PENGANTAR
Soesilo Bambang Yudhoyono (“SBY”), presiden Republik Indonesia yang ke-6, sangat mencintai dunia musik. Ia selalu menyempatkan diri untuk menggubah lagu dan memainkan musik dalam setiap kunjungan-kunjungannya. “Musik itu adalah suatu dunia yang ‘netral’,” begitu kilahnya ketika wartawan bertanya mengapa.
Dunia musik memang dunia yang netral. Ia bisa mempersatukan banyak manusia lintas budaya, lintas ras, golongan, dan kelompok. Kontras dengan dunia politik, ekonomi, ideologi, IPTEK, dan terlebih agama. Sentimen agama yang memuja Tuhan Yang Maha Pengasih itu lebih kerap ‘terbakar’. Agama yang seharusnya menjadi ajang persaudaraan lebih kerap menimbulkan sengketa, permusuhan, dan persaingan yang tidak sehat. Itulah salah satu keprihatinan yang menyemangati saya dalam membahas tulisan ini. Mencermati itu, muncul gagasan dari banyak pihak untuk menggagasi perdamaian. Menciptakan perdamaian dan kesatuan hanya mungkin lewat dialog agama.
Untuk itu, dalam tulisan ini saya mau membahas dialog agama: Gereja Katolik dengan Gereja Reformasi Lutheran perihal fungsi Tahta Petrus dalam menjaga kesatuan Gereja-gereja Kristen secara umum dan Gereja Katolik – Lutheran secara khusus.

Pengertian dan Perlunya Dialog dengan Agama-agama Lain
Berbeda dengan monolog yaitu pembicaraan yang dilaksanakan oleh satu orang, dialog secara umum merupakan salah satu bentuk interaksi yang terwujud antara sekurang-kurangnya dua orang atau dua pihak. Maka berbicara mengenai dialog antar agama diandaikan adanya sekurang-kurangnya dua atau lebih agama. Tetapi perlu diperhatikan bahwa dialog itu bukan terutama menyangkut sistem-ajaran agama. Bukan pula perbandingan dua ajaran iman, atau sebatas kerja sama taktis untuk tujuan tertentu seperti politik dan ekonomi. Lebih dari itu, dialog agama harus mengandaikan bahwa sekurang-kurangnya masing-masing pihak pemeluk agama berdialog setelah ia menghayati dan meyakini agamanya sebagai benar. Dengan kata lain, korelasi bisa berjalan setelah otonomi masing-masing sudah penuh.
Banyak pihak beranggapan bahwa dialog agama adalah sesuatu yang urgen di abad ini, meski tidak sedikit pula yang pesimis atasnya. Mereka yang pesimis menanggap bahwa biar bagaimanapun perbedaan tidak akan pernah musnah dari muka bumi ini. Tetapi bagi saya, dan banyak orang yang optimis dengan dialog agama, perbedaan memang tetap ada tetapi bukan halangan untuk suatu dialog. Perbedaan adalah peluang. Dan, itu memperkaya mereka yang mengakuinya tanpa mempermiskin mereka yang berusaha mewujudkannya. Adalah jelas bahwa dengan sendirinya setiap hal mempunyai persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan, paling kurang dalam adanya hal-hal itu sendiri. Demikian halnya dengan agama-agama. Bila tidak ada persamaan pada agama-agama, kita tidak akan menyebutnya dengan nama yang sama: “agama” (a + gama). Bila tidak ada perbedaan di antaranya, kita pun tidak akan menyebutnya dengan kata majemuk “agama-agama.” Masalahnya, bagaimana memberi isi kepada kebenaran yang sudah jelas ini. Di manakah akan ditarik garis antara kesatuan dan kemajemukan di antara keduanya?
Fokus kita sebenarnya adalah dialog antara Gereja Katolik dan Lutheranisme. Tetapi, tidak salah kiranya kalau pentingnya dialog dengan agama-agama lain disinggung sejenak.
Paul F. Knitter, seorang guru besar teologi di Xavier University, Cincinnati, mengatakan bahwa misi Gereja adalah dialog. Baginya, Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II memang sudah membuka diri bagi dialog dengan agama-agama lain. Akan tetapi, menurutnya tidak pernah dikatakan bahwa Gereja harus berdialog dengan agama-agama lain guna mengemban misi dan identitasnya. Bahkan Paus Paulus VI yang terkenal sebagai “paus dialog” tidak menempatkan dialog dalam misi fundamental Gereja. Ia tokh menegaskan perbedaan yang amat radikal antara agama Kristen dengan tradisi-tradisi keagamaan lain.
Hanya dalam 2 dokumen Gereja (Redemptoris Missio – RM & Dialog dan Proklamasi – DP) mulai diakui bahwa misi dan dialog adalah dua hal yang secara esensial berkaitan. Dengan kata lain, misi adalah dialog. Bukan sebaliknya karena dialog bukan sebagian dari misi tetapi hakikat misi itu sendiri adalah dialog dengan agama-agama lain. Dua dokumen yang telah disebut tadi telah memberikan perubahan paradigma dalam hal bagaimana Gereja Katolik harus memahami misi. Dengannya kita dicerahi dan diyakinkan bahwa kita berhadapan dengan orang lain sebagai orang yang tidak hanya ingin kita peluk, tetapi juga seseorang yang ingin kita tuju. Dalam dialog, saya tidak hanya mengenal engkau tetapi juga saya ingin engkau mengenal saya dan diubah oleh kebenaran yang saya rasakan telah mengubah hidup saya. Mengalami kebenaran berarti ingin berbagi kebenaran pada yang lain.
Barangkali pemikiran F. Knitter masih perlu diklarifikasi (“ada kecenderungan menyatakan bahwa semua agama sama rata.”). Namun, hal yang paling penting mau dikatakan bahwa bagaimanapun dialog agama itu sangat penting dan urgen terlebih di abad ini. Dan, bahwa Gereja dalam karya misionernya selalu mewartakan universalitas keselamatan bagi semua orang.

Sepintas sejarah dan latar belakang munculnya Lutheranisme
Pengaruh negatif Zaman Renaisans terhadap Gereja
Pada awal abad XV, Italia ditandai dengan pesatnya perkembangan kegiatan intelektual dan seni, yang muncul berkat penemuan kembali ilmu pengetahuan dan seni, serta nilai-nilai budaya Romawi-Yunani kuno. Masa Zaman Renaisans (re + nascere = kelahiran kembali). Paus Nicholas V (1447-1445) disebut sebagai paus sejati pertama Zaman Renaisans. Dia adalah seorang humanis yang memiliki kemampuan menonjol. Secara umum, kepausan Zaman Renaisans ditandai oleh sederetan paus yang tidak menampakkan diri sebagai pemimpin rohani, haus akan uang, berbagai skandal seksual, simoni, penjualan indulgensi, dan banyak aspek negatif lainnya. Kehidupan para klerus, biarawan/wati pada umumnya menunjukkan moralitas yang buruk.
Situasi ini menjadi cikal-bakal yang menyebabkan munculnya gerakan reformasi. Dua tokoh reformator yang menonjol adalah Martin Luther dan Yohanes Calvin. Lutheranisme (mengklaim diprakarsai Martin Luther) adalah fokus kita pada bagian ini. Martin Luther lebih berperan sebagai pencipta religiositas baru yang menyimpang dari Gereja Katolik.
Reformasi Lutheranisme
Martin Luther lahir dari keluarga petani sederhana di Eisleben, Saxonia pada 10 November 1483, dan wafat pada 18 Februari 1546. di biara, ia dikenal sebagai orang yang serius. Selama tinggal di biara, Luther mengalami perjuangan batin yang amat hebat. Rasa takut berdosa selalu menekan jiwanya. Salah satu teks Kitab Suci yang menjadi inspirasi baginya: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rom. 1:17). Maka, ia menyimpulkan bahwa hanya imanlah yang menyelamatkan manusia.
Secara substansial doktrin teologis Martin Luther yang paling penting terdiri dari tiga (3), yakni:
1. Sola fide (hanya iman). Pembenaran (justifikasi) yang radikal atas manusia hanya melalui iman. Keselamatan manusia hanya tergantung dari belas kasihan Allah.
2. Sola Scriptura (hanya Kitab Suci). Satu-satunya sumber kebenaran adalah infalibilitas (ketidaksesatan) alkitab. Martin Luther menolak otoritas tradisi dan magisterium karena dinilai hanya merupakan ciptaan manusia saja.
3. Imamat umum dalam kaitan untuk menafsirkan Alkitab. Hubungan manusia dengan Allah tidak membutuhkan pengantara. Setiap orang diciptakan bebas maka ia bisa berhubungan langsung dengan Allah.
Dengan ini, Martin Luther secara resmi memisahkan diri dari Gereja Katolik. Tetapi perlu diingatkan bahwa kebusukan moral para pemimpin Gereja, klerus dan anggota biara bukan penyebab langsung dari Gerakan Reformasi. Penyebab utama adalah keinginan untuk mencabut kepercayaan yang sia-sia yang selama ini diimani dan dipraktikkan oleh Gereja Katolik. Hal itu tampak dari pernyataan-pernyataan Luther sendiri.

Perspektif Teologi Reformasi Lutheran atas Tahta Petrus yang dijabat oleh Uskup Roma
Banyak teolog ekumenis saat ini melihat bahwa pada umumnya ‘kontroversi’ ajaran-ajaran yang memicu lahirnya Gerakan Reformasi di atas dapat diperdamaikan dengan baik. Hal-hal yang sangat hangat dibicarakan adalah perihal hubungan di antara Kitab Suci dan Tradisi, pembenaran, Ekaristi, dan Magiterium.
Perkembangan teologi ekumenis Primat Roma saat ini sudah jauh berbeda (melampaui) dari hasil Konsili Vatikan I. Sejarah rupanya menjadi ‘self-critical assesment’ bagi perkembangan teologi Gereja Katolik. Banyak ekseget dan ahli sejarah, juga ahli Teologi Dogmatik seperti Walter Kasper, telah memberi banyak kontribusi perihal urgensi perkembangan teologi ini.
Berikut kita akan melihat poin-poin yang menjadi pandangan teologis Lutheran (a Lutheran’s reflections) atas Primat Roma menurut Wolfhart Pannenberg.
1. Injil sebagai Yang Primer (utama)
Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II “Dei Verbum” no. 10 menyebutkan bahwa: “Magisterium tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya.” (Magisterium non supra verbum Dei est, sed idem ministrat). Tetapi Dei Verbum no. 9 menulis bahwa “Gereja menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalu Kitab Suci.” Maka, Tradisi dan Kitab Suci harus dihormati secara sama. Rumusan ini bagaimanapun tidak bebas dari ambiguitas.
Poin yang menentukan adalah bahwa Magisterium mengabdi Sabda Allah berpegang pada Kitab Suci (Injil). Apa yang diajarkan oleh Gereja harus berpatokan terhadap Injil. Jika memang ada otoritas tertinggi (Uskup Roma), maka tugasnya ialah mempersatukan semua orang Kristen yang tercerai berai menjadi satu dalam Injil sebagai fondasi iman yang tetap.

2. Pembedaan Primat dan Kuasa Yurisdiksi
Membedakan Primat dan kuasa yurisdiksi Uskup Roma sangat signifikan untuk membangun semangat oikumene sekarang ini. Konsili Vatikan I memang tidak begitu membedakan antara yurisdiksi Uskup Roma sebagai patriark Gereja Latin di Barat di satu pihak dan perannya sebagai “primus inter pares” para uskup untuk menjaga kesatuan seluruh umat Kristen di pihak lain. padahal, pembedaan yang jelas antara kedua fungsi Uskup Roma sebagai pemegang kekuasaan Petrus atas Gereja universal dapat mempermudah dialog dengan Gereja-gereja Reformasi demi kesatuan gereja-gereja Kristen dalam iman. Kesempatan dialog itu dapat juga diperbaiki dengan mengubah pelaksanaan kuasa patriarkal dengan prinsip kolegialitas dan subsidiaritas dengan membongkar tendensi atas sentralitas Roma dalam sejarah Gereja Barat.

3. Tugas untuk mempersatukan
Primat Petrus dipanggil untuk memelihara dan menguatkan seluruh Gereja Kristen universal sebagai satu kesatuan. Panggilan untuk mempersatukan itu hendaknya meniru peran dan fungsi Rasul Petrus di abad-abad pertama kekristenan.
a. Kata-kata Yesus dalam Mat. 16:18 (“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”) memang menyapa pribadi dan iman Petrus. Namun, kata-kata Yesus itu tertuju bukan hanya kepada Petrus sendiri tetapi juga kepada para penggantinya. Peran Petrus sebagai pemersatu di abad-abad pertama kiranya menjadi peranan uskup Roma untuk seluruh Gereja saat ini.
b. Dalam periode setelah Para Rasul, ketika keprihatinan tertuju pada bagaimana tetap berpegang pada ajaran dan teladan mereka, Rasul Petrus menjadi simbol kesatuan Gereja secara menyeluruh. Potret Petrus dalam Perjanjian Baru menunjukkan hal itu. Namun, peran ini bukan untuk dimengerti dalam arti kuasa tetapi dimaknai lebih sebagai wibawa.
c. Diakui bahwa Primat Roma bertumbuh lewat suksesi Tahta Petrus. Fungsi Petrus sebagai simbol kesatuan Gereja tidak terbatas hanya pada uskup Roma. Setiap uskup Kristen dapat meneladan Petrus sebagai model bagi tugas dan pelayanannya. Benarlah memang bahwa uskup Roma memegang kuasa yang khusus karena tradisi Petrus sendiri terjadi di Roma.
Dalam Luk. 22:32 Yesus menasihati Petrus, “…..dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab pada pengganti Petrus zaman ini, yang rasa-rasanya sangat mendesak dan semakin dibutuhkan oleh Gereja.

4. Primat Petrus sebagai pelayanan untuk kesatuan.
Kunjungan paus ke seluruh gereja-gereja di dunia adalah satu bentuk pelayanan untuk kesatuan umat Kristen. Dan sebaliknya, Gereja-gereja lain yang terpisah dari Gereja Katolik bisa berkonsultasi ke Roma sebagai langkah ke arah oikumene. Visitasi paus ke gereja-gereja kristen yang lain bisa saja dalam rangka rekonsiliasi atau untuk mengerti perbedaan-perbedaan yang ada. Kunjungan itu juga bisa untuk saling menguatkan (mutually confirming) di antara mereka.

Menuju Dialog antara Gereja Katolik dan Lutheranisme: sebuah peluang dan kemungkinan
Persamaan yang tidak bisa dipungkiri
Gereja Katolik dan Lutheranisme memiliki persamaan yang tidak bisa dipungkiri. Adanya persamaan ini memungkinkan untuk mengadakan dialog agama. Selain sama-sama Pengikut Kristus (Kristen), baik Katolik pun Lutheranisme satu dalam pembaptisan, pengakuan atas Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pengakuan iman kuno atas Yesus Kristus dan Trinitas.
Pertimbangan-pertimbangan praktis
 Jika kita semua orang-orang Kristen berelasi begitu intim, kita juga berelasi intim dengan Yesus Kristus sendiri. Pertobatan dan doa seharusnya menjadi jiwa perubahan ekumenisme.
 Saling menerima/dialog harus konkret (tidak setengah-setengah): hidup bersama, memberi kesaksian hidup secara komunal. Praktik hidup nyata memperkuat persatuan.
 Saling menerima/dialog harus universal: lintas waktu (dahulu, sekarang, dan di masa mendatang) dan lintas ruang (ke gereja mana saja, adil).
 Saling menerima/dialog itu harus berjalan langkah demi langkah.
 Saling menerima/dialog itu harus melihat jauh ke depan (visioner). Model persatuan itu bukan uniformitas monolitik tetapi kesatuan dalam keberagaman.
Tahta Petrus Uskup Roma sebagai fasilitator dialog
Dari perspektif teologi Lutheran di atas sebenarnya sudah terungkap secara tidak langsung kerinduan dialog agama antara Katolik dan Lutheranisme. Perbedaan-perbedaan mendasar dan substansial memang harus tetap diakui. Namun, persamaan-persamaan yang umum seperti dikatakan tadi tetap juga tidak bisa dipungkiri. Untuk itu, Tahta Petrus yang dijabat Uskup Roma diharapkan sebagai fasilitator dialog agama.
Kesatuan berarti keutuhan dalam kebenaran. Keterbukaan tidak harus memisahkan setiap anggota dalam Gereja. Dalam pemahaman Gereja Katolik, konsili adalah wahana yang mempersatukan anggota-anggota Gereja. Tanpa itu, kesatuan tinggal hanya nama dan tanpa wajah. Gereja sebagai satu kesatuan tidak dapat bersaksi dan bertindak hanya lewat pribadi-pribadi personal. Benarlah bahwa dalam Gereja Katolik sendiri hubungan antara Primat Petrus dan konsili belum begitu disosialisasikan secara penuh. Meski demikian, diskusi mengenai Tahta Petrus telah mengalami kemajuan pada tingkat ekumenis. Paus dapat mengekspresikan warisan mulia Gereja dan dalam nama Injil terlibat dalam memperjuangkan hak azasi manusia. Namun yang paling diharapkan adalah, paus dapat menjadi pusat (centre) bagi kehidupan umat Kristen di seluruh dunia lewat dialog ekumenisme. Sudahkah Roma menerima dan menyadari potensi-potensi ini sepenuhnya?

The Joint Declaration on The Doctrine of Justification (JDDJ) sebagai Langkah Konkrit Dialog antara Gereja Katolik dan Gereja Lutheran
The Joint Declaration on The Doctrine of Justification (JDDJ) (“Pernyataan Bersama tentang Ajaran Pembenaran) ditandatangani oleh Gereja Katolik dan Gereja-gereja Lutheran pada tanggal 31 Oktober 1999 di kota Augsburg, Jerman. Kardinal Edward Cassidy, pemimpin Badan Kepausan untuk Usaha Penyatuan Kekristenan (Pontifical Council for Promoting Christian Unit) sebagai wakil Gereja Katolik dan Dr. Ishmael Noko, Sekretaris Jenderal Persatuan Gereja-gereja Lutheran Sedunia (Lutheran World Federation – LWF) mewakili Gereja-gereja Lutheran.
Pernyataan Bersama ini berisi 44 nomor (Pengantar no. 1-7, Pemberitaan Alkitabiah no. 8-12, Ajaran Pembenaran sebagai masalah ekumenis no. 13, Pemahaman Bersama akan ajaran Pembenaran no. 19-39, Makna dan cakupan dari kesepakatan yang telah dicapai no. 40-44). Yang menarik, Pernyataan Bersama ini terutama pada bagian Pemahaman Bersama Ajaran Pembenaran dan Pengembangannya (no. 14-39) selalu mulai dengan kesesuaian atau apa yang sama-sama diakui oleh Gereja Katolik dan Lutheranisme sebagai kebenaran dasariah. Lalu menyusul kekhususan ajaran katolik dan Lutheranisme. Rasanya tidak mungkin mengutarakan isi dari kesepakatan itu di sini. Pernyataan Bersama itu mau menekankan bahwa: Gereja Katolik dan Lutheranisme sama-sama mengimani bahwa pembenaran adalah karya Tritunggal dalam inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus. Maka manusia tergantung total pada anugerah penyelamatan Allah itu (JDDJ, 19). Pembenaran berarti Kristus sendiri adalah kebenaran kita melalui Roh-Kudus sesuai kehendak Bapa. Seluruh manusia dipanggil oleh Allah untuk keselamatan dalam Kristus (JDDJ, no. 15-16).

PENUTUP
Pada bagian Pengantar sudah ditekankan bahwa dialog agama sangat penting. Hanya melalui dialog kesatuan dapat tercipta. Bukan hanya itu, dialog agama juga penting dalam mencari nilai-nilai bersama untuk membangun komunitas yang dipenuhi keadilan, cinta kasih, dan perdamaian. Dari sudut pandang Gereja, dialog adalah unsur penting dalam misi evangelisasi, yaitu mengungkapkan nilai-nilai Injili.
Dialog agama lahir dari visi Allah sendiri, yang berdialog dengan setiap individu untuk mengungkapkan kehendak penyelamatannya. Dia menetapkan sejarah keselamatan bukan hanya untuk orang perorangan tetapi juga bagi seluruh bangsa bahkan agama. Di samping itu, manusia sebagai makhluk eksistensial yang multidimensional dan bersifat dialektika mau tidak mau harus berelasi (komunikasi-dialogis) dengan sesamanya. Itulah hakikat manusia itu sendiri dan yang menjadi dasar untuk dialog agama. Jadi dialog sendiri adalah kebutuhan karena hubungan antara manusia bukan ada bersama yang kebetulan belaka tetapi melulu karena Rahmat Allah. Dengannya, masing-masing saling mempengaruhi, menentukan, dan melengkapi.
Dialog antara Gereja Katolik dan Lutheranisme secara khusus fungsi Primat Petrus yang dipaparkan secara sederhana di atas, lahir karena keprihatinan akan pentingnya menjalin kesatuan lewat dialog agama. Bagaimanapun perbedaan akan dan selalu ada. Dan, harus ada. Justru itu adalah sebuah optimisme bahwa perbedaan-perbedaan menyatakan betapa sangat kaya Allah dipahami oleh umat beragama. Masing-masing agama dan ajarannya (Katolik, Lutheranisme, dan agama-agama lain) bagaikan cahaya indah yang menyinari hidup manusia itu sendiri. Hanya melalui dialog agama, cahaya indah itu bisa dinikmati dan dialami sebagai yang memperkaya. Menutup tulisan ini, baiklah dituliskan amanat dekrit “Unitaris Redintegratio (UR)” tentang ekumenisme no. 24: “….maksud yang suci untuk mendamaikan segenap umat Kristen menjadi satu dalam Gereja Kristus yang satu dan tunggal melampaui daya kekuatan serta bakat-kemampuan manusiawi. Oleh karena itu, konsili menaruh harapannya sepenuhnya pada doa Kristus bagi Gereja, pada cinta kasih Bapa terhadap kita, dan pada kekuatan Roh-Kudus “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom. 5:5).

BIBLIOGRAFI

Dokumen Konsili Vatikan II. Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993

Hariprabowo, Yakobus. “Misi Gereja dalam Konteks Pluralitas di Indonesia”. Dalam LOGOS. Vol. 2 no. 2 (Juni 2003), hlm. 138-145.

——-. Sejarah Gereja Reformasi – Anti Reformasi – Vatikan II. Sinaksak: STFT St. Yohanes, (tanpa tahun) (diktat)

Kasper, Walter. “Dialog with Reformation Churches”. Dalam Theology Digest. Vol. 30 number 3 (Fall 1982), hlm. 213-216

Knitter Paul F. Menggugat Arogansi Kekristenan. (Judul asli: Jesus and The Other Names: Christian Mission and Global Responsibility). Diterjemahkan oleh M. Purwatma, Pr. Yogyakarta: Kanisius, 2005.

Pannenberg, Wolfhart. “A Lutheran’s Reflections on the Petrine Ministry of the Bishop of Rome”. Dalam Communio. 25 (Winter 1998), hlm. 608-615.

Schuon, Frithjof. Mencari Titik Temu Agama-agama. (Judul asli: The Transcendent Unit of Religions). Diterjemahkan oleh Saafroedin Bahar. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987.

Sinaga, Laurent B. “DIALOG ANTAR AGAMA Suatu analisis fenomenologis dalam rangka mewujudkan toleransi beragama”. Dalam Rajawali. No. 11/VII/94 (Pematangsiantar), hlm. 29-34.