Hantaran Awal

 

Rumusan baku Gereja tentang Trinitas (Allah Tritunggal), sebagaimana sekarang ini, tidak terjadi begitu saja: butuh proses yang panjang dalam perjalanan sejarah Gereja. Gereja berkembang dan bertumbuh dalam sejarahnya.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru sendiri sebenarnya ’tidak ada’ eksplisit ajaran tentang Allah Tritunggal. Hal ini tidak mengherankan sebab pada umumnya kitab suci Perjanjian Baru kurang bermaksud menyampaikan ajaran tertentu. Tujuan utamanya adalah memaklumkan Kerajaan Allah. Namun, akar-akar ajaran Trinitas dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tersebut. Akar-akar ajaran Trinitas itu bisa dipahami demikian.

Allah Perjanjian Baru adalah Allah Yang Esa. Lingkungan agama kristiani yang asali, yaitu agama Yahudi, amat ketat monoteismenya. Berlawanan dengan politeisme yang dianut oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal YHWH. Monoteisme dipeluk bersama-sama oleh orang Kristen dan orang Yahudi meskipun pemahaman yang berbeda-beda.

Selain percaya akan Allah dalam arti YHWH, Allah Abraham dan Allah Ishak, orang Kristen juga percaya akan Yesus Kristus. Berkat terjadinya peristiwa Yesus dalam sejarah umat manusia, kita diperkenalkan dengan misteri Trinitas. Bisa dikatakan bahwa setelah Yesus dari Nazareth hilang dari panggung sejarah mulailah berkembang sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai “kristologi”. Mereka yang dahulu menjadi pengikut Yesus mulai memikirkan, mengkonseptualkan dan membahasakan Yesus dan pengalaman mereka dengan Yesus. Kesadaran akan situasi itu hanya bisa menimbulkan rasa kagum atas prestasi teologis yang menjadi jasa unggul dua-tiga generasi kristen pertama seperti yang tercantum dalam karangan-karangan Perjanjian Baru.

Kita semua tahu: iman para murid berakar dalam peristiwa kebangkitan. Yesus yang telah bangkit itu dikenal sebagai Anak Allah (Rm 1:4). Hanya dalam rangka kepercayaan akan Allah, Sang Bapa, maka pengakuan iman akan Yesus itu memperoleh bobotnya.

Kristus yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa itu diyakini sebagai Juru Selamat yang bersatu dengan Bapa secara tak terpisahkan dan tak terbandingkan, dan dengan cara itu juga menjadi gambar Allah (2 Kor 4:4; Kol 1:15). Dalam diri Yesuslah, Logos ilahi yang pada awal mula bersama-sama dengan Allah telah menjelma menjadi manusia. Dengan demikian ditegaskan di sini bahwa Yesus Kristus itu pra-ada: Ia sudah ada sebelum Ia di bumi ini (Yoh 1:1-18). Juga beberapa teks lain menyebutkan atau mengandaikan pra-eksistensi Kristus itu (Flp 2:5-11; Rm 8:32; 2 Kor 8:9). Pelbagai pengarang Perjanjian Baru berpikir tentang Yesus sebagai Allah, tanpa melepaskan keyakinan bahwa Yesus pun seorang manusia sejati.

Pemahaman akan Kristus yang sedang berkembang dalam umat purba itu ditentukan juga oleh Roh Kudus sebagai nilai pengalaman yang lain di samping Bapa. Roh hanya dapat didekati melalui Kristus, dan Kristus melalui Roh. Maka, Roh Kudus tidak dapat disamakan dengan Bapa maupun dengan Putera. Menyadari bahwa dalam ketiga nama ilahi termaktublah seluruh tindakan penyelamatan, Paulus merumuskan ucapan berkah: ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13).

Dalam tulisan lain Perjanjian Baru masih terdapat beberapa teks lain yang menyebutkan triade Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam arti yang ketat, rumus ini memang belum dapat dikatakan ”trinitaris” karena ketiga nama itu hanya dideretkan saja tanpa merefleksikan keesaan Allah. Juga Ef 4:4-6 tidak memberikan penjelasan lebih lanjut walaupun menekankan kata ”satu”: orang kristen percaya akan satu Allah, bukan tiga allah. Begitu pula perintah untuk membaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19) tidak memaksudkan tiga nama melainkan satu, sebagaimana tampak dari bentuk tunggal dari kata Yunani onoma (nama). Pengakuan akan Allah yang satu itu rupanya tidak menghindari Santo Paulus untuk juga mengakui Tuhan yang satu (1Kor 8:6;bdk. Gal 3:20; 1Tim 2:5) dan Roh yang satu (1Kor 12:11-13).

Bapa: Sumber Keilahian

 

Allah berada dalam “hierarki asal-usul” (Hierarchy of origin): Bapa sebagai sumber keilahian, dari pada-Nya dilahirkan Putera dan Roh Kudus. Dalam karya teologisnya yang terbesar, “De Principiis” (Prinsip-prinsip yang Pertama), Origenes memulai pernyataan dengan mengatakan bahwa Allah adalah roh. Ia adalah cahaya. Mata kita, bagaimanapun, tidak akan dapat melihat kodrat cahaya Allah. Namun, sedikit saja dari cahaya itu dapat menerangi tubuh kita yang fana.

Dalam diri orang-orang Kudus, Allah berkarya secara nyata. Dan, hal ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak memiliki tubuh, tetapi Ia hadir dan menjiwai orang-orang kudus tersebut. Allah dikatakan roh untuk membedakan Allah dari makhluk-makhuk yang bertubuh. Dan Yesus menamai Allah kebenaran untuk membedakan-Nya dari bayang-bayang dan gambaran hampa.

Allah sendiri tidak dilahirkan (agennetos). Ia bebas dari segala materi. Oleh karena itu, Origenes sangat tegas menghindari gambaran dan pemahaman-pemahaman antropomorfisme yang dialamatkan kepada Allah. Allah tidak bisa dipikirkan sebagai Dia yang memiliki tubuh atau makhluk yang bertubuh, tetapi suatu kodrat intelektual saja (simplex intellectualis natura). Di dalam Dia tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang tetapi segala-galanya sempurna. Dia adalah permulaan segala sesuatu.

Putera sebagai ‘Deuteros Theos’ dan Pengantara

 

Putera dilahirkan dari keabadian dan menjadi pengantara antara Allah dan dunia. Menurut Origenes, kelahiran Putera dapat dibandingkan dengan Hikmat sebagaimana terdapat dalam Ams 8:22-25, “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir.” Hal ini juga terdapat dalam tulisan pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Kor 1:24).

Pemikiran Origenes tentang Putera sebagai Hikmat Ilahi ini sebenarnya sudah lazim dalam tradisi Kristen-Yunani. Firman itu sezat dengan Allah yang satu dan esa. Tidak terlalu jelas bagaimana Origenes memikirkan relasi antara Firman/Hikmat ilahi dan Allah. Origenes untuk pertama kalinya dalam rangka kristologi memakai istilah “homo-ousios”, yang sebenarnya merupakan istilah yang sudah lama ada dalam kaum gnostisisme. Maka Origenes dapat menyebut Firman itu sebagai Allah. Rupanya Firman itu dipikirkan sebagai semacam ‘emanasi’ (kekal) dari Allah. Hal ini melatarbelakangi mengapa Origenes menyebut Firman itu sebagai “Allah kedua (deutheros Theos)”.

Firman itu adalah Pengantara, melalui Dia Allah menciptakan segala sesuatu. Tetapi penciptaan itu terjadi dalam dua tahap. Firman Allah, ialah Hikmat dan gambaran-Nya mengandung di dalam diri-Nya segala cita-cita makhluk. Lalu dalam langkah pertama diciptakan dunia rohani, yang terdiri atas cita-cita, gambaran-gambaran, bagan segala makhluk. Itulah tingkat tengah kosmos. Akhirnya menurut gambaran-gambaran itu tingkat bawah dijadikan.

Firman/Anak Allah yang pra-eksisten itu benar-benar menjadi manusia, secara utuh-lengkap, serupa dengan manusia lain. Origenes menekankan bahwa pada Yesus Kristus ada ”dua kodrat”, yang ilahi dan manusiawi. Kedua kodrat itu dipersatukan oleh Firman/Anak Allah itu. Dengan demikian Firman/Anak Allah ”menghampakan diri” dan Ia serentak Allah (Ilahi) dan manusia. Origenes menerima apa yang disebut ”communicatio ideomatum”, artinya: dua rangkaian ciri (ilahi dan insani) tergabung dalam satu subjek sehingga subjek itu dapat bergilir ganti disebut menurut ciri-ciri yang berbeda itu, sehingga ciri-ciri yang berbeda itu serentak dikatakan mengenai subjek yang sama.

Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, menyelamatkan seluruh manusia. Origenes mengulang dan memperuncing prinsip karya penyelamatan yang menegaskan: apa yang tidak dipersatukan dengan Firman, tidak diselamatkan pula. Dalam rangka komentarnya atas Roma 3:8 Origenes dengan panjang lebar menguraikan tradisi yang mengartikan kematian Yesus di salib sebagai korban pemulihan dan penyilih dosa, korban pendamaian. Dosa-dosa manusia menuntut penyilihan dan pemulihan. Dan Kristus dengan rela dan sebagai pengganti orang berdosa dan Imam besar menawarkan diri menjadi korban pendamaian.

Roh-Kudus sebagai Pengudus (Sanctifier)

 

            Allah, dengan cinta yang besar, menciptakan Roh-Kudus dengan perantaraan Logos (Sabda). Maka hubungan Roh-Kudus dan Putera terutama sangat erat bagaikan kesatuan tubuh dan jiwa (seperti bara api dan api).

            Roh-Kudus berfungsi sebagai Pengudus. Ia memberi kekuatan dan menguduskan orang-orang pilihannya untuk memberi kesaksian seperti pengalaman Daniel yang mampu meramalkan mimpi Raja Nebukadnezar, ”Pada akhirnya Daniel datang menghadap aku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus” (Dan 4:8). Ia memberi inspirasi bagi para penulis Kitab Suci.

Roh dicurahkan hanya pada mereka yang ikut ambil bagian dalam perjalanan pendidikan ilahi demi penyempurnaan dan pengilahian, dan pada akhirnya dibentuk menjadi Anak Allah. Orang yang dicurahi Roh itu tampak dari perbuatan etis dan asketisnya. Hanya manusia yang dicurahi oleh Roh-lah dimampukan oleh Roh untuk menerima Kristus dan mengkontemplasikan Allah, demikian hanya Dia berhasil memahami dimensi spiritual yang mendalam dari Kitab Suci.

Dalam Perjanjian Baru, diceritakan bahwa Roh-Kudus turun ke atas Yesus setelah pembaptisan. Hal yang sama terjadi ketika pembaptisan di dalam Kisah Para Rasul, ” Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka” (Kis 8:16-18). Yesus sendiri pun pada akhirnya menghembusi para murid-Nya dengan Roh-Kudus, ”Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus …” (Yoh 20:22). Paulus mengatakan bahwa pengakuan kita atas siapa Yesus itu adalah karunia Roh-Kudus yang berkarya dalam diri kita, ” Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1Kor 12:3).

Karena bantuan Roh-Kudus, kita bisa mengenal siapa Bapa. Karya Bapa dan Putera dalam segala makhluk terjadi karena kekuatan Roh-Kudus. Trinitas dipersatukan oleh Roh-Cinta, yakni Roh-Kudus sehingga setiap orang dituntun untuk hidup yang lebih baik. Roh Allah itu berkarya baik dalam diri orang-orang berdosa maupun dalam diri orang-orang kudus.

Penutup: Membela Iman Trinitas: Percaya kepada Satu Allah, Tiga Pribadi

Persoalan Trinitaris pada prinsipnya adalah bahwa Allah itu satu mono + theis): satu substansi Ilahi yang mempunyai tida pribadi (Bapa, Putera dan Roh-Kudus). Tiga pribadi itu memang berbeda tetapi tida berbeda secara terputus. Maka, persoalan utama bukan unitas-multisitas (cenderung modalistik), melainkan unisitas-unitas (persekutuan dan kesatuan/relasi atau kesatuan yang ke-tiga-an). Allah itu satu dengan tiga hypostasis/triade: Bapa, Putera, dan Roh-Kudus. Namun, masing-masing pribadi memiliki kekhasan: Bapa sebagai sumber keilahian, Putera sebagai Pengantara, dan Roh-Kudus sebagai Pengudus.

Dalam buku ”Iman Katolik” diungkapkan bahwa iman kita itu esa tetapi tidak serta merta mengatakan bahwa pribadi Trinitas itu sama saja: ”Iman Kristen mengakui ”Allah itu esa”, tetapi ”esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4). ”Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, melainkan juga ”di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef 3:12).Iman akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh-Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai ”Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Maka, bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa ”Tuhan itu esa” (Mrk12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus sebagai Dia ”yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36). Orang yang      percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja, melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh karena anugerah Roh-Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.