“Akulah roti hidup” kata Yesus dalam Injil hari ini, “Barangsiapa makan roti ini, ia tidak akan mati.” Yesus menunjuk Diri-Nya sendiri, barangsiapa percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal. Kehadiran Yesus yang real, bukan sekadar kenangan, tetapi hadir sekarang di sini menujuk pada Ekaristi yang kita rayakan hari ini. Dalam Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan liturgi Gereja. Dalam perayaan itu, simbol roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus lewat tangan imam. Barangkali sudah biasa kita dengar, dalam Perayaan Ekaristi, kata-kata ini diucapkan oleh imam ketika ia mengamdil roti: Dia mengambil (dipilih) roti, mengucap syukur dan memuji (diberkati) Dikau, memecah-mecahkan (dipecah-pecahkan) roti itu, dan memberikanNya kepada murid-muridNya. Kata “diambil/dipilih”, “diberkati”, “dipecah-pecahkan”, dan “dibagi-bagi” adalah juga simbol hidup kita manusia dan menjadi permenungan kali ini.

Hidup yang Dipilih…

 

Entah siapa pun kita, anak-anak maupun orang tua, baik kaya maupun miskin, baik hitam maupun putih, baik…maupun…., adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Kita berharga di mata Tuhan, kita sangat unik, khas, dan istimewa. Untuk kita masing-masing, rencana Tuhan sangat indah. Katanya, dari keabadian, sebelum dilahirkan dan menjadi bagian dari sejarah kita sudah berada dalam hati Allah. Nilai dan keistimewaan kita tidak ditentukan oleh dunia, tetapi karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi (bdk.1Yoh:10). Kalau anda dipilih itu BUKAN berarti bahwa orang lain ditolak, melainkan sebaliknya, orang lain semakin kita cintai terutama karena mereka berbeda dari saya. Karena “Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah juga kita saling mengasihi…Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita” (1Yoh 4:11-12).

Hidup yang Diberkati….

 

Dalam bahasa Latin, kata “memberkati” adalah benedicere yang berarti berbicara (dictio) baik (bene), mengatakan sesuatu yang baik. Kadang-kadang memang sulit mengatakan/membicarakan hal yang baik. Yang bahkan biasa terjadi adalah sebaliknya, kata-kata kita lebih gampang membicarakan kelemahan dan kekurangan sesama di sekitar kita. Maka, tidak mengherankan bahwa tindakan memuji sulit kita dengar kecuali dari orang-orang yang memang senantiasa menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah besar dari Tuhan.

Ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, kata-kata ini terdengar dari langit, “Engkau adalah Anak yang Kukasihi, kepadaMu Aku berkenan”. Berkat inilah yang menyertai Yesus dalam misi-Nya di dunia, baik dalam kekaguman maupun hinaan. Dalam hidup kita kerap mengalami saat-saat gelap juga. Dalam saat-saat itu jiwa kita sebenarnya membutuhkan hiburan dalam keheningan. Ya..dalam keheningan dan doa, di sana akan mampu mendengar suara Dia yang mengatakan bahwa kita adalah “Anak yang Dikasihi”. Bunda Theresia mengatakan: “Keheningan membuatmu selalu melihat dengan cara baru, hal-hal yang barangkali sudah sangat biasa!” Dalam dunia modern yang terlalu sibuk ini, kita ditantang untuk selalu peka mengalami berkat yang ada di sekeliling kita setiap hari. Suara Tuhan memang sangat halus, bahkan terlalu halus, sehingga kita perlu menajamkan mata dan telinga. Dan rupanya berkat-berkat itu tidak harus kita cari-cari, selalu ada di sekitar kita: pengemis yang mengulurkan tangannya, teman yang sedang dalam masalah/kesulitan, kegiatan harian kita, tanaman dan apa saja di sekeliling kita,…..

Hidup yang Dipecah-pecahkan….

 

Orang Katolik selalu menandai diri dengan tanda salib. Di salib tampak cinta Allah yang total kepada kita. Itu juga lah yang kita rayakan dalam Ekaristi. Dengan mengatakan, “Barangsiapa tidak menyangkal dirinya dan memanggul salib dia tidak layak menjadi pengikutku”, Yesus sebenarnya bukan mau menyampaikan suatu aturan kepada kita. Di atas semua itu, Yesus mau menggambarkan kenyataan hidup kita yang nyata-nyata memang tidak bisa lepas dari kesulitan dan penderitaan. Ada penggalan tulisan (M.Scott Peck) mengatakan demikian: ”Hidup itu pada prinsipnya adalah sulit. Ini merupakan kebenaran yang agung, salah satu dari kebenaran-kebenaran yang paling agung… Sebagian besar orang tidak sepenuhnya melihat kebenaran ini, yakni bahwa hidup itu sulit. Malahan, mereka mengeluh tiada hentinya, entah ribut entah pelan, tentang besarnya masalah mereka, beban mereka, dan kesulitan-kesulitan mereka, seolah-olah biasanya hidup itu mudah, seakan hidup itu seharusnya mudah…Saya tahu mengenai keluhan ini karena saya telah mengalaminya. Hidup adalah serangkaian persoalan.”

Saya sangat yakin, bahwa penderitaan kita masing-masing tidak sama. Namun, kita harus yakin juga, bahwa penderitaan dan keterpecahanku menyatakan keistimewaan diriku sebagai anak Allah yang dikasihi. Bila anda tidak pernah mengalami masalah, anda perlu berlari kencang dan masuk kamar berdoa sambil menangis: ”Tuhan, apakah Engkau tidak mempercayaiku lagi sehingga Engkau tidak memberi aku masalah?” Tuhan tahu, hanya lewat masalah dan persoalan manusia menjadi semakin kuat. Tidak jarang, musik yang sangat terkenal, lukisan atau pahatan yang terbaik serta buku yang paling banyak dibaca adalah ungkapan dari keadaan manusia yang terpecah-pecah. Yesus harus menderita dan pasrah, ”Bukan kehendakKu melainkan kehendakMulah terjadi!”

Hidup yang Dibagi-bagikan….

 

Hidup kita menjadi indah bila kita ‘memberi’ dan ‘menerima’ (TAKE & GIVE). Hidup kurang berarti bila hanya menerima dan menyimpan dalam diri. Mengapa memberi diri itu juga indah? Katanya, karena hidup kita sendiri adalah pemberian dari Allah. Di Palestina ada dua laut: Laut Galilea dan Laut Mati. Air danau Galilea jernih, dapat diminum, ikan-ikan hidup di dalamnya. Di pinggiran danau itu terdapat ladang hijau dan perumahan penduduk. Sebaliknya dengan Laut Mati. Asin dan tak seekor ikan pun hidup di dalamnya. Tak seorag pun yang ingin tinggal dekat laut ini, karena baunya yang tak sedap. Yang menarik ialah ada satu sungai, Yordan, mengalir ke keduanya. Danau Galilea menerima aliran sungai dan mengalirkannya lagi, sementara Laut Mati menerima dan menyimpannya. Laut Mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya. Hal itulah yang membuatnya mati, karena hanya menerima dan tidak memberi.

Seseorang dihargai bukan karena apa (pangkat, jabatan, dll) yang dimilikinya, tetapi karena apa yang dia berikan. Keterpecah-pecahan membuat kita semakin mampu saling membagikan kehidupan. Hal ini bisa kita rasakan bila ada orang yang membagirasakan beban dan penderitaannya kepada kita (sharing). Itu membuat kita juga akan terbuka membagikan beban hidup kepadanya, ini menjadi ungkapan saling kepercayaan.