Sebentar lagi kita akan menikmati lagi gempita Natal dan semarak Tahun Baru. Momen sangat berharga dalam hidup kita. Serentak kita akan disuguhi ragam hiasan Natal dan Tahun Baru: pohon terang, lagu-lagu Natal, gua/kandang natal, kue-kue tahun baru, “marayat-ayat”, yang akhir-akhir ini agak terlupakan: kartu natal, dan seribu satu macam ornamen lainnya. “Kartu natal” itulah yang menjadi fokus kita dalam goresan kecil ini.
Tulisan ini sangat personal sifatnya. Saya menyebutnya “sharing tertulis” dengan para pembaca budiman sekalian. Bermula dari celotehan ringan dengan saudara-saudara di biara tempat kami tinggal. Tidak ada pretensi dari pihak saya untuk suatu ‘debat’ ilmiah atasnya. Ia lahir melulu hasil refleksi. Refleksi atas makin tersisihnya kartu natal oleh tekhnologi modern. Atau bisa jadi karena sudah terlalu biasa sehingga maknanya yang sejati makin luntur. Kadang terlupakan bahwa ia berasal dari tradisi yang sangat mulia. Fenomena ini membeku jadi sebentuk keprihatinan saya pribadi atas sinyalemen itu.

TAHUKAH ANDA………?!
(Sejarah kartu natal)
Tahukah anda…… memberikan hadiah adalah bagian tak terpisahkan dari masa Natal. Kebiasaan itu berasal dari kebiasaan Romawi kuno yang membagi-bagikan hadiah selama festival musim semi. Di beberapa Negara, seperti Italia dan Spanyol, anak-anak tidak memperoleh hadiah pada hari Natal (25 Des.) tetapi memperolehnya pada 05 Januari, malam epifani. (bdk. Compton’s Pictured Encyclopedia vol.3, 326).
Tahukah anda…….bahwa kartu natal yang adalah bagian dari hadiah natal itu lahir dari keinginan setiap orang yagn ingin berbagi suka cita dan harapan pada saat yang istimewa ini: KRISTUS YANG LAHIR KE DUNIA. Ia menjadi manusia – inkarnasi (‘in’ + ‘carne’ = menjadi daging). Konon kartu natal pertama di dunia dilukis oleh seorang seniman Inggris, John Calcott Horsley (1818-1903) atas perintah Sir Henry Cole pada tahun 1843. kartu ini terbagi atas 3 bingkai. Bingkai tengah menunjukkan gambar sebuah keluarga sedang menikmati makan malam Natal. Bingkai yang lebih kecil di kedua sisi menunjukkan perbuatan yang berlandaskan nilai-nilai kristiani. Bingkai sebelah kiri menggambarkan pemberian makanan pada orang lapar, sedang bingkai sebelah kanan menggambarkan pemberian pakaian pada fakir miskin. Di bagian bawah tertulis ucapan terkenal yang dipakai untuk hari Natal “A Merry Christmas & happy New Year to You.”

Tahukah anda…….bahwa mencetak kartu natal kenegaraan dimulai oleh Ratu Victoria pada tahun 1840-an. Kartu natal berwarna pertama kali diterbitkan oleh Louis Prang pada 1847. Ia adalah seorang penerbit yang pertama kali mencetak kartu natal komersial di Boston, Amerika Serikat. Ia dijuluki “Bapak Kartu Ucapan” dari Amerika. Kepopuleran kartu natal mencapai puncaknya pada 1920 hingga saat ini.
Tahukah anda…….bahwa kartu natal paling kecil terbuat dari sebutir beras. Kartu ini diberikan kepada Pangeran Wales dari Inggris pada 1929. Kartu Natal terbesar (53×84 cm) adalah kartu natal yang dipersembahkan kepada Presiden A.S. Calvin Coolidge tahun 1924.

KARTU NATAL BERMAKNA SIMBOLIS
Adalah Ernst Cassirer, seorang profesor Jerman yang mengatakan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional (animal rationale) tetapi sekaligus makhluk simbolis (animal symbolicum). Apa maksudnya? Simbol dari bahasa Yunani = sym-ballein artinya “jatuh bersama.” Dalam simbol, tanda dan makna (yang ditandakan) hadir sekaligus. (bdk. Kenang-kenangan yang berupa sapu tangan misalnya yang diberi oleh seseorang. Sapu tangan itu lebih dari sekadar kain belaka. Dalam sapu tangan itu hadir sekaligus orang yang kita cintai yang memberi sapu tangannya kepada kita; melihat sapu tangan itu melihat dia yang kita cintai). Untuk itulah manusia tidak sekadar punya nalar melulu, ia makhluk simbolis. Artinya, ia mampu mengungkapkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Simbol mengungkapkan lebih kaya dari pada apa yang dapat diucapkan bibir. (mengatakan cinta saja bisa dengan banyak simbol: bunga mawar, “ULOS”, surat, dan kartu (natal), dll). Dengan kata lain, manusia mampu menghayati sesuatu ‘yang tidak hadir’ pada sesuatu ‘yang hadir.’
Kartu natal itu bermakna simbolis. Sejajar dengan ungkapan: “Sebuah kartu mewakili kehadiran seseorang.” Mengapa? Karena sebuah kartu sejatinya ditulis oleh orang-orang yang mau berbagi suka cita dengan orang istimewa. Ia (dan suka citanya) ‘hadir bersama’ hadirnya kartu itu. Kartu mengungkap lentingan hati seseorang yang terangkum dalam kata-kata sederhana nan mulia: “Semoga Kristus lahir di hati kita,” “Semoga damai Natal membaharui hidup kita,” “Semoga…..”

KARTU NATAL MULAI DILUPAKAN (?)
Ketika berselancar di dunia maya internet, dengan kata kunci “kartu + natal” mesin pencari google memuat banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa MAKNA kartu natal mulai ditinggalkan orang di zaman modern ini. Saya sangat setuju. Kartu natal memang ‘mulai’ dilupakan banyak orang, untuk tidak mengatakan makna sejatinya ditinggalkan sama sekali. Tekhnologi modern menjadi saingan pertama dari kartu natal. Via sms, e-mail, sejenisnya memang lebih praktis, murah, cepat, dan keren (up-to-date). Sementara membuat kartu natal butuh waktu lama.
Menjelang Natal, biasanya ornamen-ornamen natal (kartu natal, cs) membanjiri toko-toko, mall-mall, dan plaza. Beragam jenis dijajakan mulai dari yang paling sederhana sampai yang super-mewah, buatan lokal sampai yang berkualitas ekspor. “Bisnis semusim” ini memang sangat menjanjikan. Banyak orang yang berlomba-lomba membelinya, rela merogoh kocek besar demi si mungil kartu natal yang mewah nan menarik. Bagi saya, hal itu sah-sah saja. Asalkan tidak dipungkiri juga bahwa yang murah tidak semuanya buruk, simple is beautiful. Justru Natal berarti Yesus menjadi manusia, lahir di kandang hina mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia (lih. Flp. 2:1-11). Yang paling penting hal itu berasal dari kedalaman hati seseorang untuk saat yang istimewa itu. Pengalaman saya, kartu natal ‘buatan tangan’ seseorang itu meski jelek jauh lebih bermakna.
Satu hal yang kadang tidak disadari, membuat dan menerima kartu natal seakan menjadi ‘rutinitas semusim.’ “Yah…sudah natal, kita buatlah kartu natal!’ Dua kemungkinan dari terlalu biasa: atau makin bermakna atau menjadi formalitas belaka. Sejauh saya lihat pemaknaannya cenderung pada kemungkinan kedua. Kartu natal seakan berlalu begitu saja, kartu yang dibuat dan diterima kurang dilihat dalam maknanya yang sejati. Padahal kartu natal itu bermakna simbolis tidak melulu pelengkap semarak dan penambah ornamen-ornamen di pohon terang.

PENUTUP
NATAL adalah saat mulia: mengenang kelahiran Yesus Kristus. Ia rela menjadi manusia dan miskin supaya kita menjadi kaya karena kemiskinanNya. Maka tepatlah kita bersuka cita karenanya. Suka cita itu bisa diungkapkan lewat pengiriman kartu natal.
Di awal saya menandaskan bahwa tulisan ini hanya sebatas refleksi dan sharing pribadi atas sinyalemen ‘kartu natal makin terlupakan’ di era modern. Sinyalemen itu kiranya menjadi aba-aba bagi kita untuk semakin jeli membaca tanda-tanda zaman. Kartu natal tetap bermakna sekalipun dihimpit tekhnologi modern. Ia bermakna simbolis, lahir dari tradisi mulia, lebih dari sekadar penghias meja belajar, lemari pakaian, pun penambah hiasan pohon terang.
Menutup nukilan ringan ini, saya mau mengutip pendapat filsuf terkenal “si melankolis” Soren Kierkegaard (1813-1855): “Surat tetap merupakan sarana yang tak tertandingi untuk mengesankan seseorang; huruf yang mati itu sering berpengaruh lebih kuat dari pada kata yang hidup.”