PENGANTAR
Kata “damai” tentu tidak asing lagi bagi kita. Mungkin kita biasa mendengar kata damai itu dalam bahasa asingnya, pax (b. Latin) atau peace (b. Inggris). Dalam setiap foto hasil jepretan kamera sering tampak orang membuat tanda V dengan jari telunjuk dan tengah teracung ke atas – ”damai!” Hidup damai berarti hidup dalam kebahagiaan utuh-menyeluruh (baik relasi manusia-Allah, manusia-manusia, dan manusia-alam semesta) karena kesatuan dengan Allah (bdk. kata Ibrani šālôm: ’damai-sejahtera’). St. Agustinus dari Hippo (354-430) menyebut damai sebagai ”kemantapan tata-kehidupan.”
Ketika anda membaca tulisan ini, saya sangat yakin bahwa anda (dan saya) sedang dalam keprihatinan mendalam akan karut-marut kehidupan bangsa kita akhir-akhir ini. Kita dibuat bimbang dan resah oleh praktik peradilan yang tidak jelas, perseteruan dalam tubuh Bank Century yang tak kunjung selesai, tuntutan hukum bagi ”penghilangan orang”, dan seribu satu kasus lain yang makin biasa di telinga kita dan pada akhirnya terlupakan begitu saja.
Situasi ini memaksa kita untuk mengamini bahwa damai semakin mahal di negeri ini. Kendati sulit digapai tetapi kita sangat memimpikannya, kini dan saat ini. Kita memimpikan damai yang membuat kita mampu memandang setiap orang adalah saudara. Damai yang mengubah kecondongan hati dari “menguasai” ke sikap hati “melayani” seorang terhadap yang lain.

NAFSU UNTUK MENGUASAI
Adalah filsuf eksistensialis berdarah Jerman, Friederich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), yang mengklaim bahwa dalam diri setiap manusia terdapat ‘kehendak-untuk-berkuasa’ (The will to power).. Setiap orang ingin menjadi yang terkemuka, dianggap paling baik, paling pintar, paling kaya, dll dalam setiap dimensi hidup. Jalan yang paling tepat ke arah itu menurut Nietzsche adalah lewat pengetahuan; “pengetahuan bekerja sebagai alat kekuasaan. Kehendak untuk mengetahui sesuatu tergantung pada kehendak untuk menguasai.”
Kendati dalam hidupnya Nietzsche cemerlang dalam bidang pengetahuan dan menguasai banyak hal, ia merasa senantiasa masih ada kekuatan lain di luar dirinya yang menandingi, yakni Tuhan. Kekuatan Tuhan dan nilai-nilai agama menjadi tandingan yang memenjara dirinya. Tuhan mengawas-awasi dan membuat banyak orang terbelenggu tak berkembang. Untuk itu, ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati! (God was dead!)”. Bagi Nietzsche, Tuhan yang selama ini mengawasi dirinya harus mati supaya ia berkuasa atas segala-galanya.
Tuhan memang tidak akan pernah ’mati’, Ia hidup dan berkarya senantiasa di tengah-tengah umat-Nya. Namun, sadar atau tidak sadar, kita mengakui kebenaran dalam pendapat Nietzsche bahwa tiap manusia dalam dirinya pada hakikatnya memiliki ”kehendak-untuk-berkuasa”. Kita akui memang dimensi itu (”kehendak-untuk-berkuasa”) tetap ada dalam diri kita tetapi manusia sejatinya harus mampu melampauinya.
Nafsu untuk berkuasa ini kerap mempersulit relasi damai dan harmoni. Hal ini akan ditunjukkan pada bagian akhir tulisan ini dalam pertengkaran murid-murid Yesus perihal siapa yang terbesar di antara mereka; kecemasan para murid untuk dipandang terbesar mewakili kelemahan manusiawi kita. Nafsu untuk berkuasa sangat kontras dalam diri Yesus Kristus, Raja Damai yang telah lahir.

NATAL: KELAHIRAN RAJA DAMAI
Nubuat tentang kelahiran Raja Damai tampak dalam nubuat Nabi Yesaya, salah satunya Yes 9:1-7. Raja Damai akan menghalau kegelapan umat-Nya. Kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan ketika masa pemerintahan Ahaz, yang menolak perintah dan perjanjian dengan Allah. Namun, Allah akan menolong umat-Nya lewat raja yang akan datang. Yes 9:2-3 menceritakan situasi baru di mana Allah akan membebaskan mereka.
Kegembiraan akan lahirnya Raja Damai pada Yes 9:5 dibuka dengan kata ’sebab’ (b. Ibrani, kî). Kegembiraan datang karena Allah membebaskan umat-Nya dari penindasan. Siapakah Raja Damai yang dimaksud? Hal ini menunjuk pada figur eskatologis, Mesias. Anak yang lahir itu akan menunjukkan bahwa Allah ada beserta kita/Immanuel (Yes 7:14). Anak ini merupakan pemenuhan paling agung (ultimate fulfillment) – bdk. Yes 11:1-5. Dia akan memiliki kekuatan dalam kelemahan, kemenangan dalam penderitaan, dan kehidupan dalam kematian (bdk. Yes 42:1-4; 49:4, 21; 50:4-9; 52:13-53).
Orang-orang Kristen kemudian melihat dan mengimani bahwa nubuat nabi Yesaya ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus; memang seluruh nubuat Perjanjian Lama terpenuhi seluruhnya secara sempurna dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Raja Damai yang akan datang bagi seluruh bangsa. Malaikat yang menyampaikan kabar kegembiraan ini kepada para gembala mengatakan: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11). Dan sejumlah besar bala tentara surga memuji Allah: ”Gloria in altissimus Deo, et in terra pax hominibus bonae voluntatis” (“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”) (Luk 2:14).
Para malaikat mewartakan perdamaian sebagai anugerah kebaikan Allah. Kaisar Agustus memang dianggap mendatangkan kedamaian di wilayah kekaisaran tahun 29 SM sesudah pemberontakan sipil. Tetapi, Pax Romana adalah kedamaian semu yang dipaksakan oleh kekuatan militer. Kedamaian sejati akan datang melalui Yesus Kristus (Yoh 14:27).

DAMAI YANG SEMAKIN MAHAL
Seorang Bapak dengan nada seloroh pernah berkomentar demikian: ”Saat ini semua harga barang-barang naik; minyak naik, beras naik, biaya ini-itu naik. Hanya harga manusia yang semakin turun!” Memang, dunia kita saat ini ditandai dengan pola hidup yang mengorbankan hak azasi setiap manusia. Atas nama persaingan, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Budaya acuh tak acuh, indifferentisme, materialisme, hedonisme mewarnai keseharian kita. Nilai-nilai agama yang luhur dan suci dianggap klise, basi sehingga diabaikan begitu saja.
Seorang penulis rohani Katolik Henri J. M. Nouwen berujar: ”Kita adalah orang-orang yang diliputi ketakutan. Tampaknya, rasa takut sudah merasuki setiap segi kehidupan kita sedemikian rupa. Kebanyakan kita yang hidup pada abad ini hidup dalam rumah yang menyebarkan ketakutan sepanjang masa. Kita merindukan rumah yang bernafaskan kasih. Rumah itu adalah rumah Kristus. Di sana, Ia akan menemani kita dan berkata: ”Aku ini, jangan takut!” (Yoh 6:20).
Selama hasrat untuk berkuasa senantiasa menguasai hidup kita selama itu pula kita akan merasakan ketakutan yang menghantui. Akibatnya, kita tidak akan pernah merasa at home di manapun kita berada. Selama itu pula suasana damai semakin sulit kita alami.

TUHAN, JADIKANLAH AKU PEMBAWA DAMAI!
Peristiwa Natal menyadarkan kita bahwa pembicaraan mengenai damai bukanlah pembicaraan yang utopis begitu saja. Dalam Dia, kita meyakini bahwa damai bisa terwujud di tempat kita masing-masing. Untuk itu, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai.
Mengupayakan perdamaian berarti berjuang untuk membela kehidupan; berani berkata TIDAK untuk ketidakadilan dan YA untuk damai sejahtera. Namun, kita perlu berhati-hati. Kegagalan yang kerap terjadi ialah bukan karena tidak adanya pihak yang mau mewujudkan perdamaian. Kegagalan umumnya terletak pada cara yang tidak tepat untuk mewujudkan damai sehingga akhirnya ditafsirkan keliru. Banyak pihak berusaha mewujudkan damai lewat cara-cara yang justru menakutkan: senjata, tentara, ancaman, dll.
Perlawanan seorang kristiani adalah perlawanan tanpa kekerasan. Damai diberikan bukan oleh balas dendam, melainkan oleh keberanian memberi pipi kiri bila ditampar pipi kanan. Damai tidak diberikan oleh kekuasaan melainkan oleh kasih, ”kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yoh 4:18). Marthin Luther King, Jr mengungkapkan: ”Membalas kekerasan dengan kekerasan akan melipatgandakan kekerasan. Kekerasan akan menambah pekatnya gelap malam yang tiada bintang. Kegelapan tidak akan mampu menghalau kegelapan. Hanya cahaya yang dapat menghalau kegelapan. Hanya cinta yang dapat menghalau kebencian.” namun, usaha itu bukan tanpa tantangan sama sekali. Yesus sendiri sudah mengetahuinya, ”Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.” (Luk 21:12).
Kiranya perayaan Natal semakin menyadarkan kita bahwa ”Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Kor 15:54). Dengan demikian kita tidak akan gentar. Sebaliknya, kita semakin gigih mewujudkan damai dimana-mana ”sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.” (1 Yoh 5:4). Ketika murid-murid Yesus mempertentangkan siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus menegur mereka seraya berkata: ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk 9:35).
Semoga NATAL (b. Latin, natio-onis F: kelahiran (bdk. kata kerja: nascere 3)) melahirkan pembawa-pembawa damai! SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU!