaimana pandangan saya terhadap peristiwa tersebut.

KELIMA BUKU PENTATEUKH (TORAH)

Kelima buku pertama Perjanjian Lama telah dianggap sebagai buku individu dengan masing nama:pada waktu yang sama. Akan tetapi, mereka dianggap sebagai satu kesatuan. Nama buku Yahudi ini terbentuk dari kata pembukaan, mengingat judul dalam bahasa Yunani (sama dengan Bahasa Latin) menunjukan isi:

1).B`resit: Pada awal mula = Genesis, Genesis (Kejadian)

2).S`mot: Nama-nama = Exodus, Exodus (Keluaran)

3).Wayyiqra: Ketika Ia memanggil = Leviticus, Leviticus (Imamat [buku hukum])

4).B`midbar: Dalam padang gurun = Numeri, Numeri (Bilangan)

5).D`barim: Kata-kata = Deutronomium, Deuteronomium (Hukum kedua [setelah Deut.17.18.dimana arti teks asli Yahudi copy dari hukum]).

Dalam tradisi Yahwis, kelima buku bersama ini, disebut Taurat (atau Taurat Musa, Buku-buku Taurat, dsb). Pembagian dalam kelima buku jelas terlihat bersama ungkapan lain hamisa humse ha-tora, ”lima buku kelima dari Torah”. Kelimanya mengambil dari ungkapan h Pentateukh (biblos) menjadi lima buku. Yang lewat versi Latin disebut Pentateukh (liber) pada akhirnya berparan penting untuk menunjukkan Pentateukh yang biasa dalam peristilahan akademi.

Variasi dalam judul mengambarkan permasalahan karena dengan buku pribadi untuk keseluruhan Pentateukh. Dengan terang laporan dari penciptaan (Kej.1) sampai Kematian Musa (Ulangan 34) merupakan satu kesatuan yang kompeks. Tetapi ini sama jelasnya bahwa masing-masing buku individual itu memiliki karakter yang lebih atau kurang yang berbeda daripada dengan dirinya sendiri dan bahwa pembagian diantara mereka tanpa maksud arbitrasi.Independen Deutronomistis tampak paling jelas.

Demikianlah, kitab Kejadian sungguh-sungguh ada, yakni terdiri dari sejarah awal (bab 1-11) dan kisah-kisah para bapa bangsa (bab 12-50). Sebuah awal baru secara eksplisit ditunjukkan dalam Keluaran 1:1. Batas pemisah ketiga kitab ini satu terhadap lainnya kurang jelas pada awalnya, namun pengamatan selanjutnya yang lebih teliti menunjukkan bahwa masing-masingnya memiliki karakter tersendiri dan tentang itu diperoleh dari batas pemisah tersebut.

1.1 Kitab Kejadian

Kitab Kejadian terbagi dalam dua bagian utama: sejarah awal (bab 1-11) dan sejarah bapa bangsa (bab 12-50). Tiap bagian mengembangkan corak tersendiri sehingga untuk memulainya masing-masingnya harus dibicarakan secara terpisah.

Sejarah awal (bab 1-11) terdiri dari sejumlah kisah yang seturut syarat-syarat terbentuknya mungkin digambarkan sebagai hikayat. Subyek-subyek kisah pada umumnya adalah tipe tokoh-tokoh ideal : suami dan istri (bab 2f), saudara-saudara yang bermusuhan (bab 4), orang-orang yang patut diteladani (6-8), “manusia” (bab 11.1-9); hanya dalam bab 9.10-27 yang sungguh mewakili sebagian orang dari masa di mana narator muncul, yakni dalam diri putera-putera Noah (di sini terdapat sebuah perbedaan yang jelas di antara trio: Shem, Ham dan Japheth dalam v.18 dan Shem, Japheth dan Kanaan dalam vv.25-27 ; vv.18bm 22 berusaha untuk mengimbangkan ketegangan itu).

Dalam tradisi hikayat ini, dunia sesungguhnya yang didiami manusia dilukiskan dalam perspektif petani (Cruseman 1981); manusia (Adam) ditakdirkan Allah untuk mengerjakan tanah (adama, 2;15; 3.17-19,23). Pelanggaran larangan ilahi dalam taman menuntun pada aspek-aspek kehidupan yang lebih berat lagi (kerja keras,dll) (3.14-19). Kutuk pada Kain bahkan memisahkan ia ( dan kota yang didiami kaum nomad, musisi, dan kaum semit yang merupakan keturunannya) dari tanah dan demikian juga dari Allah (4.11f.,14,16). Hubungan antara hal-hal yang bersifat surgawi dan seorang wanita (6.1-4) menghasilkan secara sederhana rentangan kehidupan manusia (v.3), dan pada akhir kisah Allah menanggapi kemanusiaan bangsa Ibrani dengan menyebarkan dan mengacaukan bahasanya (11.1-9).

Terdapat unsur-unsur mitologis yang terisolasi yang nampak secara jelas dalam teks pendek 6.1-4 dan dalam sosok ular pada bab 3. Kisah tersebut melukiskan Allah yang hadir sebagai pribadi manusia pada bab 2f, berjalan di taman (3.8) dan sebagainya, karena di sini Allah dan manusia masih tinggal dalam kesatuan yang tak terpisahkan; setelah pengusiran dari taman tersebut, di tempat lain dalam kisah sejarah pertama, Allah berbicara kepada manusia hanya seperti yang Ia lakukan dalam kisah Perjanjian Lama lainya.

Dua bagian yang panjang ini; 1.1-2.3 (2.4a adalah suatu judul untuk apa yang datang kemudian, bdk., Salib,302; Anak-anak, 145,149) dan 9.1-17 jelas berbeda dari kisah-kisah tersebut. Bagian-bagian tersebut bukanlah semacam “cerita” melainkan berisi garis-garis besar teologis yang mendetail ;suatu konsep sistematis dari penciptaan dalam kerangka pola penciptaan 7 hari, bersama suatu hierarki yang jelas dari karya-karya ciptaan individual dan suatu rekapitulasi dari pernyataan-pernyataan tentang dunia dalam kondisi-kondisi yang berubah setelah periode air bah. Bahasa dan nilai teologis dari perikop-perikop ini berkaitan erat dengan bab 17 dan bagian dari tulisan tradisi para imam yakni tentang kisah Jakob (lihat di bawah).

Kitab Kejadian bab 5;10;11.10-32 membentuk elemen ketiga dalam sejarah awal. Di satu pihak, mereka menguraikan garis keturunan dari Adam (5.3) juga melalui Nuh (5.290 dan puteranya Shem (5.32; 11.10) hingga Abraham (11.26ff.); di lain pihak dalam suatu “ daftar bangsa-bangsa” diuraikan keseluruhan dunia yang dikenal manusia pada masa itu ( bab 10).

Konstruksi sejarah pertama itu dapat diamati dengan jelas. Bagian pertama menggambarkan permulaan sejarah manusia. Penciptaan manusia dan lingkungannya ( 2.4-25); pelanggaran hukum atas larangan ilahi dan pengusiran dari taman (bab 3), dosa pertama manusia terhadap sesama manusia dan kutukan kepada Kain (4.1-16), perkembangan manusia selanjutnya (4.17-26). Bagian ini berakhir dengan pernyataan bahwa penyembahan YHWH dimulai pada saat itu (4.26b), inilah awal periode Ia disembah oleh semua manusia.

Setelah suatu seri kisah dari 10 generasi yang masing-masingnya hidup dalam usia yang sangat panjang, air bah membawa suatu jedah yang mendalam (bdk.Rendtorff 1961.Clark). Pada akhir kisah tentang air bah yang sangat mendetail itu (6.5-8.19), Allah menjamin eksistensi masa depan yang teratur bagi ciptaan agar menjaga kehidupan manusia di kemudian hari (8.21f., juga dari perspektif petani).

Setelah bencana air bah, dosa kembali muncul di antara umat manusia, dan hal ini menyebabkan suatu kutukan (9.20-27)—inilah masa di mana Canaan secara khusus dikesampingkan dari komunitas penyembah YHWH. YHWH kini hanyalah Allah dari Shem (v.26). Akhirnya, melalui pengelompokan umat manusia ke dalam berbagai golongan yang terdiri atas berbagai bahasa yang berbeda (11.1-9), peristiwa ini oleh penulis, pembaca dan pendengarnya, dikenal sebagai sebuah realitas dari dunia mereka.

Dua bagian besar tradisi para imam ditempatkan pada bagaian kunci : pada permulaan (1.1-2.3), dengan jumlah ciptaan yang lebih komprehensif dan sistematis dibandingkan dengan apa yang terdapat dalam bab 2; dan setelah bencana air bah, dengan sebuah pembaharuan dan modifikasi berkat akan kesuburan (binatang-binatang diijinkan menjadi makanan bagi manusia,9.2-4) dan sebuah komitmen yang lebih luas dan tegas dari Allah melalui “perjanjian”, yang akan diingatNya sehingga bencana air bah yang lain tidak akan terjadi lagi di atas bumi (9.1-17). Allah sendiri memberikan “tanda perjanjian”, pelangi, di langit (bertentangan dengan bab 17, berikut ini).

Seringkali unsur lain dalam kisah air bah ini ditempatkan pada bagian tradisi para imam. Tidak terdapat sanggahan bahwa dua unsur literer (paling tidak) terdapat di sana; kendati demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk menyusun dua kisah yang berdiri sendiri, jadi tampaknya jelas bahwa kita memiliki kisah asli yang disertai tambahan-tambahan tertentu.

Lebih lanjut, unsur pengeditan dan perkembangan sejarah pertama dapat diamati dalam judul-judul formal ‘ inilah silsilah….(2.4;5.1;6.9:10.1;11.10 [11.27]). Keaslian dan makna sebenarnya dari rumusan ini diperdebatkan.

Secara literer toledot berarti “keturunan” yaitu jumlah keluarga, keturunan; dari sudut pandang bab.5.1, beberapa orang menduga bahwa mungkin terdapat “kitab keturunan” yang indipenden, yang mana dari sanalah rumusan dan materi silsilah diambil. Dalam konteks sekarang ini, rumusan itu dengan jelas disajikan untuk memisahkan sejarah pertama dan bersamaan dengan itu menjukan garis utama silsilah;dari kisah penciptaan dunia, Adam, Noah dan Shem, hingga Terah ayah Abraham. Di sini mereka menjadi judul untuk jenis teks yang berbeda: 2.4;6.9 ;11.27 yang diikuti dengan sebuah cerita; dalam 5,1;10.1;11.10 diikuti oleh silsilah. Rumusan toledot mendapat tempat yang istimewa dari redaksi dan dapat dilihat sebagai teks asli yang sejak semula telah berdiri sendiri; mungkin mereka dihubungkan dengan tulisan para imam dalam Kej.1.1-2.3; 9-17 dalam sejarah penyusunannya (mengenai peran rumus toledot dalam kisah para bapa bangsa, lihat bagian berikut).

Tidak terdapat pertalian formal dan petunjuk-petunjuk yang spesifik dalam tujuan sejarah pertama dan sejarah bapa bangsa yang mengikutinya. Kisah Abraham dimulai dengan tiba-tiba pada bab12.1-13. ini menandai sebuah permulaan yang pada dasarnya baru dari kisah terjadinya sejarah manusia hingga munculnya sejarah sebuah bangsa yang ketutunannya adalah Abraham. Janji kepada Abraham dan melaluinya kepada semua keluarga di bumi, yang merupakan pusat dari ayat-ayat ini, tentu merupakan poin penting untuk sejarah Israel dan manusia di masa yang akan datang. Bersamaan dengan itu, dalam konteks sekarang ini, ia mempunyai arti penting untuk melihat sejarah masa lalu; kutukan-kutukan pada sejarah pertama (3.14-19:cf.8.21) diperhitungkan dan dipertentangkan dengan janji akan berkat. Dengan ini, terdapat sebuah jembatan dari kisah sejarah pertama hingga sejarah para bapa bangsa.

Von Rad mengembangkan sebuah interpretasi atas sejarah pertama di mana ia melihatnya sebagai sesuatu yang menghantar pada pemilihan Abraham; baginya, ini dihubungkan dengan tujuan teologis penciptaan iman hingga iman penyelamatan yang ditemukan dalam sejarah ini. Westermann secara lebih tegas menekankan kemandirian kisah sejarah pertama, dan Crusemann (1981) menunjukan bahwa sejarah pertama dan sejarah bapa bangsa tidak dapat secara bersama-sama dianggap sebagai karya “jahwistik” karena perbedaan gambaran isinya; mereka hanya disatukan pada bentuknya kemudian.

Kisah bapa bangsa yakni tradisi para bapa: Abraham, Isak, Jakob, dan Yusuf mengambil banyak tempat dalam kitab Kejadian (bab 12-50). Kisah Abraham (12.1-25.10) memuat sebuah seri kisah individual yang berdiri sendiri misalnya Kejadian 12.10-20 (dihubungkan dengan konteks melalui rencan perjalanan dalam 12.9;13.1.3f); 22;23;24. Permulaan kisah ini tidak dihubungkan dengan apa yang ada sebelumnya atau dihubungkan hanya oleh beberapa phrase yang sangat umum (misalnya setelah hal ini…’,22.1; ‘kini Abraham telah tua,24.1); masing-masingnya memiliki sebuah kesimpulan yang tidak dapat dianjurkan sebagai kelanjutan kisah.

Di samping ini kita juga dapat melihat sebuah kisah besar yang kompleks atau kombinasi kisah individual dalam komposisi yang lebih besar, (penjumlahan berikut dihubungkan secara esensial pada analisis yang diberikan oleh E. Blum, yang mengumpulkan penyelidikan- penyelidikan awal dari Gunkel dan Rendtorff 1977.) Dengan demikian bab 13, 18, dan 19 membentuk suatu cerita tentang Abraham-Lot (Gunkel menyebutnya lingkaran kisah Abraham-Lot); di dalamnya bab 13 nyatanya telah disusun dengan suatu sudut pandang bab-bab 18 dan seterusnnya; setelah kedua bagian, jalan Abraham menuju Mamre (13:18; 18:1), dimana YHWH menampakan diri kepadanya, sementara Lot berjalan menuju Sodom (13:12 dan seterusnya; 19:1), dimana dia hampir terjatuh dalam kehancurannya. Sementara bab 18:1-6 mungkin menawarkan suatu kisah mandiri tentang Abraham, bab 19 secara gamlang disusun dengan suatu sudut pandang terhadap konteksnya perihal kisah Abraham-Lot ( bdk. sebagai contoh, kontinuitas dalam kisah bab 18 ini lewat istilah-istilah yang menerangkan sifat-sifat dan waktu harian, berikut paralel-paralel antara bab 18: 1 dan seterusnya dengan 19:1-3). Setelah kehancuran Sodom, arah kisah yang menyinggung Lot itu berakhir dengan kelahiran dua bapak leluhur bagi bangsa Moab dan Amon di daerah Trans-Yordan ( 19: 30-38 ); mirip dengan itu, bab 18 menunjuk kelahiran Ishak yang ajaib ( permainan kata dalam bab 18: 12-15), leluhur bangsa Israel (21: 1-7). Jadi, perpisahan Lot dengan Abraham dalam bab 13 membuka suatu sejarah asal mula bangsa-bangsa Moab, Amon, dan Israel masing-masing di negerinya sendiri. (bab 14 juga berkenaan dengan Abraham dan Lot tetapi mewakili isolasi yang luar biasa dan mengandung suatu gambaran yang sangat berbeda tentang Abraham, sang pahlawan perang.

Bab 20 dengan terang mengandung suatu varian atau duplet bab 12:10-20; tetapi yang kita kupas di sini lebih merupakan suatu penafsiran reflektif atau kolektif secara teologis, yang telah mengandaikan pengetahuan akan kisah dalam bab 12:10-20 (Westermann, komentar). Menurut Blum sesuai dengan bab 21:22 dan seterusnya, suatu kisah Abraham-Abimelekh yang konsekutif telah dihasilkan – dalam kaitannnya dengan perikop tadi; bab 26 (bdk. bahaya yang mengikutinya terhadap ibu bangsa – perjanjian dengan Abimelekh). Kisah itu aslinya bersifat mandiri dan hanya termaktub dalam konteks sastrawinya dalam suatu tahap yang secara relatif terlambat (di sini bab 20 seharusnya ditempatkan sebelum bab 21:1-7, karena dalam periode ini Sarah belum mempunyai anak).

Dalam istilah tradisional-historis, bab 21:8-21 mungkin merupakan suatu varian terhadap kisah asal-usul Ismael dalam bab 16; akan tetapi dalam bentuknya yang sekarang ia merupakan kelanjutan naratif yang perlu atas bab 16, yang didalamnya konflik antara anak-anak Abraham (siapa yang akan menjadi ahli waris? Bdk. bab 21:10,12) dipecahkan melalui pengusiran Ismael. Dalam karangan tentang pengusiran Ismael ini jelaslah kerangka episode-episode pemakluman dan kelahiran Ishak (bab 18; 21: 1-7), akan tetapi, sekaligus bab 21:8 dan seterusnya juga menyiapkan bab 22: setelah Abraham mengutus salah satu putranya ke padang gurun lewat perintah illahi, kini dia diperintahkan untuk mengorbankan putranya yang kedua, yang kini merupakan putra satu-satunya pada ayat 2). Kedua bagian itu terhubung melalui rujukan-rujukan silang atas permulaan kisah Abraham dalam bab 12:1-3: kisah Ismael yang dijanjikan untuk menjadi suatu bangsa (bdk. bab 21:13, 18 dengan 12: 2a) dan bab 22 dengan 12:1 karena perintah untuk mengutus, walaupun mempunyai konteks yang berbeda, mengandung suatu struktur yang paralel. Dalam konteks ini, setelah dibuka melalui bab12:1-3, karier Abraham memuncak pada klimaks dan akhir yang dramatis dalam bab 22. ( Untuk bab 23 dan seterusnya, lihat di bawah ini).

Kisah Ishak amatlah singkat dan hampir tidak berkembang sama sekali. Nampaknya, minat naratif ketika kisah-kisah Bapa-bapa bangsa yang dikumpulkan lebih terkonsentrasi pada Abraham dan Yakub. Maka, kisah Ishak hanya mengandung dua narasi yang mendetail, yang keduanya mempunyai paralel dengan kisah Abraham (bab 26:7-11 [12], 26-31, lihat di bawah). Kisah-kisah ini dihubungkan dengan suatu kisah yang berkelanjutan tentang Ishak di tengah dan bersama orang-orang Filistin dalam perikop-perikop singkat, hampir semuanya dalam bentuk catatan-catatan yang menyinggung semua yang berkaitan dengan sumur-sumur di tanah Negeb; juga ada beberapa referensi mengenainya (bdk.sebagai contoh: ayat 29 dengan ayat-ayat 11,12,26). Tema utama di sini adalah pembagian daerah teritorial antara kaum Filistin dan Israel di tanah Negeb.

Dalam konteks dewasa ini, kisah Ishak telah diselipkan ke dalam permulaan kisah Yakub (bab 25:19-34; 27-35). Berlawanan dengan kisah Abraham, amat mustahillah untuk mengenali tradisi-tradisi individual yang mandiri dalam hampir seluruh materi utama kisah Yakub (kebanyakan baru jelas pada bab 25:29-34; 28:11). Semuanya disubordinasikan kepada suatu tema yang membelokkan jalan cerita: pertengkaran antara Yakub dengan saudaranya Esau (bab 25:19-34; 27; 32 dan seterusnya) dan dengan pamannya Laban (bab 29-31). Di sini episode-episode konflik dengan Esau mengenai hak kesulungan dan berkat (bab 25:19-34; 27) diselingi kisah Yakub dengan Laban menjadi suatu ‘kisah Yakub’ yang berdiri sendiri (Blum; Gunkel menyebutnya lingkaran kisah Yakub-Esau-Laban) dengan sedikit tambahan tema tentang pelarian Yakub (bab 27:43 dan seterusnya; 28:10,20,22) dengan referensi dari bab 31 (khususnya bab 31:13) dan mencapai puncaknya pada ayat-ayat 32 dan seterusnya. Kedua penampakan illahi yakni di Bethel (bab 28:1 dan seterusnya) dan di Penuel (bab 32: 23 dan seterusnya), pada titik tolak yang menentukan untuk Yakub, juga mendukung kisah itu. tak perlu dipertanyakan lagi, kisah ini berasal dari Kerajaan Israel utara (bdk. setting tindakan itu). Menurut Blum, kisah ini secara sepihak melegitimasi sejarah permulaan Kerajaan Israel Utara, sebagai contoh, melalui tekanannya atas tempat-tempat pengurbanan di Bethel (bab 28:11 dan seterusnya; 31:13) dan Penuel (untuk sementara waktu menjadi pusat kerajaan Yerobeam I, bdk. 1 Raj 12-25).

Tradisi mengenai ketiga bapa-bapa bangsa ini dalam kitab Kejadian diikuti oleh kisah Yusuf. Tidak seperti kisah-kisah para bapa bangsa itu, ini merupakan suatu kisah yang berskala luas yang diterima sebagai suatu kesatuan sejak awal dan diwarnai bentuk novel (Gunkel, bdk. Donner). Hal ini sesuai dengan kompleksitas tema-temanya; di sini mengenai seluruh elemen teologi kebijaksanaan (von Rad,1953) dan tema tentang ‘aturan’ (Crüsemann, 1978, 143 dst.: Blum) memang kentara. Adegan tentang berkat pada bab 48 diselipkan pada akhir kisah Yusuf, menyatukan kedua figur utama, yakni Yakub dan Yusuf, dan sekaligus merujuk kembali permulaan kisah Yakub yang mengangkat tema-tema dari bab 27 berikut permulaan kisah Yakub. Tampaknya dengan cara ini adegan itu membantu menyatukan kisah Yakub dan kisah Yusuf secara bersama menjadi suatu ‘kisah Yakub’ yang komprehensif (sejak kelahiran sampai pada kematiannya). Tema bab 28 adalah suatu kisah asal-usul unggulnya suku-suku Yusuf di tengah Israel.

Secara kontras dalam kumpulan ungkapan-ungkapan kesukuan dalam bab 49, kita dapat menyaksikan suatu klaim persaingan secara gamblang meskipun di sini Juda dijanjikan akan menguasai saudara-sadaranya (bab 49:8-12) – suatu situasi yang dimungkinkan oleh ‘penurunan pangkat’ ketiga putra yang pertama (bab 49:3-7). Tradisi-tradisi individual “putra Yakub” telah menunjuk ke arah ini: kisah tentang Simon dan Lewi (bab 34); catatan tentang kelicikan Ruben pada bab 35:21 dan seterusnya; dan kisah tentang Juda pada bab 38, yang tampaknya disisipkan dengan bab 49 menjadi suatu perluasan “kisah Yakub” dalam versi Juda.

Janji-janji itu semakin memainkan suatu peranan dalam terbentuknya “kisah-kisah para bapa bangsa” yang lebih luas sebagai elemen-elemen penyusunan dan penafsirannya. Dengan demikian, janji akan tanah dan keturunan dalam bab 13:14-17 dan bab 28:13-14a, yang dirumuskan secara paralel dalam suatu cara yang khas, membantu menghubungkan tradisi-tradisi tentang Yakub dan Abraham.

Keempat kotbah illahi dalam bab 12:1-3; 26:1-3; 31:11,13; dan 46:1-5a saling berkaitan dengan suatu cara yang lain. Dalam perikop pertama dan ketiga, Abraham dan Yakub diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Mesopotamia menuju tanah yang dijanjikan kepada mereka (Kanaan); dalam perikop kedua Ishak – dengan suatu referensi singkat yaitu sikap Abraham dalam bab 12:10-20 (bdk. bab 26:1!) – untuk meninggalkan Kanaan menuju Mesir; akhirnya dalam perikop keempat, dengan referensi yang jelas dalam bab 26 (46:1: Bersyeba; Allah ayah Ishak), Yakub ditantang untuk melakukannya secara persis, walaupun ini disertai dengan suatu janji bahwa dia akan dibawa kembali dari sana. (Gambaran-gambaran umum lebih lanjut merupakan janji tentang menjadi suatu bangsa [12:2a; 46:36b; bdk. juga bab 21;13,18], janji akan penyertaan Allah dengan bapa-bapa bangsa [12:2a; 26;3a; 46;4] dan seterusnya). Dengan demikian dalam kotbah-kotbah illahi ini perjalanan para bapa bangsa itu secara berkelanjutan langsung diarahkan menuju tanah Kanaan sebagai tujuan mereka, yang dengan suatu pelanggaran saja memasuki wilayah-wilayah sekitar Mesopotamia atau Mesir, terbukti membahayakan kesatuan antara bapa-bapa bangsa ini (yaitu Israel) dengan tanah mereka. Maka, (sesuai dengan janji akan menjadi suatu bangsa) suatu perhatian akan tradisi naratif dimunculkan tetapi diformulasikan secara lebih eksplisit dan fundamental dengan otoritas illahi.

Secara historis, mungkin ini dilihat secara berbeda latar belakang situasi dimana eksistensi bangsa dan kepemilikan mereka atas tanah mengandung resiko, yaitu selama masa pembuangan. Pada titik itu tradisi bapa-bapa bangsa ini pastilah mendapat arti secara langsung. Janji-janji akan berkat dalam Kej 12:3 dan 28:14b (setiap kali menjadi janji pertama dalam kisah Abraham dan Yakub), yang menjamin bangsa Israel sehingga bangsa itu akan melihatnya sebagai contoh bangsa yang diberkati oleh Allah, hendaknya juga dimengerti dalam konteks ini.

Unsur-unsur komposisi ini melingkupi kisah Abraham, kisah Ishak dan kisah Yakub atau Yusuf secara bersama-sama dalam suatu kesatuan yang lebih besar dan koheren. Mata rantai antara kisah bapa-bapa bangsa tradisi Pentateukh yang lebih luas hanya terdapat pada pembaharuan-pembaharuan teologis yang lebih luas.

Disini kita harus menyebutkan pertama-tama sekumpulan janji (12:7; 16:10; 22:16-18;24:7; 26:3b-5, 24; 28:15; 31:3; 32:10-13; 50:24 dan seterusnya) yang ditunjukkan bersama-sama melalui formulasi-formulasinya, rujukan-rujukannya dan sebagainya. Naskah utama dalam kumpulan ini adalah bab 15 yang di dalamnya janji-janji ini dikembangkan menjadi semacam “kisah tentang janji”: Abraham akan mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang di langit (ayat 1-6), dan mereka akan memiliki tanah (ayat 7-21). Dalam ayat 18, hal ini diungkapkan dalam suatu bentuk khusus yang agung. YHWH menyimpulkan suatu perjanjian (berit) dengan Abraham, yang berisikan janji akan tanah kepada keturunannya. Di sini kita memiliki ungkapan suatu konsepsi teologis (bdk. contohnya: bab 22:16-18; 26:3b-5) yang menetapkan pernyataan komprehensif dalam kitab Ulangan yang karenanya biasa disebut “Kisah Deuteronomistis”. Kej 15 secara keseluruhan merupakan bagian dari tahap pembaharuan Deuteronomistis ini (Rendtorff 1980, Blum). (Tahap ini tampaknya juga disisipkan dalam bab 24, suatu kisah yang amat belakangan). Mengenai artinya dalam kerangka perkembangan Pentateukh, lihat di bawah ini.

Kita dapat melihat revisi lebih lanjut pada bab 17. Di sini konsep ‘perjanjian’ (covenant) dikembangkan pada petunjuk yang lain. Dari pihak YHWH ini janji akan keturunan yang tak terhitung berada di bagian awal (ay. 2,4), bersama dengan janji bahwa YHWH akan menjadi Allah Abraham dan keturunan-keturunannya (ay. 7s.; janji akan tanah juga dimasukkan pada ay. 8a). Sunat diwajibkan mulai Abraham dan keturunannya sebagai suatu tanda perjanjian, dan ini dipaparkan melalui perintah-perintah kultis secara mendetail (ay. 9-14). Di sini kita dapat melihat suatu tingkatan penyuntingan dari “kalangan imam”. Beberapa bagian dalam kisah Yakub juga terdapat di sini: di awal, terdapat pada berkat Isak terhadap Yakub (27.46-28.9); dan di akhir, terdapat pada pembicaraan ilahi dan reaksi Yakub (35.9-15), yang memperlihatkan hubungan yang dekat pada Kej. 17 (bdk. juga 48.3s.). Di sini kita juga memberi koreksi tematis terhadap tradisi awal. Dengan demikian sesuai bab 27.46-28.9—berlawanan dengan kisah dalam bab 27—karena takut pada Esau, Yakub tidak pergi kepada Laban, melainkan tawar-menawar dengan ayahnya, dan ketika diperiksa kembali Esau muncul sebagai seorang tokoh yang buruk (karena para istrinya adalah orang asing, bdk. 26.34f; 27.46;28.1,8s.); 35.9-15 nampaknya kembali menjadi suatu pembukaan tentang peristiwa di Betel dalam 28.11ss., yang menantang inti penegasannya, yakni bahwa Allah menyuruhnya untuk tinggal di Betel (bdk. 35.13).

Kita juga harus menghubungkan beberapa informasi kronologis yang timbul dalam kisah-kisah para bapa bangsa terhadap “revisi dari kalangan imam” itu, yaitu informasi tentang usia Abraham: mulai keberangkatannya dari Haran (12.4: 75 tahun), kelahiran Ismael (16.16: 86 tahun), penyunatan Ismael (17.1,24: 99 tahun; Ismael, ay. 25, 13 tahun), kelahiran Isak (21.5: 100 tahun), hingga kematiannya (25.7: 175 tahun). Terdapat kesamaan informasi mengenai para bapa bangsa itu. Angka-angka yang dibulatkan itu (75,100,175) menunjukkan bahwa inilah sistem yang dijunjung tinggi.

Pengeditan dari “kalangan imam” ini juga pada intinya menyusun kisah-kisah para bapa bangsa sebagaimana sekarang kita memiliki cerita-cerita itu dengan keadaan yang lebih maju, dengan menggabungkan semua hal penting ke dalam bagian-bagian yang ditandai dengan toledot. Ini pertama-tama terdiri dari rumusan-rumusan toledot (11.27;25.12;25.19;36.1 [9];37,2). Dalam cerita-cerita para bapa bangsa, kisah-kisah itu menjadi judul untuk sejarah para putra yang disebutkan dalam rumusan itu atau untuk suatu daftar keturunannya (atau keduanya sekaligus). Kerangka yang kedua (bukan dalam peristiwa Esau) yang berkaitan dengan judul itu adalah suatu catatan tentang kematian dan (dalam garis utama para bapa bangsa Israel) penguburan ayah oleh anak-anaknya (bdk. 25.17; 35.29;49.33;50.13). (Dalam teks ini ada rujukan-rujukan yang kembali pada Kej. 23 sesuai catatan-catatan tentang penguburan; tetapi kisah ini mungkin telah memiliki suatu sejarah yang bebas dari revisi kalangan imam.) Hanya dengan Abrahamlah judul toledot itu, yang berhubungan dengan catatan penutup (25.8ss.) ‘yang hilang’ (memang kita memiliki rumusan sesuai dengan Terah dalam 11.27); namun, ini diakibatkan oleh susunan materi yang tradisional itu: gelar Abraham akan harus menghantar cerita Isak, tetapi sebagian besar dari bagian itu (bab 26) telah digabungkan ke dalam cerita Yakub.

Jelaslah bahwa teks-teks dari “kalangan imam” yang berbeda itu mengembangkan tradisi yang ada dan sama sekali milik bersama sebagai suatu “kisah” yang bebas, karena dengan luas diandaikan (bdk. Salib).

Akhirnya dalam hal tingkatan revisi dari “kalangan imam” itu, sejarah utama (lih. di atas pada 1.1-2.3; bab 9) dan kisah-kisah para bapa bangsa membentuk suatu kisah berkesinambungan. Ini membuat kandungan bentuk final yang “kanonis” dari kitab Kejadian bergerak mulai penciptaan sampai penebusan (Anak-anak).

1.2 Kitab Keluaran

Permulaan Kitab Keluaran menandai suatu perubahan mendalam terhadap pengandaian-pengandaian kisah. Dalam kisah-kisah para bapa bangsa tokoh-tokoh protagonis selalu bersifat individual, tetapi kini bangsa itu membuat suatu penampilan. Peralihan itu secara eksplisit ditandai di awal. Ketujuh puluh ‘jiwa’ milik keluarga Yakub dan para putranya (1.1-15) menjadi “orang-orang Israel” (ay. 7, bene yiśra’el, ‘anak-anak Israel’ yang tradisional) atau ‘bangsa Israel’ (ay. 9), yang memenuhi seluruh negeri.

Hakekat cerita itu berubah pada saat yang sama. Hanya kadang-kadang ada suatu pertemuan antara individu-individu (mis. 2.1-10, 11-15a, 15b-22). Biasanya bangsa-bangsa itu sendiri merupakan salah satu dari pasangannya. Adakalanya bangsa itu sendiri dibedakan dengan orang-orang Mesir atau dengan Firaun (mis. 1.8-14); lebih sering Musa mewakili bangsa itu, acap kali bersama Harun (khususnya bab 7ss.). Tetapi Musa tidak hanya mewakili bangsa Israel terhadap orang-orang luar; banyak teks berbicara tentang konflik internal antara Musa (dan Harun) dan bangsa Israel, dan tentang keraguan dan ketidakpercayaan mereka (demikian dalam antisipasi 4.1ss.; lalu 5.19ss.; 6,9; 14.10ss.; 16;17.1-7;32). Oleh karena itu kisah-kisah itu juga—pada tingkatan yang lebih besar daripada kisah-kisah dalam kitab Hakim-hakim—memiliki suatu tema yang umumnya ‘teologis’: penindasan orang-orang Israel (bab-bab 1s.) merupakan pengandaian dari janji pembebasan (bab-bab 3s.). Sambungannya kemudian hanya berkaitan dengan bagaimana Allah melaksanakan rencana-Nya untuk membebaskan Israel dan bagaimana orang-orang Israel bereaksi terhadap bahaya-bahaya atas cara itu.

Rasanya diragukan seberapa jauh kita bisa mengandaikan kisah-kisah individual di sini. Hanya ada sedikit cerita individual yang dapat diuraikan (mis. 2.1-10, 15b-22; 17.1-7, 8-16). Bab 3 memulai seperti sebuah kisah asal-usul (etiologis) tentang sebuah tempat yang suci (ay. 1-6), tetapi kemudian menjadi suatu wacana ilahi dengan ruang lingkup yang lebih luas, yang mencapai puncaknya pada panggilan Musa (sampai 4.31). Cerita-cerita yang lain sungguh kentara dipengaruhi konteks yang lebih luas sehingga tidak memperlihatkan struktur cerita yang bebas (mis. 1.15-22; 2.11-15a). Sebuah kerumitan besar mengenai tulah dimulai pada 7.8, yang setelah kesimpulan sementara pada 10.28s, dalam cerita mengenai tulah terakhir (pembunuhan anak sulung) dilanjutkan dengan penyerahan dari Firaun dan eksodus (11.1-13.16); bagian ini langsung diikuti dengan cerita tentang penyeberangan Laut Merah dan pembebasan dari kejaran tentara Mesir (13.17-14.31). Teranglah bahwa dalam perbandingan dengan cerita-cerita para bapa bangsa, sedikit bebas, yang telah membentuk bagian-bagian naskah tradisional sudah digunakan di sini. Itu juga merupakan alasan penting mengapa tahap-tahap individual dalam perkembangan teks tidak dapat lagi diikuti dengan begitu jelas dalam tradisi eksodus.

Bagian pertama kitab Keluaran (1-15) dengan sangat sengaja bergerak menuju eksodus dari Mesir, yang cukup dekat dikaitkan dengan Paskah. Karena itu, bahkan telah ada keprihatinan untuk melihat keseluruhan bagian ini sebagai suatu legenda sakral tentang Hari Raya Paskah (Pedersen). Sungguh memungkinkan bahwa teks-teks itu dihadirkan dan bahkan mungkin ‘ditampilkan’ sebagai sebuah drama kultis dalam konteks Hari Raya Paskah/Mazzoth. Namun, adanya versi dari bab ini memberikan kesaksian terhadap suatu karya yang hati-hati atas redaksi teologis: setelah deskripsi tentang penindasan, perubahan nilai ditandai oleh YHWH yang mendengarkan ratapan umat Israel dan ‘yang mengingat perjanjiannya dengan para bapa bangsa’’ (2.23-25); ketika Musa memberitahukan pembebasan kepada umat Israel, mereka ‘percaya’ (4.31). Pernyataan tentang kepercayaan mereka ini kemudian diterima lagi dengan sungguh-sungguh setelah pembebasan kejaran orang Mesir di Laut Merah (14.31). Dengan ini cerita sampai pada suatu kesimpulan yang jelas. Nyanyian pujian dalam 15.1-18 (19-21) diletakkan pada poin ini sebagai gema nyanyian pujian dari peristiwa itu, dan juga mungkin karena dari sebuah kepentingan liturgis yang sesuai.

Kel. 15.22 melukiskan keberangkatan orang-orang Israel lebih lanjut. Setelah memberikan semua yang telah dikatakan sejauh ini, tujuan perjalanan mereka adalah tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka. Tetapi, pertama-tama mereka tiba di Sinai, yang dalam istilah geografis menjadi tanda sebuah jalan utama yang memutar. Berkaitan dengan hal ini von Rad (1938) tertarik pada fakta mencolok yang dalam sejumlah bagian-bagian teks seperti kredo, eksodus dari Mesir diikuti tanpa suatu perubahan mengenai masuknya ke tanah terjanji (Ul. 26.5-9;6.20-25; bdk. I Sam.12.8; Kel.15:12s.; Mzm.135.8-12). Pada teks-teks lain terdapat kurang lebih sebutan yang diperluas antara dua peristiwa tentang pengembaraan di tempat-tempat yang belum terjamah (mis. Yos. 14.7b; Mzm. 78.52b;136.16;105.40s.; Yer.2.6; Amos 2.10), tetapi di sini Sinai juga tidak disebutkan.

Jadi pada intinya peristiwa-peristiwa di Sinai dengan jelas merupakan suatu tradisi bebas yang pada awalnya tidak digabung dalam cerita tentang eksodus dari Mesir. Dari segi sifat kultis yang ditandai dari bagian teks yang berbelit-belit tadi, kelihatannya jelas bahwa kita harus melihat alasannya dalam penggunaan liturgis yang khusus pada tradisi Sinai. (Di sini istilah ‘perikop Sinai’ dalam sebuah frase yang berasal dari liturgi, sering digunakan.)

Hitungan tentang lamanya tinggal di Sinai merupakan suatu struktur kompleks yang sangat mencolok dan serentak bagian teks yang sangat luas itu berhubungan dengan Pentateukh (Kel.19.1-Bil.10.10). Sebagian besar dari cerita itu dibentuk dari kumpulan-kumpulan hukum dan peraturan kultis dari jenis-jenis dan sumber-sumber yang sangat berbeda, yang kini telah dibawa bersamaan dalam kerangka naratif.

Bagian bebas yang pertama dimuat dalam Kel. 19-42. Bagian ini berisi dua bagian teks yang legal: Dekalog (20:1-17) dan Kitab Perjanjian (20.22-23.19; nama itu diambil dari 24:7).

Dekalog, yang dengan sedikit perubahan juga tampak dalam Ul. 5.6-18 (21), berisi bagian-bagian cerita mengenai larangan-larangan, anggota-anggota individual yang dari situ terutama dimulai dengan lo’ yang negatif, ‘tidak’; namun, perintah-perintah tentang menjaga kekudusan hari Sabat (ay. 8), dan menghormati orangtua diberi dalam suatu rumusan yang positif. Tak mungkinlah merekonstruksi suatu bentuk dasar yang seragam. Kel. 34.28 telah mengandaikan bahwa ada sepuluh perintah (bdk. Ul.4.13); tetapi, penomorannya telah berubah dalam tradisi teks Massoretik Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh sistem penekanan ganda. Secara khusus ada suatu perdebatan seperti untuk apakah larangan tentang wajah-wajah (ay.4ss.) harus diperhitungkan sebagai suatu perintah (yang akan bermakna yakni ay. 17 hanya mengandung satu perintah) yang bebas (kedua). Dalam isinya, Dekalog itu memuat larangan-larangan dan perintah-perintah kultis (ay. 3-11); dan larangan-larangan dan perintah-perintah yang berhubungan dengan sikap antar individu (ay. 12-17). Jadi, Dekalog tersebut mencakup satu bidang yang lebih luas daripada bagian-bagian larangan yang lain dan dimengerti sebagai satu kumpulan peraturan-peraturan dasar.

Kitab Perjanjian adalah suatu kumpulan perintah-perintah legal dari jenis yang sangat berbeda. Bab 21.1ss. memuat pernyataan-pernyataan resmi, terutama dengan suatu rumusan kasuistik, mengenai hukum perbudakan (21.2-11), penyiksaan (21.18-36; dalam ay. 23s. lex talionis, hukum pembalasan) dan kejahatan-kejahatan yang berhubungan dengan kepemilikan (21.37-22.16); di antaranya adalah suatu rangkaian dari pernyataan apodeiktik tentang kejahatan-kejahatan yang menghasilkan hukuman mati (21.12-17). Selain itu, Kitab Perjanjian berisi peraturan keagamaan dengan pelbagai jenis, mengenai berhala-berhala dan bangunan altar/mesbah (20.23-26); sihir, bestialitas, persembahan kepada berhala-berhala (22.17-19); hujatan dan kutukan (22.27); daging binatang-binatang buas yang tidak dipotong secara sembarangan (22.30); dan petunjuk-petunjuk tentang persembahan kultis (22.28s.), tahun sabat, hari-hari raya, pesta-pesta, dan korban-korban (23.10-19); terdapat peraturan yang lebih lanjut mengenai sikap terhadap orang-orang asing, kerugian sosial, dan ‘musuh-musuh’ (22.20-26; 23.4s.,9) sebagaimana cara kerja yang legal (23.1-3,6-8). (Untuk 23.20-30 lihat di bawah.)

Dekalog dan Kitab Perjanjian telah disisipkan dalam kerangka cerita, yang selanjutnya telah menyatukan dan mengolah kembali pelbagai unsur dari tradisi.

Dalam Keluaran 19, awalnya keluaran dari Mesir ditekankan sebagai perkiraan akan pewahyuan kehendak ilahi yang akan datang (ayat 4, bdk. Juga 20: 2) yang menyebabkannya dituntun ke dalam konteks yang lebih luas dari tindakan historis YHWH terhadap Israel. Selanjutnya mengikuti persiapan-persiapan bagi pewahyuan Dekalog, yang di dalamnya ada penekanan khusus atas kedudukan istimewa Musa sebagai penerima langsung dari hukum (ayat 9, 20 dll.).

Setelah pewahyuan Dekalogitu, kedudukan khusus Musa ini lebih lanjut dikuatkan oleh ketakutan orang-orang Israel (20:18-21). Pada saat yang sama hal ini menghasilkan suatu pembedaan antara Dekalog dan hukum-hukum yang menyusul dalam Kitab Perjanjian. Keduanya diberikan Allah di Sinai,tetapi karena orang-orang Israel takut pada suara Allah hanya Musalah yang menerima hukum-hukum yang lain dengan maksud supaya Musa yang menurunkannya bagi orang-orang Israel. Jadi Dekalog merupakan dasar dan semua hukum yang mengikuitnya adalah perkembangan - dan Musa adalah pengantara. Akhirnya keseluruhan pernyataan akan hukum dalam bab 24 ditutup dengan suatu pengikatan perjanjian yang sungguh-sungguh (lagi, yang memasukkan suatu keberagaman tradisi-tradisi); di sini kata-kata kunci yang menentukan ’perjanjian’ dan ’mendengarkan suara YHWH’ dari 19:5 dibicarakan kembali dalam 24:7. jadi Keluaran 19 – 24 sekarang membentuk isinya sendiri yang kompleks.

Ada ’dekalog’ lainn dalam Keluaran 34:10-26 kerap menendakan suatu dekalog kultis, mirip dengan konteks dari suatau upacara perjanjian (ayat 10,27).

Bagian 34:10-26 memiliki sejumlah paralel ceritara dalam Kitab Perjanjian di atas semua yang ada dalam 23:12-19 (dengan suatu urutan berbeda dari firman-firman individual) dan dalam 22:28. Yang pertama dari dua firan (34:14,17) berhubungan terhadap firman-firman yang pertama (atau yang pertama kedua) dari Dekalog (20:3-5; terhadap 34:17, bdk. juga 20:23). Fakta dari hal ini adalah bahwa firman-firman individual dan larangan-larangn sering diturunkan dalam beberapa seri atau kumpulan.

Bagian ini, juga telah dirangkumkan dalam suatu kerangka lisan dan kemudian dikombinasikan dengan tradisi kemurtadan orang-orang Israel dari YHWH, melalui pembuatan ‘Anak Lembu Emas’ (bab 32). Sebagai suatu kesimpulan dari hal ini, Keluaran 32 – 34 sekarang membentuk suatu seritra khusus yang kompleks, yang membicarakan tentang keretakan dan pembaharuan perjanjian. Dalam tampilan bentuk ‘kanonis’ dari perikop Sinai itu, kita oleh karenanya melihat bagaimanapada permulaan tidak ada masa yang ideal ketika Israel patuh. Perjanjian hancur dan pembaharuan perjanjian, sah dari yang kemudian, memiliki dasarnya dalam rahmat dan pengampunan-pengampunan ilahi (Childs, 175).

Akhirnya, Keluaran 25 – 40 sangat jelas berbeda dari lingkungannya. Bab-bab itu memuat petunjuk-petunjuk untuk bangunan kemah suci dan bagi kebiasaan-kebiasaan cara memuja yang Musa terima dari Allah di Sinai (25 – 31), yang mana dilanjutkan dalan Kitab Imamat (Imamat 8) melaporkan pelaksanaan pentahbisan iamam yang diatur dalam Keluaran 29). Bab-bab itu termasuk suatu tradisi imami yang berpusat pada kultus dan pada detail-deetail yang tepat dari plaksanaannya.

Penyisipan hal itu dalam poin ini sungguh dipertimbangkan dengan baik. Setelah penyimpulan dari perjanjian, Musa dipanggil lagi ke Gunung Sinai (24:12) di mana ia menerima petunjuk-petunjuk bagi kemah suci dan cara memuja. Sementara ia menghabiskan empat puluh hari dan empat puluh malam di Gunung Sinai (ayat 18), orang-orang Israel nmelaksanakan kemurtadan (32:1). Hanya setelah pembaharuan perjanjian (34) pembangunan kemah suci dilakukan (ayat 35). Kebiasaan-kebiasaan dan pengimplimentasian cara memuja sampai pada suatu kesimpulan dalam petunjuk tentang Hari Pendamain (Imamat 16), dalam mana kemah suci secara tetap dibersihkan dari semua kenajisan, pelanggaran-pelanggaran dann dosa-dosa orang-orang Israel (ayat 16).

Mata rantai selanjutnya yang terkandung dlam kenyataan bahwa awan pada pertama sekali menutupi Sinai dan pada saat yang sama menyembunyikan ’kemuliaan’ (kabod) YHWH (keluaran 24:15-18), mengangsur ke kemah suci setelah kemah itu ditegakkan (40:34). Dari sekarang, pada kehadiran YHWH yang diperlihatkan dalam kabod–Nya menyertai Israel dalam perjalanannya melalui padang gurun. (Dalam 40:36-38 tradisi tiang-tiang awan dan api telah dikombinasikan dengan hal ini, bdk. Keluaran 13:21; 14:19,24; Bilangan 9:15-22; 10:11, dll.).

Di sana tersisi bagain Keluaran 15:22 – 18:27 yang sekarang berada antara keluaran dari Mesir dan ketibaan di Sinai. Di sisn teks-teks itu membawa serta semua perjanjian dengan pemberhentian di padang gurun. Bebrapa dari cerita itu memiliki maksud yang berkenan dengan tempat dan mungkin secara asli diteruskan sebagai aetiologi lokal (Mara, 15:23; Massa dan Meriba 17:7; juga Elim 15:27; Rephidim 17:1,8). Yang menaytukan mereka bersama dalam pemunculan bentuk mereka adalah ’sungut-sungut’ orang-orang Israel melawan Musa (dan Aaron) (15:24; 16:2, 7-9, 12; 17:3). Alasan bagi sungut-sungut itu adalah kehausan (15:24; 17:3) atau kelaparan (16:3) dihubungkan dengan suatu celaan pada Musa karena telah memimpin orang-orang Israel keluar dari Masir dan membawa mereka pada keadaan sekarang.(bdk. juga 14:11). Jadi dalam perhentian terakhir hal itu dilangsungkan melawan YHWH sendiri (bdk. Coats) dan membentuk suatu kontras yang tajam dengan ’iman’ orang-orang Israel setelah pembebesan di Laut Merah (14:31; di sana juga ada sisebutkan tentang kepercayaan dalam YHWH dan Musa). Pada saat yang sama hal itu dipersiapkan bagi kemurtadan orang-orang Israel di Sinai yang dengan mirip mengandung suatu elemen yang langsung melawan Musa (32:1).

Hanya Keluaran 18 yang tidak berisi tema tentang sungut-sungut. Bagaimanapun, seritra itu dihubungkan denga figur Yitro yang dapat muncul secara sulit di tempat lain.

Kitab Keluaran telah dihubungkan dengan Kejadian dlam beragam cara dalam proses redaksi. Beberapa referensi eksplisit meneruskan dan melatari pemunculan tanda-tanda gaya Deutronomistis dalam Kejadian 50:24. jusuf memberitahukan sebelum kematiaanya bahwa YHWH akan menuntun Bangsa Israel keluar dari Mesir ‘ke tanah yang telah dijanjikanNya kepada Abraham, Isak, dan yakub’. Dalam Keluaran 33:1 Musa menerima dari YHWh perintah untuk memimpin umat Israel ke tanah yang dijanjikan kepada Para Bapa Bangsa dalam kata-kata yang sama.

Kutipan terhadap janji tanah kepada para Bapa Bangsa ini, juga muncul dalam campur tangan Musa setelah keretakan perjanjian (32:13, terjalin dengan janji akan keturunan, bdk. Kejadian 22:17; dalam janji akan tanah, bdk. lebih lanjut Keluaran 13:5,11).

Perintah untuk berangkat ke tanah terjanji bagi Bapa-bapa terjalin dalam Keluaran 33:2 dengan janji bahwa YHWH akan mengutus seoarang ‘melamar’ (mal’ak) sebelum Musa. Janji yang sama muncul dlaam 32:34 setelah memperdengarkan campur tangan Musa (ayat 13). Nayatanya, kemdian gambaran malaikat penuntun (penolong) itu dimasukkan bagi tahap redaksi deutronomistis ini. Oleh karena itu penyimpulan paranetis bagi Kitab Perjanjian ini (23:20-33) dalam mana tuntunan malaikat itu disebutkan dua kali (ayat 20,23) juga harus dimasukkan dalam lapisan ini. Penuntunan kembali Israel (bdk. Ulangan 1:8; 6:10, dll).

Suatu hubungan yang lebih jauh dengan sejarah Para Bapa-Bapa muncul dalam Keluaran 2:23-25; 6:2-8, di mana ada suatu perujukan kembali terhadap perjanjian dari YHWH dengan para bapa. Secara khusus yang kedua dari teks-teks ini memperlihatkan suatu persamaan yang jelas dengan Kejadian 17 (tapi bdk. juga KEluaran 31:12-17) dan oleh karena itu dihubungkan kepada redaksi imami. Secara nyata lapisan redaksi ini dicoba sekali lagi untuk menekankan hubungan sejarah Bapa-Bapa dengan tradisi Musa.

1.3 Kitab Imamat

Kitab Imamat hampir keseluruhan terdiri dari materi formal mengenai masalah pengurbanan. Beberapa bagain cerita juga berbicara tentang tema pengurbanan; perumusan pengangkatan imam dibahas dlam Keluaran 20 (Imamat 8) dan aturan pertama korban untuk membangun altar yang baru (9), doa bagian mengenai persembahan kurban yangbenar (10:1-5, 16-20) dan satu mengenai seorang penghojat (24:10-14, 23).

Naskah-naskah dikumpulkan bersama dalam Kitab Imamat sangat berbeda bentuk sumbernya. Faktanya naskah-naskah itu dikumpulkan di sin untuk menggambarkan seluruh undang-undang pengurbanan seperti yang telah diberikan kepada Musa di Sinai (26:24; bdk. 7:38; 25:1; 27:34). Sub-sub koleksi yang beranekaragam masih bisa dikenali dengan jelas; sub-sub itu tidak disusun untuk konteksnya saat ini dan pada mulanya mungkin ditemukan dengan cara yang lebih atau kurang independen.

Imamat 1 – 7 terdiri dari sebuah kumpulan aturan mempersembakhan kurban yang kemudian terbagi ke dalam ritual pengurbanan (1- 5) dan aturan yang lain berkenan dengan pelaksanaan ritualnya (6). Aturan-aturan itu merefleksikan tahap-tahap yangberbeda sejarah persembahan korban Bangsa Israel, sebagaimana nyata melalui fakta bahwa rangkaian jenis persembahan itu dapat dibagi atas dua bagian yakni kurban penebus dosa dan kesalahan, yang selanjutnya (6:17-7,7) dimajukan dari tempat sebelumnya.

Aturan-aturan untuk kemurnian dalam Imamat 11 – 15 muncul sebagai suatu umpulan naskah-naskah lanjutan. Kumpulan itu terdiri atas bagian-bagian tersendiri mengenai binatang yang haram dan halal (11, bdk. Deutro. 14:3-31), kemurnian atas wanita setelah melahirkan bayi (12), kusta dan penyakit-penyakit lain yang muncul pada manusia, pakaian dan rumah (13), dan pemurnian melalui pengekangan tubuh. Mungkin bab ini suatu kali pernah menjadi kumpulan hukum, sebagaimana dapat dibela dengan melihat setiap bagian yang berakhir dengan kata tora (11:46; 12:7; 13:59; 14:32, 54,57; 15:32).

Imamat 17 – 26 biasanya ditandai dengan ’Tanda Kekudusan’ dan diterima sebagai suatu kumpulan hukum-hukum yang independen. Pada saat yang sama, secara berlanjut ditekankan bahwa tiada tatanan batiniah yang dapat dikenali dalam ini. Oleh karena itu lebih aktuallagi eksistensi dari ’Tanda Kekudusan’ ini secara regular telah dipertanyakan (bdk. Wagner). Nyatanya bab-bab individual memiliki ciriciri yang sangat beda. Lebih lagi kata hanya dalam bab 19 – 22 dalam kelompok teks-teks ini diturunkan (bdk. 19:2), muncul hanya dalam bab 19 – 22 dalam kelompok teks-teks ini (19:2; 20:7; 21:6-8, 15, 23; 22:9,16, 32); bagaimanapun hal itu terjadi juga diluarnya (contoh 11:44). Jadi Imamat 17 – 26 dapat secara meykinakan diterima sebagai sutau kumpulan independent.

Imamat 17 – 20 menguraikan denganmirip kultus yang najis, di atas semua yang tak dapat dihilangkan. Oleh karena itu kita kerap menemukan di sini pernyataan bahwa seseoarang yang melampaui melawan hokum-hukum khusus ‘diputuskan’ dari komunitas persekutuan dan umat Allah (17:4,9, 10, 14; 18:29; 19:8; 20:3, 5, 6, 17). Kenajisan ‘yang tak dapat ditahirkan’ yang dekian (Wagner) dapat terjadi melalui pembelaan-pembelaan melalui aturan-aturan yang sacral atau melalui memakan darah (17), hubunganseksual yang haram (bab 18), kejahatan-kejahatan membaea hukuman mati 9bab 20; factor yang umum dalam kumpulan aturan-aturan yang berfariasi dlam bab 19 tidaklah jelas). Imamat bab 21 memperbincangkan lebih jauh aturan-aturan khusus bagi kekudusan imam-imam (21) dan kebaktian-kebaktian kurban (22).

Perbedaan antara kenajisan yang dapat ditahirkan dan yang tak dapat ditahirkann juga membuat posisi Imamat 16 jelas, aturan-aturan bagi ‘Hari Raya Pendamaian’ (yam ha – kippurium, bdk. Imamat 23:27), antara Imamat 11 – 15 dan 17.

Seluruh penyucian dari kenajisan menjadi suatu kesimpulan dan puncak dari upacara tobat tahunan yang meriah itu, yang pada waktu yang sama juga dilaksanakan penyucian tempat kudus dari kenajisan yang disebabkan oleh semua peristiwa yang untuknya upacara tobat tidak dapat dilaksanakan (tidak berlaku).

Awalnya detail-detail penanggalan dikumpulkan dalam Im 23-25: penanggalan pengurbanan (23), yang dilengkapi dengan aturan menyalakan pelita dan menyajikan roti (24: 1-9); peraturan tentang tahun sabat (25:1-7) dan tahun Yubelium (8-13). Pada bab 24:15-22 peraturan lebih lanjut seputar kejahatan yang diganjar dengan hukuman mati telah dimasukkan ke dalam cerita tentang penghujat (24:10-14,23).

Kumpulan-kumpulan yang beragam ini sekarang bertempat pada konteks yang lebih luas, yang juga menjadi bagian Kitab Keluaran. Bab terakhir, Im. 26 mungkin dimaksudkan sebagai kesimpulan terhadap seluruh undang-undang di Sinai (Bdk. ayat 46; yang diulangi dalam 27:34, sesudah suatu tambahan). Itu merujuk balik ke peraturan dasariah: larangan pembuatan patung Allah, yang berasal dari Dekalog (Im. 26.1; Bdk. Kel.20.4f.) dan perintah tentang hari sabat (Im. 26.2; Bdk. Kel. 31.12ss.). Ini menjanjikan berkat bagi Israel, jika mereka mentaati hukum yang disampaikan di Sinai (ayat14-38) dan akhirnya mengharapkan bahwa Orang Israel “yang selamat” bertobat agar Yahwe “akan mengingat perjanjian-Nya” (ayat 39-45)

Di sini kita memiliki gaung perumusan dari teks-teks Imamat terdahulu (contoh Kel.6:2-8). Itu memperlihatkan bahwa taraf peredaksian ini tidak hanya mengaitkan bagian belakang (sebelumnya atau lampau) dengan kisah patrinial dan sejarah awal, tetapi juga mengaitkan bagian depan (sesudahnya atau kemudian) terhadap kultus dan implementasinya di Sinai. Pada saat yang sama terdapat juga hubungan yang jelas antara Deutronomis dengan istilah Deuteronomistis, dalam pengguaan kata­-kata seputar ketaatan terhadap hukum dan perintah (Im. 26:3,14s.,43, dan juga 18:4f.,26; 19:19,37). Hubungan antara Imamat dan Deuteronomis dengan tradisi-tradisi Deuteronomistis ini masih perlu diklarifiksi lebih lanjut (Thiel. 68ss).

1.4 Kitab Bilangan

Dari semua kitab-kitab yang ada dalam Pentateukh, Kitab Bilangan merupakan kitab yang paling sulit untuk dipahami atau ditelaah. Kitab ini memuat materi yang sangat beragam dan memberi kesan yang sangat heterogen. Bahkan untuk membaginya saja sulit. Suatu jedah yang panjang terdapat sesudah Bilangan 10:10; Israel keluar dari Sinai. Maka, bagian pertama dari kitab ini merupakan “perikop Sinai” dalam pengertian yang lebih luas, yang dimulai dengan Keluaran 19:1. Bagian pertama berikutnya pertama-tama berkisah tentang tinggalnya Israel di padang gurun, jalan ini dihubungkan dengan Keluaran 15:22-18:27. Kemudian cerita bergerak melampaui tema pendudukan Transjordan, sehingga bagian baru diawali dengan Bilangan 20:14 (Beberapa ekseget hanya membuat jedah di dalamnya, atau di akhir dari Bilangan 21).

Bagian Bilangan 1:1-10:10 kembali didominasi peraturan-peraturan tentang kultus, yang mempunyai daya tarik yang jelas dengan teks-teks dalam Kitab Exodus dan Imamat.

Dalam beberapa kasus, ini merupakan tambahan terhadap peraturan-peraturan terdahulu: Bilangan 5:5-10 menambah Imamat 5:20-26 dalam hal pembagian kurban asam yang menjadi bagian Imam (ayat 8-10); Bilangan 8.1-4 mengulangi Keluaran 25:31-40 dan 37:17-24 dalam bentuk singkat; Bilangan 8.5-22 kemudian membuat peraturan-peraturan tentang pentahbisan orang Lewi dalam 3:5-13 dari aspek spesifik “pengudusan” (ayat.6s,15,21); Bilangan 9:1-14 melengkapi peraturan perayaan Paskah Yahudi dalam Keluaran 12, di atas semuanya mengenai mereka yang mengambilan bagian dalam kultus yang “bersih/suci” pada masa Paskah.

Kata kunci “kemurnian” menentukan semua bagian. Bab 1-4 bercerita tentang sensus orang-orang Israel dan pengorganisasian mereka ke dalam satu kemah besar; di sini mereka dibagi berdasarkan suku-suku ke dalam empat bagian sesuai arah mata angin, di sekeliling Tabut Perjanjian (kemah pertemuan). Menurut Bilangan 5:1-4 sifat kemah ini sebagai sebuah tempat suci yang di dalamnya Yahwe berdiam (ayat 3) dipertahankan dengan menjauhkannya dari kemah orang-orang “yang tidak bersih” dalam arti kultis. Maka peraturan-peraturan berikutnya jelas telah dikumpulkan di sini dari perspektif ini: masalah ketidakbersihan (kenajisan) adalah isu persoalan dalam kecurigaan terhadap perjinahan seorang istri (5:11-31), dalam kasus orang Nazir (bab 6); pentahbisan orang Lewi (8:5-22) dan dalam Paskah Yahudi (9:1-11). Kesucian kemah dan kehadiran Yahwe diteguhkan kembali oleh berkat imam (6:22-27), perkataan Yahwe dari “balkon” tabut (7:89, Bdk Keluaran 25:22) dan oleh awan yang menyelimuti tempat suci (9.15ss).

Yang terakhir ini adalah sebuah rekapitulasi dari Keluaran 40:2,34-38. Ini memberi keterangan akan keseluruhan konsep mengenai perikop Sinai. Perundang-undangan kultis dari Imamat 1:1-Bilangan 9:14 adalah sebagai suatu faktor yang menunda: hal itu memberikan semua peraturan yang bangsa Israel butuhkan untuk mampu berjalan melalui padang Gurun dengan tabut perjanjian di tengah-tengah mereka sebagai bangsa pilihan Yahwe dan yang dikuduskan. Keluaran 40:34-38 dengan jelas telah berbicara tentang awan dan dua fungsi utamanya untuk menutupi Tabut Allah dan membimbing Israel dalam perjalanannya. Aspek kedua ini sekarang menjadi bagian awal pada Bilangan 9:15-23, yang di dalamnya tradisi tiang awan dan api dari tradisi keluaran (Keluaran 13.21s,14.19s,24) dikutip dan dikembangkan kemudian lebih lanjut. Sekarang awan memberi tanda penentuan tempat kemah, sehingga Israel yang mengembara di padang gurun mengambil tempat sesuai dengan petunjuk Yahwe. Sebagaimana juga dengan fungsi-fungsi lainnya, terompet perak memberi tanda penggeseran kemah dengan suatu cara yang teratur (Bil. 10:1-10).

Pengembaraan Israel di padang Gurun, yang beristirahat di dataran Moab (22:1), di mana Musa kemudian wafat, mulai dalam Bilangan 10:11. Bilangan 20:14 menceritakanan awal pejiarahan penuh harapan menuju tanah terjanji dengan mengirim utusan ke tanah Edom.

Bilangan 10:11-20:13 juga memuat teks naratif yang dalam banyak hal memiliki kemiripan dengan cerita tentang Israel di padang gurun dalam Keluaran 15:22-18:27 (Bdk. cerita parallel Keluaran 7:1-7; Bilangan 20:1-13). Dalam kedua bagian itu, pemberontakan Israel kepada Musa dan demikian juga kepada Yahwe sendiri ditempatkan di bagian awal. Dalam teks-teks bilangan ada juga disebutkan “sungut-sungut” (14:2,27,29,36; 16:11; 17:6,20,25); akan tetapi ungkapan itu tidak diasosiasikan dengan kekurangan makanan atau minuman (Bdk. 11:4-6; 20:2-5; 21:5) tetapi dengan protes di satu sisi terhadap bahaya dalam perjalan ke tanah terjanji (14:2s) dan di sisi lain terhadap posisi istimewa Musa (16:1-11: 17:6; Bdk.12). Dengan demikian maka di sini terdapat suatu ungkapan yang jauh lebih dasariah akan pemberontakan Israel terhadap kehendak Yahwe. Di sini konsep “kekudusan” memainkan peranan penting (11:18; 16:3,5,7; 17:2s; 20:12s).

Perikop tentang hukum kultus yang termuat dalam bagian ini jelas dimasukkan dari perspektif ini. Bilangan 15 memuat aturan-aturan pengurbanan suplementer yang berhubungan dengan persembahan sebagai tambahan terhadap kurban binatang (ayat1-16; Bdk. Imamat 2; 7: 11) dan terhadap kurban dosa (ayat 22-31, Bdk. Imamat 4s); Bab itu berakhir dengan seruan kepada Israel untuk memperhatikan perintah Yahwe dan agar menyucikan diri bagi-Nya (ayat 40). Dalam konteks sekarang, penekanan akan pengampunan bagi “seluruh komunitas Israel” mungkin berhubungan dengan keberdosaan Israel di “masa belajar” dalam bab 13. Referensi bab 18 terhadap pemberontakan, yang dilaporkan lebih awal, lebih mudah dipahami: ketaatan sesungguhnya terhadap undang-undang bagi pelayan tertahbis adalah untuk menjamin bahwa kemurkaan Yahwe tidak turun lagi kepada Israel. Kata “kudus” merasuki seluruh bab itu. Akhirnya, air penyucian yang disediakan dengan abu dari seekor lembu merah adalah untuk menjauhkan kenajisan dari Israel dari kenajisan di masa mendatang yang membahayakan peribadatan mereka.

Cerita tentang mujijat air di Meribah dalam Bilangan 20:1-13 memberi suatu jedah yang jelas: karena ketidakpercayaan mereka (yang menurut cerita itu mungkin tampak dari fakta bahwa mereka tidak “menyuruh” batu itu mengeluarkan air, sebagaimana diperintahkan Yahwe dalam bab 8, melainkan menggunakan tongkat untuk mujijat itu, ayat 11) Musa dan Harun tidak diijinkan memasuki tanah terjanji. Dengan demikian mereka termasuk generasi yang harus mati di padang gurun.

Bil 20: 14-36 juga memuat cerita bagian per bagian yang berkaitan dengan hukum kultus. Bagian pertama didominasi oleh cerita yang keseluruhannya menunjukkan rintangan dan bahaya dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Ada laporan mengenai pertempuran dengan lima raja di tanah yang dilalui bangsa Israel: dengan raja Edom (Bil 20: 14-21) dan raja Arad (Bil 21: 1-3); melawan Sihon raja bangsa Amori (Bil 21: 21-30) dan Og raja negeri Basan (Bil 21: 33-35) yang tanahnya didiami bangsa Israel; dan akhirnya melawan Balak, raja orang Moab, yang memerintahkan Bileam si pelihat untuk mengutuk Israel (Bil 22-24).

Cerita tentang Bileam (Bil 22–24) adalah suatu bentuk literer lepas yang telah melalui sejarah panjang dalam tradisi (Bdk. Gross). Dua kisah dalam Bilangan 21: 3-9;15-19 seringkali dipahami sebagai yang tertua, asal-mulanya sebagi kidung pujian kebebasan bangsa Israel sebagai “bintang Yakub” (Bil. 21: 4-9) yang merujuk pada Daud, sedangkan dua kisah yang diungkapkan dalam Bilangan 23: 7-10 dan 18-24 mungkin hanya hasil perumusan dari pengelaborasian lebih lanjut kisah itu.

Bahaya selanjutnya dipresentasikan dengan serangan ular-ular, yang untuk mengatasinya Musa membuat “ular berhala“ (Bil 21: 4-9, mungkin sebuah etiologi untuk sebuah patung kultis di Yerusalem, Bdk. 2 Raj 18: 4), dan ajakan kepada Israel untuk memuja Baal oleh wanita Moab (Bdk. 25).

Di sini ada suatu jedah yang jelas: dalam Bab 26 ada sensus baru yang tidak dapat dipungkiri (ayat 64) bahwa semua keturunan dalam sensus di Sinai (Bab 1) tidak hidup lebih lama, sebagaimana telah dimaklumkan Yahwe (Bil 14: 29). Periode ini berakhir pada panggilan Yosua sebagai pengganti Musa (Bil 27: 12-23); di sini sesudah kematian Harun (Bil 20:24), ada perujukan yang eksplisit mengarah kembali pada keberdosaan di Meribah (Bil 27:14).

Bagian cerita ini sekarang benar-benar membuat latarbelakangnya pudar; hanya dalam bab 31 ada sebuah laporan mengenai kampanye melawan orang-orang Median. Bahkan persoalan-persoalan ritual dan seremonial ditempatkan di bagian di depan. Dalam tambahan ada peraturan sah: penanggalan pengurbanan dalam Bilangan 28s., yang di sini tampak hampir sebagai suatu pembelaan terhadap Musa segera sesudah pengumuman kematiaannya, berbagai petunjuk tentang status sah para wanita (27. 1-11, dengan ‘perbaikkan’ dalam bab 36;30.2-17); di sini persoalan seputar hak warisan dalam 27:3 dengan jelas terikat pada konteks itu.

Sebaliknya, perhatian adalah terhadap penempatan sementara: penyerahan tanah kepada bangsa Timur Yordan (Bil. 32), yang memproyekkan kembali periode awal tentang perluasan wilayah-milayah kesukuan, petunjuk tentang pembagian tanah sebelah Barat sungai Yordan 33;50-34.29); pembatasan orang Lewi dan Tabut Allah(35); dan antara suatu daftar perhentian pegembaraan di padang gurun(33), yang dalam keseluruhan pasti kelihatan sebagai usaha yang lambat untuk merekonstruksi perjalanan itu, mungkin penggunaan tempat peziarahan yang lebih awal ke Sinai (Noth).

Bil. 33.50-56 dan bagian yang lain dari teks ini hingga akhir kitab Bilangan memperlihatkan suatu stempel deutronomistik. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk yang sekarang ini tidak hanya berhubungan dengan bentuk lampau, dengan buku lain dari dari Pentateukh, tetapi juga bentuk yang akan datang, dengan buku lain dari Pentateukh, dengan kitab-kitab sejarah Deutronomistis.

1.5 Ulangan

Kitab Ulangan merupakan suatu kitab yang dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kitab, yang mana kitab itu dirumuskan sebagai suatu perkataan Musa kepada umat Israel. Dalam pada itu, kitab Ulangan juga masih memiliki hubungan dengan kitab-kitab Pentateukh sebelumnya; perkataan Musa yang disampaikan di ‘seberang suangai yordan, di tanah Moab’ (Ul 1.1,5) merupakan suatu bentuk peristiwa yang juga terdapat dalam Bil 22.1, selain itu, kematian Musa dan pengangkatan Yosua sebagai pengganti Musa yang merupakan penutup kitab ini, juga sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam Bil 27.12-23. Pengangkatan Yosua juga memberikan adanya suatu hubungan antara kitab Ulangan dengan kitab-kitab berikutnya.

Struktur kitab Ulangan mudah utnuk dipahami. Struktur ini diawali dengan dua buah pidato pengantar (Ul 1.1-4; 4.44-11.32), yang kemudaian diikuti dengan suatu kumpulan hukum yang harus dilakukan dilakukan dengan setia (bab 12-26); bagian penutup (bab 27-34) tersusun dari unsur-unsur yang beranekaragam, sedemikian sehingga bab 28-30 yang dirumuskan sebagai suatu perkataan Musa membentuk akhir perkataan yang sebelumnya telah dimulai pada 1.1.

Pendobelan pidato pengantar inilah yang serring menimbulkan suatu masalah. Wellhausen memandang hal ini sebagai suatu indikasi atas dua buah ‘edisi’ yang berbeda dari kitab Ulangan dengan pengantar yang berbeda pula, yang mana dua ‘edisi’ yang berbeda itu kemudian digabungkan. Pemahaman lain bahwa Ul 1.1-4.40 adalah sebagai bagian dari ‘kerangka’, sedangkan bagian keduanya adalah seperti yang nampak pada bab 31-34. Akhirnya, Noth berasumsi bahwa Ul 1.1-4.40 dimaksudkan untuk memperkenalkan bukan hanya kitab Ulangan saja tetapi juga keseluruhan sejarah Deuteronomistis, sedangkan Ul 4.44-11.32 merupakan suatu pidato pengantar yang nyata bagi kitab Ulangan. Bagaimana pun, para ahli telah menunjukkan bahwa pidato pengantar pertama itu juga dipusatkan pada perundang-undangan (peraturan yang harus ditaati) berikutnya. Dua buah pidato pengantar itu mungkin berasal dari adanya tahap sejarah kitab Ulangan yang berbeda, tetapi sekarang susunan yang terbagi-bagi itu telah terbentuk secara menyeluruh.

Pidato pengantar pertama (1.1-4,40) memberikan sebuah tinjauan perspektif atas sejarah keberangkatan bangsa Israel dari Horeb (1-3; dalam kitab Ulangan nama Horeb dipakai untuk menunjuk Sinai) dan berakhir dengan sebuah penerimaan paraenetis yang panjang. Perjalanan itu diperintah oleh seorang pemimpin yang cukup terkemuka pada masa itu: keturunan yang ada di Horeb tidak percaya akan janji tanah dan oleh karena itu tidak diperbolehkan memasuki tanah itu (1.19-2.15). Pada masa berikutnya, generasi baru yang baru saja mengalami bimbingan dan kemenangan ilahi atas raja-raja Transyordan (2.16 -3.21) dibimbing untuk memperhatikan perintah yang telah disampaikan YHWH di Horeb, ketika mereka hidup di tanah terjanji (4.1-22), di sisi lain mereka pun akan dituntun ke luar dari tanah terjanji ke dalam penghapusan (4.23 -31). Akhirnya, 4.32-40 merupakan sebuah tema sentral dari yang dikembangkan dari teologi Deuteronomis; YHWH, pencipta bumi, telah memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya karena cinta-Nya pada nenek moyang mereka (ayat 37, bdk. 7.6-8) dan Ia pun telah menyatakan perintah-Nya itu (bdk. 10.12-17, dll.).

Pidato pengantar ke dua (4.44 -11.32) mempunyai sebuah permulaan baru (4.44 -49; bdk. 1.1-5) dan kemudian mengulangi Dekalog (5.6-21) bagi generasi sekarang (5.3); perbedaan paling penting dari Keluaran 20 adalah dasar hukum sabat dalam ayat 15 (‘ingatlah bahwa kamu adalah seorang budak Mesir…’, bdk. Keluaran 20.11), tugas Musa sebagai penengah (bdk Keluaran 20:18-21 ) di susun secara panjang lebar (5.23 – 31), supaya seperti yang ada dalam perikop mengenai Sinai, segala perintah lain itu merupakan sebuah perkembangan dari Dekalog. 6.4 merupakan pernyataan inti dari keagamaan bangsa Israel yang diberikan dalam sebuah bentuk yang padat dengan suatu ungkapan yang lebih mendalam “Dengarlah, hai orang Israel (bdk. 5.1). YHWH adalah Allah, YHWH adalah Allah satu-satunya (bdk. juga 4.35,39;7.9:10.17) dirangkai dengan perintah supaya orang Israel tetap mencintai Allah (ayat 5) dan tetap menjaga perintah itu di dalam hati mereka dan dihadapan mata mereka (ayat 6-9). Paraenesis berikutnya memberi peringatan pada bangsa Israel supaya menentang (tidak mengikuti) segala pemujaan terhadap allah-allah lain (6.10-9; dan akhirnya dimunculkanlah suatu keyakinan akan sejarah keselamatan yang secara singkat di kutib, untuk diwariskan pada generasi berikutnya (6.20-25). 7.1-10.11 memperingatkan Israel sebagai bangsa pilihan Allah terhadap bahaya kecongkakan yang akan terimbas kepada bangsa-bangsa lain (7.6-8) dalam menikmati pemberian tanah itu atau bahkan dalam kesombongan atas kebenaran diri mereka (9.4-6); alasan ini disampaikan melalui sebuah referensi yang panjang mengenai kemurtadan di Horeb (9.7-10.11). Penutup besar paraenesis (10.12-11.32) berakhir dengan suatu pilihan atas berkat dan kutuk sebagai sebuah konsekuensi dari adanya kemauan untuk mendengar atau untuk tidak mendengar perintah YHWH (11.26-28).

Masalah yang timbul pada pidato pengantar kedua itu, juga terjadi dalam kumpulan hukum: alamat bagi orang-orang Israel kerap kali digunakan kata ganti di antara orang kedua tunggal dan orang kedua jamak, hal itu sering tampak pada ayat tunggal (misalnya 6.3, 7.4) maupun pada bagian yang tetap dari suatu bab (misalnya 6:13-19). Keterangan yang berbeda-beda berikut ini merupakan suatu alasan mengapa ada perubahan dalam jumlah: perubahan dalam jmumlah terjadi karena adanya gabungan dari bebrapa sumber (misalnya Steurnagel dan yang lainnya); perubahan dalam jumlah terjadi karena adanya pemakaian dasar Deuteronomis yang dikerjakan oleh editor ‘Deuteronomistis’ (misalnya Minette de Tillese); perubahan dalam jumlah terjadi karena adanya alasan-alasan……….. (misalnya Lohfink). Tak satu pun dari solusi-solusi ini yang sungguh meyakinkan, khususnya mengenai hal itu (perubahan dalam jumlah) agaknya hanya bersesuaian dengan tekanan-tekanan yang ada di luar isi teks. Karena alasan inilah problem mengenai adanya perubagan dalam jumlah sebagaian besar tidak terlalu dihiraukan dalam mengetahui eksegesenya.

Pidato pengantar ditandai oleh adanya karakteristik bahasa Deuteronomistis. Sifa tkhas yang yang ditonjolkan tidak hanya gaya bahasanya yang kasar, terlalu sulit, dan bertele-tele (dan dalam bahasa Ibrani biasa), tetapi juga paraenesis, yakni suatu peringatan (nasihat) yang harus diulang secara terus-menerus supaya orang-orang Israel tetap menjalankan perintah Allah, yang mana paraenesis ini sering dikaitkan dengan janji atas berkat kehidupan di tanah terjanji. Di sini ada suatu stereotip atas suatu ungkapan (ucapan) yang sering digunakan secara berulang-ulang, supaya ara ahli memiliki titik tolak untuk berbicara mengenai ‘pola paraenetis’ (Lohfink, 90 ss.) sebagaimana yang kita temukan dalam Ul 4:1; “Maka sekarang, hai Engkau orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang Kuajarkan kepadamu, untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu” (bdk. 4: 40; 5: 1, 31-33; 6: 1-3, dan lain-lain). Hal ini juga dimaksudkan untuk memberi nasihat pada orang-orang Israel supaya dapat mencintai YHWH (6.5), takut akan Dia (6.2), dan mengabdi kepada-Nya (6.13, bdk. ikthisar pada 10.12s.), alasan inilah yang menjadi petunjuk atas cinta YHWH pada nenek moyang orang-orang Israel (4.37, 10.35), dan atas sumpah yang Dia ucapkan pada mereka (1.8; 6.10; 7.8,12, dll.), dan juga bahwa alasan tersebut dipakai untuk menjadi petunjuk atas adanya pembebasan dari perbudakan di Mesir (4.20; 5,15; 7.8). Akhirnya ada suatu peringatan bagi orang-orang Israel supaya mereka berani menentang (melawan) pemujaan terhadap allah-allah lain (4.19; 6.14; bdk. skema Lohfink, 295ss; Weinfeld, 320ss.).

Kumpulan hukum (bab 12-26) juga secara keseluruhan dibubuhi oleh adanya gaya bahasa Deuteronomistis paraenetis. Disamping itu, bahan yang masih muda (awal) pun dapat diakui sebagai materi yang sah, yang mana hal itu pun dimasukkan dalam kumpulan hukum ini dank arena itulah maka ada bebrapa kesamaan dalam Kitab Perjanjian.

Kumpulan hukum mulai dengan suatu tuntutan tegas mengenai ‘pemusatan kultus’, yaitu peraturan bahwa pengorbanan akan diselenggarakan dan pengangkatan pujaan akan dibuat hanya pada satu tempat ibadat (12.2-28). Tuntutan ini menentukan bagian pertama dari kumpulan hukum itu (bab 12-18; bdk. 14.22-26; 15.19-23; 16.1-17; 17.8-13; 18.1-8 dan 26.1-11). Pertanyaan yang cukup sulit sehubungn dengan bagian ini ialah bahwa tidak satu pun dari tradisi awal yang diambil oleh kitab Ulangan tetapi justru ada suatu rumusan khusus (tersendiri) yang baru dalam bentuk ini. Rumusan khusus (tersendiri) ini memiliki dua aspek: kemurnian kultus (yaitu pembatasan terhadap pengaruh dunia luar, bdk.12.2-7), dan kesatuan kultus (yaitu pemusatan dalam komunitas, bdk. 12.8-12). Di sini tempat ibadat tidak disebutkan namanya, tetapi diuraikan dengan kata-kata seperti ‘tempat yang akan dipilih YHWH’, yang mana kata-kata itu sering dibubuhi dengan tambahan ‘untuk menegakkan nama-Nya di sana’, dan lain-lain (12.5,11,14,18,21; 14.23-25, dll). Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa referensi yang asli mengenai tempat ibadat itu bukanlah merujuk ke Yerusalem melainkan ke tempat ibadat yang lain (misalnya Sikhem, lihat dibawah); meskipun demikian, tidak ada referensi yang kuat dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan beberapa tempat ibadat lain yang sungguh sesuai dengan arti penting dari tempat ibadat yang dimaksudkan itu.

Sulit untuk membagi kumpukan hukum itu secara lebih terperinci seabagai suatu susunan yang sistematis, karena isi yang ada di dalamnya hanya dapat dikenal sebagian saja. Barangkali karena kumpulan hukum itu sendiri didasarkan pada sub-koleksi awal, yang mana susunan dari bahan-bahan itu telah tersimpan di dalamnya (bdk. Merendino dan Seitz); barangkali kita tidak mengeerti secara lebih mendalam mengenai kesatuan teks yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya; barangkali juga, hubungan yang ada di antara teks-teks itu pun telah diubah oleh tambahan-tambahan yang ada berikutnya. Bagaimana pun juga, kita mungkin mengikuti pendapat Horst sehubungan dengan sebutan atas bagian pertama dari kumpulan hukum itu (bab12-18) ‘kuasa hukum YHWH’, sebab hal itu terutama menyangkut soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) kultis atau pelayan-pelayan (pendeta-pendeta) yang memiliki hubungan khusus dengan YHWH. Selanjutnya, kumpulan hukum itu pun masih dapat dibagi-bagi lagi: pemusatan kultus (12.1-28); larangan atas ibadat lain/sesat (12.29-14.21); persembahan, tahun sabat dan tugas-tugas sosial (14.22-15.18); anak sulung dan perayaan-perayaan (15.19-17.1 {tanpa 16.18-20}); pelayan-pelayan (pendeta-pendeta) dan cara kerjanya yang sah/sesuai dengan hukum (16.18-20 dan 17.2-18.22). Bagaimana pun juga, pembagain ini masih tetap sangat kasar.

Pada bagian kedua dari kumpulan hukum ini (bab19-26), bahkan lebih sulit untuk mengenal adanya pembagian secara keseluruhan. Akan tetapi, kita kerap kali dapat menandai kelompok-kelompok (bagian-bagian) teks yang memiliki poin-poin muatan dan atau bentuk yang bersamaan. Pertama-tama, bab 19 terdiri atas peraturan-peraturan utama yang terutama sekali berhubungan dengan kehidupan komunitas secara keseluruhan, sedangkan bab 22 merupakan suatu peraturan mengenai tingkah laku individu (perseorangan) yang ditempatkan pada bagian depan: bab 19 merupakan suatu peraturan-peraturan resmi, terutama mengenai pembunuhan (ayat 1-13) dan hukum kesaksian (ayat 15-21), yang mana hal itu dipisahkan oleh suatu peraturan yang berlawanan dengan perpindahan sesuatu yang mudah dilihat/dikenal (ayat 14); bab 20 berbicara tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan peperangan, dan hal itu kemudian membawa pada suatu peraturan mengenai korban-korban yang tidak diketahui oleh pembunuhnya (21:1-9); tawanan perempuan yang diambil menjadi istri (21.10-14 {permulaanya sama dengan apa yang ada pada 20.1}), hak untuk mewarisi anak-anak dari dua orang isteri (21.15-17); persoalan sehubungan dengan anak (putera) yang keras kepala (21.18-21); tata cara pada hukuman gantung (21.22ss.), permulaan pada ayat 15, 18,21 menunjukkan adanya susunan kata yang serupa; tanggungjawab atas harta milik sesamanya (22.1-4); berbagai corak larangan mengenai percampuran (22.5, 9-11), yang dipisahkan oleh 22.6-7. mengenai burung induk dan tempat pembaringannya; hukum seks (perkelaminan) dan hukum perkawinan (22.13-23.1), yang mana bagian ini membawa pada peraturan-peraturan mengenai kesucian kultus masyarakat (23.2-9), suatu rentetan larangan yang ada dalam 23.1,2,3,4,8a,8b; larangan-larangan bagi orang yang sedang berada dalam kemah pertempuran (23.10-15); rentetan larangan mengenai budak pelarian (ayat 16s.), upah sundal (ayat 18): denda-denda bagi suatu tindakan yang tidak sopan (ayat 19) dan pemungutan bunga (ayat 20-21); 23.22-26: rentetan permulaan dengan kata “jika” (ki) mengenai janji-janji (ayat 22. 23-24) dan pencurian makanan (ayat 25); hukum perkawinan (24.1-4,5); kumpulan larangan dan pernyataan resmi kasuistis mengenai perhimpunan manusia (hukum perikemanusiaan) (24.6-25.18): larangan-larangan (beberapa diperpanjang/diperluas oleh paraenesis) mengenai pengambilan janji (24.6), pemberian gaji/upah (24.14f), pembantaian lembu jantan (25.4), dua jenis timbangan dan ukuran/sukatan (25.13-16); diselingi oleh pernyataan kasuistis mengenai penculikan (24.7), pengambilan gadai (24.10-13), pengambilan sesuatu yang memang menjadi haknya (24.19-22), pembatasan penderaan (25.1-3), perkawinan di antara keluarga yang sama (25.5-10), ketidaksenonohan dalam perkelahian (25.1-12); dalam 25.17-19 ada suatu perkataan yang melawan orang-orang Amalek. Bab 26 menunjukkan dengan jelas apa yang telah menjadi titik berangkat hal sebelumnya: bab 26 ini berisi tentang pengakuan atas persembahan hasil pertama dari suatu usaha (ayat 1-11, “pernyataan iman singkat”, ayat 5b-9) dan persembahan persepuluhan (ayat 12-15), dan sebuah paraenesis akhir mengenai sifat yang mengikat dari perjanjian (ayat 16-19).

Perbandiangan kumpulan hukum pada Kitab Perjanjian sungguh-sungguh menarik. Cukup banyak hal yang menyatakan adanya hubungan di antara keduanya, meskipun begitu unsur-unsur perbedaaanlah yang justru tampak lebih mencolok ketimbang unsur-unsur persamaannya. Hanya saja, kadang-kadang ada kalimat tandingan yang sama di antara keduanya (misalnya Kel 23.19b=Ul 14.21b); bagaimana pun juga, akhirnya Kel 23.19b disatukan dengan Kel 22.30 dalam bentuk yang berbeda); kadang-kadang bentuk yang ada dalam kitab Keluaran lebih pendek dan nampaknya justru seperti sebuah kutipan yang diambil dari kalimat-kalimat yang ada dalam Kitab Perjanjian (jadi, aturan-aturan bagi hakim dalam Ul 16.19 sepertinya bertentangan dengan Kel 23.2s., 6-8), atau bagian kitab Perjanjian nampak dalam Kitab Ulangan yang dibagi dalam pernyataan individual dan ditempatkan dalam konteks yang lain (bdk. Kel 22.20-26 dengan Ul 24.17f.; 23.20;24.10-13).

Bagaimanapun juga, dalam banyak hal, versi yang ada dalam Kitab Ulangan lebih terperinci dari pada yang lainnya. Jadi, pernyataan tentang persembahan anak sulung (Kel 22.29) dikembangkan dari aspek yang bermacam-macam, agar seseorang dapat menyebutkan tata cara dari bagian kumpulan peraturan-peraturan itu.

Elohis menimbulkan masalah, sebab sebagian besar ekseget merasa tidak ada tempat untuk merekonstruksi sumber ini dengan sempurna. Volz dan Rudolph menolak sama sekali bahwa dokumen Elohis sungguh ada, para sarjana sering menyenangkan dirinya dengan membicarakan “bagian-bagian/penggalan Elohis” (Wolf Smend Jr.). Dalam hal ini Noth mencoba menerangkan pemeliharaan dokumen Elohis hanya berupa potongan-potongan dengan argumen bahwa Jahwis adalah dasar peredaksian dan Elohis hanya digunakan sebagai pelengkapnya. Oleh karena itu, para sarjana sering menyebut lapisan cerita asal-muasal “Jehovis” dan menahan diri supaya jangan menganalisis secara mendetail.

Penamaan dokumen ‘Jehovis’ (JE) telah dipakai oleh Wellhausen, yang cenderung menunjukkan perbedaan antara cerita asal-muasal dan akhir Priester Kodeks. Dia juga secara eksplisit menentang asumsi “bahwa keberadaan ketiga sumber tersebut terpisah sampai pada akhirnnya seseorang pada masa akhir membawanya bersama dan serentak memasukkannya menjadi satu kesatuan – sebagai dokumen Elohis yang kita kenal hanya satu bagian dari tulisan Jehovistis (Prolegomena 7).

Tidak ada kesepakatan yang utuh dan memuaskan dari tulisan Priestly. Wellhausen menyimpulkan semua bahan Priestly membangun teks undang-undang kultis sebagai ‘kodeks Priestly’, namun dibedakan darinya bahwa ‘Q’ sebagai ‘dasar yang original’ (Composition, 135). Bagian lainnya dibentuk tidak jauh darinya, dan dalam beberapa bagian yang berdiri sendiri dari aturan-aturan seperti Im.1-7. Sebelumnya suatu perbedaan seringkali dilukiskan di antara suatu bagian awal atau karya awal (Pg) dan penambahan berikutnya (Ps, selanjutnya seringkali dibedakan), yang juga dikenakan bagi karya akhir P. Sebaliknya, Noth tetap mempertahankan kekhasan P sebagai suatu karya naratif dan oleh karenanya menolak penambahan bagian yang serupa dengan aturan untuk P. Di lain pihak, demikian halnya, ditekankan kekhasan dari kisah P, karena P dimengerti sebagai suatu ‘sumber’ yang berkaitan erat bagi awal pembentukan kisah.

Satu bagian lagi yang bertolak belakang ialah pertanyaan mengenai awal dan akhir dari sumber yang berdiri sendiri. Walaupun awal dari tulisan Priestly diterima secara umum menjadi Kej. 1.1 dan tulisan Yahwis dalam Kej. 2.4b, selalu saja muncul suatu perdebatan mengenai awal tradisi Elohis. Beberapa ahli berusaha menemukan bukti E dalam sejarah awal; seringkali menunjukkan permulaannya dalam Kej. 15, yang kemudian menjadi kisah Deuteronomistis, sehingga akhir Kej. 20 diterima sebagai kisah awal. Inti pertanyaan dalam keterkaitan dengan akhir sumber ialah apakah hal tersebut membawa kepada janji akan tanah bagi bapa-bapa dan oleh karenanya bertanggungjawab terhadap pencapaiannya. Atas praduga ini Joshua seringkali mengungkapkannya, mengarah kepada Heksateukh (enam-bagian kitab). (Beberapa telah mencoba untuk meneruskan dan membahasnya sesuai dengan aturan orang Yunani, sesudah penambahan kitab selanjutnya, Heptateukh, Oktateukh atau Ennaeateukh; di samping itu mereka mengesampingkan Deuteronomi dan membahas Tetrateukh.) Tafsiran lainnya menunjukkan kematian Musa kurang lebih sebagai akhir sumber yang sesuai dengan yang mereka temukan dalam bagian-bagian akhir dari Deuteronomi. Wolff juga membuat akhir kisah Yahwistik dengan cerita Billeam dalam Bil. 22-24. Pertanyaan ini secara khusus dikaitkan dengan pemahaman Deuteronomi dan hubungannya dengan kitab-kitab pentateukh lainnya serta kitab-kitab sebelumnya.

Di sini juga selalu dipertentangkan hubungan antara masing-masing sumber. Yang menjadi pokok persoalan apakah sumber-sumber yang belakangan telah berdiri sendiri dari awal satu persatu dalam istilah-istilah literer, apakah mereka telah dimengerti sebagai edisi-edisi baru atau versi-versi baru untuk menggantikan versi-versi sebelumnya, ataukah mereka mengubah dan meneruskan secara bebas hal itu. Noth menerima bahwa J dan E sama inti (kandungannya) isinya dari sebuah sumber dasar (Grunladge G) dan dalam hal ini sejumlah ahli mengikutinya. Pada sisi lain, ada persoalan tentang pertanyaan bagaimana penyatuan dari masing-masing sumber itu dipahami, apakah seorang redaktor membawa mereka semua bersama-sama pada suatu waktu atau apakah penyatuan dilakukan tahap demi tahap, sehingga perlulah mengandaikan ada beberapa redaktor.

Sejak Wellhausen ada perkembangan persesuaian atas usia relatif dari sumber-sumber itu. Yahwis dianggap sebagai sumber yang paling tua (mana yang lebih awal, L atau N, tidak diterima), Elohis muncul sedikit lebih lama, Deuteronomi ketiga dan Priestli ditulis keempat. Itu telah dipikirkan bahwa ada beberapa poin yang relatif dari referensi untuk pendataan kedua sumber-sumber yang belakangan. Untuk deutoronomi baru dalam priode sebelum pembuangan dan tulisan Priestli pada masa pembuangan atau sesudah pembuangan. Bagaimanapun, point-point dari referensi untuk pendataan P hanya tidak langsung. Argumen Wellhausen yang lebih penting diperoleh dari penelitiannya bahwa sebelum pembuangan para Nabi tampaknya tidak mengenal “kepingan hukum dari batu (log batu)” seperti disajikan dalam P. Untuk J dan E, sama halnya tidak ada point-point langsung dari referensi, tapi J dekat dengan sesudah monarki dan E sebelum monarki (dengan selingan yang besar); E sering dipikirkan berasal dari kerajaan utara, berbeda dengan J yang berasal dari Jehuda.

Sejarah “dokumen hipotesa terbaru” menunjukkan bahwa pertanyaan dan masalah selalu dapat dirumuskan lebih jelas daripada jawaban dan solusi. Persetujuan atas penerimaan model hipotesa ini lebih pada dasar-dasarnya daripada detail-detail yang spesifik, sehingga laporan selalu harus menekankan keberadaaan opini yang berbeda, dari yang pertama – lebih mendetail – diperhitungkan oleh Holzinger ke depan.

Dalam rangkaian perjalanan waktu tidak pastinya pembatasan sumber-sumber menjadi lebih besar, sehingga walau dalam hal sumber utama, Yahwista, perlu mengandung “Kritik Minimum yang meyakinkan” (Wolff 1964, 147) atau bahkan mencoba menegaskan secara negatif oleh ‘proses pengurangan’ (Smend Sr, 86). Keberadaan dua sumber yang lain telah cukup tertantang secara empatik akhir-akhir ini. Cross (seperti Volz dan beberapa yang lain sebelumnya) menyatakan bahwa “Tulisan Para Imam” tidak pernah ada sebagai sumber yang beridir sendiri, tetapi merepresentasikan taraf dalam revisi awal (JE) (sama dengan Van Seters); dalam komentarnya pada Genesis Westermann menjadi kesimpulan bahwa Elohist tidak dapat ditunjukkan bahkan dalam bentuk fragmen yang saling tergantung, tetapi bahwa bagian itu menjelaskan kepadanya untuk dimengerti sebagai tambahan interpretatif yang bukan termasuk “sumber” umum.

Pada akhirnya, kecenderungan yang kuat terhadap data Yahwis pada awal periode monarki juga dipersoalkan dan keterkaitannya dengan tradisi Deuteronomis-Deuteronomistik ditekankan (Van Seters; H.H. Schmid). Hasilnya semua gambaran Pentateukh yang ada sebelumnya dalam sejarah Isreal digoncang, sebab sekarang secara menyeluruh garis besar cerita Pentateukh hanya dapat diperkirakan dari periode akhir sebelum pembuangan (atau sebelumnya). Schmid tidak melihat “Jahwist” sebagai penulis, tetapi lebih sebagai “proses redaksi dan interpretasi”.

Kritik-kritik yang muncul bertemu dengan kritik yang lain yang mulai dari aplikasi tetap dari bentuk kritisisme dan tradisi kritisisme. Pendekatan Gunkel dengan “bagian literatur yang terkecil”, yakni dari cerita Pentateukh di atas semua kisah individual (juga Gressmann), yang secara mendasar tak dapat dikaitkan dengan hipotetis dokumenter. Dalam perjalanan waktu hal ini berkembang pesat ketika bagian kritisisme benar-benar tidak diindahkan dalam menggunakan pendekatan Gunkel oleh Von Rad, Westermann, dan yang lain. Alasan mengapa jalan kritisisme tidak diubah secara eksplisit adalah sederhana yakni, bahwa hal itu dipakai sebagai perkiraan. Dalam hal ini Von Rad mengemukakan bahwa kombinasi dari berbagai pembahasan bukanlah sebuah “proses yang memberi penjelasan memuaskan”. Dia sendiri mengembangkan model lain dengan mengangkat tradisi-tradisi dalam Pentateukh ke dalam tradisi-tradisi pribadi yang lengkap (sejarah awal/pertama, sejarah bapa bangsa, tradisi keluaran, tradisi Sinai, sejarah perantauan para bangsa) yang semula merupakan sejarah yang terpisah-pisah dan berdiri sendiri sebelum diugabungkan bersama. Dalam penggabungan semua susunan ini ke dalam Yahwis, Von Rad dengan sengaja tidak berpikir tentang jumlah sumber, lebih lagi ia menggunakan penggabungan yang telah diperkenalkan ini untuk menunjukkan perbedaan sederhana: bahwa hal ini dikerjakan oleh para teolog besar, selain mereka tidak ada kesempatan bagi teolog lain. Lebih jauh hal ini berhubungan dengan teori dokumenter klasik.

Saya mencoba memakai pendekatan Von Rad lebih jauh ke dalam diskusi, buku-buku pribadi dari Pentateukh di atas. Dalam hal ini sejumlah observasi dan pertimbanganku (bdk. Bukuku menyebutnya dalam bibliografi) telah digabungkan dengan pertimbangan dari Bani Israel dan yang lainnya. Ringkasan pendapatku tentang sejarah asli Pentateukh (sekali lagi):

Tradisi kisah pertama kali digabungkan dalam kisah individu yang lengkap. Susunan yang berdiri sendiri “kesatuan yang lebih besar” tatap dapat dikenal dalam teks yang sekarang, sekurang-kurangnya dalam hal kisah awal/pertama dan kisah para bapa bangsa (lih. Cerita Balaam dalam Bilangan 22-24). Masing-masing mempunyai profil sendiri yang berbeda dan masing-masing dapat berdiri sendiri. Hal ini tidak tepat untuk menyamakan tradisi eksodus dengan perikop Sinai, meskipun Kel 1-15 sekarang membentuk susunan “satu kesatuan” dan tradisi Sinai pasti mempunyai sejarahnya sendiri.

Profil yang berdiri sendiri dari kisah individual telah diberi karakter (sifat) oleh teks itu.

Cerita bapa bangsa nenek moyang bangsa Israel merupakan permulaan cerita masyarakat: mereka misalnya diperhitungkan sebagai pengembara yang utama atau semi pengembara sepanjang hidup. Dalam cerita tinggal dan keluar dari Mesir, seseorang memperhitungkan kebelakang pandangan oarang banyak dan itu mewakili seluruhnya. Cerita ini juga sebagian besar benar pada kitab keluaran yang diterbitkan (dan Deuteronomium), perbandingan yang kontras antara Musa dan orang yang memerintah.

Kesatuan individu yang telah berkumpul dan menentukan perbedaan gagasan dan pandangan utama. Sejarah permulaan manusia merupakan sejarah utama, menyambung bagian yang terputus oleh air bah. Setelah Tuhan memberikan jaminan bahwa karya pemciptaan akan berlaku. Lebih jauh deferensiasi manusia seluruhnya sesuai dengan kenyataan para pembaca atau para pendengar sekarang mengetahui tentang itu. Cerita bukanlah nasehat berkelanjutan. Setiap cerita bapa bangsa (Abraham, Ishak, Yakub, Jusuf) mempunyai perbedaan: mereka telah ditempatkan kedalam perkumpulan besar. Penempatan janji yang sangat penting dan demikianlah diberi tanda khusus. Cerita Keluaran yang teliti terpusat pada keluaran , selain itu terhenti dan memberi sebuah penafsiran teologi bagi umat beriman. Dasar utama perikop Sinai berbanding terbalik antara cerita dan pemberitaan hukum; memberikan posisi istimewa Musa dan yang lain melanggar perjanjian, itulah pemisahan. Diantara kumpulan hukum yang ditambahkan perlu dikombinasikan menurut keseluruhan gagasan utama. Lebih jauh bagian buku-buku Keluaran dan terbitan normatif, gagasan utama kadang-kadang kurang dikenal (kami tidak menganal secara lengkap).

Itulah tradisi yang kompleks, kandungan cerita dari cerita utama dan cerita bap bangsa bukanlah kombinasi (….). situasi itu cukup berbeda dengan tradisi-tradisi dalam buku-buku Keluaran yang diterbitkan disini asalkan urutan dasar sama dengan figur Musa (Aram) tongkat penunjuk ditutupi awan dan api, “membisikan” kepada orang-orang Israel sebelum dan sesudah keluaran dan seterusnya.

Perikop Sinai juga membuka kisah tenda dan bahtera Nuh, yang terpenting untuk berikutnya pengagambaran di hutan belantara. Materi dan tradisi yang kami miliki keseluruhan bentuknya meneladani tradisi (…)(…)

Jelas berbeda penggabungan pada kesatuan yang lebih besar dalam Kejadian ke dalanm keseluruhan yang luas mengambil tempat pada tingkatan yang dapat menggambarkan redaksi teologi. Terutama hubungan yang nyata antara cerita bapa bangsa dan sejarah Keluaran. Dalam kejadian 5.24, pada kematian Yusuf ada sebuah referensi tegas yang disampaikan Yahwe kepada orang-orang Israel.

….. kutipan ini diambil lagi segera sebelum peristiwa keluaran bangsa Israel dari Mesir dalam Kel 13:5.11; lagi pada peristiwa ketika keluaran ini berada dalam kemurtadan umat dari Yosua 32:13 dan lagi setelah bahaya ini dicegah (Kel3,1). Juga setelah itu, kutipan “ini berlanjut selalu pada situasi” krisis (Bil 11,12,14-23;32.11… disinim kita memiliki satu sudut pandang yang menyeluruh tentang sejarah bangsa Israel atau jaman bapa bangsa sampai pada masa menetap, dalam mana janji Yahwe dan perlindungannya terhadap mereka membentuk faktor selanjutnya. Teks yang disebutkan itu semua dirumuskan dalam bahasa dengan suatu cap Deuteronomis. Secara khusus penyabutan “sumpah” dengan mana Yahwe 0telah menjanjikan tanah kepada bapa bangsa kerap kali …dalam ulangan (Ul 1:8,35:6,10,18,23; 7:13, dll) para pengumpul dan editor yang bersifat teologis Yng mengerjakan ini dengan demikian lebih memperhatikan atau kurang dekat denga deuteronomistis. Karya dari kelompok ini dapat juga disadari di tempat lain dalam buku-buku yang bersifat individual dari Pentateukh. Oleh karena itu dapat diambil dengan pasti bahwa suatu kumpulan yang bersifat tradisi Pentateukh (mungkin yang pertama) datang dari sekolah teologi ini.

kumpulan teks-teks lain yang dengan cara yang sama memberikan hubungan secara menyeluruh telah dibentuk dalam tradisi bahasa imam. Demikianlah pada permulaan cerita keluaran yakni dalam keluaran 2:23-25 dan 6:2-8 menyebut “perjanjian” Yahwe dengan referensi yang jelas terhadap perjanjian Abrahan dalam Kej 17. Bunyi Kejadian 17 juga dapat dikenal dalam kebiasaan paskah orang Yahudi (Kel 12) dan hari sabat (Kel 31:12). Sunatan, paskah, dan hari sabat disebut sebagai “tanda” (perjanjian lama, Kej 17:11; Keluaran 12:13;31:15,17); sunatan dan hari sabat juga disebut sebagai perjanjian abadi (berikut dalam, Kej 17:13; Kel 31:16;bandingkan Kej 9:16 dan disana tekanan diarahkan pada keabsahan seluruh keturunan Kej 17:9,23; Kel 12:14,16,52; 31:13,16). Hubungan antara lapisan keimanan ini dengan tradisi cauistic dalam kitab keluaran membutuhkan banyak penyelidikan yang lebih teliti lagi (di sini pertanyaan mengenai hubungan antara P9 dengan Mazmur muncul kembali dalam suatu perbedaan mendasar). Demukian pula hubungan dengan perbaikan Deuterokanonik sebagian besar masih lebih tidak berterjemahan lagi.

karakter deuteronomistis dari revisi komprehensif Pentateukh itu juga menimbulkan pertanyaan tentang hubungan buku-buku yang mengikuti. Sejauh ini hal itu dijawab dengan dua arti model perbedaan, oleh pembukuan hexateukh atau sebuah sejaran deuteronomistis. Inti masalah ini dalam faktor tersebut adalah tidak panjang laporan dalam pentateukh pemenuhan akhir pada pengembaraan dari kepala keluarga dan generasi dari keluaran (atau hanya bagian pertama dalam transjordan). Hipotesis hexateukh memecahkan masalah permulaan laporan tentang perbuatan dalam buku/kitab Yosua dengan sumber pentateukh. Kontras, dalam hipotesisnya sejarah deuteronomistis, diantara asumsi konklusi yang asli tentang sumber pentateukh aa’menggambarkan yang sederhana” dalam cara kerja yang sabar/terang.

Bagaimanapun jika kita tidak lama mulai dengan menerima terus menerus sumber dalam pentateukh, melihat gambaran yang tidak sama. Deuteronomis, deuteronomistis lingkaran bagaimana sebuah bagian permainan kritis dalam bentuk buku-buku berikut dipakai juga arca dalam memberi garis besar bentuk pentateukh. Dalam bagian kedua yang mereka kerjakan lekas berakhir tradisi dari yang tidak sama dan memberinya interpretasi teologi. Awalnya, perpindahan dari pentateukh ke buku berikutnya tanpa membuat pokok putus. Yang terakhir, bagaimanapun, lima buku pertama dipandang dan diperlakukan seperti kesatuan yang lahir. Ini pemisah yang dengan jelas mengambil tempat dengan sengaja karena arti khusus Torahditerima dan di tangan Musa, mempunyai keuntungan dalam pada itu. Oleh kerena itu kebebasan pentateukh dan fakta bagian-bagian itu dengan bentuk buku-buku umum refisi deuteronomistis adalah dengan tidak bermaksud kontradiksi, tetapi tidak sama menggambarkan tingkat-tingkat sejarah kanon perjanjian lama.

Seperti sebutan dalam perjanjian lama dari ‘Torah Musa’ (1Raj 2.3;Mal3.22 dst) dan lengkap dari buku ‘Torah Musa’ (Josh 8.31; 2Raj 14,16; Neh 8.1 dst), ini lazim, setelah perluasan konsep Torah untuk keseluruhan pentateukh, melihat musa seperti penulis. Ini disyaratkan dengan penulis Jahwis Philo dan Josephus, menulis di Yunani pada akhir abad pertama AD, dengan Talmud Babylonia (Mat 19.7F;Mrk 12.26; Acts 15.2 dst). Ini pertama menempatkan dalam jawaban dengan ilmu pengetahuan modern Kitab Suci.

Leave a comment »

KEBANGKITAN MENURUT YOHANES


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:50.4pt 43.2pt 50.4pt 50.4pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBANGKITAN MENURUT YOHANES

(terjemahan)

Seperti injil Lukas, injil Yohanes juga memperlihatkan bentuk kontinuitas; masih sulitlah menyimpulkan kesatuan dan kepastian literernya. Demikian pada bab 21 telah ditambahkan sebuah teks yang sudah komplit, seperti yang diperlihatkan oleh kesimpulan yang ditemukan dalam 20: 30-31: ‘Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridnya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.’ Dengan alasan inilah, kita tidak dapat mendiskusikan bab 21.

Dalam bab 20, distribusi kisah-kisah sesuai dengan garis besar yang ada dalam injil Mateus. Mengikuti kisah kunjungan ke kubur, wanita suci (Maria Magdalena) yang menceritakan kepada murid-murid tentang apa yang terjadi, disesuaikan juga dengan penglihatan kelahiran Kristus dari seoarang wanita. Kemudian penglihatan itu resmi menunjuk tempat. Dalam kerangka ini, yang datang dari elemen-elemen dihubungkan dengan tradisi Lukas: murid-murid yang ada di kubur, tempatnya berada di Yerusalem, misi dipercayakan pada para rasul, dan kesangsian Thomas yang berhubungan dengan murid-murid dalam injil Lukas. Injil Yohanes berhubungan dengan macam-macam kisah yang lain dengan caranya sendiri dengan pengertian tradisi seperti diungkapkan: ‘ketika hari sudah malam pada hari pertama’, ‘sesudah delapan hari’, dan ungkapan yang lain sehingga kita sampai pada batas bawah. Jika ada beberapa unit dalam bab ini, akan jelaslah dapat dibedakan dengan studi yang penuh perhatian dari kisah dua kelompok sesuai dengan minggu Paskah menurut Yohanes.

A. Di Kuburan (20:1-18)

1Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 2Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” 3Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 4Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 5Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 6Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 7sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 8Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 9Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. 10Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah. 11Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, 12dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. 13Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” 14Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 15Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” 16Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. 17Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” 18Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Bagian itu rupanya terdiri dari dua tradisi yang berbeda. Karena menurut ayat 11 Maria berada di kuburan, sedangkan dalam ayat 2, ia meninggalkan kuburan itu, dan tidak ada tertulis dimanapun bahwa ia kembali; dan tidak disebutkan lagi pertemuan para murid dengan Maria. Lebih dari itu, hal itu hanya terdapat pada kunjungan yang kedua (ayat 11) bahwa Maria berdiri pada kuburan itu; sebelum itu (ayat 2), dia menyimpulkan kenyataan bahwa batu telah terangkat (berpindah) dan tubuh Yesus juga berpindah. Akhirnya dalam ayat 11 disebutkan juga Maria menemukan dua malaikat dalam kubur, padahal persis sebelumnya para murid tidak menemukan apa-apa disana kecuali kain kafan yang tergulung rapi. Ayat 3-10 tampaknya berasal dari sebuah tradisi yang berbeda dan tidak dipahami oleh siapapun, terutama tentang susunan kunjungan Maria ke kubur itu. Barangkali menjadi satu pertanyaan, apakah pesan ketika Maria (pergi) lari mendapati para murid (20:17) menyimpan suatu pengertian, atau sejak para murid (selanjutnya orang-orang yang dikasihi para murid) memiliki kepercayaan (20:8)

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan in, bebrapa percobaan telah dibuat untuk menentukan sumber-sumber yang digunakan Yohannes dalam mempersiapkan peredaksian yang sekarang ini. Beberapa ahli mengingatkan bahwa hal ini merupakan sebuah sambungan cerita yang tunggal. Menurut R. Buthman, sumber diambil dari bagian yang paling besar dari ayat 1,6,7,11,12,dan 13 yang berhubungan dengan unsur-unsur pokok sinoptik yang digarisbawahi oleh cerita Yohannes; tetapi agak sulit menggabungkan semua versi yang lain itu ke dalam Yohannes, secara partikular cerita itu merujuk pada Maria. Rekonstruksi yang lebih halus menurut G. Hartmann, sumber yang digunakan oleh Yohannes diambil dari bagian yang paling besar dari ayat 1-3,5,7-11, 14-18. Tetapi hipotesa ini juga menimbulkan beberapa kasulitan. Hal itu akan membuat perlunya hubungan dengan ayat 11b-13 pada Yohannes, dan agar merekonstruksi sumber, sehingga banyak perubahan dan modifikasi yang harus dibuat.

P. Benoit mencoba menetapkan bahan dasar yang digunakan oleh Yohanes : bukan sebuah cerita, tetapi dua tradisi. Yang pertama, ia memikirkan bentuk dari sinoptik (20:1-2), dan yang lain khas dari Injil Yohanes (20:11a, 14b-18); Johanes melengkapi yang pertama (20:3-10) dan menghubungkannya dengan yang kedua 11b-14a, suatu substansi yang juga terabaikan dari suatu dasar yang mirip. Tetapi berdasarkan kritik literer, kita menemukan kesulitan untuk menentukan eksistensi dari suatu tradisi tidak lebih dari fakta belaka dari penemuan kubur kosong.

Jadi, mengikuti pemikiran R.E. Brown dengan demikian dengan banyaknya kualifikasi, kita lebih menerima tiga tradisi yang berbeda yang dijadikan satu oleh Yohanes, dua kunjungan ke kubur dan sebuah penampakan. Kita seharusnya menguji setiap cakupannya.

Para murid di Kuburan

Dalam tradisi Lucan, ada dua kejadian pada kunjungan ini : ‘sungguhpun Petrus bangun dan berlari ke kuburan : berhenti dan menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain lenan yang dikenakan-Nya; dan ia kembali, bertanya dalam hatinya apa yang telah terjadi ‘(Luk 24: 12). Perjalanan ke Emaus juga mengatakan, “beberapa teman yang bersama-sama dengan kami telah pergi ke kubur itu, dan mendapati bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat (24:24). Kisah dari Yohanes 20:2-10 dapat disamakan dengan bagian terakhir ini. tetapi teks Yohanes menimbulkan kesulitan-kesulitan :awalan “ke” ditempatkan secara salah tidak hanya sebelum “Petrus” tetapi juga sebelumnya “murid yang lain” bacaan dari bentuk tunggal ke bentuk jamak dalam ayat 3, pengulangan dari kata-kata yang sama dalam ayat 2 berturut-turut (terdapat bentuk pengungkapan sejajar; ayat 5 dan 6) ayat 8 dan 9 tidak berkaitan (ia percaya dan kemudian tetap tidak mengerti). Teks itu kelihatannya telah diperbaiki. Diantara hipotesa yang telah dikemukakan, marilah kita menyebut dua; sebagai usaha mengatasi kesulitan yang menghubungkan ayat 8 dan 9.

Beberapa ahli berpendapat bahwa ayat 9 itu ditambahkan oleh Yohanes. Solusi sederhana ini menjadikan teks koheren, namun tidak ada bukti berupa manuskrip yang menguatkan pendapat itu; dan hal itu menyulitkan untuk mengatributkan ayat 9 ini kepada Yohenes, karena terutama peristiwa Paskah dengan istilah ‘kebangkitan’ umumnya dihindari Yohanes. Oleh karena itu lebih baik melihat ayat 9 tersebut pada sumber asalnya.

Penelitian dapat juga dilakukan pada tulisan masing-masing murid yang dikasihinya (suatu tema dalam Injil Yohanes kendati hal itu telah ditambahkan pada teks, yang dalam Yoh 13:23 atau 19:26). Hipotesa sederhana ini dianggap sudah cukup untuk mengenal murid-murid Yohanes. Pada kasus ini sebagaimana tradisi yang telah disederhanakan dan dikatakan Petrus sendiri dalam Luk 24:12. Hal ini mungkin jika kita mengingat beberapa ucapan murid-murid dalam (24: 24), kemungkinan lebih tua daripada 24:12, secara implisit Lukas mengatributkan semuanya itu kepada Petrus sendiri, dan cara yang sama dalam pengajaran Petrus sendiri yang secara khusus ditujukan keluar. Dengan demikian ada beberapa kemungkinan bahwa teks yang dipakai Yohanes tidak jauh/mirip dengan Lukas, seperti teks berikut:

3Kemudian Petrus pergi keluar bersama murid lainnya dan mereka pergi ke kubur. 5Setelah berhenti Petrus melihat ke dalam, ia melihat kain kafan terletak di sana, 7Kain peluh yang sebelumnya ada di kepala Yesus tidak bersama dengan kain lenan, tetapi tergulung di tempat lain…8Dia melihat dan […], 9sebab ternyata mereka tidak mengetahui/mengerti Kitab Suci, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. Kemudian murid-murid pulang ke rumah mereka masing-masing.

Kemungkinan, Lukas dan Yohanes mewakili dua cabang dari tradisi yang berbeda. Hal ini akan memakan banyak waktu untuk didiskusikan, dan bukan merupakan pokok dari tujuan kita saat ini. Jadi upaya kita saat ini adalah mendefinisikan kandungan tradisi itu, dan tetap memakainya sebagaimana ditampilkan dalam Lukas.

Penafsiran yang amat jelas ialah bahwa kain kafan yang terdapat dalam makam mempunyai suatu tujuan apologetis: dengan adanya kain lenan itu, hal itu menandakan bahwa tubuh Yesus tidak dicuri. Bagaimana mungkin para pencuri itu mencari-cari masalah dengan menelanjangi mayat itu? Amat mustahil. Krisostomus telah mengamati hal ini jauh sebelumnya. Maka itulah suatu cara untuk menepis legenda bahwa mayat itu telah dicuri, suatu kisah yang diulangi Mateus dengan caranya sendiri (28:11-15).

Akan tetapi, beberapa penulis telah beranggapan bahwa bisa saja tujuan naratif Yohanes itu telah dideduksikan dari cara Yesus keluar dari kain kafan itu yang sebelumnya membungkus tubuhNya. Tampaknya kesan itu ditujukan untk menunjukkan bahwa dia telah melampaui objek-objek material seperti pintu ruangan sebelah atas (20:19). Akan tetapi hipotesa ini memunculkan kesulitan-kesulitan. Mungkinkah Kristus yang bangkit itu telah melipat kain lenan itu sebelum meninggalkannya? Dan apakah disadari bahwa situasi ini tidaklah sama dalam kedua kasus itu? Pada penampakan kepada kesebelas murid, pengamatan bahwa pintu itu tertutup ditujukan untuk mengkompensasikan aspek yang terlalu manusiawi dan akrab dalam penampakan Kristus yang bangkit; itulah tanda yang memampukan hadirin dapat mengenalinya. Apakah tanda yang ditunjukkan di sini, bagi Yohanes setidaknya, menandakan bahwa sebenarnya Petrus tidak percaya? Tradisi versi Lukas secara gamblang berkata bahwa Petrus “terheran-heran.” Sampai pada perjalanan ajaib melalui kain kafan berarti meletakkan suatu nilai pada detail-detail ini, yang tidak terdapat pada teks.

Di lain pihak, konteks injil keempat memampukan kita untuk menawarkan suatu makna simbolis sebagai tambahan pada maksud apologetis. Karena ketika Lazarus hidup, dia keluar dari makam dengan “kedua tangan dan kakinya masih terbungkus lilitan kain an wajahnya masih ditutupi pakaian” (11:4). Secara kontras, membebaskan. Apabila benar bahwa di sini kita menemui suatu tradisi yang mendahului Yohanes, dapat dibayangkan bahwa kisah kebangkitan Lazarus menciptakan suatu kontras antara orang ini, yang kemudian mati lagi (dengan masih terbungkus kain kafan) dengan Dia yang tidak akan mati lagi, yakni Yesus Tuhan yang tidak akan mati lagi (yang menanggalkan pakainNya.) Ketika kain papan itu dalam keadaan terlipat terpisah dengan pakaian “di tempat lain”, hal ini dapat melambangkan kesatuan dan keteraturan yang kepadanya segala sesuatu sejak saat ini akan kembali.

Akhirnya, tema biblis harus diperhatikan: Kitab Suci tak pernah dapat dimengerti tanpa campur tangan Kristus yang bangkit secara pribadi. Tambahan pula, bagi Yohanes pun, mustahillah untuk percaya begitu saja hanya berdasarkan pada makam yang kosong, bahkan apabila kain kafan itu tergulung dengan cara yang amat mengherankan. Apakah di sini ada suatu kritik dari mereka yang mencoba menggunakan fakta ini untuk menawarkan kepercayaan akan kebangkitan? Hal ini tidak terjawab.

Revisi versi Yohanes

Ada dua detail yang kentara dalam teks yang hadir ini: identifikasi murid yang dikasihi itu dan konteks penulisan bagian ini.

Murid yang lain (mungkin Maria atau seorang murid lain yang tak diketahui siapa) menjadi yang”dikasihi Yesus”. Dia dihadirkan dengan suatu sinar yang menyenangkan, karena kendatipun dia berlari lebih cepat dari Petrus, dia menghormati rekannya yang lebih tua itu, dan juga karena ia “melihat dan percaya”, sementara tak disebutkan apapun perihal reaksi Petrus.

Dengan memperkenalkan sosok ini, tampaknya Yohanes sedang menciptakan suatu kontras antara dia dengan Petrus. Hal ini tidak mesti berarti bahwa Yohanes bertujuan untuk mengecilkan Petrus dengan memberikan kesan bahwa dia tidak percaya. Malahan dia ingin menunjukkan fakta bahwa cinta memberikan suatu kemampuan intuisi yang khas, baik pada 20:8 maupun pada 21:4-7, ketika murid yang dikasihi itu mengenali sosok yang sedang berjalan di tepi pantai itu adalah Tuhan. Murid yang dikasihi Yesus itu adalah murid yang unik, yang mengikuti Yesus dan mengenaiNya. Darimanakah asal imannya itu? Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan mengamati murid itu percaya, Yohanes rupanya sedang mengantisipasi apa yang dia katakan pada 20:29 “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”. Tetapi dalam teks sebagaimana akan kita lihat berikut ini, tidak ada pertanyaan mengenai pemberian status yang diprevilese-kan kepada mereka yang belum melihat. Yohanes juga tidak bermaksud untuk mengecilkan nilai penampakan-penampakan Yesus.

Walaupun demikian, ada juga penulis-penulis baik Katolik maupun Protestan yang telah mencoba menggunakan teks ini untuk memepertahankan posisi teologis mereka. Orang-orang Katolik melihat bahwa dengan menunggui Petrus, sang murid yang dikasihi itu sedang menunjukkan superioritas Petrus, yaitu Paus. Kaum anti-Katolik telah menekankan pentingnya iman, dan telah menggunakan ayat itu untuk melawan pengandaian-pengandaian terhadap “Petrus.” Sementara itu sebagian lagi menimbang bahwa bagian itu merefleksikan persaingan antara komunitas asli non-Yahudi (sang murid yang dikasihi itu) dengan komuntias Yahudiah asli (Petrus). Nyatanya, kontras antara Petrus dengan murid yang dikasihi itu bersifat aksidental. Apabila teks itu dibaca secara cermat, taka ada aspek yang mendiskreditkan siapapun dari mereka. Nilai masing-masing harus dipertahankan. Primat Petrus dikukuhkan dalam tradisi awal dan tidak perlu diperteguh kembali secara polemik oleh Yohanes; tetapi Yohanes ingin menunjukkan bahwa ada suatu primat dalam tatanan kasih (bdk. Yoh 21:7)

Bagi mata orang yang mempunyai kasih, kain kafan yang terlipat rapi itu adalah saat atau kesempatan bagi iman. Dan kami harus mengatakan sesuatu tentang arti kata kerja “melihat”. Hal ini tidak berarti sekedar observasi visual yang biasa, akan tetapi terhadap penglihatan itu ada suatu pemahaman, suatu permulaan yang benar.

Tidak seperti Lukas, yang menyatakan bahwa murid yang mengunjungi makam setelah para wanita, Yohanes menuliskannya sebagai kunjungan Maria. Akan tetapi dalam geraknya kembali ke tradisi Lukas, yang menurutnya para murid tidak mempercayai perkataan para wanita itu (Luk 24:11), akan tetapi kendati demikian tetap pergi ke makam (24:24). Barangkali dengan caranya sendiri Yohanes ingin menunjukkan bahwa pertama-tama makam itu ditemukan kosong oleh para murid, dan khususnya oleh murid yang dikasihi itu.

2. Maria di Makam

Para ahli melihat suatu tradisi yang umum sebagai suatu titik berangkat menuju kisah ini, dan kami akan menunjukkan beberapa tanmpilannya. Adegan itu terjadi pada “hari pertama minggu itu” (Markus, Lukas); “subuh” (Markus). Maka ketika Maria mengunjungi makam itu; dilihatnya batu tidak lagi menutup pintu kubur itu (bdk. Mrk 16:14; Luk 24:2) dia pulang untuk memberitahkannya kepada Petrus (bdk. Luk 24:24). Beberapa detail versi Yohanes ditambahkan pada detail yang umum ini. “Ketika itu masih agak gelap”. Barangkali ini adalah suatu detail yang ditujukan untuk mengangkat kemegahan kebangkitan itu, walaupun tidak ditekankan. Barangkali ini sama nilainya dengan pernyataan Mateus “setelah Sabat’, yakni saat malam tiba (Mat 28:1)? Menurut Yohanes, tidak ada malaikat yang memberitahu Maria bahwa Yesus tidak ada lagi di situ; Maria langsung menyimpulkan hal ini dari faka bahwa batu itu telah bergeser, suatu modifikasi yang dibuat oleh redaktor untuk mengantisipasi apa yang kemudian dikatakan Maria kepada malaikat itu (20:13). Batu itu tidak “digulingkan” (suatu istilah yang lebih deskriptif), melainkan “diambil” (suatu istilah yang memuat makna yang lebih mendalam, yaitu pada 11:39,41; bdk.1:29; 10:18). Barangkali hal ini bermakna bahwa setiap tantangan telah disingkirkan di hadapan kehidupan yang menaklukkan maut.

Dalam hal dasar dan strukturnya, kisah penampakan ini mirip dengan yang terdapat pada Mat 28:9-10. Seperti halnya wanita yang saleh itu bersimpuh di kaki Yesus, Maria menyentuh Yesus dan menerima suatu pesan bagi para murid kemudian menjalankan perutusannya. Hal ini amat mirip dengan bagian ringkasan yang menjadi penutup Markus. Menurut pandangan C.H. Dodd dan beberapa ahli lainnya, naskah dari Mrk 16:9-11 tampaknya tidak berasal dari Markus atau Yohanes, melainkan dari suatu tradisi yang tidak termuat dalam injil-injil. Dengan demikian Yohanes tampaknya telah meletakkan suatu tradisi kuno tentang penampakan Kristus kepada wanita yang saleh di makam. Untuk ini, menurutnya, bukan malaikat yang menafsirkan kejadian itu; melainkan dengan pertanyaan yang mereka ajukan kepada Maria, mereka menyiapkan suatu pertemuan dengan Kristus. Penampakan kepada Maria Magdalena dihubungkan dengan penampakan yang dialami para murid–murid pada jalan ke Emaus; ini adalah suatu penampakan pengenalan yang oleh setiap penginjil dicantumkan detailnya mengenai bangkitnya iman. Deskripsi ini dipermudah oleh fakta bahwa Yohanes membatasi penampakan itu hanya pada Maria, sementara dalam Mateus dan dan barangkali dalam tradisi asli (“kita tidak tahu”, ayat 2 “Aku tidak tahu”, ayat 13) penampakan itu juga diterimakan dengan sukarela kepada beberapa wanita. Yohanes bertumpu untuk menunjukkan perubahan kemajuan dalam diri Maria; setelah pikirannya pertama-tama dipenuhi oleh Yesus sebelum Paskah, dia melihat dirinya sendiri diundang untuk menerima kehadirannya yang hidup.

Yesus Masa Lalu

Ucapan Maria yang diulangi sampai tiga kali ,“Mereka telah mengambil tubuh Tuhanku, dan aku tidak tahu dimana mereka telah meletakkanNya”, (20:2,13,15) menarik perhatian pembaca terhadap benak wanita yang sedang susah itu. Maria terus mengucapkan keluhan yang sama kepada para murid, para malaikat, dan penjaga kebun. Para murid dalam perjalanan ke Emaus menangisi pembebas mereka yang telah tersalib dan harapan mereka yang sia-sia; Maria menangisi ketidakmungkinan untuk menemukan tubuh dari Dia yang sangat dicintainya. Suatu seluk beluk yang khas Yohanes memperlihatkan perempuan itu memanggil Yesus dengan “Tuan” (Sir) yang dalam bahasa Yunani sama artinya dengan “Tuhan” (Lord) pada 20:15; Maria mencari Tuhan tanpa mengetahuiNya. Dia meratap, seperti yang diramalkanYesus tidak lama sebelum kematianNya: “Engkau akan mengucurkan air mata dan bersedih” (16:20).

Yesus hidup. Maria dapat mengatakan bahwa Ia telah melihat Tuhan, alasanya adalah bahwa antara pengenalanya yang pertama sekali terhadap guru tercinta dan deklarasi ini, Tuhan telah berkata padanya. “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik (pergi) kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, sekarang Aku akan pergi (naik) kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu’ (20:17) Ada dua elemen yang harus dibedakan dalam perkataan ini yakni permintaan untuk tidak memegang Yesus, dan pesan kepada para murid. Kita mesti mengkaji dua pokok ini secara lebih detail.

Apa yang dimaksud Yesus dengan ‘naik kepada Bapa? Apakah yang Ia maksudkan adalah kenaikan, sebagaimana yang sering diduga? Dalam hal ini, Yesus mungkin berkata pada Maria bahwa Ia sedang dalam maksud naik pada Bapa-Nya, tapi kemudian Yesus harus kembali ke bawah lagi agar kemudian Ia dapat muncul (kelihatan) pada murid-murid-Nya. Kajian ini yang mana punya keunggulan yakni menjadi lebih dekat dengan pengkajian Lukanis, tidak dapat dihubungkan terhadap penginjil yang keempat. Nyatanya kenaikan pada Bapa tidak dipikirkan sebagai sebuah peristiwa, direpresentasikan Lukas. Paling tidak menurut Kis 1:3, yakni bahwa kenaikan mengambil rentang waktu 40 hari setelah kebangkitan. Bagi Yohanes, tidak hanya bahwa kenaikan Yesus pada Bapa tidak “kelihatan” (bdk. 6:62); di atas semuanya, tidak ada pertanyaan tentang kenaikan yang terpisah dari peninggian yang mana terjadi di salib (12:32-33). Jadi jika peninggian atau pemuliaan bertepatan dengan penyaliban, maka kebangkitan ada dalam cara yang dengan tepat sama dengan kepulangan pada Bapa. Yesus tidak bicara tentang “kebangkitan” ketika Ia meramalkan nasib yang Ia harapkan yakni Ia akan pergi pada Bapa (13-1;14:12; 28; 16:15; 16:10, 28;17:13)

Lalu Bagaimana kita mengkaji ‘cerita Yohanes? Yohanes mengemukakan misteri itu dalam ruang dan waktu, yang ia afirmasi dalam suatu cara yang tidak mudah pembagiannya. Dalam salah satu cara, kita dapat berkata bahwa bagi Yohanes penyaliban, pemuliaan, Kebangkitan, dan kembali pada Bapa adalah misteri yang satu, yakni Pemuliaan Putera oleh Bapa-Nya (12:23, 28;17:1,5).

Hal ini mengimplikasikan bahwa Yohanes tidak bermaksud mengatakan pada kita bahwa “peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kematian dan kebangkitan, ada dalam suatu kelanjutan temporal. Hal ini memang tidak lebih dari pada suatu penyorotan literer, yang dimaksudkan untuk memberikan suatu perhitungan yang lebih baik tentang aspek-aspek yang berlipat ganda dari misteri yang tak kelihatan dari pemuliaan Putra. Jadi kita seharusnya tidak mencari informasi dalam Yohanes tentang apa yang dimaksudkannya untuk dikatakan bagi kita, contohnya apakah kenaikan mengambil tempat antara penampakan pada Maria dan penampakan pada para murid. Ini merupakan permasalahan yang salah dan membawa sertanya komplikasi yang tak dapat diselesaikan. Secara khusus perlu bertanya, bagaimana Yesus dapat kembali turun dari Bapa-Nya untuk mengunjungi Murid-murid-Nya? Dengan tepat Pere Lagrange mengatakan bahwa disini kenaikan tidak mengimplikasikan ‘turun’. Yesus bukanlah tentang membawa suatu tindakan baru, tapi menunjukkan bahwa keadaan Yesus telah berganti, dan bahwa Ia telah lepas dari aturan-aturan duniawi, menuju aturan-aturan kemuliaan. Sekarang kita dapat beranjak ke amsalah yang sulit, yang dilahirkan teks itu. Kenapa Yesus melarang Maria untuk “memegang-Nya?

Pertama marilah kita mencatat bahwa ekspresi/arti aslinya (me mov haptov) harusnya tidak diterjemahkan “jangan sentuh aku”, karena dalam bahasa Yunani waktu sekarang (present tense) dari perintah tidak berarti bahwa suatu tindakan yang telah mulai seharusnya berlanjut; pendahuluan dengan suatu yang mengafit, bukan suatu larangan akan suatu tindakan yang sedang terjadi, tapi tentang kelanjutan dari suatu tindakan yang telah mulai (alredy). Jadi terjemahan yang benar adalah “berhenti menyentuh Aku” Maria telah memeluk kaki Yesus, suatu gerak tubuh yang sama yang dilakukan wanita yang kudus, menurut Matius 28:9. jadi tidak ada kontradiksi antara teks ini dengan permintaan Yesus pada Tomas. Untuk mencucukkan tangannya ke lambung-Nya (20:27). Istilah itu tidak sama, dan kata kerja itu juga tidak dalam waktu (tense) yang sama. Tidak juga bahwa Yesus mendukung Maria, bahwa ia dapat menyentuh-Nya kemudian; not yet” (belum) tidak mengimplikasikan ‘later on (kemudian)”.

Kebanyakan kritik menduga bahwa Maria salah mengerti akan kodrat sebenarnya dari kehadiran baru yesus. Pemahaman ini tentu muncul saat ini tetapi jika kita tetap memakai terjemahan klasik “karena Aku belum naik” kita harus menjelaskan bagaimana Maria dapat mengerti, meski samar-samar seluk beluk yang diimplikasikan oleh kata-kata Yesus pada saat itu; karena Ia akan telah harus memahami alasan mengapa Ia mesti berhenti memegang Yesus, yakni bahwa Yesus belum naik kepada Bapa-Nya dan oleh karena itu kodrat relasinya dengan murid-murid-Nya mesti dimodifikasi. Menjadi lebih sulit, karena segera seudah itu, Yesus mengumumkan bahwa Ia akan naik pada Bapa.

Karena alasan ini, kita tahu bahwa suatu pembacaan yang lebih benar terhadap fase Yunani, penting dalam bahasa Helenis, yang dikenal sebagai koin (bahasa umum atau bahasa imperium Yunani), namun bahwa karena alasan nyata yang ditempatkan di awal menjadi ditahan hingga paruh kedua kalimat itu, “jangan memegang aku”, karena tentu saja Aku belum naik pada Bapa, tetapi panggilan kepada saudara-saudara-Ku…..” disini alasanya adalah pengutusan Maria kepada saudara-saudara yesus mulai dengan mengantisipasi argumen yang mungkin Maria hadirkan pada-Nya, dengan harapan untuk menahan Ia “mau belum semestinya naik pada Bapa”; tidak ada keraguan bahwa ia mengingat itu dalam ucapan perpisahannya, Yesus meramalkan bahwa Ia pergi jauh pada Bapa untuk menyiapkan tempat bagi para murid, dan kemudian akan datang kembali untuk mencari mereka (14:1-3). Maria mengerti sepenuhnya, seperti Yesus sendiri maksudkan, bahwa Yesus pertama-tama mesti naik pada Bapa. Tetapi Maria salah memahami peristiwa pertemuannya dengan Yesus ketika ia membayangkan bahwa Yesus tetap disini selama suatu waktu untuk memberikan diri-Nya sendiri dalam suatu cara duniawi sebagaimana sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa Yesus mengoreksi dia.

Dan Yesus mengoreksi Maria bukan hanya dengan antisipasi dan kemungkinan penolakannya, tetapi juga dengan mempercayakan suatu misi kepadanya dan inilah alasan kepada Maria seharusnya tidak menahan Yesus. Menurut pola Injil Yohanes sekaitan dengan representasi ini, Maria paham bukan sekedar bahwa ia seharusnya tidak tetap tinggal dekat kaki Yesus meski jika Yesus tetap di bawah (bumi), tetapi ia paham hal yang paling penting adalah pergi untuk membawa suatu pesan bagi murid-murid.

Para murid ini disebut “saudara-saudaraku”. Kebaruan ekspresi/ungkapan ini mengejutkan, meskipun murid yang dikasihi Tuhan telah diserahkan-Nya pada ibu-Nya menjadi ‘anaknya’ (19:26). Pengertian “saudaraku: ini diberikan hanya karena pernyataan berikutnya, tentang Bapa. Dari sekarang ini para murid telah menjadi “saudaraku-saudara” Yesus, karena kata-Nya, Aku naik pada Bapa-Ku dan bapamu, pada Allah-Ku dan Allahmu”dalam kata-kata ini Yesus memahkotai seluruh pewahyuan sebelumnya. Terjemahan itu mesti memberikan suatu sumbangan yang tepat atas kata “dan”, yang mana bukan “dan” yang saling berlawanan, misalnya jika Yesus mengatakan ‘Bapa-Ku karena kodrat” dan Bapamu karena adopsi” interpretasi ini mungkin dapat dibaca secara langsung ke dalam teks itu, tetapi kajian ini tidaklah menerjemahkannya dengan tepat. Tepat dikatakan bahwa partikel itu secara normal memiliki suatu nilai yang menghubungkan dan bukan yang memisahkan. Bapa yang dimaksudkan itu sama, bagi para saudara sebagaimana bagi Yesus. Orang lebih dapat memantapkan dengan seksama pengertian yang menggarisbawahi ekspresi itu. Ahli yang sama telah mengarahkan perhatian pada suatu teks dalam Rut (1:16). Kepada Naomi, yang menganjurkan agar Rut seharusnya kembali ke Moab, lalu Rut menjawab “kemana engkau pergi kesitu jugalah aku akan pergi, dan dimana engkau bermalam disitu jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”. Jadi arti dari perkataan Yesus adalah, “Aku naik kepada Bapa-Ku yang juga Bapamu, kepada Allah-Ku yang juga Allahmu”. Ini memberikan suatu pengertian yang jauh lebih dalam: Yesus meneguhkan bahwa sekarang Allah yang secara tetap berhubungan dengan-Nya telah mengadakan sutu hubungan dengan murid. Dan inilah tujuan tindakan Yesus di dunia. Ketika Ia telah diangkat dari dunia Ia akan mengangkat semua manusia pada-Nya, akan terus-menerus melimpahkan Roh dan akan membuat Bapa tinggal di antara mereka. Dalam jalan ini perjanjian baru yang dinubuatkan oleh para nabi akan datang (Hos. 2:25;Yer 31:33 Ezek 36:28).

Sejak sekarang ada suatu jenis hubungan baru antara Bapa dan para murid antara Allah dan para murid. Yesus ingin kesatuan ini jadi sempurna. Meski Ia naik pada Bapa sesuai teks ini bukanlah berarti, untuk mempersiapkan suatu tempat, tetapi memahkotai karya yang Ia imagurasikan di atas bumi, dan Ia tinggal dengan Bapa, dimana Ia hidup sebagai “hakim” paling akhir (1Yoh 2:1); Ia telah menjanjikan “kamu akan melihat Aku”; karena Aku hidup, kamu juga akan hidup (Roh. 14:19).

Seperti Lukas, Yohanes juga menempatkan peristiwa ini di Yerusalem, tetapi tempat itu tidak disebutkan secara khusus. Tradisi, mengidentifikasi tempat tersebut dengan suatu ruangan di atas, di mana para rasul berkumpul sebelum Pentekosta (Kis 1:13) dan dimana Ekaristi ditetapkan (Luk, 22: 12). Dalam kenyataannya, situasi ini menunjukkan tujuannya yakni mengumpulkan para murid pada tempat yang sama, dan untuk memperlihatkan bahwa mereka berkumpul secara alami sebagai tanda adanya Gereja.

Jika di sana ada dua peristiwa yang berbeda, hal itu disebabkan oleh karena Yohanes hendak memisahkan mereka yang tidak percaya dan bahwa tugas misi hanya diembankan kepada para rasul.

I Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.

19. Ketika hari sudah malam, pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

20. Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Kemudian murid-murid itu bersukacita, ketika mereka melihat Tuhan.

21. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu!”. Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”.

22. Dan sesudah berkata demikian Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus”.

23. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

Cerita ini mengikuti pola klasik yang serupa, dan akan kita pelajari dalam bab 5. Dua deskripsi yang berparalel yang ada (19-20 dan 21-23) membawa makna tentang pengakuan dan pewartaan, sehingga keduanya diintroduksikan pada formula yang sama: ‘Dan sesudah berkata demikian’. Inisiatif itu datang dari Yesus, dan Ia membiarkan para muridNya berbahagia bersamaNya dan mempercayakan tugas misi kepada mereka. Tetapi cara ini merupakan pendalaman Yohanes. Ketika hal itu berhadapan dengan cerita paralel yang ada dalam Lukas, teks itu kelihatannya telah direduksi seminim mungkin: di sana tidak ada perpanjangan apologetis (Luk 24: 41-42) dan dalam keterangan kiasan yang meragukan keberadaan para rasul telah dihilangkan. Apakah pola yang sangat suram ini merupakan pikiran kuno atau lebih baru, Johanes menggunakannya sebagai salah satu maksud dasarnya.

Bagi pembaca sederhana, peristiwa Yesus memperlihatkan diri ketika pintu-pintu tertutup, bermaksud menunjukkan bahwa Yesus mampu melewati objek-objek padat. Teks tak mengatakan apapun mengenai hal itu. Tetapi menjadi jelas ketika Yesus ingin mengunjungi para murid yang telah menutup diri karena takut terhadap orang-orang Yahudi (7:13 ; 19;38). Inilah maksud pertemuan itu: ketika Yesus menyatakan ucapan perpisahannya, para murid ketakutan, tetapi Yesus menjanjikan kedamaian (14:1, 17;16:33). Mereka tak perlu takut terhadap musuh-musuh guru mereka, karena Dia memiliki kekuatan untuk kembali kepada mereka ketika menghendakinya. Tema mengenai kodrat halus akan tubuh Yesus dapat ditarik kesimpulan dari teks, tetapi itu bukanlah hal yang dimaksudkan injil untuk diwartakan. Nuansa ini dapat ditemukan dalam cara dimana tak lama sesudah itu, dia menghitung kembali cara Yesus menunjukkan tangan dan lambungNya. Hal itu menunjukkan bahwa Yohanes secara tidak langsung tertarik dalam pertanyaan tentang kepenuhan badaniah kehidupan Allah.

Jadi Yesus datang untuk menemui para murid. Para murid dan terutama para penulis ajaran agama, telah mendiskusikan dengan tak ada habisnya apakah dengan maksud Yesus ini pengajaran apostolik atau semua umat beriman. Tentunya dalam tradisi pra-injil, Yesus hadir kepada ke sebelas murid (1 Kor 15:5 ; Mat 28:16). Barangkali suatu fragmen pada tradisi ini dapat diakui dalam referensi pada Thomas, “Salah satu dari kedua belas” (20-24). Tapi secara perlahan ada suatu perkiraan yang melihat suatu angka yang cukup besar. Karena dalam Luk 24:33, kita menemukan siapa saja yang bersama mereka, yang mana murid-murid yang kembali dari Emaus juga datang bergabung.

Bab 21 dan 22 memberi kesan bahwa Yohanes berharap meluaskan misi dan persembahan Roh kepada semua umat beriman. Kenyataannya, dia mendasari misinya pada hubungan dengan Bapanya, yang adalah pegangan bagi setiap orang yang percaya (15:9), dan ciptaan baru disarankan pada peristiwa ketika Roh diberikan tanpa ragu sehingga mempengaruhi semua orang Kristen. Hanya pada bab 23, perhatian kekuatan melebihi dosa, bukanlah subjek pada perluasan. Ini akan kita lihat pada penjelasan berikut.

Ketika dia menyambut muridNya dengan kata-kata ”Damai untukmu”, Yesus bukan memberikan sambutan wajib; penggunaan Shalom yang biasa digunakan pada kaum Yahudi, atau apakah dia dengan sungguh-sungguh mengharapkan mereka damai (di sini saya setuju dengan terjemahan “Damai sertamu”,) Dia memberikan mereka damai, sesuai dengan apa yang dia katakan sehubungan dengan diskursus ucapan perpisahanNya(14;27-28). Dalam pemberian damai, Yesus menunjukkan kaki dan lambungNya. Menurut Lukas, sikap ini berarti menghapus keraguan para murid; ”mereka menghendaki bahwa mereka melihat Roh” (Luk 24:37). Tak ada sesuatu yang sama seperti Yohanes. Apakah kemudian maksud dari sikap ini? Barangkali hal ini merupakan antisipasi atas apa yang akan dikatakan kepada Thomas pada situasi dimana murid ini tidak percaya. Tetapi adalah lebih baik daripada mencatat modifikasi yang merupakan hal aneh pada Yohanes: Yesus tidak menunjukkan tangan dan kakiNya, tetapi tangan dan lambungNya. Yesus menghadirkan diriNya sebagai Yesus yang tersalib dimana lambungNya dialiri oleh darah dan air (19-34): dengan mengikuti pemikiran itu, kita dapat memberikan suatu interpretasi bahwa lambung Yesus mengalirkan Roh, yakni sungai kecil tempat mengalir air kehidupan yang menyirami dunia.

Ketika Yesus menghadirkan diriNya, dalam kehadiran bukan sebagaimana manusia biasa tapi dalam kepenuhan iman, para murid melihat Dia sebagai Tuhan dan mereka merasakannya dalam sukacita, sebagai sukacita eskatologis seperti yang telah diramalkan dalam dispursus perpisahan (16:21-22; Why 19:7; 21:1-4), dan tak seorangpun dapat menyingkirkan orang-orang yang menerimanya dari kehidupan Yesus. Saat para murid mencapai kepenuhan iman, tanpa penegasan lebih jauh, sederhana karena Yesus yang datang untuk menjumpai mereka telah memungkinkan mereka untuk mengakuiNya sebagai yang disalib serta dibangkitkan dari alam maut untuk melukiskansegala sesuatu padaNya.

Kata-kata itu selanjutnya hampir tidak mirip pada segala yang berkaitan tentang kebangkitan Kristus dalam kisah Lukas dan Mateus. Ide tentang misi tetap dipertahankan tetapi dalam cara yang berbeda. Hal itu tidak terkait dengan berbagai bukti-bukti Biblis, dan hal itu tidak terarah pada semua bangsa, kecuali dengan mereka yang dikirim sebagai penengah. Yesus tidak semata-mata berjanji tetapi Dia mengirim Roh Kudus yang adalah simbol baru dan menandakan kehadiranNya yang menakjub kan. Rumusan perintah misi adalah khas Yohanes, tetapi berakar pada tradisi yang menyimpan banyak kesaksian. Kekuatan yang melebihi dosa dapat disesuaikan pada tradisi lainnya yang mana dapat dipercaya.

Yesus menyuruh Maria Magdalena untuk memberitahu saudara-saudaraNya bahwa Ia pergi kepada Bapa; sebenarnya, Yesus sekarang memberitakan kepada para murid-Nya bahwa Ia akan kembali kepada Bapa. Misi yang Dia embankan tidaklah didapat dalam substansi dari satu ucapa Yesus; hal itu berakar sepenuhnya dalam misteri yang menyatukan Yesus dengan Bapa-Nya. Yesus bersedia memberikan diri-Nya sebagai lambang kehadiran Bapa ‘Dia yang melihat Aku, melihat Dia, yang mengutus Aku’ (12:45 ; bdk. 13:3b), waktunya telah tiba ketika Dia menuruti kehendak Bapa: “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (20 :21). Perkataan ini menggema dalam doaNya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku mengutus mereka ke dalam dunia” (17:18)

Inilah alasan mengapa dalam Injil Yohanes ada poin yang menunjuk bahwa kini telah tiba saatnya memberikan Roh. Kepenuhan kenabian ini terkait dengan diskursus perpisahan. Ketika Yesus tidak mempunyai banyak waktu lagi bersama para murid-Nya, Ia mengatakan bahwa Penghibur akan datang, ‘Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu’ (14:26) yaitu ‘Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, ia akan bersaksi tentang Aku’(15:26). Inilah alasan mengapa Yesus harus pergi (16:7). Yesus dibangkitkan dari dunia orang mati, memberikan Roh Kebenaran yang disimbolkan dengan ‘hembusan nafas hidup’ pada para rasul; hal ini sebagai kenangan ketika Allah menciptakan manusia pertama (Kej 2:7 ; Keb 15:11) dan dalam tradisi Yohanes yang menempatkan selanjutnya bahwa Logos itulah pencipta dan pencipta kembali (bdk. Yeh 37:3-56;9; Yoh 3:5). Ini terjadi pada hari pertama minggu itu.

Beberapa teolog mempertanyakan apakah Roh yang diberi oleh Yesus itu identik dengan peristiwa Pentekosta. Namun Theodora dari Mepssuestia menolak anggapan ini dengan mengatakan bahwa Roh yang diberikan itu hanya kiasan belaka. Teolog lain seperti Chrysostomus mencoba membuat satu distingsi tentang fungsi roh itu. Dia menyatakan bahwa dalam Lukas, fungsi Roh (kekuatan) itu ialah untuk membuat suatu mujizat, sedangkan menurut Yohanes fungsi Roh itu untuk mengampuni dosa-dosa. Yang lain berpendapat bahwa Roh yang dikatakan Yohanes diberikan pada per pribadi sedangkan dalam Luk diberikan kepada jemaat. Meskipun demikian, beberapa teolog yakin bahwa pemberian Roh yang dimaksud oleh Yohanes diberikan bukan kepada orang tertentu saja, Lukas justru sebaliknya yakni bagi orang secara pribadi. Akan sulit dan mustahil untuk memadukan dua kisah yang termuat dalam Yohanes dan Lukas tersebut. Meskipun begitu, mereka sependapat pada banyak hal. Adalah aneh bahwa mereka mengisahkan peristiwa yang sama pada cara yang berbeda, dan pertentangan yang ada, terjadi karena waktu ketika Roh itu diberikan tidak cocok satu sama lain. Demikian juga seperti pemikiran Cassian sangat setuju dengan waktu yang dikatakan oleh Yohanes khususnya tentang ‘Pentekosta Yohanes’ tetapi juga menunjuk pada sesuatu di luar teks. Meskipun kedua kisah ini berbeda, namun dalam praktiknya keduanya sama. Galilea dan Yerusalem (dua daerah yang berbeda) merupakan tempat yang dimaksud. Meskipun ditemukan perbedaan, kedua kisah ini bagi mereka merupakan suatu keyakinan total dimana menurut Lukas, Roh tersebut adalah pemenuhan akan harapan dan janji yang terjadi pada saat Pentekosta; sedangkan menurut Yohanes, menekankan bahwa waktu pemberian Roh terjadi pada hari Paskah sehingga apa yang dikatakan Yesus itu terpenuhi. Dalam karangan Yohanes, Paskah merupakan salah satu dimensi yang esensial sedangkan bagi Lukas, hal itu terjadi setelah Yesus naik ke Surga. Dalam Yohanes, pribadi Yesus selalu dihubungkan dengan relasiNya dengan Bapa, yakni bahwa Roh itu akan diberikan oleh Bapa-Nya untuk selalu menyertai para muridNya demi mewartakan misi yang dipercayakan kepada mereka.

Roh Kuduslah yang mendirikan Gereja dengan kuasa mengampuni dosa-dosa. Kita menggunakan terjemahan catatan pertama dari Yohanes, lebih komprehensip pada bahasa Yunani, dikatakan bahwa Yesus menurut Mateus, “Aku akan memberikan kamu kunci kerajaan surga, dan apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga (Mat 16 :19 bdk 18:18). Hal ini menjadi diskusi panjang, khususnya antara Protestan dan Katolik, tentang seorang yang memberi janji dan memberi mereka kekuatan. Apakah diberi kekuatan agar tidak melakukan dosa setelah dibabtis? Kita tak harus mencobai panggilan, sejak kita jatuh karena poin-poin esensial, menurut Yohanes bahwa kebangkitan Kristus merupakan pembukaan Gereja yang diawali dengan salam pada bangsa-bangsa; Yesus, tinggal selamanya, GerejaNya menunjuk jalan menuju surga, seperti kata Mateus bahwa Yesus tinggal di bumi, diserahkan kuasa kepada Petrus untuk memutuskan siapa yang akan masuk kerajaan surga.

Apabila bab 23 dibandingkan dengan tradisi Mateus, hal itu sangat tidak jelas, dibandingkan dengan ide-ide Yohanes yang lebih baik. Pada bab 21, dimana Yesus mengutus murid-muridNya seperti Bapa mengutus Dia, mengingatkan kita akan peranan Yesus sebagai hakim di antara manusia yang membedakan mereka yang datang kepada cahaya (9:34-41 ; 3;17-21). Hal itu seperti yang dikatakan Paulus yakni bahwa bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan (2 Kor 2;15-16). Pada bab 22, memperlihatkan bahwa dengan Roh Yesus menghapus dosa dunia (1;29) dan kita mengetahui bahwa darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa (1Yoh 1:7). Di sini Yohanes menggunakan tradisi Yahwis, yang berasal dari tradisi tulisan Qumran (I QS 3:7-8), dimana tercantum bahwa Mesiaslah yang akan menghapus segala dosa kita.

Tentu saja itu mungkin sama dengan Yohanes yang membatasi skop dari janji dan hadiah dari Yesus, hal itu ditampakkan melalui para murid yang tidak pergi kepada semua bangsa-bangsa, dan tidak keluar pada dunia akhir. Tak seorang pun menjadi bersih. Tapi tidak dikatakan mengenai hal itu, apakah hal itu merupakan reaksi keterbukaan yang tidak terbatas, yang tepat dari Gereja di dunia, hal ini tidak sesuai dengan kehormatan dalam dunia dan kekuatan dosa yang mempengaruhi semua orang, tanpa banyak perbedaan kecepatan, tempat dan waktu.

Dan tidak ada alasan yang membedakan antara melakukan dosa sebelum babtis dan melakukan dosa sesudah babtis. Oleh karena itu, pemakluman secara umum dalam tradisi-tradisi lain juga sekarang terpenuhi dalam teks Yohanes.

2. Iman Thomas

Adalah Thomas seorang dari kedua belas rasul yang disebut Didimus, tidak ada bersama dengan mereka ketika Yesus datang. Maka, murid-murid yang lain berkata kepadanya “kami telah melihat Tuhan!” Akan tetapi Thomas berkata kepada mereka “sebelum aku melihat bekas paku di tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya saya tidak percaya”. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali di rumah itu dan Thomas berada bersama dengan mereka. Sementara pintu tertutup, tapi Yesus datang dan berdiri di antara mereka, dan berkata “damai sejahtera bagimu!” Lalu Ia berkata kepada Thomas: taruhlah jarimu di sini dan lihat tangan-Ku dan ulurkanlah tanganmu dan rabahlah lambungku. Janganlah engkau tidak percaya lagi tetapi percayalah”. Thomas menjawab “Tuhanku dan Allahku!” Yesus berkata kepadanya, “sudah percayakah engakau karena engkau melihat Aku? Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”.

Dalam tradisi Injil, topik tentang keragu-raguan membentuk tampilan yang integral; para murid tidak begitu mengenali Dia yang menampakkan Yesus sebagai pribadi. Pada cerita sebelumnya, Yohanes telah membuat versi yang sangat berhadapan dengan Yesus yang bangkit, sampai ketitik dimana tema tradisional tentang keraguan itu secara penuh dipusatkan pada penampakan kepada Thomas. Thomas adalah sosok yang signifikan dalam Injil Yohanes. Dia mengajak teman-temannya untuk mati bersama-sama dengan Yesus menjelang Dia pergi untuk membangkitkan Lazarus. Dia meminta Yesus supaya memberitahukan tempat kemana Dia akan pergi karena mereka tidak tahu jalan kesitu (14: 5). Walaupun demikian akan menjadi salahlah mengatakan Thomas seorang peragu; tetapi dia agaknya adalah murid yang bergerak lamban menuju iman yang autentik.

Cerita itu disusun dengan pararel yang ketat dengan perikop sebelumnya. Ayat 24-25 adalah peralihan, ayat 25 merujuk ayat 20; dan ayat 26 adalah paraprase ayat 19. Cerita itu kemudian disusun kembali dengan menambahkan tiga tema Yohanes dari ayat 27, 28, dan 29. Rekonstruksi ini menunjukkan bahwa Yohanes sekarang berusaha menyesuaikan kembali bahan yang dimilikinya dengan tujuan penulisannya.

Pada tampilan pertama, Thomas menghadirkan kembali sikap perlawanan terhadap para murid yang lain. Para murid melihat dan percaya, sementara Thomas menginginkan bukti. Dalam Injil Lukas, para murid ingin mengalami namun masih tak sanggup untuk percaya. Dalam Injil Yohanes, Thomas ingin memverifikasi apa yang dikatakan rekan-rekannya dengan meyakinkan diri pada penglihatannya sendiri bahwa yang berhadapan dengannya secara nyata adalah Yesus yang tersalib. Yohanes secara seksama menambahkan kategori-kategori pemikiran Yahudi mengenai kebangkitan. Yohanes membutuhkan suatu kesinambungan yang tepat antara kedua dunia, supaya ia sanggup memverifikasi dengan cara yang konkret bahwa orang yang berhadapan dengannya adalah orang yang sama seperti yang sebelumnya. Filipus telah menyatakan keinginannya untuk melihat Bapa (14:8). Dan Thomas berharap melihat Putra yang dimuliakannya itu, dalam pengertian kita sehari-hari. Thomas tetap tinggal pada level duniawi layaknya Nikodemus yang mencoba memahami bagaimana manusia bisa lagi kembali ke dalam rahim ibunya (3:4). Yesus tampaknya meyakinkan Thomas dengan mengabulkan keinginannya. Ia tentu tidak meneruskan ke dalam demonstrasi yang serupa dengan apa yang diberikan Lukas ketika mendeskripsikan Yesus yang sedang makan dalam penglihatan para murid-Nya: tapi kata-kata yang dilontarkannya sama halnya sehingga Thomas memang ragu sebelum ia mengabulkan permintaan Yesus.

Sentuhan Yohanes yang memikat bisa diteliti di sini: sehingga para penulis sesudahnya, seperti Ignatius dari Antiokia mengatakan, Thomas tidak mengabulkan permintaan itu. Thomas pada suatu waktu akan mewartakan imannya. Yesus mengetahui hati terdalam orang-orang; seperti Natanael agak dikejutkan bahwa Yesus tahu bahwa suatu ketika dia berada di bawah pohon ara (1: 48-56). Sekali lagi Yesus adalah orang yang pertama melihat perasaan Thomas dan itulah sebabnya mengapa Thomas kembali melihat Yesus.

Pernyataan iman Thomas ‘Tuhanku dan Allahku’ tidak berarti Thomas mengartikannya untuk mengekpresikan ide-ide yang tegas seperti halnya yang disampaikan oleh Konsili Kalcedonia mengenai sifat alamia ke-Allah-an Kritus sehakikat dengan Bapa. Dari mana pernyataan ini muncul? Pernyataan ini membentuk sebuah kesejajaran dengan aklamasi yang diklaim Kaisar Domitianus (81-96 SM) menjadi dihormati. Dominus et Deus noster. Kitab Wahyu tampak nyata memiliki keinginan memikirkan kaisar ini, dan Injil bisa jadi ditambahkan sebagian. Selama pemerintahannya, tapi konteks pada bagian itu tidak mengijinkan kemungkinan perbandingan apapun. Oleh karena itu para sarjana cenderung berpikir bahwa di sini Yohanes telah mengubah pemakaian kata Perjanjian Lama: YHWH – Elohay (bdk. Im. 35: 23 ‘Tuhanku dan Allahku’). Bagaimanapun bagi Injil Yohanes sendiri kita mesti mencari sebuah keterangan. Di sana, Putra mesti dihormati sama seperti Bapa dihormati (5: 23); dan kita yang mesti mencatat perkataan Yesus: Akulah jalan (8: 28). Arti keseluruhan pewartaan ini menjadi jelas kelihatan ketika hal itu ditampakkkan dalam sebuah konteks liturgis yang serupa dengan yang dilukiskan dalam Wahyu. “pantaslah Engkau, Tuhan dan Allahku menerima kemuliaan, hormat, dan kuasa” (Why. 4:11). Naskah terakhir ini tentu saja menunjuk kepada Allah, tetapi bukankah Yesus mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu” (10: 30)? Kemudian dengan menegaskan kata “Tuhan-ku dan Allah-ku; Thomas mengekspresikan apa yang dikatakan Yesus kepada Maria Magdalena ketika Ia berbicara kepadanya melalui Allah dan perjanjian dia mengatakan “Amen” terhadap perjanjian, terhadap Allah sebagai manusia melalui Yesus.

Akhirnya Yesus mengetahui bahwa Thomas telah menerima kebenaran dan iman secara otentik, yakni sesuatu yang tidak dilakukan oleh para murid dalam Lukas. Yesus mengucapkan selamat padanya, walaupun ia tidak siap menghubungkan iman ini dengan apa yang terlihat pada Thomas. Dengan pernyataan bahwa ‘orang yang tidak melihat diberkati’, Yesus tidak akan mengabaikan mereka yang dengan previlegi tampilan telah diberi informasi. Menunjuk apa yang biasa dipikirkan, Kristus mengabarkan secara bersamaan: ‘terberkatilah orang yang tidak menampakkan dirinya tapi percaya dengan sepenuh hati. C. H. Dodd telah menggabungkan pernyataan ini dengan apa yang ada pada Injil, “terberkatilah matamu, bagi mereka yang melihat, dan telingamu bagi yang mendengar… (Mat. 13: 16), dan bahkan pernyataan itu ditemukan dalam 1 Ptr.: ‘tanpa melihat-Nya kau mencintai-Nya; walaupun engkau tidak melihat-Nya tapi kau percaya kepada-Nya dan memuji dengan kegembiraan yang takterpanjatkan serta agung mulia. Sebagai buah dari imanmua kau memperoleh keselamatan jiwamu (1 Ptr. 1: 8-9). Maksud Yohanes pastinya tidak untuk mengabaikannya, tetapi untuk menampakkan umat yang hidup setelah masa previlegi ini, lama sesudah kemuliaan Yesus, memiliki kesenangan yang sama.

Kesimpulan

Sangat sulitlah menyimpulkan secara garis kecil kontribusi Yohanes terhadap pengertian Kristiani tentang pesan Paskah. Marilah kita menelisik beberapa sudut pandang refleksi.

Yohanes mengeluarkan sebuah penyederhanaan dan peredaksian. Argumen-argumen apologetis menjadi kabur, karena segala sesuatu diterangi oleh pengertian kasih. Kemudian kubur yang kosong, nyata suatu yang penting, sekarang memberikan kebenarannya yang signifikan: itu merupakan tanda bagi siapa saja murid yang dikasihi. Fakta bahwa kubur kosong bisa menjadi tanda totalitas misteri; negatif, tapi signifikan sehingga sangat nyata.

Yohanes mempersonalisasikan segalanya adalah catatan-catatan tradisi. Kemudian misi itu bukanlah perkataan sederhana yang didengar dan menyinggung para murid supaya melanjutkan karya Yesus; hal itu merupakan hubungan yang dimengerti oleh umat dan menyatukan dirinya dengan Yesus seperti halnya Yesus disatukan dengan Bapa. Tak seorang pun dilarang mengatributkan segala sesuatu kepada dirinya sendiri karena ia memuat realisasi apa yang dilakukan Yesus sendiri di bumi bawah ini.

Lebih dari penginjil mana pun Yohanes mendasarkan semua yang terlihat di atas sabda yang membimbing ke dalam kontak dengan Yesus; tak ada bukti kebangkitan kecuali sabda Yesus sendiri menggantikannya. Bahkan penampakan-penampakan itu kekurangan nilai-nilai demonstratif yang boleh jadi diajukan seseorang terhadapnya. Sabda Yesus sendri menggantikannya. Yesus menunjukkan luka-lukanya, tetapi tidak membuktikan korporalitasnya, tetapi untuk mendemonstrasikan bahwa penderitaan-Nya adalah sumber damai yang baru diberikannya dan roh yang akan dicurahkan-Nya.

Akhirnya, kesatuan bab ini dibentuk oleh aliansi yang didirikan antara Bapa dan para murid yang berdasar pada hubungan-Nya dengan Bapa yang dipelihara Yesus. Dan terutama hubungan ini diungkapkan dengan pengaruniaan roh yang seperti Yesus menjadi “Allah beserta kita” seturut Mateus, adalah jaminan kekal kehadiran Tuhan di antara para murid di bumi ini. Terima kasih kepada para murid yang telah berpuasa atas dosa sehingga seluruh dunia dapat memasuki perjanjian dengan Allah.

Leave a comment »

KEBANGKITAN MENURUT LUKAS

KEBANGKITAN MENURUT LUKAS

Tentang Kisah-Kisah

Seraya dibimbing oleh dua tema besar ini, kita dapat mencoba suatu interpretasi atas peristiwa prinsipil (penting) dari masa Paska menurut St Lukas.

Wanita Kudus di Makam

Banyak modifikasi telah mengubah secara serius (mendalam) kisah Lukas dengan perbandingan dengan bahan-bahan dari Markus dan Matius. Pada bagian awal, kita melihat suatu titik (poin) kontak dengan Markus: Pada dini hari, wanita-wanita itu membawa ke kubur rempah-rempah yang telah mereka persiapkan malam sebelumnya. Lalu Lukas meneruskan kisahnya dengan caranya sendiri: Ketika wanita-wanita itu pergi ke kubur, mereka telah melihat seorang lelaki muda duduk di sebelah kanan, tetapi mengamati bahwa tubuh (mayat/ jasad) Yesus tidak ada di situ (absen). Sementara berdiri kebingungan, mereka bertemu (sebagaimana di Betlehem:2:9) dua orang (digambarkan sebagai malaikat-malaikat yang bersama murid yang sedang bepergian ke Emmaus:24:23), yang penampilannya mempesona, cocok dengan malaikat Allah dalam Matius 28:3. Sebagaimana dalam teks (perikop) paralel, sesuai dengan reaksi biasa orang berhadapan dengan penampakan Ilahi (I:12, 30; Exod 19:21ff), wanita-wanita itu tercekam rasa takut, sebagaimana dilukiskan oleh Lukas, mereka menundukkan kepala sampai ke tanah, sebab mungkin mereka masih belum dapat ‘melihat dan mengangkat kepalanya’, karena mungkin mereka belum tahu bahwa penyelamatan sudah dekat (Lukas 21;28). Lalu, setelah mengulang rumus tradisional ,’ Dia tidak di sini, tetapi telah bangkit,’ dia menambahkan “Mengapa kamu mencari yang hidup dari antara orang yang mati?” Galilea disebutkan. Tetapi tempat di mana pertemuan diatur tidak begitu lama dibahas; tempat itu adalah masa lalu selama di mana Yesus memaklumkan rencana Allah terhadap Anak Manusia. Sekali lagi, mengikuti gaya Matius, wanita-wanita itu bergegas memberitahukan kepada para murid para murid apa yang telah terjadi.

Tampaknya, tidak terlalu menarik bagi kita melihat secara spesifik sumber-sumber Lukas, terutama jika keseluruhan susunan ini telah didasarkan pada Injil Markus, atau seandainya dia bersumber pertama-tama pada Markus, dan kemudian pada Matius. Perubahan-perubahan itu sedemikian mendasar sehingga harus diberi atribut Lukas, seraya mempergunakan tradisi yang dikaitkan pada pokok Matius dan Markus. Adalah lebih berguna menggambarkan secara jelas sudut pandang yang dapat dibedakan dalam perubahan-perubahan yang dibuat oleh Lukas.

Kadang-kadang digambarkan dalam ungkapan-ungkapan yang khusus mengenai kubur kosong. Namun, pada kenyataannya, justru yang sebaliknyalah yang benar. Sekilas, proses perubahan itu tampaknya sebagai hal yang ditambahkan kemudian. Dalam Injil Markus, wanita-wanita itu belajar dari kata-kata malaikat bahwa Yesus tidak lagi di dalam kubur, sebagai konfirmasi kebangkitan. Dalam Injil Matius, perubahan wajah dapat dipersepsi dalam pembalikan dua pernyataan dari malaikat: “Dia tidak di sini” mendahului “Dia sudah bangkit.” Akhirnya, dalam Injil Lukas, wanita-wanita itu sendiri melihat bahwa mayat Yesus tidak ada lagi di situ. Penglihatan ini bukannya tanpa maksud: tetapi mereka harus mengaitkannya pada perubahan yang berbeda, yang sama-sama jelas dan jauh lebih penting. Menurut Markus, rumusan “Sebagaimana dikatakan kepadamu” tidak bermakna lain dari pada mengotentikkan pesan yang disampaikan pada pertemuan di Galilea (Mark. 16:7). Kebangkitan diperlihatkan sendiri oleh malaikat. Dalam Injil Matius, apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi basis pewartaan kebangkitan (Mat. 28:6). Lukas dalam kilas-baliknya merujuk hal itu secara spesifik pada pengingatan kembali apa yang telah dikatakan oleh Yesus perihal nasibnya ketika masih tinggal di dunia; dan dalam terang ini, dia tidak memandangnya sementara mengatakan ‘tempat di mana Yesus dibaringkan’ (Mat. 28:6; Mrk. 16:6). Fakta ini bukanlah sarana verifikasi, dan fungsi satu-satunya adalah menimbulkan keheranan wanita-wanita itu atau kebingungan Petrus, sampai misteri itu disingkapkan kepada mereka dalam cara yang lain. Maka, berlawanan dengan penampilan-penampilan, tradisi Injil memperkembangkan kurangnya minat akan kubur kosong.

Reaksi (tindakan) yang diberikan pada wanita-wanita itu memberi masukan pada interpretasi ini. Dalam Injil Markus, Markus tidak berkata apa-apa, seolah-olah untuk membenarkan fakta bahwa dalam kerygma-nya gereja tidak menyebutkan penemuan kubur kosong. Dalam Injil Matius, mereka tampaknya telah mendengar dari para murid, siapa yang rela pergi ke Galilea. Dalam Injil Lukas, kata-kata mereka tidak dipercayai, dan cerita mereka digambarkan sebagai cerita omong-kosong (24:11). Petrus, dengan melihat kain-kain kafan oleh mereka sendiri, merasa kagum, tetapi tidak memahaminya (24:12). Murid-murid di Emmaus memberikan suatu penjelasan : ‘Dia tidak mereka lihat’ (24:24). Di sini lagi, tradisi menunjukkan bahwa fakta kubur kosong tidak mencukupi secara fundamental untuk membangkitkan/ menumbuhkan iman. Dan Lukas ,mengemukakan substansi dari sabda-sabda Jesus yang merupakan dasar iman satu-satunya: pemahaman akan rencana Allah bagi Anak Manusia (24:6-8).

Di sisi lain, modifikasi Lukas adalah jelas. Sebagai pengganti dari seorang pemuda (Markus) atau seorang malaikat (Matius) ada ‘dua orang’ (24:4) yang membentuk ‘penglihatan akan malaikat’ (24:23) yang bersedia memberikan informasi kepada para wanita suci itu. Adalah biasa bahwa Matius mempunyai suatu tendensi untuk menggandakan jumlah orang-orang (yang kesurupan setan, yang buta, yang bersaksi dusta) sementara Lukas bermaksud menghindarkan segala sesuatu yang mengandung pengulangan atau penggandaan. Jadi, jika ada 2 orang di makam, maka ada beberapa maksud yang disengaja. Apa yang kita miliki di sini mungkin bukanlah suatu cara populer untuk menceritakan suatu kisah, melainkan suatu hasrat untuk menyediakan 2 saksi dalam arti yang sah. Saksi-saksi yang secara sah dapat diterima harusnya bukan orang muda (berusia 21 sampai 28 tahun), melainkan 28 sampai 49 tahun, dan harus menjadi dua jumlahnya. Inilah prosedur yang diadopsi oleh Lukas, yang berjanji kepada Theophilus bahwa dia akan ‘mengetahui kebenaran mengenai hal-hal yang darinya kita mendapat informasi’ (1:4).

Di sisi lain, Lukas tidak menyebutkan ‘wanita-wanita lain bersama dengan mereka’, di samping Maria Magdalena, Johana dan Maria, ‘ibu Jakobus’, ketika mereka menceritakan kepada para rasul apa yang telah terjadi (24:11), untuk menambah jumlah saksi mata. Karena perkataan-perkataan mereka tidak dipercaya. Adalah lebih mungkin bahwa dalam cara ini Lukas sedang mempersiapkan sebutan dari ‘para wanita’ di dalam ruangan atas bersama Kesebelas Murid (Kis 1:14).

Dengan maksud yang sama, untuk mempersiapkan cerita dalam Kis., Lukas berkata, ‘para rasul’ (24:10) sebagai pengganti ‘Kesebelas Murid’; para wanita itu menceritakan ‘kepada Sebelas murid dan kepada semua saudara yang lain’ (24:9). Kemudian, ketika mereka kembali ke Jerusalem, para murid yang sedang menuju ke Emmaus tidak hanya menjumpai Kesebelas murid, tetapi juga ‘semua yang bersama mereka’ (24:33) dan yang kemudian hadir pada saat penampakan yang resmi (24:36). Maka ketika Judas harus diganti untuk menyusun kembali jumlah dua belas murid, adalah mudah bagi kumpulan ilahi itu untuk jatuh pada semua yang dari sudut pandang manusiawi mampu memberikan kesaksian (Kis 1:22; 10:34-41).

Penampakan Kepada Murid dalam Perjalanan ke Emaus (Lk 24:13-35).

Lukas tidak mempunyai cerita penampakan kepada wanita kudus (Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18), namun dengan kemampuannya yang mengagumkan, dia menggambarkan kesadaran iman lewat hati dua orang murid. Sementara dasarnya berasal dari gambaran iman kolektif dalam pengalaman personal hidup orang beriman yang tampak didalamnya.

Secara saksama penelitian dikerjakan lewat penyusunan kategori literer yang terdapat pada bagian ini: ‘Sesuatu Yang ilahi ditangkap oleh yang manusiawi dan membentuk suatu hubungan pada manusia yang tak diketahui, serta hilangnya suatu identitas yang begitu cepat ditampilkan.’ Sejalan dengan ini, Yahwe menampakan diri kepada Abraham serta berjalan dengannya dalam rupa manusia (Kej 18). Malaikat Raphael mendampingi Tobias yang tanpa diketahui olehnya (Tob 5:4) dan secara tiba-tiba membuat dirinya sendiri menjadi tak kelihatan (12:21). Pada cerita yang sama, yang terdapat di dalam literatur sekular, ada banyak juga keberadaan kategori-kategori literer yang dihasilkan tanpa menimbulkan pertentangan lebih lanjut. Di dalam ketidakjelasan, mereka mengesahkan kesimpulan di dalam bidang kritik historis, namun mereka membuat kesimpulan mudah itu untuk menjelaskan alam tradisi yang asali, begitu juga dengan Lukas.

Oleh karena adanya jenis cerita ini, kita cenderung berpikir, dasar dari setiap peristiwa, dan isi cerita dari ayat 13, 15b, 16, dan 28-31 mengambarkan penampilannya di dalam pola pikiran. Pola pemikiran ini merupakan suatu usaha pengrekonstruksian dasar tradisi. (pendekatan referensi penomoran ayat).

13 Dua murid pergi ke suatu kampung yang dinamakan Emaus, yang letaknya kira-kira 6 mil dari Yerusalem. 15 Yesus sendiri mendekati dan berjalan bersama mereka. 16Namun mata mereka tersembunyi dari pengetahuan terhadapnya….28 Kemudian mereka mendekati suatu kampung yang mereka tuju. Dia seolah-olah hendak pergi lagi, 29 tetapi mereka mendesak-Nya, dengan berkata, ‘Tinggalah bersama kami, sebab ini telah menjelang malam dan hari sudah tenggelam.’ Dan Dia pun tinggal bersama dengan mereka. 30 Ketika Ia duduk semeja dengan mereka, Dia mengambil roti dan diberkati, lalu dipecah-pecahkan, serta diberikan untuk mereka. 31 Dan mata mereka terbuka dan mereka mengenali Dia; dan Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 33 Dan mereka bangkit dan kembali ke Yerusalem; dan mereka mendapati kesebelas murid yang lain yang sedang berkumpul bersama dengan teman lainnya, 35 dan mereka menceritakan apa yang telah terjadi di tengah perjalanan, dan bagaimana Dia dikenali oleh mereka pada saat memecahkan roti.

Sesuai dengan rangkuman yang diberikan dalam kesimpulan Markus, Yesus ditampakkan ‘dalam suatu bentuk yang lain’ (en heterai morphei: Mark 16:12). Dia kelihatannya ditampakkan sebagai seorang pengembara, sementara dalam Yoh 20:15 Maria menganggap Yesus sebagai tukang kebun; atau yang lainnya Ia berlagak dalam bentuk yang lain yang membuat diriNya tidak dikenal. Seperti suatu kesalahan yang tidak mungkin ada dalam kisah di Emmaus. Di sini Lukas menjelaskan bagaiman kedua murid menjadi objek transformasi batin yang radikal: Yesus tidak ada dalam penyamaran, dan di sana tidak ada suatu ruang untuk suatu seruan kepada sebuah keajaiban dari ‘luar’, seolah-olah penglihatan lain yang membutuhkan suatu kekuatan yang disebut dengan ‘penglihatan iman’: penglihatan yang sama ‘menghalangi mata mereka dalam mengenal Dia’ dan kemudian ‘dibukakan’ (24;16, 31). Ini adalah tema teologis yang membangkitkan yang dengan lembut dinyatakan oleh Lukas. Sebagaimana A. Puch meletakkannya, Lukas bermaksud menyampaikannya kepada kita bukan semata-mata dalam fakta-fakta yang historis, tetapi dalam suatu “interpretasi atas sejarah itu dengan memakai “ naluri pemahaman atas pemikiran manusia”. Pada setiap poin perjalanan para murid ‘terdapat suatu pengamatan psikologis. Para murid ‘begitu sedih’; mereka berhenti, ‘terlihat sedih’; mereka terkejut atas ketidaktahuanakan sang pengembara yang ikut bersama-sama dengan mereka, mereka mendesaknya untuk tinggal bersama dengan mereka. Mengapa? Adakah harapan yang membingungkan yang timbul di antara mereka, yang mereka harapkan untuk melahirkan suatu kepastian, atau apakah mereka ingin sampai lebih dalam kepada suatu permenungan yang sudah begitu dekat kepada mereka? Lukas tidak mengatakannya. Tetapi ia menunjukkan kepada mereka suatu kenangan, dalam sebuah kilas balik, suatu emosi yang telah mencekam mereka di jalan. Dengan cara ini, Lukas memungkinkan pembaca untuk mengerti akan keintiman yang begitu luar biasa yang telah menyatukan para rasul dengan Yesus dari Nazaret; mereka harus sampai kepada kedalaman kekecewaan, agar kemudian bersukaria dalam kebahagiaan. Ia memberikan suatu deskripsi mulia atas pengalaman pengakuan, bagian khas dalam penampakan-penampakan.

Leave a comment »

TUHAN YANG – TAK – PERNAH – “SELESAI”


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; mso-bidi-font-weight:normal;} h2 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

TUHAN YANG – TAK – PERNAH – “SELESAI”

(hasil wawancara dan refleksi)

I . PENGANTAR

Dalam katekismus Batak Toba “Saratus Sungkun-sungkun” ada beberapa pertanyaan yang secara sederhana berbunyi demikian: “Apakah ada Tuhan?” “Kalau ada di mana Dia?” “Bagaimana kita tahu bahwa Dia ada?” dan seribu satu pertanyaan sejenis. Pertanyaan-pertanyaan demikian kerap ‘menghantui’ insan manusia. pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi umat manusia. Justru karena manusia adalah makhluk yang bertanya maka ia menyelidiki terus apakah memang ada Tuhan, meski di satu pihak ia tetap sadar akan keterbatasannya.

Tuhan tidak bisa dilihat pun diraba atau dicium tetapi Ia sungguh nyata kita alami. Ia dapat dirasakan serentak dalam peristiwa yang menyenangkan (mysterium fascinosum) juga dalam peristiwa yang menggentarkan (mysterium tremendum). Justru karena mysterium ini bersifat misteri, rahasia, dan tak tertuntaskan oleh umat manusia maka IA adalah ALLAH.

Berikut akan dipaparkan hasil wawancara kelompok kami dengan beberapa orang yang kami jumpai dari berbagai suku, tingkat ekonomi, agama, bahasa, tempat tinggal, dll. Kenyataan ini semakin meyakinkan kita akan ke-Mahabesar-an Allah yang hadir dan dialami oleh tiap manusia lintas budaya, agama, suku, bahasa manapun juga. Kami memberi judul tulisan ini: Tuhan Yang Tak Pernah “Selesai” dengan maksud mau menekankan bahwa pengalaman akan Tuhan berlangsung terus dalam hidup manusia. Dia sungguh Misteri. Dia abadi dan kasihNya pun “Kekal abadi”.

II . HASIL WAWANCARA

1. Nama : Ayu Lestari

Umur : 22 tahun

Alamat : Jln. Widodo, Karang Sari. No. 101

Pekerjaan : Pedagang

Agama : Islam

Hasil wawancara: Dalam hidupnya setiap hari, Ayu merasa bahwa Tuhan itu dekat. Tuhan selalu hadir bersamanya dan selalu membantunya. Tetapi sebagai manusia Ayu juga kerap merasa bahwa Allah itu jauh dari hadapannya. Hal ini dirasakan ketika ia mengalami kegagalan baik dalam menjalin persahabatan dengan sesama, lebih khusus lagi dengan lawan jenisnya. Ia juga mengalami kegagalan dalam berdagang. Ia lalu marah kepada Allah, mengatakan bahwa Allah itu tidak adil. Dalam suasana gembira, katanya ia juga kadang lupa akan Allah, ia lupa bersyukur akan keberhasilannya. Tetapi di balik itu ia merasa berhutang budi pada Allah yang telah membantu dan mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa Allah itu sangat dekat, hanya ia sendiri yang menjauhkan diri dari Allah.

Ia mengatakan bahwa agama selain agamanya itu semuanya baik dan mengajarkan kebaikan. Hanya saja para penganutnya yang salah menafsirkan ajarannya sehingga menjadi ekstrim.

2. Nama : Deriwati Situmorang

Umur : 20 tahun

Alamat : Jln. Melanton Siregar (asrama susteran Nazaret)

Pekerjaan : Pelajar

Agama : Katolik

Hasil wawancara: Deriwati mengatakan bahwa Tuhan ada dan sangat dekat. Kedekatannya dengan Tuhan ia rasakan ketika ia berwawan-wicara dari hati dengan Tuhan. Pada saat itu ia merasa damai dan bersemangat. Kendatipun demikian, ia pernah mengatakan bahwa Tuhan itu jauh, lantas ia marah pada Tuhan. Dalam suasana bahagia, ia merasa Tuhan itu dekat. Dalam keadaan sakit atau gagal, ia merasa bahwa Tuhan itu jauh dan mulai mempersalahkan Tuhan. Ada sesuatu yang menarik dari Deriwati ini yakni: ia sampai pada pemahaman bahwa kesulitan yang ia alami itu mempunyai makna di baliknya. Ia sangat yakin bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Murah. Agama lain baginya itu benar adanya. Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan.

3. Nama : Lamriah Siregar

Umur : 20 tahun

Alamat : Jln. Pane

Pekerjaan : Pelajar

Agama : HKBP

Hasil wawancara: Lamriah mengatakan Tuhan itu ada dan dekat dengan umatNya. Tuhan itu Mahadahsyat, karena membuat mujizat-mujizat bagi umatNya. Sebagai manusia ia pernah marah pada Tuhan dan mengatakan Tuhan itu tidak adil terhadapnya. Ia sangat yakin dan percaya bahwa dalam keadaan apapun Tuhan itu selalu hadir dekat denganya. Saya yang menjauhkan diri dari Tuhan. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh mahadahsyat, melebihi yang lain. Tuhan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Semua agama di dunia ini sama saja, tidak pernah mengajarkan kejahatan, hanya kita umatnya yang salah menafsirkan dan mengklaim bahwa agama saya yang paling benar dan yang lain itu tidak benar.

4. Nama : Opung Riris Sinaga

Umur : 62 tahun

Alamat : Jln. Pisang, Pematangsiantar

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Katolik

Hasil wawancara: Opung ini mengatakan, bahwa Tuhan itu dekat dan Maha Baik. Ia sangat ‘takut’ pada Tuhan. Dalam menjalankan usahanya, banyak pengalaman keberhasilan yang diproleh dan itu semua berkat campur tangan Tuhan. Ia pernah mengatakan bahwa Tuhan itu tidak Maha Baik, karena dalam menjalankan usahanya ia mengalami kegagalan. Ia mulai jauh dari Tuhan, tidak mau ikut misa, doa di lingkungannya. Tetapi dalam perjalanan waktu opung ini sadar bahwa semua yang ia lakukan itu sungguh tidak menolongnya. Ia kemudian mulai rajin ikut misa, ikut kegiatan di lingkungannya, dan menjadi penggerak di lingkungannya itu. Ia mengatakan bahwa semua agama itu baik dan benar.

5. Nama : Malem Barus

Pekerjaan : Petani

Umur : 56 tahun

Agama : GBKP

Alamat : Stasi Kinangkung-Paroki Padang Bulan

Pendapat tentang Tuhan: Menurut bapa Barus Tuhan itu tidak adil. Tidak adil karena selama ini dia terus meminta kepada Tuhan supaya diberikan panen yang melimpah, tetapi juatru sebaliknya, dia gagal panen padinya habis ditiup oleh angin Anak-anaknyapun tidak pernah mendengarkannya lagi, susah diatur. Mereka berbuat sesuka hati, suka berjudi. “Inilah yang membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak adil,” tuturnya. Karena, andaikan Tuhan itu adil pasti Ia tidak akan membuat saya seperti ini, terus menderita. Dalam hal ini, pak Barus membandingkan keadaan tetangga di sekitarnya meski tidak beragama, tapi toh mereka sukses dan kaya, banyak uang, mobil dan barang mewah lainnya, sementara saya yang sering ke gereja dan selalu berdoa meminta kepada Tuhan justru menderita.

Akibatnya, Bapa ini meninggalkan agama yang selama ini dia anut. Sekarang dia tidak lagi pergi ke gereja. Jangankan ke gereja, berdoapun jarang ia lakukan, demikian pengakuannya. Agama hanyalah membuat dia menderita. “Padahal dalam kitab suci dikatakan ‘Mintalah maka kamu akan diberi’ Kenyataanya tidak ada yang diberikan bahkan membuat saya menderita dan tidak masuk akal,” keluh bapa ini. Ketika ditanya apakah bapa tidak rasakan bahwa kesehatan itu datang dari Tuhan? Lantas jawabnya: “Menurut saya tidak, karena bila saya sakit saya minum obat dan setelah minum obat saya sembuh. Maka itu saya dapat katakan itu bukan datang dari Tuhan, tapi dari obat itu.”

6. Nama : Yusuf Ginting

Pekerjaan : Forhanger (KDS)

Umur : 48 tahun

Agama : Katolik

Alamat : Stasi Gunung Merlawan-Paroki Padang Bulan

Pendapatnya tentang Tuhan:Tuhan betul-betul saya rasakan dalam hidup saya. Dialah yang mengubah hidup saya dari yang kacau menjadi bertobat (Forhanger),” kata bapak ini dengan penuh yakin. Menurut kisahnya, dulu sebelum menjabat sebagai Forhanger, bapa ini berselingkuh dan menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi. Anak dan istri ia tinggalkan di rumah, sedangkan ia pergi mencari kesenangan di tempat lain. Rumahnya hanyalah sebagai tempat persinggahan di saat kehabisan uang. Istri dipaksa untuk mencari uang untuk diberikan kepadanya. Dengan demikian tindakan kekerasan sering terjadi dalam rumah tangga. Hal ini membuat istrinya cukup menderita di saat ia pulang ke rumah. Selain itu istrinya dilarang untuk berdoa. Pernah suatu ketika istrinya sedang berdoa, ia sempat katakan bahwa di mana Tuhanmu itu sambil memukul istrinya. Namun istrinya tetap pada pendiriannya: ia selalu berdoa demi pertobatan suaminya.

Dia akhirnya jatuh sakit. “Saya menjadi lumpuh, dan tak bisa berjalan. Hari-hariku penuh dengan penderitaan dan sengsara di rumah sakit. Sampai-sampai pernah saya katakan bahwa biarlah saya mati, jika harus terus menderita seperti ini. Pada saat itu istriku datang bersama dengan kedua anakku. Tak terasa air mataku jatuh. Saya kagum dan tersentak ternyata mereka masih mencintai dan menyayangiku. Di situlah awal pertobatank. Aku menyesal dan mengajak istriku untuk berbuat sesuatu kepadaku karena saya sudah pasrah. Obat-obatan telah saya minum tapi hasilnya sama saja. Akhirnya istri saya mengajak saya untuk berdoa dan bernovena setiap malam. Dan, mukjizat betul-betul terjadi. Hanya dalam sebulan kemudian saya menjadi sembuh dan dapat berjalan kembali seperti sedia kala. Mulai saat itu saya mejadi aktif di gereja dan terpilih menjadi Forhanger. Dengan menjadi Forhanger saya selalu berpasrah kepada Tuhan. Saya tidak pernah menuntut pada Tuhan. Saya selalu bersyukur atas kehidupan yang Ia berikan pada saya. Hal itu saya lakukan setiap pagi dengan berdoa sebelum bekerja. Menjadi forhanger banyak pengorbanan tapi saya tidak pernah mengeluh akan hal ini. Saya selalu melakukannya dengan sepenuh hati dan lapang dada,” kata bapak ini.

7. Nama : Effendi

Status : penjual di pasar Horas

Usia : 27 tahun

Agama : Islam

Alamat : Tanah Jawa

Pendapatnya tentang Tuhan: Menurut Effendi Tuhan adalah segala-galanya. “Dialah yang memberikan kesehatan bagi saya untuk melakukan perkerjaan saya setiap hari,” tuturnya. Karena tanpa kesehatan tentunya saya tak bisa bekerja. Maka itu setiap hari sebelum pergi bekerja tak lupa saya selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kesehatan kepada saya. Disamping itu juga saya memohon rejeki secukupnya untuk makan minum setiap hari.

Menurut pengakuan effendi, dia adalah anak tunggal yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya ketika berumur 12 tahun. Saat itu dia duduk di bangku SMP kelas II. Harapannya untuk mencapai cita-citanya sirna. Kemudian ia diasuh oleh neneknya, yang hanya untuk makan dan minum saja harus bersusah payah untuk mencarinya. Lalu, ia tidak lagi bersekolah. Walaupun keadaan demikian ia tidak putus asa dan berhati kecil. Toh menurut dia meskipun ia tidak bersekolah lagi, namun ia akan tetap berusaha menjadi anak yang baik, keluhnya pada waktu itu.

Keadaan seperti di ataslah yang memaksanya untuk membantu neneknya untuk mencari nafkah dengan menjadi penjual jeruk di pasar Horas sudah sejak umur 14 tahun. Selanjutnya ia menambahkan bahwa ia tidak pernah mengeluh dalam melakukan pekerjaannya setiap hari walaupun pekerjaannya hanya sebagai penjual di pasar. Menurut dia pekerjaan sehina apapun tidak masalah yang penting itu mulia dan Tuhan pasti menghendaki hal seperti itu. Tuhan mencintai orang yang lemah atau berkekurangan. Ia tak akan pernah menutup mata kepada orang yang selalu berpasrah kepadaNya. Ia akan selalu membantu dan meyertai kita dalam setiap tugas dan pekerjaan kita.

8. Nama : Sri Lestari Tampubolon

Status : Pelajar ( SMP Karya Bakti)

Umur : 14 Tahun

Agama : HKBP

Alamat : Komplek SMP Karya Bakti

Pendapatnya tentang Tuhan: “Tuhan bagiku adalah sahabat. Dia menladi sahabat misalnya saat aku belajar. Dia tidak pernah meninggalkan aku dan Dia selalu mendampingiku”, imbuh pelajar yang satu ini, “Hal itu kurasakan ketika menjelang ujian saya selalu diberikan kesehatan dan semangat untuk belajar. Maka itu saya selalu gunakan kesempatan itu untuk belajar dengan maksimal sehingga Tuhan tidak kecewa dan juga kedua orang tuaku. Tuhan juga baik telah memberikan kedua orang tua yang baik bagi saya. Mereka sangat menyayangi saya dan kakakku, karena memang hanya kami berdualah anak Bapak-ibu.”

Lantas kami bertanya, “Kapan saja atau saat apa saja Sri berdoa? Apakah menunggu sakit atau setiap hari?” “Dalam keluarga, saya selalu diajarkan Mama untuk selalu berdoa pada saat bangun pagi dan sebelum tidur malam sejak kecil,” jawabnya tenang. Walaupun terkadang saya lalai, tetapi ketika saya dilihat Mama tidak berdoa dia selalu mengingat kan saya untuk berdoa. Hal ini yang ditanamkan kedua orang tuaku hingga saat ini. Dan tentunya saat ini saya tidak lagi dijaga atau di awasi dalam hal berdoa. Karena saya tahu bahwa saya meski berdoa kepada Tuhan supaya Ia dapat melindungi dan menjagai saya. Disamping itu, sebagai pelajar saya mohonkan kepada Tuhan agar Ia selalu menuntun saya dalam proses belajar. Oleh karena itu berdoa bagi saya tidak hanya menunggu pada saat ujian atau sakit, tetapi doa harus setiap hari. Hal ini karena Yesus adalah sahabatku yang paling baik di samping teman-temanku di sekolah.

9. Nama : Fr Eddy, OFMConv.

Tingkat : III

Status : Mahasiswa Fakultas Filsafat dan Teologi

Umur : 24

Alamat : Biara St. Bonaventura

Pendapatnya tentang Tuhan: “Allah itu Actus Pulus, Alfa dan Omega. Awal dan Akhir. Dialah penyebab pertama yang tidak dapat disebabkan oleh penyebab yang lain”. Dialah pencipta segala makluk yang berada di bumi ini. Dan manusialah makluk yang paling sempurna melebihi ciptaan lain. Dengan demikian, sebagai ciptaan yang sempurna Allah patut di agungkan dan dihormati. Dengan cara membina relasi yang akrab dengan Dia dan mengasihi sesama baik dan alam sekitar.

Selanjutnya, Fr Eddy paparkan bahwa sebagai seorang frater selain melaksanakan tugas kuliah di kampus yang telah dipercayakan oleh Ordo, ia tetap juga tidak melupakan hidup doa. Doa menjadi ciri khas seorang frater. Tanpa doa hidup menjadi kering dan merana. Bila hal ini yang terjadi akibatnya, identitas sebagai seorang frater hilang dan kabur. Oleh karena itu janganlah kita melalaikan hidup doa. Hidup doa harus menjadi yang utama dan pertama dalam seluruh rangkaian kegiatan setiap hari. Doa itu ibarat makan dan minum, yang harus kita lakukan setiap saat. Karena tak seorangpun di dunia ini yang tidak makan dan minum. Makan dan minum unsure hakiki hidup manusia. Demikian juga doa.

Fr Eddy menambahkan bahwa selama ini ia tidak pernah merasa jauh dari Tuhan. Baik itu dalam suka maupun dalam duka. Ia katakan demikian karena memang ia tak pernah melupakan hidup doanya, baik dalam suka maupun dalam duka.

10. Nama : Septina br. Jawa

Umur : 21 tahun

Alamat : Parluasan

Pekerjaan : Pedagang

Agama : Islam

Pendapatnya tentang Tuhan: Septina mengatakan bahwa Tuhan itu ada dan dekat dengannya. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu selalu hadir bersama dia dalam hari-hari hidupnya, terkhusus ketika ia sholat. Pada saat sekarang (selama mulai bekerja), ia mulai merasa jauh dari Tuhannya. Kendatipun demikian, ia yakin bahwa Tuhan itu selalu dekat dengannya. Sebagai manusia ia pernah marah dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil terhadapnya. Hal ini dirasakan ketika ia mengalami kegagalan. Ketika mengalami kegembiraan ia kadang lupa bersyukur. Semua agama yang ada di Indonesia ini, tentunya mengajarkan yang baik. Tidak ada agama yang ada kini mengajarkan sesuatu jahat dan menyuruh umatnya berbuat kekerasan terhadap sesamanya. Akhir dari obrolan kami, ia mengatakan ia bangga dengan agama yang dianutnya.

11. Nama : Agnes br. Purba

Umur : 19 tahun

Alamat : Jln. Melanton Siregar (susteran Nazareth)

Pekerjaan : Karyawati Susteran

Agama : Katolik

Pendapatnya tentang Tuhan: Agnes mengatakan bahwa tuhan itu dekat dan selalu membantu. Tetapi kadang ia merasa Tuhan itu jauh darinya. Ketika selisi paham dengan sesamanya – tidak diterima oleh sesama dan ketika ia berdoa dan doanya tidak dikabulkan. Pada moment seperti itu ia merasa Tuhan itu jauh dan mulai marah-marah dengan Tuhan. Ketika mengalami keberuntungan ia merasa bahwa Tuhan itu sungguh baik hati. Ia sangat bangga dengan agama yang sedang ia anut sekarang, dan bukan berarti agama yang lain tidak baik. semua agama itu baik adanya.

12. Nama : Ibu Halimah br. Jawa

Umur : 34 tahun

Alamat : Tanah Jawa

Pekerjaan : Pedagang Kecil (jualan di sekolah SLTPN I Tanah Jawa)

Agama : Islam

Ibu Halimah mengalami dan merasakan bahwa Allah itu sungguh dekat dengannya. Ia mengatakan bahwa Allah itu adalah pemberi dan sumber Rejeki. Allah itu sungguh maha baik, karena selalu mengaruniakan kesehatan baginya dan bagi anggota keluarganya. Selama hidupnya ia pernah marah terhadap Allah, karena segala harapan dan doanya tidak diterima oleh Allah. Kendatipun demikian, ia tidak pernah henti-hentinya memohon kepada allah. Ia selalu bersyukur atas pengalaman yang ia dapat setiap hari. Ibu Halimah mengatakan semua agama itu mengajarkan sesuatu yang baik. Kita umat-Nya yang sering berbuat yang tidak baik.

13. Nama : Pak Fitri Sitinjak

umur: 46 tahun

agama: HKBP

pekerjaan: bertani

alamat: Simpang Bah-kata, Jln. Seribudolok km. 15

Pendapatnya tentang Tuhan: Bapak ini mempunyai lima orang anak; yang paling sulung kelas 2 SMU (SMU N 1 Panei Tongah) & yang paling bungsu kelas empat SD (SD N 1 Sibaganding). Sehari-hari bapak ini bekerja sebagai petani dengan luas lahan kurang lebih 1 ha. Dalam pekerjaannya ia dibantu oleh anak-anak dan isterinya.

“Pernah suatu ketika sayamengutuki Tuhan,” tutur bapak ini ketika ditanya bagaimana pengalamannya dengan Tuhan. “waktu itu kami sangat membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anak-anak. Bersamaan dengan itu kami mengalami ‘gagal panen.’ Padi dimakan tikus. Memang bukan hanya padi kami, semua penduduk di kampung ini. Di mana-mana sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan gersang padi kuning tak berbulir.” Waktu itu katanya dia mengutuki Tuhan, Tuhan tidak adil. Dia pun berhenti ke gereja sebab tidak ada artinya. Kalau Tuhan Maha Penyayang bagaimana mungkin kami sesengsara ini, katanya.

Keadaan keluarga bukannya makin membaik. Tuhan menegurnya lewat putera keduanya yang jatuh sakit: demam berdarah. “Tetangga-tetangga datang dan mengajak saya berdoa,” katanya, “Awalnya saya enggan, untuk apa? Saya akhirnya tidak berdoa tetapi hati kecilku menjerit Tuhan tolong kami!!!.” Dan Tuhan memang Maha berbelaskasih, itu kesimpulan yang kutarik ketika tetangga berbaik hati memberi pinjaman uang untuk membawa anakku berobat. Anak kami Randy, akhirnya sembuh setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit.

14. Nama : Nai Eni br. Sitanggang

umur : 50 tahun

agama : Katolik

pekerjaan : parrengge-rengge (berdagang)

alamat : Pasar Baru – Tiga Balata

Pendapatnya tentang Tuhan: Ibu ini adalah seorang yang taat beragama. Ia tergolong aktif di gereja: ikut sebagai anggota PIK (punguan ina katolik), hampir tiap minggu ke gereja, dan dipercaya menjadi sintua di stasi Tiga Balata. Anak-anaknya pun tidak ketinggalan, mereka juga aktif di gereja: salah seorang puterinya adalah guru asmika di stasi itu. Keaktifan ibu ini sebenarnya bukan tanpa halangan. Ia berusaha membagi waktu antara mencari nafkah (berdagang kecil-kecilan) dan urusan gereja. “Waktu sangat penting bagi kami parrengge-rengge karena berhenti satu hari saja bisa mempengaruhi besarnya laba. Kalau tidak dari situ dari mana lagi dapat uang Frater?,” katanya dalam bahasa batak Toba yang kental. Sebagai, seorang janda adalah prestasi bagi ibu ini mampu menghidupi keenam anaknya.

Situasi berubah drastis ketika anaknya yang kedua meninggal dunia secara mengenaskan (bunuh diri karena sudah terlalu lama menderita sakit). Dalam adat Batak Toba memang kematian seorang pemuda adalah malapetaka paling berat. Biasa disebut mate tanggung artinya kematiannya seakan ‘dipaksa’. Ia mulai ragu akan Tuhan yang selama ini diagung-agungkannya. Tokh memang ia yakin adanya Tuhan tetapi ia makin ragu apakah Tuhan itu memang Mahabaik dan Mahakuasa. “Soalnya Tuhan yang demikian tidak mungkin membiarkan saya sesengsara ini, ” keluhnya.

15. nama : Mei Santa br. Samosir

umur : 18 tahun

agama : Katolik

status : pelajar (kelas 3, SMU N 1 Serbalawan)

alamat rumah: Serbalawan, dekat pajak.

Pendapatnya tentang Tuhan: Sebenarnya adik ini adalah murid saya di sekolah. Mei adalah siswi yang aktif, dia tidak pernah bolos dari les agama. Mei bercerita bahwa sebenarnya orang tua (tinggal Mama) tinggal di Binjai. Ibu itu bekerja sebagai guru SD. Mei pindah ke rumah oppung untuk menemani oppung di rumah. sekaligus ia sekolah di sini. Kebetulan rumah oppung dekat dengan sekolah tempat Mei menuntut ilmu. meski tinggal di rumah oppung, biaya sekolah tetap dari orang tua (jajan, uang sekolah, kursus, dll).

Bagi Mei, pelajaran agama sangat menarik, karena membantu kita untuk dekat dengan Tuhan. sejak kecil ia diajari orang tua bahwa Tuhan ada dalam Kitab Suci, doa, dan gereja. “Tuhan adalah sahabat,” demikian pernah diungkapkannya.

“Tetapi pernah saya tidak mengerti maksud Tuhan dalam hidupku. Saya bahkan samapai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu lupa.” Waktu itu katanya, uang sekolah sudah habis tak ada sepeserpun di kantong. Ia terpaksa meminjam uang dari teman-teman, tidak mungkin mengharapkan oppung karena ekonomi pun terbatas; oppung ‘tergantung total’ dari anak-anaknya. Dan yang membuat makin genting, Mei mendengar kabar bahwa Mama sedang sakit keras. “Saya panik,” katanya, “Sedapat mungkin saya tenang. Saya mohon agar Tuhan membantu saya. Tapi pikiran saya tidak juga tenang apalagi waktu ini adalah persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Atas saran oppung dan teman-teman saya pulang ke rumah, setelah sebelumnya meminjam uang lagi dari teman-teman.”

Mei berjumpa dengan ibu dan tidak berapa lama ibu sembuh. Dari pengalaman ini, dia samapai pada kesimpulan bahwa rencana Tuhan sangat sulit kita mengerti. “Mendengar ibu sakit saya memang ‘shock’ lantas mengadili Tuhan Mengapa. Baru sekarang saya tahu bahwa Tuhan mencintai saya,” ungkapnya yakin.

III . EVALUASI ATAS HASIL WAWANCARA

Manusia Mengalami Allah: Keyakinan bertumbuh dari Pengalaman

Secara epistemologis, manusia mengenal 2 macam pengetahuan: ilmu pengetahuan (yang membantu manusia menjelaskan sesuatu hal dengan sistematis, ilmiah, dan metodis) dan penghayatan (yang menumbuhkan keyakinan dalam hidup seseorang). Ilmu pengetahuan biasanya diperoleh lewat bangku formal sedangkan penghayatan diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Ibu saya tidak bisa mendefinisikan ‘Siapa itu Tuhan’ secara teologis. Tetapi, tidak berarti dia tidak beriman. Ia menghayati penuh yakin bahwa Tuhan sungguh ada dalam hidup dan doa-doanya.

Pada bagian pengantar disinggung bahwa manusia mengalami sekaligus mysterium fascinosum dan mysterium tremendum dalam hidupnya. Bukan karena dijelaskan atau diperoleh di bangku sekolah. Manusia heran dan takjub, bukan sebatas teori saja. Serentak, “ide Allah” (Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa) masuk dalam penghayatan manusia yang nota bene kecil dan tak berdaya itu. Allah sungguh ada, tidak dibuat-buat justru karena dialami sendiri oleh manusia. benarlah bahwa pengalaman jauh lebih kaya daripada teori-teori yang ada.

Penderitaan sebagai akibat dosa (?)

Kata Simone de Beauvoir, “It was easier for me to think of a world without a creator than of a creator loaded with all the contradictions of the world.” Bagaimana mungkin Tuhan Mahabaik tetapi membiarkan manusia menderita? Masih bisakah dipertahankan bahwa Dia Mahabaik?

Kira-kira itulah secara umum kesimpulan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang kami wawancarai. Manusia menggugat Tuhan: “Dimanakah Tuhan?” “Tuhan ….Mengapa Kauizinkan penderitaan ini?” Memang, seakan-akan contradictio in terminis Tuhan adalah Mahabaik, Mahakuasa koq derita saja tidak bisa dikalahkanNya?

Kritisisme atas “Paham Kebanyakan Orang tentang Penderitaan”

Teologi Deuteronomistis biasa disebut teologi retribusi (balas jasa), “sebab-akibat”: quid pro quo. Artinya, jika mau setia maka akan selamat, tidak setia = tidak selamat. Tetapi paham demikian cepat luntur bila kita mengamati pengalaman Ayub.

Dari pengalaman Ayub ditarik kesimpulan bahwa penderitaan yang dialami manusia tidak selamanya merupakan hukum sebab akibat. Memang pada awalnya Ayub mengikuti pola itu, maka ia memberontak pada Tuhan karena yakin bahwa dia tidak berdosa: “Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.” (Ay. 13:23). Tetapi, Ayub lalu mencabut perkataannya itu dan menyesalkan diri: “Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.” (Ay. 42:2). Jadi, orang baik pun bisa menderita.

Lantas dari mana penderitaan itu? Dalam Kej.1-11 kita ketahui bahwa manusia mengkhianati kebebasannya. Allah mencipta manusia bebas justru karena ia mencintai manusia: Allah tidak mau manusia hidup secara mekanis seperti robot. Memang, manusia memiliki potensi untuk berbuat jahat tetapi itulah konsekwensi dari kebebasan (Potensi sebelum menjadi actus belumlah dosa)..Tuhan tidak pernah memaksa, ia lebih menghendaki agar manusia memilih Tuhan dengan bebas.

Bisa jadi manusia menderita karena ulah manusia itu (longsor karena penebangan liar, banjir karena sampah, dll). namun, melihat pengalaman Ayub, kita sadar juga bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia yang integral.

Penderitaan Hendaknya Dihayati dalam Iman

Pertanyaan ‘mengapa Allah mengizinkan penderitaan?’ tidak bisa dijawab oleh filsafat. Justru teologi (iman) yang dapat memasuki areal pertanyaan itu. Dalam iman Kristen, Salib adalah jalan menuju kebahagiaan; “Pikullah salibmu!” Dengan mengatakan ‘pikullah salibmu, Yesus sebenarnya mau menggambarkan realitas hidup manusia bahwa penderitaan itu adalah bagian hidup manusia, jangan dieliminir. Derita harus dijalani. Orang beriman sejati melihat penderitaan itu sebagai jalan menuju Tuhan, keselamatan. Pilihan ini tentu harus bertumbuh dalam cinta. Cinta yang menumbuhkan iman dan harapan akan hidup kekal.

Kritus sendiri memberi contoh. Ia sendiri adalah Allah tetapi Ia mau menderita: bukan untuk diriNya melainkan menjadi tebusan bagi banyak orang. Allah sedemikian Mahabesar sehingga sanggup menjadi sedemikian Mahakecil dan hina: wafat di salib. Tetapi kebangkitanNya menjadi bukti, tiada paskah tanpa salib dan derita. Dan manusia sebenarnya harus makin optimis Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, “I will never forget you My people.”

IV . ALLAH MENJADI PERTANYAAN SEKALIGUS JAWABAN: “Tuhan” dalam Diskusi Kelompok

“Universalitas” Tuhan

Tadi sudah dikatakan bahwa pengalaman akan Tuhan itu lintas budaya, generasi, status, suku, agama, dll. Budaya-budaya kita meerumuskan Allah itu dengan beragam nama dan bahasa. Orang Toba mengatakannya “Debata”, Jawa “Gusti”, bangsa Israel ” Yahweh, Elohim”, Muslim “El-Shaddai.” Namun, meski nama dan bahasa yang dipakai bermacam-macam pada intinya sama saja: Allah yang satu dan sama. Tuhan tidak boleh hanya monopoli orang Kristen saja, atau Muslim saja, atau Buddha, dll. Semua orang mengalami Allah (memang dalam konsep masing-masing) entah disadari atau tidak (“Matahari dipancarkan untuk orang baik dan jahat….”). Maka sentimen agama menjadi lebih sempit ketimbang pengalaman akan Allah itu sendiri.

Tuhan adalah Misteri dan “Proses Pencarian Manusia”

Kita terus mencari dan ‘mendefinisikan’ Tuhan. Bagi kelompok kami hal itu sangat wajar. Itu tokh perlu demi kepentingan manusia itu sendiri, hanya perlu disadari bahwa nalar manusia terbatas. tetapi secanggih manapun perumusan manusia akan Tuhan, Tuhan tetaplah Tuhan; Dia tidak pernah kita mengerti sepenuhnya. Jangan-jangan kita akan mengulangi pengalaman Agustinus: mau memindahkan Allah yang sedemikian Mahabesar ke dalam kepala manusia (rasio belaka) yang sedemikian kecil. Maka doa kita adalah: bantulah kami ya Tuhan kami semakin mampu memahami rencanMu untuk kami (syair lagu: Rencana Tuhan adalah rencanaNya…bukan seperti rencana manusia.). “We don’t understand God totally but we must believe in His love).”

“Tuhan adalah misteri” itulah kesimpulan kita. Dia tak pernah tuntas oleh pikiran kita. Kita jatuh bangun mencari Dia. Tetapi tidak apa-apa, semua harus dipandang dalam bingkai ‘proses’, tidak pernah definitip. Kata St. Agustinus: Semakin manusia mengenal dirinya sendiri, semakin ia mengenal Pencipta-nya. Pengalaman hidup personal manusia adalah proses pencarian yang lebih sejati akan Allah. Orang beriman harus melihat Dia dengan hati yang murni: “Beati mundo corde, quoniam ipsi Deum videbunt.” (Mat. 5:8). Hati yang murni tidak harus memusuhi nalar. Nalar penting juga. Hanya memang dalam segala usaha pencarian itu, Allah harus sekaligus sebagai pertanyaan dan jawaban kita (berawal dari Allah dan berakhir pada Allah juga).

V . PENUTUP

Pada awal kita bertanya “apakah ada Tuhan?” “Dimana Dia?” dan seterusnya….Pada bagian penutup inipun kita samapi pada pertanyaan yang sama “Apakah ada Tuhan?” Yang jelas, bukan karena kita rumuskan maka itulah Tuhan. Tuhan tetaplah Tuhan pada DiriNya dengan segala ke-Mahakuasa-anNya. Memang kita tidak boleh juga menutup mata akan pengalaman hidup kita di mana kita mengalami Tuhan yang terlibat. Kita makin sadar solusi “Apakah ada Tuhan” bukan dengan jalan pembuktian sebagaimana sebuah fakta alami. Kita hanya bisa mengerti dan mengalami dalam hidup sehari-hari bahwa Dia ada (hanya petunjuk bahwa Tuhan ada). Maka dalam iman kita akui bahwa kita tidak mengerti Dia sepenuhnya, kita hanya dapat percaya kepadaNya dan berkata: Tuhanku & Allahku !

Leave a comment »

KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:57.6pt 64.8pt 57.6pt 79.2pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

PENGANTAR

Ketika mencari-cari bahan untuk topik “Kebebasan dan Tanggung jawab” ini, tiba-tiba saya menemukan majalah Parbarita (Majalah Keuskupan Agung Medan berbahasa Batak Toba) edisi 8/LI/November 2006 yang berjudul: “Habolason na Sintong.” (Kebebasan yang benar/tepat). Sangat cocok dengan topik ini. Saya sangat terkesan dengan cerita “Si Jaringkot.” Berikut kutipannya: “…”Ba, songon pandok ni Lae A. Gomos, adong do antong jadwal ni si bere i di jabu….,”ninna A. Radot. “Ah, ndang denggan songon I songon na di hurungan gelleng. Anggo ahu Lae hupaloas do bereman sabebas-bebasna…ai nunga matoras be nasida!”ninna A. Pirdot….ninna Si Jaringkot “Saonari digoari do era kebebasan. Alai deak do mandok ia molo bebas manang bolas lapatanna boi mangulahon aha sambing lomo ni roha, ndang parduli tu dongan jolma….””[1]

Cerita ini mengantar kita pada paham orang kebanyakan di bumi ini: bebas sebebas-bebasnya. Apakah memang demikian? Apa sebenarnya arti BEBAS? Kebebasan dan Tanggung jawab: dua kata yang sangat sering terlupakan dalam hidup manusia. “Kebebasan mengandaikan tanggung jawab dan kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang baik pada dirinya sendiri, tanpa syarat. Tindakan yang dilakukan demi kewajiban (tanggung-jawab) sangat bernilai moral.[2] Inilah yang mau digumuli dalam uraian singkat ini.

PADA DASARNYA, MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG BEBAS

Kata ‘bebas’ sangat biasa di telinga kita. Saya tidak mau mengutarakan maknanya di sini, tetapi coba kita cermati kata-kata yang tercantol dengan kata ‘bebas’ itu: bebas rokok, perdagangan bebas, kebebasan pers, sex-bebas, pergaulan bebas, bebas berekspresi, bebas pajak, dst.

Secara negatif bebas berarti: tidak ada paksaan. Artinya kalau paksaan menentukan kelakuan manusia maka tindakan itu dapat dikatakan tindakan yang tidak bebas. Kebebasan berarti bahwa kita sendiri secara sadar dan mau menentukan diri sendiri.[3] Sejauh mana saya menentukan diriku dalam berbuat secara sadar dan mau, maka saya menjadi ‘orang yang bebas.’

Manusia adalah makhluk bebas, berbeda dari makhluk (benda) lain di sekitarnya. Kucing dapat berbuat ini dan itu, tetapi selalu didorong oleh desakan naluri (insting), perangsang, dan kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging. Jika melihat daging, kucing tidak akan pernah berfikir seperti kita apakah langsung dimakan saja atau dicari satu potong lagi supaya dua. Berhadapan dengan dua daging sekaligus pada jarak yang sama, membuat kucing jadi bingung.[4] Demikian matahari yang terbit setiap pagi di ufuk timur. Ia pasti terbit sesuai hukum tata-jagad raya. Matahari tidak pernah ‘beristiahat’ pada hari tertentu. Berbeda dengan manusia. Si A setiap pagi bangun pukul 05.15 WIB, setelah itu mandi. Ia berdoa ke kavel 5 menit sebelum jam enam. Begitu tiap hari. Kalau si A sungguh hadir pada dirinya sendiri, tahu apa yang dibuatnya ia sungguh bebas. Bila berhadapan dengan masalah tertentu, A mengambil jarak dari dirinya. Ia mempertimbangkan pro dan kontra lalu memutuskan tindakannya. Tindakan yang sadar itu disebut “bebas.”[5]

MENGAPA KITA HARUS BEBAS?

Dalam iman kekatolikan, kita imani bahwa kita diselamatkan karena iman dan perbuatan kita (“Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.”). Di sini diandaikan adanya kehendak bebas manusia. Allah memberikan manusia kebebasan untuk menentukan dirinya, tidak pernah ia memaksa; mau kepada kehidupan atau kebinasaan. Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 1732 dikatakan bahwa kebebasan merupakan kekhasan perbuatan manusiawi kita. Semakin melakukan yang baik, maka semakin bebaslah ia.

Karena pada hakikatnya manusia adalah bebas, maka tanpa kebebasan moralitas itu tidak ada.[6] Di rumah kami (Biara Kapusin Alverna) sangat ditekankan perlunya kebebasan dalam rutinitas rumah. Rutinitas janganlah dipandang sebagai “remote control” yang senantiasa mengendalikan semua gerak-gerik. Aturan pada dirinya adalah baik tetapi kalau dipahami sebagai rutinitas yang kaku dan tidak disadari maka akan sangat berbahaya. Bisa jadi rutinitas tetap berjalan, tetapi tidak dihidupi oleh kebebasan. Bila melulu demi aturan, hal yang sangat diawaskan adalah: karena suatu saat (entah sebagai pastor paroki atau…..) akan ada saatnya di mana tidak ada lagi yang mengawasi kita. Aturan ‘tidak lagi mengikat.’ Repot! Kalau sebelumnya aturan berdoa dijalankan sebagai aturan rumah semata (tidak disadari sebagai kebutuhan) maka dapat dibayangkan apa yang terjadi setelahnya….

KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Kalau pasangan muda yang sedang berpacaran ‘kebablasan’ (hamil di luar nikah) dan si laki-laki tidak mau bertanggung jawab, maka ini disebut kebebasan yang tidak beranggung jawab. Bertanggung jawab berarti mampu menjawab kepada diri, masyarakat dan Tuhan serta mampu menanggung akibatnya. Lebih jauh, Kant menuturkan: “ Seseorang bertanggungjawab atas setiap perbuatan dan akibatnya. Memang dibedakan 2 macam imperatif: 1. imperatif hipotetis = ‘jika menginginkan nilai tinggi anda harus belajar. (bukan imperatif moral), 2. imperatif kategoris = bukan dengan maksud tertentu tetapi karena perintah itu baik pada dirinya, tanpa syarat (inilah yang bernilai moral).[7]

Kebebasan yang sejati disertai oleh tanggung jawab. Tanggung jawab pertama-tama berarti melakukan sesuatu dengan efektif terlepas apakah dia diharapkan berbuat demikian atau tidak. Sopir yang mabuk bertanggung jawab atas perbuatannya melanggar anjing walaupun dia melakukan hal itu tanpa sengaja atau karena tidak melihat anjing tersebut. Tanggung jawab itu mengandaikan adanya kebebasan. Sopir tersebut bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut antara lain karena dia bebas memilih menyupir atau tidaK, minum alkohol atau tidak, melewati jalan itu atau jalan lain.[8]

Kebebasan manusia baru ditantang sungguh kalau berhadapan dengan kewajiban moral. Kewajiban itu tidak melulu karena kewajiban sebagai kewajiban, melainkan untuk mencapai kebaikan yang dijamin oleh kewajiban itu. Maka sikap moral adalah sikap bertanggung jawab (berbeda dari aturan/rutinitas rumah yang ‘kering’ tadi). Bertanggung jawab agar saya sedapat mungkin mencapai yang baik dan bernilai pada diri sendiri. Maka, kebebasan dan tanggung jawab sangat erat kaitannya.

PENUTUP

Sebagaimana pengantar tadi, (kata Si Jaringkot) bahwa zaman kita ditandai oleh paham orang kebanyakan yang mengira bahwa kebebasan adalah bebas sebebas-bebasnya. Namun, sebagai orang Kristen kebebasan kita adalah kebebasan dalam batas-batas tertentu; bebas yang bertanggung jawab (dalam bahasa filsafat disebut ‘bebas yang terikat’). Itulah yang menjadi perjuangan kita. Dengan kehendak bebas kita mau dan sadar menyesuaikan perilaku kita dengan kehendak Tuhan. Dengan itu kita bebas sekaligus bertanggung jawab.

BIBLIOGRAFI

Von Magnis, Franz. ETIKA UMUM masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius, 1975.

Snijder, Adelbert. MANUSIA paradoks dan seruan. Yogyakarta: Kanisius, 2004. hlm. 123

Solomon, Robert C. ETIKA suatu pengantar. (judul asli: ETHICS, A Brief Introduction). Diterjemahkan oleh R. Andre Karo-karo. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1987.

Uniacke, Suzanne M. “Responsibility & Obligation: Some Kantian Directions”. Dalam International Journal of Philosophical Studies. (tanpa tempat): Taylor & Francis, 2005


[1] Terjemahannya kira-kira:“…”Pak Gomos mengatakan bahwa anak-anaknya punya jadwal di rumah, “ kata Pak Radot. “Saya kira tidak baik demikian, anak-anak kita rasa-rasanya dipenjara. Bagi saya, lebih baik mereka dibebaskan sebebas-bebasnya karena mereka sudah dewasa,” kata Pak Pirdot. “…Zaman kita dinamai era kebebasan. Tetapi bagi kebanyakan orang kalau bebas berarti bebas melakukan apa saja tanpa peduli sesama manusia…,” kata Si Jaringkot….”

[2] Suzanne M. Uniacke, “Responsibility & Obligation: Some Kantian Directions”, dalam International Journal of Philosophical Studies ( [tanpa tempat]: Taylor & Francis, 2005), hlm. 462

[3] Adelbert Snijder, MANUSIA Paradoks dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 123

[4] Franz von Magnis, ETIKA UMUM Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1975), hlm. 51

[5] Adelbert Snijder, MANUSIA…, hlm. 123 – 124.

[6] Robert C. Solomon, ETIKA suatu pengantar ( judul asli: ETHICS, A Brief Introduction), diterjemahkan oleh R. Andre Karo-karo (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1987), HLM. 88

[7] Suzanne M. Uniacke, “Responsibility…, hlm. 465

[8] Robert C. Solomon, ETIKA suatu…, hlm. 88

Leave a comment »

KEUTAMAAN


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1366058921; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:41044224;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KISAH & DINAMIKA SOSIAL KEUTAMAAN

Oleh: Anne Patrick

(terjemahan dari “The Virtue, Story and its Dynamics)

Artikel-artikel terdahulu berkaitan dengan tema ini telah membuktikan fakta bahwa pandangan-pandangan mengenai nilai dan keutamaan senantiasa berubah, dan telah dibicarakan pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai fenomena ini. Tulisan yang ada sekarang dibentuk atas dasar paham ini untuk mengeksplorasi aspek-aspek transformasi yang sekarang sedang berlangsung dalam rangka mengalamatkan pertanyaan inti normatif yang terbatas pada pengakuan akan historisitas nilai-nilai dan keutamaan: Perubahan-perubahan bagaimana yang hendak dikembangkan oleh orang-orang Kristen? Dengan kata lain, bentuk nilai dan keutamaan yang bagaimana yang paling diharapkan di dunia zaman sekarang dan bagaimana kita seharusnya memberi kontribusi atas proses transformasi ide-ide yang masih kurang mencukupi akan nilai dan keutamaan demi Kerajaan Allah? Akan tetapi, sebelum pertanyaan-pertanyaan normatif itu terjawab, perlulah mendapatkan beberapa pemahaman atas bagaimana ‘keutamaan’ dihubungkan dengan individu-individu yang terdiri atas masyarakat dan dengan masyarakat yang membentuk individu-individu itu.

PENDAHULUAN

Keutamaan: sejarah, sosial, dan cerita-yang-dependent.

Dahulu, pertanyaan seputar keutamaan personal dibicarakan di luar topik-topik etika sosial. Akan tetapi, studi mengenai kebudayaan meyakinkan bahwa keutamaan adalah suatu fenomena sosial secara menyeluruh, karena kelompok semua tipe dibedakan menurut jenis karakteristik dan pembagian-pemabagian yang dikembangkan di dalam anggota-anggotanya. Lalu, di samping pengenalan sejarah keutamaan, suatu teori yang tepat akan memberhargakan sosialitas dengan baik. Termasuk di dalamnya pengakuan bahwa konteks sosial suatu perantara menentukan bagi beberapa tingkatan ideal untuk karakter yang akan dikembangkan olehnya. Masyarakat memperkenalkan idealisme-idealisme melalui beberapa sarana seperti UU, pujian dan hukuman, ritual-ritual dan doa, dan di atas segalanya: cerita. Mitos, legenda, sejarah, biografi, fabel, drama, dan karya fiksi lain memberi pesan yang jelas mengenai apa jenis karakter yang dibernilaikan dan dipahami. Entah perorangan atau tidak mewujudkan karakter yang dihargai oleh dan dalam kelompok, karakter itu umumnya menginternalisasikan nilai-nilai yang berisi mitos kutural dan menimbangnya dalam terang norma-norma yang umum (lazim). Cerita lalu memainkan satu peranan yang edukatif dengan mengkomunikasikan dan mengukuhkan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang telah diberhargakan oleh kebudayaan. Lagi, cerita berfungsi mengkritisi sudut pandang nilai dan keutamaan ketika statusnya dalam masyarakat dipandang membingungkan. Nyatanya, peran kritis dari cerita adalah satu bagian penting dalam dinamika perubahan di mana nilai dan keutamaan menjadi perhatiannya.

Dalam melukiskan pembentukan peran cerita itu, saya tidak menganjurkan agar setiap agen dalam masyarakat mengadopsi satu paket idealisme yang seragam (homogen), karena terutama dalam kebudayaan-kebudayaan modern yang plural pilihan-pilihan nilai secara tetap diadopsi dalam persaingan oleh individu-individu, agen-agen itu memilih dari antara pluralitas ini dan membentuk paham nilainya sendiri. Tetapi elemen pilihan sendiri masih jauh dari otonomi yang komplet, karena realitas sosial kuat mempengaruhi sense nilai dan keutamaan tiap individu, seraya membentuk dalam batas-batas yang mengoperasikan kebebasan personal. Dengan penekanan dimensi sosial keutamaan demikian, saya mau menerapkan pandangan seorang psikolog G.H.Mead dan teolog H.Richard Niebuhr ke realitas keutamaan, diperkaya dengan karya lain dalam Sosiologi, Anthropologi Kultural, dan tentunya Teologi Moral. Sebagaimana Mead, Niebuhr, dan yang lain telah menunjukkan “Manusia personal pada dasarnya bersifat sosial.” Setiap orang tidak akan berkembang menjadi manusia tanpa relasi sosial; setiap orang dibentuk oleh nilai-nilai yang mengikat dalam bahasa dan pola-pola kebudayaan mitis atau kebudayaan-kebudayaan dalam hal mana seseorang lahir. Cerita-cerita tertentu memberi kontribusi yang mencolok sekali dalam pembentukan kepribadian karena mereka mengungkapkan paham tentang dunia dan etos kelompok dalam cara yang suatu ketika melibatkan emosi, intelektualitas, dan imajinasi, dengan efektif membawa pesan yang dianggap bernilai dan bagaimana nilai-nilai itu harusnya diprioritaskan.

Di antara para ahli etika Kristen kontemporer, Stanley Hauerwas terkenal karena penekanan dimensi sosial dan historis dari keutamaan, dan karena memakai peran cerita dalam membentuk masyarakat dan individu. Karyanya melampaui tendensi lama yang mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan keutamaan personal dari diskusi etik sosial. Pendapatnya diringkaskan dalam pernyataan: ” Kapasitas kita untuk menjadi saleh tergantung pada masyarakat yang telah dibentuk oleh kisah/cerita-cerita yang setia pada karakter realitas.” Hauerwas memberi tekanan pada fungsi primer dari cerita dalam kaitannya pada nilai-nilai dan keutamaan, yakni: perannya dalam pembentukan masyarakat dan diri. Namun, norma yang mencukupi kepada realitas dalam teorinya itu mensugesti betapa pentingnya fungsi sekunder dari kisah, yakni mengoreksi batas-batas mitos yang berlaku dengan mengkritik idealisme yang sesuai untuk karakater. Baru-baru ini, John Barbour telah menggabungkan pendapat Hauerwas, ahli zaman Klasik James Redfield, dan karya literatur penyelidikannya untuk memaparkan peran yang dimainkan oleh tragedi, dan novel-novel tragis di zaman modern, dengan mengkritik idealisme yang dominan dari keutamaan. Karya-karya itu melukiskan tingkatan usaha manusia untuk menghidupi idealisme-idealisme tertentu sampai pada kepenuhannya, lalu membuat pertimbangan ulang atas norma-norma dalam masyarakat.

Analisis saya hanya hendak menambahkan pada karya para pemikir ini dengan cara berikut. Pertama, saya menggambarkan satu ketegangan tertentu yang saat ini terasa dalam Gereja Katolik seraya memasukkan konflik di antara 2 paham tentang nilai dan keutamaan, “Patriarkhal” & “Egalitarian.” Saya berasumsi bahwa yang terakhir itu mendapat pengaruh dalam kesadaran Katolik, dan hal ini menyebabkan pesatnya pertahanan artikulasi-artikulasi pandangan patriarkhal itu oleh mereka yang berkuasa yang mendukungnya. Maka, untuk melukiskan kedua fungsi kisah berkenaan dengan pandangan tentang keutamaan dan juga untuk memberi kontribusi secara substantif pada masalah konfigurasi kaum Egalitarian, berikut saya mau mendiskusikan 2 cerita. Yang pertama adalah laporan dari acara beatifikasi baru-baru ini, yang menggambarkan satu langkah di mana nilai-nilai dan keutamaan tradisional telah dikomunikasikan ke dalam paham katolik. diskusi yang saya buat menggabungkan kisah personal dengan analisis kritis kaum feminis atas idealisme-idealisme itu yang dibungkus dalam bentuk cerita. Cerita/kisah kedua adalah satu karya fiksi yang lebih panjang, Hati nurani yang baik (The Good Conscience) oleh Carlos Fuentes. Analisis saya mengindikasikan bagaimana Fuentes memakai suatu gaya yang dihubungkan dengan isu-isu pembentukan karakter, Bildungsroman, untuk mengkritisi kumpulan sikap mengenai keutamaan Kristiani yang dalam terminologi saya disebut paradigma patriarkal. Dari semuanya ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang terutama dibutuhkan oleh Gereja Katolik saat ini adalah kisah-kisah yang menggambarkan kuasa dan validitas paradigma egalitarian untuk keutamaan.

1. konflik terbaru (akhir-akhir ini) Paradigma Katolik tentang keutamaan

Debat mengenai ‘otoritas dan ketidaksepakatan’ dalam Gereja Katolik, keyakinan baru-baru ini di Inggris dalam kebijakan disipliner Vatikan menentang Prof. Charles Curran dari Universitas katolik dan Uskup Agung Raymond Hunthausen dari Seattle, akan dianalisis dalam kaitannya dengan idealisme Gereja Katolik tentang karakter. Akan tetapi, apa yang akan saya klaim adalah bahwa kasus yang berasal dari tahun 1986 itu, dan juga hal-hal lain (yang sejenis) melibatkan kecaman hirarki atas penantang yang setia sejak K.V II, adalah gejala dari Konflik yang masih berlangsung di antara persaingan paradigma tentang keutamaan Kristen. Kasus itu mengandung dimensi eklesiologi, politis, dan ekonomis, namun untuk memahaminya secara utuh maka perlulah mengetahui bahwa bagian dari dari apa yang dalam isu itu dipandang berharga adalah apa artinya menjadi ‘seorang Katolik yang baik.’ dengan kata lain, isu-isu etik atas karakter dan keutamaan adalah sentral untuk diskusi-diskusi ini. Apakah hal ini diungkapkan secara eksplisit atau tidak, tiap sisi menyertai kumpulan (konstelasi) normatif yang berbeda atas nilai dan keutamaan. Tiap sisi (posisi) mengubah secara mendetail kasus per kasus, tetapi posisi-posisi itu cenderung antri atau paradigma patriarkal atau Egalitarian. Tentu saja, analisis ini mengasumsikan artifisialitas tipologi apapun; untuk itu deskripsi berikut bersifat parsial dan sugestif dari pada yang elaboratif dan definitip.

Suatu paradigma patriarkal tentang keutamaan telah lama menikmati kekuasaan dalam komunitas Gereja Katolik Roma. (Pem)bentuk(an)nya telah lama dipengaruhi oleh spiritulitas “dunia-lain”, dominasi dan subordinasi bentuk sosial dan teologis, anti-wanita, dualisme yang menolak tubuh sebagai kekhasan kebudayaan Barat. Paradigma ini memahami keutamaan sebagai: kontrol nafsu dengan akal dan subordinasi nilai-nilai duniawi atas ‘yang supernatural’. Semua itu membahasakan betapa banyaknya idealisme untuk karakter, tetapi cenderung menerima bahwa semua ini dengan tepat diberi penekanan lebih besar menurut gender dan status sosial seseorang. Semua orang Kristen hendaknya baik, suci, pantas, dan dina(miskin) tetapi kaum wanita diminta untuk lebih lagi dalam cinta kasih dan kemurnian, laki-laki dididik untuk berpikir dalam ungkapan-ungkapan keadilan dan kebaikan, dan mensubordinasi (sub + ordinis) kedua fungsi wanita untuk patuh dan penurut. Karena alasan yang bermacam-macam, pandangan ini harus sampai pada fungsi yang melihat kemurnian sebagai puncak kesempurnaan, memutlakkan keutamaan ini sebagaimana didefenisikan oleh interpretasi-interpretasi para ahli fisika (physicalist) atas “hukum natural” dan menekankan gunanya demi keselamatan. Diakui lebih tinggi bahwa nilai-nilai cinta kasih dan keadilan dipahami menjadi penting, tetapi hanya relatif. Poin ini akan disangkal oleh hirarki yang getol mempertahankan paradigma patriarkal, namun sangkalan demikian kurang meyakinkan dalam paham berikut bahwa tidak ada bahan/materi sedemikian sepele di mana dosa sex begitu diperhatikan, padahal pelanggaran cinta kasih dan keadilan mengandung perubahan tingkatan derajat.

Dasar biblis untuk paradigma patriarkal terkandung dalam interpretasi “Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan (Mat. 5:8)”. Petikan ini mengisyaratkan larangan seksual dan menganjurkan kemurnian seksual sebagai tanda utama dari kesetiaan hidup religius. Karena paham ini, ‘kemurnian hati’ diinterpretasi dalam bingkai yang sempit, sense seksual, ketimbang dalam makna yang lebih luas yakni tujuan yang satu-satunya/kebulatan tekad. Paradigma ini berdasar pada suatu metafora dominasi, yang menekankan kontrol kaum minor oleh kaum mayor; tubuh yang tidak mau taat harus didisiplinkan dan dijinakkan dengan alasan-alasan yang tidak memihak (netral). Tuntutan Kitab Suci berikutnya ditemukan dalam pernyataan Paulus, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak “(I Kor. 9: 2 7). Tekanan pada paham itu cenderung melampaui materi seksual untuk memasuki dunia sosial; karenanya nilai tertinggi ditempatkan pada ketaatan untuk melegitimasikan otoritas dalam pandangan ini. Nyatanya, ide kontrol hirarkis atas ‘tubuh mistik’ sejajar dengan dominansi daging melalui kehendak dalam pemahaman tradisional akan kemurnian. Tampaknya juga bahwa kecenderungan mengaplikasikan solusi ‘militeristik’ pada masalah politis adalah manifestasi sekular dari paradigma yang sama.

Kontras antara dualisme antropologi dengan paradigma patriarchal, paradigma egalitarian menahan alasan-alasan dalam dirinya, dan wanita dan laki-laki menjadi benar-benar pasangan yang sama dalam komunitas manusia. Malahan kontrol, respek suatu bangsa diciptakan untuk semua realitas paradigma yang fundamental, nilai-nilai suatu tubuh dan kemanusiaan wanita dan usaha menaikkan integirtar-Gender termasuk watak. Kemudian pengertian daya sebagai kontrol akhir, paradigma ini dijalankan dengan daya pikir sebagai energi untuk hubungan yang tepat. Cinta ideal dan keadilan dipisahkan hungga terpisah dari lingkungan personal dan etika sosial, dengan tanggung jawab untuk perealisasian gender yang mereka ikuti; malahan cinta dan perdamaian dilihat sebagai kekuatan norma-norma denga yang lain di mana akan memerintah secara bersama.

Barangkali karena perhatian yang diberikan secara berlebihan oleh pengacara-pengacara paradigma peravahan tentang kesucian seksual, pengacara-pengacara paradigma yang lain cenderung tidak prihatin dengan keutamaan. Pemikiran yang di dalamnya, pemikiran suatu tafsiran tentang keutamaan ini boleh diduga dari apa yang mereka tulis mengenai seksual. Paradigma seksualitas ini dilihat sebagai suatu keprtihatinan perdamaian sosial dan juga keutamaan personal dan pengurusan bagian beatifikasi “berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6). Pengakuan itu menjadi tanda dovosi religius yang tidak dapa berlangsung oleh suatu tenaga yang berkuasa dengan tubuh yang implus dan orang lain, tetapi yang lain harus dilibatkan dengan komitmen yang terus-menerus ada (dengan spritualitas dan materi) dari diri sendiri dan orang lain. Hal ini memerlukan pertunjukan untuk membangaun resperk reaksi sosial, persamaan dan satu sama lain.

Paradigma yang kedua mengakui bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup Kristen, tetapi mereka sungguh paham perbedaan orang-orang yang dibeatifikasi. Paradigma paravahan cenderung membantu perkembangan mentalitas pewahyuan, dengan “budi” mereka sendiri melihat penyiksaan abadi dari musuh sang ilahi di dalam dunia ini, tetapi akhirnya hal itu dibersihkan kemudian. Paradigma egalitarian mengakui bahwa kekuatan-kekuatan dari kejahatan yang sudah lama tersusun menjadi daya untuk memusnahkan pendekatan-pendekatan mereka di Campaign hanya pada bidang sosial dan hubungan-hubungan ekonomi. Tetapi, dengan Jesus Paschal mencoba menemukan anjuran-anjuran ini sebagai contoh pengakuan kampus untuk mencapai kemenangan pada saat ini dan dunia yang sekarang, keluwesan dari daerah dan sumber hidup dan kekuasaan diteruskan Tuhan dalam sejarah manusia.

Kehadiran paradigma egalitarianditangkap oleh imajinasi orang-orang yang sale, melalu sebuah proses yang melibatkan banyak unsur. Di antara cerita-cerita yang baru dan kritik-kritik baru dari cerita yang lama. Ilustrasi ini menjadii aspek bagi perubahan yang dinamis, saya kembali sekarang kepada sontoh cerita yang ditunjukkan untuk mempertajam paadigma patriarkal, dan menunjukkan mengapa cerita-cerita demikian kehilangan dayanya dia antara para pendengar zaman sekarang.

2. Sebuah Cerita yang Kehilangan Daya

Sepanjang sejarahnya, Gereja Katolik telah mengkomunikasikan karakter yang ideal kepada umat dengan menceritakan pribadi orang suci tertentu atau mereka yang hidupnya dianggap terpuji (blessed). Untuk menilai suatu peran yang dimainkan oleh hagiographical cerita dalam hubungannya dengan paradigma keutamaan patriarkal yang berguna pada suatu studi singkat mengenai kabar-kabar dari majelis New York Times edisi 16 Agustus 1985

KINSHASO, Zaire 15 Agustus Paus Yohanes Paulus II membeatifikasikan seorang biarawati Roma Katolik yang gugur ketika menyerahkan keperawanannya. Biarawati Maria Klementina Anwarita, telah menunjukkan nilai primordial keperawanan yang telah ditunjukkan dalam keberaniannya hingga menjadi martir, demikian kata paus. Dia mengatakan bahwa dia memaafkan seorang Piere Kolombia yang telah membunuh biarawati itu pada waktu perang insiden di Zaire pada tahun 1964 (hlm. A-4).

Bagaimana tanggapan orang-orang yang percaya pada kisah itu? Reaksiku mengidentifikasi perubahan besar dalam Gereja Katolik yang memeperlihatkan keutamaan dan kebijakan-kebijakan karena saya menanggapi dengan sangat berbeda cerita itu dari pada saya melakukan hal seperti tahun lalu. St. Maria Geretti telah dikanonisasi pada tahun 1950 ketika saya masih duduk di SD, dan saya mengatakan bahwa kebesarannya sangat dipengaruhi oleh masa kanak-kanak dan saya akan menyajikan kembali masa remajanya melalui cerita penolakan seksual pada masa penolakan seksual terhadap kemajuan-kemajuan pada waktu masih mudanya hingga mati pada tahun 1902. Ini adalah suatu contoh bagi gadis yang masih muda, suatu model keutamaan yang kurang mendidik tetapi ada nilai-nilai spritualitas yang perlu dipertaruhkan. Seorang penulis biografi mengutipnya sebagai laporang pada waktu pertemuan pengkanonisasiannya, “Tuhan tidak menginginkan itu. Itu sebuah dosa. Kamu akan masuk neraka” kata-kata itu sangat relevan untuk mengungkapkan nilai-nilai yang ada pada Maria dan yang dialami oleh umat di dunia. Hal ini adalah suatu yang duniawi di mana kematian menjadi lebih baik dari pada perkosaan. Vatikan menseleksi wanita-wanita muda yang dikanonisasi pada tahun 1950 yang dengan jelas mengartikan dengan baik nilai-nila dari kesucian pada suatu masyarakat yang mengandung pertanyaan absolut tentang norma-norma ini. selain itu, orang-orang suci sangat perhatian pada kesejahteraan spritual pemerkosa (hal itu adalah dosa. Kamu akan masuk neraka) dengan menggunakan kekuatan para wanita muda yang bertanggung jawab pada perlakuan seks yang khas bagi pendidikan Katolik pasa saat ini. tak seorangpun disusahkan dengan kesadaran sepanjang meneladani Maria Goretti dan seorang laki-laki yang menjadi pelindung anak muda (Jonh Berchman, Aloysius, Gonjaga dan Stanislas Kostka) di mana telah menolong orang-orang suci yang jujur. Secara berangsur-angsur bagaimana pun orang-orang suci yang hidup belasan tahun lebih lama dari sekarang dan hal ini tidak memperlihatkan siatu perubahan keutamaan yang sangat bagi suatu bangsa.. tingkat perubahan panggilan saya jelas ketika saya merefleksikan tulisan beatifikasi dalam beberepa bulan yang lalu.

Begerapa pokok laporan ini sungguh menggagu saya. Yang terpenting adalah perubahan ketidak adilan pada situasi yang paling dasar di mana adanya pemerkosaan dan pembunuhan. Situasi ini sering dihadapi oleh wanita di seluruh dunia ini, dengan begitu banyak penderitaan atau ukuran-ukuran keduanya yang mengancam kejahatan: paksaan kontak seksual dan atau kematian yang dipaksa. Selain itu, saya sekarang sadar bahwa contoh tidak adil dari hubungan antara kontribusi seks dengan frekuansi pengalaman-pengalaman wanita seperti keadaan-keadaan yang sulit, dan pendidikan yang diterima di sekolah dengan nilai-nilai feminim yang terdisional dan kepatuhan pada wibawa petinggi yang kemungkinan sama dengan wanita yang akan menderita kekerasan.

Juga sungguh mengganggu nilai-nilai yang dinyatakan eksplisit oleh nilai primordial keperawanan yang diikuti dengan maksud jelas, bahwa wanita-wanita yang hidup paling tidak nilai kondisi fisiknya tidak khas seperti mayoritas wanita dewasa pada semua budaya-budaya. Keperawanan Maria klemen pasti diabdikan kepada kesucian dan religius yang berarti dengan seluk-beluk yang tidak akan diremehkan. Kendati aspek formal religius tidak jelas pada bagain yang dasar, yakni bahwa seorang wanita diangkat menjadi model emulasi orang-orang yang beriman sebab dia memilih dibunuh daripada menyerahkan keperawanannya.

Hak seorang lebih pada keutuhan jasmani, kebebasan dan otonomi seksual yang memuncak pada nilai-nilai yang luhur. tetapi apakah nilai-nilai lebih besar dari pada nilai-nilai seorang yang hidup? Untuk meyakinkan ancaman pada kematian yang tidak dilepaskan oleh seorang wanitayang tunduk pada pemerkosaan, tetapi jika kita mengambil beberapa korban pemerkoasaan yang dihadirkan dalam dua alternatif, tanpa tulisan beatifikasi yang pengangkatannnya dipertanyakan apakah pemerkosaan yang besar kejahatannya dibandingkan kematian.

Tetapi apakah pertanyaan ini keliru? Suatu boleh diobjekkan bahwa nilai-nilai uatama yang ditaruhkan dalam kejadian-kejadian bukanlah kemurnian tetapi kemauan Tuhan. Di ada inti objek-objek sejauh pertanyaan sejauh kebersalahan atau kebaikan yang diperhatikan, nilai-nilai formil dari Tuhan yang sungguh-sungguh unggul dalam suatu kepercayaan. Kewajiban yang diikuti oleh suara hati tertentu dikecualikan. Tetapi titik utama dari nilai-nilai formil tidak mencukupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya mengenai kehendak Tuhan apakah wanita diancam dengan kematian jika dia tidak menyerahkan kegadisannya. Jawaban atas pertanyaan ini mendapat unsur universal atau beberapa kebenaran, keputusan yang pantas, pilihan yang dilihat dalam pemandangan dalam keadaan yang relevan, nilai-nilai dan prinsup yang diliputi kesenangan pada keadaan yang sebenarnya. Fakta ini berperan penting lebih lanjut pada pertanyaan keberatan seperti apakah yang menekan seksual “kemurnian” yang sangat baik?

Adalah baik memperhatikan tanggapan singkat tentang ancaman hebat yang ditimbulkan pemerkosaan (ambillah hidupku, tetapi jangan keperawananku). Melalui perluasan pemahaman bahwa asumsi atas keperawanan merupakan nilai yang primordial bagi perempuan, suatu yang lebih besar dibandingkan hidup, mungkinkah hal ini merupakan respon dari para perempuan yang beriman? Jawaban-jawaban untuk semua pertanyaan di atas memberikan suatu point dimana perhatian tentang keutamaan dan aksi pertentangan dalam kekatolikan saat ini; karena mereka mengengsel issu tentang pengetahuan akan kehendak Allah, dan lebih spesifik lagi dalam pertanyaan tentang apa yang menjadi landasan konstitusi-konstitusi, dimana hirarki mengklaim bahwa pengetahuan harus dipisahkan dari etika sexualitas.

Lebih lanjut, cerita-cerita ini mengundang pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang menjadi perhatian mereka yang secara tidak langsung diarahkan pada percabulan natural (nature of rape). Apakah mereka memahami bahwa pemerkosaan merupakan suatu tindakan mendasar dari kesucian dan agresi, atau apakah mereka menyumbangkan sesuatu yang lazim atau suatu mite yang tidak teliti sehingga bagaimana seorang korban mendapat ketenangan dari peraihan dan perampasan dirinya, apakah dengan demikian memperkuat suatu tendensi permasalahan untuk menyalahkan korban kriminal ini? Dan apakah kasus sosial mengenai perbuatan pria ini secara langsung kurang diperhatikan? Mungkin pada tahun 1985 atau 1950 sesuatu hal diharapkan bahwa pemimpin-pemimpin gereja harus memahami bahwa pengajaran tentang ketidakwajaran dari mansturbasi dan homosexual dan ketidakwajaran pemerkosaan memberikan ketidaknyamanan bagi pemuda-pemuda pria dan dengan langsung memberikan contoh bagi pemerkosaan. Akhirnya, mengapa ada perempuan yang lebih senang mati untuk memperjuangkan kesuciannya? Untuk menjawab pertanyaan ini adalah penting menyelidiki permasalahan tentang siapa subjek keutamaan ini, karena dengan demikian suatu pilihan bagi seorang perempuan lebih luas daripada fungsi sosialnya. Pilihannnya memberikan cahaya ideal bagi karakter dominan kebudayaannya, nilai yang telah diambilnya sendiri demi membangun keputusannya.

Cerita ini membawa pencerahan bagi karakter pemikiran budaya yang cenderung menyerang. Lebih jelasa dalam sejarah kekristenan, perhatian biblis terhadap kemurnian sexs di antara orang Ibrani, pandangan atau doktrin kesucian Maria Perpetua mengasumsikan bahwa Yesus menjauhkan diri dari aktivitas seksual, dan memberi tekanan pada kemurnian hidup demi masa yang akan datang (eskatologi) yang dikombinasikan pada keutuhan badan – menolak dualisme yang dihadirkan oleh budaya Yunani-Romawi yang memberi suatu pandangan sehingga mendorong pembagunan pribadi-pribadi yang melihat badan mereka sebagai suatu tempat yang didalamnya berisi kekuatan yang baik dan yang jahat, dengan banyaknya permintaan akan suatu keawaspadaan dihadapan kecenderungan sexs satu arah. Setelah berabad-abad, kisah-kisah baru masuk ke dalam kebudayaan – kisah-kisah keperawanan para martir, akseke para biarawan dan biarawati, para pertapa, dan seperti semua orang yang bergabung dengan praktek legal dan permintaan-permintaan masuk ke dalam kelompok sosial lain dan ke dalam paham lain tentang eskatologi yang menciptakan suatu dunia dimana suatu keputusan untuk mati lebih dari kehilangan kesucian yang memberikan arti yang lebih baik.

Seorang pribadi memahami secara global bahwa suatu karakter ideal membutuhkan penahanan nafsu sexual atau pengawasan diri secara sempurna (yang terakhir sebelum menikah, dimana aktivitas sex sudah diperbolehkan); dan aturan diri sesuai norma kulturalnya, apakah dia mencapai hal itu dalam prakteknya. Demikian suatu pemahaman akan kesucian telah diseimbangkan secara sempurna dalam kekristenan pada masa yang telah silam. Bagaimana hal itu sekarang, bagaimanapun, hal itu merupakan suatu karakter yang ideal mengenai gagasan tentang kesucian sebagai suatu lynchip yang tidak begitu jelas diterima tanpa kritik oleh kekristenan, kendati dengan sangat jelas menggambarkan suatu pengetahuan alternatif tentang kesucian kendati belum diartikulasikan. Sosietas Katolik sekarang sedang menganalisis keidealan karakter itu dengan menaruh hormat pada sexualitas, kendati tranformasi tidak lagi menjadi focus yang membutuhkan banyak perhatian dalam diskusi mengenai keutamaan diantara teori-teori hidup moral. Malahan, teologi-teologi moral Katolik telah membersihkan dengan sangat hati-hati pencobaan mempertanyakan yang menyangkut keabsolutan aktivitas sexs tanpa melepasan pengaruh hukuman gereja dalam hidup mereka. Kita berada pada satu momen dalam sejarah dimana suatu pemahaman akan kesucian memperoleh pengenalan sebagai sesuatu yang tidak memadai dan ketika suatu kemampuan tidak membuatnya sungguh menjadi pusat perhatian.

Pada tolak waktu ini, bagaimanapun, kita dapat mengenali bahwa teologi moral membawa sebuah interpretasi baru tentang kesucian yakni suatu paradigma yang mengatakan bahwa semua orang sederajat dalam keutamaan. Hal ini telah memberikan kemudahan karena pada refleksi etika hal itu telah dilakukan melalui dua pokok pekerjaan yaitu di luar lingkaran moral teologi tradisional. Di sini ada pemikir-pemikir feminis religius yang menyumbangkan suatu pemahaman ulang mengenai kesucian sebagai kemampuan menduga-duga explorasi yang lebih umum mengenai gender dan etika ideal yang lebih baik atau sebaik perhatian explicit akan pertanyaan-pertanyaan particular, yang telah diamati variasi ide-ide karakter dan keutamaannya mulai sejak filsafat moral mulai memusatkan hal itu sebagai kekuatan yang membuatnya sebagai suatu keputusan dan aksi pada abad 19.

Sekarang, seorang pengkritik feminis klasik Valerie Saiving, mengkritik keidealan keutamaan ini. Dalam artikelnya (Goldsteins) “Situasi Manusia”: suatu pandangan Feminis. Saiving mengatakan bahwa pemahaman tradisional orang Kristen mengenai dosa dan keutamaan diperoleh dari pengalaman-pengalaman akan kehidupan laki-laki yang menikmati beberapa status dan kekuatan dalam sosietasnya. Bagi laki-laki seperti itu, harga diri telah dipahami sebagai suatu kecenderungan yang sangat membahayakan, godaan indulgensi sexual dengan mengorbankan orang lain juga menjadi suatu bahaya yang akan berulang terus menerus. Kemudian dirasakan untuk mengusahakan kecocokan kerendahan hati dan kesucian diri, tetapi untuk menguniversalkan analisis ini dan khususnya untuk menetapkan hal itu kepada perempuan yang lokasi sosialnya sungguh berbeda, membuat masalah moral yang dihadapi perempuan semakin parah. Untuk memberikan pembedaan pengalaman-pengalaman sosial dari dua jenis sexual ini, godaan perempuan dibedakan dari para laki-laki. Malahan, harga diri menimbulkan masalah yang lebih besar. Bagi wanita godaan terbesar (utama) adalah untuk memastikan suatu inti diri, untuk menanamkan responsibilitas akan suatu identitas dan perbuatan bagi orang lain dan faktor-faktor lingkungan (unsur-unsur mental) dimana seorang laki-laki digoda untuk menyalahgunakan kekuatannya, dan wanita cenderung melepaskan kemungkinan mereka untuk menggunakan kekuatan dengan pantas melalui penyerahan diri demi persetujuan dan keamanan (perlindungan). Apakah perempuan dalam kebutuhan societas patriarkalnya tidak dinasehatkan untuk rendah hati dan menjaga kekudusan diri, atau belajar dari cerita-cerita dari orang kudus yang meninggal secara istimewa demi kemurnian? Malahan wanita membutuhkan model-model keutamaan baru dan kisah-kisah baru yang mengkomunikasikan mereka. Saya melihat ke depan pada hari yang akan datang ketika cerita-cerita narratif dikarasteristikkan pada kepopuleran kekatolikan.

Sementara itu, sumber kedua yang berguna masih harus dilakukan melalui penceritaan dan teologi-teologi yang adalah badan yang luas menyangkut fiksi-fiksi serius yang mengkritik ketidakcakapan paradigma patriarchal mengenai keutamaan terutama sekali menyangkut suatu contoh perhatian yang mencolok dalam pekerjaan yang dilakukan novelis Meksiko: Carlos Feutes dalam novelnya : The Good Conscience (Suara hati yang benar)”.

3. Kesucian dan Psikologi Ketidakadilan Sosial

Secara resmi dipublikasikan tahun 1959, suara hati yang baik memberikan suatu analisis yang tajam menyangkut ambiguitas pengajaran Katolik dan praktek nilai-nilai dan keutamaan. Suatu tema yang menyolok dalam novel ini adalah pilihan kedua dari kekuatan moral kristiani menyangkut pelayanan yang bukan hanya dalam struktur sosial. Melalui penurunan kemurnian sex moral kristiani kelas orang-orang kaya Mexico kepada yang Jaime Ceballos lahirkan menggantikan pengalihan dirinya dari kemiskinan dan ketidakadilan daerah sekitar dan kontribusi yang bertahan pada ketamakan. Novel Jaime melukiskan transformasi dari sesuatu yang sensitive, idealisme seorang anak, yang melindungi seorang organisator pekerja buronan dan seorang pemuda Marxis India, masuk dalam suatu egoisme yang kuat yang akan diikuti langkah kaki kemunafikan yang selalu menilai dengan rendah. Pada akhir buku kita menemukan hubungan Jaime dengan keadaan yang ia rasakan melampaui kegagalannya menunjukkan cinta dan perhatian kepada orangtuanya, dengan mengunjungi seorang saudaranya setelah pemakaman ayahnya. Disini dia mengkomitkan bahwa suatu dosa dapat lebih mudah dinamai dan dibebaskan dalam pengakuan dosa daripada hargadiri dan kekurangpekaan terhadap yang lain yang telah menjadi bagian dari karakter. Kemudian melalui penurunan hidup moral menjadi suatu rutinitas dosa sexual dan pengakuan dosa, dia masuk pada apa yang disebut hati nurani yang baik sebagai pekerjaan ironis yang diletakkan di atasnya.

Lebih jelas kelihatan penetapan hubungan antara afirmasi penjelmaan kita dan kegembiraan dalam misteri penciptaan dan cinta Tuhan. Mereka juga melihat bagaimana perasaan dihubungkan dengan suatu disposisi untuk saling memperhatikan sehingga keterasingan dari badan diasosiasikan dengan keterasingan orang lain. Lebih dalam lagi, melalui contoh-contoh kehidupan Jaime dan keluarganya, Fuentes menunjukkan bagaimana moral teologi dan pastoral praksis memperhatikan kontribusi dosa sexual kepada pola hidup seseorang yang sebaik mungkin berhadapan dengan ketidakadilan sosial. Untuk lebih tepatnya novel ini hanya mendemonstrasikan bagaimana paradigma patriarchal mengenai keutamaan diimplikasikan dalam beberapa masalah yang sangat menimpa kekatolikan saat ini: ketidakadilan terhadap perempuan dan pengkelasan secara buta antara golongan menengah dan tinggi dalam hal keadilan sosial dan ekonomi. Kita melihat dalam novel ini kekakuan otoritas patriarkal yang telah dilakukan dalam suatu sistem keluarga, dan kita dapat mengambil kesimpulan tentang apa yang telah dilakukan dan yang sedang dilakukan oleh gereja. Jaime ibarat sebuah rumah yang dalamnya kebenaran tidak dapat dibicarakan dan dimana sexualitas berada di atas segala ketabuan subjek. Apa yang diceritakan Feuntes pada rumah ini membawa pemikiran kita bagaimana gembala-gembala dan teologi moral sama sekali dan dalam perkara sexualitas ini: “Peraturan pertama dalam keluarga ini adalah bahwa kehidupan real dan drama penting harus disembunyikan”.

KESIMPULAN

Essai ini difokuskan pada konteks keutamaan sosial dan pada dinamika transformasi karakter ideal, memperhatikan bagaimana pelaksanaan di dalam dengan pengaruh faktor-faktor budaya, khususnya model-model dan cerita-cerita yang memberikan efek bagi tingkatan nilai dan keutamaan. Argumen saya secara implicit mengatakan bahwa keutamaan kekudusan dibutuhkan untuk membawanya masuk kedalam melalui sayap teologi askese, di mana calon penghayat selibat mempertimbangkan dengan hati-hati segala seluk beluk peraturan alami dalam sinar interpretasi badaniah, dan menempatkannya dengan cermat pada pusat teologi moral; akhirnya pada apa yang waktu itu telah diajukan untuk membangun rasionalitas dan koheren yang menempatkan karakter ideal dengan respek sexualitas.

Suatu penginterpretasian kembali harus dengan cepat dimasukkan dalam pemahaman sang pemerhati yang telah menunjukkan bagaimana kedalaman pemahaman akan kesucian itu dipaksakan kembali secara sempurna oleh gereja-gereja dalam variasi tipe-tipe kesempurnaan keadilan sosial. Maka, bagaimanapun, yang lebih dibutuhkan adalah cerita-cerita baru (narratif) yang berada dibalik kritisisme dan teori yang menyediakan model-model demonstrasi dengan suatu kekuatan prosa ilmiah yang tidak dapat dicapai –kebaikan dan keindahan hidup dibangun melalui paradigma bahwa semua orang sederajat keutamaannya.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.