st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:normal;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1881480200; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:507814526;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:2045402570; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:67698703;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

FRANSISKUS, LINGKUNGAN HIDUP, DAN KEBERPIHAKANNYA

I. PENGANTAR

“Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala bintang melata yang merayap di bumi,” firman Allah (Kej.1:26). Allah menjadikan manusia berkuasa tetapi tidak identik dengan eksploitasi dan penghancuran. Penerjemahan arti berkuasa sedemikian mewarnai rusaknya alam yang kita huni sekarang ini. berkuasa berarti mencintai, menghargai, menggunakan, mengolah bukan semata-mata demi kepentingan sepihak (manusia) tetapi demi kesejahteraan semua baik makhluk human pun infra human. Hildegarde dari Bingen menulis: “Bahwa bumi sekaligus sebagai ibu, dia adalah ibu dari segala yang alamiah, ibu dari segala kemanusiaan. Semua ciptaan datang dari bumi….” Saat ini, idealisme itu semakin jauh dari realitas. Dengan bengis manusia menyisakan kegetiran dan kengerian demi kepentingannya saja.

Fransiskus adalah seorang ekolog, cintanya pada lingkungan hidup adalah wujud cintanya terhadap Pencipta. Menjadi pengikutnya, ‘memaksa’ saya untuk meneladani sikapnya yang sarat cinta dan sayang pada lingkungan hidup. Dengan tulisan singkat ini, saya mau berefleksi serentak menumbuhkan sikap dan komitmen atas semangat Bapa Fransiskus. Membahas mengenai lingkungan hidup adalah tema yang menarik, apalagi zaman sekarang yang dilanda isu (atau lebih tepat fakta) semakin minimnya perhatian/keyakinan orang akan kesejatian lingkungan hidup itu sendiri.

II. SEGELINTIR KISAH-KISAH FRANSISKUS

1. Berkotbah kepada burung-burung

Dalam Kisah Ketiga Sahabat dikisahkan pengalaman unik St. Fransiskus. Ketika St. Fransiskus dekat kota Bawangnya, ia pergi kepada burung-burung untuk mengutarakan isi hatinya. Katanya: “Sang Pencipta telah menganugerahkan banyak kebaikan kepadamu. Ia telah memberimu bulu-bulu yang indah dan sayap-sayap supaya kamu boleh melayang dan terbang. Sang Allah Yang Maha Baik melindungi keluargamu.” Mendengar lentingan suara orang suci itu, burung-burung itu tidak takut. Mereka mendengarkan dia penuh perhatian.

2. Serigala dari Gubbio

Ada seekor serigala yang bukan hanya memangsa binatang tetapi juga manusia. Serigala ini amat ditakuti warga setempat. Oleh karena itu, banyak orang melarang sekaligus tidak percaya bahwa Fransiskus begitu nekat ingin berjumpa dengan serigala itu. Tetapi Fransiskus teguh pada keyakinannya, bahwa serigala itu adalah sahabat. ketika serigala itu melihat ke arah Fransiskus, iapun menyerbunya dengan cakar-cakar terbuka. Ketika ia mendekat, Fransiskus membuat tanda salib di atasnya seraya menyapa: “Saudara Serigala! Demi nama Kristus aku memerintahkan kepadamu, jangan menyerang aku atau orang lain!” Imannya menang, serigala itu taat.

3. Cacing di tengah jalan

Ketika melihat cacing sedang bergeliat di tengah jalan, Fransiskus jadi iba. Lalu, diliputi kasih sayang dia memindahkan cacing tersebut ke tempat yang aman agar tidak terinjak orang yang lewat.

4. Seekor kelinci yang terperangkap

Pada suatu hari dalam perjalanan melintasi Greccio, kota di mana Fransiskus mengikutkan hewan-hewan pada gua Natal pertama di dunia, sang santo berjumpa dengan seekor kelinci yang terperangkap. Fransiskus membebaskan hewan tersebut dan berkata: “Saudaraku kelinci, kemarilah!” Si kelincipun melompat ke atas tangannya dan tinggal di sana sampai sang santo menyuruhnya untuk kembali ke dalam kandangnya.

5. Benda-benda matipun adalah saudara

Fransiskus tidak berhenti pada hewan-hewan hidup dan bernafas saja, ia membuka tangan bagi semua elemen ciptaan Tuhan; di sana juga ia menemukan Tuhan. ia melarang para saudara membuang bara yang setengah membara ke arah angin; ia menghendakinya ditaruh dengan lembut di tanah karena rasa hormatnya pada Dia yang telah menciptakannya. Bahkan ia menyebut saudara api ketika besi panas yang hendak mengobati kebutaannya itu didekatkan ke matanya. Ketika kematiannya sudah mendekat, ia dengan berani menyapa ‘saudari maut’.

III. MENGAPA FRANSISKUS SEDEMIKIAN CINTA?

Manusia modern yang serba kritis bisa saja meragukan ‘kebodohan’ St. Fransiskus. Perilaku ekstrem; menyapa burung, menyelamatkan cacing, berbicara dengan serigala yang menakutkan, dll tampaknya kurang menyentuh soal kekinian. Apa yang membuat Fransiskus tenggelam begitu dalam pada apa yang dijumpainya? Apa yang membuat dia begitu tergila-gila dengan semua elemen lingkungan hidup itu? Satu hal yang paling mendasar bahwa Fransiskus amat mencintai Allah sedemikian besar sehingga ia menginginkan seluruh ciptaan ikut bersamanya. Itulah alasan mengapa ia sering berkotbah kepada hadirin non-manusia. Ia tengah mendorong semua ciptaan Tuhan untuk memuji Allah dengan cara unik masing-masing. Ia tidaklah sinting, primitif, dan kuno dengan berpura-pura bahwa alam ini memiliki karakterisitik manusiawi.

Fransiskus berusaha menyangkal diri dengan menyamakan diri dengan ciptaan lain. Dia merasa hina, rendah, dan tidak berarti. Pengakuan ini selalu dilatarbelakangi suatu keyakinan bahwa semua yang ada di atas bumi berasal dari Pencipta yang sama dan satu. Kepekaan iman sedemikian tinggi membuat ia berani mencinta, hingga menyentuh segala aspek ciptaan paling rendah sekalipun. Tidak menghargai ciptaan berarti tidak menghargai Allah. Tetapi, bukan berarti pula ciptaan dan Pencipta adalah sama (bdk. Kaum pantheis). Allah dan alam adalah terpisah, meski saling terkait. Ia tidak memuja alam, yang ia pandang tidak sempurna dalam beberapa hal, seperti halnya keadaan manusia yang sangat jelas tidak sempurna. Tetapi, ia memuji Allah melalui alam itu.

IV. ALAM YANG SEMAKIN “DIMILIKI”

– Fransiskus pencinta alam berhadapan dengan fenomena hangat zaman sekarang ­-

Kalau dibandingkan, zaman Fransiskus memang sudah amat beda dari sekarang. Terlepas dari berubahnya zaman dan alam juga karena sudah sulit ditemukan pribadi-pribadi seperti Fransiskus yang cinta pada lingkungan hidup. Saat ini manusia menghancurkan beberapa tahun saja karya agung yang dikerjakan berabad-abad lamanya. Tanpa sadar, manusia menggali kebinasaannya sendiri. Anthony Mille, S.J. dalam bukunya “Dunia di Ambang Kepunahan” memaparkan dunia yang kita huni ini tidak berumur panjang. Indikasi ke arah itu banyak sekali: banjir, gelombang panas, lubang ozon, el nino, dan la nina. Ia di ambang kepunahan andaikata para penghuninya tidak cepat mengambil sikap konstruktif dan terpadu secara global.

Pada kesempatan ini, ada 2 hal yang menjadi sorotan dan refleksiku yakni: pemanasan global (global warming) dan pembalakan hutan (alam) secara liar. Saya tidak mau mengulasnya sampai tuntas, cukuplah sekilas. Dua fenomena in menjadi bahan diskusi hangat yang mencuat akhir-akhir ini di planet bumi kita.

a. Global Warming (pemanasan global)

Para ilmuwan sepakat, pemanasan bumi disebabkan peningkatan CO2 di atmosfer. Konsentrasi CO2 meningkat 25% setelah Revolusi Industri di Inggris. Pusat pemantau cuaca Amerika di Mauna Loa, Hawaii, memperlihatkan kenaikan CO2 18 % dari tahun 1958-2002 dan kenaikan suhu dari 0,5 hingga 2 derajat Celcius. Menarik menyimak artikel KOMPAS rubrik opini, Selasa, 11 September 2007 berjudul “Pemanasan Bumi dan Dosa Arsitek.” Di sana coba dipaparkan dampak negatif dan penyebab pemanasan global. Badai laut, topan tornado, bencana alam, dan cuaca ekstrem adalah indikasi dari pemanasan global. Situasi demikian mengancam ‘ketenangan’ es di Kutub Utara dan Selatan. Dikatakan bahwa arsitek berperan besar dalam memanaskan bumi sebab mereka merancang kota, mengubah wajah kota, dan mengukir permukaan tanah kota. Kekeliruan tangan arsitek dalam memanaskan bumi lebih berpotensi membinasakan manusia ketimbang para teroris. Namun bagi saya pribadi, kita tidak boleh hanya menyudutkan para arsitek. Dalam arti tertentu mereka tidak boleh disalahkan seorang diri; setiap orang bertanggung jawab menyelamatkan bumi dengan menanam pohon (dan tanaman lain) mengimbangi penyebab polusi udara. Diskusi akan semakin problematis jika peran arsitek dikaitkan dengan tuntutan zaman modern sekarang.

b. Pembalakan alam (hutan) secara liar

TEMPO edisi………..menyorot khusus mengenai hutan di Kalimantan……..

Tentu belum lekang dari ingatan kita beberapa waktu lalu (dan mungkin sampai sekarang) perihal ekspor asap dari hutan Indonesia ke negara tetangga, Malaysia. Di daerah kita ini, PT TOBA-PULP LESTARI yang amat meresahkan warga setempat masih tetap beroperasi, masih aktif. Alam yang semakin genting ini adalah buah dari kerakusan dan sifat loba manusia yang terlibat di dalamnya. Padahal, alam sebagai ciptaan dalam dirinya adalah baik adanya. Meniru ucapan J.J. Rouseau (1756):”Alam tidak pernah membangun rumah yang runtuh menimpa penghuninya.”

Melihat fenomena ini, lingkungan hidup tampaknya tinggal yang buram saja dan tidak menampakkan kepada kita nilainya yang sejati karena dieksploitasi dan digunakan secara paksa. Alam kini dipandang sebagai ‘milik.’ Inilah biang keburaman itu. Memprihatinkan bahwa pada zaman kita ini orang tidak lagi percaya akan peranan pelayanan alam bagi manusia. Begitu diharapkan munculnya jiwa seperti Fransiskus di zaman ini; jiwa yang penuh perhatian pada lingkungan hidup. Jiwa sedemikian akan membuat alam tidak lagi yang membinasakan melainkan berfungsi menyembuhkan, menghibur, mengajar, dan menjadi sumber hidup yang takkan pernah layu.

V. PENUTUP

Bapa Fransiskus adalah seorang pencinta lingkungan hidup (ekologi). Dalam dan melalui ciptaan dia dapat sampai kepada permenungan mendalam kepada Pencipta. Dengan menghormati alam, dia berkuasa atasnya. Fransiskus menjadi pionir yang bertindak sebagai tuan dengan memakhlukkan alam; ke-kuasa-annya terletak di situ. Ia jadi tuan sekaligus abdi yang butuh alam sehingga menaati hukum alam. meneladani hidup Fransiskus, secara bersama-sama kita membaca jejak penghargaan atas ciptaan sebagai tindak penghormatan kepada Sang Pencipta. Fransiskus yang merasa hina itu menyebut dan menyapa bumi sebagai Ibu Pertiwi.

Dari uraian-uraian di atas kita dapat melihat dan mengetahui tindakan-tindakan Bapa Fransiskus terhadap lingkungan hidup; bagaimana keikhlasan dan kemurnian hatinya melihat realitas Allah dalam makhluk dan alam ciptaanNya. Kita mengiyakan tindakan Fransiskus tersebut karena yakin juga bahwa seluruh alam menyembunyikan rahasia agung, yang tidak mau menyatakan dirinya kalau kita tidak mau mendengarkannya dengan sabar dan penuh perhatian.

Lantas, dari balik tembok biara, apa yang dapat kita buat dalam melestarikan keutuhan ciptaan? Apa reaksi spontan yang muncul di hati kita selaku pengikut Fransiskus, melihat banyaknya penindasan terhadap alam di sekitar kita? Saya kira kita semua sekata untuk memulai segelintir dari lingkungan kita: menanam pohon, memelihara tumbuhnya tanam-tanaman, mengolah kompos, dll. Serentak dengan itu mari mewartakan cinta lingkungan hidup dilandasi semangat St. Fransiskus dalam setiap bentuk pewartaan kita. Kita berdoa agar semua umat manusia makin insaf bahwa alam pertama-tama bukanlah milik yang harus digunakan melainkan anugerah yang harus diterima dengan penuh syukur dan terima kasih. Dengan demikian, alam akan berubah dari yang buram menjadi transparan sehingga menyatakan maknanya yang sesungguhnya. Maka, sejatinya kita semakin berkuasa.

Mauliate, sdr.bennymanurung.