1. Pengantar
Dalam dunia Timur Tengah Antik (Ancient Near East), penggunaan metafora gembala adalah hal yang biasa. Metafora gembala dipakai untuk menyatakan fungsi seorang raja yang memimpin sebuah bangsa. Salah satu contoh ialah raja-raja Sumeria pada millennium ke-3 B.C. yang menyebut diri mereka sebagai gembala atas rakyatnya. Seruan itu dilukiskan sebagai berikut: “Jika orang itu mengindahkan kata-kataku yang kutulis dalam stela, dan tidak meninggalkan hukumku,…semoga Shamash menjadikan orang itu memerintah lama seperti aku, raja keadilan; semoga dia menggembalakan rakyatnya dalam keadilan!”
Dalam kitab Yehezkiel, elaborasi dalam bentuk metafora adalah salah satu kekhasan kitab itu. Memang, dalam buku-buku kenabian yang lain kita menemukan juga bentuk-bentuk metaforis tetapi tidak seluas (extensive) metafora dalam kitab Yehezkiel. Susunan metafora-metafora Yehezkiel tampak disengaja dan sistematis.

2. Uraian Eksegetis atas Yeh 34: 23-31
2.1 Catatan Awal
Secara garis besar Kitab Yehezkiel terdiri atas 3 bagian besar, yakni bab 1-24 (nubuat penghukuman atas penduduk Yehuda dan Yerusalem), bab 25-32 (nubuat penghukuman atas bangsa-bangsa asing), dan bab 33-48 (nubuat keselamatan). Dengan demikian, Yeh 34 masuk pada pembagian ketiga yakni nubuat keselamatan.
Yeh 34 merupakan salah satu metafora gembala yang terkenal dalam kitab suci Ibrani. Di dalamnya ditampilkan para gembala yaitu para pemimpin rohani dan politik yang tidak melaksanakan peranan yang diberikan Yahweh kepada mereka. Akibatnya adalah orang-orang Israel tercerai berai seperti domba tanpa gembala (ay. 1-10). Oleh karena itu, Yahweh sendiri akan mengurusi dan mengumpulkan kembali domba-domba-Nya terutama mereka yang lemah dan terluka (ay. 11-16). Namun, tidak semua domba-domba itu akan dipulangkan Yahweh. Yahweh akan memisahkan domba-domba yang baik dari domba-domba yang jahat (ay. 17-22). Pada tahap akhir Yahweh menjanjikan kedatangan gembala yang baru dari keturunan Daud (ay. 23-31). Daud historis adalah orang yang berkenan kepada Yahweh (2 Raj 8:19). Melalui Daud Yahweh bukan saja membebaskan bangsa Israel dari gangguan bangsa Filistin, tetapi juga membawa mereka ke dalam kesejahteraan dan kekuatan. Ide dan harapan akan kehidupan dalam kerajaan demikian muncul dalam tema yang akan kita lihat dalam pembahasan sederhana ini.

2.2 Kesatuan Teks Yeh 34:23-31
Pada umumnya para ahli membuat Yeh 34:23-31 sebagai satu kesatuan unit. Unit Yeh 34:23-31 dibedakan dan dipisahkan karena bagian ini memperluas tema yang sudah ada dalam Yeh 34:1-22. Setelah domba-domba diselamatkan (ay.16) dan domba-domba yang baik dipisahkan dari domba-domba jahat (ay.17-22), seruan yang menyegarkan dimulai dengan janji Yahweh yang akan mempersatukan kawanan itu di bawah satu gembala, yakni seorang dari keturunan Daud. Figur yang diungkapkan dalam ayat 17-22 dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu, Hölscher melihat bahwa ayat 23-31 ini adalah tambahan kemudian yang diduga berasal dari tangan lebih dari satu orang. Yeh 34: 23-31 berisi janji Yahweh mengenai kerajaan damai bagi umat-Nya. Bagian ini dibagi menjadi dua bagian:
o Ayat 23-34: janji Yahweh mengenai Daud Redivivus.
o Ayat 25-34: kemakmuran bagi bangsa.

2.3 Janji Yahweh Mengenai Daud Redivivus (ayat 23-24)
Ayat 23: Ungkapan ”Aku akan mengangkat satu orang gembala”di sini dikaitkan dengan Am 9:11 (pendirian kembali pondok Daud yang telah roboh) dan II Sam 7:12 (pembangkitan kembali keturunan Daud). Bila dikaitkan dengan Yeh 37:24, ”satu orang gembala” mengimplisitkan satu kawanan, yakni penyatuan kerajaan-kerajaan (bdk. satu kawanan, dengan satu gembala (Yoh 10:16)).
”… yaitu Daud, hamba-Ku….” Ada beberapa perbedaan pendapat para ahli dalam memandang sebutan Daud di sini. Beberapa melihatnya sebagai janji Yahweh mengenai kedatangan seorang raja damai dari keturunan Daud sebagaimana harapan kenabian tradisional. Yang lain melihat bahwa Yahweh akan menghidupkan Daud kembali. Kata hēqīm dipakai untuk menyatakan pengangkatan seorang pemimpin, yakni ide tentang kebangkitan Raja Daud dari kematian. Pendapat ketiga berusaha memperlihatkan bahwa apa yang ditekankan di sini adalah pengembalian kembali dinasti Daud dahulu. Akibatnya, ungkapan ”hambaku Daud” dapat dimengerti bukan secara individual tetapi kolektif.
Para ahli sekarang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sebutan Daud adalah kedatangan seorang dari keturunan Daud (Daud Redivivus). Istilah yang dipakai adalah mengangkat, dan bukan membangkitkan. Sifat-sifat yang dialamatkan kepada Daud Redivivus itu adalah sifat religius-etis (setia kepada Yahweh sehingga disebut hamba Yahweh (ebed-Yahweh) dan sifat politis. Dalam Yeh 37:25 Daud akan menjadi raja untuk selama-lamanya. Ungkapan ini secara lebih penuh terdapat dalam 37:22-25 yang merupakan seruan ulang dari Yer 23;57; 30:9; Zak 2:16.
”… dia akan menggembalakan mereka dan menjadi gembalanya.” Sebutan gembala adalah fenomena yang umum dalam dunia Timur Tengah Antik (lihat pengantar). Kekhasan bagian ini terletak pada pemakaian istilah yang kini digunakan pada mesias dari keturunan Daud yang akan datang.
Ayat 24: Interpretasi atas ayat 23 dikonfirmasikan lewat ayat 24 yang memasukkan pelantikan ”hamba Daud” dalam rumusan perjanjian yang lebih tua. Rumusan itu kemudian menunjukkannya sebagai bagian integral perjanjian yang baru: ’Aku, Yahweh akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud akan menjadi raja di tengah-tengah mereka.’ Bagian kedua dari rumusan perjanjian ”mereka akan menjadi umat-Ku” sengaja dihilangkan karena inti utama yang hendak ditekankan adalah berkat tertinggi yang akan diberikan dengan kehadiran personal raja damai. Rumusan perjanjian yang penuh diungkapkan justru dalam ayat 30 untuk menyimpulkan keseluruhan bagian.

2.4 Kemakmuran bagi Bangsa (ayat 25-31)
Ayat 25: ayat 25 berbicara tentang penyimpulan perjanjian yang baru. Keistimewaan dari nubuat ini terletak pada pemakaian istilah berith syalom. Berith bermakna perjanjian tanpa pamrih dari Yahweh. Perjanjian seperti ini diberikan (karat-le) bukan disepakati (karat-et). Mereka tidak lagi jarahan bangsa-bangsa dan binatang (bdk. ay 28). Janji ini identik dengan Im 26:6. Perjanjian itu akan mengubah binatang-binatang buas yang berbahaya (Yes 2:6-8; 35:9; 65:25; Ayub 5:22-33).
Pandangan yang agak berbeda mengenai berith syalom diberikan oleh J. Pedersen. J.Pedersen menterjemahkan MELY xIXA (bryt slwm, ”perjanjian damai”) dalam 34:25; 37:26; Yes 54:10 dengan ”perjanjian yang tidak dapat rusak” (unbreakable covenant).
”… mereka dapat diam di padang gurun dengan aman tenteram dan dapat tidur di hutan-hutan.” Tekanan pada jaminan hidup (ay. 25, 27, 28) menunjukkan betapa bahaya kehidupan berlangsung lama pada periode sebelumnya. Namun, bangsa itu akan diam dengan aman di daerah padang gurun (Yer 5:6) dan hutan-hutan, di mana biasannya terdapat binatang-binatang buas yang melukai manusia (Yer 5:6). Kata הטבל (lbth, ”dalam keamanan”) (28:26;34:25, 27f; 38:8, 11, 14; 39:26) adalah kata kunci bagi kebebasan dari rasa takut yang di masa depan akan diberi damai oleh Yahweh. Upah ketaatan manusia dalam Im 26:5bβ, 6 muncul di sini sebagai rahmat gratis dari Yahweh bagi umat-Nya.
Ayat 26-27: Pada bagian ini diungkapkan berkat atas tanah yang menghasilkan. Hujan berlimpah yang menjadikan pohon-pohon menghasilkan buah dan tanah yang memberi hasilnya (Im 26:4), akan menjadi tanda dengan mana Yahweh menyatakan Diri-Nya sendiri. Yehezkiel mengulangi apa yang dikatakan nabi pendahulunya, Yesaya, yang berbicara mengenai hujan musim yang akan menyuburkan tanah (ay.27). Hujan yang dimaksud di sini adalah hujan pada musim dingin (géshem, kadang-kadang disebut hujan terakhir) dari pertengahan Desember-Maret; Hujan itu akan membasahi tanah dan mengisi mata air dan waduk sebelum musim kering tiba (Mei-Oktober); lihat Ul 2:14; 28:12; Zak 10:1, Ayub 38:26f. Bahasa itu mirip dengan ungkapan Im 26:4a.
Ungkapan מטות שבר (sbr mtwt, ”mematahkan penghalang”) terdapat juga dalam Yeh 30:18. Sementara kata על (’l, ”kuk”) tidak terdapat di tempat lain dalam kitab Yehezkiel. Kata itu terdapat dalam Yes 9:3; 10:27; 14:25; Yer 28:2, 4, 11; 30:8.
Ayat 28: Perihal bagaimana bangsa itu datang untuk diam dengan aman di tanah terjanji tidak seperti ungkapan Yes 2:4 dan Hos 2:18 yang memasuki tanah dengan senjata dan kerja keras. Mereka akan melepaskan kuk (beban) yang selama ini memenjarakan mereka.
Ayat 29: Sekali lagi diberikan ungkapan damai di mana tidak seseorang pun merasa takut lagi (39:26; bdk. Im 26:6a), bebas dari kelaparan (5:12, 16f; 6:11f; 7:15; 12:16, 14:13, 21; bdk. Im 26:5bα) sebagaimana dalam 36:29f dan dari hukuman bagi bangsa-bangsa dalam 36:6f, 15. Frase “taman kebahagiaan” tidak sepenuhnya jelas. Barangkali hal itu dibuat berdasarkan keterangan Yeremia mengenai keselamatan dengan ide tanaman. Sementara kata מטע (mt‘, “taman”) yang dipakai dalam Yeh 17:7; 31:4 bukanlah rumusan dari kitab itu sendiri, barangkali dapat dilihat dalam kitab Trito-Yesaya (61:3; bdk 60:21).
Taman keselamatan, atau damai, tempat šālōm tinggal dan yang memiliki korelasi dengan berit šālōm dari ay 25, menyajikan paralel yang tepat dengan Yes 32:15-18, di mana hutan belantara akan diubah menjadi lahan produktif. Di sana, menurut Yesaya, keadilan dan kebenaran akan diam, dan buahnya akan menjadi damai serta bertahan selama-lamanya.
Ayat 30: Ungkapan rumusan perkenalan rata-rata berdiri sendiri dengan bahan yang berasal dari rumusan perjanjian…. Ketika rumusan perjanjian dikatakan: ”Akulah Yahweh, Allah mereka,” karakter perjanjian sebagai anugerah secara jelas digarisbawahi dengan tambahan dalam Teks Masoreticus: “Aku, Yahweh, Allah mereka, menyertai mereka”.
Bentuk “bahwa Aku…menyertai mereka” tidak mempunyai paralel dalam kitab Yehezkiel. Barangkali dengan mereka telah disalin dengan salah dari kata engkau (ye, konsonan yang sama dalam bahasa Ibrani) dalam ay. 31. “…dan mereka adalah umat-Ku” bisa dibandingkan dengan Hos 2:25; Yes 51:16; 67:8 yang diambil alih kemudian oleh Zak 13:9.
Ayat 31: Kata עאן (‘’n, “kawanan”) dijelaskan secara terperinci dalam ayat 31 dalam dua bentuk berbeda. Bentuk pertama dijelaskan dengan tambahan מרעיתי (mr‘yty, “gembalaku”) yang dikecualikan dari Yer 23:1, ditemukan dalam bahasa-bahasa pemazmur (Mzm 74:1; 79:13; 95:7; 100:3). Bentuk kedua dijelaskan dengan tambahan אדם (‘dm, “manusia”) yang membuat tokoh yang dibicarakan diaplikasikan pada manusia (lih. juga 36:38). Akan tetapi tidak berarti bahwa kata אדם (‘dm, “manusia”) hanya terbatas pada bangsa Israel saja. R. Simeon b.Yohai berkata: “Engkau disebut manusia (אדם) tetapi penyembah-penyembah berhala tidak disebut demikian.”

3. Penutup
Setelah mengikuti pemaparan di atas, kita mendapat gambaran mengenai Yahweh sebagai Allah yang peduli dan terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Kepedulian itu ditampakkan lewat tindakan Yahweh yang akan memilih dan mengangkat seorang gembala dari keturunan Daud (Yeh 34:23-24). Gembala yang akan dipilih ini akan hidup sesuai dengan kehendak Yahweh. Yahweh sebagai gembala sejati atas Israel akan menjadi teladan hidup. Figur gembala ini tentu amat berlawanan dengan pemimpin-pemimpin politik dan religius pada masa itu yang melupakan tugas dan tanggung jawab mereka untuk menciptakan keadilan.
Pilihan Yahweh untuk mengangkat seseorang gembala semata-mata untuk mewujudkan kerajaan damai bagi umat-Nya. Kerajaan seperti itu ditandai oleh kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat di tanah yang mereka tempati (Yeh 34:25-31). Kemakmuran dan kesejahteraan ini mengindikasikan komitmen Yahweh yang penuh cinta terhadap umat-Nya.