KEBANGKITAN MENURUT LUKAS

Tentang Kisah-Kisah

Seraya dibimbing oleh dua tema besar ini, kita dapat mencoba suatu interpretasi atas peristiwa prinsipil (penting) dari masa Paska menurut St Lukas.

Wanita Kudus di Makam

Banyak modifikasi telah mengubah secara serius (mendalam) kisah Lukas dengan perbandingan dengan bahan-bahan dari Markus dan Matius. Pada bagian awal, kita melihat suatu titik (poin) kontak dengan Markus: Pada dini hari, wanita-wanita itu membawa ke kubur rempah-rempah yang telah mereka persiapkan malam sebelumnya. Lalu Lukas meneruskan kisahnya dengan caranya sendiri: Ketika wanita-wanita itu pergi ke kubur, mereka telah melihat seorang lelaki muda duduk di sebelah kanan, tetapi mengamati bahwa tubuh (mayat/ jasad) Yesus tidak ada di situ (absen). Sementara berdiri kebingungan, mereka bertemu (sebagaimana di Betlehem:2:9) dua orang (digambarkan sebagai malaikat-malaikat yang bersama murid yang sedang bepergian ke Emmaus:24:23), yang penampilannya mempesona, cocok dengan malaikat Allah dalam Matius 28:3. Sebagaimana dalam teks (perikop) paralel, sesuai dengan reaksi biasa orang berhadapan dengan penampakan Ilahi (I:12, 30; Exod 19:21ff), wanita-wanita itu tercekam rasa takut, sebagaimana dilukiskan oleh Lukas, mereka menundukkan kepala sampai ke tanah, sebab mungkin mereka masih belum dapat ‘melihat dan mengangkat kepalanya’, karena mungkin mereka belum tahu bahwa penyelamatan sudah dekat (Lukas 21;28). Lalu, setelah mengulang rumus tradisional ,’ Dia tidak di sini, tetapi telah bangkit,’ dia menambahkan “Mengapa kamu mencari yang hidup dari antara orang yang mati?” Galilea disebutkan. Tetapi tempat di mana pertemuan diatur tidak begitu lama dibahas; tempat itu adalah masa lalu selama di mana Yesus memaklumkan rencana Allah terhadap Anak Manusia. Sekali lagi, mengikuti gaya Matius, wanita-wanita itu bergegas memberitahukan kepada para murid para murid apa yang telah terjadi.

Tampaknya, tidak terlalu menarik bagi kita melihat secara spesifik sumber-sumber Lukas, terutama jika keseluruhan susunan ini telah didasarkan pada Injil Markus, atau seandainya dia bersumber pertama-tama pada Markus, dan kemudian pada Matius. Perubahan-perubahan itu sedemikian mendasar sehingga harus diberi atribut Lukas, seraya mempergunakan tradisi yang dikaitkan pada pokok Matius dan Markus. Adalah lebih berguna menggambarkan secara jelas sudut pandang yang dapat dibedakan dalam perubahan-perubahan yang dibuat oleh Lukas.

Kadang-kadang digambarkan dalam ungkapan-ungkapan yang khusus mengenai kubur kosong. Namun, pada kenyataannya, justru yang sebaliknyalah yang benar. Sekilas, proses perubahan itu tampaknya sebagai hal yang ditambahkan kemudian. Dalam Injil Markus, wanita-wanita itu belajar dari kata-kata malaikat bahwa Yesus tidak lagi di dalam kubur, sebagai konfirmasi kebangkitan. Dalam Injil Matius, perubahan wajah dapat dipersepsi dalam pembalikan dua pernyataan dari malaikat: “Dia tidak di sini” mendahului “Dia sudah bangkit.” Akhirnya, dalam Injil Lukas, wanita-wanita itu sendiri melihat bahwa mayat Yesus tidak ada lagi di situ. Penglihatan ini bukannya tanpa maksud: tetapi mereka harus mengaitkannya pada perubahan yang berbeda, yang sama-sama jelas dan jauh lebih penting. Menurut Markus, rumusan “Sebagaimana dikatakan kepadamu” tidak bermakna lain dari pada mengotentikkan pesan yang disampaikan pada pertemuan di Galilea (Mark. 16:7). Kebangkitan diperlihatkan sendiri oleh malaikat. Dalam Injil Matius, apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi basis pewartaan kebangkitan (Mat. 28:6). Lukas dalam kilas-baliknya merujuk hal itu secara spesifik pada pengingatan kembali apa yang telah dikatakan oleh Yesus perihal nasibnya ketika masih tinggal di dunia; dan dalam terang ini, dia tidak memandangnya sementara mengatakan ‘tempat di mana Yesus dibaringkan’ (Mat. 28:6; Mrk. 16:6). Fakta ini bukanlah sarana verifikasi, dan fungsi satu-satunya adalah menimbulkan keheranan wanita-wanita itu atau kebingungan Petrus, sampai misteri itu disingkapkan kepada mereka dalam cara yang lain. Maka, berlawanan dengan penampilan-penampilan, tradisi Injil memperkembangkan kurangnya minat akan kubur kosong.

Reaksi (tindakan) yang diberikan pada wanita-wanita itu memberi masukan pada interpretasi ini. Dalam Injil Markus, Markus tidak berkata apa-apa, seolah-olah untuk membenarkan fakta bahwa dalam kerygma-nya gereja tidak menyebutkan penemuan kubur kosong. Dalam Injil Matius, mereka tampaknya telah mendengar dari para murid, siapa yang rela pergi ke Galilea. Dalam Injil Lukas, kata-kata mereka tidak dipercayai, dan cerita mereka digambarkan sebagai cerita omong-kosong (24:11). Petrus, dengan melihat kain-kain kafan oleh mereka sendiri, merasa kagum, tetapi tidak memahaminya (24:12). Murid-murid di Emmaus memberikan suatu penjelasan : ‘Dia tidak mereka lihat’ (24:24). Di sini lagi, tradisi menunjukkan bahwa fakta kubur kosong tidak mencukupi secara fundamental untuk membangkitkan/ menumbuhkan iman. Dan Lukas ,mengemukakan substansi dari sabda-sabda Jesus yang merupakan dasar iman satu-satunya: pemahaman akan rencana Allah bagi Anak Manusia (24:6-8).

Di sisi lain, modifikasi Lukas adalah jelas. Sebagai pengganti dari seorang pemuda (Markus) atau seorang malaikat (Matius) ada ‘dua orang’ (24:4) yang membentuk ‘penglihatan akan malaikat’ (24:23) yang bersedia memberikan informasi kepada para wanita suci itu. Adalah biasa bahwa Matius mempunyai suatu tendensi untuk menggandakan jumlah orang-orang (yang kesurupan setan, yang buta, yang bersaksi dusta) sementara Lukas bermaksud menghindarkan segala sesuatu yang mengandung pengulangan atau penggandaan. Jadi, jika ada 2 orang di makam, maka ada beberapa maksud yang disengaja. Apa yang kita miliki di sini mungkin bukanlah suatu cara populer untuk menceritakan suatu kisah, melainkan suatu hasrat untuk menyediakan 2 saksi dalam arti yang sah. Saksi-saksi yang secara sah dapat diterima harusnya bukan orang muda (berusia 21 sampai 28 tahun), melainkan 28 sampai 49 tahun, dan harus menjadi dua jumlahnya. Inilah prosedur yang diadopsi oleh Lukas, yang berjanji kepada Theophilus bahwa dia akan ‘mengetahui kebenaran mengenai hal-hal yang darinya kita mendapat informasi’ (1:4).

Di sisi lain, Lukas tidak menyebutkan ‘wanita-wanita lain bersama dengan mereka’, di samping Maria Magdalena, Johana dan Maria, ‘ibu Jakobus’, ketika mereka menceritakan kepada para rasul apa yang telah terjadi (24:11), untuk menambah jumlah saksi mata. Karena perkataan-perkataan mereka tidak dipercaya. Adalah lebih mungkin bahwa dalam cara ini Lukas sedang mempersiapkan sebutan dari ‘para wanita’ di dalam ruangan atas bersama Kesebelas Murid (Kis 1:14).

Dengan maksud yang sama, untuk mempersiapkan cerita dalam Kis., Lukas berkata, ‘para rasul’ (24:10) sebagai pengganti ‘Kesebelas Murid’; para wanita itu menceritakan ‘kepada Sebelas murid dan kepada semua saudara yang lain’ (24:9). Kemudian, ketika mereka kembali ke Jerusalem, para murid yang sedang menuju ke Emmaus tidak hanya menjumpai Kesebelas murid, tetapi juga ‘semua yang bersama mereka’ (24:33) dan yang kemudian hadir pada saat penampakan yang resmi (24:36). Maka ketika Judas harus diganti untuk menyusun kembali jumlah dua belas murid, adalah mudah bagi kumpulan ilahi itu untuk jatuh pada semua yang dari sudut pandang manusiawi mampu memberikan kesaksian (Kis 1:22; 10:34-41).

Penampakan Kepada Murid dalam Perjalanan ke Emaus (Lk 24:13-35).

Lukas tidak mempunyai cerita penampakan kepada wanita kudus (Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18), namun dengan kemampuannya yang mengagumkan, dia menggambarkan kesadaran iman lewat hati dua orang murid. Sementara dasarnya berasal dari gambaran iman kolektif dalam pengalaman personal hidup orang beriman yang tampak didalamnya.

Secara saksama penelitian dikerjakan lewat penyusunan kategori literer yang terdapat pada bagian ini: ‘Sesuatu Yang ilahi ditangkap oleh yang manusiawi dan membentuk suatu hubungan pada manusia yang tak diketahui, serta hilangnya suatu identitas yang begitu cepat ditampilkan.’ Sejalan dengan ini, Yahwe menampakan diri kepada Abraham serta berjalan dengannya dalam rupa manusia (Kej 18). Malaikat Raphael mendampingi Tobias yang tanpa diketahui olehnya (Tob 5:4) dan secara tiba-tiba membuat dirinya sendiri menjadi tak kelihatan (12:21). Pada cerita yang sama, yang terdapat di dalam literatur sekular, ada banyak juga keberadaan kategori-kategori literer yang dihasilkan tanpa menimbulkan pertentangan lebih lanjut. Di dalam ketidakjelasan, mereka mengesahkan kesimpulan di dalam bidang kritik historis, namun mereka membuat kesimpulan mudah itu untuk menjelaskan alam tradisi yang asali, begitu juga dengan Lukas.

Oleh karena adanya jenis cerita ini, kita cenderung berpikir, dasar dari setiap peristiwa, dan isi cerita dari ayat 13, 15b, 16, dan 28-31 mengambarkan penampilannya di dalam pola pikiran. Pola pemikiran ini merupakan suatu usaha pengrekonstruksian dasar tradisi. (pendekatan referensi penomoran ayat).

13 Dua murid pergi ke suatu kampung yang dinamakan Emaus, yang letaknya kira-kira 6 mil dari Yerusalem. 15 Yesus sendiri mendekati dan berjalan bersama mereka. 16Namun mata mereka tersembunyi dari pengetahuan terhadapnya….28 Kemudian mereka mendekati suatu kampung yang mereka tuju. Dia seolah-olah hendak pergi lagi, 29 tetapi mereka mendesak-Nya, dengan berkata, ‘Tinggalah bersama kami, sebab ini telah menjelang malam dan hari sudah tenggelam.’ Dan Dia pun tinggal bersama dengan mereka. 30 Ketika Ia duduk semeja dengan mereka, Dia mengambil roti dan diberkati, lalu dipecah-pecahkan, serta diberikan untuk mereka. 31 Dan mata mereka terbuka dan mereka mengenali Dia; dan Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 33 Dan mereka bangkit dan kembali ke Yerusalem; dan mereka mendapati kesebelas murid yang lain yang sedang berkumpul bersama dengan teman lainnya, 35 dan mereka menceritakan apa yang telah terjadi di tengah perjalanan, dan bagaimana Dia dikenali oleh mereka pada saat memecahkan roti.

Sesuai dengan rangkuman yang diberikan dalam kesimpulan Markus, Yesus ditampakkan ‘dalam suatu bentuk yang lain’ (en heterai morphei: Mark 16:12). Dia kelihatannya ditampakkan sebagai seorang pengembara, sementara dalam Yoh 20:15 Maria menganggap Yesus sebagai tukang kebun; atau yang lainnya Ia berlagak dalam bentuk yang lain yang membuat diriNya tidak dikenal. Seperti suatu kesalahan yang tidak mungkin ada dalam kisah di Emmaus. Di sini Lukas menjelaskan bagaiman kedua murid menjadi objek transformasi batin yang radikal: Yesus tidak ada dalam penyamaran, dan di sana tidak ada suatu ruang untuk suatu seruan kepada sebuah keajaiban dari ‘luar’, seolah-olah penglihatan lain yang membutuhkan suatu kekuatan yang disebut dengan ‘penglihatan iman’: penglihatan yang sama ‘menghalangi mata mereka dalam mengenal Dia’ dan kemudian ‘dibukakan’ (24;16, 31). Ini adalah tema teologis yang membangkitkan yang dengan lembut dinyatakan oleh Lukas. Sebagaimana A. Puch meletakkannya, Lukas bermaksud menyampaikannya kepada kita bukan semata-mata dalam fakta-fakta yang historis, tetapi dalam suatu “interpretasi atas sejarah itu dengan memakai “ naluri pemahaman atas pemikiran manusia”. Pada setiap poin perjalanan para murid ‘terdapat suatu pengamatan psikologis. Para murid ‘begitu sedih’; mereka berhenti, ‘terlihat sedih’; mereka terkejut atas ketidaktahuanakan sang pengembara yang ikut bersama-sama dengan mereka, mereka mendesaknya untuk tinggal bersama dengan mereka. Mengapa? Adakah harapan yang membingungkan yang timbul di antara mereka, yang mereka harapkan untuk melahirkan suatu kepastian, atau apakah mereka ingin sampai lebih dalam kepada suatu permenungan yang sudah begitu dekat kepada mereka? Lukas tidak mengatakannya. Tetapi ia menunjukkan kepada mereka suatu kenangan, dalam sebuah kilas balik, suatu emosi yang telah mencekam mereka di jalan. Dengan cara ini, Lukas memungkinkan pembaca untuk mengerti akan keintiman yang begitu luar biasa yang telah menyatukan para rasul dengan Yesus dari Nazaret; mereka harus sampai kepada kedalaman kekecewaan, agar kemudian bersukaria dalam kebahagiaan. Ia memberikan suatu deskripsi mulia atas pengalaman pengakuan, bagian khas dalam penampakan-penampakan.