st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:50.4pt 43.2pt 50.4pt 50.4pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBANGKITAN MENURUT YOHANES

(terjemahan)

Seperti injil Lukas, injil Yohanes juga memperlihatkan bentuk kontinuitas; masih sulitlah menyimpulkan kesatuan dan kepastian literernya. Demikian pada bab 21 telah ditambahkan sebuah teks yang sudah komplit, seperti yang diperlihatkan oleh kesimpulan yang ditemukan dalam 20: 30-31: ‘Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridnya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.’ Dengan alasan inilah, kita tidak dapat mendiskusikan bab 21.

Dalam bab 20, distribusi kisah-kisah sesuai dengan garis besar yang ada dalam injil Mateus. Mengikuti kisah kunjungan ke kubur, wanita suci (Maria Magdalena) yang menceritakan kepada murid-murid tentang apa yang terjadi, disesuaikan juga dengan penglihatan kelahiran Kristus dari seoarang wanita. Kemudian penglihatan itu resmi menunjuk tempat. Dalam kerangka ini, yang datang dari elemen-elemen dihubungkan dengan tradisi Lukas: murid-murid yang ada di kubur, tempatnya berada di Yerusalem, misi dipercayakan pada para rasul, dan kesangsian Thomas yang berhubungan dengan murid-murid dalam injil Lukas. Injil Yohanes berhubungan dengan macam-macam kisah yang lain dengan caranya sendiri dengan pengertian tradisi seperti diungkapkan: ‘ketika hari sudah malam pada hari pertama’, ‘sesudah delapan hari’, dan ungkapan yang lain sehingga kita sampai pada batas bawah. Jika ada beberapa unit dalam bab ini, akan jelaslah dapat dibedakan dengan studi yang penuh perhatian dari kisah dua kelompok sesuai dengan minggu Paskah menurut Yohanes.

A. Di Kuburan (20:1-18)

1Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 2Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” 3Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 4Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 5Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 6Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 7sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 8Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 9Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. 10Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah. 11Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, 12dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. 13Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” 14Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 15Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” 16Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. 17Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” 18Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Bagian itu rupanya terdiri dari dua tradisi yang berbeda. Karena menurut ayat 11 Maria berada di kuburan, sedangkan dalam ayat 2, ia meninggalkan kuburan itu, dan tidak ada tertulis dimanapun bahwa ia kembali; dan tidak disebutkan lagi pertemuan para murid dengan Maria. Lebih dari itu, hal itu hanya terdapat pada kunjungan yang kedua (ayat 11) bahwa Maria berdiri pada kuburan itu; sebelum itu (ayat 2), dia menyimpulkan kenyataan bahwa batu telah terangkat (berpindah) dan tubuh Yesus juga berpindah. Akhirnya dalam ayat 11 disebutkan juga Maria menemukan dua malaikat dalam kubur, padahal persis sebelumnya para murid tidak menemukan apa-apa disana kecuali kain kafan yang tergulung rapi. Ayat 3-10 tampaknya berasal dari sebuah tradisi yang berbeda dan tidak dipahami oleh siapapun, terutama tentang susunan kunjungan Maria ke kubur itu. Barangkali menjadi satu pertanyaan, apakah pesan ketika Maria (pergi) lari mendapati para murid (20:17) menyimpan suatu pengertian, atau sejak para murid (selanjutnya orang-orang yang dikasihi para murid) memiliki kepercayaan (20:8)

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan in, bebrapa percobaan telah dibuat untuk menentukan sumber-sumber yang digunakan Yohannes dalam mempersiapkan peredaksian yang sekarang ini. Beberapa ahli mengingatkan bahwa hal ini merupakan sebuah sambungan cerita yang tunggal. Menurut R. Buthman, sumber diambil dari bagian yang paling besar dari ayat 1,6,7,11,12,dan 13 yang berhubungan dengan unsur-unsur pokok sinoptik yang digarisbawahi oleh cerita Yohannes; tetapi agak sulit menggabungkan semua versi yang lain itu ke dalam Yohannes, secara partikular cerita itu merujuk pada Maria. Rekonstruksi yang lebih halus menurut G. Hartmann, sumber yang digunakan oleh Yohannes diambil dari bagian yang paling besar dari ayat 1-3,5,7-11, 14-18. Tetapi hipotesa ini juga menimbulkan beberapa kasulitan. Hal itu akan membuat perlunya hubungan dengan ayat 11b-13 pada Yohannes, dan agar merekonstruksi sumber, sehingga banyak perubahan dan modifikasi yang harus dibuat.

P. Benoit mencoba menetapkan bahan dasar yang digunakan oleh Yohanes : bukan sebuah cerita, tetapi dua tradisi. Yang pertama, ia memikirkan bentuk dari sinoptik (20:1-2), dan yang lain khas dari Injil Yohanes (20:11a, 14b-18); Johanes melengkapi yang pertama (20:3-10) dan menghubungkannya dengan yang kedua 11b-14a, suatu substansi yang juga terabaikan dari suatu dasar yang mirip. Tetapi berdasarkan kritik literer, kita menemukan kesulitan untuk menentukan eksistensi dari suatu tradisi tidak lebih dari fakta belaka dari penemuan kubur kosong.

Jadi, mengikuti pemikiran R.E. Brown dengan demikian dengan banyaknya kualifikasi, kita lebih menerima tiga tradisi yang berbeda yang dijadikan satu oleh Yohanes, dua kunjungan ke kubur dan sebuah penampakan. Kita seharusnya menguji setiap cakupannya.

Para murid di Kuburan

Dalam tradisi Lucan, ada dua kejadian pada kunjungan ini : ‘sungguhpun Petrus bangun dan berlari ke kuburan : berhenti dan menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain lenan yang dikenakan-Nya; dan ia kembali, bertanya dalam hatinya apa yang telah terjadi ‘(Luk 24: 12). Perjalanan ke Emaus juga mengatakan, “beberapa teman yang bersama-sama dengan kami telah pergi ke kubur itu, dan mendapati bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat (24:24). Kisah dari Yohanes 20:2-10 dapat disamakan dengan bagian terakhir ini. tetapi teks Yohanes menimbulkan kesulitan-kesulitan :awalan “ke” ditempatkan secara salah tidak hanya sebelum “Petrus” tetapi juga sebelumnya “murid yang lain” bacaan dari bentuk tunggal ke bentuk jamak dalam ayat 3, pengulangan dari kata-kata yang sama dalam ayat 2 berturut-turut (terdapat bentuk pengungkapan sejajar; ayat 5 dan 6) ayat 8 dan 9 tidak berkaitan (ia percaya dan kemudian tetap tidak mengerti). Teks itu kelihatannya telah diperbaiki. Diantara hipotesa yang telah dikemukakan, marilah kita menyebut dua; sebagai usaha mengatasi kesulitan yang menghubungkan ayat 8 dan 9.

Beberapa ahli berpendapat bahwa ayat 9 itu ditambahkan oleh Yohanes. Solusi sederhana ini menjadikan teks koheren, namun tidak ada bukti berupa manuskrip yang menguatkan pendapat itu; dan hal itu menyulitkan untuk mengatributkan ayat 9 ini kepada Yohenes, karena terutama peristiwa Paskah dengan istilah ‘kebangkitan’ umumnya dihindari Yohanes. Oleh karena itu lebih baik melihat ayat 9 tersebut pada sumber asalnya.

Penelitian dapat juga dilakukan pada tulisan masing-masing murid yang dikasihinya (suatu tema dalam Injil Yohanes kendati hal itu telah ditambahkan pada teks, yang dalam Yoh 13:23 atau 19:26). Hipotesa sederhana ini dianggap sudah cukup untuk mengenal murid-murid Yohanes. Pada kasus ini sebagaimana tradisi yang telah disederhanakan dan dikatakan Petrus sendiri dalam Luk 24:12. Hal ini mungkin jika kita mengingat beberapa ucapan murid-murid dalam (24: 24), kemungkinan lebih tua daripada 24:12, secara implisit Lukas mengatributkan semuanya itu kepada Petrus sendiri, dan cara yang sama dalam pengajaran Petrus sendiri yang secara khusus ditujukan keluar. Dengan demikian ada beberapa kemungkinan bahwa teks yang dipakai Yohanes tidak jauh/mirip dengan Lukas, seperti teks berikut:

3Kemudian Petrus pergi keluar bersama murid lainnya dan mereka pergi ke kubur. 5Setelah berhenti Petrus melihat ke dalam, ia melihat kain kafan terletak di sana, 7Kain peluh yang sebelumnya ada di kepala Yesus tidak bersama dengan kain lenan, tetapi tergulung di tempat lain…8Dia melihat dan […], 9sebab ternyata mereka tidak mengetahui/mengerti Kitab Suci, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. Kemudian murid-murid pulang ke rumah mereka masing-masing.

Kemungkinan, Lukas dan Yohanes mewakili dua cabang dari tradisi yang berbeda. Hal ini akan memakan banyak waktu untuk didiskusikan, dan bukan merupakan pokok dari tujuan kita saat ini. Jadi upaya kita saat ini adalah mendefinisikan kandungan tradisi itu, dan tetap memakainya sebagaimana ditampilkan dalam Lukas.

Penafsiran yang amat jelas ialah bahwa kain kafan yang terdapat dalam makam mempunyai suatu tujuan apologetis: dengan adanya kain lenan itu, hal itu menandakan bahwa tubuh Yesus tidak dicuri. Bagaimana mungkin para pencuri itu mencari-cari masalah dengan menelanjangi mayat itu? Amat mustahil. Krisostomus telah mengamati hal ini jauh sebelumnya. Maka itulah suatu cara untuk menepis legenda bahwa mayat itu telah dicuri, suatu kisah yang diulangi Mateus dengan caranya sendiri (28:11-15).

Akan tetapi, beberapa penulis telah beranggapan bahwa bisa saja tujuan naratif Yohanes itu telah dideduksikan dari cara Yesus keluar dari kain kafan itu yang sebelumnya membungkus tubuhNya. Tampaknya kesan itu ditujukan untk menunjukkan bahwa dia telah melampaui objek-objek material seperti pintu ruangan sebelah atas (20:19). Akan tetapi hipotesa ini memunculkan kesulitan-kesulitan. Mungkinkah Kristus yang bangkit itu telah melipat kain lenan itu sebelum meninggalkannya? Dan apakah disadari bahwa situasi ini tidaklah sama dalam kedua kasus itu? Pada penampakan kepada kesebelas murid, pengamatan bahwa pintu itu tertutup ditujukan untuk mengkompensasikan aspek yang terlalu manusiawi dan akrab dalam penampakan Kristus yang bangkit; itulah tanda yang memampukan hadirin dapat mengenalinya. Apakah tanda yang ditunjukkan di sini, bagi Yohanes setidaknya, menandakan bahwa sebenarnya Petrus tidak percaya? Tradisi versi Lukas secara gamblang berkata bahwa Petrus “terheran-heran.” Sampai pada perjalanan ajaib melalui kain kafan berarti meletakkan suatu nilai pada detail-detail ini, yang tidak terdapat pada teks.

Di lain pihak, konteks injil keempat memampukan kita untuk menawarkan suatu makna simbolis sebagai tambahan pada maksud apologetis. Karena ketika Lazarus hidup, dia keluar dari makam dengan “kedua tangan dan kakinya masih terbungkus lilitan kain an wajahnya masih ditutupi pakaian” (11:4). Secara kontras, membebaskan. Apabila benar bahwa di sini kita menemui suatu tradisi yang mendahului Yohanes, dapat dibayangkan bahwa kisah kebangkitan Lazarus menciptakan suatu kontras antara orang ini, yang kemudian mati lagi (dengan masih terbungkus kain kafan) dengan Dia yang tidak akan mati lagi, yakni Yesus Tuhan yang tidak akan mati lagi (yang menanggalkan pakainNya.) Ketika kain papan itu dalam keadaan terlipat terpisah dengan pakaian “di tempat lain”, hal ini dapat melambangkan kesatuan dan keteraturan yang kepadanya segala sesuatu sejak saat ini akan kembali.

Akhirnya, tema biblis harus diperhatikan: Kitab Suci tak pernah dapat dimengerti tanpa campur tangan Kristus yang bangkit secara pribadi. Tambahan pula, bagi Yohanes pun, mustahillah untuk percaya begitu saja hanya berdasarkan pada makam yang kosong, bahkan apabila kain kafan itu tergulung dengan cara yang amat mengherankan. Apakah di sini ada suatu kritik dari mereka yang mencoba menggunakan fakta ini untuk menawarkan kepercayaan akan kebangkitan? Hal ini tidak terjawab.

Revisi versi Yohanes

Ada dua detail yang kentara dalam teks yang hadir ini: identifikasi murid yang dikasihi itu dan konteks penulisan bagian ini.

Murid yang lain (mungkin Maria atau seorang murid lain yang tak diketahui siapa) menjadi yang”dikasihi Yesus”. Dia dihadirkan dengan suatu sinar yang menyenangkan, karena kendatipun dia berlari lebih cepat dari Petrus, dia menghormati rekannya yang lebih tua itu, dan juga karena ia “melihat dan percaya”, sementara tak disebutkan apapun perihal reaksi Petrus.

Dengan memperkenalkan sosok ini, tampaknya Yohanes sedang menciptakan suatu kontras antara dia dengan Petrus. Hal ini tidak mesti berarti bahwa Yohanes bertujuan untuk mengecilkan Petrus dengan memberikan kesan bahwa dia tidak percaya. Malahan dia ingin menunjukkan fakta bahwa cinta memberikan suatu kemampuan intuisi yang khas, baik pada 20:8 maupun pada 21:4-7, ketika murid yang dikasihi itu mengenali sosok yang sedang berjalan di tepi pantai itu adalah Tuhan. Murid yang dikasihi Yesus itu adalah murid yang unik, yang mengikuti Yesus dan mengenaiNya. Darimanakah asal imannya itu? Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan mengamati murid itu percaya, Yohanes rupanya sedang mengantisipasi apa yang dia katakan pada 20:29 “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”. Tetapi dalam teks sebagaimana akan kita lihat berikut ini, tidak ada pertanyaan mengenai pemberian status yang diprevilese-kan kepada mereka yang belum melihat. Yohanes juga tidak bermaksud untuk mengecilkan nilai penampakan-penampakan Yesus.

Walaupun demikian, ada juga penulis-penulis baik Katolik maupun Protestan yang telah mencoba menggunakan teks ini untuk memepertahankan posisi teologis mereka. Orang-orang Katolik melihat bahwa dengan menunggui Petrus, sang murid yang dikasihi itu sedang menunjukkan superioritas Petrus, yaitu Paus. Kaum anti-Katolik telah menekankan pentingnya iman, dan telah menggunakan ayat itu untuk melawan pengandaian-pengandaian terhadap “Petrus.” Sementara itu sebagian lagi menimbang bahwa bagian itu merefleksikan persaingan antara komunitas asli non-Yahudi (sang murid yang dikasihi itu) dengan komuntias Yahudiah asli (Petrus). Nyatanya, kontras antara Petrus dengan murid yang dikasihi itu bersifat aksidental. Apabila teks itu dibaca secara cermat, taka ada aspek yang mendiskreditkan siapapun dari mereka. Nilai masing-masing harus dipertahankan. Primat Petrus dikukuhkan dalam tradisi awal dan tidak perlu diperteguh kembali secara polemik oleh Yohanes; tetapi Yohanes ingin menunjukkan bahwa ada suatu primat dalam tatanan kasih (bdk. Yoh 21:7)

Bagi mata orang yang mempunyai kasih, kain kafan yang terlipat rapi itu adalah saat atau kesempatan bagi iman. Dan kami harus mengatakan sesuatu tentang arti kata kerja “melihat”. Hal ini tidak berarti sekedar observasi visual yang biasa, akan tetapi terhadap penglihatan itu ada suatu pemahaman, suatu permulaan yang benar.

Tidak seperti Lukas, yang menyatakan bahwa murid yang mengunjungi makam setelah para wanita, Yohanes menuliskannya sebagai kunjungan Maria. Akan tetapi dalam geraknya kembali ke tradisi Lukas, yang menurutnya para murid tidak mempercayai perkataan para wanita itu (Luk 24:11), akan tetapi kendati demikian tetap pergi ke makam (24:24). Barangkali dengan caranya sendiri Yohanes ingin menunjukkan bahwa pertama-tama makam itu ditemukan kosong oleh para murid, dan khususnya oleh murid yang dikasihi itu.

2. Maria di Makam

Para ahli melihat suatu tradisi yang umum sebagai suatu titik berangkat menuju kisah ini, dan kami akan menunjukkan beberapa tanmpilannya. Adegan itu terjadi pada “hari pertama minggu itu” (Markus, Lukas); “subuh” (Markus). Maka ketika Maria mengunjungi makam itu; dilihatnya batu tidak lagi menutup pintu kubur itu (bdk. Mrk 16:14; Luk 24:2) dia pulang untuk memberitahkannya kepada Petrus (bdk. Luk 24:24). Beberapa detail versi Yohanes ditambahkan pada detail yang umum ini. “Ketika itu masih agak gelap”. Barangkali ini adalah suatu detail yang ditujukan untuk mengangkat kemegahan kebangkitan itu, walaupun tidak ditekankan. Barangkali ini sama nilainya dengan pernyataan Mateus “setelah Sabat’, yakni saat malam tiba (Mat 28:1)? Menurut Yohanes, tidak ada malaikat yang memberitahu Maria bahwa Yesus tidak ada lagi di situ; Maria langsung menyimpulkan hal ini dari faka bahwa batu itu telah bergeser, suatu modifikasi yang dibuat oleh redaktor untuk mengantisipasi apa yang kemudian dikatakan Maria kepada malaikat itu (20:13). Batu itu tidak “digulingkan” (suatu istilah yang lebih deskriptif), melainkan “diambil” (suatu istilah yang memuat makna yang lebih mendalam, yaitu pada 11:39,41; bdk.1:29; 10:18). Barangkali hal ini bermakna bahwa setiap tantangan telah disingkirkan di hadapan kehidupan yang menaklukkan maut.

Dalam hal dasar dan strukturnya, kisah penampakan ini mirip dengan yang terdapat pada Mat 28:9-10. Seperti halnya wanita yang saleh itu bersimpuh di kaki Yesus, Maria menyentuh Yesus dan menerima suatu pesan bagi para murid kemudian menjalankan perutusannya. Hal ini amat mirip dengan bagian ringkasan yang menjadi penutup Markus. Menurut pandangan C.H. Dodd dan beberapa ahli lainnya, naskah dari Mrk 16:9-11 tampaknya tidak berasal dari Markus atau Yohanes, melainkan dari suatu tradisi yang tidak termuat dalam injil-injil. Dengan demikian Yohanes tampaknya telah meletakkan suatu tradisi kuno tentang penampakan Kristus kepada wanita yang saleh di makam. Untuk ini, menurutnya, bukan malaikat yang menafsirkan kejadian itu; melainkan dengan pertanyaan yang mereka ajukan kepada Maria, mereka menyiapkan suatu pertemuan dengan Kristus. Penampakan kepada Maria Magdalena dihubungkan dengan penampakan yang dialami para murid–murid pada jalan ke Emaus; ini adalah suatu penampakan pengenalan yang oleh setiap penginjil dicantumkan detailnya mengenai bangkitnya iman. Deskripsi ini dipermudah oleh fakta bahwa Yohanes membatasi penampakan itu hanya pada Maria, sementara dalam Mateus dan dan barangkali dalam tradisi asli (“kita tidak tahu”, ayat 2 “Aku tidak tahu”, ayat 13) penampakan itu juga diterimakan dengan sukarela kepada beberapa wanita. Yohanes bertumpu untuk menunjukkan perubahan kemajuan dalam diri Maria; setelah pikirannya pertama-tama dipenuhi oleh Yesus sebelum Paskah, dia melihat dirinya sendiri diundang untuk menerima kehadirannya yang hidup.

Yesus Masa Lalu

Ucapan Maria yang diulangi sampai tiga kali ,“Mereka telah mengambil tubuh Tuhanku, dan aku tidak tahu dimana mereka telah meletakkanNya”, (20:2,13,15) menarik perhatian pembaca terhadap benak wanita yang sedang susah itu. Maria terus mengucapkan keluhan yang sama kepada para murid, para malaikat, dan penjaga kebun. Para murid dalam perjalanan ke Emaus menangisi pembebas mereka yang telah tersalib dan harapan mereka yang sia-sia; Maria menangisi ketidakmungkinan untuk menemukan tubuh dari Dia yang sangat dicintainya. Suatu seluk beluk yang khas Yohanes memperlihatkan perempuan itu memanggil Yesus dengan “Tuan” (Sir) yang dalam bahasa Yunani sama artinya dengan “Tuhan” (Lord) pada 20:15; Maria mencari Tuhan tanpa mengetahuiNya. Dia meratap, seperti yang diramalkanYesus tidak lama sebelum kematianNya: “Engkau akan mengucurkan air mata dan bersedih” (16:20).

Yesus hidup. Maria dapat mengatakan bahwa Ia telah melihat Tuhan, alasanya adalah bahwa antara pengenalanya yang pertama sekali terhadap guru tercinta dan deklarasi ini, Tuhan telah berkata padanya. “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik (pergi) kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, sekarang Aku akan pergi (naik) kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu’ (20:17) Ada dua elemen yang harus dibedakan dalam perkataan ini yakni permintaan untuk tidak memegang Yesus, dan pesan kepada para murid. Kita mesti mengkaji dua pokok ini secara lebih detail.

Apa yang dimaksud Yesus dengan ‘naik kepada Bapa? Apakah yang Ia maksudkan adalah kenaikan, sebagaimana yang sering diduga? Dalam hal ini, Yesus mungkin berkata pada Maria bahwa Ia sedang dalam maksud naik pada Bapa-Nya, tapi kemudian Yesus harus kembali ke bawah lagi agar kemudian Ia dapat muncul (kelihatan) pada murid-murid-Nya. Kajian ini yang mana punya keunggulan yakni menjadi lebih dekat dengan pengkajian Lukanis, tidak dapat dihubungkan terhadap penginjil yang keempat. Nyatanya kenaikan pada Bapa tidak dipikirkan sebagai sebuah peristiwa, direpresentasikan Lukas. Paling tidak menurut Kis 1:3, yakni bahwa kenaikan mengambil rentang waktu 40 hari setelah kebangkitan. Bagi Yohanes, tidak hanya bahwa kenaikan Yesus pada Bapa tidak “kelihatan” (bdk. 6:62); di atas semuanya, tidak ada pertanyaan tentang kenaikan yang terpisah dari peninggian yang mana terjadi di salib (12:32-33). Jadi jika peninggian atau pemuliaan bertepatan dengan penyaliban, maka kebangkitan ada dalam cara yang dengan tepat sama dengan kepulangan pada Bapa. Yesus tidak bicara tentang “kebangkitan” ketika Ia meramalkan nasib yang Ia harapkan yakni Ia akan pergi pada Bapa (13-1;14:12; 28; 16:15; 16:10, 28;17:13)

Lalu Bagaimana kita mengkaji ‘cerita Yohanes? Yohanes mengemukakan misteri itu dalam ruang dan waktu, yang ia afirmasi dalam suatu cara yang tidak mudah pembagiannya. Dalam salah satu cara, kita dapat berkata bahwa bagi Yohanes penyaliban, pemuliaan, Kebangkitan, dan kembali pada Bapa adalah misteri yang satu, yakni Pemuliaan Putera oleh Bapa-Nya (12:23, 28;17:1,5).

Hal ini mengimplikasikan bahwa Yohanes tidak bermaksud mengatakan pada kita bahwa “peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah kematian dan kebangkitan, ada dalam suatu kelanjutan temporal. Hal ini memang tidak lebih dari pada suatu penyorotan literer, yang dimaksudkan untuk memberikan suatu perhitungan yang lebih baik tentang aspek-aspek yang berlipat ganda dari misteri yang tak kelihatan dari pemuliaan Putra. Jadi kita seharusnya tidak mencari informasi dalam Yohanes tentang apa yang dimaksudkannya untuk dikatakan bagi kita, contohnya apakah kenaikan mengambil tempat antara penampakan pada Maria dan penampakan pada para murid. Ini merupakan permasalahan yang salah dan membawa sertanya komplikasi yang tak dapat diselesaikan. Secara khusus perlu bertanya, bagaimana Yesus dapat kembali turun dari Bapa-Nya untuk mengunjungi Murid-murid-Nya? Dengan tepat Pere Lagrange mengatakan bahwa disini kenaikan tidak mengimplikasikan ‘turun’. Yesus bukanlah tentang membawa suatu tindakan baru, tapi menunjukkan bahwa keadaan Yesus telah berganti, dan bahwa Ia telah lepas dari aturan-aturan duniawi, menuju aturan-aturan kemuliaan. Sekarang kita dapat beranjak ke amsalah yang sulit, yang dilahirkan teks itu. Kenapa Yesus melarang Maria untuk “memegang-Nya?

Pertama marilah kita mencatat bahwa ekspresi/arti aslinya (me mov haptov) harusnya tidak diterjemahkan “jangan sentuh aku”, karena dalam bahasa Yunani waktu sekarang (present tense) dari perintah tidak berarti bahwa suatu tindakan yang telah mulai seharusnya berlanjut; pendahuluan dengan suatu yang mengafit, bukan suatu larangan akan suatu tindakan yang sedang terjadi, tapi tentang kelanjutan dari suatu tindakan yang telah mulai (alredy). Jadi terjemahan yang benar adalah “berhenti menyentuh Aku” Maria telah memeluk kaki Yesus, suatu gerak tubuh yang sama yang dilakukan wanita yang kudus, menurut Matius 28:9. jadi tidak ada kontradiksi antara teks ini dengan permintaan Yesus pada Tomas. Untuk mencucukkan tangannya ke lambung-Nya (20:27). Istilah itu tidak sama, dan kata kerja itu juga tidak dalam waktu (tense) yang sama. Tidak juga bahwa Yesus mendukung Maria, bahwa ia dapat menyentuh-Nya kemudian; not yet” (belum) tidak mengimplikasikan ‘later on (kemudian)”.

Kebanyakan kritik menduga bahwa Maria salah mengerti akan kodrat sebenarnya dari kehadiran baru yesus. Pemahaman ini tentu muncul saat ini tetapi jika kita tetap memakai terjemahan klasik “karena Aku belum naik” kita harus menjelaskan bagaimana Maria dapat mengerti, meski samar-samar seluk beluk yang diimplikasikan oleh kata-kata Yesus pada saat itu; karena Ia akan telah harus memahami alasan mengapa Ia mesti berhenti memegang Yesus, yakni bahwa Yesus belum naik kepada Bapa-Nya dan oleh karena itu kodrat relasinya dengan murid-murid-Nya mesti dimodifikasi. Menjadi lebih sulit, karena segera seudah itu, Yesus mengumumkan bahwa Ia akan naik pada Bapa.

Karena alasan ini, kita tahu bahwa suatu pembacaan yang lebih benar terhadap fase Yunani, penting dalam bahasa Helenis, yang dikenal sebagai koin (bahasa umum atau bahasa imperium Yunani), namun bahwa karena alasan nyata yang ditempatkan di awal menjadi ditahan hingga paruh kedua kalimat itu, “jangan memegang aku”, karena tentu saja Aku belum naik pada Bapa, tetapi panggilan kepada saudara-saudara-Ku…..” disini alasanya adalah pengutusan Maria kepada saudara-saudara yesus mulai dengan mengantisipasi argumen yang mungkin Maria hadirkan pada-Nya, dengan harapan untuk menahan Ia “mau belum semestinya naik pada Bapa”; tidak ada keraguan bahwa ia mengingat itu dalam ucapan perpisahannya, Yesus meramalkan bahwa Ia pergi jauh pada Bapa untuk menyiapkan tempat bagi para murid, dan kemudian akan datang kembali untuk mencari mereka (14:1-3). Maria mengerti sepenuhnya, seperti Yesus sendiri maksudkan, bahwa Yesus pertama-tama mesti naik pada Bapa. Tetapi Maria salah memahami peristiwa pertemuannya dengan Yesus ketika ia membayangkan bahwa Yesus tetap disini selama suatu waktu untuk memberikan diri-Nya sendiri dalam suatu cara duniawi sebagaimana sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa Yesus mengoreksi dia.

Dan Yesus mengoreksi Maria bukan hanya dengan antisipasi dan kemungkinan penolakannya, tetapi juga dengan mempercayakan suatu misi kepadanya dan inilah alasan kepada Maria seharusnya tidak menahan Yesus. Menurut pola Injil Yohanes sekaitan dengan representasi ini, Maria paham bukan sekedar bahwa ia seharusnya tidak tetap tinggal dekat kaki Yesus meski jika Yesus tetap di bawah (bumi), tetapi ia paham hal yang paling penting adalah pergi untuk membawa suatu pesan bagi murid-murid.

Para murid ini disebut “saudara-saudaraku”. Kebaruan ekspresi/ungkapan ini mengejutkan, meskipun murid yang dikasihi Tuhan telah diserahkan-Nya pada ibu-Nya menjadi ‘anaknya’ (19:26). Pengertian “saudaraku: ini diberikan hanya karena pernyataan berikutnya, tentang Bapa. Dari sekarang ini para murid telah menjadi “saudaraku-saudara” Yesus, karena kata-Nya, Aku naik pada Bapa-Ku dan bapamu, pada Allah-Ku dan Allahmu”dalam kata-kata ini Yesus memahkotai seluruh pewahyuan sebelumnya. Terjemahan itu mesti memberikan suatu sumbangan yang tepat atas kata “dan”, yang mana bukan “dan” yang saling berlawanan, misalnya jika Yesus mengatakan ‘Bapa-Ku karena kodrat” dan Bapamu karena adopsi” interpretasi ini mungkin dapat dibaca secara langsung ke dalam teks itu, tetapi kajian ini tidaklah menerjemahkannya dengan tepat. Tepat dikatakan bahwa partikel itu secara normal memiliki suatu nilai yang menghubungkan dan bukan yang memisahkan. Bapa yang dimaksudkan itu sama, bagi para saudara sebagaimana bagi Yesus. Orang lebih dapat memantapkan dengan seksama pengertian yang menggarisbawahi ekspresi itu. Ahli yang sama telah mengarahkan perhatian pada suatu teks dalam Rut (1:16). Kepada Naomi, yang menganjurkan agar Rut seharusnya kembali ke Moab, lalu Rut menjawab “kemana engkau pergi kesitu jugalah aku akan pergi, dan dimana engkau bermalam disitu jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”. Jadi arti dari perkataan Yesus adalah, “Aku naik kepada Bapa-Ku yang juga Bapamu, kepada Allah-Ku yang juga Allahmu”. Ini memberikan suatu pengertian yang jauh lebih dalam: Yesus meneguhkan bahwa sekarang Allah yang secara tetap berhubungan dengan-Nya telah mengadakan sutu hubungan dengan murid. Dan inilah tujuan tindakan Yesus di dunia. Ketika Ia telah diangkat dari dunia Ia akan mengangkat semua manusia pada-Nya, akan terus-menerus melimpahkan Roh dan akan membuat Bapa tinggal di antara mereka. Dalam jalan ini perjanjian baru yang dinubuatkan oleh para nabi akan datang (Hos. 2:25;Yer 31:33 Ezek 36:28).

Sejak sekarang ada suatu jenis hubungan baru antara Bapa dan para murid antara Allah dan para murid. Yesus ingin kesatuan ini jadi sempurna. Meski Ia naik pada Bapa sesuai teks ini bukanlah berarti, untuk mempersiapkan suatu tempat, tetapi memahkotai karya yang Ia imagurasikan di atas bumi, dan Ia tinggal dengan Bapa, dimana Ia hidup sebagai “hakim” paling akhir (1Yoh 2:1); Ia telah menjanjikan “kamu akan melihat Aku”; karena Aku hidup, kamu juga akan hidup (Roh. 14:19).

Seperti Lukas, Yohanes juga menempatkan peristiwa ini di Yerusalem, tetapi tempat itu tidak disebutkan secara khusus. Tradisi, mengidentifikasi tempat tersebut dengan suatu ruangan di atas, di mana para rasul berkumpul sebelum Pentekosta (Kis 1:13) dan dimana Ekaristi ditetapkan (Luk, 22: 12). Dalam kenyataannya, situasi ini menunjukkan tujuannya yakni mengumpulkan para murid pada tempat yang sama, dan untuk memperlihatkan bahwa mereka berkumpul secara alami sebagai tanda adanya Gereja.

Jika di sana ada dua peristiwa yang berbeda, hal itu disebabkan oleh karena Yohanes hendak memisahkan mereka yang tidak percaya dan bahwa tugas misi hanya diembankan kepada para rasul.

I Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.

19. Ketika hari sudah malam, pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

20. Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Kemudian murid-murid itu bersukacita, ketika mereka melihat Tuhan.

21. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu!”. Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”.

22. Dan sesudah berkata demikian Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus”.

23. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

Cerita ini mengikuti pola klasik yang serupa, dan akan kita pelajari dalam bab 5. Dua deskripsi yang berparalel yang ada (19-20 dan 21-23) membawa makna tentang pengakuan dan pewartaan, sehingga keduanya diintroduksikan pada formula yang sama: ‘Dan sesudah berkata demikian’. Inisiatif itu datang dari Yesus, dan Ia membiarkan para muridNya berbahagia bersamaNya dan mempercayakan tugas misi kepada mereka. Tetapi cara ini merupakan pendalaman Yohanes. Ketika hal itu berhadapan dengan cerita paralel yang ada dalam Lukas, teks itu kelihatannya telah direduksi seminim mungkin: di sana tidak ada perpanjangan apologetis (Luk 24: 41-42) dan dalam keterangan kiasan yang meragukan keberadaan para rasul telah dihilangkan. Apakah pola yang sangat suram ini merupakan pikiran kuno atau lebih baru, Johanes menggunakannya sebagai salah satu maksud dasarnya.

Bagi pembaca sederhana, peristiwa Yesus memperlihatkan diri ketika pintu-pintu tertutup, bermaksud menunjukkan bahwa Yesus mampu melewati objek-objek padat. Teks tak mengatakan apapun mengenai hal itu. Tetapi menjadi jelas ketika Yesus ingin mengunjungi para murid yang telah menutup diri karena takut terhadap orang-orang Yahudi (7:13 ; 19;38). Inilah maksud pertemuan itu: ketika Yesus menyatakan ucapan perpisahannya, para murid ketakutan, tetapi Yesus menjanjikan kedamaian (14:1, 17;16:33). Mereka tak perlu takut terhadap musuh-musuh guru mereka, karena Dia memiliki kekuatan untuk kembali kepada mereka ketika menghendakinya. Tema mengenai kodrat halus akan tubuh Yesus dapat ditarik kesimpulan dari teks, tetapi itu bukanlah hal yang dimaksudkan injil untuk diwartakan. Nuansa ini dapat ditemukan dalam cara dimana tak lama sesudah itu, dia menghitung kembali cara Yesus menunjukkan tangan dan lambungNya. Hal itu menunjukkan bahwa Yohanes secara tidak langsung tertarik dalam pertanyaan tentang kepenuhan badaniah kehidupan Allah.

Jadi Yesus datang untuk menemui para murid. Para murid dan terutama para penulis ajaran agama, telah mendiskusikan dengan tak ada habisnya apakah dengan maksud Yesus ini pengajaran apostolik atau semua umat beriman. Tentunya dalam tradisi pra-injil, Yesus hadir kepada ke sebelas murid (1 Kor 15:5 ; Mat 28:16). Barangkali suatu fragmen pada tradisi ini dapat diakui dalam referensi pada Thomas, “Salah satu dari kedua belas” (20-24). Tapi secara perlahan ada suatu perkiraan yang melihat suatu angka yang cukup besar. Karena dalam Luk 24:33, kita menemukan siapa saja yang bersama mereka, yang mana murid-murid yang kembali dari Emaus juga datang bergabung.

Bab 21 dan 22 memberi kesan bahwa Yohanes berharap meluaskan misi dan persembahan Roh kepada semua umat beriman. Kenyataannya, dia mendasari misinya pada hubungan dengan Bapanya, yang adalah pegangan bagi setiap orang yang percaya (15:9), dan ciptaan baru disarankan pada peristiwa ketika Roh diberikan tanpa ragu sehingga mempengaruhi semua orang Kristen. Hanya pada bab 23, perhatian kekuatan melebihi dosa, bukanlah subjek pada perluasan. Ini akan kita lihat pada penjelasan berikut.

Ketika dia menyambut muridNya dengan kata-kata ”Damai untukmu”, Yesus bukan memberikan sambutan wajib; penggunaan Shalom yang biasa digunakan pada kaum Yahudi, atau apakah dia dengan sungguh-sungguh mengharapkan mereka damai (di sini saya setuju dengan terjemahan “Damai sertamu”,) Dia memberikan mereka damai, sesuai dengan apa yang dia katakan sehubungan dengan diskursus ucapan perpisahanNya(14;27-28). Dalam pemberian damai, Yesus menunjukkan kaki dan lambungNya. Menurut Lukas, sikap ini berarti menghapus keraguan para murid; ”mereka menghendaki bahwa mereka melihat Roh” (Luk 24:37). Tak ada sesuatu yang sama seperti Yohanes. Apakah kemudian maksud dari sikap ini? Barangkali hal ini merupakan antisipasi atas apa yang akan dikatakan kepada Thomas pada situasi dimana murid ini tidak percaya. Tetapi adalah lebih baik daripada mencatat modifikasi yang merupakan hal aneh pada Yohanes: Yesus tidak menunjukkan tangan dan kakiNya, tetapi tangan dan lambungNya. Yesus menghadirkan diriNya sebagai Yesus yang tersalib dimana lambungNya dialiri oleh darah dan air (19-34): dengan mengikuti pemikiran itu, kita dapat memberikan suatu interpretasi bahwa lambung Yesus mengalirkan Roh, yakni sungai kecil tempat mengalir air kehidupan yang menyirami dunia.

Ketika Yesus menghadirkan diriNya, dalam kehadiran bukan sebagaimana manusia biasa tapi dalam kepenuhan iman, para murid melihat Dia sebagai Tuhan dan mereka merasakannya dalam sukacita, sebagai sukacita eskatologis seperti yang telah diramalkan dalam dispursus perpisahan (16:21-22; Why 19:7; 21:1-4), dan tak seorangpun dapat menyingkirkan orang-orang yang menerimanya dari kehidupan Yesus. Saat para murid mencapai kepenuhan iman, tanpa penegasan lebih jauh, sederhana karena Yesus yang datang untuk menjumpai mereka telah memungkinkan mereka untuk mengakuiNya sebagai yang disalib serta dibangkitkan dari alam maut untuk melukiskansegala sesuatu padaNya.

Kata-kata itu selanjutnya hampir tidak mirip pada segala yang berkaitan tentang kebangkitan Kristus dalam kisah Lukas dan Mateus. Ide tentang misi tetap dipertahankan tetapi dalam cara yang berbeda. Hal itu tidak terkait dengan berbagai bukti-bukti Biblis, dan hal itu tidak terarah pada semua bangsa, kecuali dengan mereka yang dikirim sebagai penengah. Yesus tidak semata-mata berjanji tetapi Dia mengirim Roh Kudus yang adalah simbol baru dan menandakan kehadiranNya yang menakjub kan. Rumusan perintah misi adalah khas Yohanes, tetapi berakar pada tradisi yang menyimpan banyak kesaksian. Kekuatan yang melebihi dosa dapat disesuaikan pada tradisi lainnya yang mana dapat dipercaya.

Yesus menyuruh Maria Magdalena untuk memberitahu saudara-saudaraNya bahwa Ia pergi kepada Bapa; sebenarnya, Yesus sekarang memberitakan kepada para murid-Nya bahwa Ia akan kembali kepada Bapa. Misi yang Dia embankan tidaklah didapat dalam substansi dari satu ucapa Yesus; hal itu berakar sepenuhnya dalam misteri yang menyatukan Yesus dengan Bapa-Nya. Yesus bersedia memberikan diri-Nya sebagai lambang kehadiran Bapa ‘Dia yang melihat Aku, melihat Dia, yang mengutus Aku’ (12:45 ; bdk. 13:3b), waktunya telah tiba ketika Dia menuruti kehendak Bapa: “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (20 :21). Perkataan ini menggema dalam doaNya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku mengutus mereka ke dalam dunia” (17:18)

Inilah alasan mengapa dalam Injil Yohanes ada poin yang menunjuk bahwa kini telah tiba saatnya memberikan Roh. Kepenuhan kenabian ini terkait dengan diskursus perpisahan. Ketika Yesus tidak mempunyai banyak waktu lagi bersama para murid-Nya, Ia mengatakan bahwa Penghibur akan datang, ‘Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu’ (14:26) yaitu ‘Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, ia akan bersaksi tentang Aku’(15:26). Inilah alasan mengapa Yesus harus pergi (16:7). Yesus dibangkitkan dari dunia orang mati, memberikan Roh Kebenaran yang disimbolkan dengan ‘hembusan nafas hidup’ pada para rasul; hal ini sebagai kenangan ketika Allah menciptakan manusia pertama (Kej 2:7 ; Keb 15:11) dan dalam tradisi Yohanes yang menempatkan selanjutnya bahwa Logos itulah pencipta dan pencipta kembali (bdk. Yeh 37:3-56;9; Yoh 3:5). Ini terjadi pada hari pertama minggu itu.

Beberapa teolog mempertanyakan apakah Roh yang diberi oleh Yesus itu identik dengan peristiwa Pentekosta. Namun Theodora dari Mepssuestia menolak anggapan ini dengan mengatakan bahwa Roh yang diberikan itu hanya kiasan belaka. Teolog lain seperti Chrysostomus mencoba membuat satu distingsi tentang fungsi roh itu. Dia menyatakan bahwa dalam Lukas, fungsi Roh (kekuatan) itu ialah untuk membuat suatu mujizat, sedangkan menurut Yohanes fungsi Roh itu untuk mengampuni dosa-dosa. Yang lain berpendapat bahwa Roh yang dikatakan Yohanes diberikan pada per pribadi sedangkan dalam Luk diberikan kepada jemaat. Meskipun demikian, beberapa teolog yakin bahwa pemberian Roh yang dimaksud oleh Yohanes diberikan bukan kepada orang tertentu saja, Lukas justru sebaliknya yakni bagi orang secara pribadi. Akan sulit dan mustahil untuk memadukan dua kisah yang termuat dalam Yohanes dan Lukas tersebut. Meskipun begitu, mereka sependapat pada banyak hal. Adalah aneh bahwa mereka mengisahkan peristiwa yang sama pada cara yang berbeda, dan pertentangan yang ada, terjadi karena waktu ketika Roh itu diberikan tidak cocok satu sama lain. Demikian juga seperti pemikiran Cassian sangat setuju dengan waktu yang dikatakan oleh Yohanes khususnya tentang ‘Pentekosta Yohanes’ tetapi juga menunjuk pada sesuatu di luar teks. Meskipun kedua kisah ini berbeda, namun dalam praktiknya keduanya sama. Galilea dan Yerusalem (dua daerah yang berbeda) merupakan tempat yang dimaksud. Meskipun ditemukan perbedaan, kedua kisah ini bagi mereka merupakan suatu keyakinan total dimana menurut Lukas, Roh tersebut adalah pemenuhan akan harapan dan janji yang terjadi pada saat Pentekosta; sedangkan menurut Yohanes, menekankan bahwa waktu pemberian Roh terjadi pada hari Paskah sehingga apa yang dikatakan Yesus itu terpenuhi. Dalam karangan Yohanes, Paskah merupakan salah satu dimensi yang esensial sedangkan bagi Lukas, hal itu terjadi setelah Yesus naik ke Surga. Dalam Yohanes, pribadi Yesus selalu dihubungkan dengan relasiNya dengan Bapa, yakni bahwa Roh itu akan diberikan oleh Bapa-Nya untuk selalu menyertai para muridNya demi mewartakan misi yang dipercayakan kepada mereka.

Roh Kuduslah yang mendirikan Gereja dengan kuasa mengampuni dosa-dosa. Kita menggunakan terjemahan catatan pertama dari Yohanes, lebih komprehensip pada bahasa Yunani, dikatakan bahwa Yesus menurut Mateus, “Aku akan memberikan kamu kunci kerajaan surga, dan apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga (Mat 16 :19 bdk 18:18). Hal ini menjadi diskusi panjang, khususnya antara Protestan dan Katolik, tentang seorang yang memberi janji dan memberi mereka kekuatan. Apakah diberi kekuatan agar tidak melakukan dosa setelah dibabtis? Kita tak harus mencobai panggilan, sejak kita jatuh karena poin-poin esensial, menurut Yohanes bahwa kebangkitan Kristus merupakan pembukaan Gereja yang diawali dengan salam pada bangsa-bangsa; Yesus, tinggal selamanya, GerejaNya menunjuk jalan menuju surga, seperti kata Mateus bahwa Yesus tinggal di bumi, diserahkan kuasa kepada Petrus untuk memutuskan siapa yang akan masuk kerajaan surga.

Apabila bab 23 dibandingkan dengan tradisi Mateus, hal itu sangat tidak jelas, dibandingkan dengan ide-ide Yohanes yang lebih baik. Pada bab 21, dimana Yesus mengutus murid-muridNya seperti Bapa mengutus Dia, mengingatkan kita akan peranan Yesus sebagai hakim di antara manusia yang membedakan mereka yang datang kepada cahaya (9:34-41 ; 3;17-21). Hal itu seperti yang dikatakan Paulus yakni bahwa bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan (2 Kor 2;15-16). Pada bab 22, memperlihatkan bahwa dengan Roh Yesus menghapus dosa dunia (1;29) dan kita mengetahui bahwa darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa (1Yoh 1:7). Di sini Yohanes menggunakan tradisi Yahwis, yang berasal dari tradisi tulisan Qumran (I QS 3:7-8), dimana tercantum bahwa Mesiaslah yang akan menghapus segala dosa kita.

Tentu saja itu mungkin sama dengan Yohanes yang membatasi skop dari janji dan hadiah dari Yesus, hal itu ditampakkan melalui para murid yang tidak pergi kepada semua bangsa-bangsa, dan tidak keluar pada dunia akhir. Tak seorang pun menjadi bersih. Tapi tidak dikatakan mengenai hal itu, apakah hal itu merupakan reaksi keterbukaan yang tidak terbatas, yang tepat dari Gereja di dunia, hal ini tidak sesuai dengan kehormatan dalam dunia dan kekuatan dosa yang mempengaruhi semua orang, tanpa banyak perbedaan kecepatan, tempat dan waktu.

Dan tidak ada alasan yang membedakan antara melakukan dosa sebelum babtis dan melakukan dosa sesudah babtis. Oleh karena itu, pemakluman secara umum dalam tradisi-tradisi lain juga sekarang terpenuhi dalam teks Yohanes.

2. Iman Thomas

Adalah Thomas seorang dari kedua belas rasul yang disebut Didimus, tidak ada bersama dengan mereka ketika Yesus datang. Maka, murid-murid yang lain berkata kepadanya “kami telah melihat Tuhan!” Akan tetapi Thomas berkata kepada mereka “sebelum aku melihat bekas paku di tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya saya tidak percaya”. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali di rumah itu dan Thomas berada bersama dengan mereka. Sementara pintu tertutup, tapi Yesus datang dan berdiri di antara mereka, dan berkata “damai sejahtera bagimu!” Lalu Ia berkata kepada Thomas: taruhlah jarimu di sini dan lihat tangan-Ku dan ulurkanlah tanganmu dan rabahlah lambungku. Janganlah engkau tidak percaya lagi tetapi percayalah”. Thomas menjawab “Tuhanku dan Allahku!” Yesus berkata kepadanya, “sudah percayakah engakau karena engkau melihat Aku? Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”.

Dalam tradisi Injil, topik tentang keragu-raguan membentuk tampilan yang integral; para murid tidak begitu mengenali Dia yang menampakkan Yesus sebagai pribadi. Pada cerita sebelumnya, Yohanes telah membuat versi yang sangat berhadapan dengan Yesus yang bangkit, sampai ketitik dimana tema tradisional tentang keraguan itu secara penuh dipusatkan pada penampakan kepada Thomas. Thomas adalah sosok yang signifikan dalam Injil Yohanes. Dia mengajak teman-temannya untuk mati bersama-sama dengan Yesus menjelang Dia pergi untuk membangkitkan Lazarus. Dia meminta Yesus supaya memberitahukan tempat kemana Dia akan pergi karena mereka tidak tahu jalan kesitu (14: 5). Walaupun demikian akan menjadi salahlah mengatakan Thomas seorang peragu; tetapi dia agaknya adalah murid yang bergerak lamban menuju iman yang autentik.

Cerita itu disusun dengan pararel yang ketat dengan perikop sebelumnya. Ayat 24-25 adalah peralihan, ayat 25 merujuk ayat 20; dan ayat 26 adalah paraprase ayat 19. Cerita itu kemudian disusun kembali dengan menambahkan tiga tema Yohanes dari ayat 27, 28, dan 29. Rekonstruksi ini menunjukkan bahwa Yohanes sekarang berusaha menyesuaikan kembali bahan yang dimilikinya dengan tujuan penulisannya.

Pada tampilan pertama, Thomas menghadirkan kembali sikap perlawanan terhadap para murid yang lain. Para murid melihat dan percaya, sementara Thomas menginginkan bukti. Dalam Injil Lukas, para murid ingin mengalami namun masih tak sanggup untuk percaya. Dalam Injil Yohanes, Thomas ingin memverifikasi apa yang dikatakan rekan-rekannya dengan meyakinkan diri pada penglihatannya sendiri bahwa yang berhadapan dengannya secara nyata adalah Yesus yang tersalib. Yohanes secara seksama menambahkan kategori-kategori pemikiran Yahudi mengenai kebangkitan. Yohanes membutuhkan suatu kesinambungan yang tepat antara kedua dunia, supaya ia sanggup memverifikasi dengan cara yang konkret bahwa orang yang berhadapan dengannya adalah orang yang sama seperti yang sebelumnya. Filipus telah menyatakan keinginannya untuk melihat Bapa (14:8). Dan Thomas berharap melihat Putra yang dimuliakannya itu, dalam pengertian kita sehari-hari. Thomas tetap tinggal pada level duniawi layaknya Nikodemus yang mencoba memahami bagaimana manusia bisa lagi kembali ke dalam rahim ibunya (3:4). Yesus tampaknya meyakinkan Thomas dengan mengabulkan keinginannya. Ia tentu tidak meneruskan ke dalam demonstrasi yang serupa dengan apa yang diberikan Lukas ketika mendeskripsikan Yesus yang sedang makan dalam penglihatan para murid-Nya: tapi kata-kata yang dilontarkannya sama halnya sehingga Thomas memang ragu sebelum ia mengabulkan permintaan Yesus.

Sentuhan Yohanes yang memikat bisa diteliti di sini: sehingga para penulis sesudahnya, seperti Ignatius dari Antiokia mengatakan, Thomas tidak mengabulkan permintaan itu. Thomas pada suatu waktu akan mewartakan imannya. Yesus mengetahui hati terdalam orang-orang; seperti Natanael agak dikejutkan bahwa Yesus tahu bahwa suatu ketika dia berada di bawah pohon ara (1: 48-56). Sekali lagi Yesus adalah orang yang pertama melihat perasaan Thomas dan itulah sebabnya mengapa Thomas kembali melihat Yesus.

Pernyataan iman Thomas ‘Tuhanku dan Allahku’ tidak berarti Thomas mengartikannya untuk mengekpresikan ide-ide yang tegas seperti halnya yang disampaikan oleh Konsili Kalcedonia mengenai sifat alamia ke-Allah-an Kritus sehakikat dengan Bapa. Dari mana pernyataan ini muncul? Pernyataan ini membentuk sebuah kesejajaran dengan aklamasi yang diklaim Kaisar Domitianus (81-96 SM) menjadi dihormati. Dominus et Deus noster. Kitab Wahyu tampak nyata memiliki keinginan memikirkan kaisar ini, dan Injil bisa jadi ditambahkan sebagian. Selama pemerintahannya, tapi konteks pada bagian itu tidak mengijinkan kemungkinan perbandingan apapun. Oleh karena itu para sarjana cenderung berpikir bahwa di sini Yohanes telah mengubah pemakaian kata Perjanjian Lama: YHWH – Elohay (bdk. Im. 35: 23 ‘Tuhanku dan Allahku’). Bagaimanapun bagi Injil Yohanes sendiri kita mesti mencari sebuah keterangan. Di sana, Putra mesti dihormati sama seperti Bapa dihormati (5: 23); dan kita yang mesti mencatat perkataan Yesus: Akulah jalan (8: 28). Arti keseluruhan pewartaan ini menjadi jelas kelihatan ketika hal itu ditampakkkan dalam sebuah konteks liturgis yang serupa dengan yang dilukiskan dalam Wahyu. “pantaslah Engkau, Tuhan dan Allahku menerima kemuliaan, hormat, dan kuasa” (Why. 4:11). Naskah terakhir ini tentu saja menunjuk kepada Allah, tetapi bukankah Yesus mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu” (10: 30)? Kemudian dengan menegaskan kata “Tuhan-ku dan Allah-ku; Thomas mengekspresikan apa yang dikatakan Yesus kepada Maria Magdalena ketika Ia berbicara kepadanya melalui Allah dan perjanjian dia mengatakan “Amen” terhadap perjanjian, terhadap Allah sebagai manusia melalui Yesus.

Akhirnya Yesus mengetahui bahwa Thomas telah menerima kebenaran dan iman secara otentik, yakni sesuatu yang tidak dilakukan oleh para murid dalam Lukas. Yesus mengucapkan selamat padanya, walaupun ia tidak siap menghubungkan iman ini dengan apa yang terlihat pada Thomas. Dengan pernyataan bahwa ‘orang yang tidak melihat diberkati’, Yesus tidak akan mengabaikan mereka yang dengan previlegi tampilan telah diberi informasi. Menunjuk apa yang biasa dipikirkan, Kristus mengabarkan secara bersamaan: ‘terberkatilah orang yang tidak menampakkan dirinya tapi percaya dengan sepenuh hati. C. H. Dodd telah menggabungkan pernyataan ini dengan apa yang ada pada Injil, “terberkatilah matamu, bagi mereka yang melihat, dan telingamu bagi yang mendengar… (Mat. 13: 16), dan bahkan pernyataan itu ditemukan dalam 1 Ptr.: ‘tanpa melihat-Nya kau mencintai-Nya; walaupun engkau tidak melihat-Nya tapi kau percaya kepada-Nya dan memuji dengan kegembiraan yang takterpanjatkan serta agung mulia. Sebagai buah dari imanmua kau memperoleh keselamatan jiwamu (1 Ptr. 1: 8-9). Maksud Yohanes pastinya tidak untuk mengabaikannya, tetapi untuk menampakkan umat yang hidup setelah masa previlegi ini, lama sesudah kemuliaan Yesus, memiliki kesenangan yang sama.

Kesimpulan

Sangat sulitlah menyimpulkan secara garis kecil kontribusi Yohanes terhadap pengertian Kristiani tentang pesan Paskah. Marilah kita menelisik beberapa sudut pandang refleksi.

Yohanes mengeluarkan sebuah penyederhanaan dan peredaksian. Argumen-argumen apologetis menjadi kabur, karena segala sesuatu diterangi oleh pengertian kasih. Kemudian kubur yang kosong, nyata suatu yang penting, sekarang memberikan kebenarannya yang signifikan: itu merupakan tanda bagi siapa saja murid yang dikasihi. Fakta bahwa kubur kosong bisa menjadi tanda totalitas misteri; negatif, tapi signifikan sehingga sangat nyata.

Yohanes mempersonalisasikan segalanya adalah catatan-catatan tradisi. Kemudian misi itu bukanlah perkataan sederhana yang didengar dan menyinggung para murid supaya melanjutkan karya Yesus; hal itu merupakan hubungan yang dimengerti oleh umat dan menyatukan dirinya dengan Yesus seperti halnya Yesus disatukan dengan Bapa. Tak seorang pun dilarang mengatributkan segala sesuatu kepada dirinya sendiri karena ia memuat realisasi apa yang dilakukan Yesus sendiri di bumi bawah ini.

Lebih dari penginjil mana pun Yohanes mendasarkan semua yang terlihat di atas sabda yang membimbing ke dalam kontak dengan Yesus; tak ada bukti kebangkitan kecuali sabda Yesus sendiri menggantikannya. Bahkan penampakan-penampakan itu kekurangan nilai-nilai demonstratif yang boleh jadi diajukan seseorang terhadapnya. Sabda Yesus sendri menggantikannya. Yesus menunjukkan luka-lukanya, tetapi tidak membuktikan korporalitasnya, tetapi untuk mendemonstrasikan bahwa penderitaan-Nya adalah sumber damai yang baru diberikannya dan roh yang akan dicurahkan-Nya.

Akhirnya, kesatuan bab ini dibentuk oleh aliansi yang didirikan antara Bapa dan para murid yang berdasar pada hubungan-Nya dengan Bapa yang dipelihara Yesus. Dan terutama hubungan ini diungkapkan dengan pengaruniaan roh yang seperti Yesus menjadi “Allah beserta kita” seturut Mateus, adalah jaminan kekal kehadiran Tuhan di antara para murid di bumi ini. Terima kasih kepada para murid yang telah berpuasa atas dosa sehingga seluruh dunia dapat memasuki perjanjian dengan Allah.