KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

(sebuah terjemahan)

Perjanjian Lama adalah hasil dari proses panjang di mana bahan dikumpulkan, diteruskan (turun-temurun), dikerjakan ulang, dan diberi bentuk final. Dalam bentuknya yang terakhir kita mendapatinya dalam sejumlah kitab. Beberapa dari kitab ini dengan jelas adalah kesatuan literer yang berdiri sendiri / independen (sebagai contoh Kitab Mazmur, Ayub, Kitab Amsal). (Kitab) yang lain pada saat yang sama terbukti menjadi anggota-anggota (bagian) dalam komposisi yang lebih besar yang pada tiap kesempatan hendaknya diperhitungkan (sebagai contoh 5 buku Pentateukh, Buku-buku Sejarah Deuteronomistis).

Cara-cara (tekhnik) yang sungguh-sungguh berbeda berhadapan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama dapat dipakai. Seseorangpun dapat mulai dengan tradisi individual yang paling awali dan berupaya mengikuti kursus mereka hingga pada bentuknya yang terakhir dan menyusut (mundur) dari situ ke tingkatan tradisi yang lebih awal. Pada pendekatan yang pertama, perkembangan dan pertumbuhan teks menjadi pedoman tersendiri pada jalan cerita – dan di sini kebanyakan harus tinggal (sebatas) hipotetis; pada pendekatan kedua, analisis terbalik menetapkan jalan cerita – dan di sini perubahan metode-metode dan sudut pandang para penafsir bersumber pada kepentingan yang besar.

Pendekatan cara pertama diterapkan oleh Hermann Gunkel dengan pernyataan sementara “Sejarah Literatur Israel”. Akan tetapi, dia sendiri hanya menghasilkan laporan cerita sejarah pendek yang pertama, di mana dia tidak menemukan sampai bentuk terakhir buku Kitab Suci; hal itu di luar keinginannya. Sejak itu kemudian, teorinya (pernyataan) lebih sering dikenal sebagai pembenaran, tetapi di mana-mana teori (pernyataan) itu tidak juga membantu. Dlam cerita keseluruhan yang lebih baru sebagai contoh Kaiser memilih kursus (jalan) tengah (12), sedangkan Smend secara eksplisit memilih pendekatan kedua (11); akan tetapi dia juga kurang memuaskan dalam buku-buku Perjanjian Lama dalam bentuknya yang terakhir.

Meski beragam pendekatan, laporan cerita umum yang lebih baru pada dasarnya bekerja dalam cara yang sama. Mereka didominasi dengan analisis teks-teks, dimana tingktan yagn bervariasi, sumber, tingkatan tradisi, peredaksian, dan seterusnya dikerjakan – tetapi bentuk terakhir kitab-kitab yang berdiri sendiri (individual) sebagaimana yang ada sekarang, dan Kitab Suci perjanjian Lama sebagai satu kesatuan, dikerjakan dengan susah-payah ke dalam bentuk cerita. Hal yang mendasarinya adalah konsep (yang pada usaha terakhir kembali pada HERDER (what’s mean?) dan zaman romantik) bahwa yang lebih tua dan lebih awal adalah ‘asli’ (original) dan oleh karena itu bernilai lebih besar; apa yang ditambahkan kemudian dianggap sebagai yang diturnukan (derifatif) dan dianggap sebagai “yang kedua” atau “diredaksi”.

Di atas semuanya ini, Brevard S. Childs kini secara serius menekankan bahwa perhatian khusus dibutuhkan pada bentuk akhir kitab-kitab Perjanjian Lama karena Perjanjian Lama ini bukanlah hasil proses dari kurang lebih pengumpulan dan peredaksian yang kebetulan saja tetapi merupakan ungkapan dari proses yang disadari (disengaja) atas pembentukan penyusunan tulisan ‘kanonik’ yang dalam bentuknya yang terakhir telah menjadi dasar hidup religius Komunitas orang Yahudi – dan kemudian juga untuk Orang Kristen. Keturunan menggabungkan pendekatan dengan kritisisme dasar atas “dekanonisasi” teks-teks dalam metode-metode eksegetikal yang terbaru.

Tuntutan ini sama sekali dibenarkan. Bentuk terakhir buku-buku Perjanjian Lama dan tujuan/maksud teologis yang diungkapkan di dalamnya harus ditempatkan secara serius dalam cara yang sungguh berbeda dari apa yang telah lama menjadi norma dalam ilmu pengetahuan tentang Perjanjian Lama. Akan tetapi, menurut pandangan saya, hal ini tidak harus menuntun pada perbedaan mendasar di antara keduanya dan pada pendekatan metodologis lainnya. Anak-anak/keturunan merupakan kebenaran pasti bahwa ketertarikan sezaman akan karya ilmiah di atas Perjanjian Lama adalah yang terpenting dalam penyelidikan sejarah awal atas teks kanonis dan dalam penafsiran tingkatan yang berbeda-beda dari sejarah ini dalam berbagai macam konteks historisnya. Seseorang mestinya juga sependapat dengan pandangannya bahwa dalam proses ini, keingintahuan/ketertarikan pada bentuk terakhir dari teks telah hilang dan bahwa sekarang ini ilmu pengetahuan akan Perjanjian Lama tidak memiliki pendekatan metodologis yang mana dapat memperbaiki kehilangan ini. Tetapi pertanyaan menyisakan apakah yang ini perlu ada dan juga menyisakan masalah.

Dalam pandangan saya, karya histories-tradisional dalam Perjanjian Lama yang dibawa/dibahas secara terus-menerus, dapat dan harus melebihi perlawanan yang sekarang ada di antara pendekatan yang diarahkan hanya kepada sejarah tradisi dan di sisi lain diarahkan hanya dalam bentuk terakhir kanonisasi. Secara menyeluruh, tradisi dibuat dengan serius, selanjutnya bentuk terakhir kanonis dari buku-buku individual dan dari Perjanjian Lama sebagai suatu kesatuan juga memiliki tempat di dalamnya. Setelah itu, tak perlulah untuk membela suatu metode khusus penafsiran bagi bentuk terakhir kanonisasi yang berlawanan dengan metode tradisi histories itu.

Akan tetapi, perkiraan bagi sebuah pengembangan yang tetap sedemikian atas metode tradisi histories adalah bahwa literature dan karya teologis yang berperan pada bentuk terakhir ada sekarang hendaknya dibuat secara serius. Sejarah tradisi tidak hanya pengembangan lebih bentuk kritisisme, tetapi dibuat langkah pada taraf berikutnya, pada poin dimana teks menuinggalkan keaslian keadaaan/letak dan menjadi objek literature dan pemeriksaan/penyelidikan teologis dan penafsiran.

Di dalam kerangka buku ini, saya akan coba mendalami perubahan ini dengan suatu metode kemudian memberikan suatu tanggapan di dalamnya. Pada bagian dua, suatu pendekatan telah dibuat untuk memahami teks-teks Perjanjian Lama yang mempunyai ungkapan-ungkapan berbeda menurut bidang-bidang kehidupan di Israel; di mana pusat perhatian yang terpenting ialah sejarah atau terjadinya bangsa Israel dan kemudian bidang social serta lembaga-lembaga religius. Pada bagian tiga, kita sekarang harus mengikuti alur tradisi-tradisi sebagai bahan tambahan; bahwa cara yang terutama sekali untuk diperhatian sebagai literatur teologi pendek tetap saja dibatasi oleh sebagian institusi.

Agar catatan itu dapat dimengerti, perlulah dibuat suatu alasan seperti yang dibuat oleh Childs, Blenkinsopp yakni suatu ‘tujuan kanonik’yang para teolog kerjakan agar dapat dimengerti. Tidaklah cukup hanya memperhatikan kerja otoritas teologi baik ikhusus maupun kelompok. Yang terpenting daripada itu ialah mengenali masing-masing Perjajian Lama yang cenderung mengakhiri dan menyimpulkan pelbagai macam tradisi-tradisi Israel di dalam salah satu catatan pinggir kanon. Apabila cara tersebut digunakan, di mana ada pembaharuan ‘Sitz im Leben’: komunitas religius Yahudi yang memperkaya literature kanon dari tulisan religius mereka, maka terbentuklah suatu dasar kehidupan religius yang pada akhirnya diambilalih serta diakui sebagai kanon leh komunitas kristiani yang berkembang dari komunitas Yahudi.

Kendatipun penting melihat awal mula kanonisasi tersebut, masih butuh tindaklanjutan sebelum kanonisasi tersebut dapat diadakan. Oleh karena itu pengadaan kanonisasi akan terwujud bila mengusulkan jalan keluarnya , tanpa kesanggupan ini semuanya akan berakhir dengan sia-sia. Saya masih saja berharap bahwa hal tersebut menjadi mungkin untuk diketahui direksi dalam menjawab pertanyaan dari tradisi-tradisi Perjanjian Lama hingga pada akhirnya sanggup menindaklanjutinya.

Saya tidak memberikan secara rinci isi dari penyelidikan sejarah tersebut. Hal tersebut telah menjadi bahan diskusi yang lengkap dan rinci disatukan di dalam buku yang ditulis oleh Kaiser dan Smend. Bagaimanapun saya telah mencoba menguraikan masing-masing peristiwa tersebut secara teratur dan juga telah menujukkan bagaimana pandangan saya terhadap peristiwa tersebut.

KELIMA BUKU PENTATEUKH (TORAH)

Kelima buku pertama Perjanjian Lama telah dianggap sebagai buku individu dengan masing nama:pada waktu yang sama. Akan tetapi, mereka dianggap sebagai satu kesatuan. Nama buku Yahudi ini terbentuk dari kata pembukaan, mengingat judul dalam bahasa Yunani (sama dengan Bahasa Latin) menunjukan isi:

1).B`resit: Pada awal mula = Genesis, Genesis (Kejadian)

2).S`mot: Nama-nama = Exodus, Exodus (Keluaran)

3).Wayyiqra: Ketika Ia memanggil = Leviticus, Leviticus (Imamat [buku hukum])

4).B`midbar: Dalam padang gurun = Numeri, Numeri (Bilangan)

5).D`barim: Kata-kata = Deutronomium, Deuteronomium (Hukum kedua [setelah Deut.17.18.dimana arti teks asli Yahudi copy dari hukum]).

Dalam tradisi Yahwis, kelima buku bersama ini, disebut Taurat (atau Taurat Musa, Buku-buku Taurat, dsb). Pembagian dalam kelima buku jelas terlihat bersama ungkapan lain hamisa humse ha-tora, ”lima buku kelima dari Torah”. Kelimanya mengambil dari ungkapan h Pentateukh (biblos) menjadi lima buku. Yang lewat versi Latin disebut Pentateukh (liber) pada akhirnya berparan penting untuk menunjukkan Pentateukh yang biasa dalam peristilahan akademi.

Variasi dalam judul mengambarkan permasalahan karena dengan buku pribadi untuk keseluruhan Pentateukh. Dengan terang laporan dari penciptaan (Kej.1) sampai Kematian Musa (Ulangan 34) merupakan satu kesatuan yang kompeks. Tetapi ini sama jelasnya bahwa masing-masing buku individual itu memiliki karakter yang lebih atau kurang yang berbeda daripada dengan dirinya sendiri dan bahwa pembagian diantara mereka tanpa maksud arbitrasi.Independen Deutronomistis tampak paling jelas.

Demikianlah, kitab Kejadian sungguh-sungguh ada, yakni terdiri dari sejarah awal (bab 1-11) dan kisah-kisah para bapa bangsa (bab 12-50). Sebuah awal baru secara eksplisit ditunjukkan dalam Keluaran 1:1. Batas pemisah ketiga kitab ini satu terhadap lainnya kurang jelas pada awalnya, namun pengamatan selanjutnya yang lebih teliti menunjukkan bahwa masing-masingnya memiliki karakter tersendiri dan tentang itu diperoleh dari batas pemisah tersebut.

1.1 Kitab Kejadian

Kitab Kejadian terbagi dalam dua bagian utama: sejarah awal (bab 1-11) dan sejarah bapa bangsa (bab 12-50). Tiap bagian mengembangkan corak tersendiri sehingga untuk memulainya masing-masingnya harus dibicarakan secara terpisah.

Sejarah awal (bab 1-11) terdiri dari sejumlah kisah yang seturut syarat-syarat terbentuknya mungkin digambarkan sebagai hikayat. Subyek-subyek kisah pada umumnya adalah tipe tokoh-tokoh ideal : suami dan istri (bab 2f), saudara-saudara yang bermusuhan (bab 4), orang-orang yang patut diteladani (6-8), “manusia” (bab 11.1-9); hanya dalam bab 9.10-27 yang sungguh mewakili sebagian orang dari masa di mana narator muncul, yakni dalam diri putera-putera Noah (di sini terdapat sebuah perbedaan yang jelas di antara trio: Shem, Ham dan Japheth dalam v.18 dan Shem, Japheth dan Kanaan dalam vv.25-27 ; vv.18bm 22 berusaha untuk mengimbangkan ketegangan itu).

Dalam tradisi hikayat ini, dunia sesungguhnya yang didiami manusia dilukiskan dalam perspektif petani (Cruseman 1981); manusia (Adam) ditakdirkan Allah untuk mengerjakan tanah (adama, 2;15; 3.17-19,23). Pelanggaran larangan ilahi dalam taman menuntun pada aspek-aspek kehidupan yang lebih berat lagi (kerja keras,dll) (3.14-19). Kutuk pada Kain bahkan memisahkan ia ( dan kota yang didiami kaum nomad, musisi, dan kaum semit yang merupakan keturunannya) dari tanah dan demikian juga dari Allah (4.11f.,14,16). Hubungan antara hal-hal yang bersifat surgawi dan seorang wanita (6.1-4) menghasilkan secara sederhana rentangan kehidupan manusia (v.3), dan pada akhir kisah Allah menanggapi kemanusiaan bangsa Ibrani dengan menyebarkan dan mengacaukan bahasanya (11.1-9).

Terdapat unsur-unsur mitologis yang terisolasi yang nampak secara jelas dalam teks pendek 6.1-4 dan dalam sosok ular pada bab 3. Kisah tersebut melukiskan Allah yang hadir sebagai pribadi manusia pada bab 2f, berjalan di taman (3.8) dan sebagainya, karena di sini Allah dan manusia masih tinggal dalam kesatuan yang tak terpisahkan; setelah pengusiran dari taman tersebut, di tempat lain dalam kisah sejarah pertama, Allah berbicara kepada manusia hanya seperti yang Ia lakukan dalam kisah Perjanjian Lama lainya.

Dua bagian yang panjang ini; 1.1-2.3 (2.4a adalah suatu judul untuk apa yang datang kemudian, bdk., Salib,302; Anak-anak, 145,149) dan 9.1-17 jelas berbeda dari kisah-kisah tersebut. Bagian-bagian tersebut bukanlah semacam “cerita” melainkan berisi garis-garis besar teologis yang mendetail ;suatu konsep sistematis dari penciptaan dalam kerangka pola penciptaan 7 hari, bersama suatu hierarki yang jelas dari karya-karya ciptaan individual dan suatu rekapitulasi dari pernyataan-pernyataan tentang dunia dalam kondisi-kondisi yang berubah setelah periode air bah. Bahasa dan nilai teologis dari perikop-perikop ini berkaitan erat dengan bab 17 dan bagian dari tulisan tradisi para imam yakni tentang kisah Jakob (lihat di bawah).

Kitab Kejadian bab 5;10;11.10-32 membentuk elemen ketiga dalam sejarah awal. Di satu pihak, mereka menguraikan garis keturunan dari Adam (5.3) juga melalui Nuh (5.290 dan puteranya Shem (5.32; 11.10) hingga Abraham (11.26ff.); di lain pihak dalam suatu “ daftar bangsa-bangsa” diuraikan keseluruhan dunia yang dikenal manusia pada masa itu ( bab 10).

Konstruksi sejarah pertama itu dapat diamati dengan jelas. Bagian pertama menggambarkan permulaan sejarah manusia. Penciptaan manusia dan lingkungannya ( 2.4-25); pelanggaran hukum atas larangan ilahi dan pengusiran dari taman (bab 3), dosa pertama manusia terhadap sesama manusia dan kutukan kepada Kain (4.1-16), perkembangan manusia selanjutnya (4.17-26). Bagian ini berakhir dengan pernyataan bahwa penyembahan YHWH dimulai pada saat itu (4.26b), inilah awal periode Ia disembah oleh semua manusia.

Setelah suatu seri kisah dari 10 generasi yang masing-masingnya hidup dalam usia yang sangat panjang, air bah membawa suatu jedah yang mendalam (bdk.Rendtorff 1961.Clark). Pada akhir kisah tentang air bah yang sangat mendetail itu (6.5-8.19), Allah menjamin eksistensi masa depan yang teratur bagi ciptaan agar menjaga kehidupan manusia di kemudian hari (8.21f., juga dari perspektif petani).

Setelah bencana air bah, dosa kembali muncul di antara umat manusia, dan hal ini menyebabkan suatu kutukan (9.20-27)—inilah masa di mana Canaan secara khusus dikesampingkan dari komunitas penyembah YHWH. YHWH kini hanyalah Allah dari Shem (v.26). Akhirnya, melalui pengelompokan umat manusia ke dalam berbagai golongan yang terdiri atas berbagai bahasa yang berbeda (11.1-9), peristiwa ini oleh penulis, pembaca dan pendengarnya, dikenal sebagai sebuah realitas dari dunia mereka.

Dua bagian besar tradisi para imam ditempatkan pada bagaian kunci : pada permulaan (1.1-2.3), dengan jumlah ciptaan yang lebih komprehensif dan sistematis dibandingkan dengan apa yang terdapat dalam bab 2; dan setelah bencana air bah, dengan sebuah pembaharuan dan modifikasi berkat akan kesuburan (binatang-binatang diijinkan menjadi makanan bagi manusia,9.2-4) dan sebuah komitmen yang lebih luas dan tegas dari Allah melalui “perjanjian”, yang akan diingatNya sehingga bencana air bah yang lain tidak akan terjadi lagi di atas bumi (9.1-17). Allah sendiri memberikan “tanda perjanjian”, pelangi, di langit (bertentangan dengan bab 17, berikut ini).

Seringkali unsur lain dalam kisah air bah ini ditempatkan pada bagian tradisi para imam. Tidak terdapat sanggahan bahwa dua unsur literer (paling tidak) terdapat di sana; kendati demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk menyusun dua kisah yang berdiri sendiri, jadi tampaknya jelas bahwa kita memiliki kisah asli yang disertai tambahan-tambahan tertentu.

Lebih lanjut, unsur pengeditan dan perkembangan sejarah pertama dapat diamati dalam judul-judul formal ‘ inilah silsilah….(2.4;5.1;6.9:10.1;11.10 [11.27]). Keaslian dan makna sebenarnya dari rumusan ini diperdebatkan.

Secara literer toledot berarti “keturunan” yaitu jumlah keluarga, keturunan; dari sudut pandang bab.5.1, beberapa orang menduga bahwa mungkin terdapat “kitab keturunan” yang indipenden, yang mana dari sanalah rumusan dan materi silsilah diambil. Dalam konteks sekarang ini, rumusan itu dengan jelas disajikan untuk memisahkan sejarah pertama dan bersamaan dengan itu menjukan garis utama silsilah;dari kisah penciptaan dunia, Adam, Noah dan Shem, hingga Terah ayah Abraham. Di sini mereka menjadi judul untuk jenis teks yang berbeda: 2.4;6.9 ;11.27 yang diikuti dengan sebuah cerita; dalam 5,1;10.1;11.10 diikuti oleh silsilah. Rumusan toledot mendapat tempat yang istimewa dari redaksi dan dapat dilihat sebagai teks asli yang sejak semula telah berdiri sendiri; mungkin mereka dihubungkan dengan tulisan para imam dalam Kej.1.1-2.3; 9-17 dalam sejarah penyusunannya (mengenai peran rumus toledot dalam kisah para bapa bangsa, lihat bagian berikut).

Tidak terdapat pertalian formal dan petunjuk-petunjuk yang spesifik dalam tujuan sejarah pertama dan sejarah bapa bangsa yang mengikutinya. Kisah Abraham dimulai dengan tiba-tiba pada bab12.1-13. ini menandai sebuah permulaan yang pada dasarnya baru dari kisah terjadinya sejarah manusia hingga munculnya sejarah sebuah bangsa yang ketutunannya adalah Abraham. Janji kepada Abraham dan melaluinya kepada semua keluarga di bumi, yang merupakan pusat dari ayat-ayat ini, tentu merupakan poin penting untuk sejarah Israel dan manusia di masa yang akan datang. Bersamaan dengan itu, dalam konteks sekarang ini, ia mempunyai arti penting untuk melihat sejarah masa lalu; kutukan-kutukan pada sejarah pertama (3.14-19:cf.8.21) diperhitungkan dan dipertentangkan dengan janji akan berkat. Dengan ini, terdapat sebuah jembatan dari kisah sejarah pertama hingga sejarah para bapa bangsa.

Von Rad mengembangkan sebuah interpretasi atas sejarah pertama di mana ia melihatnya sebagai sesuatu yang menghantar pada pemilihan Abraham; baginya, ini dihubungkan dengan tujuan teologis penciptaan iman hingga iman penyelamatan yang ditemukan dalam sejarah ini. Westermann secara lebih tegas menekankan kemandirian kisah sejarah pertama, dan Crusemann (1981) menunjukan bahwa sejarah pertama dan sejarah bapa bangsa tidak dapat secara bersama-sama dianggap sebagai karya “jahwistik” karena perbedaan gambaran isinya; mereka hanya disatukan pada bentuknya kemudian.

Kisah bapa bangsa yakni tradisi para bapa: Abraham, Isak, Jakob, dan Yusuf mengambil banyak tempat dalam kitab Kejadian (bab 12-50). Kisah Abraham (12.1-25.10) memuat sebuah seri kisah individual yang berdiri sendiri misalnya Kejadian 12.10-20 (dihubungkan dengan konteks melalui rencan perjalanan dalam 12.9;13.1.3f); 22;23;24. Permulaan kisah ini tidak dihubungkan dengan apa yang ada sebelumnya atau dihubungkan hanya oleh beberapa phrase yang sangat umum (misalnya setelah hal ini…’,22.1; ‘kini Abraham telah tua,24.1); masing-masingnya memiliki sebuah kesimpulan yang tidak dapat dianjurkan sebagai kelanjutan kisah.

Di samping ini kita juga dapat melihat sebuah kisah besar yang kompleks atau kombinasi kisah individual dalam komposisi yang lebih besar, (penjumlahan berikut dihubungkan secara esensial pada analisis yang diberikan oleh E. Blum, yang mengumpulkan penyelidikan- penyelidikan awal dari Gunkel dan Rendtorff 1977.) Dengan demikian bab 13, 18, dan 19 membentuk suatu cerita tentang Abraham-Lot (Gunkel menyebutnya lingkaran kisah Abraham-Lot); di dalamnya bab 13 nyatanya telah disusun dengan suatu sudut pandang bab-bab 18 dan seterusnnya; setelah kedua bagian, jalan Abraham menuju Mamre (13:18; 18:1), dimana YHWH menampakan diri kepadanya, sementara Lot berjalan menuju Sodom (13:12 dan seterusnya; 19:1), dimana dia hampir terjatuh dalam kehancurannya. Sementara bab 18:1-6 mungkin menawarkan suatu kisah mandiri tentang Abraham, bab 19 secara gamlang disusun dengan suatu sudut pandang terhadap konteksnya perihal kisah Abraham-Lot ( bdk. sebagai contoh, kontinuitas dalam kisah bab 18 ini lewat istilah-istilah yang menerangkan sifat-sifat dan waktu harian, berikut paralel-paralel antara bab 18: 1 dan seterusnya dengan 19:1-3). Setelah kehancuran Sodom, arah kisah yang menyinggung Lot itu berakhir dengan kelahiran dua bapak leluhur bagi bangsa Moab dan Amon di daerah Trans-Yordan ( 19: 30-38 ); mirip dengan itu, bab 18 menunjuk kelahiran Ishak yang ajaib ( permainan kata dalam bab 18: 12-15), leluhur bangsa Israel (21: 1-7). Jadi, perpisahan Lot dengan Abraham dalam bab 13 membuka suatu sejarah asal mula bangsa-bangsa Moab, Amon, dan Israel masing-masing di negerinya sendiri. (bab 14 juga berkenaan dengan Abraham dan Lot tetapi mewakili isolasi yang luar biasa dan mengandung suatu gambaran yang sangat berbeda tentang Abraham, sang pahlawan perang.

Bab 20 dengan terang mengandung suatu varian atau duplet bab 12:10-20; tetapi yang kita kupas di sini lebih merupakan suatu penafsiran reflektif atau kolektif secara teologis, yang telah mengandaikan pengetahuan akan kisah dalam bab 12:10-20 (Westermann, komentar). Menurut Blum sesuai dengan bab 21:22 dan seterusnya, suatu kisah Abraham-Abimelekh yang konsekutif telah dihasilkan – dalam kaitannnya dengan perikop tadi; bab 26 (bdk. bahaya yang mengikutinya terhadap ibu bangsa – perjanjian dengan Abimelekh). Kisah itu aslinya bersifat mandiri dan hanya termaktub dalam konteks sastrawinya dalam suatu tahap yang secara relatif terlambat (di sini bab 20 seharusnya ditempatkan sebelum bab 21:1-7, karena dalam periode ini Sarah belum mempunyai anak).

Dalam istilah tradisional-historis, bab 21:8-21 mungkin merupakan suatu varian terhadap kisah asal-usul Ismael dalam bab 16; akan tetapi dalam bentuknya yang sekarang ia merupakan kelanjutan naratif yang perlu atas bab 16, yang didalamnya konflik antara anak-anak Abraham (siapa yang akan menjadi ahli waris? Bdk. bab 21:10,12) dipecahkan melalui pengusiran Ismael. Dalam karangan tentang pengusiran Ismael ini jelaslah kerangka episode-episode pemakluman dan kelahiran Ishak (bab 18; 21: 1-7), akan tetapi, sekaligus bab 21:8 dan seterusnya juga menyiapkan bab 22: setelah Abraham mengutus salah satu putranya ke padang gurun lewat perintah illahi, kini dia diperintahkan untuk mengorbankan putranya yang kedua, yang kini merupakan putra satu-satunya pada ayat 2). Kedua bagian itu terhubung melalui rujukan-rujukan silang atas permulaan kisah Abraham dalam bab 12:1-3: kisah Ismael yang dijanjikan untuk menjadi suatu bangsa (bdk. bab 21:13, 18 dengan 12: 2a) dan bab 22 dengan 12:1 karena perintah untuk mengutus, walaupun mempunyai konteks yang berbeda, mengandung suatu struktur yang paralel. Dalam konteks ini, setelah dibuka melalui bab12:1-3, karier Abraham memuncak pada klimaks dan akhir yang dramatis dalam bab 22. ( Untuk bab 23 dan seterusnya, lihat di bawah ini).

Kisah Ishak amatlah singkat dan hampir tidak berkembang sama sekali. Nampaknya, minat naratif ketika kisah-kisah Bapa-bapa bangsa yang dikumpulkan lebih terkonsentrasi pada Abraham dan Yakub. Maka, kisah Ishak hanya mengandung dua narasi yang mendetail, yang keduanya mempunyai paralel dengan kisah Abraham (bab 26:7-11 [12], 26-31, lihat di bawah). Kisah-kisah ini dihubungkan dengan suatu kisah yang berkelanjutan tentang Ishak di tengah dan bersama orang-orang Filistin dalam perikop-perikop singkat, hampir semuanya dalam bentuk catatan-catatan yang menyinggung semua yang berkaitan dengan sumur-sumur di tanah Negeb; juga ada beberapa referensi mengenainya (bdk.sebagai contoh: ayat 29 dengan ayat-ayat 11,12,26). Tema utama di sini adalah pembagian daerah teritorial antara kaum Filistin dan Israel di tanah Negeb.

Dalam konteks dewasa ini, kisah Ishak telah diselipkan ke dalam permulaan kisah Yakub (bab 25:19-34; 27-35). Berlawanan dengan kisah Abraham, amat mustahillah untuk mengenali tradisi-tradisi individual yang mandiri dalam hampir seluruh materi utama kisah Yakub (kebanyakan baru jelas pada bab 25:29-34; 28:11). Semuanya disubordinasikan kepada suatu tema yang membelokkan jalan cerita: pertengkaran antara Yakub dengan saudaranya Esau (bab 25:19-34; 27; 32 dan seterusnya) dan dengan pamannya Laban (bab 29-31). Di sini episode-episode konflik dengan Esau mengenai hak kesulungan dan berkat (bab 25:19-34; 27) diselingi kisah Yakub dengan Laban menjadi suatu ‘kisah Yakub’ yang berdiri sendiri (Blum; Gunkel menyebutnya lingkaran kisah Yakub-Esau-Laban) dengan sedikit tambahan tema tentang pelarian Yakub (bab 27:43 dan seterusnya; 28:10,20,22) dengan referensi dari bab 31 (khususnya bab 31:13) dan mencapai puncaknya pada ayat-ayat 32 dan seterusnya. Kedua penampakan illahi yakni di Bethel (bab 28:1 dan seterusnya) dan di Penuel (bab 32: 23 dan seterusnya), pada titik tolak yang menentukan untuk Yakub, juga mendukung kisah itu. tak perlu dipertanyakan lagi, kisah ini berasal dari Kerajaan Israel utara (bdk. setting tindakan itu). Menurut Blum, kisah ini secara sepihak melegitimasi sejarah permulaan Kerajaan Israel Utara, sebagai contoh, melalui tekanannya atas tempat-tempat pengurbanan di Bethel (bab 28:11 dan seterusnya; 31:13) dan Penuel (untuk sementara waktu menjadi pusat kerajaan Yerobeam I, bdk. 1 Raj 12-25).

Tradisi mengenai ketiga bapa-bapa bangsa ini dalam kitab Kejadian diikuti oleh kisah Yusuf. Tidak seperti kisah-kisah para bapa bangsa itu, ini merupakan suatu kisah yang berskala luas yang diterima sebagai suatu kesatuan sejak awal dan diwarnai bentuk novel (Gunkel, bdk. Donner). Hal ini sesuai dengan kompleksitas tema-temanya; di sini mengenai seluruh elemen teologi kebijaksanaan (von Rad,1953) dan tema tentang ‘aturan’ (Crüsemann, 1978, 143 dst.: Blum) memang kentara. Adegan tentang berkat pada bab 48 diselipkan pada akhir kisah Yusuf, menyatukan kedua figur utama, yakni Yakub dan Yusuf, dan sekaligus merujuk kembali permulaan kisah Yakub yang mengangkat tema-tema dari bab 27 berikut permulaan kisah Yakub. Tampaknya dengan cara ini adegan itu membantu menyatukan kisah Yakub dan kisah Yusuf secara bersama menjadi suatu ‘kisah Yakub’ yang komprehensif (sejak kelahiran sampai pada kematiannya). Tema bab 28 adalah suatu kisah asal-usul unggulnya suku-suku Yusuf di tengah Israel.

Secara kontras dalam kumpulan ungkapan-ungkapan kesukuan dalam bab 49, kita dapat menyaksikan suatu klaim persaingan secara gamblang meskipun di sini Juda dijanjikan akan menguasai saudara-sadaranya (bab 49:8-12) – suatu situasi yang dimungkinkan oleh ‘penurunan pangkat’ ketiga putra yang pertama (bab 49:3-7). Tradisi-tradisi individual “putra Yakub” telah menunjuk ke arah ini: kisah tentang Simon dan Lewi (bab 34); catatan tentang kelicikan Ruben pada bab 35:21 dan seterusnya; dan kisah tentang Juda pada bab 38, yang tampaknya disisipkan dengan bab 49 menjadi suatu perluasan “kisah Yakub” dalam versi Juda.

Janji-janji itu semakin memainkan suatu peranan dalam terbentuknya “kisah-kisah para bapa bangsa” yang lebih luas sebagai elemen-elemen penyusunan dan penafsirannya. Dengan demikian, janji akan tanah dan keturunan dalam bab 13:14-17 dan bab 28:13-14a, yang dirumuskan secara paralel dalam suatu cara yang khas, membantu menghubungkan tradisi-tradisi tentang Yakub dan Abraham.

Keempat kotbah illahi dalam bab 12:1-3; 26:1-3; 31:11,13; dan 46:1-5a saling berkaitan dengan suatu cara yang lain. Dalam perikop pertama dan ketiga, Abraham dan Yakub diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Mesopotamia menuju tanah yang dijanjikan kepada mereka (Kanaan); dalam perikop kedua Ishak – dengan suatu referensi singkat yaitu sikap Abraham dalam bab 12:10-20 (bdk. bab 26:1!) – untuk meninggalkan Kanaan menuju Mesir; akhirnya dalam perikop keempat, dengan referensi yang jelas dalam bab 26 (46:1: Bersyeba; Allah ayah Ishak), Yakub ditantang untuk melakukannya secara persis, walaupun ini disertai dengan suatu janji bahwa dia akan dibawa kembali dari sana. (Gambaran-gambaran umum lebih lanjut merupakan janji tentang menjadi suatu bangsa [12:2a; 46:36b; bdk. juga bab 21;13,18], janji akan penyertaan Allah dengan bapa-bapa bangsa [12:2a; 26;3a; 46;4] dan seterusnya). Dengan demikian dalam kotbah-kotbah illahi ini perjalanan para bapa bangsa itu secara berkelanjutan langsung diarahkan menuju tanah Kanaan sebagai tujuan mereka, yang dengan suatu pelanggaran saja memasuki wilayah-wilayah sekitar Mesopotamia atau Mesir, terbukti membahayakan kesatuan antara bapa-bapa bangsa ini (yaitu Israel) dengan tanah mereka. Maka, (sesuai dengan janji akan menjadi suatu bangsa) suatu perhatian akan tradisi naratif dimunculkan tetapi diformulasikan secara lebih eksplisit dan fundamental dengan otoritas illahi.

Secara historis, mungkin ini dilihat secara berbeda latar belakang situasi dimana eksistensi bangsa dan kepemilikan mereka atas tanah mengandung resiko, yaitu selama masa pembuangan. Pada titik itu tradisi bapa-bapa bangsa ini pastilah mendapat arti secara langsung. Janji-janji akan berkat dalam Kej 12:3 dan 28:14b (setiap kali menjadi janji pertama dalam kisah Abraham dan Yakub), yang menjamin bangsa Israel sehingga bangsa itu akan melihatnya sebagai contoh bangsa yang diberkati oleh Allah, hendaknya juga dimengerti dalam konteks ini.

Unsur-unsur komposisi ini melingkupi kisah Abraham, kisah Ishak dan kisah Yakub atau Yusuf secara bersama-sama dalam suatu kesatuan yang lebih besar dan koheren. Mata rantai antara kisah bapa-bapa bangsa tradisi Pentateukh yang lebih luas hanya terdapat pada pembaharuan-pembaharuan teologis yang lebih luas.

Disini kita harus menyebutkan pertama-tama sekumpulan janji (12:7; 16:10; 22:16-18;24:7; 26:3b-5, 24; 28:15; 31:3; 32:10-13; 50:24 dan seterusnya) yang ditunjukkan bersama-sama melalui formulasi-formulasinya, rujukan-rujukannya dan sebagainya. Naskah utama dalam kumpulan ini adalah bab 15 yang di dalamnya janji-janji ini dikembangkan menjadi semacam “kisah tentang janji”: Abraham akan mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang di langit (ayat 1-6), dan mereka akan memiliki tanah (ayat 7-21). Dalam ayat 18, hal ini diungkapkan dalam suatu bentuk khusus yang agung. YHWH menyimpulkan suatu perjanjian (berit) dengan Abraham, yang berisikan janji akan tanah kepada keturunannya. Di sini kita memiliki ungkapan suatu konsepsi teologis (bdk. contohnya: bab 22:16-18; 26:3b-5) yang menetapkan pernyataan komprehensif dalam kitab Ulangan yang karenanya biasa disebut “Kisah Deuteronomistis”. Kej 15 secara keseluruhan merupakan bagian dari tahap pembaharuan Deuteronomistis ini (Rendtorff 1980, Blum). (Tahap ini tampaknya juga disisipkan dalam bab 24, suatu kisah yang amat belakangan). Mengenai artinya dalam kerangka perkembangan Pentateukh, lihat di bawah ini.

Kita dapat melihat revisi lebih lanjut pada bab 17. Di sini konsep ‘perjanjian’ (covenant) dikembangkan pada petunjuk yang lain. Dari pihak YHWH ini janji akan keturunan yang tak terhitung berada di bagian awal (ay. 2,4), bersama dengan janji bahwa YHWH akan menjadi Allah Abraham dan keturunan-keturunannya (ay. 7s.; janji akan tanah juga dimasukkan pada ay. 8a). Sunat diwajibkan mulai Abraham dan keturunannya sebagai suatu tanda perjanjian, dan ini dipaparkan melalui perintah-perintah kultis secara mendetail (ay. 9-14). Di sini kita dapat melihat suatu tingkatan penyuntingan dari “kalangan imam”. Beberapa bagian dalam kisah Yakub juga terdapat di sini: di awal, terdapat pada berkat Isak terhadap Yakub (27.46-28.9); dan di akhir, terdapat pada pembicaraan ilahi dan reaksi Yakub (35.9-15), yang memperlihatkan hubungan yang dekat pada Kej. 17 (bdk. juga 48.3s.). Di sini kita juga memberi koreksi tematis terhadap tradisi awal. Dengan demikian sesuai bab 27.46-28.9—berlawanan dengan kisah dalam bab 27—karena takut pada Esau, Yakub tidak pergi kepada Laban, melainkan tawar-menawar dengan ayahnya, dan ketika diperiksa kembali Esau muncul sebagai seorang tokoh yang buruk (karena para istrinya adalah orang asing, bdk. 26.34f; 27.46;28.1,8s.); 35.9-15 nampaknya kembali menjadi suatu pembukaan tentang peristiwa di Betel dalam 28.11ss., yang menantang inti penegasannya, yakni bahwa Allah menyuruhnya untuk tinggal di Betel (bdk. 35.13).

Kita juga harus menghubungkan beberapa informasi kronologis yang timbul dalam kisah-kisah para bapa bangsa terhadap “revisi dari kalangan imam” itu, yaitu informasi tentang usia Abraham: mulai keberangkatannya dari Haran (12.4: 75 tahun), kelahiran Ismael (16.16: 86 tahun), penyunatan Ismael (17.1,24: 99 tahun; Ismael, ay. 25, 13 tahun), kelahiran Isak (21.5: 100 tahun), hingga kematiannya (25.7: 175 tahun). Terdapat kesamaan informasi mengenai para bapa bangsa itu. Angka-angka yang dibulatkan itu (75,100,175) menunjukkan bahwa inilah sistem yang dijunjung tinggi.

Pengeditan dari “kalangan imam” ini juga pada intinya menyusun kisah-kisah para bapa bangsa sebagaimana sekarang kita memiliki cerita-cerita itu dengan keadaan yang lebih maju, dengan menggabungkan semua hal penting ke dalam bagian-bagian yang ditandai dengan toledot. Ini pertama-tama terdiri dari rumusan-rumusan toledot (11.27;25.12;25.19;36.1 [9];37,2). Dalam cerita-cerita para bapa bangsa, kisah-kisah itu menjadi judul untuk sejarah para putra yang disebutkan dalam rumusan itu atau untuk suatu daftar keturunannya (atau keduanya sekaligus). Kerangka yang kedua (bukan dalam peristiwa Esau) yang berkaitan dengan judul itu adalah suatu catatan tentang kematian dan (dalam garis utama para bapa bangsa Israel) penguburan ayah oleh anak-anaknya (bdk. 25.17; 35.29;49.33;50.13). (Dalam teks ini ada rujukan-rujukan yang kembali pada Kej. 23 sesuai catatan-catatan tentang penguburan; tetapi kisah ini mungkin telah memiliki suatu sejarah yang bebas dari revisi kalangan imam.) Hanya dengan Abrahamlah judul toledot itu, yang berhubungan dengan catatan penutup (25.8ss.) ‘yang hilang’ (memang kita memiliki rumusan sesuai dengan Terah dalam 11.27); namun, ini diakibatkan oleh susunan materi yang tradisional itu: gelar Abraham akan harus menghantar cerita Isak, tetapi sebagian besar dari bagian itu (bab 26) telah digabungkan ke dalam cerita Yakub.

Jelaslah bahwa teks-teks dari “kalangan imam” yang berbeda itu mengembangkan tradisi yang ada dan sama sekali milik bersama sebagai suatu “kisah” yang bebas, karena dengan luas diandaikan (bdk. Salib).

Akhirnya dalam hal tingkatan revisi dari “kalangan imam” itu, sejarah utama (lih. di atas pada 1.1-2.3; bab 9) dan kisah-kisah para bapa bangsa membentuk suatu kisah berkesinambungan. Ini membuat kandungan bentuk final yang “kanonis” dari kitab Kejadian bergerak mulai penciptaan sampai penebusan (Anak-anak).

1.2 Kitab Keluaran

Permulaan Kitab Keluaran menandai suatu perubahan mendalam terhadap pengandaian-pengandaian kisah. Dalam kisah-kisah para bapa bangsa tokoh-tokoh protagonis selalu bersifat individual, tetapi kini bangsa itu membuat suatu penampilan. Peralihan itu secara eksplisit ditandai di awal. Ketujuh puluh ‘jiwa’ milik keluarga Yakub dan para putranya (1.1-15) menjadi “orang-orang Israel” (ay. 7, bene yiśra’el, ‘anak-anak Israel’ yang tradisional) atau ‘bangsa Israel’ (ay. 9), yang memenuhi seluruh negeri.

Hakekat cerita itu berubah pada saat yang sama. Hanya kadang-kadang ada suatu pertemuan antara individu-individu (mis. 2.1-10, 11-15a, 15b-22). Biasanya bangsa-bangsa itu sendiri merupakan salah satu dari pasangannya. Adakalanya bangsa itu sendiri dibedakan dengan orang-orang Mesir atau dengan Firaun (mis. 1.8-14); lebih sering Musa mewakili bangsa itu, acap kali bersama Harun (khususnya bab 7ss.). Tetapi Musa tidak hanya mewakili bangsa Israel terhadap orang-orang luar; banyak teks berbicara tentang konflik internal antara Musa (dan Harun) dan bangsa Israel, dan tentang keraguan dan ketidakpercayaan mereka (demikian dalam antisipasi 4.1ss.; lalu 5.19ss.; 6,9; 14.10ss.; 16;17.1-7;32). Oleh karena itu kisah-kisah itu juga—pada tingkatan yang lebih besar daripada kisah-kisah dalam kitab Hakim-hakim—memiliki suatu tema yang umumnya ‘teologis’: penindasan orang-orang Israel (bab-bab 1s.) merupakan pengandaian dari janji pembebasan (bab-bab 3s.). Sambungannya kemudian hanya berkaitan dengan bagaimana Allah melaksanakan rencana-Nya untuk membebaskan Israel dan bagaimana orang-orang Israel bereaksi terhadap bahaya-bahaya atas cara itu.

Rasanya diragukan seberapa jauh kita bisa mengandaikan kisah-kisah individual di sini. Hanya ada sedikit cerita individual yang dapat diuraikan (mis. 2.1-10, 15b-22; 17.1-7, 8-16). Bab 3 memulai seperti sebuah kisah asal-usul (etiologis) tentang sebuah tempat yang suci (ay. 1-6), tetapi kemudian menjadi suatu wacana ilahi dengan ruang lingkup yang lebih luas, yang mencapai puncaknya pada panggilan Musa (sampai 4.31). Cerita-cerita yang lain sungguh kentara dipengaruhi konteks yang lebih luas sehingga tidak memperlihatkan struktur cerita yang bebas (mis. 1.15-22; 2.11-15a). Sebuah kerumitan besar mengenai tulah dimulai pada 7.8, yang setelah kesimpulan sementara pada 10.28s, dalam cerita mengenai tulah terakhir (pembunuhan anak sulung) dilanjutkan dengan penyerahan dari Firaun dan eksodus (11.1-13.16); bagian ini langsung diikuti dengan cerita tentang penyeberangan Laut Merah dan pembebasan dari kejaran tentara Mesir (13.17-14.31). Teranglah bahwa dalam perbandingan dengan cerita-cerita para bapa bangsa, sedikit bebas, yang telah membentuk bagian-bagian naskah tradisional sudah digunakan di sini. Itu juga merupakan alasan penting mengapa tahap-tahap individual dalam perkembangan teks tidak dapat lagi diikuti dengan begitu jelas dalam tradisi eksodus.

Bagian pertama kitab Keluaran (1-15) dengan sangat sengaja bergerak menuju eksodus dari Mesir, yang cukup dekat dikaitkan dengan Paskah. Karena itu, bahkan telah ada keprihatinan untuk melihat keseluruhan bagian ini sebagai suatu legenda sakral tentang Hari Raya Paskah (Pedersen). Sungguh memungkinkan bahwa teks-teks itu dihadirkan dan bahkan mungkin ‘ditampilkan’ sebagai sebuah drama kultis dalam konteks Hari Raya Paskah/Mazzoth. Namun, adanya versi dari bab ini memberikan kesaksian terhadap suatu karya yang hati-hati atas redaksi teologis: setelah deskripsi tentang penindasan, perubahan nilai ditandai oleh YHWH yang mendengarkan ratapan umat Israel dan ‘yang mengingat perjanjiannya dengan para bapa bangsa’’ (2.23-25); ketika Musa memberitahukan pembebasan kepada umat Israel, mereka ‘percaya’ (4.31). Pernyataan tentang kepercayaan mereka ini kemudian diterima lagi dengan sungguh-sungguh setelah pembebasan kejaran orang Mesir di Laut Merah (14.31). Dengan ini cerita sampai pada suatu kesimpulan yang jelas. Nyanyian pujian dalam 15.1-18 (19-21) diletakkan pada poin ini sebagai gema nyanyian pujian dari peristiwa itu, dan juga mungkin karena dari sebuah kepentingan liturgis yang sesuai.

Kel. 15.22 melukiskan keberangkatan orang-orang Israel lebih lanjut. Setelah memberikan semua yang telah dikatakan sejauh ini, tujuan perjalanan mereka adalah tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka. Tetapi, pertama-tama mereka tiba di Sinai, yang dalam istilah geografis menjadi tanda sebuah jalan utama yang memutar. Berkaitan dengan hal ini von Rad (1938) tertarik pada fakta mencolok yang dalam sejumlah bagian-bagian teks seperti kredo, eksodus dari Mesir diikuti tanpa suatu perubahan mengenai masuknya ke tanah terjanji (Ul. 26.5-9;6.20-25; bdk. I Sam.12.8; Kel.15:12s.; Mzm.135.8-12). Pada teks-teks lain terdapat kurang lebih sebutan yang diperluas antara dua peristiwa tentang pengembaraan di tempat-tempat yang belum terjamah (mis. Yos. 14.7b; Mzm. 78.52b;136.16;105.40s.; Yer.2.6; Amos 2.10), tetapi di sini Sinai juga tidak disebutkan.

Jadi pada intinya peristiwa-peristiwa di Sinai dengan jelas merupakan suatu tradisi bebas yang pada awalnya tidak digabung dalam cerita tentang eksodus dari Mesir. Dari segi sifat kultis yang ditandai dari bagian teks yang berbelit-belit tadi, kelihatannya jelas bahwa kita harus melihat alasannya dalam penggunaan liturgis yang khusus pada tradisi Sinai. (Di sini istilah ‘perikop Sinai’ dalam sebuah frase yang berasal dari liturgi, sering digunakan.)

Hitungan tentang lamanya tinggal di Sinai merupakan suatu struktur kompleks yang sangat mencolok dan serentak bagian teks yang sangat luas itu berhubungan dengan Pentateukh (Kel.19.1-Bil.10.10). Sebagian besar dari cerita itu dibentuk dari kumpulan-kumpulan hukum dan peraturan kultis dari jenis-jenis dan sumber-sumber yang sangat berbeda, yang kini telah dibawa bersamaan dalam kerangka naratif.

Bagian bebas yang pertama dimuat dalam Kel. 19-42. Bagian ini berisi dua bagian teks yang legal: Dekalog (20:1-17) dan Kitab Perjanjian (20.22-23.19; nama itu diambil dari 24:7).

Dekalog, yang dengan sedikit perubahan juga tampak dalam Ul. 5.6-18 (21), berisi bagian-bagian cerita mengenai larangan-larangan, anggota-anggota individual yang dari situ terutama dimulai dengan lo’ yang negatif, ‘tidak’; namun, perintah-perintah tentang menjaga kekudusan hari Sabat (ay. 8), dan menghormati orangtua diberi dalam suatu rumusan yang positif. Tak mungkinlah merekonstruksi suatu bentuk dasar yang seragam. Kel. 34.28 telah mengandaikan bahwa ada sepuluh perintah (bdk. Ul.4.13); tetapi, penomorannya telah berubah dalam tradisi teks Massoretik Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh sistem penekanan ganda. Secara khusus ada suatu perdebatan seperti untuk apakah larangan tentang wajah-wajah (ay.4ss.) harus diperhitungkan sebagai suatu perintah (yang akan bermakna yakni ay. 17 hanya mengandung satu perintah) yang bebas (kedua). Dalam isinya, Dekalog itu memuat larangan-larangan dan perintah-perintah kultis (ay. 3-11); dan larangan-larangan dan perintah-perintah yang berhubungan dengan sikap antar individu (ay. 12-17). Jadi, Dekalog tersebut mencakup satu bidang yang lebih luas daripada bagian-bagian larangan yang lain dan dimengerti sebagai satu kumpulan peraturan-peraturan dasar.

Kitab Perjanjian adalah suatu kumpulan perintah-perintah legal dari jenis yang sangat berbeda. Bab 21.1ss. memuat pernyataan-pernyataan resmi, terutama dengan suatu rumusan kasuistik, mengenai hukum perbudakan (21.2-11), penyiksaan (21.18-36; dalam ay. 23s. lex talionis, hukum pembalasan) dan kejahatan-kejahatan yang berhubungan dengan kepemilikan (21.37-22.16); di antaranya adalah suatu rangkaian dari pernyataan apodeiktik tentang kejahatan-kejahatan yang menghasilkan hukuman mati (21.12-17). Selain itu, Kitab Perjanjian berisi peraturan keagamaan dengan pelbagai jenis, mengenai berhala-berhala dan bangunan altar/mesbah (20.23-26); sihir, bestialitas, persembahan kepada berhala-berhala (22.17-19); hujatan dan kutukan (22.27); daging binatang-binatang buas yang tidak dipotong secara sembarangan (22.30); dan petunjuk-petunjuk tentang persembahan kultis (22.28s.), tahun sabat, hari-hari raya, pesta-pesta, dan korban-korban (23.10-19); terdapat peraturan yang lebih lanjut mengenai sikap terhadap orang-orang asing, kerugian sosial, dan ‘musuh-musuh’ (22.20-26; 23.4s.,9) sebagaimana cara kerja yang legal (23.1-3,6-8). (Untuk 23.20-30 lihat di bawah.)

Dekalog dan Kitab Perjanjian telah disisipkan dalam kerangka cerita, yang selanjutnya telah menyatukan dan mengolah kembali pelbagai unsur dari tradisi.

Dalam Keluaran 19, awalnya keluaran dari Mesir ditekankan sebagai perkiraan akan pewahyuan kehendak ilahi yang akan datang (ayat 4, bdk. Juga 20: 2) yang menyebabkannya dituntun ke dalam konteks yang lebih luas dari tindakan historis YHWH terhadap Israel. Selanjutnya mengikuti persiapan-persiapan bagi pewahyuan Dekalog, yang di dalamnya ada penekanan khusus atas kedudukan istimewa Musa sebagai penerima langsung dari hukum (ayat 9, 20 dll.).

Setelah pewahyuan Dekalogitu, kedudukan khusus Musa ini lebih lanjut dikuatkan oleh ketakutan orang-orang Israel (20:18-21). Pada saat yang sama hal ini menghasilkan suatu pembedaan antara Dekalog dan hukum-hukum yang menyusul dalam Kitab Perjanjian. Keduanya diberikan Allah di Sinai,tetapi karena orang-orang Israel takut pada suara Allah hanya Musalah yang menerima hukum-hukum yang lain dengan maksud supaya Musa yang menurunkannya bagi orang-orang Israel. Jadi Dekalog merupakan dasar dan semua hukum yang mengikuitnya adalah perkembangan – dan Musa adalah pengantara. Akhirnya keseluruhan pernyataan akan hukum dalam bab 24 ditutup dengan suatu pengikatan perjanjian yang sungguh-sungguh (lagi, yang memasukkan suatu keberagaman tradisi-tradisi); di sini kata-kata kunci yang menentukan ’perjanjian’ dan ’mendengarkan suara YHWH’ dari 19:5 dibicarakan kembali dalam 24:7. jadi Keluaran 19 – 24 sekarang membentuk isinya sendiri yang kompleks.

Ada ’dekalog’ lainn dalam Keluaran 34:10-26 kerap menendakan suatu dekalog kultis, mirip dengan konteks dari suatau upacara perjanjian (ayat 10,27).

Bagian 34:10-26 memiliki sejumlah paralel ceritara dalam Kitab Perjanjian di atas semua yang ada dalam 23:12-19 (dengan suatu urutan berbeda dari firman-firman individual) dan dalam 22:28. Yang pertama dari dua firan (34:14,17) berhubungan terhadap firman-firman yang pertama (atau yang pertama kedua) dari Dekalog (20:3-5; terhadap 34:17, bdk. juga 20:23). Fakta dari hal ini adalah bahwa firman-firman individual dan larangan-larangn sering diturunkan dalam beberapa seri atau kumpulan.

Bagian ini, juga telah dirangkumkan dalam suatu kerangka lisan dan kemudian dikombinasikan dengan tradisi kemurtadan orang-orang Israel dari YHWH, melalui pembuatan ‘Anak Lembu Emas’ (bab 32). Sebagai suatu kesimpulan dari hal ini, Keluaran 32 – 34 sekarang membentuk suatu seritra khusus yang kompleks, yang membicarakan tentang keretakan dan pembaharuan perjanjian. Dalam tampilan bentuk ‘kanonis’ dari perikop Sinai itu, kita oleh karenanya melihat bagaimanapada permulaan tidak ada masa yang ideal ketika Israel patuh. Perjanjian hancur dan pembaharuan perjanjian, sah dari yang kemudian, memiliki dasarnya dalam rahmat dan pengampunan-pengampunan ilahi (Childs, 175).

Akhirnya, Keluaran 25 – 40 sangat jelas berbeda dari lingkungannya. Bab-bab itu memuat petunjuk-petunjuk untuk bangunan kemah suci dan bagi kebiasaan-kebiasaan cara memuja yang Musa terima dari Allah di Sinai (25 – 31), yang mana dilanjutkan dalan Kitab Imamat (Imamat 8) melaporkan pelaksanaan pentahbisan iamam yang diatur dalam Keluaran 29). Bab-bab itu termasuk suatu tradisi imami yang berpusat pada kultus dan pada detail-deetail yang tepat dari plaksanaannya.

Penyisipan hal itu dalam poin ini sungguh dipertimbangkan dengan baik. Setelah penyimpulan dari perjanjian, Musa dipanggil lagi ke Gunung Sinai (24:12) di mana ia menerima petunjuk-petunjuk bagi kemah suci dan cara memuja. Sementara ia menghabiskan empat puluh hari dan empat puluh malam di Gunung Sinai (ayat 18), orang-orang Israel nmelaksanakan kemurtadan (32:1). Hanya setelah pembaharuan perjanjian (34) pembangunan kemah suci dilakukan (ayat 35). Kebiasaan-kebiasaan dan pengimplimentasian cara memuja sampai pada suatu kesimpulan dalam petunjuk tentang Hari Pendamain (Imamat 16), dalam mana kemah suci secara tetap dibersihkan dari semua kenajisan, pelanggaran-pelanggaran dann dosa-dosa orang-orang Israel (ayat 16).

Mata rantai selanjutnya yang terkandung dlam kenyataan bahwa awan pada pertama sekali menutupi Sinai dan pada saat yang sama menyembunyikan ’kemuliaan’ (kabod) YHWH (keluaran 24:15-18), mengangsur ke kemah suci setelah kemah itu ditegakkan (40:34). Dari sekarang, pada kehadiran YHWH yang diperlihatkan dalam kabod–Nya menyertai Israel dalam perjalanannya melalui padang gurun. (Dalam 40:36-38 tradisi tiang-tiang awan dan api telah dikombinasikan dengan hal ini, bdk. Keluaran 13:21; 14:19,24; Bilangan 9:15-22; 10:11, dll.).

Di sana tersisi bagain Keluaran 15:22 – 18:27 yang sekarang berada antara keluaran dari Mesir dan ketibaan di Sinai. Di sisn teks-teks itu membawa serta semua perjanjian dengan pemberhentian di padang gurun. Bebrapa dari cerita itu memiliki maksud yang berkenan dengan tempat dan mungkin secara asli diteruskan sebagai aetiologi lokal (Mara, 15:23; Massa dan Meriba 17:7; juga Elim 15:27; Rephidim 17:1,8). Yang menaytukan mereka bersama dalam pemunculan bentuk mereka adalah ’sungut-sungut’ orang-orang Israel melawan Musa (dan Aaron) (15:24; 16:2, 7-9, 12; 17:3). Alasan bagi sungut-sungut itu adalah kehausan (15:24; 17:3) atau kelaparan (16:3) dihubungkan dengan suatu celaan pada Musa karena telah memimpin orang-orang Israel keluar dari Masir dan membawa mereka pada keadaan sekarang.(bdk. juga 14:11). Jadi dalam perhentian terakhir hal itu dilangsungkan melawan YHWH sendiri (bdk. Coats) dan membentuk suatu kontras yang tajam dengan ’iman’ orang-orang Israel setelah pembebesan di Laut Merah (14:31; di sana juga ada sisebutkan tentang kepercayaan dalam YHWH dan Musa). Pada saat yang sama hal itu dipersiapkan bagi kemurtadan orang-orang Israel di Sinai yang dengan mirip mengandung suatu elemen yang langsung melawan Musa (32:1).

Hanya Keluaran 18 yang tidak berisi tema tentang sungut-sungut. Bagaimanapun, seritra itu dihubungkan denga figur Yitro yang dapat muncul secara sulit di tempat lain.

Kitab Keluaran telah dihubungkan dengan Kejadian dlam beragam cara dalam proses redaksi. Beberapa referensi eksplisit meneruskan dan melatari pemunculan tanda-tanda gaya Deutronomistis dalam Kejadian 50:24. jusuf memberitahukan sebelum kematiaanya bahwa YHWH akan menuntun Bangsa Israel keluar dari Mesir ‘ke tanah yang telah dijanjikanNya kepada Abraham, Isak, dan yakub’. Dalam Keluaran 33:1 Musa menerima dari YHWh perintah untuk memimpin umat Israel ke tanah yang dijanjikan kepada Para Bapa Bangsa dalam kata-kata yang sama.

Kutipan terhadap janji tanah kepada para Bapa Bangsa ini, juga muncul dalam campur tangan Musa setelah keretakan perjanjian (32:13, terjalin dengan janji akan keturunan, bdk. Kejadian 22:17; dalam janji akan tanah, bdk. lebih lanjut Keluaran 13:5,11).

Perintah untuk berangkat ke tanah terjanji bagi Bapa-bapa terjalin dalam Keluaran 33:2 dengan janji bahwa YHWH akan mengutus seoarang ‘melamar’ (mal’ak) sebelum Musa. Janji yang sama muncul dlaam 32:34 setelah memperdengarkan campur tangan Musa (ayat 13). Nayatanya, kemdian gambaran malaikat penuntun (penolong) itu dimasukkan bagi tahap redaksi deutronomistis ini. Oleh karena itu penyimpulan paranetis bagi Kitab Perjanjian ini (23:20-33) dalam mana tuntunan malaikat itu disebutkan dua kali (ayat 20,23) juga harus dimasukkan dalam lapisan ini. Penuntunan kembali Israel (bdk. Ulangan 1:8; 6:10, dll).

Suatu hubungan yang lebih jauh dengan sejarah Para Bapa-Bapa muncul dalam Keluaran 2:23-25; 6:2-8, di mana ada suatu perujukan kembali terhadap perjanjian dari YHWH dengan para bapa. Secara khusus yang kedua dari teks-teks ini memperlihatkan suatu persamaan yang jelas dengan Kejadian 17 (tapi bdk. juga KEluaran 31:12-17) dan oleh karena itu dihubungkan kepada redaksi imami. Secara nyata lapisan redaksi ini dicoba sekali lagi untuk menekankan hubungan sejarah Bapa-Bapa dengan tradisi Musa.

1.3 Kitab Imamat

Kitab Imamat hampir keseluruhan terdiri dari materi formal mengenai masalah pengurbanan. Beberapa bagain cerita juga berbicara tentang tema pengurbanan; perumusan pengangkatan imam dibahas dlam Keluaran 20 (Imamat 8) dan aturan pertama korban untuk membangun altar yang baru (9), doa bagian mengenai persembahan kurban yangbenar (10:1-5, 16-20) dan satu mengenai seorang penghojat (24:10-14, 23).

Naskah-naskah dikumpulkan bersama dalam Kitab Imamat sangat berbeda bentuk sumbernya. Faktanya naskah-naskah itu dikumpulkan di sin untuk menggambarkan seluruh undang-undang pengurbanan seperti yang telah diberikan kepada Musa di Sinai (26:24; bdk. 7:38; 25:1; 27:34). Sub-sub koleksi yang beranekaragam masih bisa dikenali dengan jelas; sub-sub itu tidak disusun untuk konteksnya saat ini dan pada mulanya mungkin ditemukan dengan cara yang lebih atau kurang independen.

Imamat 1 – 7 terdiri dari sebuah kumpulan aturan mempersembakhan kurban yang kemudian terbagi ke dalam ritual pengurbanan (1- 5) dan aturan yang lain berkenan dengan pelaksanaan ritualnya (6). Aturan-aturan itu merefleksikan tahap-tahap yangberbeda sejarah persembahan korban Bangsa Israel, sebagaimana nyata melalui fakta bahwa rangkaian jenis persembahan itu dapat dibagi atas dua bagian yakni kurban penebus dosa dan kesalahan, yang selanjutnya (6:17-7,7) dimajukan dari tempat sebelumnya.

Aturan-aturan untuk kemurnian dalam Imamat 11 – 15 muncul sebagai suatu umpulan naskah-naskah lanjutan. Kumpulan itu terdiri atas bagian-bagian tersendiri mengenai binatang yang haram dan halal (11, bdk. Deutro. 14:3-31), kemurnian atas wanita setelah melahirkan bayi (12), kusta dan penyakit-penyakit lain yang muncul pada manusia, pakaian dan rumah (13), dan pemurnian melalui pengekangan tubuh. Mungkin bab ini suatu kali pernah menjadi kumpulan hukum, sebagaimana dapat dibela dengan melihat setiap bagian yang berakhir dengan kata tora (11:46; 12:7; 13:59; 14:32, 54,57; 15:32).

Imamat 17 – 26 biasanya ditandai dengan ’Tanda Kekudusan’ dan diterima sebagai suatu kumpulan hukum-hukum yang independen. Pada saat yang sama, secara berlanjut ditekankan bahwa tiada tatanan batiniah yang dapat dikenali dalam ini. Oleh karena itu lebih aktuallagi eksistensi dari ’Tanda Kekudusan’ ini secara regular telah dipertanyakan (bdk. Wagner). Nyatanya bab-bab individual memiliki ciriciri yang sangat beda. Lebih lagi kata hanya dalam bab 19 – 22 dalam kelompok teks-teks ini diturunkan (bdk. 19:2), muncul hanya dalam bab 19 – 22 dalam kelompok teks-teks ini (19:2; 20:7; 21:6-8, 15, 23; 22:9,16, 32); bagaimanapun hal itu terjadi juga diluarnya (contoh 11:44). Jadi Imamat 17 – 26 dapat secara meykinakan diterima sebagai sutau kumpulan independent.

Imamat 17 – 20 menguraikan denganmirip kultus yang najis, di atas semua yang tak dapat dihilangkan. Oleh karena itu kita kerap menemukan di sini pernyataan bahwa seseoarang yang melampaui melawan hokum-hukum khusus ‘diputuskan’ dari komunitas persekutuan dan umat Allah (17:4,9, 10, 14; 18:29; 19:8; 20:3, 5, 6, 17). Kenajisan ‘yang tak dapat ditahirkan’ yang dekian (Wagner) dapat terjadi melalui pembelaan-pembelaan melalui aturan-aturan yang sacral atau melalui memakan darah (17), hubunganseksual yang haram (bab 18), kejahatan-kejahatan membaea hukuman mati 9bab 20; factor yang umum dalam kumpulan aturan-aturan yang berfariasi dlam bab 19 tidaklah jelas). Imamat bab 21 memperbincangkan lebih jauh aturan-aturan khusus bagi kekudusan imam-imam (21) dan kebaktian-kebaktian kurban (22).

Perbedaan antara kenajisan yang dapat ditahirkan dan yang tak dapat ditahirkann juga membuat posisi Imamat 16 jelas, aturan-aturan bagi ‘Hari Raya Pendamaian’ (yam ha – kippurium, bdk. Imamat 23:27), antara Imamat 11 – 15 dan 17.

Seluruh penyucian dari kenajisan menjadi suatu kesimpulan dan puncak dari upacara tobat tahunan yang meriah itu, yang pada waktu yang sama juga dilaksanakan penyucian tempat kudus dari kenajisan yang disebabkan oleh semua peristiwa yang untuknya upacara tobat tidak dapat dilaksanakan (tidak berlaku).

Awalnya detail-detail penanggalan dikumpulkan dalam Im 23-25: penanggalan pengurbanan (23), yang dilengkapi dengan aturan menyalakan pelita dan menyajikan roti (24: 1-9); peraturan tentang tahun sabat (25:1-7) dan tahun Yubelium (8-13). Pada bab 24:15-22 peraturan lebih lanjut seputar kejahatan yang diganjar dengan hukuman mati telah dimasukkan ke dalam cerita tentang penghujat (24:10-14,23).

Kumpulan-kumpulan yang beragam ini sekarang bertempat pada konteks yang lebih luas, yang juga menjadi bagian Kitab Keluaran. Bab terakhir, Im. 26 mungkin dimaksudkan sebagai kesimpulan terhadap seluruh undang-undang di Sinai (Bdk. ayat 46; yang diulangi dalam 27:34, sesudah suatu tambahan). Itu merujuk balik ke peraturan dasariah: larangan pembuatan patung Allah, yang berasal dari Dekalog (Im. 26.1; Bdk. Kel.20.4f.) dan perintah tentang hari sabat (Im. 26.2; Bdk. Kel. 31.12ss.). Ini menjanjikan berkat bagi Israel, jika mereka mentaati hukum yang disampaikan di Sinai (ayat14-38) dan akhirnya mengharapkan bahwa Orang Israel “yang selamat” bertobat agar Yahwe “akan mengingat perjanjian-Nya” (ayat 39-45)

Di sini kita memiliki gaung perumusan dari teks-teks Imamat terdahulu (contoh Kel.6:2-8). Itu memperlihatkan bahwa taraf peredaksian ini tidak hanya mengaitkan bagian belakang (sebelumnya atau lampau) dengan kisah patrinial dan sejarah awal, tetapi juga mengaitkan bagian depan (sesudahnya atau kemudian) terhadap kultus dan implementasinya di Sinai. Pada saat yang sama terdapat juga hubungan yang jelas antara Deutronomis dengan istilah Deuteronomistis, dalam pengguaan kata­-kata seputar ketaatan terhadap hukum dan perintah (Im. 26:3,14s.,43, dan juga 18:4f.,26; 19:19,37). Hubungan antara Imamat dan Deuteronomis dengan tradisi-tradisi Deuteronomistis ini masih perlu diklarifiksi lebih lanjut (Thiel. 68ss).

1.4 Kitab Bilangan

Dari semua kitab-kitab yang ada dalam Pentateukh, Kitab Bilangan merupakan kitab yang paling sulit untuk dipahami atau ditelaah. Kitab ini memuat materi yang sangat beragam dan memberi kesan yang sangat heterogen. Bahkan untuk membaginya saja sulit. Suatu jedah yang panjang terdapat sesudah Bilangan 10:10; Israel keluar dari Sinai. Maka, bagian pertama dari kitab ini merupakan “perikop Sinai” dalam pengertian yang lebih luas, yang dimulai dengan Keluaran 19:1. Bagian pertama berikutnya pertama-tama berkisah tentang tinggalnya Israel di padang gurun, jalan ini dihubungkan dengan Keluaran 15:22-18:27. Kemudian cerita bergerak melampaui tema pendudukan Transjordan, sehingga bagian baru diawali dengan Bilangan 20:14 (Beberapa ekseget hanya membuat jedah di dalamnya, atau di akhir dari Bilangan 21).

Bagian Bilangan 1:1-10:10 kembali didominasi peraturan-peraturan tentang kultus, yang mempunyai daya tarik yang jelas dengan teks-teks dalam Kitab Exodus dan Imamat.

Dalam beberapa kasus, ini merupakan tambahan terhadap peraturan-peraturan terdahulu: Bilangan 5:5-10 menambah Imamat 5:20-26 dalam hal pembagian kurban asam yang menjadi bagian Imam (ayat 8-10); Bilangan 8.1-4 mengulangi Keluaran 25:31-40 dan 37:17-24 dalam bentuk singkat; Bilangan 8.5-22 kemudian membuat peraturan-peraturan tentang pentahbisan orang Lewi dalam 3:5-13 dari aspek spesifik “pengudusan” (ayat.6s,15,21); Bilangan 9:1-14 melengkapi peraturan perayaan Paskah Yahudi dalam Keluaran 12, di atas semuanya mengenai mereka yang mengambilan bagian dalam kultus yang “bersih/suci” pada masa Paskah.

Kata kunci “kemurnian” menentukan semua bagian. Bab 1-4 bercerita tentang sensus orang-orang Israel dan pengorganisasian mereka ke dalam satu kemah besar; di sini mereka dibagi berdasarkan suku-suku ke dalam empat bagian sesuai arah mata angin, di sekeliling Tabut Perjanjian (kemah pertemuan). Menurut Bilangan 5:1-4 sifat kemah ini sebagai sebuah tempat suci yang di dalamnya Yahwe berdiam (ayat 3) dipertahankan dengan menjauhkannya dari kemah orang-orang “yang tidak bersih” dalam arti kultis. Maka peraturan-peraturan berikutnya jelas telah dikumpulkan di sini dari perspektif ini: masalah ketidakbersihan (kenajisan) adalah isu persoalan dalam kecurigaan terhadap perjinahan seorang istri (5:11-31), dalam kasus orang Nazir (bab 6); pentahbisan orang Lewi (8:5-22) dan dalam Paskah Yahudi (9:1-11). Kesucian kemah dan kehadiran Yahwe diteguhkan kembali oleh berkat imam (6:22-27), perkataan Yahwe dari “balkon” tabut (7:89, Bdk Keluaran 25:22) dan oleh awan yang menyelimuti tempat suci (9.15ss).

Yang terakhir ini adalah sebuah rekapitulasi dari Keluaran 40:2,34-38. Ini memberi keterangan akan keseluruhan konsep mengenai perikop Sinai. Perundang-undangan kultis dari Imamat 1:1-Bilangan 9:14 adalah sebagai suatu faktor yang menunda: hal itu memberikan semua peraturan yang bangsa Israel butuhkan untuk mampu berjalan melalui padang Gurun dengan tabut perjanjian di tengah-tengah mereka sebagai bangsa pilihan Yahwe dan yang dikuduskan. Keluaran 40:34-38 dengan jelas telah berbicara tentang awan dan dua fungsi utamanya untuk menutupi Tabut Allah dan membimbing Israel dalam perjalanannya. Aspek kedua ini sekarang menjadi bagian awal pada Bilangan 9:15-23, yang di dalamnya tradisi tiang awan dan api dari tradisi keluaran (Keluaran 13.21s,14.19s,24) dikutip dan dikembangkan kemudian lebih lanjut. Sekarang awan memberi tanda penentuan tempat kemah, sehingga Israel yang mengembara di padang gurun mengambil tempat sesuai dengan petunjuk Yahwe. Sebagaimana juga dengan fungsi-fungsi lainnya, terompet perak memberi tanda penggeseran kemah dengan suatu cara yang teratur (Bil. 10:1-10).

Pengembaraan Israel di padang Gurun, yang beristirahat di dataran Moab (22:1), di mana Musa kemudian wafat, mulai dalam Bilangan 10:11. Bilangan 20:14 menceritakanan awal pejiarahan penuh harapan menuju tanah terjanji dengan mengirim utusan ke tanah Edom.

Bilangan 10:11-20:13 juga memuat teks naratif yang dalam banyak hal memiliki kemiripan dengan cerita tentang Israel di padang gurun dalam Keluaran 15:22-18:27 (Bdk. cerita parallel Keluaran 7:1-7; Bilangan 20:1-13). Dalam kedua bagian itu, pemberontakan Israel kepada Musa dan demikian juga kepada Yahwe sendiri ditempatkan di bagian awal. Dalam teks-teks bilangan ada juga disebutkan “sungut-sungut” (14:2,27,29,36; 16:11; 17:6,20,25); akan tetapi ungkapan itu tidak diasosiasikan dengan kekurangan makanan atau minuman (Bdk. 11:4-6; 20:2-5; 21:5) tetapi dengan protes di satu sisi terhadap bahaya dalam perjalan ke tanah terjanji (14:2s) dan di sisi lain terhadap posisi istimewa Musa (16:1-11: 17:6; Bdk.12). Dengan demikian maka di sini terdapat suatu ungkapan yang jauh lebih dasariah akan pemberontakan Israel terhadap kehendak Yahwe. Di sini konsep “kekudusan” memainkan peranan penting (11:18; 16:3,5,7; 17:2s; 20:12s).

Perikop tentang hukum kultus yang termuat dalam bagian ini jelas dimasukkan dari perspektif ini. Bilangan 15 memuat aturan-aturan pengurbanan suplementer yang berhubungan dengan persembahan sebagai tambahan terhadap kurban binatang (ayat1-16; Bdk. Imamat 2; 7: 11) dan terhadap kurban dosa (ayat 22-31, Bdk. Imamat 4s); Bab itu berakhir dengan seruan kepada Israel untuk memperhatikan perintah Yahwe dan agar menyucikan diri bagi-Nya (ayat 40). Dalam konteks sekarang, penekanan akan pengampunan bagi “seluruh komunitas Israel” mungkin berhubungan dengan keberdosaan Israel di “masa belajar” dalam bab 13. Referensi bab 18 terhadap pemberontakan, yang dilaporkan lebih awal, lebih mudah dipahami: ketaatan sesungguhnya terhadap undang-undang bagi pelayan tertahbis adalah untuk menjamin bahwa kemurkaan Yahwe tidak turun lagi kepada Israel. Kata “kudus” merasuki seluruh bab itu. Akhirnya, air penyucian yang disediakan dengan abu dari seekor lembu merah adalah untuk menjauhkan kenajisan dari Israel dari kenajisan di masa mendatang yang membahayakan peribadatan mereka.

Cerita tentang mujijat air di Meribah dalam Bilangan 20:1-13 memberi suatu jedah yang jelas: karena ketidakpercayaan mereka (yang menurut cerita itu mungkin tampak dari fakta bahwa mereka tidak “menyuruh” batu itu mengeluarkan air, sebagaimana diperintahkan Yahwe dalam bab 8, melainkan menggunakan tongkat untuk mujijat itu, ayat 11) Musa dan Harun tidak diijinkan memasuki tanah terjanji. Dengan demikian mereka termasuk generasi yang harus mati di padang gurun.

Bil 20: 14-36 juga memuat cerita bagian per bagian yang berkaitan dengan hukum kultus. Bagian pertama didominasi oleh cerita yang keseluruhannya menunjukkan rintangan dan bahaya dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Ada laporan mengenai pertempuran dengan lima raja di tanah yang dilalui bangsa Israel: dengan raja Edom (Bil 20: 14-21) dan raja Arad (Bil 21: 1-3); melawan Sihon raja bangsa Amori (Bil 21: 21-30) dan Og raja negeri Basan (Bil 21: 33-35) yang tanahnya didiami bangsa Israel; dan akhirnya melawan Balak, raja orang Moab, yang memerintahkan Bileam si pelihat untuk mengutuk Israel (Bil 22-24).

Cerita tentang Bileam (Bil 22–24) adalah suatu bentuk literer lepas yang telah melalui sejarah panjang dalam tradisi (Bdk. Gross). Dua kisah dalam Bilangan 21: 3-9;15-19 seringkali dipahami sebagai yang tertua, asal-mulanya sebagi kidung pujian kebebasan bangsa Israel sebagai “bintang Yakub” (Bil. 21: 4-9) yang merujuk pada Daud, sedangkan dua kisah yang diungkapkan dalam Bilangan 23: 7-10 dan 18-24 mungkin hanya hasil perumusan dari pengelaborasian lebih lanjut kisah itu.

Bahaya selanjutnya dipresentasikan dengan serangan ular-ular, yang untuk mengatasinya Musa membuat “ular berhala“ (Bil 21: 4-9, mungkin sebuah etiologi untuk sebuah patung kultis di Yerusalem, Bdk. 2 Raj 18: 4), dan ajakan kepada Israel untuk memuja Baal oleh wanita Moab (Bdk. 25).

Di sini ada suatu jedah yang jelas: dalam Bab 26 ada sensus baru yang tidak dapat dipungkiri (ayat 64) bahwa semua keturunan dalam sensus di Sinai (Bab 1) tidak hidup lebih lama, sebagaimana telah dimaklumkan Yahwe (Bil 14: 29). Periode ini berakhir pada panggilan Yosua sebagai pengganti Musa (Bil 27: 12-23); di sini sesudah kematian Harun (Bil 20:24), ada perujukan yang eksplisit mengarah kembali pada keberdosaan di Meribah (Bil 27:14).

Bagian cerita ini sekarang benar-benar membuat latarbelakangnya pudar; hanya dalam bab 31 ada sebuah laporan mengenai kampanye melawan orang-orang Median. Bahkan persoalan-persoalan ritual dan seremonial ditempatkan di bagian di depan. Dalam tambahan ada peraturan sah: penanggalan pengurbanan dalam Bilangan 28s., yang di sini tampak hampir sebagai suatu pembelaan terhadap Musa segera sesudah pengumuman kematiaannya, berbagai petunjuk tentang status sah para wanita (27. 1-11, dengan ‘perbaikkan’ dalam bab 36;30.2-17); di sini persoalan seputar hak warisan dalam 27:3 dengan jelas terikat pada konteks itu.

Sebaliknya, perhatian adalah terhadap penempatan sementara: penyerahan tanah kepada bangsa Timur Yordan (Bil. 32), yang memproyekkan kembali periode awal tentang perluasan wilayah-milayah kesukuan, petunjuk tentang pembagian tanah sebelah Barat sungai Yordan 33;50-34.29); pembatasan orang Lewi dan Tabut Allah(35); dan antara suatu daftar perhentian pegembaraan di padang gurun(33), yang dalam keseluruhan pasti kelihatan sebagai usaha yang lambat untuk merekonstruksi perjalanan itu, mungkin penggunaan tempat peziarahan yang lebih awal ke Sinai (Noth).

Bil. 33.50-56 dan bagian yang lain dari teks ini hingga akhir kitab Bilangan memperlihatkan suatu stempel deutronomistik. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk yang sekarang ini tidak hanya berhubungan dengan bentuk lampau, dengan buku lain dari dari Pentateukh, tetapi juga bentuk yang akan datang, dengan buku lain dari Pentateukh, dengan kitab-kitab sejarah Deutronomistis.

1.5 Ulangan

Kitab Ulangan merupakan suatu kitab yang dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kitab, yang mana kitab itu dirumuskan sebagai suatu perkataan Musa kepada umat Israel. Dalam pada itu, kitab Ulangan juga masih memiliki hubungan dengan kitab-kitab Pentateukh sebelumnya; perkataan Musa yang disampaikan di ‘seberang suangai yordan, di tanah Moab’ (Ul 1.1,5) merupakan suatu bentuk peristiwa yang juga terdapat dalam Bil 22.1, selain itu, kematian Musa dan pengangkatan Yosua sebagai pengganti Musa yang merupakan penutup kitab ini, juga sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam Bil 27.12-23. Pengangkatan Yosua juga memberikan adanya suatu hubungan antara kitab Ulangan dengan kitab-kitab berikutnya.

Struktur kitab Ulangan mudah utnuk dipahami. Struktur ini diawali dengan dua buah pidato pengantar (Ul 1.1-4; 4.44-11.32), yang kemudaian diikuti dengan suatu kumpulan hukum yang harus dilakukan dilakukan dengan setia (bab 12-26); bagian penutup (bab 27-34) tersusun dari unsur-unsur yang beranekaragam, sedemikian sehingga bab 28-30 yang dirumuskan sebagai suatu perkataan Musa membentuk akhir perkataan yang sebelumnya telah dimulai pada 1.1.

Pendobelan pidato pengantar inilah yang serring menimbulkan suatu masalah. Wellhausen memandang hal ini sebagai suatu indikasi atas dua buah ‘edisi’ yang berbeda dari kitab Ulangan dengan pengantar yang berbeda pula, yang mana dua ‘edisi’ yang berbeda itu kemudian digabungkan. Pemahaman lain bahwa Ul 1.1-4.40 adalah sebagai bagian dari ‘kerangka’, sedangkan bagian keduanya adalah seperti yang nampak pada bab 31-34. Akhirnya, Noth berasumsi bahwa Ul 1.1-4.40 dimaksudkan untuk memperkenalkan bukan hanya kitab Ulangan saja tetapi juga keseluruhan sejarah Deuteronomistis, sedangkan Ul 4.44-11.32 merupakan suatu pidato pengantar yang nyata bagi kitab Ulangan. Bagaimana pun, para ahli telah menunjukkan bahwa pidato pengantar pertama itu juga dipusatkan pada perundang-undangan (peraturan yang harus ditaati) berikutnya. Dua buah pidato pengantar itu mungkin berasal dari adanya tahap sejarah kitab Ulangan yang berbeda, tetapi sekarang susunan yang terbagi-bagi itu telah terbentuk secara menyeluruh.

Pidato pengantar pertama (1.1-4,40) memberikan sebuah tinjauan perspektif atas sejarah keberangkatan bangsa Israel dari Horeb (1-3; dalam kitab Ulangan nama Horeb dipakai untuk menunjuk Sinai) dan berakhir dengan sebuah penerimaan paraenetis yang panjang. Perjalanan itu diperintah oleh seorang pemimpin yang cukup terkemuka pada masa itu: keturunan yang ada di Horeb tidak percaya akan janji tanah dan oleh karena itu tidak diperbolehkan memasuki tanah itu (1.19-2.15). Pada masa berikutnya, generasi baru yang baru saja mengalami bimbingan dan kemenangan ilahi atas raja-raja Transyordan (2.16 -3.21) dibimbing untuk memperhatikan perintah yang telah disampaikan YHWH di Horeb, ketika mereka hidup di tanah terjanji (4.1-22), di sisi lain mereka pun akan dituntun ke luar dari tanah terjanji ke dalam penghapusan (4.23 -31). Akhirnya, 4.32-40 merupakan sebuah tema sentral dari yang dikembangkan dari teologi Deuteronomis; YHWH, pencipta bumi, telah memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya karena cinta-Nya pada nenek moyang mereka (ayat 37, bdk. 7.6-8) dan Ia pun telah menyatakan perintah-Nya itu (bdk. 10.12-17, dll.).

Pidato pengantar ke dua (4.44 -11.32) mempunyai sebuah permulaan baru (4.44 -49; bdk. 1.1-5) dan kemudian mengulangi Dekalog (5.6-21) bagi generasi sekarang (5.3); perbedaan paling penting dari Keluaran 20 adalah dasar hukum sabat dalam ayat 15 (‘ingatlah bahwa kamu adalah seorang budak Mesir…’, bdk. Keluaran 20.11), tugas Musa sebagai penengah (bdk Keluaran 20:18-21 ) di susun secara panjang lebar (5.23 – 31), supaya seperti yang ada dalam perikop mengenai Sinai, segala perintah lain itu merupakan sebuah perkembangan dari Dekalog. 6.4 merupakan pernyataan inti dari keagamaan bangsa Israel yang diberikan dalam sebuah bentuk yang padat dengan suatu ungkapan yang lebih mendalam “Dengarlah, hai orang Israel (bdk. 5.1). YHWH adalah Allah, YHWH adalah Allah satu-satunya (bdk. juga 4.35,39;7.9:10.17) dirangkai dengan perintah supaya orang Israel tetap mencintai Allah (ayat 5) dan tetap menjaga perintah itu di dalam hati mereka dan dihadapan mata mereka (ayat 6-9). Paraenesis berikutnya memberi peringatan pada bangsa Israel supaya menentang (tidak mengikuti) segala pemujaan terhadap allah-allah lain (6.10-9; dan akhirnya dimunculkanlah suatu keyakinan akan sejarah keselamatan yang secara singkat di kutib, untuk diwariskan pada generasi berikutnya (6.20-25). 7.1-10.11 memperingatkan Israel sebagai bangsa pilihan Allah terhadap bahaya kecongkakan yang akan terimbas kepada bangsa-bangsa lain (7.6-8) dalam menikmati pemberian tanah itu atau bahkan dalam kesombongan atas kebenaran diri mereka (9.4-6); alasan ini disampaikan melalui sebuah referensi yang panjang mengenai kemurtadan di Horeb (9.7-10.11). Penutup besar paraenesis (10.12-11.32) berakhir dengan suatu pilihan atas berkat dan kutuk sebagai sebuah konsekuensi dari adanya kemauan untuk mendengar atau untuk tidak mendengar perintah YHWH (11.26-28).

Masalah yang timbul pada pidato pengantar kedua itu, juga terjadi dalam kumpulan hukum: alamat bagi orang-orang Israel kerap kali digunakan kata ganti di antara orang kedua tunggal dan orang kedua jamak, hal itu sering tampak pada ayat tunggal (misalnya 6.3, 7.4) maupun pada bagian yang tetap dari suatu bab (misalnya 6:13-19). Keterangan yang berbeda-beda berikut ini merupakan suatu alasan mengapa ada perubahan dalam jumlah: perubahan dalam jmumlah terjadi karena adanya gabungan dari bebrapa sumber (misalnya Steurnagel dan yang lainnya); perubahan dalam jumlah terjadi karena adanya pemakaian dasar Deuteronomis yang dikerjakan oleh editor ‘Deuteronomistis’ (misalnya Minette de Tillese); perubahan dalam jumlah terjadi karena adanya alasan-alasan……….. (misalnya Lohfink). Tak satu pun dari solusi-solusi ini yang sungguh meyakinkan, khususnya mengenai hal itu (perubahan dalam jumlah) agaknya hanya bersesuaian dengan tekanan-tekanan yang ada di luar isi teks. Karena alasan inilah problem mengenai adanya perubagan dalam jumlah sebagaian besar tidak terlalu dihiraukan dalam mengetahui eksegesenya.

Pidato pengantar ditandai oleh adanya karakteristik bahasa Deuteronomistis. Sifa tkhas yang yang ditonjolkan tidak hanya gaya bahasanya yang kasar, terlalu sulit, dan bertele-tele (dan dalam bahasa Ibrani biasa), tetapi juga paraenesis, yakni suatu peringatan (nasihat) yang harus diulang secara terus-menerus supaya orang-orang Israel tetap menjalankan perintah Allah, yang mana paraenesis ini sering dikaitkan dengan janji atas berkat kehidupan di tanah terjanji. Di sini ada suatu stereotip atas suatu ungkapan (ucapan) yang sering digunakan secara berulang-ulang, supaya ara ahli memiliki titik tolak untuk berbicara mengenai ‘pola paraenetis’ (Lohfink, 90 ss.) sebagaimana yang kita temukan dalam Ul 4:1; “Maka sekarang, hai Engkau orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang Kuajarkan kepadamu, untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu” (bdk. 4: 40; 5: 1, 31-33; 6: 1-3, dan lain-lain). Hal ini juga dimaksudkan untuk memberi nasihat pada orang-orang Israel supaya dapat mencintai YHWH (6.5), takut akan Dia (6.2), dan mengabdi kepada-Nya (6.13, bdk. ikthisar pada 10.12s.), alasan inilah yang menjadi petunjuk atas cinta YHWH pada nenek moyang orang-orang Israel (4.37, 10.35), dan atas sumpah yang Dia ucapkan pada mereka (1.8; 6.10; 7.8,12, dll.), dan juga bahwa alasan tersebut dipakai untuk menjadi petunjuk atas adanya pembebasan dari perbudakan di Mesir (4.20; 5,15; 7.8). Akhirnya ada suatu peringatan bagi orang-orang Israel supaya mereka berani menentang (melawan) pemujaan terhadap allah-allah lain (4.19; 6.14; bdk. skema Lohfink, 295ss; Weinfeld, 320ss.).

Kumpulan hukum (bab 12-26) juga secara keseluruhan dibubuhi oleh adanya gaya bahasa Deuteronomistis paraenetis. Disamping itu, bahan yang masih muda (awal) pun dapat diakui sebagai materi yang sah, yang mana hal itu pun dimasukkan dalam kumpulan hukum ini dank arena itulah maka ada bebrapa kesamaan dalam Kitab Perjanjian.

Kumpulan hukum mulai dengan suatu tuntutan tegas mengenai ‘pemusatan kultus’, yaitu peraturan bahwa pengorbanan akan diselenggarakan dan pengangkatan pujaan akan dibuat hanya pada satu tempat ibadat (12.2-28). Tuntutan ini menentukan bagian pertama dari kumpulan hukum itu (bab 12-18; bdk. 14.22-26; 15.19-23; 16.1-17; 17.8-13; 18.1-8 dan 26.1-11). Pertanyaan yang cukup sulit sehubungn dengan bagian ini ialah bahwa tidak satu pun dari tradisi awal yang diambil oleh kitab Ulangan tetapi justru ada suatu rumusan khusus (tersendiri) yang baru dalam bentuk ini. Rumusan khusus (tersendiri) ini memiliki dua aspek: kemurnian kultus (yaitu pembatasan terhadap pengaruh dunia luar, bdk.12.2-7), dan kesatuan kultus (yaitu pemusatan dalam komunitas, bdk. 12.8-12). Di sini tempat ibadat tidak disebutkan namanya, tetapi diuraikan dengan kata-kata seperti ‘tempat yang akan dipilih YHWH’, yang mana kata-kata itu sering dibubuhi dengan tambahan ‘untuk menegakkan nama-Nya di sana’, dan lain-lain (12.5,11,14,18,21; 14.23-25, dll). Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa referensi yang asli mengenai tempat ibadat itu bukanlah merujuk ke Yerusalem melainkan ke tempat ibadat yang lain (misalnya Sikhem, lihat dibawah); meskipun demikian, tidak ada referensi yang kuat dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan beberapa tempat ibadat lain yang sungguh sesuai dengan arti penting dari tempat ibadat yang dimaksudkan itu.

Sulit untuk membagi kumpukan hukum itu secara lebih terperinci seabagai suatu susunan yang sistematis, karena isi yang ada di dalamnya hanya dapat dikenal sebagian saja. Barangkali karena kumpulan hukum itu sendiri didasarkan pada sub-koleksi awal, yang mana susunan dari bahan-bahan itu telah tersimpan di dalamnya (bdk. Merendino dan Seitz); barangkali kita tidak mengeerti secara lebih mendalam mengenai kesatuan teks yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya; barangkali juga, hubungan yang ada di antara teks-teks itu pun telah diubah oleh tambahan-tambahan yang ada berikutnya. Bagaimana pun juga, kita mungkin mengikuti pendapat Horst sehubungan dengan sebutan atas bagian pertama dari kumpulan hukum itu (bab12-18) ‘kuasa hukum YHWH’, sebab hal itu terutama menyangkut soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) kultis atau pelayan-pelayan (pendeta-pendeta) yang memiliki hubungan khusus dengan YHWH. Selanjutnya, kumpulan hukum itu pun masih dapat dibagi-bagi lagi: pemusatan kultus (12.1-28); larangan atas ibadat lain/sesat (12.29-14.21); persembahan, tahun sabat dan tugas-tugas sosial (14.22-15.18); anak sulung dan perayaan-perayaan (15.19-17.1 {tanpa 16.18-20}); pelayan-pelayan (pendeta-pendeta) dan cara kerjanya yang sah/sesuai dengan hukum (16.18-20 dan 17.2-18.22). Bagaimana pun juga, pembagain ini masih tetap sangat kasar.

Pada bagian kedua dari kumpulan hukum ini (bab19-26), bahkan lebih sulit untuk mengenal adanya pembagian secara keseluruhan. Akan tetapi, kita kerap kali dapat menandai kelompok-kelompok (bagian-bagian) teks yang memiliki poin-poin muatan dan atau bentuk yang bersamaan. Pertama-tama, bab 19 terdiri atas peraturan-peraturan utama yang terutama sekali berhubungan dengan kehidupan komunitas secara keseluruhan, sedangkan bab 22 merupakan suatu peraturan mengenai tingkah laku individu (perseorangan) yang ditempatkan pada bagian depan: bab 19 merupakan suatu peraturan-peraturan resmi, terutama mengenai pembunuhan (ayat 1-13) dan hukum kesaksian (ayat 15-21), yang mana hal itu dipisahkan oleh suatu peraturan yang berlawanan dengan perpindahan sesuatu yang mudah dilihat/dikenal (ayat 14); bab 20 berbicara tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan peperangan, dan hal itu kemudian membawa pada suatu peraturan mengenai korban-korban yang tidak diketahui oleh pembunuhnya (21:1-9); tawanan perempuan yang diambil menjadi istri (21.10-14 {permulaanya sama dengan apa yang ada pada 20.1}), hak untuk mewarisi anak-anak dari dua orang isteri (21.15-17); persoalan sehubungan dengan anak (putera) yang keras kepala (21.18-21); tata cara pada hukuman gantung (21.22ss.), permulaan pada ayat 15, 18,21 menunjukkan adanya susunan kata yang serupa; tanggungjawab atas harta milik sesamanya (22.1-4); berbagai corak larangan mengenai percampuran (22.5, 9-11), yang dipisahkan oleh 22.6-7. mengenai burung induk dan tempat pembaringannya; hukum seks (perkelaminan) dan hukum perkawinan (22.13-23.1), yang mana bagian ini membawa pada peraturan-peraturan mengenai kesucian kultus masyarakat (23.2-9), suatu rentetan larangan yang ada dalam 23.1,2,3,4,8a,8b; larangan-larangan bagi orang yang sedang berada dalam kemah pertempuran (23.10-15); rentetan larangan mengenai budak pelarian (ayat 16s.), upah sundal (ayat 18): denda-denda bagi suatu tindakan yang tidak sopan (ayat 19) dan pemungutan bunga (ayat 20-21); 23.22-26: rentetan permulaan dengan kata “jika” (ki) mengenai janji-janji (ayat 22. 23-24) dan pencurian makanan (ayat 25); hukum perkawinan (24.1-4,5); kumpulan larangan dan pernyataan resmi kasuistis mengenai perhimpunan manusia (hukum perikemanusiaan) (24.6-25.18): larangan-larangan (beberapa diperpanjang/diperluas oleh paraenesis) mengenai pengambilan janji (24.6), pemberian gaji/upah (24.14f), pembantaian lembu jantan (25.4), dua jenis timbangan dan ukuran/sukatan (25.13-16); diselingi oleh pernyataan kasuistis mengenai penculikan (24.7), pengambilan gadai (24.10-13), pengambilan sesuatu yang memang menjadi haknya (24.19-22), pembatasan penderaan (25.1-3), perkawinan di antara keluarga yang sama (25.5-10), ketidaksenonohan dalam perkelahian (25.1-12); dalam 25.17-19 ada suatu perkataan yang melawan orang-orang Amalek. Bab 26 menunjukkan dengan jelas apa yang telah menjadi titik berangkat hal sebelumnya: bab 26 ini berisi tentang pengakuan atas persembahan hasil pertama dari suatu usaha (ayat 1-11, “pernyataan iman singkat”, ayat 5b-9) dan persembahan persepuluhan (ayat 12-15), dan sebuah paraenesis akhir mengenai sifat yang mengikat dari perjanjian (ayat 16-19).

Perbandiangan kumpulan hukum pada Kitab Perjanjian sungguh-sungguh menarik. Cukup banyak hal yang menyatakan adanya hubungan di antara keduanya, meskipun begitu unsur-unsur perbedaaanlah yang justru tampak lebih mencolok ketimbang unsur-unsur persamaannya. Hanya saja, kadang-kadang ada kalimat tandingan yang sama di antara keduanya (misalnya Kel 23.19b=Ul 14.21b); bagaimana pun juga, akhirnya Kel 23.19b disatukan dengan Kel 22.30 dalam bentuk yang berbeda); kadang-kadang bentuk yang ada dalam kitab Keluaran lebih pendek dan nampaknya justru seperti sebuah kutipan yang diambil dari kalimat-kalimat yang ada dalam Kitab Perjanjian (jadi, aturan-aturan bagi hakim dalam Ul 16.19 sepertinya bertentangan dengan Kel 23.2s., 6-8), atau bagian kitab Perjanjian nampak dalam Kitab Ulangan yang dibagi dalam pernyataan individual dan ditempatkan dalam konteks yang lain (bdk. Kel 22.20-26 dengan Ul 24.17f.; 23.20;24.10-13).

Bagaimanapun juga, dalam banyak hal, versi yang ada dalam Kitab Ulangan lebih terperinci dari pada yang lainnya. Jadi, pernyataan tentang persembahan anak sulung (Kel 22.29) dikembangkan dari aspek yang bermacam-macam, agar seseorang dapat menyebutkan tata cara dari bagian kumpulan peraturan-peraturan itu.

Elohis menimbulkan masalah, sebab sebagian besar ekseget merasa tidak ada tempat untuk merekonstruksi sumber ini dengan sempurna. Volz dan Rudolph menolak sama sekali bahwa dokumen Elohis sungguh ada, para sarjana sering menyenangkan dirinya dengan membicarakan “bagian-bagian/penggalan Elohis” (Wolf Smend Jr.). Dalam hal ini Noth mencoba menerangkan pemeliharaan dokumen Elohis hanya berupa potongan-potongan dengan argumen bahwa Jahwis adalah dasar peredaksian dan Elohis hanya digunakan sebagai pelengkapnya. Oleh karena itu, para sarjana sering menyebut lapisan cerita asal-muasal “Jehovis” dan menahan diri supaya jangan menganalisis secara mendetail.

Penamaan dokumen ‘Jehovis’ (JE) telah dipakai oleh Wellhausen, yang cenderung menunjukkan perbedaan antara cerita asal-muasal dan akhir Priester Kodeks. Dia juga secara eksplisit menentang asumsi “bahwa keberadaan ketiga sumber tersebut terpisah sampai pada akhirnnya seseorang pada masa akhir membawanya bersama dan serentak memasukkannya menjadi satu kesatuan – sebagai dokumen Elohis yang kita kenal hanya satu bagian dari tulisan Jehovistis (Prolegomena 7).

Tidak ada kesepakatan yang utuh dan memuaskan dari tulisan Priestly. Wellhausen menyimpulkan semua bahan Priestly membangun teks undang-undang kultis sebagai ‘kodeks Priestly’, namun dibedakan darinya bahwa ‘Q’ sebagai ‘dasar yang original’ (Composition, 135). Bagian lainnya dibentuk tidak jauh darinya, dan dalam beberapa bagian yang berdiri sendiri dari aturan-aturan seperti Im.1-7. Sebelumnya suatu perbedaan seringkali dilukiskan di antara suatu bagian awal atau karya awal (Pg) dan penambahan berikutnya (Ps, selanjutnya seringkali dibedakan), yang juga dikenakan bagi karya akhir P. Sebaliknya, Noth tetap mempertahankan kekhasan P sebagai suatu karya naratif dan oleh karenanya menolak penambahan bagian yang serupa dengan aturan untuk P. Di lain pihak, demikian halnya, ditekankan kekhasan dari kisah P, karena P dimengerti sebagai suatu ‘sumber’ yang berkaitan erat bagi awal pembentukan kisah.

Satu bagian lagi yang bertolak belakang ialah pertanyaan mengenai awal dan akhir dari sumber yang berdiri sendiri. Walaupun awal dari tulisan Priestly diterima secara umum menjadi Kej. 1.1 dan tulisan Yahwis dalam Kej. 2.4b, selalu saja muncul suatu perdebatan mengenai awal tradisi Elohis. Beberapa ahli berusaha menemukan bukti E dalam sejarah awal; seringkali menunjukkan permulaannya dalam Kej. 15, yang kemudian menjadi kisah Deuteronomistis, sehingga akhir Kej. 20 diterima sebagai kisah awal. Inti pertanyaan dalam keterkaitan dengan akhir sumber ialah apakah hal tersebut membawa kepada janji akan tanah bagi bapa-bapa dan oleh karenanya bertanggungjawab terhadap pencapaiannya. Atas praduga ini Joshua seringkali mengungkapkannya, mengarah kepada Heksateukh (enam-bagian kitab). (Beberapa telah mencoba untuk meneruskan dan membahasnya sesuai dengan aturan orang Yunani, sesudah penambahan kitab selanjutnya, Heptateukh, Oktateukh atau Ennaeateukh; di samping itu mereka mengesampingkan Deuteronomi dan membahas Tetrateukh.) Tafsiran lainnya menunjukkan kematian Musa kurang lebih sebagai akhir sumber yang sesuai dengan yang mereka temukan dalam bagian-bagian akhir dari Deuteronomi. Wolff juga membuat akhir kisah Yahwistik dengan cerita Billeam dalam Bil. 22-24. Pertanyaan ini secara khusus dikaitkan dengan pemahaman Deuteronomi dan hubungannya dengan kitab-kitab pentateukh lainnya serta kitab-kitab sebelumnya.

Di sini juga selalu dipertentangkan hubungan antara masing-masing sumber. Yang menjadi pokok persoalan apakah sumber-sumber yang belakangan telah berdiri sendiri dari awal satu persatu dalam istilah-istilah literer, apakah mereka telah dimengerti sebagai edisi-edisi baru atau versi-versi baru untuk menggantikan versi-versi sebelumnya, ataukah mereka mengubah dan meneruskan secara bebas hal itu. Noth menerima bahwa J dan E sama inti (kandungannya) isinya dari sebuah sumber dasar (Grunladge G) dan dalam hal ini sejumlah ahli mengikutinya. Pada sisi lain, ada persoalan tentang pertanyaan bagaimana penyatuan dari masing-masing sumber itu dipahami, apakah seorang redaktor membawa mereka semua bersama-sama pada suatu waktu atau apakah penyatuan dilakukan tahap demi tahap, sehingga perlulah mengandaikan ada beberapa redaktor.

Sejak Wellhausen ada perkembangan persesuaian atas usia relatif dari sumber-sumber itu. Yahwis dianggap sebagai sumber yang paling tua (mana yang lebih awal, L atau N, tidak diterima), Elohis muncul sedikit lebih lama, Deuteronomi ketiga dan Priestli ditulis keempat. Itu telah dipikirkan bahwa ada beberapa poin yang relatif dari referensi untuk pendataan kedua sumber-sumber yang belakangan. Untuk deutoronomi baru dalam priode sebelum pembuangan dan tulisan Priestli pada masa pembuangan atau sesudah pembuangan. Bagaimanapun, point-point dari referensi untuk pendataan P hanya tidak langsung. Argumen Wellhausen yang lebih penting diperoleh dari penelitiannya bahwa sebelum pembuangan para Nabi tampaknya tidak mengenal “kepingan hukum dari batu (log batu)” seperti disajikan dalam P. Untuk J dan E, sama halnya tidak ada point-point langsung dari referensi, tapi J dekat dengan sesudah monarki dan E sebelum monarki (dengan selingan yang besar); E sering dipikirkan berasal dari kerajaan utara, berbeda dengan J yang berasal dari Jehuda.

Sejarah “dokumen hipotesa terbaru” menunjukkan bahwa pertanyaan dan masalah selalu dapat dirumuskan lebih jelas daripada jawaban dan solusi. Persetujuan atas penerimaan model hipotesa ini lebih pada dasar-dasarnya daripada detail-detail yang spesifik, sehingga laporan selalu harus menekankan keberadaaan opini yang berbeda, dari yang pertama – lebih mendetail – diperhitungkan oleh Holzinger ke depan.

Dalam rangkaian perjalanan waktu tidak pastinya pembatasan sumber-sumber menjadi lebih besar, sehingga walau dalam hal sumber utama, Yahwista, perlu mengandung “Kritik Minimum yang meyakinkan” (Wolff 1964, 147) atau bahkan mencoba menegaskan secara negatif oleh ‘proses pengurangan’ (Smend Sr, 86). Keberadaan dua sumber yang lain telah cukup tertantang secara empatik akhir-akhir ini. Cross (seperti Volz dan beberapa yang lain sebelumnya) menyatakan bahwa “Tulisan Para Imam” tidak pernah ada sebagai sumber yang beridir sendiri, tetapi merepresentasikan taraf dalam revisi awal (JE) (sama dengan Van Seters); dalam komentarnya pada Genesis Westermann menjadi kesimpulan bahwa Elohist tidak dapat ditunjukkan bahkan dalam bentuk fragmen yang saling tergantung, tetapi bahwa bagian itu menjelaskan kepadanya untuk dimengerti sebagai tambahan interpretatif yang bukan termasuk “sumber” umum.

Pada akhirnya, kecenderungan yang kuat terhadap data Yahwis pada awal periode monarki juga dipersoalkan dan keterkaitannya dengan tradisi Deuteronomis-Deuteronomistik ditekankan (Van Seters; H.H. Schmid). Hasilnya semua gambaran Pentateukh yang ada sebelumnya dalam sejarah Isreal digoncang, sebab sekarang secara menyeluruh garis besar cerita Pentateukh hanya dapat diperkirakan dari periode akhir sebelum pembuangan (atau sebelumnya). Schmid tidak melihat “Jahwist” sebagai penulis, tetapi lebih sebagai “proses redaksi dan interpretasi”.

Kritik-kritik yang muncul bertemu dengan kritik yang lain yang mulai dari aplikasi tetap dari bentuk kritisisme dan tradisi kritisisme. Pendekatan Gunkel dengan “bagian literatur yang terkecil”, yakni dari cerita Pentateukh di atas semua kisah individual (juga Gressmann), yang secara mendasar tak dapat dikaitkan dengan hipotetis dokumenter. Dalam perjalanan waktu hal ini berkembang pesat ketika bagian kritisisme benar-benar tidak diindahkan dalam menggunakan pendekatan Gunkel oleh Von Rad, Westermann, dan yang lain. Alasan mengapa jalan kritisisme tidak diubah secara eksplisit adalah sederhana yakni, bahwa hal itu dipakai sebagai perkiraan. Dalam hal ini Von Rad mengemukakan bahwa kombinasi dari berbagai pembahasan bukanlah sebuah “proses yang memberi penjelasan memuaskan”. Dia sendiri mengembangkan model lain dengan mengangkat tradisi-tradisi dalam Pentateukh ke dalam tradisi-tradisi pribadi yang lengkap (sejarah awal/pertama, sejarah bapa bangsa, tradisi keluaran, tradisi Sinai, sejarah perantauan para bangsa) yang semula merupakan sejarah yang terpisah-pisah dan berdiri sendiri sebelum diugabungkan bersama. Dalam penggabungan semua susunan ini ke dalam Yahwis, Von Rad dengan sengaja tidak berpikir tentang jumlah sumber, lebih lagi ia menggunakan penggabungan yang telah diperkenalkan ini untuk menunjukkan perbedaan sederhana: bahwa hal ini dikerjakan oleh para teolog besar, selain mereka tidak ada kesempatan bagi teolog lain. Lebih jauh hal ini berhubungan dengan teori dokumenter klasik.

Saya mencoba memakai pendekatan Von Rad lebih jauh ke dalam diskusi, buku-buku pribadi dari Pentateukh di atas. Dalam hal ini sejumlah observasi dan pertimbanganku (bdk. Bukuku menyebutnya dalam bibliografi) telah digabungkan dengan pertimbangan dari Bani Israel dan yang lainnya. Ringkasan pendapatku tentang sejarah asli Pentateukh (sekali lagi):

Tradisi kisah pertama kali digabungkan dalam kisah individu yang lengkap. Susunan yang berdiri sendiri “kesatuan yang lebih besar” tatap dapat dikenal dalam teks yang sekarang, sekurang-kurangnya dalam hal kisah awal/pertama dan kisah para bapa bangsa (lih. Cerita Balaam dalam Bilangan 22-24). Masing-masing mempunyai profil sendiri yang berbeda dan masing-masing dapat berdiri sendiri. Hal ini tidak tepat untuk menyamakan tradisi eksodus dengan perikop Sinai, meskipun Kel 1-15 sekarang membentuk susunan “satu kesatuan” dan tradisi Sinai pasti mempunyai sejarahnya sendiri.

Profil yang berdiri sendiri dari kisah individual telah diberi karakter (sifat) oleh teks itu.

Cerita bapa bangsa nenek moyang bangsa Israel merupakan permulaan cerita masyarakat: mereka misalnya diperhitungkan sebagai pengembara yang utama atau semi pengembara sepanjang hidup. Dalam cerita tinggal dan keluar dari Mesir, seseorang memperhitungkan kebelakang pandangan oarang banyak dan itu mewakili seluruhnya. Cerita ini juga sebagian besar benar pada kitab keluaran yang diterbitkan (dan Deuteronomium), perbandingan yang kontras antara Musa dan orang yang memerintah.

Kesatuan individu yang telah berkumpul dan menentukan perbedaan gagasan dan pandangan utama. Sejarah permulaan manusia merupakan sejarah utama, menyambung bagian yang terputus oleh air bah. Setelah Tuhan memberikan jaminan bahwa karya pemciptaan akan berlaku. Lebih jauh deferensiasi manusia seluruhnya sesuai dengan kenyataan para pembaca atau para pendengar sekarang mengetahui tentang itu. Cerita bukanlah nasehat berkelanjutan. Setiap cerita bapa bangsa (Abraham, Ishak, Yakub, Jusuf) mempunyai perbedaan: mereka telah ditempatkan kedalam perkumpulan besar. Penempatan janji yang sangat penting dan demikianlah diberi tanda khusus. Cerita Keluaran yang teliti terpusat pada keluaran , selain itu terhenti dan memberi sebuah penafsiran teologi bagi umat beriman. Dasar utama perikop Sinai berbanding terbalik antara cerita dan pemberitaan hukum; memberikan posisi istimewa Musa dan yang lain melanggar perjanjian, itulah pemisahan. Diantara kumpulan hukum yang ditambahkan perlu dikombinasikan menurut keseluruhan gagasan utama. Lebih jauh bagian buku-buku Keluaran dan terbitan normatif, gagasan utama kadang-kadang kurang dikenal (kami tidak menganal secara lengkap).

Itulah tradisi yang kompleks, kandungan cerita dari cerita utama dan cerita bap bangsa bukanlah kombinasi (….). situasi itu cukup berbeda dengan tradisi-tradisi dalam buku-buku Keluaran yang diterbitkan disini asalkan urutan dasar sama dengan figur Musa (Aram) tongkat penunjuk ditutupi awan dan api, “membisikan” kepada orang-orang Israel sebelum dan sesudah keluaran dan seterusnya.

Perikop Sinai juga membuka kisah tenda dan bahtera Nuh, yang terpenting untuk berikutnya pengagambaran di hutan belantara. Materi dan tradisi yang kami miliki keseluruhan bentuknya meneladani tradisi (…)(…)

Jelas berbeda penggabungan pada kesatuan yang lebih besar dalam Kejadian ke dalanm keseluruhan yang luas mengambil tempat pada tingkatan yang dapat menggambarkan redaksi teologi. Terutama hubungan yang nyata antara cerita bapa bangsa dan sejarah Keluaran. Dalam kejadian 5.24, pada kematian Yusuf ada sebuah referensi tegas yang disampaikan Yahwe kepada orang-orang Israel.

….. kutipan ini diambil lagi segera sebelum peristiwa keluaran bangsa Israel dari Mesir dalam Kel 13:5.11; lagi pada peristiwa ketika keluaran ini berada dalam kemurtadan umat dari Yosua 32:13 dan lagi setelah bahaya ini dicegah (Kel3,1). Juga setelah itu, kutipan “ini berlanjut selalu pada situasi” krisis (Bil 11,12,14-23;32.11… disinim kita memiliki satu sudut pandang yang menyeluruh tentang sejarah bangsa Israel atau jaman bapa bangsa sampai pada masa menetap, dalam mana janji Yahwe dan perlindungannya terhadap mereka membentuk faktor selanjutnya. Teks yang disebutkan itu semua dirumuskan dalam bahasa dengan suatu cap Deuteronomis. Secara khusus penyabutan “sumpah” dengan mana Yahwe 0telah menjanjikan tanah kepada bapa bangsa kerap kali …dalam ulangan (Ul 1:8,35:6,10,18,23; 7:13, dll) para pengumpul dan editor yang bersifat teologis Yng mengerjakan ini dengan demikian lebih memperhatikan atau kurang dekat denga deuteronomistis. Karya dari kelompok ini dapat juga disadari di tempat lain dalam buku-buku yang bersifat individual dari Pentateukh. Oleh karena itu dapat diambil dengan pasti bahwa suatu kumpulan yang bersifat tradisi Pentateukh (mungkin yang pertama) datang dari sekolah teologi ini.

kumpulan teks-teks lain yang dengan cara yang sama memberikan hubungan secara menyeluruh telah dibentuk dalam tradisi bahasa imam. Demikianlah pada permulaan cerita keluaran yakni dalam keluaran 2:23-25 dan 6:2-8 menyebut “perjanjian” Yahwe dengan referensi yang jelas terhadap perjanjian Abrahan dalam Kej 17. Bunyi Kejadian 17 juga dapat dikenal dalam kebiasaan paskah orang Yahudi (Kel 12) dan hari sabat (Kel 31:12). Sunatan, paskah, dan hari sabat disebut sebagai “tanda” (perjanjian lama, Kej 17:11; Keluaran 12:13;31:15,17); sunatan dan hari sabat juga disebut sebagai perjanjian abadi (berikut dalam, Kej 17:13; Kel 31:16;bandingkan Kej 9:16 dan disana tekanan diarahkan pada keabsahan seluruh keturunan Kej 17:9,23; Kel 12:14,16,52; 31:13,16). Hubungan antara lapisan keimanan ini dengan tradisi cauistic dalam kitab keluaran membutuhkan banyak penyelidikan yang lebih teliti lagi (di sini pertanyaan mengenai hubungan antara P9 dengan Mazmur muncul kembali dalam suatu perbedaan mendasar). Demukian pula hubungan dengan perbaikan Deuterokanonik sebagian besar masih lebih tidak berterjemahan lagi.

karakter deuteronomistis dari revisi komprehensif Pentateukh itu juga menimbulkan pertanyaan tentang hubungan buku-buku yang mengikuti. Sejauh ini hal itu dijawab dengan dua arti model perbedaan, oleh pembukuan hexateukh atau sebuah sejaran deuteronomistis. Inti masalah ini dalam faktor tersebut adalah tidak panjang laporan dalam pentateukh pemenuhan akhir pada pengembaraan dari kepala keluarga dan generasi dari keluaran (atau hanya bagian pertama dalam transjordan). Hipotesis hexateukh memecahkan masalah permulaan laporan tentang perbuatan dalam buku/kitab Yosua dengan sumber pentateukh. Kontras, dalam hipotesisnya sejarah deuteronomistis, diantara asumsi konklusi yang asli tentang sumber pentateukh aa’menggambarkan yang sederhana” dalam cara kerja yang sabar/terang.

Bagaimanapun jika kita tidak lama mulai dengan menerima terus menerus sumber dalam pentateukh, melihat gambaran yang tidak sama. Deuteronomis, deuteronomistis lingkaran bagaimana sebuah bagian permainan kritis dalam bentuk buku-buku berikut dipakai juga arca dalam memberi garis besar bentuk pentateukh. Dalam bagian kedua yang mereka kerjakan lekas berakhir tradisi dari yang tidak sama dan memberinya interpretasi teologi. Awalnya, perpindahan dari pentateukh ke buku berikutnya tanpa membuat pokok putus. Yang terakhir, bagaimanapun, lima buku pertama dipandang dan diperlakukan seperti kesatuan yang lahir. Ini pemisah yang dengan jelas mengambil tempat dengan sengaja karena arti khusus Torahditerima dan di tangan Musa, mempunyai keuntungan dalam pada itu. Oleh kerena itu kebebasan pentateukh dan fakta bagian-bagian itu dengan bentuk buku-buku umum refisi deuteronomistis adalah dengan tidak bermaksud kontradiksi, tetapi tidak sama menggambarkan tingkat-tingkat sejarah kanon perjanjian lama.

Seperti sebutan dalam perjanjian lama dari ‘Torah Musa’ (1Raj 2.3;Mal3.22 dst) dan lengkap dari buku ‘Torah Musa’ (Josh 8.31; 2Raj 14,16; Neh 8.1 dst), ini lazim, setelah perluasan konsep Torah untuk keseluruhan pentateukh, melihat musa seperti penulis. Ini disyaratkan dengan penulis Jahwis Philo dan Josephus, menulis di Yunani pada akhir abad pertama AD, dengan Talmud Babylonia (Mat 19.7F;Mrk 12.26; Acts 15.2 dst). Ini pertama menempatkan dalam jawaban dengan ilmu pengetahuan modern Kitab Suci.