st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/FRATER/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:57.6pt 64.8pt 57.6pt 79.2pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

PENGANTAR

Ketika mencari-cari bahan untuk topik “Kebebasan dan Tanggung jawab” ini, tiba-tiba saya menemukan majalah Parbarita (Majalah Keuskupan Agung Medan berbahasa Batak Toba) edisi 8/LI/November 2006 yang berjudul: “Habolason na Sintong.” (Kebebasan yang benar/tepat). Sangat cocok dengan topik ini. Saya sangat terkesan dengan cerita “Si Jaringkot.” Berikut kutipannya: “…”Ba, songon pandok ni Lae A. Gomos, adong do antong jadwal ni si bere i di jabu….,”ninna A. Radot. “Ah, ndang denggan songon I songon na di hurungan gelleng. Anggo ahu Lae hupaloas do bereman sabebas-bebasna…ai nunga matoras be nasida!”ninna A. Pirdot….ninna Si Jaringkot “Saonari digoari do era kebebasan. Alai deak do mandok ia molo bebas manang bolas lapatanna boi mangulahon aha sambing lomo ni roha, ndang parduli tu dongan jolma….””[1]

Cerita ini mengantar kita pada paham orang kebanyakan di bumi ini: bebas sebebas-bebasnya. Apakah memang demikian? Apa sebenarnya arti BEBAS? Kebebasan dan Tanggung jawab: dua kata yang sangat sering terlupakan dalam hidup manusia. “Kebebasan mengandaikan tanggung jawab dan kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang baik pada dirinya sendiri, tanpa syarat. Tindakan yang dilakukan demi kewajiban (tanggung-jawab) sangat bernilai moral.[2] Inilah yang mau digumuli dalam uraian singkat ini.

PADA DASARNYA, MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG BEBAS

Kata ‘bebas’ sangat biasa di telinga kita. Saya tidak mau mengutarakan maknanya di sini, tetapi coba kita cermati kata-kata yang tercantol dengan kata ‘bebas’ itu: bebas rokok, perdagangan bebas, kebebasan pers, sex-bebas, pergaulan bebas, bebas berekspresi, bebas pajak, dst.

Secara negatif bebas berarti: tidak ada paksaan. Artinya kalau paksaan menentukan kelakuan manusia maka tindakan itu dapat dikatakan tindakan yang tidak bebas. Kebebasan berarti bahwa kita sendiri secara sadar dan mau menentukan diri sendiri.[3] Sejauh mana saya menentukan diriku dalam berbuat secara sadar dan mau, maka saya menjadi ‘orang yang bebas.’

Manusia adalah makhluk bebas, berbeda dari makhluk (benda) lain di sekitarnya. Kucing dapat berbuat ini dan itu, tetapi selalu didorong oleh desakan naluri (insting), perangsang, dan kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging. Jika melihat daging, kucing tidak akan pernah berfikir seperti kita apakah langsung dimakan saja atau dicari satu potong lagi supaya dua. Berhadapan dengan dua daging sekaligus pada jarak yang sama, membuat kucing jadi bingung.[4] Demikian matahari yang terbit setiap pagi di ufuk timur. Ia pasti terbit sesuai hukum tata-jagad raya. Matahari tidak pernah ‘beristiahat’ pada hari tertentu. Berbeda dengan manusia. Si A setiap pagi bangun pukul 05.15 WIB, setelah itu mandi. Ia berdoa ke kavel 5 menit sebelum jam enam. Begitu tiap hari. Kalau si A sungguh hadir pada dirinya sendiri, tahu apa yang dibuatnya ia sungguh bebas. Bila berhadapan dengan masalah tertentu, A mengambil jarak dari dirinya. Ia mempertimbangkan pro dan kontra lalu memutuskan tindakannya. Tindakan yang sadar itu disebut “bebas.”[5]

MENGAPA KITA HARUS BEBAS?

Dalam iman kekatolikan, kita imani bahwa kita diselamatkan karena iman dan perbuatan kita (“Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.”). Di sini diandaikan adanya kehendak bebas manusia. Allah memberikan manusia kebebasan untuk menentukan dirinya, tidak pernah ia memaksa; mau kepada kehidupan atau kebinasaan. Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 1732 dikatakan bahwa kebebasan merupakan kekhasan perbuatan manusiawi kita. Semakin melakukan yang baik, maka semakin bebaslah ia.

Karena pada hakikatnya manusia adalah bebas, maka tanpa kebebasan moralitas itu tidak ada.[6] Di rumah kami (Biara Kapusin Alverna) sangat ditekankan perlunya kebebasan dalam rutinitas rumah. Rutinitas janganlah dipandang sebagai “remote control” yang senantiasa mengendalikan semua gerak-gerik. Aturan pada dirinya adalah baik tetapi kalau dipahami sebagai rutinitas yang kaku dan tidak disadari maka akan sangat berbahaya. Bisa jadi rutinitas tetap berjalan, tetapi tidak dihidupi oleh kebebasan. Bila melulu demi aturan, hal yang sangat diawaskan adalah: karena suatu saat (entah sebagai pastor paroki atau…..) akan ada saatnya di mana tidak ada lagi yang mengawasi kita. Aturan ‘tidak lagi mengikat.’ Repot! Kalau sebelumnya aturan berdoa dijalankan sebagai aturan rumah semata (tidak disadari sebagai kebutuhan) maka dapat dibayangkan apa yang terjadi setelahnya….

KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Kalau pasangan muda yang sedang berpacaran ‘kebablasan’ (hamil di luar nikah) dan si laki-laki tidak mau bertanggung jawab, maka ini disebut kebebasan yang tidak beranggung jawab. Bertanggung jawab berarti mampu menjawab kepada diri, masyarakat dan Tuhan serta mampu menanggung akibatnya. Lebih jauh, Kant menuturkan: “ Seseorang bertanggungjawab atas setiap perbuatan dan akibatnya. Memang dibedakan 2 macam imperatif: 1. imperatif hipotetis = ‘jika menginginkan nilai tinggi anda harus belajar. (bukan imperatif moral), 2. imperatif kategoris = bukan dengan maksud tertentu tetapi karena perintah itu baik pada dirinya, tanpa syarat (inilah yang bernilai moral).[7]

Kebebasan yang sejati disertai oleh tanggung jawab. Tanggung jawab pertama-tama berarti melakukan sesuatu dengan efektif terlepas apakah dia diharapkan berbuat demikian atau tidak. Sopir yang mabuk bertanggung jawab atas perbuatannya melanggar anjing walaupun dia melakukan hal itu tanpa sengaja atau karena tidak melihat anjing tersebut. Tanggung jawab itu mengandaikan adanya kebebasan. Sopir tersebut bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut antara lain karena dia bebas memilih menyupir atau tidaK, minum alkohol atau tidak, melewati jalan itu atau jalan lain.[8]

Kebebasan manusia baru ditantang sungguh kalau berhadapan dengan kewajiban moral. Kewajiban itu tidak melulu karena kewajiban sebagai kewajiban, melainkan untuk mencapai kebaikan yang dijamin oleh kewajiban itu. Maka sikap moral adalah sikap bertanggung jawab (berbeda dari aturan/rutinitas rumah yang ‘kering’ tadi). Bertanggung jawab agar saya sedapat mungkin mencapai yang baik dan bernilai pada diri sendiri. Maka, kebebasan dan tanggung jawab sangat erat kaitannya.

PENUTUP

Sebagaimana pengantar tadi, (kata Si Jaringkot) bahwa zaman kita ditandai oleh paham orang kebanyakan yang mengira bahwa kebebasan adalah bebas sebebas-bebasnya. Namun, sebagai orang Kristen kebebasan kita adalah kebebasan dalam batas-batas tertentu; bebas yang bertanggung jawab (dalam bahasa filsafat disebut ‘bebas yang terikat’). Itulah yang menjadi perjuangan kita. Dengan kehendak bebas kita mau dan sadar menyesuaikan perilaku kita dengan kehendak Tuhan. Dengan itu kita bebas sekaligus bertanggung jawab.

BIBLIOGRAFI

Von Magnis, Franz. ETIKA UMUM masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius, 1975.

Snijder, Adelbert. MANUSIA paradoks dan seruan. Yogyakarta: Kanisius, 2004. hlm. 123

Solomon, Robert C. ETIKA suatu pengantar. (judul asli: ETHICS, A Brief Introduction). Diterjemahkan oleh R. Andre Karo-karo. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1987.

Uniacke, Suzanne M. “Responsibility & Obligation: Some Kantian Directions”. Dalam International Journal of Philosophical Studies. (tanpa tempat): Taylor & Francis, 2005


[1] Terjemahannya kira-kira:“…”Pak Gomos mengatakan bahwa anak-anaknya punya jadwal di rumah, “ kata Pak Radot. “Saya kira tidak baik demikian, anak-anak kita rasa-rasanya dipenjara. Bagi saya, lebih baik mereka dibebaskan sebebas-bebasnya karena mereka sudah dewasa,” kata Pak Pirdot. “…Zaman kita dinamai era kebebasan. Tetapi bagi kebanyakan orang kalau bebas berarti bebas melakukan apa saja tanpa peduli sesama manusia…,” kata Si Jaringkot….”

[2] Suzanne M. Uniacke, “Responsibility & Obligation: Some Kantian Directions”, dalam International Journal of Philosophical Studies ( [tanpa tempat]: Taylor & Francis, 2005), hlm. 462

[3] Adelbert Snijder, MANUSIA Paradoks dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 123

[4] Franz von Magnis, ETIKA UMUM Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1975), hlm. 51

[5] Adelbert Snijder, MANUSIA…, hlm. 123 – 124.

[6] Robert C. Solomon, ETIKA suatu pengantar ( judul asli: ETHICS, A Brief Introduction), diterjemahkan oleh R. Andre Karo-karo (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1987), HLM. 88

[7] Suzanne M. Uniacke, “Responsibility…, hlm. 465

[8] Robert C. Solomon, ETIKA suatu…, hlm. 88