Dulu, sewaktu masih di Seminari-Menengah (Pematangsiantar), ada saat tertentu yang dikhususkan untuk silentium magnum (b.Latin = hening ‘besar’) bagi kami para seminaris. Sebagai seorang remaja, aturan itu lebih kerap dipandang sebagai ‘ancaman’ yang menakutkan. Menakutkan karena waktu itu belum persis kami tahu apa makna di balik ‘kebisuan’ itu. Maka tidak mengherankan jika pastor yang sedang mengawas sering menegur kami manakala kecolongan riuh dan ribut.
Pengalaman itu menjadi sangat bermakna bagi saya ketika menjejaki jenjang hidup religius yang lebih tinggi. Saya makin sadar juga bahwa hening tidak sama dengan sepi. Adalah menakutkan jika kesunyian dan kesendirian dipahami dalam bingkai sepi. Tidak sedikit orang yang mengalami demikian, sehingga banyak orang yang tidak bisa belajar kalau tidak ditemani musik ingar-bingar atau barangkali tidak bisa sendirian duduk di kamar barang sekejap saja. Lantas banyak orang yang mencari hiburan batin ke tempat-tempat ramai, ngobrol yang terlalu panjang dengan teman, tertawa terbahak-bahak, ‘mengungsi’ ke mall-mall, super-market, dll. Rupanya memang rasa sepi hilang sebentar, tetapi sebenarnya rasa sepi itu tetap ada. Malahan dengan itu kesepian makin dilipatgandakan sehingga dicari dan dicari terus.
Hening adalah senjata, suluh untuk semakin mengenal diri sendiri dan mengusir kegelapan (kesepian) dari dalam diri, kata Henri J.M.Nouwen. Hening itu penuh suara (angin yang berdesir, kenderaan yang berpacu di aspal hitam). Di dalamnya kita bebas untuk berjalan-jalan mengelilingi kebun kehidupan kita sendiri, menyapu dedaunan yang berserakan dalam diri kita, bebas untuk menyiangi rumput-rumput yang tumbuh liar di dalam diri, menyirami hati kita yang gersang dan menata serta menghiasnya sedemikian rupa. Hening adalah syarat untuk menjadi diri yang sejati. “Ukuran bagi seorang manusia adalah berapa lama dan sampai sejauh mana ia dapat menanggung kesendiriannya,” demikian Sören Kierkegaard.
Dalam Mrk. 1:35-39 dikisahkan bagaimana Yesus di tengah-tengah kesibukanNya masih menyempatkan diri bergelut di dalam keheningan dan berdoa di sana “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun & pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Dengan me-mundur-kan diri Yesus mau maju karena sadar bahwa kesunyian itu memperkaya dan menyumbang. Justru, rahasia tempat pelayanan Yesus tersembunyi di tempat sunyi sehingga Ia berani untuk mengikuti kehendak Bapa. Dari tempat sunyi Yesus berani berserah pada Bapa “Ya Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu tetapi bukanlah kehendakKu melainkan kehendakMulah terjadi.” (Luk. 22:42)
Di tengah modernitas yang mengagungkan persaingan dan prestasi, banyak orang yang melihat hening sebagai momok yang harus dihindari. Persaingan dan prestasi dilihat sebagai ukuran seorang manusia. Itulah wajah zaman kita. Manusia meragukan daya yang diusung oleh keheningan. Padahal janji yang dibawa oleh keheningan itu ialah bahwa kehidupan baru dapat dilahirkan di dalamnya. Sedikit demi sedikit kita akan mampu melepaskan mimpi-mimpi yang membuat kita terlalu ambisius, melepaskan nafsu-nafsu tidak teratur dan membantu kita mencintai sesama apa-adanya dia sebagai manusia.