st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PERTOBATAN FRANSISKUS DAN ‘KITA’: option for the poor.

Dari buku-buku yang memuat kisah Fransiskus dapat ditarik 3 hal (peristiwa) yang sangat menentukan pertobatan Fransiskus. Pertama, pertemuannya dengan orang kusta, di mana kepahitan menjadi kemanisan bagi F. “Apa yang dulu pahit bagiku, kini berubah jadi kemanisan jiwa dan badan…,” sepenggal kata-kata F dalam wasiatnya. Kedua, dalam perjalanan kembali ke Assisi, ia tiba di San Damiano dan berdoa di depan salib:”Allah yang Maha Tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku ya Tuhan, perasaan peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus dan takkan menyesatkan.” Dari salib terdengar suara:”Perbaikilah rumahKu yang mau roboh!” Dengan lebih syahdu dalam iringan melodi dan nada suara akan dikumandangkan saudara-saudara tingkat II nanti (SABAR SAJA!!!). Ketiga, pengadilan di mana ayah Fransiskus menuntut anaknya F di depan uskup Guido sebagai hakimnya. F menanggalkan semua pakaiannya dan melemparkannya kepada ayahnya. Dengan telanjang bulat di depan orang banyak F berkata dengan suara nyaring:”Mulai sekarang dengan dengan sungguh dapat kukatakan “Bapa Kami yang ada di Surga”. Serentak dengan itu, semua makhluk manusia dan non-manusia dihayati sebagai saudara, anak-anak dari Bapa yang satu dan sama; orang-orang kusta, miskin, kaya, Kristiani, Muslim, dan semua elemen lingkungan hidup lainnya. Tiga persitiwa ini sangat berarti dan sangat menentukan dalam pertobatan F meski memang kita tahu bahwa sedari awal pertobatan F adalah sebuah proses.

Dalam refleksi mengenai tema pertobatan F ini, satu hala yang sangat menarik bagiku dari 3 peristiwa pertobatan F di atas dan itulah yang mau saya angkat dalam permenungan kali ini: soal perjumpaan F dengan orang kusta. Baik diulang apa yang dikatakan oelh St. F dalam wasiatnya:”Beginilah Tuhan telah menganugerahkan kepadaku, Sdr. F, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Tetapi, Tuhan sendiri mengantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Dan setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan, dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia.” Hal senada diceritakan dalam “legenda maior” yang ditulis oleh St. Bonaventura (hal.8): “Dari situ ia selaku pencinta kerendahan hati sepenuhnya pergi kepada orang kusta dan tinggal serta mereka. Dengan amat rajin ia melayani semua demi Allah. Dibasuhnya kaki mereka, dibalutnya borok mereka, dikeluarkannya borok dari jaringan-jaringan dan dibersihkannya kotoran dari luka-luka. Malahan karena baktinya yang menakjubkan ia yang tak lama kemudian akan menjadi tabib Injil, mencium luka yang bernanah. Oleh sebab itulah ia memperoleh kekuatan yang amat besar dari Tuhan sehingga ia mendapat kemampuan yang menakjubkan dalam melenyapkan secara ajaib penyakit-penyakit rohaian dan jasmaniah. Suatu hari di daerah Spoleto ada seorang pria yang menderita penyakit yang mengerikan, sampai mulut dan pipinya digerogoti oleh kebusukan dan ia tidak dapt ditolong dengan obat manapun juga. Maka terjadilah, bahwa orang itu mengunjungi makam Rasul-rasul untuk memohon pahala Rasul-rasul itu. Ketika ia kemudian berjalan pulang dari ziarah itu, ia kebetulan berjumpa dengan hamba Allah, tetapi hamba yang rendah hati itu tidak membiarkannya; tetapi orang yang hendak mencium kakinya itu malah dicium mulutnya.” Pokok-pokok inilah yang menjadi landasan permenungan kita ke depan yakni bagaimana F, pengagum Kristus yang rendah hati itu menyatakan pertobatannya dengan mengabdi pada orang-orang yang terpinggirkan/tak terhitung di zamannya. (option for the poor F, biasa kita sebut).

Sdra/i (para fr, sr, br…) sekalian, dalam perikop Injil yang baru kita dengar tadi diceritakan tentang seorang kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Pada zaman Yesus (juga F) penyakit kusta diyakini sebagai kutukan bagiorang yang menderita penyakit itu. Mereka adalah kaum terisolir dan terpinggirkan, tidak dihargai sebagai manusia cara wajar. Maka, mendengar nama Yesus, orang malang yang penuh dengan kusta itu segera “tersungkur dan memohon”. Dengan sikap ini, si kusta menyadari ketidaklayakannya dan tahu bahwa ia adalah orang tersisih. Yesus penuh kuasa, orang kusta itupun segera sembuh. Si kusta (atau tepatnya mantan kusta itu) bukan main girangnya sehingga kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan berbondong-bondonglah orang sakit datang kepadaNya.

Bagaimana dengan F sendiri? P. Adelbert (ompung) menuturkan dengan sangat indah dalam majalah ‘Persaudaraan’ Kapusin Propinsi Medan edisi Jan-Mrt 2006: “Dalam sejarah hidup F, tidak ada orang kusta, orang lumpuh ataupun orang buta yang datang ke hadapan F dengan permohonan “Buatlah aku sembuh…!” yang menonjol bukan ornag kusta yang datang kepada F dengan harapan pertama-tama agar sembuh secara tetapi sebaliknya! Dalam wasiat St. F sangat jelas dikatakan: “Tuhan sendiri yang mengantar aku ke tengah-tengah mereka….dan aku tinggal bersama mereka.” Frase Tuhan sendiri dan kata tinggal memberi arti yang mendalam. F adalah hamba rendah hati dan bukan Tuhan yang utamanya punya kuasa menyembuhkan. Ia adalah abdi Tuhan, selebihnya tidak. F menjadi sesama bagi mereka yang kecil, menjadi sahabat, saudara, dan famili mereka. Memang seruan mendalam dalam hati setiap manusia khususnya orang tersisih (kusta, cacat, dll):”Terimalah aku…” Mereka butuh perhatian dan penerimaan. Dengan demikian kehadiran F mempertinggi mutu kehadiran.

PENUTUP – bagaimana dengan kita (menerjemahkan “yang miskin” dalam konteks zaman sekarang)

Lantas, bagaimana pertobatan F itu sungguh mengilhami ki ta di zaman sekarang ini? Dalam sejarah ordo Kapusin, banyak sudara yang terjun dan dekat dengan orang-orang kecil (kaum marginal). Ketika wabah sampar menyerang, banyak saudara yang malah berbondong-bondong untuk melayani mereka meski penyakit itu sungguh berbahaya. Sungguh, mereka adalah pengikut-pengikut F yang sejati. Memang, umumnya para pengikut F itu amat dekat dengan orang kecil, itu menjadi kekhasan. P. Elpidius van Duijnhoven (ompung dolok) – rasul di daerah kami (Simalungun), P. Kerkers, P. Benyamin Djikstra, P. Diego, dll adalah contoh-contoh panutan yang masih dekat dengan zaman kita. Mereka sangat dekat dengan masyarakat (umat) yang miskin, tinggal dan bersahabat dengan mereka. Saya kira para suster juga punya tokoh-tokoh idola yang tak kalah hebat dari mereka…… Dan, kita semua yang hadir di sini adalah generasi selanjutnya dari mereka.

Saudara/i, saat inipun kita berhadapan dengan banyak orang “miskin”, baik itu teman-teman, umat, kenalan, orang yang kita jumpai, dst. Dalam zaman kita mungkin orang-orang miskin bisa lebih diperluas lagi; tidak sebatas yang berpenyakit fisik saja. Orang-orang kusta/miskin perlu diterjemahkan dengan cara baru pula. Di sekitar kita banyak orang miskin: mereka yang tersisih dalam lingkungan pergaulan, mereka yang lemah dalam studi, doa, kerja, mereka yang mungkin kurang berbakat baik dalam O.R, seni, dll, yang gampang putus asa, yang menghadapi masalah tertentu,…banyak lagi. masing-masing kita punya kelemahan juga kekuatan tersendiri. Menerima fakta ini membuat kita menjadi orang yang benar-benar abdi. Pertanyaan refleksi bagi kita, sungguhkah pengosongan diri Fransiskus yang dekat dengan orang-orang tersisih masih mengilhami kita? Masihkah pengingkaran diri sebagai buah pertobatan F masih menjiwai kita sebagaimana para pendahulu kita tadi? Kita yakin dan percaya bahwa KASIH menyembuhkan semua orang baik yang menerima maupun yang memberikannya. Dari pengalaman kita semakin yakin bahwa saling mencintai, saling menerima kelemahan dan kekuatan (maklum), membuat kita berbuah ganda. Lagi, mencintai orang-orang miskin dalam arti baru, dekat dengan mereka, menjadi sahabat, teman, dan keluarga bagi siapa saja menghasilkan suatu energi yagn besar terlebih bagi orang tersebut; cinta dan perhatian kita mampu menumbuhkan buah dan ‘kesegaran’ mereka yang papa di sekitar kita. Memang kerap kita lupa, dan itu sangat manusiawi tak perlu kita sesali. Kecenderungan manusia kita memang lebih tertarik kepada yang kuat, yang lebih bergengsi, yang terpandang, kaya,…..Untuk itu marilah kita berdoa bersama dengan doa St. F dengan doa di depan salib San Damiano yang sebentar lagi akan kami lantunkan; kita mohon kekuatan dari Tuhan agar kita mampu, kita resapkan maknaya dalam hati kita masing-masing:

mauliate:sdrbennyardimanurung.