st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; mso-bidi-font-weight:normal;} h2 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

TUHAN YANG – TAK – PERNAH – “SELESAI”

(hasil wawancara dan refleksi)

I . PENGANTAR

Dalam katekismus Batak Toba “Saratus Sungkun-sungkun” ada beberapa pertanyaan yang secara sederhana berbunyi demikian: “Apakah ada Tuhan?” “Kalau ada di mana Dia?” “Bagaimana kita tahu bahwa Dia ada?” dan seribu satu pertanyaan sejenis. Pertanyaan-pertanyaan demikian kerap ‘menghantui’ insan manusia. pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi umat manusia. Justru karena manusia adalah makhluk yang bertanya maka ia menyelidiki terus apakah memang ada Tuhan, meski di satu pihak ia tetap sadar akan keterbatasannya.

Tuhan tidak bisa dilihat pun diraba atau dicium tetapi Ia sungguh nyata kita alami. Ia dapat dirasakan serentak dalam peristiwa yang menyenangkan (mysterium fascinosum) juga dalam peristiwa yang menggentarkan (mysterium tremendum). Justru karena mysterium ini bersifat misteri, rahasia, dan tak tertuntaskan oleh umat manusia maka IA adalah ALLAH.

Berikut akan dipaparkan hasil wawancara kelompok kami dengan beberapa orang yang kami jumpai dari berbagai suku, tingkat ekonomi, agama, bahasa, tempat tinggal, dll. Kenyataan ini semakin meyakinkan kita akan ke-Mahabesar-an Allah yang hadir dan dialami oleh tiap manusia lintas budaya, agama, suku, bahasa manapun juga. Kami memberi judul tulisan ini: Tuhan Yang Tak Pernah “Selesai” dengan maksud mau menekankan bahwa pengalaman akan Tuhan berlangsung terus dalam hidup manusia. Dia sungguh Misteri. Dia abadi dan kasihNya pun “Kekal abadi”.

II . HASIL WAWANCARA

1. Nama : Ayu Lestari

Umur : 22 tahun

Alamat : Jln. Widodo, Karang Sari. No. 101

Pekerjaan : Pedagang

Agama : Islam

Hasil wawancara: Dalam hidupnya setiap hari, Ayu merasa bahwa Tuhan itu dekat. Tuhan selalu hadir bersamanya dan selalu membantunya. Tetapi sebagai manusia Ayu juga kerap merasa bahwa Allah itu jauh dari hadapannya. Hal ini dirasakan ketika ia mengalami kegagalan baik dalam menjalin persahabatan dengan sesama, lebih khusus lagi dengan lawan jenisnya. Ia juga mengalami kegagalan dalam berdagang. Ia lalu marah kepada Allah, mengatakan bahwa Allah itu tidak adil. Dalam suasana gembira, katanya ia juga kadang lupa akan Allah, ia lupa bersyukur akan keberhasilannya. Tetapi di balik itu ia merasa berhutang budi pada Allah yang telah membantu dan mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa Allah itu sangat dekat, hanya ia sendiri yang menjauhkan diri dari Allah.

Ia mengatakan bahwa agama selain agamanya itu semuanya baik dan mengajarkan kebaikan. Hanya saja para penganutnya yang salah menafsirkan ajarannya sehingga menjadi ekstrim.

2. Nama : Deriwati Situmorang

Umur : 20 tahun

Alamat : Jln. Melanton Siregar (asrama susteran Nazaret)

Pekerjaan : Pelajar

Agama : Katolik

Hasil wawancara: Deriwati mengatakan bahwa Tuhan ada dan sangat dekat. Kedekatannya dengan Tuhan ia rasakan ketika ia berwawan-wicara dari hati dengan Tuhan. Pada saat itu ia merasa damai dan bersemangat. Kendatipun demikian, ia pernah mengatakan bahwa Tuhan itu jauh, lantas ia marah pada Tuhan. Dalam suasana bahagia, ia merasa Tuhan itu dekat. Dalam keadaan sakit atau gagal, ia merasa bahwa Tuhan itu jauh dan mulai mempersalahkan Tuhan. Ada sesuatu yang menarik dari Deriwati ini yakni: ia sampai pada pemahaman bahwa kesulitan yang ia alami itu mempunyai makna di baliknya. Ia sangat yakin bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Murah. Agama lain baginya itu benar adanya. Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan.

3. Nama : Lamriah Siregar

Umur : 20 tahun

Alamat : Jln. Pane

Pekerjaan : Pelajar

Agama : HKBP

Hasil wawancara: Lamriah mengatakan Tuhan itu ada dan dekat dengan umatNya. Tuhan itu Mahadahsyat, karena membuat mujizat-mujizat bagi umatNya. Sebagai manusia ia pernah marah pada Tuhan dan mengatakan Tuhan itu tidak adil terhadapnya. Ia sangat yakin dan percaya bahwa dalam keadaan apapun Tuhan itu selalu hadir dekat denganya. Saya yang menjauhkan diri dari Tuhan. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh mahadahsyat, melebihi yang lain. Tuhan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Semua agama di dunia ini sama saja, tidak pernah mengajarkan kejahatan, hanya kita umatnya yang salah menafsirkan dan mengklaim bahwa agama saya yang paling benar dan yang lain itu tidak benar.

4. Nama : Opung Riris Sinaga

Umur : 62 tahun

Alamat : Jln. Pisang, Pematangsiantar

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Katolik

Hasil wawancara: Opung ini mengatakan, bahwa Tuhan itu dekat dan Maha Baik. Ia sangat ‘takut’ pada Tuhan. Dalam menjalankan usahanya, banyak pengalaman keberhasilan yang diproleh dan itu semua berkat campur tangan Tuhan. Ia pernah mengatakan bahwa Tuhan itu tidak Maha Baik, karena dalam menjalankan usahanya ia mengalami kegagalan. Ia mulai jauh dari Tuhan, tidak mau ikut misa, doa di lingkungannya. Tetapi dalam perjalanan waktu opung ini sadar bahwa semua yang ia lakukan itu sungguh tidak menolongnya. Ia kemudian mulai rajin ikut misa, ikut kegiatan di lingkungannya, dan menjadi penggerak di lingkungannya itu. Ia mengatakan bahwa semua agama itu baik dan benar.

5. Nama : Malem Barus

Pekerjaan : Petani

Umur : 56 tahun

Agama : GBKP

Alamat : Stasi Kinangkung-Paroki Padang Bulan

Pendapat tentang Tuhan: Menurut bapa Barus Tuhan itu tidak adil. Tidak adil karena selama ini dia terus meminta kepada Tuhan supaya diberikan panen yang melimpah, tetapi juatru sebaliknya, dia gagal panen padinya habis ditiup oleh angin Anak-anaknyapun tidak pernah mendengarkannya lagi, susah diatur. Mereka berbuat sesuka hati, suka berjudi. “Inilah yang membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak adil,” tuturnya. Karena, andaikan Tuhan itu adil pasti Ia tidak akan membuat saya seperti ini, terus menderita. Dalam hal ini, pak Barus membandingkan keadaan tetangga di sekitarnya meski tidak beragama, tapi toh mereka sukses dan kaya, banyak uang, mobil dan barang mewah lainnya, sementara saya yang sering ke gereja dan selalu berdoa meminta kepada Tuhan justru menderita.

Akibatnya, Bapa ini meninggalkan agama yang selama ini dia anut. Sekarang dia tidak lagi pergi ke gereja. Jangankan ke gereja, berdoapun jarang ia lakukan, demikian pengakuannya. Agama hanyalah membuat dia menderita. “Padahal dalam kitab suci dikatakan ‘Mintalah maka kamu akan diberi’ Kenyataanya tidak ada yang diberikan bahkan membuat saya menderita dan tidak masuk akal,” keluh bapa ini. Ketika ditanya apakah bapa tidak rasakan bahwa kesehatan itu datang dari Tuhan? Lantas jawabnya: “Menurut saya tidak, karena bila saya sakit saya minum obat dan setelah minum obat saya sembuh. Maka itu saya dapat katakan itu bukan datang dari Tuhan, tapi dari obat itu.”

6. Nama : Yusuf Ginting

Pekerjaan : Forhanger (KDS)

Umur : 48 tahun

Agama : Katolik

Alamat : Stasi Gunung Merlawan-Paroki Padang Bulan

Pendapatnya tentang Tuhan:Tuhan betul-betul saya rasakan dalam hidup saya. Dialah yang mengubah hidup saya dari yang kacau menjadi bertobat (Forhanger),” kata bapak ini dengan penuh yakin. Menurut kisahnya, dulu sebelum menjabat sebagai Forhanger, bapa ini berselingkuh dan menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi. Anak dan istri ia tinggalkan di rumah, sedangkan ia pergi mencari kesenangan di tempat lain. Rumahnya hanyalah sebagai tempat persinggahan di saat kehabisan uang. Istri dipaksa untuk mencari uang untuk diberikan kepadanya. Dengan demikian tindakan kekerasan sering terjadi dalam rumah tangga. Hal ini membuat istrinya cukup menderita di saat ia pulang ke rumah. Selain itu istrinya dilarang untuk berdoa. Pernah suatu ketika istrinya sedang berdoa, ia sempat katakan bahwa di mana Tuhanmu itu sambil memukul istrinya. Namun istrinya tetap pada pendiriannya: ia selalu berdoa demi pertobatan suaminya.

Dia akhirnya jatuh sakit. “Saya menjadi lumpuh, dan tak bisa berjalan. Hari-hariku penuh dengan penderitaan dan sengsara di rumah sakit. Sampai-sampai pernah saya katakan bahwa biarlah saya mati, jika harus terus menderita seperti ini. Pada saat itu istriku datang bersama dengan kedua anakku. Tak terasa air mataku jatuh. Saya kagum dan tersentak ternyata mereka masih mencintai dan menyayangiku. Di situlah awal pertobatank. Aku menyesal dan mengajak istriku untuk berbuat sesuatu kepadaku karena saya sudah pasrah. Obat-obatan telah saya minum tapi hasilnya sama saja. Akhirnya istri saya mengajak saya untuk berdoa dan bernovena setiap malam. Dan, mukjizat betul-betul terjadi. Hanya dalam sebulan kemudian saya menjadi sembuh dan dapat berjalan kembali seperti sedia kala. Mulai saat itu saya mejadi aktif di gereja dan terpilih menjadi Forhanger. Dengan menjadi Forhanger saya selalu berpasrah kepada Tuhan. Saya tidak pernah menuntut pada Tuhan. Saya selalu bersyukur atas kehidupan yang Ia berikan pada saya. Hal itu saya lakukan setiap pagi dengan berdoa sebelum bekerja. Menjadi forhanger banyak pengorbanan tapi saya tidak pernah mengeluh akan hal ini. Saya selalu melakukannya dengan sepenuh hati dan lapang dada,” kata bapak ini.

7. Nama : Effendi

Status : penjual di pasar Horas

Usia : 27 tahun

Agama : Islam

Alamat : Tanah Jawa

Pendapatnya tentang Tuhan: Menurut Effendi Tuhan adalah segala-galanya. “Dialah yang memberikan kesehatan bagi saya untuk melakukan perkerjaan saya setiap hari,” tuturnya. Karena tanpa kesehatan tentunya saya tak bisa bekerja. Maka itu setiap hari sebelum pergi bekerja tak lupa saya selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kesehatan kepada saya. Disamping itu juga saya memohon rejeki secukupnya untuk makan minum setiap hari.

Menurut pengakuan effendi, dia adalah anak tunggal yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya ketika berumur 12 tahun. Saat itu dia duduk di bangku SMP kelas II. Harapannya untuk mencapai cita-citanya sirna. Kemudian ia diasuh oleh neneknya, yang hanya untuk makan dan minum saja harus bersusah payah untuk mencarinya. Lalu, ia tidak lagi bersekolah. Walaupun keadaan demikian ia tidak putus asa dan berhati kecil. Toh menurut dia meskipun ia tidak bersekolah lagi, namun ia akan tetap berusaha menjadi anak yang baik, keluhnya pada waktu itu.

Keadaan seperti di ataslah yang memaksanya untuk membantu neneknya untuk mencari nafkah dengan menjadi penjual jeruk di pasar Horas sudah sejak umur 14 tahun. Selanjutnya ia menambahkan bahwa ia tidak pernah mengeluh dalam melakukan pekerjaannya setiap hari walaupun pekerjaannya hanya sebagai penjual di pasar. Menurut dia pekerjaan sehina apapun tidak masalah yang penting itu mulia dan Tuhan pasti menghendaki hal seperti itu. Tuhan mencintai orang yang lemah atau berkekurangan. Ia tak akan pernah menutup mata kepada orang yang selalu berpasrah kepadaNya. Ia akan selalu membantu dan meyertai kita dalam setiap tugas dan pekerjaan kita.

8. Nama : Sri Lestari Tampubolon

Status : Pelajar ( SMP Karya Bakti)

Umur : 14 Tahun

Agama : HKBP

Alamat : Komplek SMP Karya Bakti

Pendapatnya tentang Tuhan: “Tuhan bagiku adalah sahabat. Dia menladi sahabat misalnya saat aku belajar. Dia tidak pernah meninggalkan aku dan Dia selalu mendampingiku”, imbuh pelajar yang satu ini, “Hal itu kurasakan ketika menjelang ujian saya selalu diberikan kesehatan dan semangat untuk belajar. Maka itu saya selalu gunakan kesempatan itu untuk belajar dengan maksimal sehingga Tuhan tidak kecewa dan juga kedua orang tuaku. Tuhan juga baik telah memberikan kedua orang tua yang baik bagi saya. Mereka sangat menyayangi saya dan kakakku, karena memang hanya kami berdualah anak Bapak-ibu.”

Lantas kami bertanya, “Kapan saja atau saat apa saja Sri berdoa? Apakah menunggu sakit atau setiap hari?” “Dalam keluarga, saya selalu diajarkan Mama untuk selalu berdoa pada saat bangun pagi dan sebelum tidur malam sejak kecil,” jawabnya tenang. Walaupun terkadang saya lalai, tetapi ketika saya dilihat Mama tidak berdoa dia selalu mengingat kan saya untuk berdoa. Hal ini yang ditanamkan kedua orang tuaku hingga saat ini. Dan tentunya saat ini saya tidak lagi dijaga atau di awasi dalam hal berdoa. Karena saya tahu bahwa saya meski berdoa kepada Tuhan supaya Ia dapat melindungi dan menjagai saya. Disamping itu, sebagai pelajar saya mohonkan kepada Tuhan agar Ia selalu menuntun saya dalam proses belajar. Oleh karena itu berdoa bagi saya tidak hanya menunggu pada saat ujian atau sakit, tetapi doa harus setiap hari. Hal ini karena Yesus adalah sahabatku yang paling baik di samping teman-temanku di sekolah.

9. Nama : Fr Eddy, OFMConv.

Tingkat : III

Status : Mahasiswa Fakultas Filsafat dan Teologi

Umur : 24

Alamat : Biara St. Bonaventura

Pendapatnya tentang Tuhan: “Allah itu Actus Pulus, Alfa dan Omega. Awal dan Akhir. Dialah penyebab pertama yang tidak dapat disebabkan oleh penyebab yang lain”. Dialah pencipta segala makluk yang berada di bumi ini. Dan manusialah makluk yang paling sempurna melebihi ciptaan lain. Dengan demikian, sebagai ciptaan yang sempurna Allah patut di agungkan dan dihormati. Dengan cara membina relasi yang akrab dengan Dia dan mengasihi sesama baik dan alam sekitar.

Selanjutnya, Fr Eddy paparkan bahwa sebagai seorang frater selain melaksanakan tugas kuliah di kampus yang telah dipercayakan oleh Ordo, ia tetap juga tidak melupakan hidup doa. Doa menjadi ciri khas seorang frater. Tanpa doa hidup menjadi kering dan merana. Bila hal ini yang terjadi akibatnya, identitas sebagai seorang frater hilang dan kabur. Oleh karena itu janganlah kita melalaikan hidup doa. Hidup doa harus menjadi yang utama dan pertama dalam seluruh rangkaian kegiatan setiap hari. Doa itu ibarat makan dan minum, yang harus kita lakukan setiap saat. Karena tak seorangpun di dunia ini yang tidak makan dan minum. Makan dan minum unsure hakiki hidup manusia. Demikian juga doa.

Fr Eddy menambahkan bahwa selama ini ia tidak pernah merasa jauh dari Tuhan. Baik itu dalam suka maupun dalam duka. Ia katakan demikian karena memang ia tak pernah melupakan hidup doanya, baik dalam suka maupun dalam duka.

10. Nama : Septina br. Jawa

Umur : 21 tahun

Alamat : Parluasan

Pekerjaan : Pedagang

Agama : Islam

Pendapatnya tentang Tuhan: Septina mengatakan bahwa Tuhan itu ada dan dekat dengannya. Ia mengatakan bahwa Tuhan itu selalu hadir bersama dia dalam hari-hari hidupnya, terkhusus ketika ia sholat. Pada saat sekarang (selama mulai bekerja), ia mulai merasa jauh dari Tuhannya. Kendatipun demikian, ia yakin bahwa Tuhan itu selalu dekat dengannya. Sebagai manusia ia pernah marah dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil terhadapnya. Hal ini dirasakan ketika ia mengalami kegagalan. Ketika mengalami kegembiraan ia kadang lupa bersyukur. Semua agama yang ada di Indonesia ini, tentunya mengajarkan yang baik. Tidak ada agama yang ada kini mengajarkan sesuatu jahat dan menyuruh umatnya berbuat kekerasan terhadap sesamanya. Akhir dari obrolan kami, ia mengatakan ia bangga dengan agama yang dianutnya.

11. Nama : Agnes br. Purba

Umur : 19 tahun

Alamat : Jln. Melanton Siregar (susteran Nazareth)

Pekerjaan : Karyawati Susteran

Agama : Katolik

Pendapatnya tentang Tuhan: Agnes mengatakan bahwa tuhan itu dekat dan selalu membantu. Tetapi kadang ia merasa Tuhan itu jauh darinya. Ketika selisi paham dengan sesamanya – tidak diterima oleh sesama dan ketika ia berdoa dan doanya tidak dikabulkan. Pada moment seperti itu ia merasa Tuhan itu jauh dan mulai marah-marah dengan Tuhan. Ketika mengalami keberuntungan ia merasa bahwa Tuhan itu sungguh baik hati. Ia sangat bangga dengan agama yang sedang ia anut sekarang, dan bukan berarti agama yang lain tidak baik. semua agama itu baik adanya.

12. Nama : Ibu Halimah br. Jawa

Umur : 34 tahun

Alamat : Tanah Jawa

Pekerjaan : Pedagang Kecil (jualan di sekolah SLTPN I Tanah Jawa)

Agama : Islam

Ibu Halimah mengalami dan merasakan bahwa Allah itu sungguh dekat dengannya. Ia mengatakan bahwa Allah itu adalah pemberi dan sumber Rejeki. Allah itu sungguh maha baik, karena selalu mengaruniakan kesehatan baginya dan bagi anggota keluarganya. Selama hidupnya ia pernah marah terhadap Allah, karena segala harapan dan doanya tidak diterima oleh Allah. Kendatipun demikian, ia tidak pernah henti-hentinya memohon kepada allah. Ia selalu bersyukur atas pengalaman yang ia dapat setiap hari. Ibu Halimah mengatakan semua agama itu mengajarkan sesuatu yang baik. Kita umat-Nya yang sering berbuat yang tidak baik.

13. Nama : Pak Fitri Sitinjak

umur: 46 tahun

agama: HKBP

pekerjaan: bertani

alamat: Simpang Bah-kata, Jln. Seribudolok km. 15

Pendapatnya tentang Tuhan: Bapak ini mempunyai lima orang anak; yang paling sulung kelas 2 SMU (SMU N 1 Panei Tongah) & yang paling bungsu kelas empat SD (SD N 1 Sibaganding). Sehari-hari bapak ini bekerja sebagai petani dengan luas lahan kurang lebih 1 ha. Dalam pekerjaannya ia dibantu oleh anak-anak dan isterinya.

“Pernah suatu ketika sayamengutuki Tuhan,” tutur bapak ini ketika ditanya bagaimana pengalamannya dengan Tuhan. “waktu itu kami sangat membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anak-anak. Bersamaan dengan itu kami mengalami ‘gagal panen.’ Padi dimakan tikus. Memang bukan hanya padi kami, semua penduduk di kampung ini. Di mana-mana sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan gersang padi kuning tak berbulir.” Waktu itu katanya dia mengutuki Tuhan, Tuhan tidak adil. Dia pun berhenti ke gereja sebab tidak ada artinya. Kalau Tuhan Maha Penyayang bagaimana mungkin kami sesengsara ini, katanya.

Keadaan keluarga bukannya makin membaik. Tuhan menegurnya lewat putera keduanya yang jatuh sakit: demam berdarah. “Tetangga-tetangga datang dan mengajak saya berdoa,” katanya, “Awalnya saya enggan, untuk apa? Saya akhirnya tidak berdoa tetapi hati kecilku menjerit Tuhan tolong kami!!!.” Dan Tuhan memang Maha berbelaskasih, itu kesimpulan yang kutarik ketika tetangga berbaik hati memberi pinjaman uang untuk membawa anakku berobat. Anak kami Randy, akhirnya sembuh setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit.

14. Nama : Nai Eni br. Sitanggang

umur : 50 tahun

agama : Katolik

pekerjaan : parrengge-rengge (berdagang)

alamat : Pasar Baru – Tiga Balata

Pendapatnya tentang Tuhan: Ibu ini adalah seorang yang taat beragama. Ia tergolong aktif di gereja: ikut sebagai anggota PIK (punguan ina katolik), hampir tiap minggu ke gereja, dan dipercaya menjadi sintua di stasi Tiga Balata. Anak-anaknya pun tidak ketinggalan, mereka juga aktif di gereja: salah seorang puterinya adalah guru asmika di stasi itu. Keaktifan ibu ini sebenarnya bukan tanpa halangan. Ia berusaha membagi waktu antara mencari nafkah (berdagang kecil-kecilan) dan urusan gereja. “Waktu sangat penting bagi kami parrengge-rengge karena berhenti satu hari saja bisa mempengaruhi besarnya laba. Kalau tidak dari situ dari mana lagi dapat uang Frater?,” katanya dalam bahasa batak Toba yang kental. Sebagai, seorang janda adalah prestasi bagi ibu ini mampu menghidupi keenam anaknya.

Situasi berubah drastis ketika anaknya yang kedua meninggal dunia secara mengenaskan (bunuh diri karena sudah terlalu lama menderita sakit). Dalam adat Batak Toba memang kematian seorang pemuda adalah malapetaka paling berat. Biasa disebut mate tanggung artinya kematiannya seakan ‘dipaksa’. Ia mulai ragu akan Tuhan yang selama ini diagung-agungkannya. Tokh memang ia yakin adanya Tuhan tetapi ia makin ragu apakah Tuhan itu memang Mahabaik dan Mahakuasa. “Soalnya Tuhan yang demikian tidak mungkin membiarkan saya sesengsara ini, ” keluhnya.

15. nama : Mei Santa br. Samosir

umur : 18 tahun

agama : Katolik

status : pelajar (kelas 3, SMU N 1 Serbalawan)

alamat rumah: Serbalawan, dekat pajak.

Pendapatnya tentang Tuhan: Sebenarnya adik ini adalah murid saya di sekolah. Mei adalah siswi yang aktif, dia tidak pernah bolos dari les agama. Mei bercerita bahwa sebenarnya orang tua (tinggal Mama) tinggal di Binjai. Ibu itu bekerja sebagai guru SD. Mei pindah ke rumah oppung untuk menemani oppung di rumah. sekaligus ia sekolah di sini. Kebetulan rumah oppung dekat dengan sekolah tempat Mei menuntut ilmu. meski tinggal di rumah oppung, biaya sekolah tetap dari orang tua (jajan, uang sekolah, kursus, dll).

Bagi Mei, pelajaran agama sangat menarik, karena membantu kita untuk dekat dengan Tuhan. sejak kecil ia diajari orang tua bahwa Tuhan ada dalam Kitab Suci, doa, dan gereja. “Tuhan adalah sahabat,” demikian pernah diungkapkannya.

“Tetapi pernah saya tidak mengerti maksud Tuhan dalam hidupku. Saya bahkan samapai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu lupa.” Waktu itu katanya, uang sekolah sudah habis tak ada sepeserpun di kantong. Ia terpaksa meminjam uang dari teman-teman, tidak mungkin mengharapkan oppung karena ekonomi pun terbatas; oppung ‘tergantung total’ dari anak-anaknya. Dan yang membuat makin genting, Mei mendengar kabar bahwa Mama sedang sakit keras. “Saya panik,” katanya, “Sedapat mungkin saya tenang. Saya mohon agar Tuhan membantu saya. Tapi pikiran saya tidak juga tenang apalagi waktu ini adalah persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Atas saran oppung dan teman-teman saya pulang ke rumah, setelah sebelumnya meminjam uang lagi dari teman-teman.”

Mei berjumpa dengan ibu dan tidak berapa lama ibu sembuh. Dari pengalaman ini, dia samapai pada kesimpulan bahwa rencana Tuhan sangat sulit kita mengerti. “Mendengar ibu sakit saya memang ‘shock’ lantas mengadili Tuhan Mengapa. Baru sekarang saya tahu bahwa Tuhan mencintai saya,” ungkapnya yakin.

III . EVALUASI ATAS HASIL WAWANCARA

Manusia Mengalami Allah: Keyakinan bertumbuh dari Pengalaman

Secara epistemologis, manusia mengenal 2 macam pengetahuan: ilmu pengetahuan (yang membantu manusia menjelaskan sesuatu hal dengan sistematis, ilmiah, dan metodis) dan penghayatan (yang menumbuhkan keyakinan dalam hidup seseorang). Ilmu pengetahuan biasanya diperoleh lewat bangku formal sedangkan penghayatan diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Ibu saya tidak bisa mendefinisikan ‘Siapa itu Tuhan’ secara teologis. Tetapi, tidak berarti dia tidak beriman. Ia menghayati penuh yakin bahwa Tuhan sungguh ada dalam hidup dan doa-doanya.

Pada bagian pengantar disinggung bahwa manusia mengalami sekaligus mysterium fascinosum dan mysterium tremendum dalam hidupnya. Bukan karena dijelaskan atau diperoleh di bangku sekolah. Manusia heran dan takjub, bukan sebatas teori saja. Serentak, “ide Allah” (Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa) masuk dalam penghayatan manusia yang nota bene kecil dan tak berdaya itu. Allah sungguh ada, tidak dibuat-buat justru karena dialami sendiri oleh manusia. benarlah bahwa pengalaman jauh lebih kaya daripada teori-teori yang ada.

Penderitaan sebagai akibat dosa (?)

Kata Simone de Beauvoir, “It was easier for me to think of a world without a creator than of a creator loaded with all the contradictions of the world.” Bagaimana mungkin Tuhan Mahabaik tetapi membiarkan manusia menderita? Masih bisakah dipertahankan bahwa Dia Mahabaik?

Kira-kira itulah secara umum kesimpulan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang kami wawancarai. Manusia menggugat Tuhan: “Dimanakah Tuhan?” “Tuhan ….Mengapa Kauizinkan penderitaan ini?” Memang, seakan-akan contradictio in terminis Tuhan adalah Mahabaik, Mahakuasa koq derita saja tidak bisa dikalahkanNya?

Kritisisme atas “Paham Kebanyakan Orang tentang Penderitaan”

Teologi Deuteronomistis biasa disebut teologi retribusi (balas jasa), “sebab-akibat”: quid pro quo. Artinya, jika mau setia maka akan selamat, tidak setia = tidak selamat. Tetapi paham demikian cepat luntur bila kita mengamati pengalaman Ayub.

Dari pengalaman Ayub ditarik kesimpulan bahwa penderitaan yang dialami manusia tidak selamanya merupakan hukum sebab akibat. Memang pada awalnya Ayub mengikuti pola itu, maka ia memberontak pada Tuhan karena yakin bahwa dia tidak berdosa: “Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.” (Ay. 13:23). Tetapi, Ayub lalu mencabut perkataannya itu dan menyesalkan diri: “Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.” (Ay. 42:2). Jadi, orang baik pun bisa menderita.

Lantas dari mana penderitaan itu? Dalam Kej.1-11 kita ketahui bahwa manusia mengkhianati kebebasannya. Allah mencipta manusia bebas justru karena ia mencintai manusia: Allah tidak mau manusia hidup secara mekanis seperti robot. Memang, manusia memiliki potensi untuk berbuat jahat tetapi itulah konsekwensi dari kebebasan (Potensi sebelum menjadi actus belumlah dosa)..Tuhan tidak pernah memaksa, ia lebih menghendaki agar manusia memilih Tuhan dengan bebas.

Bisa jadi manusia menderita karena ulah manusia itu (longsor karena penebangan liar, banjir karena sampah, dll). namun, melihat pengalaman Ayub, kita sadar juga bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia yang integral.

Penderitaan Hendaknya Dihayati dalam Iman

Pertanyaan ‘mengapa Allah mengizinkan penderitaan?’ tidak bisa dijawab oleh filsafat. Justru teologi (iman) yang dapat memasuki areal pertanyaan itu. Dalam iman Kristen, Salib adalah jalan menuju kebahagiaan; “Pikullah salibmu!” Dengan mengatakan ‘pikullah salibmu, Yesus sebenarnya mau menggambarkan realitas hidup manusia bahwa penderitaan itu adalah bagian hidup manusia, jangan dieliminir. Derita harus dijalani. Orang beriman sejati melihat penderitaan itu sebagai jalan menuju Tuhan, keselamatan. Pilihan ini tentu harus bertumbuh dalam cinta. Cinta yang menumbuhkan iman dan harapan akan hidup kekal.

Kritus sendiri memberi contoh. Ia sendiri adalah Allah tetapi Ia mau menderita: bukan untuk diriNya melainkan menjadi tebusan bagi banyak orang. Allah sedemikian Mahabesar sehingga sanggup menjadi sedemikian Mahakecil dan hina: wafat di salib. Tetapi kebangkitanNya menjadi bukti, tiada paskah tanpa salib dan derita. Dan manusia sebenarnya harus makin optimis Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, “I will never forget you My people.”

IV . ALLAH MENJADI PERTANYAAN SEKALIGUS JAWABAN: “Tuhan” dalam Diskusi Kelompok

“Universalitas” Tuhan

Tadi sudah dikatakan bahwa pengalaman akan Tuhan itu lintas budaya, generasi, status, suku, agama, dll. Budaya-budaya kita meerumuskan Allah itu dengan beragam nama dan bahasa. Orang Toba mengatakannya “Debata”, Jawa “Gusti”, bangsa Israel ” Yahweh, Elohim”, Muslim “El-Shaddai.” Namun, meski nama dan bahasa yang dipakai bermacam-macam pada intinya sama saja: Allah yang satu dan sama. Tuhan tidak boleh hanya monopoli orang Kristen saja, atau Muslim saja, atau Buddha, dll. Semua orang mengalami Allah (memang dalam konsep masing-masing) entah disadari atau tidak (“Matahari dipancarkan untuk orang baik dan jahat….”). Maka sentimen agama menjadi lebih sempit ketimbang pengalaman akan Allah itu sendiri.

Tuhan adalah Misteri dan “Proses Pencarian Manusia”

Kita terus mencari dan ‘mendefinisikan’ Tuhan. Bagi kelompok kami hal itu sangat wajar. Itu tokh perlu demi kepentingan manusia itu sendiri, hanya perlu disadari bahwa nalar manusia terbatas. tetapi secanggih manapun perumusan manusia akan Tuhan, Tuhan tetaplah Tuhan; Dia tidak pernah kita mengerti sepenuhnya. Jangan-jangan kita akan mengulangi pengalaman Agustinus: mau memindahkan Allah yang sedemikian Mahabesar ke dalam kepala manusia (rasio belaka) yang sedemikian kecil. Maka doa kita adalah: bantulah kami ya Tuhan kami semakin mampu memahami rencanMu untuk kami (syair lagu: Rencana Tuhan adalah rencanaNya…bukan seperti rencana manusia.). “We don’t understand God totally but we must believe in His love).”

“Tuhan adalah misteri” itulah kesimpulan kita. Dia tak pernah tuntas oleh pikiran kita. Kita jatuh bangun mencari Dia. Tetapi tidak apa-apa, semua harus dipandang dalam bingkai ‘proses’, tidak pernah definitip. Kata St. Agustinus: Semakin manusia mengenal dirinya sendiri, semakin ia mengenal Pencipta-nya. Pengalaman hidup personal manusia adalah proses pencarian yang lebih sejati akan Allah. Orang beriman harus melihat Dia dengan hati yang murni: “Beati mundo corde, quoniam ipsi Deum videbunt.” (Mat. 5:8). Hati yang murni tidak harus memusuhi nalar. Nalar penting juga. Hanya memang dalam segala usaha pencarian itu, Allah harus sekaligus sebagai pertanyaan dan jawaban kita (berawal dari Allah dan berakhir pada Allah juga).

V . PENUTUP

Pada awal kita bertanya “apakah ada Tuhan?” “Dimana Dia?” dan seterusnya….Pada bagian penutup inipun kita samapi pada pertanyaan yang sama “Apakah ada Tuhan?” Yang jelas, bukan karena kita rumuskan maka itulah Tuhan. Tuhan tetaplah Tuhan pada DiriNya dengan segala ke-Mahakuasa-anNya. Memang kita tidak boleh juga menutup mata akan pengalaman hidup kita di mana kita mengalami Tuhan yang terlibat. Kita makin sadar solusi “Apakah ada Tuhan” bukan dengan jalan pembuktian sebagaimana sebuah fakta alami. Kita hanya bisa mengerti dan mengalami dalam hidup sehari-hari bahwa Dia ada (hanya petunjuk bahwa Tuhan ada). Maka dalam iman kita akui bahwa kita tidak mengerti Dia sepenuhnya, kita hanya dapat percaya kepadaNya dan berkata: Tuhanku & Allahku !