Pengantar
Pengalaman simbol adalah pengalaman eksistensial-antropologis manusia. Dalam hidupnya manusia menemukan dan mengalami simbol. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dijelaskan lewat nalar dan emosi. Manusia secara lebih mendalam dapat mengungkapkan diri lewat simbol. Maka tidak mengherankan jika Ernst Cassirer menyebut manusia sebagai “animal symbolicum.” Secara filosofis, simbol dibedakan dari tanda. Tanda bersifat kognitif dan dangkal. Sementara simbol (sym + ballein: “jatuh bersama dengan”, menyambungkan) mengungkapkan dimensi manusia yang lebih dalam yang tidak bisa terungkap lewat kata-kata belaka. Simbol menyambungkan significans (tanda eksternal, yang menandakan) dan significatum (tanda eksternal, yang ditandakan). Artinya dalam simbol makna dan pe-‘makna’ jatuh bersama serentak.
Gereja Katolik kaya akan simbol. Salah satu simbol yang akan dibahas dalam tulisan singkat adalah minyak suci. Dalam kehidupan sehari-hari, minyak melambangkan keharuman, kesegaran, kekuatan, dan pelantikan.
Pemakaian Minyak dalam Tradisi Kitab Suci dan Orang Ibrani
Dalam periode Kitab Suci, minyak adalah bahan untuk bumbu masak (Bil.11:8), bahan bakar untuk lampu (Mat.25:1-9), bahan untuk menyembuhkan luka-luka (Luk.10:34; Yes.1:6). Barangkali yang paling sering disebut dalam Kitab Suci perihal pemakaian minyak adalah untuk pengurapan raja-raja (I Sam.10:1; 16:1,13), para imam (Kel.29:7), dan nabi-nabi. Mengurapi dengan minyak di atas kepala juga menyatakan tanda penghormatan (Luk. 7:46). Pengurapan dipakai juga untuk mayat (bdk. Mayat Yesus diurapi dalam Mrk. 16:1). Mengurapi dengan minyak menandakan juga kecantikan kosmetik dan mencegah kerusakan kulit (Yud.10:3). Akan tetapi, yang diurapi bukan hanya manusia, juga benda-benda. Yakub menuangkan minyak ke atas batu-batu di Betel sebagai tanda penyucian (Kej.28:18). Tabernakel dan dekorasinya dikuduskan dengan pengurapan minyak (Kel.30:26-28). Panglima perang yang akan bertempur harus meminyaki pedangnya (Yes.21:5). Minyak dipakai dalam persembahan/kurban (Kel.29:40; Bil.28:5). Akhirnya, minyak dipakai sebagai ungkapan figuratif: simbol kelimpahan (Yoel 2: 24), kata-kata lembut (Ams.5:3), kegembiraan (Yes.61:3), kesatuan fraternal (Mzm.132:1-2), dan pengaruh Roh-Kudus (I Yoh.2:20,27).
Di antara Orang-orang Ibrani, minyak digunakan untuk mengurapi raja dan imam (I Sam.16:13; I Raj.1:39). Kata Ibrani untuk “terurapi” yakni mashiah menjadi ‘Mesiah’. Petrus menyebut Yesus, Messiah, “…Engkau adalah Mesias”(Mat.16:16). Messiah dalam bahasa Yunani disebut “Christos” artinya “yang terurapi.”
Minyak suci dalam Tradisi Gereja Katolik
Ada 3 jenis minyak suci yang dipakai dalam Liturgi Gereja Katolik, yakni:
1. OC (Oleum Cathecumenorum): minyak untuk katekumen.
2. OI (Oleum Infirmorum): Minyak untuk orang sakit.
3. SC (Sacrum Chrisma): Minyak untuk calon Krisma, untuk mengurapi baptisan baru, calon imam, calon uskup, gereja dan altar, dll.
Minyak suci itu adalah minyak zaitun murni atau campuran dari minyak zaitun dan balsam. Ketiga minyak itu harus dibarui setiap tahun agar tetap segar, sisa yang masih ada harus dibakar. Minyak ini diberkati oleh uskup setiap tahun dalam Misa Krisma. Minyak ini tidak boleh diberikan kepada kaum awam. Kalau imam memiliki minyak kudus di rumahnya sendiri (dengan izin waligereja setempat), mereka harus menyimpannya di tempat aman dan hormat.