st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1366058921; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:41044224;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KISAH & DINAMIKA SOSIAL KEUTAMAAN

Oleh: Anne Patrick

(terjemahan dari “The Virtue, Story and its Dynamics)

Artikel-artikel terdahulu berkaitan dengan tema ini telah membuktikan fakta bahwa pandangan-pandangan mengenai nilai dan keutamaan senantiasa berubah, dan telah dibicarakan pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai fenomena ini. Tulisan yang ada sekarang dibentuk atas dasar paham ini untuk mengeksplorasi aspek-aspek transformasi yang sekarang sedang berlangsung dalam rangka mengalamatkan pertanyaan inti normatif yang terbatas pada pengakuan akan historisitas nilai-nilai dan keutamaan: Perubahan-perubahan bagaimana yang hendak dikembangkan oleh orang-orang Kristen? Dengan kata lain, bentuk nilai dan keutamaan yang bagaimana yang paling diharapkan di dunia zaman sekarang dan bagaimana kita seharusnya memberi kontribusi atas proses transformasi ide-ide yang masih kurang mencukupi akan nilai dan keutamaan demi Kerajaan Allah? Akan tetapi, sebelum pertanyaan-pertanyaan normatif itu terjawab, perlulah mendapatkan beberapa pemahaman atas bagaimana ‘keutamaan’ dihubungkan dengan individu-individu yang terdiri atas masyarakat dan dengan masyarakat yang membentuk individu-individu itu.

PENDAHULUAN

Keutamaan: sejarah, sosial, dan cerita-yang-dependent.

Dahulu, pertanyaan seputar keutamaan personal dibicarakan di luar topik-topik etika sosial. Akan tetapi, studi mengenai kebudayaan meyakinkan bahwa keutamaan adalah suatu fenomena sosial secara menyeluruh, karena kelompok semua tipe dibedakan menurut jenis karakteristik dan pembagian-pemabagian yang dikembangkan di dalam anggota-anggotanya. Lalu, di samping pengenalan sejarah keutamaan, suatu teori yang tepat akan memberhargakan sosialitas dengan baik. Termasuk di dalamnya pengakuan bahwa konteks sosial suatu perantara menentukan bagi beberapa tingkatan ideal untuk karakter yang akan dikembangkan olehnya. Masyarakat memperkenalkan idealisme-idealisme melalui beberapa sarana seperti UU, pujian dan hukuman, ritual-ritual dan doa, dan di atas segalanya: cerita. Mitos, legenda, sejarah, biografi, fabel, drama, dan karya fiksi lain memberi pesan yang jelas mengenai apa jenis karakter yang dibernilaikan dan dipahami. Entah perorangan atau tidak mewujudkan karakter yang dihargai oleh dan dalam kelompok, karakter itu umumnya menginternalisasikan nilai-nilai yang berisi mitos kutural dan menimbangnya dalam terang norma-norma yang umum (lazim). Cerita lalu memainkan satu peranan yang edukatif dengan mengkomunikasikan dan mengukuhkan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang telah diberhargakan oleh kebudayaan. Lagi, cerita berfungsi mengkritisi sudut pandang nilai dan keutamaan ketika statusnya dalam masyarakat dipandang membingungkan. Nyatanya, peran kritis dari cerita adalah satu bagian penting dalam dinamika perubahan di mana nilai dan keutamaan menjadi perhatiannya.

Dalam melukiskan pembentukan peran cerita itu, saya tidak menganjurkan agar setiap agen dalam masyarakat mengadopsi satu paket idealisme yang seragam (homogen), karena terutama dalam kebudayaan-kebudayaan modern yang plural pilihan-pilihan nilai secara tetap diadopsi dalam persaingan oleh individu-individu, agen-agen itu memilih dari antara pluralitas ini dan membentuk paham nilainya sendiri. Tetapi elemen pilihan sendiri masih jauh dari otonomi yang komplet, karena realitas sosial kuat mempengaruhi sense nilai dan keutamaan tiap individu, seraya membentuk dalam batas-batas yang mengoperasikan kebebasan personal. Dengan penekanan dimensi sosial keutamaan demikian, saya mau menerapkan pandangan seorang psikolog G.H.Mead dan teolog H.Richard Niebuhr ke realitas keutamaan, diperkaya dengan karya lain dalam Sosiologi, Anthropologi Kultural, dan tentunya Teologi Moral. Sebagaimana Mead, Niebuhr, dan yang lain telah menunjukkan “Manusia personal pada dasarnya bersifat sosial.” Setiap orang tidak akan berkembang menjadi manusia tanpa relasi sosial; setiap orang dibentuk oleh nilai-nilai yang mengikat dalam bahasa dan pola-pola kebudayaan mitis atau kebudayaan-kebudayaan dalam hal mana seseorang lahir. Cerita-cerita tertentu memberi kontribusi yang mencolok sekali dalam pembentukan kepribadian karena mereka mengungkapkan paham tentang dunia dan etos kelompok dalam cara yang suatu ketika melibatkan emosi, intelektualitas, dan imajinasi, dengan efektif membawa pesan yang dianggap bernilai dan bagaimana nilai-nilai itu harusnya diprioritaskan.

Di antara para ahli etika Kristen kontemporer, Stanley Hauerwas terkenal karena penekanan dimensi sosial dan historis dari keutamaan, dan karena memakai peran cerita dalam membentuk masyarakat dan individu. Karyanya melampaui tendensi lama yang mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan keutamaan personal dari diskusi etik sosial. Pendapatnya diringkaskan dalam pernyataan: ” Kapasitas kita untuk menjadi saleh tergantung pada masyarakat yang telah dibentuk oleh kisah/cerita-cerita yang setia pada karakter realitas.” Hauerwas memberi tekanan pada fungsi primer dari cerita dalam kaitannya pada nilai-nilai dan keutamaan, yakni: perannya dalam pembentukan masyarakat dan diri. Namun, norma yang mencukupi kepada realitas dalam teorinya itu mensugesti betapa pentingnya fungsi sekunder dari kisah, yakni mengoreksi batas-batas mitos yang berlaku dengan mengkritik idealisme yang sesuai untuk karakater. Baru-baru ini, John Barbour telah menggabungkan pendapat Hauerwas, ahli zaman Klasik James Redfield, dan karya literatur penyelidikannya untuk memaparkan peran yang dimainkan oleh tragedi, dan novel-novel tragis di zaman modern, dengan mengkritik idealisme yang dominan dari keutamaan. Karya-karya itu melukiskan tingkatan usaha manusia untuk menghidupi idealisme-idealisme tertentu sampai pada kepenuhannya, lalu membuat pertimbangan ulang atas norma-norma dalam masyarakat.

Analisis saya hanya hendak menambahkan pada karya para pemikir ini dengan cara berikut. Pertama, saya menggambarkan satu ketegangan tertentu yang saat ini terasa dalam Gereja Katolik seraya memasukkan konflik di antara 2 paham tentang nilai dan keutamaan, “Patriarkhal” & “Egalitarian.” Saya berasumsi bahwa yang terakhir itu mendapat pengaruh dalam kesadaran Katolik, dan hal ini menyebabkan pesatnya pertahanan artikulasi-artikulasi pandangan patriarkhal itu oleh mereka yang berkuasa yang mendukungnya. Maka, untuk melukiskan kedua fungsi kisah berkenaan dengan pandangan tentang keutamaan dan juga untuk memberi kontribusi secara substantif pada masalah konfigurasi kaum Egalitarian, berikut saya mau mendiskusikan 2 cerita. Yang pertama adalah laporan dari acara beatifikasi baru-baru ini, yang menggambarkan satu langkah di mana nilai-nilai dan keutamaan tradisional telah dikomunikasikan ke dalam paham katolik. diskusi yang saya buat menggabungkan kisah personal dengan analisis kritis kaum feminis atas idealisme-idealisme itu yang dibungkus dalam bentuk cerita. Cerita/kisah kedua adalah satu karya fiksi yang lebih panjang, Hati nurani yang baik (The Good Conscience) oleh Carlos Fuentes. Analisis saya mengindikasikan bagaimana Fuentes memakai suatu gaya yang dihubungkan dengan isu-isu pembentukan karakter, Bildungsroman, untuk mengkritisi kumpulan sikap mengenai keutamaan Kristiani yang dalam terminologi saya disebut paradigma patriarkal. Dari semuanya ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang terutama dibutuhkan oleh Gereja Katolik saat ini adalah kisah-kisah yang menggambarkan kuasa dan validitas paradigma egalitarian untuk keutamaan.

1. konflik terbaru (akhir-akhir ini) Paradigma Katolik tentang keutamaan

Debat mengenai ‘otoritas dan ketidaksepakatan’ dalam Gereja Katolik, keyakinan baru-baru ini di Inggris dalam kebijakan disipliner Vatikan menentang Prof. Charles Curran dari Universitas katolik dan Uskup Agung Raymond Hunthausen dari Seattle, akan dianalisis dalam kaitannya dengan idealisme Gereja Katolik tentang karakter. Akan tetapi, apa yang akan saya klaim adalah bahwa kasus yang berasal dari tahun 1986 itu, dan juga hal-hal lain (yang sejenis) melibatkan kecaman hirarki atas penantang yang setia sejak K.V II, adalah gejala dari Konflik yang masih berlangsung di antara persaingan paradigma tentang keutamaan Kristen. Kasus itu mengandung dimensi eklesiologi, politis, dan ekonomis, namun untuk memahaminya secara utuh maka perlulah mengetahui bahwa bagian dari dari apa yang dalam isu itu dipandang berharga adalah apa artinya menjadi ‘seorang Katolik yang baik.’ dengan kata lain, isu-isu etik atas karakter dan keutamaan adalah sentral untuk diskusi-diskusi ini. Apakah hal ini diungkapkan secara eksplisit atau tidak, tiap sisi menyertai kumpulan (konstelasi) normatif yang berbeda atas nilai dan keutamaan. Tiap sisi (posisi) mengubah secara mendetail kasus per kasus, tetapi posisi-posisi itu cenderung antri atau paradigma patriarkal atau Egalitarian. Tentu saja, analisis ini mengasumsikan artifisialitas tipologi apapun; untuk itu deskripsi berikut bersifat parsial dan sugestif dari pada yang elaboratif dan definitip.

Suatu paradigma patriarkal tentang keutamaan telah lama menikmati kekuasaan dalam komunitas Gereja Katolik Roma. (Pem)bentuk(an)nya telah lama dipengaruhi oleh spiritulitas “dunia-lain”, dominasi dan subordinasi bentuk sosial dan teologis, anti-wanita, dualisme yang menolak tubuh sebagai kekhasan kebudayaan Barat. Paradigma ini memahami keutamaan sebagai: kontrol nafsu dengan akal dan subordinasi nilai-nilai duniawi atas ‘yang supernatural’. Semua itu membahasakan betapa banyaknya idealisme untuk karakter, tetapi cenderung menerima bahwa semua ini dengan tepat diberi penekanan lebih besar menurut gender dan status sosial seseorang. Semua orang Kristen hendaknya baik, suci, pantas, dan dina(miskin) tetapi kaum wanita diminta untuk lebih lagi dalam cinta kasih dan kemurnian, laki-laki dididik untuk berpikir dalam ungkapan-ungkapan keadilan dan kebaikan, dan mensubordinasi (sub + ordinis) kedua fungsi wanita untuk patuh dan penurut. Karena alasan yang bermacam-macam, pandangan ini harus sampai pada fungsi yang melihat kemurnian sebagai puncak kesempurnaan, memutlakkan keutamaan ini sebagaimana didefenisikan oleh interpretasi-interpretasi para ahli fisika (physicalist) atas “hukum natural” dan menekankan gunanya demi keselamatan. Diakui lebih tinggi bahwa nilai-nilai cinta kasih dan keadilan dipahami menjadi penting, tetapi hanya relatif. Poin ini akan disangkal oleh hirarki yang getol mempertahankan paradigma patriarkal, namun sangkalan demikian kurang meyakinkan dalam paham berikut bahwa tidak ada bahan/materi sedemikian sepele di mana dosa sex begitu diperhatikan, padahal pelanggaran cinta kasih dan keadilan mengandung perubahan tingkatan derajat.

Dasar biblis untuk paradigma patriarkal terkandung dalam interpretasi “Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan (Mat. 5:8)”. Petikan ini mengisyaratkan larangan seksual dan menganjurkan kemurnian seksual sebagai tanda utama dari kesetiaan hidup religius. Karena paham ini, ‘kemurnian hati’ diinterpretasi dalam bingkai yang sempit, sense seksual, ketimbang dalam makna yang lebih luas yakni tujuan yang satu-satunya/kebulatan tekad. Paradigma ini berdasar pada suatu metafora dominasi, yang menekankan kontrol kaum minor oleh kaum mayor; tubuh yang tidak mau taat harus didisiplinkan dan dijinakkan dengan alasan-alasan yang tidak memihak (netral). Tuntutan Kitab Suci berikutnya ditemukan dalam pernyataan Paulus, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak “(I Kor. 9: 2 7). Tekanan pada paham itu cenderung melampaui materi seksual untuk memasuki dunia sosial; karenanya nilai tertinggi ditempatkan pada ketaatan untuk melegitimasikan otoritas dalam pandangan ini. Nyatanya, ide kontrol hirarkis atas ‘tubuh mistik’ sejajar dengan dominansi daging melalui kehendak dalam pemahaman tradisional akan kemurnian. Tampaknya juga bahwa kecenderungan mengaplikasikan solusi ‘militeristik’ pada masalah politis adalah manifestasi sekular dari paradigma yang sama.

Kontras antara dualisme antropologi dengan paradigma patriarchal, paradigma egalitarian menahan alasan-alasan dalam dirinya, dan wanita dan laki-laki menjadi benar-benar pasangan yang sama dalam komunitas manusia. Malahan kontrol, respek suatu bangsa diciptakan untuk semua realitas paradigma yang fundamental, nilai-nilai suatu tubuh dan kemanusiaan wanita dan usaha menaikkan integirtar-Gender termasuk watak. Kemudian pengertian daya sebagai kontrol akhir, paradigma ini dijalankan dengan daya pikir sebagai energi untuk hubungan yang tepat. Cinta ideal dan keadilan dipisahkan hungga terpisah dari lingkungan personal dan etika sosial, dengan tanggung jawab untuk perealisasian gender yang mereka ikuti; malahan cinta dan perdamaian dilihat sebagai kekuatan norma-norma denga yang lain di mana akan memerintah secara bersama.

Barangkali karena perhatian yang diberikan secara berlebihan oleh pengacara-pengacara paradigma peravahan tentang kesucian seksual, pengacara-pengacara paradigma yang lain cenderung tidak prihatin dengan keutamaan. Pemikiran yang di dalamnya, pemikiran suatu tafsiran tentang keutamaan ini boleh diduga dari apa yang mereka tulis mengenai seksual. Paradigma seksualitas ini dilihat sebagai suatu keprtihatinan perdamaian sosial dan juga keutamaan personal dan pengurusan bagian beatifikasi “berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6). Pengakuan itu menjadi tanda dovosi religius yang tidak dapa berlangsung oleh suatu tenaga yang berkuasa dengan tubuh yang implus dan orang lain, tetapi yang lain harus dilibatkan dengan komitmen yang terus-menerus ada (dengan spritualitas dan materi) dari diri sendiri dan orang lain. Hal ini memerlukan pertunjukan untuk membangaun resperk reaksi sosial, persamaan dan satu sama lain.

Paradigma yang kedua mengakui bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup Kristen, tetapi mereka sungguh paham perbedaan orang-orang yang dibeatifikasi. Paradigma paravahan cenderung membantu perkembangan mentalitas pewahyuan, dengan “budi” mereka sendiri melihat penyiksaan abadi dari musuh sang ilahi di dalam dunia ini, tetapi akhirnya hal itu dibersihkan kemudian. Paradigma egalitarian mengakui bahwa kekuatan-kekuatan dari kejahatan yang sudah lama tersusun menjadi daya untuk memusnahkan pendekatan-pendekatan mereka di Campaign hanya pada bidang sosial dan hubungan-hubungan ekonomi. Tetapi, dengan Jesus Paschal mencoba menemukan anjuran-anjuran ini sebagai contoh pengakuan kampus untuk mencapai kemenangan pada saat ini dan dunia yang sekarang, keluwesan dari daerah dan sumber hidup dan kekuasaan diteruskan Tuhan dalam sejarah manusia.

Kehadiran paradigma egalitarianditangkap oleh imajinasi orang-orang yang sale, melalu sebuah proses yang melibatkan banyak unsur. Di antara cerita-cerita yang baru dan kritik-kritik baru dari cerita yang lama. Ilustrasi ini menjadii aspek bagi perubahan yang dinamis, saya kembali sekarang kepada sontoh cerita yang ditunjukkan untuk mempertajam paadigma patriarkal, dan menunjukkan mengapa cerita-cerita demikian kehilangan dayanya dia antara para pendengar zaman sekarang.

2. Sebuah Cerita yang Kehilangan Daya

Sepanjang sejarahnya, Gereja Katolik telah mengkomunikasikan karakter yang ideal kepada umat dengan menceritakan pribadi orang suci tertentu atau mereka yang hidupnya dianggap terpuji (blessed). Untuk menilai suatu peran yang dimainkan oleh hagiographical cerita dalam hubungannya dengan paradigma keutamaan patriarkal yang berguna pada suatu studi singkat mengenai kabar-kabar dari majelis New York Times edisi 16 Agustus 1985

KINSHASO, Zaire 15 Agustus Paus Yohanes Paulus II membeatifikasikan seorang biarawati Roma Katolik yang gugur ketika menyerahkan keperawanannya. Biarawati Maria Klementina Anwarita, telah menunjukkan nilai primordial keperawanan yang telah ditunjukkan dalam keberaniannya hingga menjadi martir, demikian kata paus. Dia mengatakan bahwa dia memaafkan seorang Piere Kolombia yang telah membunuh biarawati itu pada waktu perang insiden di Zaire pada tahun 1964 (hlm. A-4).

Bagaimana tanggapan orang-orang yang percaya pada kisah itu? Reaksiku mengidentifikasi perubahan besar dalam Gereja Katolik yang memeperlihatkan keutamaan dan kebijakan-kebijakan karena saya menanggapi dengan sangat berbeda cerita itu dari pada saya melakukan hal seperti tahun lalu. St. Maria Geretti telah dikanonisasi pada tahun 1950 ketika saya masih duduk di SD, dan saya mengatakan bahwa kebesarannya sangat dipengaruhi oleh masa kanak-kanak dan saya akan menyajikan kembali masa remajanya melalui cerita penolakan seksual pada masa penolakan seksual terhadap kemajuan-kemajuan pada waktu masih mudanya hingga mati pada tahun 1902. Ini adalah suatu contoh bagi gadis yang masih muda, suatu model keutamaan yang kurang mendidik tetapi ada nilai-nilai spritualitas yang perlu dipertaruhkan. Seorang penulis biografi mengutipnya sebagai laporang pada waktu pertemuan pengkanonisasiannya, “Tuhan tidak menginginkan itu. Itu sebuah dosa. Kamu akan masuk neraka” kata-kata itu sangat relevan untuk mengungkapkan nilai-nilai yang ada pada Maria dan yang dialami oleh umat di dunia. Hal ini adalah suatu yang duniawi di mana kematian menjadi lebih baik dari pada perkosaan. Vatikan menseleksi wanita-wanita muda yang dikanonisasi pada tahun 1950 yang dengan jelas mengartikan dengan baik nilai-nila dari kesucian pada suatu masyarakat yang mengandung pertanyaan absolut tentang norma-norma ini. selain itu, orang-orang suci sangat perhatian pada kesejahteraan spritual pemerkosa (hal itu adalah dosa. Kamu akan masuk neraka) dengan menggunakan kekuatan para wanita muda yang bertanggung jawab pada perlakuan seks yang khas bagi pendidikan Katolik pasa saat ini. tak seorangpun disusahkan dengan kesadaran sepanjang meneladani Maria Goretti dan seorang laki-laki yang menjadi pelindung anak muda (Jonh Berchman, Aloysius, Gonjaga dan Stanislas Kostka) di mana telah menolong orang-orang suci yang jujur. Secara berangsur-angsur bagaimana pun orang-orang suci yang hidup belasan tahun lebih lama dari sekarang dan hal ini tidak memperlihatkan siatu perubahan keutamaan yang sangat bagi suatu bangsa.. tingkat perubahan panggilan saya jelas ketika saya merefleksikan tulisan beatifikasi dalam beberepa bulan yang lalu.

Begerapa pokok laporan ini sungguh menggagu saya. Yang terpenting adalah perubahan ketidak adilan pada situasi yang paling dasar di mana adanya pemerkosaan dan pembunuhan. Situasi ini sering dihadapi oleh wanita di seluruh dunia ini, dengan begitu banyak penderitaan atau ukuran-ukuran keduanya yang mengancam kejahatan: paksaan kontak seksual dan atau kematian yang dipaksa. Selain itu, saya sekarang sadar bahwa contoh tidak adil dari hubungan antara kontribusi seks dengan frekuansi pengalaman-pengalaman wanita seperti keadaan-keadaan yang sulit, dan pendidikan yang diterima di sekolah dengan nilai-nilai feminim yang terdisional dan kepatuhan pada wibawa petinggi yang kemungkinan sama dengan wanita yang akan menderita kekerasan.

Juga sungguh mengganggu nilai-nilai yang dinyatakan eksplisit oleh nilai primordial keperawanan yang diikuti dengan maksud jelas, bahwa wanita-wanita yang hidup paling tidak nilai kondisi fisiknya tidak khas seperti mayoritas wanita dewasa pada semua budaya-budaya. Keperawanan Maria klemen pasti diabdikan kepada kesucian dan religius yang berarti dengan seluk-beluk yang tidak akan diremehkan. Kendati aspek formal religius tidak jelas pada bagain yang dasar, yakni bahwa seorang wanita diangkat menjadi model emulasi orang-orang yang beriman sebab dia memilih dibunuh daripada menyerahkan keperawanannya.

Hak seorang lebih pada keutuhan jasmani, kebebasan dan otonomi seksual yang memuncak pada nilai-nilai yang luhur. tetapi apakah nilai-nilai lebih besar dari pada nilai-nilai seorang yang hidup? Untuk meyakinkan ancaman pada kematian yang tidak dilepaskan oleh seorang wanitayang tunduk pada pemerkosaan, tetapi jika kita mengambil beberapa korban pemerkoasaan yang dihadirkan dalam dua alternatif, tanpa tulisan beatifikasi yang pengangkatannnya dipertanyakan apakah pemerkosaan yang besar kejahatannya dibandingkan kematian.

Tetapi apakah pertanyaan ini keliru? Suatu boleh diobjekkan bahwa nilai-nilai uatama yang ditaruhkan dalam kejadian-kejadian bukanlah kemurnian tetapi kemauan Tuhan. Di ada inti objek-objek sejauh pertanyaan sejauh kebersalahan atau kebaikan yang diperhatikan, nilai-nilai formil dari Tuhan yang sungguh-sungguh unggul dalam suatu kepercayaan. Kewajiban yang diikuti oleh suara hati tertentu dikecualikan. Tetapi titik utama dari nilai-nilai formil tidak mencukupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya mengenai kehendak Tuhan apakah wanita diancam dengan kematian jika dia tidak menyerahkan kegadisannya. Jawaban atas pertanyaan ini mendapat unsur universal atau beberapa kebenaran, keputusan yang pantas, pilihan yang dilihat dalam pemandangan dalam keadaan yang relevan, nilai-nilai dan prinsup yang diliputi kesenangan pada keadaan yang sebenarnya. Fakta ini berperan penting lebih lanjut pada pertanyaan keberatan seperti apakah yang menekan seksual “kemurnian” yang sangat baik?

Adalah baik memperhatikan tanggapan singkat tentang ancaman hebat yang ditimbulkan pemerkosaan (ambillah hidupku, tetapi jangan keperawananku). Melalui perluasan pemahaman bahwa asumsi atas keperawanan merupakan nilai yang primordial bagi perempuan, suatu yang lebih besar dibandingkan hidup, mungkinkah hal ini merupakan respon dari para perempuan yang beriman? Jawaban-jawaban untuk semua pertanyaan di atas memberikan suatu point dimana perhatian tentang keutamaan dan aksi pertentangan dalam kekatolikan saat ini; karena mereka mengengsel issu tentang pengetahuan akan kehendak Allah, dan lebih spesifik lagi dalam pertanyaan tentang apa yang menjadi landasan konstitusi-konstitusi, dimana hirarki mengklaim bahwa pengetahuan harus dipisahkan dari etika sexualitas.

Lebih lanjut, cerita-cerita ini mengundang pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang menjadi perhatian mereka yang secara tidak langsung diarahkan pada percabulan natural (nature of rape). Apakah mereka memahami bahwa pemerkosaan merupakan suatu tindakan mendasar dari kesucian dan agresi, atau apakah mereka menyumbangkan sesuatu yang lazim atau suatu mite yang tidak teliti sehingga bagaimana seorang korban mendapat ketenangan dari peraihan dan perampasan dirinya, apakah dengan demikian memperkuat suatu tendensi permasalahan untuk menyalahkan korban kriminal ini? Dan apakah kasus sosial mengenai perbuatan pria ini secara langsung kurang diperhatikan? Mungkin pada tahun 1985 atau 1950 sesuatu hal diharapkan bahwa pemimpin-pemimpin gereja harus memahami bahwa pengajaran tentang ketidakwajaran dari mansturbasi dan homosexual dan ketidakwajaran pemerkosaan memberikan ketidaknyamanan bagi pemuda-pemuda pria dan dengan langsung memberikan contoh bagi pemerkosaan. Akhirnya, mengapa ada perempuan yang lebih senang mati untuk memperjuangkan kesuciannya? Untuk menjawab pertanyaan ini adalah penting menyelidiki permasalahan tentang siapa subjek keutamaan ini, karena dengan demikian suatu pilihan bagi seorang perempuan lebih luas daripada fungsi sosialnya. Pilihannnya memberikan cahaya ideal bagi karakter dominan kebudayaannya, nilai yang telah diambilnya sendiri demi membangun keputusannya.

Cerita ini membawa pencerahan bagi karakter pemikiran budaya yang cenderung menyerang. Lebih jelasa dalam sejarah kekristenan, perhatian biblis terhadap kemurnian sexs di antara orang Ibrani, pandangan atau doktrin kesucian Maria Perpetua mengasumsikan bahwa Yesus menjauhkan diri dari aktivitas seksual, dan memberi tekanan pada kemurnian hidup demi masa yang akan datang (eskatologi) yang dikombinasikan pada keutuhan badan – menolak dualisme yang dihadirkan oleh budaya Yunani-Romawi yang memberi suatu pandangan sehingga mendorong pembagunan pribadi-pribadi yang melihat badan mereka sebagai suatu tempat yang didalamnya berisi kekuatan yang baik dan yang jahat, dengan banyaknya permintaan akan suatu keawaspadaan dihadapan kecenderungan sexs satu arah. Setelah berabad-abad, kisah-kisah baru masuk ke dalam kebudayaan – kisah-kisah keperawanan para martir, akseke para biarawan dan biarawati, para pertapa, dan seperti semua orang yang bergabung dengan praktek legal dan permintaan-permintaan masuk ke dalam kelompok sosial lain dan ke dalam paham lain tentang eskatologi yang menciptakan suatu dunia dimana suatu keputusan untuk mati lebih dari kehilangan kesucian yang memberikan arti yang lebih baik.

Seorang pribadi memahami secara global bahwa suatu karakter ideal membutuhkan penahanan nafsu sexual atau pengawasan diri secara sempurna (yang terakhir sebelum menikah, dimana aktivitas sex sudah diperbolehkan); dan aturan diri sesuai norma kulturalnya, apakah dia mencapai hal itu dalam prakteknya. Demikian suatu pemahaman akan kesucian telah diseimbangkan secara sempurna dalam kekristenan pada masa yang telah silam. Bagaimana hal itu sekarang, bagaimanapun, hal itu merupakan suatu karakter yang ideal mengenai gagasan tentang kesucian sebagai suatu lynchip yang tidak begitu jelas diterima tanpa kritik oleh kekristenan, kendati dengan sangat jelas menggambarkan suatu pengetahuan alternatif tentang kesucian kendati belum diartikulasikan. Sosietas Katolik sekarang sedang menganalisis keidealan karakter itu dengan menaruh hormat pada sexualitas, kendati tranformasi tidak lagi menjadi focus yang membutuhkan banyak perhatian dalam diskusi mengenai keutamaan diantara teori-teori hidup moral. Malahan, teologi-teologi moral Katolik telah membersihkan dengan sangat hati-hati pencobaan mempertanyakan yang menyangkut keabsolutan aktivitas sexs tanpa melepasan pengaruh hukuman gereja dalam hidup mereka. Kita berada pada satu momen dalam sejarah dimana suatu pemahaman akan kesucian memperoleh pengenalan sebagai sesuatu yang tidak memadai dan ketika suatu kemampuan tidak membuatnya sungguh menjadi pusat perhatian.

Pada tolak waktu ini, bagaimanapun, kita dapat mengenali bahwa teologi moral membawa sebuah interpretasi baru tentang kesucian yakni suatu paradigma yang mengatakan bahwa semua orang sederajat dalam keutamaan. Hal ini telah memberikan kemudahan karena pada refleksi etika hal itu telah dilakukan melalui dua pokok pekerjaan yaitu di luar lingkaran moral teologi tradisional. Di sini ada pemikir-pemikir feminis religius yang menyumbangkan suatu pemahaman ulang mengenai kesucian sebagai kemampuan menduga-duga explorasi yang lebih umum mengenai gender dan etika ideal yang lebih baik atau sebaik perhatian explicit akan pertanyaan-pertanyaan particular, yang telah diamati variasi ide-ide karakter dan keutamaannya mulai sejak filsafat moral mulai memusatkan hal itu sebagai kekuatan yang membuatnya sebagai suatu keputusan dan aksi pada abad 19.

Sekarang, seorang pengkritik feminis klasik Valerie Saiving, mengkritik keidealan keutamaan ini. Dalam artikelnya (Goldsteins) “Situasi Manusia”: suatu pandangan Feminis. Saiving mengatakan bahwa pemahaman tradisional orang Kristen mengenai dosa dan keutamaan diperoleh dari pengalaman-pengalaman akan kehidupan laki-laki yang menikmati beberapa status dan kekuatan dalam sosietasnya. Bagi laki-laki seperti itu, harga diri telah dipahami sebagai suatu kecenderungan yang sangat membahayakan, godaan indulgensi sexual dengan mengorbankan orang lain juga menjadi suatu bahaya yang akan berulang terus menerus. Kemudian dirasakan untuk mengusahakan kecocokan kerendahan hati dan kesucian diri, tetapi untuk menguniversalkan analisis ini dan khususnya untuk menetapkan hal itu kepada perempuan yang lokasi sosialnya sungguh berbeda, membuat masalah moral yang dihadapi perempuan semakin parah. Untuk memberikan pembedaan pengalaman-pengalaman sosial dari dua jenis sexual ini, godaan perempuan dibedakan dari para laki-laki. Malahan, harga diri menimbulkan masalah yang lebih besar. Bagi wanita godaan terbesar (utama) adalah untuk memastikan suatu inti diri, untuk menanamkan responsibilitas akan suatu identitas dan perbuatan bagi orang lain dan faktor-faktor lingkungan (unsur-unsur mental) dimana seorang laki-laki digoda untuk menyalahgunakan kekuatannya, dan wanita cenderung melepaskan kemungkinan mereka untuk menggunakan kekuatan dengan pantas melalui penyerahan diri demi persetujuan dan keamanan (perlindungan). Apakah perempuan dalam kebutuhan societas patriarkalnya tidak dinasehatkan untuk rendah hati dan menjaga kekudusan diri, atau belajar dari cerita-cerita dari orang kudus yang meninggal secara istimewa demi kemurnian? Malahan wanita membutuhkan model-model keutamaan baru dan kisah-kisah baru yang mengkomunikasikan mereka. Saya melihat ke depan pada hari yang akan datang ketika cerita-cerita narratif dikarasteristikkan pada kepopuleran kekatolikan.

Sementara itu, sumber kedua yang berguna masih harus dilakukan melalui penceritaan dan teologi-teologi yang adalah badan yang luas menyangkut fiksi-fiksi serius yang mengkritik ketidakcakapan paradigma patriarchal mengenai keutamaan terutama sekali menyangkut suatu contoh perhatian yang mencolok dalam pekerjaan yang dilakukan novelis Meksiko: Carlos Feutes dalam novelnya : The Good Conscience (Suara hati yang benar)”.

3. Kesucian dan Psikologi Ketidakadilan Sosial

Secara resmi dipublikasikan tahun 1959, suara hati yang baik memberikan suatu analisis yang tajam menyangkut ambiguitas pengajaran Katolik dan praktek nilai-nilai dan keutamaan. Suatu tema yang menyolok dalam novel ini adalah pilihan kedua dari kekuatan moral kristiani menyangkut pelayanan yang bukan hanya dalam struktur sosial. Melalui penurunan kemurnian sex moral kristiani kelas orang-orang kaya Mexico kepada yang Jaime Ceballos lahirkan menggantikan pengalihan dirinya dari kemiskinan dan ketidakadilan daerah sekitar dan kontribusi yang bertahan pada ketamakan. Novel Jaime melukiskan transformasi dari sesuatu yang sensitive, idealisme seorang anak, yang melindungi seorang organisator pekerja buronan dan seorang pemuda Marxis India, masuk dalam suatu egoisme yang kuat yang akan diikuti langkah kaki kemunafikan yang selalu menilai dengan rendah. Pada akhir buku kita menemukan hubungan Jaime dengan keadaan yang ia rasakan melampaui kegagalannya menunjukkan cinta dan perhatian kepada orangtuanya, dengan mengunjungi seorang saudaranya setelah pemakaman ayahnya. Disini dia mengkomitkan bahwa suatu dosa dapat lebih mudah dinamai dan dibebaskan dalam pengakuan dosa daripada hargadiri dan kekurangpekaan terhadap yang lain yang telah menjadi bagian dari karakter. Kemudian melalui penurunan hidup moral menjadi suatu rutinitas dosa sexual dan pengakuan dosa, dia masuk pada apa yang disebut hati nurani yang baik sebagai pekerjaan ironis yang diletakkan di atasnya.

Lebih jelas kelihatan penetapan hubungan antara afirmasi penjelmaan kita dan kegembiraan dalam misteri penciptaan dan cinta Tuhan. Mereka juga melihat bagaimana perasaan dihubungkan dengan suatu disposisi untuk saling memperhatikan sehingga keterasingan dari badan diasosiasikan dengan keterasingan orang lain. Lebih dalam lagi, melalui contoh-contoh kehidupan Jaime dan keluarganya, Fuentes menunjukkan bagaimana moral teologi dan pastoral praksis memperhatikan kontribusi dosa sexual kepada pola hidup seseorang yang sebaik mungkin berhadapan dengan ketidakadilan sosial. Untuk lebih tepatnya novel ini hanya mendemonstrasikan bagaimana paradigma patriarchal mengenai keutamaan diimplikasikan dalam beberapa masalah yang sangat menimpa kekatolikan saat ini: ketidakadilan terhadap perempuan dan pengkelasan secara buta antara golongan menengah dan tinggi dalam hal keadilan sosial dan ekonomi. Kita melihat dalam novel ini kekakuan otoritas patriarkal yang telah dilakukan dalam suatu sistem keluarga, dan kita dapat mengambil kesimpulan tentang apa yang telah dilakukan dan yang sedang dilakukan oleh gereja. Jaime ibarat sebuah rumah yang dalamnya kebenaran tidak dapat dibicarakan dan dimana sexualitas berada di atas segala ketabuan subjek. Apa yang diceritakan Feuntes pada rumah ini membawa pemikiran kita bagaimana gembala-gembala dan teologi moral sama sekali dan dalam perkara sexualitas ini: “Peraturan pertama dalam keluarga ini adalah bahwa kehidupan real dan drama penting harus disembunyikan”.

KESIMPULAN

Essai ini difokuskan pada konteks keutamaan sosial dan pada dinamika transformasi karakter ideal, memperhatikan bagaimana pelaksanaan di dalam dengan pengaruh faktor-faktor budaya, khususnya model-model dan cerita-cerita yang memberikan efek bagi tingkatan nilai dan keutamaan. Argumen saya secara implicit mengatakan bahwa keutamaan kekudusan dibutuhkan untuk membawanya masuk kedalam melalui sayap teologi askese, di mana calon penghayat selibat mempertimbangkan dengan hati-hati segala seluk beluk peraturan alami dalam sinar interpretasi badaniah, dan menempatkannya dengan cermat pada pusat teologi moral; akhirnya pada apa yang waktu itu telah diajukan untuk membangun rasionalitas dan koheren yang menempatkan karakter ideal dengan respek sexualitas.

Suatu penginterpretasian kembali harus dengan cepat dimasukkan dalam pemahaman sang pemerhati yang telah menunjukkan bagaimana kedalaman pemahaman akan kesucian itu dipaksakan kembali secara sempurna oleh gereja-gereja dalam variasi tipe-tipe kesempurnaan keadilan sosial. Maka, bagaimanapun, yang lebih dibutuhkan adalah cerita-cerita baru (narratif) yang berada dibalik kritisisme dan teori yang menyediakan model-model demonstrasi dengan suatu kekuatan prosa ilmiah yang tidak dapat dicapai –kebaikan dan keindahan hidup dibangun melalui paradigma bahwa semua orang sederajat keutamaannya.