Cari

Benz Manroe

Be happy in everythings!!

MANUSIA, MAKHLUK YANG MENCARI MAKNA

Salah satu penyakit yang dialami oleh orang-orang modern ialah rasa kesepian. Meskipun teknologi komunikasi semakin modern, ada hand phone, laptop, televisi, tablet, dll, yang tampaknya semakin mempermudah komunikasi tetapi justru menjauhkan kita dari pergaulan sosial orang-orang di sekitar. Karena teknologi modern, semua yang berbau spiritual dan agama dipandang usang. Manusia lebih tertarik akan hal-hal yang baru dan maju, sementara yang spiritual dianggap sebagai produk lama yang mengurung manusia dari kemajuan. Namun, di sini kita harus hati-hati membedakan antara agama dan pengalaman spiritual itu sendiri.

Sebagaimana ditulis oleh Michele Pellerey dalam bukunya Spiritualità e Educazione, suatu saat nanti mungkin saja nama “Tuhan dan agama” lenyap, namun hidup manusia akan terus diselimuti oleh misteri ini tanpa nama keberadaan kita. Meskipun di sisi lain, bisa juga terjadi sebaliknya. Sebagaimana dikatakan oleh Karl Rahner, adalah mungkin untuk manusia berbicara tentang Tuhan tanpa menjadi seorang spiritual. Di sini, identitas agama dipertanyakan: sungguhkah manusia masih menemukan Tuhan dalam agama? Atau, bisakah manusia menemukan pengalaman spiritual di dalam agama?

Pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pengalaman eksistensial setiap manusia. Secara filosofis, eksistensial berarti suatu pengalaman yang terjadi dan dialami oleh manusia secara natural. Pengalaman itu terberi (given) begitu saja, yang menjadi esensi dari kehidupan human, sama seperti pengalaman lahir, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati adalah pengalaman eksistensial karena dialami oleh manusia secara natural. Secara psikologis, pengalaman spiritual adalah kapasitas manusia yang diarahkan pada bentuk-bentuk kesadaran tertentu, suatu pengaktifan kapasitas manusia untuk transendensi-diri dan suatu gerakan menuju keadaan kesadaran, di mana keterbatasan identitas manusia yang terbatas ditantang oleh latihan kreativitas manusia. Ini adalah kapasitas yang serupa tetapi tidak dapat direduksi menjadi pengalaman agama, moral atau estetika. Dalam pemahaman ini, ketika manusia menolak pengalaman spiritual sesungguhnya ia telah kehilangan esensi identitas dirinya sebagai manusia.

Karl Rahner, seorang ahli teologi Katolik Roma dari Jerman yang amat berpengaruh pada abad ke-20, lebih lanjut kemudian mengatakan bahwa pengalaman spiritual manusia pada umumnya dicirikan oleh rasa misteri, sebagai makhluk yang terus-menerus berjalan mencapai suatu titik, sering tak kita pahami dan kita sendiri tak dapat membatasinya dan kerap kita dipenuhi oleh kecemasan dan ketakutan yg berasal darinya. Pada saat kapan momen pengalaman spiritual itu kita alami? Rahner mengatakan beberapa sifat dari saat-saat dimana kita mengalaminya: tiba-tiba Anda merasa redup dlm kesendirian dan semuanya tampak kosong sementara keheningan mengitari kita dari setiap sisi, tiba-tiba tanggung jawab dan kebebasan kita merasa ditantang: tak ada kemungkinan melarikan diri dari kenyataan itu, saat ketika kita merasa ditolak, tanpa pengakuan atau dukungan dari siapa pun, tetapi juga saat ketika kita menemukan cinta yang tak bersyarat, yang tidak melihat kerapuhan dan keterbatasan kita. Sementara Paul Tillich, teolog yang hidup pada periode waktu 18861965, memperkuat fakta ini: bahwa manusia modern adalah orang-orang yang dilanda kecemasan. Kecemasan terjadi karena kurangnya makna hidup, kurangnya minat akan yg ilahi yang memberi nilai pada semua makna kehidupan. Manusia kehilangan pusat spiritual dan makna keberadaannya. Di titik ini manusia perlu mencari pengalaman spiritual hidupnya, karena pengalaman ini justru membawa kita kepada ketidakterbatasan dan misteri.

Santo Agustinus sendiri mengusulkan agar manusia mencari makna hidup dengan kembali ke kedalaman dirinya sendiri: Jangan keluar dari dirimu sendiri, kembalilah ke dirimu sendiri: kebenaran berdiam dalam batin manusia dan, jika kamu menemukan, bahwa sifatmu dapat berubah, kamu juga melampaui dirimu sendiri. Meskipun kedengarannya klise, tetapi sesungguhnya hidup manusia berbuah ketika ia menyadari siapa dirinya dan apa arti menjadi manusia di zaman ini.

Iklan

HIDUP YANG BERMAKNA, HIDUP YANG BAHAGIA

Kebahagiaan adalah nilai tertinggi yang dicari oleh manusia. Tak ada pendapat apa pun yang dapat menyangkal kebenaran ini. Ada sebuah cerita tentang percakapan seorang usahawan kaya dengan seorang nelayan sederhana. Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil mengisap rokok. ‘Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?’ tanya usahawan itu. ‘Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini,’ jawab nelayan. ‘Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?’ tanya usahawan. ‘Untuk apa?’ nelayan balas bertanya. ‘Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,’ jawabnya. ‘Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal … bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.’ ‘Selanjutnya aku mesti berbuat apa?’ tanya si nelayan. ‘Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup,’ kata si usahawan. ‘Menurut pendapatmu, sekarang ini aku sedang berbuat apa?’ kata si nelayan puas. Apa yang kita cari di dunia? Kebahagiaan.

Pada studi bersama guru-guru di Seminari (Siantar) kami diminta menuliskan visi hidup masing-masing. Saya berusaha menuliskan begini: hidup bermakna supaya berbahagia. Mengapa? Karena saya berpikir kehidupan yang bermakna adalah jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan inilah salah satu hal yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Hidup itu sendiri sangat berharga dan merupakan anugerah tak terhingga dari Tuhan. Maka bagi saya setiap hari selalu adalah saat penuh rahmat untuk bertanya-tanya: apakah yang bisa kuperbuat hari ini? Dengan demikian, saya ingin berterima kasih kepada Tuhan karena masih memberi kesempatan bagiku untuk hidup hari ini.

Memahami hidup dengan cara ini membuat kita dapat menikmati hidup apa adanya. Setiap hari adalah kesempatan emas untuk berharga dan bernilai. Hidup yang bermakna sesungguhnya adalah kebahagiaan yang sempurna. Dan sebenarnya hal itulah yang dicari oleh setiap manusia. Apa yang saya katakan ini sesungguhnya bukan hal yang baru. Aristoteles jauh sebelumnya sudah merumuskannya dalam bukunya Ethica Nicomachea.

Dalam buku ini Aristoteles pertama-tama mengapresiasi pengetahuan manusia yang melibatkan akal budi. Dan, akal budi adalah salah satu hal yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Namun yang paling membedakan manusia dari ciptaan lainnya menurutnya adalah hasrat manusia akan kebahagiaan itu sendiri (eudaimonia).

Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah dari Inggris abad ke-19, pernah berkata, “Kekudusan adalah jalan mulia menuju kebahagiaan.” Mengapa? Karena pada prinsipnya, manusia dalam hidupnya mencari nilai dan makna. Ia diciptakan sebagai manusia dan memiliki hati yang sangat mulia. Hati yang sangat mulia ini selalu tertuju kepada yang mulia juga (bdk pendapat filsuf Anaxagoras (500-428 SM) yang mengatakan yang sama mengenal yang sama); artinya hanya dalam kekudusan itu menemukan kebahagian yang otentik dan sejati.

Namun, lingkup pergaulan dapat membutakan hati nurani. Bila pada akhirnya hati manusia dipenuhi hal-hal buruk (nafsu dan kejahatan), sesungguhnya secara kodrati bukan demikianlah hati manusia pada awalnya. Bila manusia terlibat pergaulan bebas, memakai obat-obat terlarang atau narkotik, sesungguhnya manusia tidak pernah akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. “Yah..saya merasa senang melakukannya.” Sesungguhnya tidak. Di sini, kita harus hati-hati membedakan antara rasa senang dan kebahagiaan itu sendiri.

Manusia modern gampang hanyut dalam kebahagiaan yang palsu. Bisa jadi memahami, saya sendiri jatuh bangun menghidupinya. Memang kebahagiaan yang palsu lebih dangkal dan gampang diperoleh. Namun, bagaimanapun kebahagian dalam cara itu tetap tidak memuaskan manusia. Manusia tetap merasa hampa dan bahkan ia akan kehilangan dirinya sendiri. Apakah yang sesungguhnya kita cari?

MENGHIDUPI SELIBAT DENGAN GEMBIRA

PENDAHULUAN

“Mengapa kita masih bertekun di dalam hidup religius?” mau menjadi seorang rohani? Hal ini dapat juga terjadi di dalam cara hidup yang lain! Mau melayani umat Allah? Setiap orang Kristen dipanggil untuk itu! Mau menjadi miskin, murni dan taat? Semua orang Kristen diharapkan menghidupi keutamaan-keutamaan kristiani ini! Karena suka hidup dalam komunitas atau ingin menjadi saleh, pendoa dan single? Barangkali, dimensi-dimensi ini memang integral untuk hidup religius. Tetapi pilihan-pilihan atas unsur-unsur tersebut dapat juga dibuat di luar cara hidup ini.

Alasan yang tepat ialah: kita percaya bahwa kita telah dianugerahi dengan kurnia selibat demi Kerajaan Allah. Kita mau menjadi subur, berbuah, melipatgandakan karya Allah, memenuhi dunia ini dengan kebaikan cinta-Nya.

Kurnia selibat ini sekaligus juga merupakan pilihan kita agar kita lebih bebas untuk semakin mencintai diri kita sendiri, orang lain, Allah dan segala ciptaan. Kaul kita ikrarkan sebagai sarana atau jalan yang diyakini efektif untuk membuat kurnia selibat tadi berbuah. Kaul bukan terutama merupakan penyangkalan kodrat pribadi.

Seksualitas adalah satu unsur amat penting dan langsung terkait dengan hidup selibat. Seksualitas menurut pengertian psikologis mengandung cara berada (yaitu sebagai pria atau sebagai wanita), afektivitas, seksualitas genital (termasuk di dalamnya masturbasi, persetubuhan, perasaan-perasaan, fantasi-fantasi dan kerinduan-kerinduan yang terarah ke situ).

Seksualitas, khususnya seksualitas genital, sering menimbulkan masalah-masalah perlik dalam diri kaum religius atau yang hidup selibat pada umumnya. Maka justru hubungan di antara seksualitas dan selibat inilah menjadi pokok utama permbicaraan kita, yang kiranya akan menambah paham atau membangkitkan kembali kesadaran kita atasnya, supaya dengan demikian kurnia selibat yang kita terima, pilih, dan hidupi itu semakin membawa buah demi perwujudan Kerajaan Allah dalam segala dimensinya (eskatologis dan inkarnasional sekarang).

SEKSUALITAS SELIBAT – PROBLEMATIS

Kurnia selibat itu mempunyai keindahan dan membangkitkan kekaguman tersendiri. Saya sangka tak seorangpun mau menyangkal itu. Tetapi bagi kebanyakan kita dia cukup problematis juga seraya meninggalkan beberapa pertanyaan tetap tak terjawab. Mengapa? Justru karena seksualitas merupakan faktor essensial di dalamnya.

Pernah saya membaca sebuah artikel di mana diterakan kisah nyata seorang suster dan seorang bruder secara terpisah. Suster itu bertutur tentang bagaimana niatnya untuk menjadi religius sangat tidak dimengerti dan tidak disenangi oleh orang tua, sanak-saudara, kerabat, terlebih-lebih bekas pacarnya. Waktu dia bercerita ini dia sudah 13 tahun menjadi suster. Dengan rendah hati diakui bahwa dia senang dan bahagia sebagai religius; merasa diri telah bertumbuh lebih dekat dengan Allah dan sesama. Umurnya 34 tahun; menurut para ahli berarti dia berada pada puncak hidup seksualnya.

Dia mengaku begini: ”Mau apa saya dengan perasaan-perasaan dan fantasi-fantasi seksualku? Terkadang aku sebegitu kesepian hingga kurindukan memegang dan dipegang seorang laki-laki. Aku kepingin merasakan bagaimana gerangan nikmatnya bersetubuh dengan laki-laki yang aku cintai. Aku tahu ini bertentangan dengan janji penyerahanku. Namun, aku masih punya kerinduan untuk akrab, mesra, memberi dan diberi. Aku sadar aku seorang selibat demi Kerajaan Allah, tetapi sekaligus juga makhluk seksual, yang bukan alang kepalang pula. Aku tahu bahwa aku harus mengintegrasikannya. Tetapi tak seorangpun mengatakan bagaimana membuat itu.

”Sekali-sekali aku merasa seakan-akan aku saja yang mengalami hal semacam ini. Tetapi aku pikir pula kebanyakan saudariku suster, jikalau bukan semua, mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang kurang lebih serupa. Tetapi kami hampir tidak pernah berbicara tentang hal itu. Kalau pernah disinggung, pasti tidak dengan kartu terbuka, dan pula tidak dibahas apa yang dibuat mengenai itu.”

Suster ini patut diakui jujur kepada dirinya dan terbuka kepada orang lain termasuk kita. Bukan orang yang abnormal; dia seorang religius yang baik. Tetapi hidup seksualnya membuat dia frustasi. Arti seksualitas dalam hidup religiusnya terang secara teoritis, tetapi ambiguous dalam pengalaman riil.

Ada miripnya kisah seorang bruder. Dia bersaksi: ”Sesudah 20 tahun dalam hidup religius aku terkejut melihat bahwa seks rupanya suatu masalah yang jauh lebih besar dari pada yang pernah kuduga sebelumnya. Dulu orang tidak berbicara dan berpikir tentang itu. Kelihatannya gampang saja. Kini nyatanya lain. Apa dapat dibuat tentang hal ini?

”Pernah saya coba masturbasi – sekali-sekali masih jadi juga. Kurasa ketegangan dikendurkan sedikit, tetapi tidak merasa nyaman dengan itu. Aku tidak yakin bahwa tindakan ini membantuku bertumbuh wajar dalam hal seks. Lalu bagaimana?

”Sekarang ini kesempatan bertemu dan bergaul dengan wanita jauh lebih banyak dibanding dulu. Tetapi sejauh atau sedalam mana aku boleh terlibat? Kerap pikiranku berkata begini, tetapi perasaanku berkata begitu. Aku mempunyai tanda-tanda stop tertentu yang dengan terang mengatakan jangan pergi lebih jauh – seperti persetubuhan misalnya. Tetapi hendak kuapakan perasaan-perasaan yang mendesakku untuk terus? Dan ada beberapa tanda peringatan yang kurang terang tetapi tokh mengganggu juga. Misalnya, apakah mengelus, mencumbu diperbolehkan atau berada ’di luar pagar’ hidup selibat? Di mana dan kapan aku menarik garis-garis batas? Mengapa aku menariknya?

”Kemudian ada fantasi-fantasi mengenai bermesraan dengan seorang perempuan. Kubagaimanakan ini? Aku tahu repressi tidak sehat, sedangkan memuaskan dorongan itu bukan suatu tindakan terpuji di mata Gereja. Tambah lagi aku yakin hal itu tidakbaik, melanggar janji religiusku. Lalu apa yang saya buat? Lari sekeliling lorong, mandi air dingin, lantas berdoa bagi jiwa-jiwa miskin? Saya menghargai nilai-nilai selibat terutama untuk hidup rohaniku. Tetapi apakah ada tempat untuk seksualitasku dalam hidup religius?”

Bruder inipun bertanya-tanya mengenai hidup seksualnya. Pertanyaan-pertanyaan yang menantang dan yang bisa membuat frustasi bermunculan, tetapi cuma sedikit jawaban yang memuaskan. Dia mau hidup murni dan selibat, dan sekaligus mau supaya seksualitasnya punya arti dan masuk di akal, kena di hati. Seksualitas selibat atau selibat seksual menarik baginya. Tetapi bagaimana? Dia bingung!

Kiranya kisah kedua religius ini sedikit banyak menggemakan kisah kita pula kaum religius dan selibat. Kita sama-sama setuju akan dan menjunjung tinggi nilai hidup selibat itu; kita mau mewujudkan Kerajaan Allah di dalam persatuan lebih mesra dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Maka kita masih hidup dalam kaul dan persaudaraan. Tetapi kita sekaligus sadar akan diri sebagai makhluk seksual: sebagai pria yang sehat dan gagah, mau menikmati kemesraan, keakraban; nafsu birahi, fantasi-fantasi dan kerinduan-kerinduan untuk memuaskannya kerap menggebu. Ini menghadapkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan: bagaimana sebenarnya hidup selibat ini? Apa yang bisa dan mana tidak bisa untukku? Tidak ada jalan tengah: ”makan dari dua piring?” Bagaimana nanti pendapat orang lain dan suara hatiku? Dosa…? kita terkadang bingung, tercabik-cabik, tidak ada penengah di dalam proses ”tawar-menawar” ini. Seksulitas selibat memang indah dan mengagumkan tetapi sekaligus problematis.

KETIDAK-MATANGAN PSIKOSEKSUAL

Jadi seksualitas selibat itu problematis. Ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul atau yang kemungkinan besar sedang kita kandung sekarang. Beberapa dari kita barangkali menggarapnya dengan baik, sementara yang lain mungkin bingung. Saya tidak tahu entah ada yang sama sekali tidak merasa atau berpikir apa-apa mengenai itu.

Bukan hanya karena diajarkan oleh P. Adelbertus, OFMCap dalam Filsafat Manusia, melainkan karena terutama dan pertama-tama kita alami sendiri, maka kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk relasional. Dia menginginkan hubungan yang akrab dan mesra. Keakraban melibatkan seluruh pribadi: tubuh, pikiran, perasaan-perasaan, hati, seksualitas. Seksualitas ini adalah suatu ungkapan kerinduan untuk menyerahkan diri, serta suatu ungkapan kerinduan akan persatuan yang akan menjadi sumber daya kreatif bagi kita.

Oleh karena itu, kematangan di bidang seksualitas diandaikan ada pada orang-orang yang mau berhubungan akrab. Ketidakmatangan dalam hal ini mengakibatkan pula ketidakmatangan dalam relasi dan pergaulan. Demikian sebaliknya. Ada kaitan erat di antara keduanya. Itulah yang hendak kita tinjau pada nomor-nomor berikut. Kita mulai dengan apa yang disebut dengan ”ketidakmatangan psikoseksual.”

Satu kebutuhan dasar terpenting yang ingin dipuaskan di dalam setiap hubungan yang akrab ialah kebutuhan akan afeksi, yakni kasih sayang, kehangatan, penghargaan, pengakuan dan penerimaan. Kalau aday sesuatu yang tidak beres dengan hal afeksi, dapat terjadi ketidakmatangan psikoseksual. Bahkan disimpulkan oleh para peneliti bahwa ketidakmatangan psikoseksual banyak diakibatkan oleh gangguan afektif (di bidang afektivitas). (perlu diingat bahwa bukan inilah penyebab satu-satunya; masih ada faktor-faktor lain lagi yang nanti masih akan dibahas).

Orang yang tidak cukup dewasa secara afektif tidak mampun menerima afeksi dari orang lain. Dia menaruh curiga atas itu; merasa diri tidak layak dicintai; dia bayangkan ada motif-motif tersembunyi seperti kewajiban/karena terpaksa, atau karena ada sesuatu yang diumpan atau diambil darinya. Maka tidak ada spontanitas dan kepercayaan; selalu ragu-ragu atau bersyak-wasangka.

Sekalipun demikian, kebutuhan akan afeksi tetap ada. Untuk memperoleh itu dia kira dia perlu mengambil sikap, yang dapat disebut dengan ”ketergantungan atau kerelaan emosional.” Dia takut mengkritik dan tidak berani tidak setuju; patuh, tergantung cara pasif saja. Karena dia tokh memerlukan pembenaran dari orang lain walaupun sekaligus benci akan diri karena terpaksa mau menyenangkan saja.

Orang pasif seperti ini sibuk ”mengemis cinta.” Energinya lebih difokuskan pada menangkap hati orang-orang lain untuk memberi perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Perhatiannya tidak diarahakan pada berbuat cinta kepada orang-orang lain. Karena demikian halnya, dia tidak pernah puas, bagaikan sebuah tabung tanpa tutup alas yang tidak akan pernah penuh walau bagaimanapun dibuat mengisi. Rasa kekosongan diri tetap ada; kelaparan akan afeksi tak kunjung terpuaskan dan ”sine fine dicentes”: ”kasih, kasih, kasih. Kasihlah teragung di atas segala pengada; surga dan bumi berilah itu pada hamba.”

Kalau orang tersebut bertemu atau hidup bersama dengan orang yang tipe pribadinya selalu cenderung memberi perhatian, maka orang pertama tadi akan merasa bahwa keinginannya akhirnya dipenuhi dan kesepiannya akan terhapus. Tetapi berapa lama orang tadi bisa tahan? Tidak mustahil kalau dia bereaksi negatif juga atau bosan dengan orang yang merengek-rengek ingin diperhatikan saja.

Sebuah ilustrasi:

Kalau orang seperti itu masuk sebuah toko untuk berbelanja lalu melihat disitu pelayan wanita tersenyum, maka dia terus ”kimpat”, darah tersirap dan terus tertarik dan seakan-akan langsung jatuh cinta. Tetapi coba kalau orang yang dicintainya (entah siapapun) tidak tersenyum padanya, dia akan tersinggung, kecil hati, merasa diri ditolak, dan muncul pertanyaan-pertanyaan yang bernada syak wasangka.

            Orangnya mau melekat, melengket, dan tergantung pada orang lain. Dan sebenarnya dia itu merusak hubungan yang ada. Perhatian utamanya bukan pertumbuhan bersama (diri sendiri dan partner) melainkan keinginan agar orang-orang lain memuaskan kebutuhan-kebutuhannya saja. Kalau ada yang tidak sesuai keinginannya, dia merasa diri ditolak. Dia menjadi semakin cemas dan gelisah. Semakin cemas dia, sebenarnya semakin cenderung pula untuk melekat dan bersikap memiliki. Demikianlah proses ini menjadi sebuah ”circulus vitiosus.”

Gangguan di bidang afeksi ini dapat mengakibatkan ketidakmatangan dalam hal seksualitas juga seperti telah dikatakan tadi. Dorongan-dorongan atau gejala-gejala di bidang seksualitas (yang sebenarnya wajar) bisa menjadi sesuatu yang tidak sehat. Itu bisa nampak baik dalam pandangan mengenai seksualitas maupun mungkin dalam tindakan, khususnya berkenaan dengan seksualitas genital (persetubuhan dan tindakan/tingkah laku yang terserah kesitu). Apa misalnya ketidakmatangan psikoseksual sebagai penjabaran dari ketidakmatangan afektif itu?

  1. Seks sebagai kontak manusiawi

Seseorang bisa terlibat dalam tindakan genital karena tidak pernah mengalami kemesraan, keakraban entah dari siapapun termasuk orang tua dan teman-temannya. Kebutuhan untuk dicintai (dalam arti luas) diterjemahkan dengan keinginan untuk kemesraan genital, seakan-akan relasi genital inilah jalan satu-satunya untuk manusiawi. Maka yang memuaskannya di dalam kemesraan cara genital adalah kedekatan fisik saja. Tidak lebih dari itu.

  1. Seks sebagai penenang hati kembali

Ada laki-laki yang ragu-ragu akan kelakilakiannya. Dia pikir kegagahannya sebagai laki-laki terletak pada bidang seksual. Maka dia menggunakan seks genital untuk membuktikannya. Ada juga wanita terlibat demikian untuk menenangkan hati kembali bahwa dia diinginkan dan patut dicintai. Sebenarnya akar terdalam yang mendorong perbuatan ini adalah rasa ketidakpenuhan. Maka seks dipandang sebagai penenang hati kembali.

  1. Seks sebagai ”pencas baterai”

Gangguan afektif itu ditandai juga dengan perasaan-perasaan kekosongan hidup, kebosanan, kekeringan dan ketidakpuasan. Untuk menambah semangat dia menempuh jalan tindakan genital, bagaikan ”pencas baterai.” Rupanya seks kadang-kadang bisa meringankan sebentar, tetapi tidak menghilangkan perasaan-perasaan yang mau diatasi itu, malahan justru melipatgandakannya.

  1. Seks sebagai tukar-menukar

Ada pula orang yang menjalankan hubungan seks bahan tukar menukar atau pembeli afeksi. Kalau kita dapat menilai, ini sebenarnya suatu dehumanisasi, ”pembinatangan diri,” menginjak-injak nilai dan martabat dirinya. Dia sebetulnya merasakan atau sadar bahwa itu suatu dehumanisasi. Maka dalam hal emosional, ini membuat dia makin parah karena melipatgandakan frustrasi dan rasa bersalah.

  1. Seks sebagai penaklukan dan hukuman

Ada orang yang memendam rasa marah terhadap orang-orang tertentu yang dulu tidak memperlakukan dia dengan baik. Karena tidak berdaya menyelesaikannya, padahal dia mau melampiaskan serta mau merasa hidup-hidup, maka dia lari ke tindakan seks genital. Dia merasa diri telah menghukum dan menaklukkan orang-orang yang didendamnya itu dengan melakukan tindakan genital tadi.

Ungkapan-ungkapan ketidakmatangan yang baru saja disebut ini (yaitu di bidang seksualitas genital) berkenaan dengan keterlibatan dalam tindakan seksual, katakanlah misalnya persetubuhan. Ini sering berakar pada afeksi yang tidak sehat lalu dimotivisir oleh rasa kesepian, kekosongan, kebosanan, tekanan batin, dsb. Dengan kata lain, suata pelarian yang dapat meringankan untuk sementara.

Ketidakmatangan psikoseksual dapat juga ditunjukkan pada arah ekstrim yang justru terbalik dari tindakan aktif seperti dikatakan tadi. Inilah yang dinamakan dengan represi. Ada orang khususnya kaum selibat, menekan perasaan-perasaan genital yang dialaminya. Dia tidak mau menerima dan mengakui secara sadar bahwa perasaan-perasaan itu ada. Orangnya berpura-pura seakan-akan dia tidak seksual, dan berpura-pura bahwa dia tidak berpura-pura.

Biasanya represi ini terjadi karena seseorang belajar dan masih berpengetahuan bahwa hal-hal atau pengalaman-pengalaman tertentu (dalam hal ini yang berhubungan dengan seksualitas genital) tidak dapat diterima, tidak ada arti, buruk. Konsekuensi: orang yang mengalaminya juga buruk, tidak baik.

Represi juga bisa diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk mengungkapkan afeksinya (kehangatan, kemesraan, keakraban, kasih sayangnya) dengan spontan, entah karena tekanan batin atau kesedihan, ketakutan, atau kemarahan, dslb. Represi itu dapat menyebabkan seseorang menderita ketegangan otot-otot khususnya bagian pinggul; kerap juga timbangan badan terlalu berat. Lalu dia melepaskan kehampaan yang dialaminya entah dengan kerja terlalu, alkoholisme, kelewat makan, merokok atau keinginan bersetubuh dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Seksualitas yang ditekan dan persetubuhan dengan siapapun adalah dua sisi berbeda dari mata uang yang sama.

Seorang religius yang menekan perasaan-perasaan ini bisa frustrasi, jengkel, marah. Atau orangnya bisa secara otomatis anti keakraban, takut jangan-jangan timbul dorongan seksual; selibat lalu digunakan untuk merasionalisasikan penghindaran itu. Mungkin juga dia memproyeksikan perasaan-perasaannya sendiri dengan menuduh orang lain tidak sopan, menyimpang, tidak layak sebagai religius. Orangnya boleh dikatakan memperoleh kepuasan dan pembenaran diri dengan berlaku sebagai ”sensor seks” di dalam komunitasnya.

 

PERTUMBUHAN MENUJU PSIKOSEKSUAL YANG MATANG

Telah dikatakan tadi bahwa afektivitas (kemesraan, kasih sayang, keakraban, kedekatan, dst.) termasuk unsur esensial di dalam hubungan seseorang dengan orang-orang lain. Seksualitas, dengan segala hal yang terkait dengannya, merupakan bagian penting di dalam hubungan ataupun kehidupan seseorang pada umumnya. Setelah membahas ketidakmatangan di bidang psikoseksual, sekarang kita coba melihat sedikit tentang cara-cara pertumbuhan menuju psikoseksual yang matang.

  1. Bersahabat dengan seksualitas sendiri

Kita perlu berkontak dengan bagian-bagian diri yang ditekan, dan berdialog dengan tubuh, perasaan-perasaan, dan keinginan-keinginan seksual. Amat penting sekali bahwa kita menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri kita berkaitan dengan seksualitas serta bersahabat dengannya (tidak memusuhinya atau menyangkalnya).

  1. Mengalami seksualitas

Menyadari perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan seksual tidak cukup. Perlu juga mengalaminya: benar-benar merasa keinginan, kebutuhan, dorongan seksual itu. Barulah setelah itu kita dapat menentukan reaksi atau jawaban kita atasnya. Ini tergantung dari beberapa faktor, antara lain nilai-nilai, situasi seseorang (umur misalnya), konsekuensi-konsekuensi yang dilihat, dan arti yang terkandung dari fakta itu.

  1. Menerima seksualitas

Setelah menyadari dan mengalami perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan seksual itu, maka kiranya kita dapat meneriam itu sebagai bagian dari diri tanpa pembahasan-pembahasan mendalam atau pendapat-pendapat pribadi tentangnya.

Mengerti psikologi C. G. Jung kiranya amat membantu juga di dalam hal ini. Secara amat sederhana dapat dikatakan begini: Jung yakin bahwa di dalam diri setiap pribadi terdapat sekaligus dua unsur (animus: kelakilakian dan anima: kewanitaan). Pada diri laki-laki yang disadari dan nyata adalah animusnya. Tetapi secara tidak sadar anima itu mau muncul ke permukaan kesadaran, karena memang animus dan anima cenderung menuju persatuan; mereka saling melengkapi. Unsur anima lebih besar ditemukan dalam pribadi-pribadi pria. Maka wajarlah kalau laki-laki tertarik pada wanita dan sebaliknya (kecuali untuk orang-orang yang homoseksual).

Yang mau ditekankan di sini ialah: harus diterima bahwa manusia adalah makhluk seksual; daya tarik fisik dan mental (termasuk di bidang genital) adalah bagian hakiki dari diri/hidup manusia itu.

PERTUMBUHAN DI DALAM SEKSUALITAS SELIBAT

Jadi sekali lagi boleh dikatakan bahwa kematangan psikoseksual pertama-tama berarti bahwa seorang mampu mengalami, mengakui, dan menerima seksualitasnya tanpa penyangkalan dan rasa bersalah, tanpa pengidentikan seksualitas dengan pemuasan keinginan genital.

Yang baru saja dikatakan ini berlaku umum untuk semua orang. Bagi orang-orang selibat terdapat dimensi tambahan yakni kemampuan mencapai dan mengalami keakraban tanpa motivasi untuk persatuan genital.

Kalau seseorang matang atau dewasa, hubungan-hubungan akrab yang dialaminya bersifat langsung, jujur, tulus, tidak manipulatif. Maka kalau dia mengungkapkan keintiman fisik, melalui sentuhan misalnya atau bahkan melalui ”kissing” buat orang Barat, hal itu adalah ungkapan kehangatan atau afeksi. Bukan muslihat tersembunyi untuk merangsang nafsu birahi di dalam diri sendiri ataupun di dalam diri partner.

Orang-orang yang dewasa mencintai pribadi-pribadi, bukan kemanusiaan abstrak; mereka dapat akrab dengan pria maupun wanita tanpa mendominasi atau memiliki partnernya dan tidak terlalu gampang remuk redam karena cemburu. Bagi mereka hubungan-hubungan intim diakarkan dalam kesadaran mereka atas tubuh mereka sendiri, seksualitasnya, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Mereka mempunyai keseimbangan dan integrasi di antara pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, nilai-nilai dan tingkah laku. Umumnya orang-orang ini mampu memberi diri untuk nilai-nilai, menangani konflik-konflik nilai itu dan bertanggungjawab atas pilihan-pilihan mereka.

Orang-orang selibat yang dewasa memegang selibat sebagai suatu nilai yang berharga dan mengalaminya sebagai suatu komitmen yang positif demi kebahagiaannya juga. Selibat itu tidak dilihatnya pertama-tama sebagai suatu aturan yang harus mereka turuti. Dengan mengiakan dan mengintegrasikan seksualitasnya, orang-orang selibat yang dewasa mampu masuk atau terjun dalam hubungan-hubungan yang lebih dalam, intim dan penuh cinta dengan kedua jenis kelamin dan tentu juga dengan diri mereka sendiri serta dengan Allah.

Pengintegrasian yang di atas masih tinggal pada tahap penanganan psikologis dan biologis saja. Amat pentinglah bahwa seksualitas, khususnya genitalitas yang sangat problematis itu, dihubungkan lebih langsung dengan spiritualitas. Genitalitas bisa membawa pengaruh lebih langsung dan positif atas hidup rohani si selibat sendiri. Perasaan-perasaan, fantasi-fantasi dan tingkah laku genital tidak dilihat sebagai fungsi fisik saja, melainkan suatu artikulasi yang berbicara tentang sesuatu dari dirinya dan diri orang-orang lain.

Genitalitas merupakan suatu undangan melihat dimensi-dimensi lebih mendalam dari dirinya sendiri dan orang-orang lain (”a second look”). Dia seharusnya membantu kita menghormati dan menghargai martabat manusia. Kita diundang/diajak kepada keutuhan dan kekudusan.

Seorang selibat tidak melihat dan mengalami dirinya sendiri dan orang lain terutama sebagai tubuh (buah dada, pinggul, betis, alat kelamin, bibir, pipi, dsb) atau sebagai fungsi (pendamping, teman, ”lover”), melainkan lebih condong mengalami bagian-bagian tubuh dan fungsi-fungsi ini sebagai ungkapan dari keseluruhan keberadaannya. Dia berhati murni melihat realitas. Dia menghormati diri orang lain yang juga berarti menaikkan nilai dan hormat dirinya sendiri. Baik ditekankan: bagian-bagian tubuh sebenarnya punya arti hanya karena ada orang. Coba bayangkan saja seandainya kita menjumpai sepasang buah dada terletak di pinggir jalan waktu mau ke stasi. Bagaimana?

Secara ideal, seksualitas genital seharusnya membantu kaum selibat menjadi semakin hidup-hidup seraya bersentuhan dengan aspek-aspek yang lebih indah dan dalam dari diri dan orang lain. Kalau seorang selibat merasa terlalu takut atas atau bersalah mengenai keinginan-keinginan genital, barangkali dia melihat genitalitas hanya sebagai alat pemuasan dan oleh karena itu mutlak dikontrol secara ketat. Tujuan ialah menghormati genitalitas waktu dia muncul dan mengarahkan menuju keutuhan pribadi.

Cara mengani ini sungguh merupakan tugas dan tanggung jawab setiap pribadi selibat itu sendiri. Namun demikian, baiklah disinggung sedikit tentang peranan komunitas dalam hal ini. Telah digariskan berulang-ulang bahwa seksualitas amat berhubungan erat dengan afektivitas. Maka hendaknya komunitas ditata sedemikian rupa sehingga setiap anggota dapat memperoleh di sana kebutuhan dasarnya akan afeksi (cinta, kemesraan, kehangatan).

Komunitas harus lebih daripada tempat penginapan saja seolah-olah itu sebuah hotel dengan kamar-kamar tidur dengan sebuah kapel barangkali. Komunitas seharusnya merupakan tempat di mana seseorang berbagi afeksi dan kemesraan dengan anggota-anggota lainnya. Ke situ seseorang dapat pergi dan tahu bahwa anggota komunitas memperhatikan dan dia memperhatikan mereka pula.

Komunitas-komunitas religius atau kaum selibat perlu ditata/diorganisir atas dasar bukan ”work-oriented” melainkan ”pribadi-oriented”. Setiap anggota hendaknya merasakan bahwa dia diakui, diterima sebagaimana dia ada, bukan sebagaimana dia kerja. Nilainya bukan ditentukan oleh kerjanya sebagai guru, pastor, pemimpin asrama, ketua komisi, pimpinan, anggota biasa, dlsb. melainkan sebagaimana dia ada. Baiklah para anggota saling menerima. Terpenuhinya kebutuhan dasar akan afektivitas ini  membantu setiap anggota selibat itu menangani dan menghidupi seksualitasnya dengan lebih sehat. Dengan demikian kita harapkan bahwa dianya menghidupi pilihan dan kurnia selibat itu dengan lebih bahagia.

Selibat adalah kurnia Allah dan pilihan bebas kita demi keberbuahan Kerajaan Allah. Dia merupakan suatu proses perkembangan yang mencoba mentransformir energi seksual ke dalam persatuan mesra dengan Allah, sesama dan diri sendiri.  Menyangkal dan mencopot perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan seksual berarti mencopot kemungkinan terjadinya keakraban selibat tadi. Tujuan akhir selibat bukanlah kontrol seksual melainkan keinginan yang tulus untuk persatuan dengan Allah di dalam kepenuhan kerajaan-Nya.

PENUTUP

Sebagai penutup baiklah diberi semacam ringkasan dari apa yang telah dibahas atau dikemukakan. Kita mengakui dan kagum atas keindahan dan nilai dari hidup selibat demi Kerajaan Allah. Tetapi karena kita adalah makhluk seksual, maka keindahan hidup selibat itu tidak gampang saja dihayati. Selibat cukup problematis juga, justru karena seksualitas termasuk unsur penting di dalamnya.

Seksualitas punya hubungan erat dengan afektivitas. Maka kematangan (atau ketidakmatangan) di bidang seksualitas umumnya ada kaitannya dengan kematangan (atau ketidakmatangan) di bidang afektivitas. Oleh karena itu, ketidakmatangan dan kematangan psikoseksual dilihat dalam cahaya afektivitas.

Baru setelah mengerti apa itu seksualitas (yang matang dan tidak matang), orang-orang selibat kiranya lebih mampu mengenal diri dan mengenal apa itu selibat. Pengertian baru ini akan membantu mereka menghidupi selibatnya dengan lebih berarti, yaitu demi Kerajaan Allah (kebahagiaan dirinya sendiri dan orang lain).

Jelas bahwa pembahasan kita ini menyinggung dua pokok yakni selibat dan seksualitas yang diarahkan pada menuju kematangan. Seperti ditekankan dalam pendahuluan, pembicaraan yang kami sajikan sama sekali tidak bermaksud untuk mengulas pokok kita secara tuntas. Kita masih harus maju lagi, belajar dari bacaan-bacaan dan terlebih dalam keheningan kehadiran Allah.

 

 

 

 

TERBIASA MELAKUKAN YANG BAIK: Bercermin dari Pikiran A.MacIntyre

Saya tertarik dengan pemikiran Alasdair MacIntyre. Saat ini saya ingat kembali bahwa pemikirannya sangat menarik dan aktual bagi kehidupan kita manusia modern. Mengapa? Manusia zaman modern cenderung untuk melakukan sesuatu untuk menjalankan peraturan atau norma yang berlaku saja, tidak pergi ke gereja bukan karena kesadaran bahwa itu bernilai tapi karena malu disebut tak beragama. Bahkan acara adat dihadiri bukan karena nilai dari adat-istiadat itu sendiri tetapi karena malu disebut tak beradat. Lebih parah lagi, orang bahkan lebih malu disebut “tak ber-adat” dari pada tak ber-Tuhan.

Kebiasaan spt ini biasa disebut kecenderungan legal. Kecenderungan legalistik merasuk ke dalam paham manusia, terutama setelah abad pencerahan (sekitar abad kedelapanbelas/tahun 1700-an). Manusia mengembangkan etika yang rasional, yang lebih berfokus pada peraturan atau norma, atau prinsip yang harus ditaati. Misalnya seseorang merasa penting untuk berdoa setelah ia mengalami sebuah kecelakaan, atau berdoa demi mengharapkan sebuah mukjizat. Berdoa tidak dilihat sebagai sesuatu yang bernilai bagi dirinya sendiri. Artinya: dorongan untuk berdoa bukan karena dorongan kesadaran dari dalam diri, akan nilai doa itu sendiri.

Lagi, manusia modern kadang lupa akan arti pertanyaan ini: apa sebenarnya arti hidup manusia? Manusia lupa bahwa hidupnya bernilai, berbeda dari makhluk lain. Dalam bukunya, “After Virtue” Alasdair MacIntyre (1981) berpendapat bahwa etika pasca tradisional sudah gagal dalam usahanya untuk mendasarkan moralitas pada pembuktian rasional yang meyakinkan. Etika hanya dapat diselamatkan apabila mau kembali ke pengetahuan etika tradisional bahwa yang menjadi titik tolak moralitas adalah keutamaan dan bukan prinsip-prinsip atau norma-norma. Menurut MacIntyre, kegagalan itu terjadi karena ada inkonsistensi (ketidakkonsistenan) yang mendasar.

Ada sebuah cerita sederhana yang lucu mengkritisi fenomena seperti ini. Di suatu biara, pada zaman awal didirikan banyak kaum religius yang hidup bersama dengan peraturan yang ketat. Mereka berdoa bersama sepanjang hari. Di biara itu, mereka memelihara banyak kucing. Setiap kali hendak berdoa kucing-kucing itu berdatangan ke gereja dan sangat mengganggu peribadatan. Suatu kali diputuskan dalam rapat bersama bahwa setiap kali hendak berdoa ritus pertama yang harus dilakukan bersama adalah mengurung kucing-kucing dalam ruangan tertentu. Dan hal ini menjadi sebuah kebiasaan. Tahun ke tahun jumlah penghuni biara semakin sedikit namun tradisi mengurung kucing sebelum berdoa tetap dilakukan kendati jumlah kucing pun tinggal sedikit dan tidak lagi mengganggu. Tradisi itu diteruskan turun-temurun begitu saja oleh para penghuni biara berikutnya tanpa mengetahui mengapa dilakukan demikian. Etika tradisional bernilai bila kita mengetahui makna atau nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam buku After Virtue, Alasdair MacIntyre juga menekankan perlunya keutamaan. Kata “keutamaan” berasal dari kata Yunani arete, Latin virtus dan virtue dalam bahasa Inggris. Kata sifat dalam bahasa Inggris adalah virtuous yang diterjemahkan menjadi “saleh”. Untuk memperdalam pengertian “keutamaan”, MacIntyre memasukkan tiga paham yang khas bagi manusia dan merupakan kerangka yang harus dipakai untuk mengerti manusia, yaitu: paham “kegiatan bermakna” (practice), paham “tatanan naratif kehidupan seseorang” (narrative of a single human life), dan “tradisi moral” (moral tradition). Dari ketiga aspek itu, saya sangat tertarik dengan paham “kegiatan bermakna”.

Setiap hari sebenarnya kita dihadapkan dengan pentingnya motivasi hidup bermakna. Beberapa kali saya lihat orang-orang katolik tidak membuat tanda salib dengan baik (asal-asalan). Padahal membuat tanda salib adalah ungkapan iman yang sangat dalam. Kesadaran itu rupanya belum sungguh mendarah daging. Dan saya heran kalau para pesepak bola Eropa tidak serta-merta adalah seorang Katolik beriman ketika dia membuat tanda salib seketika mencetak gol atau sebelum masuk lapangan. Kebanyakan mengira itu simbol keberuntungan (magis) dan dikira sebuah tren seorang “bintang”. Contoh lain lagi, setiap kali dalam Misa kita mempunyai kebiasaan menyampaikan salam damai. Entah kita pahami atau tidak, ungkapan itu adalah sebuah simbol yang sangat dalam, seturut perkataan Yesus kalau damai itu lebih perlu dari persembahan semata. Namun damai di Misa tak selalu relevan dengan damai di luar gereja.

Lalu MacIntyre sangat membedakan aktivitas bermakna dari kegiatan biasa. Misalnya, saya ingat contoh diberi oleh dosen ketika kami kuliah Filsafat di Sinaksak: bermain sepak bola berbeda dari bermain-main dengan bola. Kegiatan bermakna mempunyai nilai internal, seperti bermain bola adalah menyenangkan dan juga menyehatkan. Tetapi kegiatan itu bisa juga mempunyai nilai eksternal, misalnya bahwa kalau menang gengsi akan naik atau akan mendapat uang atau hadiah. Kalau nilai eksternal diutamakan, kegiatan bermakna sendiri akan rusak. Sedangkan nilai internal tidak akan merusak kegiatan bermakna, sebab kalah atau menang dalam bermain bola tidak menentukan apakah bermain bola menyenangkan atau tidak. Dari situ kita dapat melihat bahwa ada dua macam nilai internal dalam sebuah kegiatan bermakna: mutu atau kualitasnya dan yang kedua adalah bahwa dalam kegiatan bermakna saya ikut di dalamnya dan itu bernilai bagi saya.

Makin banyak kegiatan bermakna yang saya ikuti dan berjalan semestinya, makin bernilailah hidup saya. Dengan demikian, sebuah kegiatan bermakna mengandaikan standar-standar mutu dan ketaatan terhadap aturan-aturan serta pencapaian sesuatu yang bernilai. Keutamaan dalam arti yang sebenarnya adalah mutu (excellency), atau kemampuan, atau kekuatan seseorang berpartisipasi dalam sebuah kegiatan bermakna.

Untuk mencapai mutu internal ini dibutuhkan kejujuran dan kepercayaan (truthfulness & trust). Kalau kita bersama-sama melakukan sebuah kegiatan bermakna dan salah seorang menipu, maka maknanya hilang. Kedua adalah keadilan (justice). Keadilan menuntut agar orang lain diperlakukan dengan jasanya sesuai dengan standar-standar kegiatan bermakna yang bersangkutan. Dan yang ketiga adalah keberanian (courage). Keberanian dibutuhkan karena kalau orang, begitu mengalami perlawanan, mundur dari melakukan bagiannya dalam melakukan kegiatan bermakna, tentu kegiatan itu tidak dapat berhasil. Dengan kata lain, kejujuran, keadilan, dan keberanian merupakan keutamaan yang sungguh-sungguh.

Sebuah kegiatan bermakna baru bermakna kalau terintegrasi dalam dinamika sebuah kehidupan manusia dalam keseluruhannya. Dalam arti ini kita semakin mampu menghayati bahwa hidup kita bernilai, bermartabat. Kita berharga sebagai manusia yang memiliki kesadaran yang tidak dipengaruhi dari luar saja tetapi sungguh memancar dari kedalaman hati pribadi.

PEMAHAMAN TRINITARIS TENTANG RUMUSAN 1=3 DAN 3=1: Suatu Pandangan Trinitaris dari Origenes

BAB I

 PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Pemilihan Tema

Rumusan baku Gereja tentang Trinitas – sebagaimana sekarang ini – tidak terjadi begitu saja: butuh proses yang panjang dalam perjalanan sejarah Gereja. Gereja berkembang dan bertumbuh dalam sejarahnya. Kita tahu bahwa pada awalnya lingkungan agama Kristiani yang asali, yaitu agama Yahudi, amat ketat monoteismenya. Monoteisme dipeluk bersama-sama oleh orang Kristen dan orang Yahudi meskipun sebenarnya dengan pemahaman yang berbeda-beda.

Selain percaya akan Allah dalam arti YHWH, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, orang Kristen juga percaya akan Yesus Kristus. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa lewat peristiwa Inkarnasi-lah (Allah yang menjadi manusia dalam Diri Yesus Kristus) titik tolak munculnya persoalan trinitaris dalam Gereja. Memang dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tidak ada “rumusan baku” tentang Allah Tritunggal. Akan tetapi, akar-akar ajaran Trinitas dapat ditemukan dalam Kitab Suci. Khususnya dalam Perjanjian Baru terdapat benih ataupun akar suatu konsep tentang Allah yang cocok untuk dikembangkan dan dijelaskan lebih lanjut menurut garis-garis doktrinal menjadi apa yang di kemudian hari disebut “ajaran Trinitas”. Pemahaman akan Kristus yang sedang berkembang dalam lingkungan umat purba ditentukan juga oleh Roh Kudus sebagai nilai pengalaman lain di samping Bapa.[1]

Tidaklah mengherankan bila dalam perjalanan awal sejarah, Gereja mengalami jatuh bangun dalam merumuskan siapa Allah Tritunggal. Kadang-kadang mereka menempuh jalan yang kemudian hari disadari sebagai keliru, lantas mereka merasa perlu menelusuri kembali langkahnya, dan mulai lagi menempuh jalan yang benar. Dan, Gereja awal menyadari bahwa mengulang-ulangi ayat Kitab Suci yang menyebut Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus tidaklah mencukupi. Dari pada mengulangi triade-triade alkitabiah tadi, Gereja perlu mengembangkan imannya lebih lanjut. Dan, hal itulah yang memang terjadi dalam abad-abad selanjutnya.[2]

Ketika menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di Paroki St. Pius X – Aekkanopan, penulis berhadapan dengan banyak soal-soal teologis menyangkut pribadi Tritunggal. Sebenarnya pertanyaan mereka sudah sangat umum: Bagaimana bisa dimengerti Allah itu satu tetapi tiga. Maka makalah sederhana ini berupaya untuk membahasakan rumusan trinitaris 1=3 dan 3=1 dalam bingkai dan latar belakang pengalaman TOP tadi, kendati penulis berhadapan dengan ambivalensi: di satu pihak rumusan itu penting, tapi di lain pihak sulit menemukan bahasa sederhana untuk memaparkannya.

Memang, memahami rumusan Trinitaris tadi tidaklah gampang, namun menantang juga. Menantang, karena sebagaimana disebut tadi, Iman Gereja yang baku seperti sekarang, tidak terjadi begitu saja. Dibutuhkan proses yang panjang dalam sejarah. Dalam perjalanan sejarah Gereja itulah, salah satu pemikiran tokoh sejarah Gereja yang penting yakni Origenes diuraikan di sini. Origenes adalah salah satu teolog kuno pertama dalam sejarah Gereja yang mencoba merumuskan hakikat Allah Tritunggal tersebut. Seberapa pentingkah ia dan ajarannya dalam perkembangan Gereja selanjutnya? Apa sumbangan pemikiran Origenes itu bagi ilmu teologi, khususnya teologi Trinitas? Pertanyaan-pertanyaan ini mengusik hati penulis untuk mendalami secara khusus pemikiran Trinitaris Origenes.

 

  1. Perumusan dan Pembatasan Tema

Pertanyaan akan Allah adalah pertanyaan abadi umat manusia. Manusia terus mencari dan ‘mendefinisikan’ Tuhan. Namun, bukan karena dirumuskan, maka itulah Tuhan. Tuhan sebegitu besar dan Mahaluas, misteri. Tuhan tetaplah Tuhan pada Diri-Nya. Dia tidak pernah bisa dimengerti oleh manusia sepenuhnya dan tak pernah tuntas oleh pikiran manusia tersebut. Namun, sebagai manusia, kita tetap perlu mencari-Nya dan merefleksikan siapa Dia dalam perjalanan hidup kita.

Narasi sederhana ini sangat membantu dalam memahami pergumulan umat Kristen di awal-awal kehidupan berimannya. Lewat peristiwa Inkarnasi dan janji pengutusan Roh Kudus oleh Yesus dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, iman umat Perdana mulai bertanya-tanya tentang “Allah Trinitas”. Iman mereka yang bertumbuh kuat dalam monoteisme kental Yahudi berhadapan dengan persoalan siapa Bapa, Yesus, dan Roh-Kudus. Bahkan Paulus sampai kepada perumusan ucapan berkah: “Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kami sekalian” (2Kor 13:13). Dalam arti yang ketat, rumusan ini belum dapat dikatakan “trinitaris” karena ketiga nama itu hanya dideretkan saja tanpa merefleksikan keesaan Allah.

Sebagaimana dikatakan tadi, Gereja perlu merumuskan imannya. Baru menjelang abad II dan sepanjang abad III menjadi lebih jelas bagaimana sebenarnya paham Kristiani tentang Allah. Pemikir paling berjasa dalam hal ini adalah Ireneus dari Lyon, Tertullianus, dan Origenes. Namun, mengingat banyaknya rumusan-rumusan yang muncul di awal abad kekristenan, penulis membatasi pemikiran trinitaris hanya pada tokoh Origenes. Tokoh-tokoh (yakni Ireneus dan Tertullianus) dan aliran lain akan disebut sejauh terkait dengan konteks Origenes dan pemikirannya. Maka, tulisan ini dibatasi dan diberi judul: Pemahaman Trinitaris tentang Rumusan 1=3 dan 3=1: Suatu Pandangan Trinitaris Origenes.[3]

 

  1. Tujuan Penulisan

             Makalah ini ditulis dalam rangka mengetahui pemikiran trinitaris dalam sejarah awal Gereja dengan segala dimensinya. Untuk itu, sedapat mungkin pemahaman komprehensif di sekitar awal abad itu sengaja dipaparkan di sini, tetapi terlebih pemikiran Origenes sebagai inti tulisan ini.

Di samping itu, tujuan penulisan makalah ini ialah hendak menanamkan kesadaran penulis dan juga para pembaca perihal pewahyuan Allah dalam dinamika perjalanan Gereja. Allah peduli dan aktif menyapa umat-Nya, sebagaimana nyata dalam Perjanjian Lama. Manusia terbatas oleh ruang dan waktu, tetapi Allah bersifat supranatural dan tak terbatas. Oleh karena itu, sebagai manusia kita membutuhkan suatu rumusan yang baku. Maka, perumusan Trinitaris khususnya Origenes serentak menyadarkan insan Gereja bahwa rumusan baku triniter sekarang ini adalah hasil perjalanan panjang Gereja dan pergumulannya. Kesadaran ini menumbuhkan “sensus ecclesiae” di pihak penulis dan semoga juga bagi para pembaca.

 

  1. Metode Penulisan dan Pembahasan

 Dalam menyusun makalah ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Pemikiran Origenes didalami lewat buku-buku teologi secara umum dan buku dari serta tentang Origenes sendiri. Penulisan makalah ini mengikuti Pedoman Penulisan Skripsi yang berlaku pada Fakultas Filsafat, Universitas Katolik St. Thomas, Medan-Sumatera Utara, edisi 2009.

 

  1. Sistematika Penyajian

             Makalah ini dibagi dalam lima bab tulisan, yang didahului dengan kata pengantar dan daftar isi. Panjang setiap bab diusahakan tersaji sangat padat dan singkat. Adapun pembagian dan pokok perbincangan bab-bab itu diuraikan sebagai berikut:

Bab I adalah pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang pemilihan tema, perumusan dan pembatasan tema, tujuan penulisan, metode penulisan dan penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II adalah Riwayat hidup Origenes dan juga konteks pemikiran Origenes. Di dalamnya dibahas perkembangan iman trinitaris Origenes pada abad I-III dan pokok-pokok teologi dua pendahulu Origenes (Ireneus dan Tertulianus).

Bab III adalah inti makalah ini. Di dalamnya dipaparkan sumbangan pemikiran trinitaris Origenes sekaligus refleksi sistematis dari penulis tentang percaya kepada satu Allah dengan tiga pribadi dengan bercermin pada pemikiran Origenes.

Bab IV adalah penutup. Di sini dituliskan perihal kesimpulan pembicaraan dari awal sampai akhir makalah ini. Sesudahnya penulis memberi sedikit refleksi kritis atas pemikiran Origenes.

BAB II

 KONTEKS PEMIKIRAN ORIGENES

 

  1. Riwayat Hidup Origenes

 Origenes lahir sekitar tahun 185 dari orang tua kristiani, barangkali di Aleksandria. Ayahnya, Leonidas, dibunuh karena iman sebagai martir. Karena warisannya disita oleh negara, Origenes mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya dengan mengajar. Sekolah termasyhur untuk katekumen di Aleksandria berantakan ketika Klemens, kepalanya harus melarikan diri karena penganiayaan (oleh Kaisar Septimus Severus). Uskup Demetrius mengangkat pemuda Origenes pada umur 18 tahun menjadi pengganti Klemens. [4]

Namun karena tidak disenangi oleh uskupnya dan dipecat, maka Origenes membuka perguruan serupa di Kaisarea, Palestina, dengan dukungan uskup setempat (tahun 230). Menjelang akhir hidupnya, oleh pemerintah (Decius), Origenes dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa dengan ngeri. Dan, itu menyebabkan kematiannya.

Pikirannya dituangkan ke dalam sejumlah besar tulisan (konon sekitar 2000!) dan untuk kerjanya Origenes menggunakan suatu staf besar (7 stenograf, 7 penulis, sejumlah puteri yang merias tulisannya). Ada karya raksasa di bidang Kitab Suci yang biasa disebut “Hexapla” dan di samping itu sejumlah besar komentar atas Kitab Suci, yang bermacam-macam jenisnya. Teologi sistematiknya terurai dalam karya besar “Mengenai pokok-pokok utama” (Iman kepercayaan kristen – Peri Arkhon/De Principiis) dan sebuah karya apologetis “Melawan Celsus” (seorang filsuf Yunani yang menyerang kekristenan dalam karyanya “Alethinos Logos” – pikiran yang benar).[5]

 

  1. Perkembangan “Iman Trinitas” Gereja Purba pada Abad I-III

 2.1 Abad I: Munculnya Pemikiran tentang Trinitas

             Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tidak ada ajaran tentang Allah Tritunggal. Hal ini tidak mengherankan sebab pada umumnya kitab suci Perjanjian Baru kurang bermaksud menyampaikan ajaran tertentu. Tujuan utamanya adalah memaklumkan Kerajaan Allah. Namun, akar-akar ajaran Trinitas dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tersebut. Akar-akar ajaran Trinitas itu bisa dipahami demikian.

Allah Perjanjian Baru adalah Allah Yang Esa. Lingkungan agama kristiani yang asali, yaitu agama Yahudi, amat ketat monoteismenya. Berlawanan dengan politeisme yang dianut oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal YHWH. Monoteisme dipeluk bersama-sama oleh orang Kristen dan orang Yahudi meskipun pemahaman yang berbeda-beda.[6]

Selain percaya akan Allah dalam arti YHWH, Allah Abraham dan Allah Ishak, orang Kristen juga percaya akan Yesus Kristus. Berkat terjadinya peristiwa Yesus dalam sejarah umat manusia, kita diperkenalkan dengan misteri Trinitas. Bisa dikatakan bahwa setelah Yesus dari Nazareth hilang dari panggung sejarah mulailah berkembang sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai “kristologi”. Mereka yang dahulu menjadi pengikut Yesus mulai memikirkan, mengkonseptualkan dan membahasakan Yesus dan pengalaman mereka dengan Yesus. Kesadaran akan situasi itu hanya bisa menimbulkan rasa kagum atas prestasi teologis yang menjadi jasa unggul dua-tiga generasi kristen pertama seperti yang tercantum dalam karangan-karangan Perjanjian Baru.[7]

Kita tahu bahwa iman para murid berakar dalam peristiwa kebangkitan. Yesus yang telah bangkit itu dikenal sebagai Anak Allah (Rm 1:4). Hanya dalam rangka kepercayaan akan Allah, Sang Bapa, maka pengakuan iman akan Yesus itu memperoleh bobotnya.

Kristus yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa itu diyakini sebagai Juru Selamat yang bersatu dengan Bapa secara tak terpisahkan dan tak terbandingkan, dan dengan cara itu juga menjadi gambar Allah (2 Kor 4:4; Kol 1:15). Dalam diri Yesuslah, Logos ilahi yang pada awal mula bersama-sama dengan Allah telah menjelma menjadi manusia. Dengan demikian ditegaskan di sini bahwa Yesus Kristus itu pra-ada: Ia sudah ada sebelum Ia di bumi ini (Yoh 1:1-18). Juga beberapa teks lain menyebutkan atau mengandaikan pra-eksistensi Kristus itu (Flp 2:5-11; Rm 8:32; 2 Kor 8:9). Pelbagai pengarang Perjanjian Baru berpikir tentang Yesus sebagai Allah, tanpa melepaskan keyakinan bahwa Yesus pun seorang manusia sejati.

Pemahaman akan Kristus yang sedang berkembang dalam umat purba itu ditentukan juga oleh Roh Kudus sebagai nilai pengalaman yang lain di samping Bapa. Roh hanya dapat didekati melalui Kristus, dan Kristus melalui Roh. Maka, Roh Kudus tidak dapat disamakan dengan Bapa maupun dengan Putera. Menyadari bahwa dalam ketiga nama ilahi termaktublah seluruh tindakan penyelamatan, Paulus merumuskan ucapan berkah: ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13).

Dalam tulisan lain Perjanjian Baru masih terdapat beberapa teks lain yang menyebutkan triade Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam arti yang ketat, rumus ini belum dapat dikatakan ”trinitaris” karena ketiga nama itu hanya dideretkan saja tanpa merefleksikan keesaan Allah. Juga Ef 4:4-6 tidak memberikan penjelasan lebih lanjut walaupun menekankan kata ”satu”: orang kristen percaya akan satu Allah, bukan tiga allah. Begitu pula perintah untuk membaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19) tidak memaksudkan tiga nama melainkan satu, sebagaimana tampak dari bentuk tunggal dari kata Yunani onoma (nama). Pengakuan akan Allah yang satu itu rupanya tidak menghindari Santo Paulus untuk juga mengakui Tuhan yang satu (1Kor 8:6;bdk. Gal 3:20; 1Tim 2:5) dan Roh yang satu (1Kor 12:11-13).[8]

 

2.2 Abad II: Inkulturasi Pemikiran Yahudi ke Dunia Hellenis

Pada abad kedua, titik berat Gereja berpindah dari lingkungan Palestina (Yahudi) ke alam pikiran Yunani. Dengan demikian, Gereja dihadapkan pad masalah inkulturasi: perlu mengungkapkan iman kepercayaannya ke dalam suatu ”bahasa” yang dapat dimengerti oleh mereka yang berbudaya Hellenis.

Pemikiran Yunani berbeda dari pemikiran Ibrani. Bagi orang Israel kebenaran Allah diwahyukan dalam sejarah, sedangkan bagi orang Yunani kebenaran itu didasarkan pada tatanan ontologis, yaitu hal ”mengada”. Inkulturasi tadi mengakibatkan bahwa cara bicara alkitabiah yang konkrit itu diganti dengan konsep-konsep metafisis yang berpusatkan masalah ”mengada”. Para apologet Gereja perdana bertindak sebagai perintis inkulturasi ketika mereka mempersatukan konsep Yunani logos dengan gagasan Logos  dalam Prakata Injil Yohanes (1:1-18) dan memandangnya sebagai kepribadian tersendiri.

Pada abad kedua ini, kaum monarkian[9] berusaha membela ke-tunggal-an Allah (monoteisme). Gereja kurang tertarik dengan jalan yang ditempuh oleh kaum monarkian tersebut meskipun tujuan Monarkianisme patut dipuji, yakni mempertahankan monoteisme. Monarkianisme dinamistik cenderung ke arah pemahaman bahwa Yesus Kristus bukan sungguh-sungguh Allah (semi-Allah). Sementara monarkianisme modalistik berusaha menghilangkan perbedaan-perbedaan antara Bapa dan Putera.[10]

Selain aliran monarkianisme, pelbagai sistem gnostik[11] juga turut mempengaruhi pembentukan ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal. Menurut pandangan hidup gnosis, dunia secara dasariah buruk. Ia merupakan hasil kekeliruan besar. Dunia seadanya suatu penipuan belaka, yang berpancar dari sesuatu yang buruk. Dunia yang sesungguhnya, dunia sejati ialah dunia ilahi, suatu prinsip ilahi yang tidak terjangkau dan tidak tercapai. Antara dunia, prinsip ilahi terpasang berbagai tingkat atau lapis lain yang memang berpangkal pada yang ilahi, tetapi semakin rendah tingkatnya semakin buruk. Tingkat terbawah, tingkat material yang dialami manusia ialah tingkat yang paling buruk. Manusia sejati, manusia sebenarnya berciri ilahi, semacam bunga api yang tercetus dari yang ilahi. Tetapi manusia sejati itu terjatuh dan terkurung dalam dunia material ini dengan segala keburukan dan hawa nafsunya. Penyelamatan manusia justru pembebasannya dari kurungan itu dan kembalinya manusia sejati kepada asal-usulnya, yang ilahi. Hanya manusia sejati sudah lama lupa akan asal-usulnya sehingga malah tidak tahu lagi siapa dirinya dan apa itu penyelamatannya dan betapa buruk situasinya. Supaya selamat manusia membutuhkan ”pengetahuan” (gnosis).

Yang Ilahi tidak lupa akan apa yang berasal dari dirinya, yaitu manusia. Maka yang ilahi dari tingkat teratas mengutus seorang penyelamat, Manusia asli sejati, yang membawa gnosis yang perlu, menyampaikan ”wahyu” yang membuka mata manusia yang buta dan lupa itu.[12]

 

2.3 Abad II-III: Unsur-unsur Awal Ajaran Trinitas

Gnosis yang tersebar luas pada umat Kristen selama abad II sungguh membahayakan identitas kepercayaan Kristen dan identitas Yesus Kristus yang menjadi tokoh mitologis belaka. Maka gnosis itu tidak dapat tidak memancing reaksi dari pihak Kristen. Beberapa tokoh layak disebut di sini: Agrippa Castor, Philippus dari Gortyna, Rhodon, Candidus, Apion, Sextus, Heraklitos, Heggesippus, dan terutama Ireneus dan Tertullianus. Oleh karena kedua tokoh terakhir ini paling gigih menghadapi gnosis, maka kedua tokoh ini akan dipaparkan secara khusus sebelum Origenes. Suatu keuntungan dari gnostisisme itu adalah bahwa umat Kristen dipaksa memperdalam imannya.[13] Dapat dikatakan bahwa baru pada abad II dan sepanjang abad III menjadi lebih jelas bagaimana sebenarnya paham Kristiani tentang Allah.[14]

 

2.3.1 Pokok-pokok Pemikiran Ireneus[15]

Ireneus sangat menekankan keesaan Allah begitu kuat sehingga ia tidak segan-segan memakai ungkapan yang berbunyi modalistik, seakan-akan Putera dan Roh hanya penampakan saja dari Allah Yang Esa itu. Misalnya, dikatakannya bahwa ”menurut ada dan kuasa-Nya, Allah itu pada hakikatnya esa”, namun ia juga berkata, ”akan tetapi menurut peristiwa dan pelaksanaan penebusan terdapat Bapa dan Putera.” Dengan cara begini Ireneus berharap mencegah ungkapan pluralistik berhubungan dengan Allah. Di lain pihak, perbedaan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus pun ingin dipertahankannya. Ia juga mengajarkan bahwa sejak kekal Allah mempunyai sabda dan kebijaksanaan yang bersama-sama dengan-Nya. Putera lahir dari Bapa sebelum adanya waktu. Ireneus menolak spekulasi apa pun yang berusaha masuk lebih lanjut ke dalam misteri kelahiran Sang Putera ini.[16]

Menurut Ireneus sang logos layak disebut Anak Allah karena dengannya segala sesuatu dijadikan dan dipertahankan. Ireneus sebenarnya banyak dipengaruhi tradisi Yohanes lantas bergerak dalam alam pikiran Plato-Stoa yang berusaha menekankan keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Firman Allah, Anak-Nya yang kekal pada saat tertentu menjadi manusia benar dan utuh. Gagasan Ireneus yang sudah lazim tentang logos ini digabungkan dengan pikiran Paulus sekitar solidaritas, kesetiakawanan timbal balik antara Yesus Kristus dan manusia seadanya. Yesus Kristus menjadi senasib dengan manusia berdosa, supaya manusia berdosa menjadi senasib dengan Yesus Kristus yang dibangkitkan dengan Allah.[17]

 

2.3.2 Pokok-pokok Pemikiran Tertullianus[18]

Ajaran Tertullianus menyerupai ajaran Ireneus sebab ia pun mulai dengan pribadi Allah yang di dalam Dia ada Sabda dan Roh. Sabda dan Roh itu lahir dari Allah untuk penciptaan dunia. Karya Tertullianus begitu penting bagi perkembangan ajaran trinitas karena dialah yang menempa rumus-rumus tepat yang mengungkapkan baik keesaan Allah maupun ketigaan pribadi. Ia mau berpegang teguh pada hakikat Allah yang esa dalam tiga pribadi yang berhubungan satu sama lain.

Dalam hakikat Allah yang satu terdapat tiga pribadi, tetapi adanya tiga pribadi itu tidak berarti bahwa ada lebih dari satu Allah. Ketiga pribadi itu berbeda bukan dalam kondisi melainkan dalam bentuk, bukan dalam kuasa melainkan dalam rupa.

Istilah ”Trinitas” untuk menunjukkan ketiga pribadi ilahi dipakai pertama kali oleh Tertullianus. Begitu juga istilah ”persona”[19] yang menjadi begitu tersohor dalam perkembangan selanjutnya. Logos dalam pandangan Tertullianus berlainan dengan Bapa ”dalam arti person, bukan substansi, demi pembedaan bukan demi pembagian”. Istilah persona diterapkannya pula pada Roh Kudus yang disebutnya ”Pribadi ketiga”.[20]

Tertullianus tidak setuju dengan Praxeas yang mengatakan bahwa Bapa dan Putera dan Roh Kudus satu dan sama saja. Dalam hal ini, Tertullianus merupakan pembela yang mempertahankan dengan kuat sekaligus monoteisme dan ajaran trinitas.  Dengan Firman segala sesuatu dijadikan. Pada saat penciptaan Firman itu keluar dan dilahirkan dan menjadi Anak yang sesungguhnya. Firman itu mesti disebut sesuatu yang berdiri sendiri. Ia itu, Anak sulung, diperanakkan sebelum segala sesuatu. Ia keluar dari Bapa. Bapa dan Anak (serta Roh Kudus) sebenarnya suatu kesatuan (unum) tetapi tidak satu (unus). Bapa adalah seluruh zat (substantia), tetapi Anak suatu jabaran (derivatio) dari keseluruhan dan bagian (portio), seperti sinar matahari. Bapa dan Anak (dan Roh Kudus) adalah dua (tiga), tidak dalam keberadaan (status), tetapi dalam tingkat (gradu), tidak dalam zat (substantia), tetapi dalam bentuk (forma), tidak dalam kuasa, tetapi dalam rupa (specie). Memang melihat ini, ucapan-ucapan Tertullianus bernada subordionis[21]: Anak adalah semacam Allah kedua, Allah yang kemudian, namun benar-benar ilahi. Firman Allah baru benar-benar berdiri sendiri pada penciptaan.[22]

 

BAB III

 SUMBANGAN PEMIKIRAN TRINITARIS ORIGENES

 

  1. Pengantar

              Dalam pemahaman teologis Origenes, Allah itu dipahami sebagai satu triade dengan tiga hypostasis: Bapa, Putera, dan Roh-Kudus. Di bawah ini akan dicoba ditunjukkan bahwa dalam lingkup ilahi, akar dari semua ”ada”, ”kebaikan” dan ”keilahian” berasal dari Allah Bapa dan dari Bapa diturunkan kepada Putera dalam bentuk partisipatif melalui kekuatan Roh-Kudus. Hubungan antara Bapa dan Putera disebut ”memperanak” atau ”mengasalkan”. Namun, di sini juga, Origenes berbicara mengenai kekekalan hidup Ilahi yang mengalir dari Bapa kepada Putera, karena partisipasi Putera dalam inti diri Allah sendiri. Hal ini melatarbelakangi pemikiran Origenes tentang penciptaan abadi (pre-eksistensi jiwa) yang juga akan diuraikan dalam bab ini.

 

  1. Pemikiran Trinitaris Origenes

 2.1 Posisi Bapa: Sumber Keilahian

             Menurut Origenes, Allah itu berada dalam “hierarki asal-usul” (Hierarchy of origin): Bapa adalah sumber keilahian, dari pada-Nya dilahirkan Putera dan Roh Kudus. Dalam karya teologisnya yang terbesar, “De Principiis” (Prinsip-prinsip yang Pertama), Origenes memulai pernyataan dengan mengatakan bahwa Allah adalah roh. Ia adalah cahaya.[23] Mata kita, bagaimanapun, tidak akan dapat melihat kodrat cahaya Allah. Namun, sedikit saja dari cahaya itu dapat menerangi tubuh kita yang fana.[24]

Dalam diri orang-orang Kudus, Allah berkarya secara nyata. Dan, hal ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak memiliki tubuh, tetapi Ia hadir dan menjiwai orang-orang kudus tersebut. Allah adalah roh. Hal ini tampak juga dalam ’diskusi’ Yesus dengan wanita Samaria, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh 4:20-24).[25] Allah dikatakan roh untuk membedakan Allah dari makhluk-makhuk yang bertubuh. Dan Yesus menamai Allah kebenaran untuk membedakan-Nya dari bayang-bayang dan gambaran hampa.[26]

Allah sendiri tidak dilahirkan (agennetos). Ia bebas dari segala materi. Oleh karena itu, Origenes sangat tegas menghindari gambaran dan pemahaman-pemahaman antropomorfisme yang dialamatkan kepada Allah. Allah tidak bisa dipikirkan sebagai Dia yang memiliki tubuh atau makhluk yang bertubuh, tetapi suatu kodrat intelektual saja (simplex intellectualis natura). Di dalam Dia tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang tetapi segala-galanya sempurna. Dia adalah permulaan segala sesuatu.[27]

 

2.2. Posisi Putera: Deuteros Theos dan Pengantara

             Putera dilahirkan dari keabadian dan menjadi pengantara antara Allah dan dunia. Menurut Origenes, kelahiran Putera dapat dibandingkan dengan Hikmat sebagaimana terdapat dalam Ams 8:22-25, “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir.” Hal ini juga terdapat dalam tulisan pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Kor 1:24).[28]

Pemikiran Origenes tentang Putera sebagai Hikmat Ilahi ini sebenarnya sudah lazim dalam tradisi Kristen-Yunani. Firman itu sezat dengan Allah yang satu dan esa. Tidak terlalu jelas bagaimana Origenes memikirkan relasi antara Firman/Hikmat ilahi dan Allah. Origenes untuk pertama kalinya dalam rangka kristologi memakai istilah “homo-ousios”, yang sebenarnya merupakan istilah yang sudah lama ada dalam kaum gnostisisme.[29] Maka Origenes dapat menyebut Firman itu sebagai Allah. Rupanya Firman itu dipikirkan sebagai semacam ‘emanasi’[30] (kekal) dari Allah. Hal ini melatarbelakangi mengapa Origenes menyebut Firman itu sebagai “Allah kedua (deutheros Theos)”. Pemahaman ini identik dengan pemahaman Yustinus.

Firman itu adalah Pengantara, melalui Dia Allah menciptakan segala sesuatu. Tetapi penciptaan itu terjadi dalam dua tahap. Firman Allah, ialah Hikmat dan gambaran-Nya mengandung di dalam diri-Nya segala cita-cita makhluk. Lalu dalam langkah pertama diciptakan dunia rohani, yang terdiri atas cita-cita, gambaran-gambaran, bagan segala makhluk. Itulah tingkat tengah kosmos. Akhirnya menurut gambaran-gambaran itu tingkat bawah dijadikan.

Firman/Anak Allah yang pra-eksisten itu benar-benar menjadi manusia, secara utuh-lengkap, serupa dengan manusia lain. Origenes menekankan bahwa pada Yesus Kristus ada ”dua kodrat”, yang ilahi dan manusiawi. Kedua kodrat itu dipersatukan oleh Firman/Anak Allah itu. Dengan demikian Firman/Anak Allah ”menghampakan diri” dan Ia serentak Allah (Ilahi) dan manusia. Origenes menerima apa yang disebut ”communicatio ideomatum”, artinya: dua rangkaian ciri (ilahi dan insani) tergabung dalam satu subjek sehingga subjek itu dapat bergilir ganti disebut menurut ciri-ciri yang berbeda itu, sehingga ciri-ciri yang berbeda itu serentak dikatakan mengenai subjek yang sama.

Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, menyelamatkan seluruh manusia. Origenes mengulang dan memperuncing prinsip karya penyelamatan yang menegaskan: apa yang tidak dipersatukan dengan Firman, tidak diselamatkan pula. Dalam rangka komentarnya atas Roma 3:8 Origenes dengan panjang lebar menguraikan tradisi yang mengartikan kematian Yesus di salib sebagai korban pemulihan dan penyilih dosa, korban pendamaian. Dosa-dosa manusia menuntut penyilihan dan pemulihan. Dan Kristus dengan rela dan sebagai pengganti orang berdosa dan Imam besar menawarkan diri menjadi korban pendamaian.[31]

 

2.3. Posisi Roh-Kudus: Pengudus (Sanctifier)

             Allah, dengan cinta yang besar, menciptakan Roh-Kudus dengan perantaraan Logos (Sabda). Maka hubungan Roh-Kudus dan Putera terutama sangat erat bagaikan kesatuan tubuh dan jiwa (seperti bara api dan api).[32]

            Roh-Kudus berfungsi sebagai Pengudus. Ia memberi kekuatan dan menguduskan orang-orang pilihannya untuk memberi kesaksian seperti pengalaman Daniel yang mampu meramalkan mimpi Raja Nebukadnezar, ” Pada akhirnya Daniel datang menghadap aku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus” (Dan 4:8). Ia memberi inspirasi bagi para penulis Kitab Suci.

Roh dicurahkan hanya pada mereka yang ikut ambil bagian dalam perjalanan pendidikan ilahi demi penyempurnaan dan pengilahian, dan pada akhirnya dibentuk menjadi Anak Allah. Orang yang dicurahi Roh itu tampak dari perbuatan etis dan asketisnya. Hanya manusia yang dicurahi oleh Roh-lah dimampukan oleh Roh untuk menerima Kristus dan mengkontemplasikan Allah, demikian hanya Dia berhasil memahami dimensi spiritual yang mendalam dari Kitab Suci.[33]

Dalam Perjanjian Baru, diceritakan bahwa Roh-Kudus turun ke atas Yesus setelah pembaptisan. Hal yang sama terjadi ketika pembaptisan di dalam Kisah Para Rasul, ” Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka” (Kis 8:16-18). Yesus sendiri pun pada akhirnya menghembusi para murid-Nya dengan Roh-Kudus, ”Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus …” (Yoh 20:22). Paulus mengatakan bahwa pengakuan kita atas siapa Yesus itu adalah karunia Roh-Kudus yang berkarya dalam diri kita, ” Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1Kor 12:3).[34]

Karena bantuan Roh-Kudus, kita bisa mengenal siapa Bapa. Karya Bapa dan Putera dalam segala makhluk terjadi karena kekuatan Roh-Kudus. Trinitas dipersatukan oleh Roh-Cinta, yakni Roh-Kudus sehingga setiap orang dituntun untuk hidup yang lebih baik. Roh Allah itu berkarya baik dalam diri orang-orang berdosa maupun dalam diri orang-orang kudus.[35]

 

  1. Penciptaan yang Abadi[36]

Menurut Origenes, kebaikan dan kuasa Allah itu sempurna dan karena itu harus selalu mempunyai objek-objek yang kepadanya kebaikan dan kuasa itu terarahkan. Maka, diajarkan Origenes bahwa sebelum Allah menciptakan dunia kita ini, Ia menjadikan suatu dunia makhluk-makhluk rohani yang ko-eternal dengan Allah sendiri. Dunia sejarah, kata Origenes, baru dijadikan Allah ketika makhluk tersebut jatuh dari pada-Nya. Dan, karena makhluk itu sejak semula disubordinasi kepada Allah Bapa, maka menurut Origenes diperlukanlah seorang mediator antara keesaan mutlak Allah di satu pihak dan banyaknya makhluk-makhluk di lain pihak. Mediator itulah Sang Putera.

Dengan demikian, ajaran Origenes tentang kelahiran abadi Sang Putera (suatu kelahiran yang berlangsung terus-menerus) dilatarbelakangi oleh gagasannya tentang penciptaan abadi. Pendasaran semacam itu berbeda sekali dengan gagasan kelahiran abadi sebagaimana terdapat dalam Teologi Trinitas di kemudian hari, di mana kelahiran kekal Sang Putera didasarkan pada pertimbangan bahwa dalam keabadian tidak terdapat masa lampau dan masa depan tetapi hanya suatu kekinian yang kekal.

 

  1. Menegaskan Iman Trinitas: Percaya kepada Satu Allah, Tiga Pribadi

            Pertanyaan fundamental mata kuliah ”Trinitas” ini adalah bagaimana dibahasakan ke-satu-an Trinitas dan ke-tiga-an Trinitas? Dengan kata lain, bagaimana dipahami ke-tiga-diri-an Allah dalam keesaan-Nya? Gereja Timur mencoba merefleksikannya dengan istilah ”perichoresis Tritunggal” yakni saling melengkapi dan meresapi antara Bapa, Putera dan Roh-Kudus secara sempurna. Ada kesatuan cinta (circumcessio). Sementara Gereja Barat mengemukakan ”misteri Trinitas” yakni Allah yang ’tiga’ itu adalah satu. Dan, Trinitas kontemporer yang dipelopori oleh, misalnya, K. Rahner, von Balthasar menekankan bahwa Trinitas ekonomia=Trinitas imanen dan Trinitas imanen=Trinitas ekonomia.

Persoalan Trinitaris 1=3 dan 3=1 hendak menggaris bawahi bahwa pada prinsipnya Allah itu satu mono + theis): satu substansi Ilahi yang mempunyai tida pribadi (Bapa, Putera dan Roh-Kudus). Tiga pribadi itu memang berbeda tetapi tida berbeda secara terputus. Maka, persoalan utama bukan unitas-multisitas (cenderung modalistik), melainkan unisitas-unitas (persekutuan dan kesatuan/relasi atau kesatuan yang ke-tiga-an).

Justru kesatuan Allah inilah yang sebenarnya mau diperjuangkan oleh Origenes kalau kita lihat uraian di atas.[37] Allah itu satu dengan tiga hypostasis/triade: Bapa, Putera, dan Roh-Kudus. Namun, masing-masing pribadi memiliki kekhasan: Bapa sebagai sumber keilahian, Putera sebagai Pengantara, dan Roh-Kudus sebagai Pengudus.

Dalam ”Iman Katolik” diungkapkan bahwa iman kita esa tetapi tidak serta merta mengatakan bahwa pribadi Trinitas itu sama saja:

Iman Kristen mengakui ”Allah itu esa”, tetapi ”esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4).   ”Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”      (Yoh 14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia,             melainkan juga ”di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada       Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef 3:12). Iman     akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh-Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap      Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai ”Bapa Tuhan kita Yesus   Kristus” (2 Kor 1:3). Maka, bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa ”Tuhan itu esa” (Mrk 12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus             sebagai Dia ”yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36).       Orang yang percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja,             melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh       karena anugerah Roh-Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.[38]

 

BAB IV

 PENUTUP

 

  1. Rangkuman Umum

Rumusan baku Gereja tentang Trinitas berjalan dalam proses sejarah Gereja yang panjang. Gereja bersifat dinamis: berkembang dan bertumbuh dalam sejarahnya. Dapat dikatakan bahwa baru pada abad II dan sepanjang abad III menjadi lebih jelas bagaimana sebenarnya paham Kristiani tentang Allah.

Origenes adalah salah satu teolog kuno pertama dalam sejarah Gereja yang mencoba merumuskan hakikat Allah Tritunggal tersebut. Menurut Origenes, Allah itu berada dalam “hierarki asal-usul” (Hierarchy of origin): Bapa adalah sumber keilahian, dari pada-Nya dilahirkan Putera (Pengantara) dan Roh Kudus (Pengudus).

Origenes juga mengakui adanya pre-eksistensi jiwa (penciptaan abadi). Sebelum Allah menciptakan dunia kita ini, Ia menjadikan suatu dunia makhluk-makhluk rohani yang ko-eternal dengan Allah sendiri. Dunia sejarah, kata Origenes, baru dijadikan Allah ketika makhluk tersebut jatuh dari pada-Nya. Dan, karena makhluk itu sejak semula disubordinasi kepada Allah Bapa, maka menurut Origenes diperlukanlah seorang mediator antara keesaan mutlak Allah di satu pihak dan banyaknya makhluk-makhluk di lain pihak. Mediator itulah Sang Putera.

 

  1. Refleksi Kritis

Origenes adalah salah satu teolog kuno pertama dalam sejarah Gereja yang mencoba merumuskan hakikat Allah Tritunggal. Memang, di kemudian hari, ajaran Origenes dipandang berbahaya oleh Gereja karena cenderung ke arah subordinasionisme. Pada dasarnya, Origenes mengakui kesatuan Allah Tritunggal. Namun, dalam membahasakannya, ia terlalu menekankan kemandirian setiap pribadi. Origenes sampai pada pemahaman bahwa Allah itu adalah satu Triade dan tiga hypostasis[39]: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Memang, istilah hypostasis ini menimbulkan perdebatan trinitaris pada masa ini karena diartikan sebagai “realitas individual dan konkrit” atau “eksistensi pribadi yang tersendiri”.[40] Tidak heran bahwa Origenes memahami Trinitas sebagai masing-masing hypostasi ilahi yang berbeda dalam martabat dan kekuatan.[41]

Origenes juga dituduh menjadi pre-cursor lahirnya Arianisme (Arius mempertajam subordinasionisme Origenes dengan menempatkan Putera lebih rendah dari Bapa). Namun, banyak teolog modern beranggapan bahwa bila Origenes sampai melukiskan Trinitas sedemikian menjadi subordinasionisme adalah karena Origenes tidak mempunyai bahasa yang cukup (adekwat) untuk melukiskan siapa itu Allah pada masa itu. Dia ‘terpaksa’ memakai bahasa platonis yang berkembang pada waktu itu.[42]

Bahwa pada akhirnya Origenes jatuh pada subordinasionisme bukanlah merupakan kegagalan di pihaknya. Bagi penulis sendiri, setidak-tidaknya pandangan Origenes merintis paham teologi Gereja yang benar di kemudian hari. Origenes memang tokoh yang kontroversial namun menantang. Dr. C. Groenen mengatakan bahwa kebesaran dan keunggulan Origenes hanya dapat dibandingkan dengan Agustinus: dari semua tokoh teologi dalam sejarah hanyalah Agustinus yang sebanding dengan Origenes.[43]

 

BIBLIOGRAFI

  

Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

 

Goetz, Philip W. (ed.). The New Encyclopaedia Britannica, vol. VIII. Chicago: The University of Chicago, 1986.

 

Groenen, C. Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen. Yogyakarta: Kanisius, 1988.

 

Kabul, Yohanes Sarwo dan Very Ara. Trinitas II: Meneropong Teologi Trinitaris dalam Terang Sistematik. Sinaksak: STFT St. Yohanes, 2001. (Diktat).

 

Konferensi Waligereja Indonesia. Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi .Yogyakarta: Kanisius, 1996.

 

O’Collins, Gerald – Edward G. Farrugia. Kamus Teologi (Judul asli: A Concise Dictionary of Theology). Diterjemahkan oleh Ignatius Suharyo. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

 

O’Collins, Gerald. The Tripersonal God: Understanding dan Interpreting the Trinity. London: Geofrey Chapman, 1999.

 

”Origen De Principiis”, dalam The Ante-Nicene Fathers, vol. III. London-New York, 1920.

 

Quasten, Johannes. Patrology, vol. II. Notre Dame: Ave Maria Press, [tanpa tahun].

 

Sipayung, Kornelus. Pneumatologi: Pengalaman akan Roh Kudus dalam Hidup Beriman. Sinaksak: STFT St. Yohanes, 2006, hlm. 21. (Diktat).

 

The Trinity according to Origen. http://www.iep.utm.edu/origen-of-alexandria/. 05 Desember 2011.

 

Whalen, John P. (ed.). New Catholic Encyclopedia, vol. X. Washington: The Catholic University of America, 1981.

 

 

 

 

[1] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 127-128.

[2] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 133.

 

[3] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 118.

[4] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 136.

[5] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 117.

[6] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 126-127.

[7] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 34.

[8] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 127-130.

[9] Monarkianisme (mono + arche = satu prinsip) adalah aliran yang begitu menekankan kesatuan Allah sehingga menolak Putra Ilahi sebagai yang berpribadi sendiri. Pengikut aliran ini yakin bahwa Yesus adalah ilahi hanya dalam arti bahwa dynamis (Yun. kekuatan) Allah turun ke atas-Nya dan mengangkat-Nya. Sementara monarkianisme modalistis (modus) memandang Tritunggal hanya tiga cara Allah mewujudkan diri dan bertindak. [Lihat Gerald O’Collins – Edward G. Farrugia, “Monarkianisme”, dalam Kamus Teologi (judul asli: A Concise Dictionary of Theology), diterjemahkan oleh Ignatius Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 204].

[10] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 131-132.

[11] Gnostisisme adalah gerakan keagamaan yang berciri dualistik. Menurut aliran ini keselamatan terjadi dengan terbebasnya unsur-unsur rohani dari unsur materi yang jahat. Akibatnya adalah bahwa tradisi dan Kitab Suci ditolak, sementara untuk selamat hanya diperlukan pengetahuan istimewa dari tradisi dan pewahyuan rahasia. [Lihat Gerald O’Collins – Edward G. Farrugia, “Gnostisisme”, dalam Kamus …, hlm. 92.]

[12] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 87-88.

[13] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 99.

[14] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 133.

[15] Ireneus hidup + 140-202, menjadi lawan paling sistematis terhadap gnostisisme. Ia seorang terpelajar. Selama pendidikan dan petualangannya ke mana-mana, antara lain ke Roma, ia mengumpulkan banyak informasi mengenai situasi jemaah-jemaah Kristen di kawasan Laut Tengah. Kanon yang disusun Ireneus: Keempat Injil, 13 Surat Paulus, Kisah Para Rasul, Wahyu, 1 Petrus, 1-2 Yohanes. Kanon Ireneus ini jelas berlawanan dengan kanon susunan Markion. Ireneus membaca banyak karya (a.l. karangan Klemens Romanus, Pastor Hermas, Polycarpus, Papias, Yustinus dan juga karangan-karangan yang beredar di kalangan para penganut gnosis). Ireneus menjadi imam dan uskup di Lyon (177/178), kawasan barat negara Roma yang kurang menyerap kebudayaan Yunani, namun Ireneus, yang menulis dalam bahasa Yunani seperti itu berkembang di kawasan timur. [Lihat Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 99-100.]

[16] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 134.

[17] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 101.

[18] Tertullianus, yang hidup sekitar tahun 166-222, seorang pejuang gigih, malah fanatik, ahli hukum (Romawi) dan seni berpidato. Meskipun mahir dalam bahasa Yunani, namun Tertullianus, seorang penulis yang subur, mengarang semua karyanya dalam bahasa Latin dengan keahlian bahasa yang luar biasa. Cukup banyak istilah teologi yang tradisional berasal dari Tertullianus. Tertullianus adalah seorang tradisionalis yang konservatif. Sifat itu memang pada akhirnya membuat Tertullianus bergabung dengan pengikut-pengikut Montanus (karismatik). Tertullianus melawan gnostisisme dan doketisme. [Lihat Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm.105.]

[19] Sesungguhnya perdebatan mengenai akar kata persona tidak bisa dihubungkan dengan kata personare yang diturunkan dari kata risuonare: “menyembunyikan atau menggemakan kembali”; “kemampuan untuk memerankan sosok pribadi lain dengan mengenakan ‘masker’ atau “menopengi diri dengan wajah orang lain”. Kata persona pertama kali dipergunakan oleh Gavio Basso dalam dunia teater pada abad I. Pada abad pertengahan, kata persona dihubungkan dengan kata phersu untuk menyingkapkan keilahian identitas atau jati diri seorang Persepona (Persipnai). Dalam perkembangannya, Persepona dipergunakan untuk menyingkapkan pribadi seseorang yang terlukis di masker yang dikenakan aktor yang melakonkan perannya. Dalam tradisi Kristiani, kata persona dipergunakan untuk menyingkapkan individualitas seorang manusia. [Lihat Yohanes Sarwo Kabul dan Very Ara, Trinitas II: Meneropong Teologi Trinitaris dalam Terang Sistematik (Sinaksak: STFT St. Yohanes, hlm. 46. (Diktat)]

[20] Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 135.

[21] Paham yang memberikan kedudukan yang lebih rendah  kepada Putera dalam hubungan dengan Bapa, demikian juga dengan Roh Kudus dalam hubungannya dengan Bapa dan Putera. Arianisme mengekstrimkan subordinasionisme Putra dari Bapa, dan Pneumatomachianisme mengekstrimkan subordinasionisme Roh Kudus dari Bapa dan Putera. Lewat Konsili Nikea (325) subordinasionisme Putra ditolak dan Konsili Konstantinopel (381) memulihkan hubungan Bapa – Putera – Roh Kudus. [Lihat Gerald O’Collins – Edward G. Farrugia, “Subordinasionisme”, dalam Kamus …, hlm. 105.]

[22] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 107.

[23] Johanes Quasten, Patrology, vol. II (Notre Dame: Ave Maria Press, [tanpa tahun]), hlm. 91.; bdk. ”Origen De Principiis”, dalam The Ante-Nicene Fathers, vol. III (London-New York, 1920), hlm. 242, Buku I, Bab I, Nomor 1. (Untuk selanjutnya, kutipan dari The Ante-Nicene Fathers cukup dituliskan: ANF, De Princ. diikuti Buku, Bab, dan Nomor)

[24] ANF, De Princ. I,I,6

[25] ANF, De Princ. I,I,3

[26] ANF, De Princ. I,I, 4

[27] Johannes Quasten, Patrology …, hlm. 75.; bdk. ANF, De Princ. I, I, 6

[28] Gerald O’Collins, S.J., The Tripersonal God: Understanding & Interpreting the Trinity (London: Geoffrey Chapman, 1999), hlm. 109.; bdk. ANF, De Princ. I,II,1

[29] Gnostisisme merupakan aliran yang menekankan pentingnya pengetahun istimewa untuk memahami rahasia Allah. Aliran ini sedikit mempengaruhi pemikiran Origenes. Selain itu, Origenes juga dipengaruhi oleh ide Platonisme yang berkembang pesat pada sekolah Aleksandria. Hal itu, misalnya, tampak dalam pemikiran Origenes tentang baptis. Bagi Origenes, baptis dalam fakta sendiri tidak menuntun ada Rahmat Roh. Roh dicurahkan hanya pada mereka yang ikut ambil bagian dalam perjalanan pendidikan ilahi demi penyempurnaan dan pengilahian, dan pada akhirnya dibentuk menjadi Anak Allah. Lihat, betapa pentingnya aspek pengetahuan bagi Origenes. [Lihat Kornelus Sipayung, Pneumatologi: Pengalaman akan Roh Kudus dalam Hidup Beriman (Sinaksak: STFT St. Yohanes, 2006), hlm. 21. (Diktat).]

[30] Emanasi artinya Realitas yang keluar dari sumber (Allah) seperti cahaya keluar dari matahari. Bahasa ini berasal dari neoplatonisme Plotinus (205-270) dan digunakan oleh St. Thomas dari Aquinas (1225-1274). Gagasan dilawan oleh banyak orang kristiani karena dengan ini tampaknya dunia ini seakan-akan begitu penting dan bahkan sama dengan Allah, bukannya dunia yang dengan bebas diciptakan oleh Allah. [Lihat Gerald O’Collins – Edward G. Farrugia, “Emanasi”, dalam Kamus …, hlm. 68.]

                [31] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah …, hlm. 119-120.

                [32] Philip W. Goetz (ed.), The New Encyclopaedia Britannica, vol. VIII (Chicago: The University of Chicago, 1986), hlm. 998; bdk. Gerald O’Collins, S.J., The Tripersonal …, hlm. 110.

                [33] Kornelus Sipayung, Pneumatologi …, hlm. 21.

                [34] ANF, De Princ. I, III, 2

                [35] ANF, De Princ. I, III, 5

[36]  Dr. Nico Syukur Dister, Teologi …, hlm. 138.

                [37] Memang bahasa yang dipakai Origenes terbatas (jatuh pada subordinasionisme). Hal ini kita lihat dalam Refleksi Kritis.

                [38] Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 144.

[39] Kata hypostasis berasal dari kata Yunani, hypestimi (hypo-histemi). Kandungan makna kata hypostasis dapat dipahami apabila dihubungkan dengan kata ousia: hypostasis merujuk pada “ketidaktergantungan, sesuatu yang berdiri sendiri”, namun selalu berada dalam relasi dengan yang lain; sedangkan ousia mengindikasikan kesatuan. [Yohanes Sarwo Kabul dan Very Ara, Meneropong Teologi Trinitaris dalam Terang Sistematik (Sinaksak: STFT St. Yohanes, 2001), hlm. 47. (Diktat).

[40] Gerald O’Collins – Edward G. Farrugia, “Hipostasis”, dalam Kamus …, hlm. 103.

[41] Yohanes Sarwo Kabul dan Very Ara, Meneropong …, hlm. 50.

[42] “Life and Work of Origen”, dalam http://dlibrary. acu. edu. au/research /theology/ gus_nathan.htm, 05 Desember 2011.; bdk. . Gerald O’Collins, S.J., The Tripersonal …, hlm. 110.

[43] Dr. C. Groenen, Sejarah …, hlm. 116.

DIMENSI COMMUNIO PERAYAAN EKARISTI, KHUSUSNYA PERAYAAN EKARISTI HARI MINGGU

  1. Pengantar

Tulisan ini bermula dari pertanyaan sederhana seorang umat kepada saya: ”Apakah diperbolehkan merayakan Misa di rumah umat pada hari Minggu?” Pertanyaan ini sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan pertanyaan ini refleksi saya berkembang lebih mendalam dalam tulisan ini, yakni dimensi communion perayaan Ekaristi, khususnya Ekaristi hari Minggu. Pertanyaan umat ini semakin menarik mengingat gejala individualisme/egoisme yang semakin menggejala di era modern kita. Hal ini secara langsung sangat kontras dengan ide Perayaan Ekaristi sebagai jamuan persaudaraan.

Nanti, pada akhir tulisan ini, saya mau memberi sekelumit dasar dan cermin communio itu sendiri. Dasar communio umat beriman dalam Perayaan Ekaristi adalah communio atau relasi intern Trinitas: Bapa, Putera dan Roh-Kudus (Trinitas Imanen).

  1. Ke-satu-an: Salah Satu Sifat Gereja Katolik[1]

Gereja itu satu menurut asalnya. ”Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah tunggal dalam tiga pribadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus” (UR 2). Gereja itu satu menurut Pendiri-Nya. ”Sebab Putera sendiri yang menjelma…telah mendamaikan semua orang dengan Allah, dan mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu tubuh” (GS 78,3). Gereja itu satu menurut jiwanya. ”Roh Kudus yang tinggal di dalam hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu, dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus, sehingga menjadi prinsip kesatuan Gereja” (UR 2). Dengan demikian, kesatuan termasuk hakikat Gereja.

Namun sejak awal, Gereja yang satu ini memiliki kemajemukan yang luar biasa. Di satu pihak kemajemukan itu disebabkan oleh perbedaan anugerah-anugerah Allah, di lain pihak oleh keanekaan orang yang menerimanya. Dalam kesatuan Umat Allah berhimpunlah perbedaan bangsa dan budaya. Di antara anggota-anggota Gereja ada keanekaragaman anugerah, tugas, syarat-syarat hidup dan cara hidup; ”maka dalam persekutuan Gereja selayaknya pula terdapat Gereja-gereja khusus, yang memiliki tradisi mereka sendiri” (LG 13).

Kristus selalu memberikan kepada Gereja-Nya anugerah kesatuan, tetapi Gereja harus terus-menerus berdoa dan bekerja untuk mempertahankan, memperkuat dan menyempurnakan kesatuan yang Kristus kehendaki untuk dia. Karena itu, Yesus sendiri berdoa pada saat kesengsaraan-Nya dan selalu kepada Bapa-Nya demi kesatuan murid-murid-Nya. ”Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:21).

  1. Partisipasi Aktif Umat Beriman dalam Perayaan Ekaristi: Paradigma Baru Konsili Vatikan II

Sifat eklesial adalah sifat khas ajaran Konsili Vatikan II. Dari sifat eklesial ini dengan sendirinya timbul tuntutan partisipasi umat dalam Perayaan Ekaristi.[2] Dalam konstitusi Vatikan II tentang liturgi, dikatakan mengenai Ekaristi bahwa:

Gereja berusaha agar para beriman kristen menghadiri misteri iman ini bukan          sebagai orang asing atau penonton yang bisu belaka, tetapi agar mereka   memahaminya dengan baik dan dengan ucapan dan doa ikut serta dalam upacara         suci dengan sadar, takwa dan aktif.[3] Orang beriman harus yakin bahwa             penampilan Gereja terutama terletak dalam peran-serta penuh dan aktif seluruh      umat Allah yang suci dalam perayaan liturgi, terutama dalam Ekaristi, dalam doa bersama, menghadap satu altar dengan uskup sebagai pemimpin, dikelilingi oleh      para imam dan pelayan.[4]

”Participatio actuosa” ini sudah merupakan cita-cita dari gerakan liturgis cukup lama sebelum konsili dimulai, dan sudah diterima dan dianjurkan secara resmi dalam ensiklik Mediator Dei dari Paus Pius XII tanggal 20 Nopember 1947. Secara teologis partisipasi ini dapat dirumuskan sebagai persoalan tentang hubungan antara kurban Kristus dengan kurban Gereja.[5]

Ekaristi sebagai Communio

            Pengutusan Roh Kudus menguniversalkan karya Yesus dan dengan demikian mengintegrasikan dunia dan sejarahnya dalam realita Kristus. Yang dituju oleh karya Roh Kudus dalam Ekaristi adalah ”koinonia” (communio, persekutuan) dalam dan dengan Yesus Kristus. Communio ini terjadi baik secara personal maupun eklesial (”jemaat yang ekaristis”). Communio personal dan eklesial diungkapkan dalam Ekaristi terutama dalam salam damai dan komuni. Dengan demikian Ekaristi sebagaimana sudah dikatakan oleh Santo Agustinus, merupakan tanda kesatuan dan ikatan kasih.[6]

Pada mulanya communio pertama-tama bukan berarti kebersamaan, melainkan partisipasi atau peran serta (ambil bagian) dalam karunia keselamatan Allah, yakni peran serta dalam Roh Kudus, dalam hidup baru, dalam cinta kasih, dan terutama dalam Ekaristi. Dalam LG 7 ditegaskan bahwa dalam pemecahan roti ekaristis kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuhan maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu di antara kita. Dalam Perayaan Ekaristi semua dimensi persekutuan itu disebut, dibangun dan dirayakan. Bahkan Konsili Vatikan II menegaskan bahwa pertemuan jemaat dalam Perayaan Ekaristi sudah merupakan Gereja (lokal) sendiri. Jadi, Gereja lahir dan terbentuk karena Ekaristi.[7]

Tindakan Yesus pada perjamuan terakhir memang terjadi dalam rangka suatu perjamuan Yahudi, namun sangat berbeda dari perjamuan yang biasa. Doa Syukur Agung yang kita pakai saat ini merupakan perkembangan dari birkat ha-mazon. Hal itu sangat kentara terutama dari Sabda Yesus, waktu membagikan roti dan piala.[8] Paulus menekankan bahwa cawan pengucapan syukur adalah persekutuan dengan darah Kristus. Sementara roti yang dipecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus. Roti itu satu maka sekalipun kita banyak adalah satu tubuh karena kita mendapat bagian dalam roti yang satu itu (bdk. 1Kor 10:16-17).[9]

Institusi Ekaristi terjadi ketika Yesus dan para murid-Nya duduk bersama menghadapi jamuan malam terakhir di mana Dia menawarkan kepada para murid roti sebagai makanan dan anggur sebagai minuman. Tanda ini mengimplikasikan bahwa Ekaristi menghadirkan diri sebagai jamuan persaudaraan, sebagai antisipasi unik kurban-Nya yang akan dijalani-Nya di atas altar salib. Para murid dijadikan komunitas yang baru. Orang beriman yang menerima Tubuh dan Darah Kristus diperkuat dan menjadi di dalam-Nya anggota tubuh Kristus yang adalah Gereja.[10]

Adalah Henri de Lubac, teolog yang hidup pada 1896-1991, membuka jalan bagi dimensi eklesiologi Ekaristi Konsili Vatikan II. Dalam Corpus Mysticum, dia menguraikan sejarah teologis dan dogmatis kesatuan di antara dimensi sakramental dan eklesial Tubuh Kristus. Dan, dalam bukunya ”Meditation sur l’Eglise”, Henri de Lubac menekankan hubungan timbal balik antara Ekaristi dan Gereja: ”Gereja membentuk Ekaristi dan Ekaristi membentuk Gereja.”[11] Gereja adalah satu kesatuan yang membentuk suatu corpus ecclesiarum dan ambil bagian dalam kesatuan Trinitas Imanen.[12] Bagian terakhir ini secara khusus kita lihat pada akhir tulisan ini.

  1. Dimensi Communio Perayaan Ekaristi Hari Minggu

            ”Pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya lainnya yang diwajibkan umat beriman diwajibkan menghadiri Misa; selain itu hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga.”[13]

Sebagai hari kebangkitan, hari Minggu tidak hanya kenangan akan peristiwa masa silam. Itu merupakan perayaan kehadiran hidup Tuhan yang Bangkit di tengah umat-Nya sendiri. Supaya kehadiran Tuhan itu diwartakan dan dihayati semestinya, tidak cukuplah para murid Kristus berdoa secara perorangan tetapi selaku anggota-anggota Tubuh yang Mistik, karena termasuk Umat Allah. Mereka telah menjadi ”satu” dalam Kristus (bdk. Gal 3:28) berkat kurnia Roh. Kesatuan itu nampak bila umat Kristen berhimpun.[14]

Dimensi gerejawi yang intrinsik pada Ekaristi itu diwujudkan dalam tiap Perayaan Ekaristi. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) diungkapkan bahwa: ”Perayaan hari Minggu pada hari Tuhan dan Ekaristi-Nya terletak pada jantung hidup Gereja”.[15] Memang benar, Ekaristi sendiri pada hari Minggu tidak berbeda dengan Ekaristi yang dirayakan pada hari-hari lain, pun tidak terceraikan dari hidup liturgis dan sakramental secara keseluruhan. Akan tetapi karena sifat meriahnya yang khas dan kehadiran wajib jemaat, lagi pula karena dirayakan pada hari Kristus mengalahkan maut dan membagikan kepada kita hidup-Nya yang tak kenal maut, Ekaristi hari Minggu mengungkapkan dengan tekanan yang lebih kuat dimensi gerejawi yang melekat padanya. Oleh karena itu, dies Domini (hari Tuhan) sekaligus dies Ecclesiae (hari Gereja). Maka dari itu pada tingkat pastoral perlu ditekankan secara khas aspek jemaat perayaan hari Minggu dan hari pertemuan serta Misa-Misa untuk kelompok kecil jangan dianjurkan. Hal ini dibuat agar hidup dan kesatuan jemaat Gereja dijamin dan dimajukan sepenuhnya.[16]

Ciri kejemaatan Ekaristi tampil secara khas, bila dipandang sebagai perjamuan Paskah, tempat Kristus sendiri menjadi santapan kita. Oleh karena itulah Gereja menganjurkan supaya umat beriman menerima Komuni, bila mereka ikut serta dalam Ekaristi, asal mereka berada dalam disposisi semestinya, dan – kalau menyadari dosa berat – telah menerima pengampunan Allah dalam Sakramen Rekonsiliasi. Jelaslah ajakan untuk Komuni Ekaristi lebih mendesak pada Misa hari Minggu dan hari-hari raya.[17]

Masih ada masalah paroki-paroki, yang tidak mempunyai pelayanan imam untuk perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Itu sering terdapat dalam Gereja-gereja muda, tempat satu imam mengemban tanggung jawab pastoral bagi umat beriman yang tercerai-berai di kawasan yang luas. Di situasi-situasi, tempat Ekaristi tidak dapat dirayakan, Gereja menganjurkan supaya jemaat hari Minggu berkumpul bahkan tanpa imam dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Uskup setempat.[18]

  1. Communio Umat Beriman Bersumber dan Ambil Bagian dalam Communio Trinitas (Trinitas Imanen)

            Tertullianus (160-220) menuliskan bahwa kesatuan Trinitaris Bapa, Putera dan Roh-Kudus adalah cerminan hakikat Gereja. Gereja adalah tubuh yang tampak dari kesatuan imanen Trinitas. Tentu struktur Trinitaris Gereja ini mengemban misi soteriologis setiap organ di dalamnya.[19]

Menyadari dimensi Trinitaris Gereja ini, kita dihantar untuk melihat bahwa penyelenggaraan Ilahi-lah yang membentuk dan menjadikan Gereja. Kita ”menerima Gereja” dari Allah sebagai rahmat yang membuat kita ambil bagian dalam keAllahan Trinitas itu. Hal ini tidak mengecualikan fakta bahwa Gereja tetap merupakan realitas human dengan segala kelemahannya. Dimensi Trinitaris Gereja, misalnya, jelas tampak dari gereja-gereja lokal yang terbentuk dalam kesatuan dengan Gereja universal (bdk. LG 23). Artinya, relasi Trinitas dan Gereja dapat dipahami dalam apa yang disebut bahwa Gereja itu memaklumkan dirinya sebagai ”misteri koinonia trinitaris”; Allah berdiam di tengah-tengah umat-Nya (bdk. Why 21:3).[20]

Dalam Perayaan Ekaristi umat berhimpun membentuk satu kesatuan eklesial. Ekaristi sendiri dan communio eklesial ini berakar dan bersumber dalam/dari  communio Trinitaris Bapa, Putera dan Roh-Kudus. Dalam Perayaan Ekaristi juga segenap partisipan yang hadir di dalamnya dipersatukan dalam communio sanctorum (himpunan para kudus). Bersama mereka kita hadir dalam kesatuan dengan Kristus, dipenuhi dengan Roh-Kudus, dan kelak menghantar kita kembali bersatu dengan Bapa.[21]

  1. Penutup dan Refleksi

Tulisan ini secara lebih khusus hendak merefleksikan dimensi communio Perayaan Ekaristi, khususnya Perayaan Ekaristi hari Minggu. Di tengah maraknya arus globalisasi, ancaman individualisme dan egosentrisme semakin terasa dalam hidup keberimanan kita. Bila kita renungkan, inti inkarnasi (in+carne) adalah Allah keluar dari diri-Nya menuju ciptaan-Nya. Penjelmaan mengandaikan bahwa sebelumnya ”yang berinkarnasi ini” ada dalam kekekalan, dalam kesatuan intim dengan Trinitas yang kemudian mengambil inisiatif bebas untuk keluar dari keberadaan yang kekal dan mengambil rupa sebagai manusia. Motivasi penjelmaan adalah cinta.[22]

Bila Allah mau dan rela memasuki dunia manusia dengan inkarnasi, maka manusia yang mengimaninya seharusnya juga mengikuti jalan itu. Allah yang berinkarnasi itu mencipta dan mencinta, prihatin, berbela rasa, berkorban dan memberdayakan manusia. Dan, hal ini secara nyata dan real kita alami dan rasakan dalam Kurban Kristus dalam Perayaan Ekaristi. Panggilan bagi umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi itu sendiri justru adalah: sudahkah aku keluar dari diriku dan menjadi kurban bagi sesamaku? Maka, selain kesatuan dengan Kristus yang hadir dalam Perayaan Ekaristi, umat beriman juga hendaknya membangun semangat persaudaraan (communio) di antara mereka dengan saling membangun dan mengampuni satu terhadap yang lain.

 

BIBLIOGRAFI

 

Banawiratma, J.B. (ed.). Baptis, Krisma, Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

 

Dokumen Konsili Vatikan II. Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993.

 

Figura, Michael. ”Church and Eucharist in the Light of the Trinitarian Mystery”, dalam Communio, vol. XXVII, no. 02 (tahun 2000), hlmm. 222-238.

 

Katekismus Gereja Katolik. Diterjemahkan berdasarkan Edisi Jerman oleh P. Herman Embuiru. Ende: Nusa Indah, 1995.

 

Martasudjita, E. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral. Yogayakarta: Kanisius, 2005.

 

Paus Yohanes Paulus II. Anjuran Apostolik Dies Domini (Hari Tuhan). Seri Dokumentasi Gerejawi no.30. Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1999.

 

Sipayung, Kornelus. Sakramen Ekaristi. Sinaksak: STFT St. Yohanes, [tanpa tahun].

 

———–. “Inkarnasi versus Egosentrisme”, dalam Togar Nainggolan dan Serpulus Tano Simamora (ed.). Inkarnasi Menjawab Egosentrisme: Cara Hidup Beriman Kontekstual. Medan: Bina Media, 2006.

 

                [1] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan berdasarkan Edisi Jerman oleh P. Herman Embuiru (Ende: Nusa Indah, 1995), hlm. 215.

                [2]  Tom Jacobs, “Refleksi Teologis tentang Ekaristi”, dalam J.B.Banawiratma (ed.), Baptis, Krisma, Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 133.

                [3] SC 48.

                [4] SC 41.

                [5] Tom Jacobs, “Refleksi …”, hlm. 126.

[6] Tom Jacob, “Fenomenologi Liturgi Ekaristis”, dalam J.B.Banawiratma (ed.), Baptis, Krisma, Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 185.

[7] E. Martasudjita, Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 359.

[8] Tom Jacob, “Fenomenologi …”, hlm. 185.

[9] E. Martasudjita, Ekaristi …., hlm. 358.

[10] Kornelus Sipayung, Sakramen Ekaristi (Sinaksak: STFT St. Yohanes, [tanpa tahun]), hlm. 45-46.

[11] Michael Figura, “Church and Eucharist in the Light of the Trinitarian Mystery”, dalam Communio, Vol. XXVII, No. 02 (tahun 2000), hlm. 227-228.

[12] Michael Figura, “Church ….”, hlm. 229, 238.

[13] Kitab Hukum Kanonik 1983 (Codex Iuris Canonici 1983), Edisi Resmi Bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Sekretariat KWI (Jakarta: KWI, 2006), kan. 1247.

[14] Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Dies Domini (Hari Tuhan), (Seri dokumentasi Gerejawi no.30), diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1999), hlm. 33.

[15] KGK no. 2177.

[16] Paus Yohanes Paulus II, Dies …., hlm. 35-36,38.

[17] Paus Yohanes Paulus II, Dies …., hlm. 45.

[18] Paus Yohanes Paulus II, Dies …., hlm. 53-54.

[19] Michael Figura, “Church ….”, hlm. 219.

[20] Michael Figura, “Church ….”, hlm. 228-229.

[21] Michael Figura, “Church ….”, hlm. 239.

[22] Kornelus Sipayung, “Inkarnasi versus Egosentrisme”, dalam Togar Nainggolan dan Serpulus Tano Simamora (ed.), Inkarnasi Menjawab Egosentrisme: Cara Hidup Beriman Kontekstual (Medan: Bina Media, 2006), hlm. 132.

INFERIORITAS PEREMPUAN (BORU) DALAM KELUARGA PATRIARKAL BATAK TOBA: Ulasan Anthropologis – Teologi Moral Katolik

BAB I

PENDAHULUAN

 

 1. Latar Belakang Pemilihan Tema

Setiap perbedaan memicu dua hal, atau memperkaya satu sama lain atau konflik. Salah satu dari kedua konsekuensi perbedaan itu bisa muncul tergantung kepada bagaimana perbedaan itu disikapi. Konsekuensi positif (saling memperkaya) akan timbul bila perbedaan dipahami sebagai dua hal yang tidak saling bertentangan, tetapi saling menyumbang. Konsekuensi negatif (konflik) akan timbul bila perbedaan dipahami sebagai dua hal yang berlawanan (perbedaan yang di’perbeda’kan).

Ada banyak sekali perbedaan dalam hidup kita. Perbedaan etnis, suku, warna, agama, selera, cuaca, karakter, jenis kelamin, dan seribu satu perbedaan bisa diurutkan di sini. Filosofi yang terkandung di balik setiap perbedaan adalah bahwa setiap perbedaan saling menajamkan hakikat dan identitas masing-masing. Kita mengetahui adanya siang hari karena ada malam hari, menyadari bagaimana bentuk warna hitam karena ada warna lain. Demikian halnya, kita memberi porsi bagaimana identitas laki-laki karena adanya perempuan. Perbedaan itu saling memperkaya dan menyumbang satu terhadap yang lain.

Perbedaan yang disebut terakhir (laki-laki dan perempuan) adalah topik perbincangan tulisan ini. Akhir-akhir ini muncul begitu banyak buku dan artikel-artikel yang mencoba menelisik lebih mendalam identitas lelaki (“dimensi kelelakian”) dan perempuan (“dimensi keperempuanan”). Rupanya perbedaan lelaki dan perempuan adalah hal yang senantiasa ‘misterius’ sehingga menumbuhkan minat untuk senantiasa mengulasnya. Sebagai sebuah isu, persoalan gender sebenarnya baru muncul dan mencuat beberapa tahun terakhir ini. Namun, jika dicermati lebih jauh persoalan itu adalah persoalan manusia ‘sepanjang segala abad’.

Dalam pandangan tradisi filosofis Yunani pun, perbedaan perempuan dan laki-laki menjadi sebuah soal dan isu perbincangan para filsuf. Pembedaan klasik itu berisikan bahwa laki-laki dikaitkan dengan eksterior, kerja yang digaji, kuasa, kompetisi, budaya, perang dan politik, akal budi dan seterusnya; sedangkan perempuan dikaitkan dengan interior, rumah, mengurus anak dan keluarga, kecantikan, intuisi, alam(i).[1]

Sebut saja Plato dan Aristoteles, dua filsuf besar Yunani kuno, mewakili dunia filosof Yunani. Plato mengatakan bahwa kodrat perempuan adalah fungsi reproduktif. Kendati boleh sama dalam pendidikan, bagaimanapun perempuan tetap lebih lemah dan rendah dari laki-laki. Pendapat yang agak mirip dikemukakan oleh Aristoteles bahwa perempuan adalah manusia yang kurang penuh dan lengkap. Perempuan adalah “laki-laki yang tidak lengkap”. Fungsi reproduktif-prokreatif perempuan menjadi penentu kodrat seorang perempuan. Lebih lanjut, Aristoteles mengatakan bahwa laki-laki dikaitkan dengan roh yang memiliki unsur yang memimpin, sedangkan wanita dihubungkan dengan roh yang mempunyai unsur tunduk dan taat.[2]

Dalam budaya Batak Toba juga, kedudukan dan peran perempuan itu dianggap inferior bila dibandingkan dengan laki-laki. Hal itu disebabkan oleh sistem kekerabatan patrilineal yang dianut oleh budaya Batak Toba itu sendiri, sehingga wanita kerap dijadikan “obyek”. Pun dalam zaman modern ini, bentuk-bentuk kekerasan dan ketidakadilan terhadap wanita masih bisa ditemukan dalam keluarga Batak Toba. Mengapa hal itu sampai terjadi? Sejauh mana persis bisa dipahami struktur dan sistem kekerabatan patrilineal Batak Toba itu dapat memicu terjadinya ketidakadilan terhadap wanita? Apakah tidak titik-titik cerah dalam sistem kekerabatan itu menuju penghargaan terhadap martabat wanita? Pertanyaan-pertanyaan ini mengusik hati penulis untuk menggarap tema perihal inferioritas wanita dalam budaya Batak Toba.

  1. Perumusan dan Pembatasan Tema

Hidup manusia adalah sebuah proyek mencari makna. Manusia itu merupakan rahasia besar dan suci. Ia adalah sebuah misteri. Dengan kata lain, manusia itu biasa disebut makhluk yang paradoksal. Paradoks berarti bahwa sesuatu tampaknya bertentangan, tetapi tidak berkontradiksi; otonom dan tergantung, sosial dan individual, fana dan baka, dan seterusnya.     Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Pengalaman akan budaya adalah pengalaman eksistensial[3] umat manusia. Karena manusia adalah makhluk yang paradoksal, maka kebudayaan manusia itu pun kena hakikat paradoksalitas itu. Dari dasarnya, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dibuat oleh manusia, karena akal budinya untuk membangun, mengembangkan kehidupannya sebagai manusia yang berakal budi. Tindakan manusia yang sifatnya menghancurkan, merendahkan martabat manusia sesungguhnya bukanlah kebudayaan.[4]

Adat-istiadat dan budaya Batak Toba adalah salah satu kebudayaan sub-etnis yang memiliki sistem dan aturan tertentu. Budaya Batak Toba adalah hasil permenungan dan bentukan para pendahulu Batak Toba itu sendiri. Namun, serentak dengan itu juga, kebudayaan itu membentuk insan Batak Toba kembali, tentu dalam rangka mencapai nilai-nilai yang digariskan di dalamnya. Nilai-nilai itu dikristalkan dalam struktur adat yang disebut “Dalihan na tolu”[5].

Struktur adat dalihan na tolu ini masih luas. Dalihan na tolu (hulahula, dongan tubu, boru) sendiri memang  adalah satu kesatuan yang saling tergantung. Oleh karena itulah secara sekilas keterkaitan ketiga hal itu akan dibahas sebelum memulai inti perbincangan tentang inferioritas boru dalam tulisan ini. Lagi, kendati inferioritas perempuan Batak Toba itu kena pada setiap suku Batak Toba pada umumnya, namun penulis mempersempit penelitian dan pembahasan pada keluarga Batak Toba yang beragama Katolik saja. Dengan demikian dapat dipahami batasan tulisan makalah ini yang berjudul: Inferioritas Perempuan dalam Struktur Patriarkal Batak Toba.

  1. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

             Makalah ini ditulis sebagai bahan untuk menyempurnakan mata kuliah teologi moral: Seks dan Perkawinan. Mata kuliah ini adalah bahan pelajaran yang disajikan pada semester X tahun kelima di STFT St. Yohanes – Pematangsiantar.

Di samping itu, penulis juga ingin menggali lebih dalam fenomena umum dalam masyarakat saat ini, terlebih dalam adat budaya Batak Toba, perihal ketidakadilan terhadap perempuan. Bahasa lain untuk itu, yang dipakai dalam makalah ini adalah ‘inferioritas perempuan’ dibandingkan dengan laki-laki (suami). Selain untuk penulis, tulisan ini kiranya berguna untuk banyak orang terlebih insan yang mencintai keluhuran martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan, terutama sebagaiman dipahami dalam teologi moral Katolik.

  1. Metode Penelitian dan Penulisan

             Makalah ini ditulis berdasarkan metode penelitian lapangan (wawancara-angket) dan kepustakaan (library research). Responden untuk metode penelitian lapangan (angket) berjumlah lima puluh (50) orang yang tersebar di daerah Sibaganding – Paroki St. Josep, Jl. Bali Pematangsiantar (kampung halaman penulis sendiri), Kisaran, Aekkanopan (tempat penulis menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral 2010-2011 yang lalu), paroki St. Fransiskus – Jl. Medan dan orang-orang Batak Toba di Stasi Pulian Baru – Kuasi Paroki Raya (tempat penulis saat ini mengadakan kerasulan). Penulis langsung mengadakan wawancara untuk para responden di Sibaganding, Jl. Medan dan Pulian Baru. Sementara untuk para responden di Kisaran dan Aekkanopan (30 %), penulis menghubungi mereka lewat media hp (hand phone).

            Tentulah sudah ada “apriori” dalam benak penulis sebelum menulis makalah ini. Hal itu sudah penulis alami dan saksikan ketika masih kecil. Namun, apriori itu perlu diperkuat dengan data-fakta dari lapangan. Dan, tinjauan ilmiah perlu atasnya lewat penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku-buku budaya Batak Toba. Serentak dengan itu, keluhuran martabat pria dan wanita, yang begitu kentara dalam paham moral Katolik, didalami dan diteliti dengan seksama.

  1. Sistematika Penyajian

 Bab I adalah Pendahuluan. Bab ini terdiri dari: latar belakang pemilihan tema, perumusan dan pembatasan tema, tujuan dan kegunaan penulisan, metode penelitian dan penulisan, dan sistematika penyajian.

Dalam bab II akan diperlihatkan data-fakta penelitian lapangan (angket) perihal problem inferioritas perempuan dalam budaya Batak Toba. Hal ini sangat perlu, agar teori tentang kentalnya budaya patrilineal dalam suku ini bisa terbukti di lapangan.

Sementara itu, dalam Bab III dibahas bagaimana peran dan kedudukan boru (perempuan) dalam budaya Batak Toba sendiri dalam konsep dan teori yang dibakukan pada buku-buku ilmiah. Bidang-bidang hidup adat-istiadat itu dikemukakan di sini: prinsip hidup, warisan, struktur huta (kampung), perkawinan dan keluarga.

Budaya itu perlu didalami lewat cara pandang Katolik. Hal itu diuraikan dalam Bab IV. Di sini, idealisme relasi-persekutuan suami dan isteri ditekankan. Artinya, keluhuran martabat manusia adalah yang utama, sebagai pria dan wanita.

Bab V adalah kesimpulan dan tindakan pastoral yang konkrit. Setelah uraian persoalan dalam makalah ini disimpulkan, perlu kiranya suatu aksi nyata (pastoral). Sebenarnya ungkapan-ungkapan dalam budaya Batak Toba sendiri bernada paradoksal.[6] Hal ini menjadi titik tolak untuk tindakan pastoral, demi peluhuran martabat manusia. Dalam rangka ini, katekese adalah sesuatu yang sangat mendesak bagi umat Katolik secara khusus.

  

BAB II

DATA-FAKTA PROBLEM INFERIORITAS PEREMPUAN

 DALAM BUDAYA PATRIARKAL SUKU BATAK TOBA:

TABULASI DAN ANALISA HASIL PERTANYAAN ANGKET

 

  1. Tabulasi Hasil Penelitian Angket[7]

 

No. Daftar Pertanyaan yang diajukan kepada responden Alternatif jawaban Jumlah responden Persentase (%)
01 Siapakah yang paling berperan dalam keluarga anda?

 

a. Suami 33 66
b. Isteri 17 34
c. Keluarga dekat (mertua, Lae, dll)
d. ………………

 

02 Apakah anda mengetahui struktur kekerabatan dalam keluarga anda (Batak Toba)? a. tahu 14 28
b. tahu sedikit 7 14
c. tidak tahu 20 40
d. ragu-ragu 9 18
Jika tahu, sebutkanlah………….

 

Patrilineal
03 Siapa yang paling peduli dengan kehidupan keluarga anda, termasuk mencari nafkah: a. Suami 12 24
b. Isteri 20 40
c. Sama-sama

 

18 36
04 Pendapat siapa yang paling harus didengarkan/diikuti dalam hidup keluarga anda?: a. Suami 24 48
b. Isteri 7 14
c. Anak-anak
d. Keluarga dekat (misalnya mertua)
e. Pembicaraan bersama antara bapak, ibu dan anak-anak

 

9 18
05 Tanggung jawab dalam mendidik anak, kebanyakan adalah tanggung jawab siapa?: a. Suami 12 24
b. Isteri 20 40
c. Dua-dua (Suami dan isteri)

 

18 36
06 Bila ada acara-acara adat dan keluarga, siapa yang berperan “mandok hata”: a. Suami 48 96
b. Isteri
c. tidak tahu 2 4
07 Dimana kebanyakan aktivitas bapak dihabiskan?: a. Tempat kerja (ladang, kantor, dll.) 20 40
b. kedai 16 32
c. Gereja
d. rumah 14 28
e. ………………

 

08 Dimana kebanyakan aktivitas ibu dihabiskan?:

 

a. Rumah 24 48
b. rumah tetangga dan keluarga 5 10
c. tempat kerja (ladang, kantor, dll.) 16 32
d. Gereja 5 10
e. ……………………

 

     
09 Bagaimana perihal pembagian warisan?: a. yang dihitung hanya pihak laki-laki 20 40
 

b. pihak boru juga dihitung

12 24
c. tergantung keadaan dan kebijakan orang tua pemberi warisan 18 36
d. …………………….

 

10 Di manakah dulu acara perkawinan bapak/ibu dilangsungkan?:

 

a. di tempat suami (paranak) 25 50
b. di tempat isteri (parboru) 11 22
c. di tempat lain (sopo bolon, wisma, dll) 14 28
d. ……………………….

 

Mengapa di tempat tersebut:

 

  1. Atas dasar kesepakatan
2 4
  1. Begitu menurut adat
48 96
  1. ………………

 

11 Apakah suami mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring, dll):

 

a. selalu 7 14
b. kadang-kadang 16 32
c. jarang sekali 14 28
d. tidak pernah

 

13 26
Mengapa? Malu, tidak biasa, malas, dll.
12 Apakah isteri sering mengerjakan pekerjaan-pekerjaan laki-laki? a. selalu 20 40
b. kadang-kadang 10 20
c. jarang sekali 5 10
d. tidak pernah

 

5 10
Jenis pekerjaan itu adalah:

 

Mencangkul, mengangkat kayu, mendorong traktor tangan, membabat, narik angkong, dll.
Mengapa? Suami malas kerja, suami tidak di rumah, terpaksa dll.
13 Pernahkah anda mengadakan doa bersama keluarga?:

 

a. selalu 9 18
b. kadang-kadang 16 32
c. jarang sekali 9 18
d. tidak pernah

 

16 32
Mengapa? Doa pribadi/masing-masing, tidak biasa, tidak tahu berdoa, dll.
14 Adakah saat-saat kumpul bersama keluarga?:

 

a. selalu 9 18
b. kadang-kadang 18 36
c. jarang sekali 16 32
d. tidak pernah

 

7 14
     
     
Mengapa? Sibuk, tidak biasa, menghabiskan waktu, dll.
15 Jika diadakan periodisasi pengurus Gereja, mana lebih anda senang memilih KDPS/pemimpin laki-laki atau perempuan:

 

a. laki-laki 16 32
b. perempuan 18 36
c. sama saja

 

16 32
Alasan
  1. Semua tergantung kualitas pribadi
14 28
  1. Laki-laki akan lebih mudah diterima publik (begitu lumrah menurut adat)
16 32
  1. Umumnya perempuan kurang mampu memimpin
   
  1. Perempuan lebih sabar
20 40
  1. …………..

 

   
16 Dalam kehidupan keluarga anda, apakah laki-laki dan perempuan sama saja?:

 

a. Sama saja 18 36
b. laki-laki superior 20 40
c. perempuan superior

 

12 24
Alasan Semua itu anugerah Tuhan, supaya ada penerus marga, dll.
17 Pernahkah suami melakukan KDRT terhadap anda sebagai isteri?:

 

a. pernah, bahkan sering 20 40
b. tidak pernah 14 28
c. kadang-kadang 16 32
  1. …………………

 

   
Bagaimana reaksi anda? Menangis, melawan, tidak cakapan, mengadu pada mertua dan orang tua, dll.

 

 

  1. Analisa atas Hasil Tabulasi Angket

 

Hasil angket menunjukkan bahwa suami adalah orang yang paling berperan dalam kehidupan keluarga (66 %), selebihnya adalah isteri dan keluarga dekat. sekaitan dengan ini, pada pertanyaan angket nomor 4, responden menjawab bahwa pendapat suami juga yang selalu harus didengarkan/diikuti dalam hidup keluarga (48 %).

Namun, penulis sedikit terkejut juga bahwa 40 % responden tidak mengetahui konsep kekerabatan dalam adat budaya Batak Toba. Barangkali “nama konsep” tidak mereka ketahui namun “konsep yang hidup” dalam budaya mereka geluti dan alami (hal itu terbukti dari jawaban-jawaban yang diberi atas pertanyaan-pertanyaan angket).

Dalam urusan rumah tangga tampaklah bahwa ibu memegang kendali yang penting dalam keluarga, seperti: tanggung jawab mendidik anak-anak (40 %), mengurus rumah (48 %). Sementara itu, suami menghabiskan banyak waktu di tempat kerja seperti ladang, kantor, dll (40 %) dan kedai tuak (32 %), hanya 28 % yang menghabiskan kebanyakan waktunya di rumah bersama keluarga, bahkan suami tega melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap isteri (50%). Isteri yang berada di pihak inferior, 40 % sudah harus ikut serta menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Dalam hal ini para isteri harus terjun mengerjakan pekerjaan-pekerjaan laki-laki (40 %), seperti mencangkul, mengangkat kayu, membajak, mendorong traktor tangan, dll. Saat-saat kebersamaan dalam keluarga masih belum memuaskan (36 %), termasuk di dalamnya doa bersama keluarga 18 % selalu serta 32 % kadang-kadang dan tidak pernah.

Dalam acara-acara adat, sistem patrilineal itu dipegang kuat. Hampir semua responden (96 %) menjawab bahwa peran suami-lah untuk “mandok hata” (menyampaikan kata-kata, terima kasih, selamat, dll) dalam acara-acara adat. Acara perkawinan juga dominan diadakan di tempat paranak (tempat suami) karena demikian telah ditentukan dalam adat. Bagaimana perihal pembagian warisan? Umumnya yang dihitung adalah pihak laki-laki (40 %), namun 36 % responden menjawab bahwa pihak boru juga dihitung tergantung keadaan dan kebijakan orang tua pemberi warisan. Persentase dalam pembagian warisan ini bisa dikatakan merupakan suatu kemajuan tertentu terlebih dalam konteks status patrilenal adat Batak Toba yang kental.

Terkait dengan jenis kelamin keturunan, 40 % mengatakan bahwa anak lelaki merupakan keturunan yang paling dinanti dari pada perempuan. Namun, seturut perkembangan pengetahuan, di era modern ini, 36 % responden sudah menjawab bahwa baik perempuan maupun laki-laki sama saja. Wow!! Persentase ini juga lumayan besar. Sementara itu 24 % menjawab bahwa anak perempuan lebih dinantikan dibandingkan laki-laki.

Dalam lingkup Gereja, 36 % responden lebih cenderung akan memilih perempuan menjadi KDPS (ketua dewan pastoral stasi). Alasannya adalah perempuan lebih loyal pada pekerjaan, berdedikasi dan sabar dalam memimpin. Sementara itu 32 %, pesentase yang sama dengan mereka yang mengatakan bahwa baik perempuan maupun laki-laki sama saja, memilih laki-laki karena lebih diterima publik (lumrah menurut adat) dan cekatan.

  1. Kesimpulan dari Angket

 Dari hasil analisa data di atas, nyatalah bahwa status dan kedudukan perempuan tergolong inferior bila dibandingkan dengan lelaki dalam budaya Batak Toba. Namun, serentak dengan itu, beberapa kemajuan pemikiran yang menganggap bahwa perempuan juga layak dipercaya patut diacungi jempol. Fakta memang memperlihatkan bahwa dalam beberapa segi kehidupan laki-laki masih merupakan pemegang kendali hidup berkeluarga. Memang, kecuali itu, dalam lingkup Gereja (misalnya periodisasi pengurus Gereja) perempuan masih lebih dipercayai menjadi pemimpin/jabatan pelayanan. Inferioritas perempuan lebih cenderung tampak dalam bidang struktur kebudayaan dan adat-istiadat. Patut dicatat juga, bahwa adat-istiadat menyatu dalam kehidupan konkrit sehari-hari dan pengaruhnya begitu besar.

  

 

BAB III

 PERAN DAN KEDUDUKAN PEREMPUAN (BORU[8])

DALAM STRUKTUR ADAT DALIHAN NA TOLU

 

 

  1. Struktur Adat Dalihan Na Tolu dalam Budaya Batak Toba

 

            Debata Na Tolu (yakni: Debata Bataraguru, Soripada, Balabulan) yang mewujudkan diri dalam Dalihan Na Tolu memiliki kedudukan yang sejajar dan tidak dibeda-bedakan. Debata Bataraguru tidak lebih tinggi dari pada debata soripada dan debata balabulan, dan sebaliknya. ketiganya sama-sama wujud pancaran Debata Mulajadi Nabolon. Yang berbeda adalah fungsi dari ketiganya. Debata Bataraguru menjalankan fungsi hahomion; Debata soripada hamalimon dan Debata Balabulan, hagogoon. perbedaan fungsi tidak menjadikan ketiganya berbeda melainkan tetap merupakan totalitas yang sempurna dan tidak terpisahkan.[9]

Karena Debata Na Tolu mendasari Dalihan Na Tolu, maka prinsip itu diterapkan juga pada Dalihan Na Tolu. Kedudukan hulahula, dongan sabutuha, dan boru sama-sejajar. kepada hulahula dipakai sebutan raja, kepada dongan sabutuha dan boru juga demikian. karena itu kepada hulahula disebut raja ni hulahula, kepada dongan sabutuha disebut raja ni dongan sabutuha, dan kepada boru disebut raja ni boru.

            Keharmonisan sistem dan struktur Dalihan Na Tolu ini bisa dibandingkan dengan tungku pemasak. Bila tungku tidak sejajar maka periuk dan alat pemasak lainnya yang ada di atasnya tidak akan aman. Hal yang sama dengan Dalihan Na Tolu, salah satu elemen saja dilupakan, maka akan terjadi disharmoni di antara sistem kekerabatan yang lain.[10]

Kata lain dari paparan di atas adalah bahwa sistem Dalihan Na Tolu Batak Toba tidak mengenal stratifikasi sosial,[11] lebih tepat kiranya dikatakan mengenal diferensiasi sosial. Artinya, sistem itu bersifat terbuka: setiap orang memiliki kemungkinan untuk menempati setiap posisi pada waktu dan saat tertentu. Ada saatnya seseorang bertindak sebagai hulahula, dongan tubu, dan boru. Peran dan kedudukan apa diperankan seseorang dalam acara adat tergantung kepada ‘status’ yang disandangnya pada saat itu. Peran itu bisa diketahui tergantung kepada siapa suhut (penyelenggara pesta/tuan rumah).

Dalihan Na Tolu ini menjadi penyeimbang dalam relasi, menjadi inti struktur kemasyarakatan. Seluruh kehidupan masyarakat Batak Toba diletakkan di atas prinsip Dalihan Na Tolu ini. Hal yang hendak dicapai dalam ber- Dalihan Na Tolu ini adalah hasangapon, hamoraon dan hagabeon. Inilah yang menjadi tujuan hidup orang Batak Toba dan harga diri orang Batak ada dan ditentukan oleh ketiga konsep ini.[12] Hamoraon, hagabeon dan hasangapon dapat dikatakan prinsip atau tujuan hidup yang tak terpisahkan dalam diri orang Batak Toba. Ketiganya adalah satu bagai sempurnanya Dalihan Na Tolu. Hamoraon mengandaikan hagabeon, karena kekayaan akhirnya tidak sebatas harta. Hasangapon mengandaikan hamoraon dan hagabeon. Tidak bisa dibayangkan orang yang sangap tetapi tidak mempunyai harta dan tidak mempunyai anak. Orang yang sangap berarti mempunyai keturunan yang banyak (gabe) dan juga harta (mora). Ketiga konsep ini saling mensyaratkan.

 

1.1. Hasangapon

Orang Batak Toba berhasrat menjadi orang yang berwibawa (marsahala), disegani dan diakui, serta dihormati (parhata siat, parhata oloan).  Inilah yang dapat disebut dengan hasangapon.[13] Di dalam Hasangapon terkandung makna kemuliaan, kewibawaan, karisma, kehormatan, dan semacam daya untuk meraih kejayaan.

Orang yang sangap itu terpuji, dapat menjadi teladan dan nyaris tanpa cela, sempurna, tidak ada cemoohan dari orang lain. Dengan pendek kita dapat mengartikan hasangapon sebagai kehormatan.[14] Pencapaian hasangapon terkandung dalam ungkapan: Molo naeng ho sangap, manat mardongan tubu. Artinya, kalau engkau ingin terhormat, hati-hati atau bijaksanalah berhadapan dengan dongan tubu.

  

1.2. Hagabeon

Hagabeon berarti memiliki banyak keturunan sekaligus berumur panjang. Ini terungkap dalam umpasa:

Andor halumpang ma togutogu ni lombu dohot horbo laho tu Lapogambiri

Sai saur ma hamu leleng mangolu paihutihut pahompu sahat tu na marnono marnini.[15]

Ukuran umum hagabeon dalam Batak Toba adalah bila mempunyai keturunan baoa (laki) dan boru (perempuan) yang juga kemudian mempunyai keturunan lagi. Jadi bila seseorang dalam hidupnya sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki, cucu dari anak perempuan, serta semua anaknya baik laki-laki dan perempuan sudah berumah tangga dan mempunyai keturunan, maka ia disebut gabe.

Hagabeon-nya menjadi sempurna ketika masih hidup ia masih bisa melihat cicit (apalagi kalau dari cucu perempuan dan cucu laki-laki). Itulah puncak sempurna hagabeon. Ini biasanya diupacarakan lewat pesta sulangsulang hariapan. Dalam sulangsulang hariapan, semua keturunan datang ke hadapan orang tuanya membawa makanan, dan dengan itu sang orangtua dinobatkan berhenti dari segala peradatan, karena telah purna dalam adat. Orang yang sudah mencapai tahap ini sering juga disebut saur matua bulung lapus marsegesege abuan (karena begitu lanjut usianya ia kembali seperti cicitnya yang bermain-main dengan menampi-nampi tanah).

Hagabeon dalam arti mempunyai keturunan yang banyak sangat penting dalam meneruskan garis marga (Tarombo), mengusahai lahan pertanian yang luas, saling membantu dalam kesulitan, dan mempunyai personil yang banyak dalam menghadapi musuh. Dengan inilah mereka pun kemudian menjadi disegani (sangap). Hagabeon adalah awal dari hasangapon.

Dalam pencapaian hagabeon, orang Batak Toba mengatakan: ”molo naeng ho gabe, somba marhulahula” (untuk menjadi gabe maka harus hormat kepada hulahula). Dalam pandangan orang Batak Toba, hula-hula adalah perantara yang sangat berkuasa  untuk mendoakan hagabeon bagi boru-nya kepada Debata Mulajadi. Karena inilah, maka hulahula disebut sebagai Debata Natarida (Dewata yang Kelihatan). Hulahula adalah pelimpah rahmat yang harus dihormati. Segala bentuk kehidupan yang dialami oleh pihak boru diyakini bersumber dari hulahula.[16]

 

  • Hamoraon

Hamoraon merupakan hal yang didamba dan cukup menentukan martabat dan harga diri dalam masyarakat Batak Toba. Hal ini terkandung dalam umpasa:

Asa tangkas ma uju Purba, tangkasan uju Angkola

Asa tangkas hita maduma, tangkasan hita mamora.[17]

Orang Batak Toba sangat mendamba kekayaan secara materiil. Dalam paham orang Batak, cara untuk mendapat kekayaan terutama berpangkal dari konsep elek marboru. Molo naeng ho mamora, elek marboru (kalau engkau ingin kaya, bujuklah [dengan bijaksana] pihak boru. Boru adalah (keluarga dari) pihak menantu, atau yang memperistrikan putri kita. Dalam tataran Dalihan Natolu, pihak boru berada di bawah kita. Merekalah yang menjadi ”pelayan” kita.[18]

 

  1. Perempuan dalam Bingkai Sistem Dalihan Na Tolu

Seperti dikatakan di atas, Tatanan sosial kekeluargaan, atau sistem kekerabatan orang Batak Toba dibakukan dalam apa yang disebut sistem “Dalihan na Tolu”. Sistem ini menempatkan setiap orang Batak Toba dalam bingkai: hulahula, dongan sabutuha, boru. Setiap orang akan pernah pada suatu saat sebagai hulahula, dongan sabutuha, atau boru. Ini sangat sosial, karena pada suatu saat tidak pernah orang tetap pada posisinya. Semua orang akan pernah pada posisi terhormat dan posisi pelayan.

Akan tetapi serentak dengan itu, dalam konstelasi prinsip Dalihan na Tolu itu muncullah juga penempatan status perempuan dalam budaya Batak Toba. Status hulahulalah status yang lebih tinggi, yang patut disembah dan dihormati. Hulahula adalah Bona ni Ari (awal kehidupan, hari). Sementara pihak boru adalah pihak yang melayani hulahula. Itulah yang terungkap dalam pepatah: “Siporsan na dokdok, sialap na dao. Na so mabiar di ari golap, siboan indahan na so bari, siboan tuak na so mansom.” (Yang menanggung beban berat, yang menjemput yang jauh. Yang tidak takut pada waktu gelap, yang membawa nasi yang tidak pernah basi, yang membawa tuak yang tak pernah menjadi masam). Inilah kedudukan boru dalam kaitan dengan hulahulanya. Di satu pihak dinyatakan kedudukannya yang menanggung beban, “siporsan na dokdok, sialap na dao”, tetapi di pihak lain diperlihatkan keunggulannya, “na so mabiar di ari golap, siboan indahan na so bari, siboan tuak na so mansom”.

 

  1. Perempuan dalam Suatu Kampung (Huta)[19]

Setiap kampung atau desa (huta) di daerah Batak Toba dimiliki oleh marga tertentu. Pemiliknya adalah marga yang membuka pertama kampung tersebut. Inilah yang disebut ‘si pungka huta’, yang membuka kampung. Marga yang membuka kampung itulah yang disebut ‘marga raja’. Biasanya marga itulah yang kelak lebih banyak di kampung tersebut dan dari merekalah nanti diangkat raja kampung itu (raja huta). Semua marga yang bukan ‘marga raja’ itu akan disebut ‘marga boru’ yang tidak mempunyai hak untuk menjadi raja di kampung tersebut.

Dari sini kita mendapat dua kelas sosial penduduk sebuah huta. Dan kedudukan yang lebih rendah diungkapkan dengan ‘marga boru’. ‘Marga boru’ adalah warga kelas dua di suatu kampung. Dari situ kita mendapat paham bahwa kata ‘boru’ mendapat nilai untuk memperlihatkan kelas atau status yang lebih rendah.

 

  1. Perempuan dalam Pengadilan (Saksi)[20]

Bila ada suatu masalah, di mana dibutuhkan saksi untuk memecahkan kebuntuan persoalan, maka laki-lakilah yang berhak menjadi saksi. Perempuan tidak diterima sebagai saksi dalam suatu perkara. Hal ini berarti bahwa perempuan tidak mempunyai wibawa untuk memberikan suatu keterangan resmi juridis di “pengadilan”. Mereka hanya diminta sebagai saksi di mana mereka sendiri terlibat secara tidak sengaja dalam persoalan yang sedang diputuskan.

 

  1. Perempuan dalam Perkawinan dan Pembagian Warisan

Dalam tata perkawinan, status perempuan (boru) juga tampak inferior. Beberapa ungkapan orang Batak Toba kiranya dapat menunjukkannya. “Molo dung magodang anak, pangolihonon. Molo dung magodang boru, pamulihonon.” (Kalau anak putera sudah besar, menikah. Kalau anak puteri sudah besar ‘dinikahkan’). Secara semantik kata yang digunakan untuk perempuan mengandung nada degradatif (merendahkan). Pamulihonon berasal dari kata muli. Muli berarti pergi; maka pamulihonon berarti ‘membuat atau menyuruh pergi’. Ada nada negative seolah-olah mengusir. Bahkan ada orang yang melihat bahwa kata pamulihonon adalah bentuk halus dari pabolihonon. Boli = beli, yang dalam bahasa Batak Toba adalah padanan dari tuhor. Maka perempuan dalam tata perkawinan adalah pihak “yang dibuat untuk dibeli”. Maka tidak mengherankan bila orang Batak Toba menyebut pesta perkawinan puterinya, “mangallang ‘tuhor’ ni boru” (memakan uang hasil pembelian anak puteri), yang kerap diperhalus dengan ungkapan ‘mangallang juhut ni boru’ (memakan daging [yang disediakan] puteri).[21]

Konon, pada waktu pesta perkawinan baik si laki-laki maupun si perempuan mengenakan ulos yang disilangkan di depan dan di belakang. Tetapi makna disilangkan itu berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Makna kain ulos yang disilangkan untuk perempuan berarti perempuan “menyalibkan” dirinya kepada suaminya: ‘borua pasilanghon dirina tu tunggane dolina’. Itu berarti si perempuan menyerahkan ketaatan dan kesetiaan kepada suaminya.

Ungkapan lain yang menunjukkan inferioritas perempuan ialah ‘Sipatogu parik ni halak do anggo borua’ (Perempuan hanya memperkukuh benteng orang lain). Menurut budaya Batak Toba manusia berkeluarga adalah untuk memperbanyak marganya. Namun, karena suku Batak Toba menganut sistem patrilineal, maka perempuan tidak berhak untuk itu. “’Patorop sijujung marga’ do umbahen mangoli halak. Baoa i do na marhak di sasude: di tano, di ugasan, hepeng, jabu, pinahan nang ulaon siganup ari. Asa baoa tubu ni ama i do ‘panean di sude arta’. Jala pinda do hak paneanon i tu hahanggi, molo pupur ama i, so manubuhon ‘anakbaoa’”. (Seseorang menikah untuk memperbanyak marga. Laki-laki berhak atas segalanya: tanah, harta, uang, rumah, peliharaan dan pekerjaan. Karena itu laki-laki yang dilahirkan oleh seorang bapalah yang menjadi pewaris dari semua harta. Dan hak pewarisan itu akan beralih kepada saudara-saudaranya, bila seorang bapa mati pupur, tidak melahirkan seorang anak laki-laki).[22]

Berkaitan dengan pewarisan harta orang tua, perempuan tidak berhak. Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan keturunan laki-laki, maka hak waris jatuh ke tangan saudara-saudara yang meninggal itu. Itulah yang terungkap dalam lagu ratap seorang perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki: “Habang siturtu, marpuroto-puroto. Mata tumuluttulut, mida halak na mariboto. Adong do ibotonghu, tubu ni amanguda. Ndang marsalobian sian na marsabutuha. Hansit na so mariboto, ise manorsahon i? I ma sahit sinaoto, mangeruni daging i.” (Burung siturtu terbang, meliukliuk. Mata menjadi iri melihat orang yang mempunyai saudara. Memang ada saudaraku, anak bapa udaku. Tetapi ini tidak lebih dari bersaudara. Betapa sakit tidak mempunyai saudara, siapa gerangan bisa mengisahkannya. Itulah penyakit yang paling menderitakan, yang menghancurkan tubuh). Ratapan perempuan yang tidak mempunyai saudara semakin dipertegas dengan ungkapan berikut: ‘Pangeoleolmi solu, solu na di tonga tao. Molo matipul holemi solu, maup tudia nama ho. Pangeoleolmi boru, boru na so mariboto. Molo mate amanta i boru, maup tudia nama ho.’ (Lenggak-lenggokmu wahai perahu, perahu di tengah danau. Kalau dayungmu patah, kemanakah gerangan dikau. Lenggak-lenggokmu wahai puteri, puteri yang tidak mempunyai saudara. Kalau bapamu mati, bagaimanakah nasibmu). Ratapan ini menunjukkan betapa fundamentalnya keberadaan saudara laki-laki bagi seorang anak perempuan bagi orang Batak Toba.[23]

Catatan lain yang menunjukkan status wanita dalam tata perkawinan adalah ungkapan dan sapaan yang dialamatkan kepadanya. Ada ungkapan yang bernada hormat untuk isteri, yakni “parsonduk bolon” (pelayan agung). Namun, bila diteliti dengan cermat baru akan terasa bahwa dalam ungkapan itu terkandung suatu sense inferioritas untuk wanita. Dalam ungkapan ‘parsonduk bolon’ terkandung rasa kehormatan sekaligus ide hamba, pelayan. Isteri adalah orang yang menyendok nasi dan melayankan makanan (parsonduk) kepada suaminya. Dia adalah “pelayan” suaminya.

Ungkapan lainnya adalah ‘partalga’, partalagaanku. Talaga adalah bagian tempat duduk di rumah di mana para pelayan (parhobas) duduk agar gampang melayani. Tempat orang terhormat ada di halangulu, karena itulah suami kerap disebut ‘parhalangulu’.

Boru sebagai salah satu elemen Dalihan Na Tolu mempunyai peran yang penting dan sentral. Boru menjadi tulang punggung acara adat, sebagai parhobas (pelayan). Dia juga berfungsi sebagai pendamai bila ada konflik. Dalam setiap acara adat kepada boru juga diberi tanggung jawab untuk menanggung kerugian (ikut serta menanggung kerugian). Boru akan rela melakukan apa saja untuk hulahula demi kelancaran pesta yang diadakan oleh hulahula. Bahkan ia tidak akan segan-segan berhutang kepada siapa saja demi kebaikan hulahula.

Maka tidak berlebihan, bila tadi dikatakan bahwa peran boru sangat sentral dalam setiap acara adat. Mereka harus dibujuk (elek marboru), disayangi, dihargai dengan cara memberi ulos atau jambar. Setiap orang akan berusaha agar boru-nya tidak sakit hati atau kecewa, karena dengan demikian boru akan berusaha semaksimal mungkin untuk melayani (manghobasi) hulahulanya.[24]

 

  1. Posisi Perempuan dalam Perceraian Perkawinan[25]

Bila dalam suatu perkawinan terjadi kekurangcocokan, pertengkaran atau segala hal lain yang mengarahkan ikatan perkawinan putus, maka kata akhir dari pemutusan ikatan itu selalu berada di tangan pihak laki-laki. Perempuan tidak mempunyai hak untuk itu. Karena tuhor dan sinamot telah dibayar pihak si laki-laki kepada perempuan, maka si perempuan adalah “harta”, “milik” si laki-laki.

Kalau si laki-laki menceraikan isterinya atas inisiatifnya, maka dia tidak berhak mendapat bayaran kembali tuhor dan sinamot  yang sudah dia berikan kepada keluarga si perempuan. Tetapi bila si perempuanlah yang pergi meninggalkan si laki-laki dan dengan demikian terjadi perceraian, maka keluarganya harus memulangkan kembali tuhor dan sinamot yang sebelumnya dia terima, dan seluruh biaya pesta pernikahan yang dahulu. Nasib perempuan yang seperti itu, konon, akan berakhir di tempat pasungan, ‘dibeanghon’ (dipasung).

 

 BAB IV

IDEALISME RELASI-PERSEKUTUAN SUAMI DAN ISTERI DALAM TERANG PERKAWINAN KATOLIK: KELUHURAN MARTABAT PRIA DAN WANITA

 

  1. Pria dan Wanita sebagai Citra Allah yang Saling Melengkapi

1.1. Martabat Manusia sebagai Citra Allah

Karena diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi; ia bukan hanya sesuatu (“obyek”) melainkan seorang (“subyek”). Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain.[26]

Dalam Kitab Kejadian terdapat dua macam cerita tentang penciptaan: Kej 1:1-2:4a dan Kej 2:4b-25. Suatu informasi penting dalam kisah yang pertama menunjuk langsung secara tegas dasar bagi pemahaman kita akan tubuh manusia. Kita membaca di sana bahwa Allah bersabda: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita …” (Kej 1:26a), “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; lelaki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27).[27]

Pria dan wanita diciptakan, artinya dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. “Kepriaan” dan “Kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki oleh Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya. Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama “menurut citra Allah”. Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.[28] Melihat kisah penciptaan itu, kita dapat “masuk” ke dalam pikiran Allah bahwa sedari awal Allah memiliki maksud tertentu yang sangat jelas dalam menciptakan manusia. Ia menciptakan manusia dengan tubuhnya, sebagai tubuh lelaki dan tubuh perempuan.[29] Artinya, menekankan pada lelaki saja, atau menekankan pada perempuan saja membuat pemahaman kita akan manusia sebagai gambar dan rupa Allah akan menjadi pincang dan tidak utuh.[30]

Sepeti ditekankan tadi, martabat pribadi manusia berakar dalam kodratnya sebagai citra Allah. Semakin manusia bersatu, bahkan melebur dalam Allah, semakin ia “berpribadi”,  “khas” dan “unik”. Pemahaman kepribadian manusia berkaitan erat dengan pengertian Allah sebagai pribadi.[31]

Setiap manusia diciptakan dan dipanggil selain untuk melanjutkan karya penciptaan di dunia juga untuk berhubungan secara pribadi dengan Allah. Martabat pribadi sangat penting untuk mengerti dan memahami martabat manusia secara umum. Dengan menyebut manusia sebagai pribadi di dalammya terkandung beberapa dimensi yang penting. Dimensi pertama ialah bahwa sifat manusia sebagai pribadi mencakup segi kodrati dengan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya yang tidak tergantung dari kedudukannya dan harus diterima, misalnya tubuh, jenis kelamin, ras, budaya, dan kesehatan. Menerima kodrat berarti menyadari tugas dan mengembangkan dirinya secara khas dan bebas. Dimensi kedua, yakni martabat pribadi manusia ini tidak dapat diganggu-gugat; sebab martabat pribadi tidak tergantung dari fungsi, prestasi, atau peran dalam masyarakat. Martabat perbadi melebihi segala bentuk nilai, lembaga, proses ekonomi. Manusia tidak boleh digunakan hanya sebagai sarana, alat demi pencapaian tujuan tertentu. Hidup manusia tidak dapat direduksikan menjadi hal-hal  objek saja.[32]

 

1.2. Pria dan Wanita Saling Melengkapi Satu terhadap yang lain

Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Sabda Allah menegaskan itu bagi kita melalui berbagai tempat dalam Kitab Suci (bdk. Kej 2:18; Kej 2:19-20; Kej 2:23). Pria menemukan wanita sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia.[33]

Menarik mencermati bahan dalam proses penciptaan manusia oleh Tuhan. Dalam Kej 2:7 dikatakan bahwa bahan yang digunakan adalah “debu tanah”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah ādamāh. Lalu dari bahan dasar ādamāh itu Tuhan Allah membentuk manusia. Ada permainan kata: Tuhan menggunakan ādamāh (debu tanah) untuk membentuk ādām (manusia). Selanjutnya, sekumpulan “debu tanah” yang telah dibentuk menjadi sebuah “tubuh manusia” dengan segala bagiannya itu dijadikan hidup. Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam “tubuh manusia”. Namun, kemudian Tuhan sadar akan satu hal penting: manusia itu (ādām) membutuhkan penolong yang sepadan.

Kemudian dikisahkan bahwa Tuhan juga menggunakan bahan dasar tanah (ādamāh) untuk menciptakan makhluk-makhluk lain.: binatang hutan, burung, dan ternak. Namun, Tuhan tidak menghembuskan nafas hidup kepada mereka. Dan dari antara makhluk itu, tak satu pun yang dikenali oleh manusia itu sebagai penolong yang sepadan dengan dirinya.[34] Makhluk-makhluk itu ada dengan tubuh saja tanpa ada sedikit bagian pun dari mereka yang bisa mencerminkan sebuah pribadi. Sementara manusia ada dengan tubuh yang mencerminkan pribadi.[35]

Ide lain yang bisa kita petik dari kisah tadi adalah bahwa napas hidup yang diberikan oleh Tuhan itu, sekali diberikan kepada sebuah tubuh, tetap akan memiliki kekuatan yang sama untuk diteruskan kepada sebuah tubuh yang lain. Akibatnya jelas, satu bagian kecil pun, satu tulang rusuk, sudah memiliki di dalamnya kekuatan daya hidup ilahi itu. Dan, pada akhirnya manusia itu (ādām) melihat dirinya sendiri dalam bentuk tubuh yang lain, “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2:23a).[36]

Pria dan wanita diciptakan “satu untuk yang lain”, bukan seakan-akan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi “penolong” satu untuk yang lain. Hal itu mungkin karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (“tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya.[37]

Oleh karena itu, manusia itu (ādām) tidak pernah menyebut dirinya sendiri sebagai ādām. Setelah ia mengenali dirinya sendiri dalam bentuk kehadiran tubuh yang lain yang bisa mencerminkan pribadi, ia menyebut dirinya sendiri sebagai lelaki (îsh). Tubuh yang lain yang menjadi penolong yang sepadan dengannya itu disebutnya sebagai perempuan karena diambil dari lelaki; disebut sebagai ishshāh karena diambil dari îsh. Dan, îsh akan bersatu dengan ishshāh. Hal ini bisa dipahami: “lelaki akan bersatu dengan perempuannya”. Persatuan lelaki dan perempuan adalah persatuan kembali îsh dengan ishshāh, karena ishshāh pada awalnya diambil dari îsh. Mereka bersatu kembali dalam “satu daging”.[38]

 

1.3. Pria dan wanita Bekerja Sama dengan “Misi” Sang Pencipta

Panggilan dasariah manusia ialah untuk tetap bergerak dari alam dan kemudian mengungkapkan rahasia-rahasianya dengan suatu tugas pokok yaitu menggali sumber sumber yang ada di alam dan memanfaatkannya secara bertanggungjawab. Dengan demikian manusia menyambung dan melanjutkan tindakan ilahi untuk menuntaskan penciptaan secara menyeluruh. Untuk itu kiranya segenap umat manusia sependapat bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini harus diserahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncak segala ciptaan.[39]

Berkaitan dengan ini, Sang Pencipta memberikan tugas khusus kepada manusia diantara segala mahluk hidup. Manusia diciptakan menurut citra dan gambar-Nya ( Kej 1: 26). Manusia yang ditempatkan sebagai citra Allah dalam alam semesta menunjuk pada kedudukan serta tugas khusus dalam alam ciptaan. Hal ini bukan merupakan sesuatu yang terjadi secara kebetulan karena  tentang manusia dikatakan dengan jelas bahwa ia diciptakan menurut citra dan gambar-Nya, yang berarti manusia serupa dengan Sang Pencipta.[40]

Manusia diciptakan dan dipanggil untuk mengembangkan potensi yang tertanam di dalam dunia ciptaan ini sesuai dengan hukum yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Suatu fakta bahwa pada jaman modern ini di satu sisi  banyak segi kehidupan manusia maju pesat, tetapi di sisi lain mengalami ketercemaran yang menyangkut kemerosotan nilai dan martabat hidup manusia. Kenyataan ini berakibat buruk bagi hidup manusia. Berbagai macam serangan terhadap hidup manusia dalam dunia dewasa ini akan datang secara perlahan  dan pasti jika manusia tidak mengerti dan menghayati dengan sungguh hakekat dan martabat manusia sebagai citra  dan gambar Allah.[41]

 

  1. Perkawinan Pria dan Wanita Membentuk Ikatan Relasi Suami – Isteri

2.1. Perkawinan sebagai Sebuah Institusi dan Diadakan oleh Allah

Perkawinan adalah institusi sosial yang dibangun oleh seorang pria dan seorang wanita menurut keputusan mereka untuk hidup sebagai suami-istri dalam rumah tangga dengan janji yang sah, upacara keagamaan dan sipil.[42] Berdasarkan undang-undang perkawinan Republik Indonesia no. 1 tahun 1974 ditegaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa.[43]

Perkawinan sebagai persekutuan yang sangat erat antara seorang pria dengan seorang wanita diberkati oleh Allah dan diberi tugas bersama oleh-Nya.Tugas itu ialah supaya mereka saling mengasihi sama seperti Kristus dan Gereja-Nya juga saling mengasihi. Perkawinan merupakan suatu perjanjian antara suami-istri dengan melibatkan Allah sebagai saksi. Perkawinan sebagai suatu perjanjian merupakan lembaga hukum yang nampak pada unsur manusiawi yakni persetujuan bebas dari kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengadakan perjanjian perkawinan terikat pada hukum-hukum dan ciri ciri perkawinan. Keputusan bersama berdasarkan kehendak bebas untuk membentuk ikatan yang memuat ketetapan Tuhan, bersifat suci dan tidak terhapuskan. Lembaga yang berwenang mempunyai hak dan kewajiban untuk menghalangi dan menghukum bentuk-bentuk perkawinan yang bertentangan dengan akal dan kodrat.[44] Begitulah perkawinan dibangun oleh Allah dan manusia. Allah menciptakan lembaga hukum, tujuan dan ciri-ciri perkawinan dan manusia mengawali terbentuknya dengan persetujuan kehendak bebasnya.

 

2.2 Perkawinan sebagai Manifestasi Cinta Allah

Allah hadir dan mencintai umat-Nya nyata secara khusus dalam sakramen perkawinan. Allah memperkenalkan cinta kasih-Nya bukan melalui barang-barang dan benda-benda mati, melainkan melalui hidup manusia sendiri. Allah menggunakan hidup manusia sebagai perwujudan cinta kasih-Nya lewat sakramen perkawinan. Allah menetapkan pria untuk menjadi tanda cinta-Nya bagi wanita dan mengangkat hidup wanita untuk menjadi tanda cinta-Nya bagi pria. Dalam perkawinan Allah menggunakan pria dan wanita menjadi “alat”-Nya untuk menyalurkan cinta kasih Nya. Pasangan sebagai alat cinta-Nya baik pria maupun wanita harus taat kepada Allah. Hidup pria harus menampakkan  (memanifestasikan) cinta kasih dan kebaikan Allah  kepada pasangannya dan sebaliknya  hidup wanita juga harus menampakkan kebaikan Allah kepada pria.[45]

Perkawinan sebagai sakramen hanya bisa dihayati dalam iman, dan dengan penghayatan ini suami-istri akan merasakan dan mengalami pasangannya bukan, hanya sebagai teman hidup melainkan juga tanda kehadiran Allah secara konkrit. Di dalam iman istri melihat suami sebagai karunia Allah yang akan mengangkat hidupnya kepada kebahagiaan; demikian suami yang beriman akan mencintai dan mengasihi istrinya sebagai teman hidup yang  sepadan sebagai karunia Allah paling istimewa bagi dirinya.[46]

 

2.3 Ide Persekutuan Suami-Istri dalam suatu Perkawinan

Perkawinan dipahami sebagai suatu persekutuan dari orang-orang yang sederajat. Persekutuan orang-orang yang sederajat itu dihayati dengan cara baru dalam semangat yang akrab dan cinta kasih Kristus.[47] Persekutuan itu merupakan persekutuan seluruh hidup yang dibangun atas dasar cinta kasih dan diteguhkan dengan perjanjian. Perjanjian perkawinan menyatukan dua pribadi yang berbeda. Dua pribadi yang berbeda bersama-sama berusaha untuk semakin bersatu dalam suasana hati yang sama, saling menguduskan dalam suasana suka maupun duka atas dasar cinta kasih Kristus.[48]

Suami-istri memiliki hak dan kewajiban yang sama berkaitan dengan persekutuan hidup perkawinan. Hal ini berarti bahwa seluruh hidup menyangkut dimensi waktu yaitu seumur hidup dan dimensi personal yaitu unsur kehidupan pribadi suami-istri. Dari perkawinan yang sah itu lahirlah ikatan suami-istri yang dari kodratnya bersifat tetap, eksklusif, monogami dan tidak terceraikan.[49]

Keluarga yang didasarkan pada cinta-kasih serta dihidupkan olehnya merupakan persekutuan pribadi-pribadi suami dan istri, orangtua, anak-anak, dan sanak-saudara. Tugas utamanya yakni dengan setia menghayati kenyataan persekutuan dan usaha terus menerus untuk mengembangkan keharmonisan yang otentik antara pribadi-pribadi yang ada. Cinta-kasih suami-istri sebagai asas yang terdalam bagi keluarga untuk dapat hidup, berkembang atau menyempurnakan diri sebagai persekutuan pribadi-pribadi di dalam perkawinan. Suami-istri dalam hidup perkawinannya dihidupkan dan ditopang oleh Cinta kasih yang menghantar mereka kepada persekutuan yang mendalam dan menjiwai  kerukunan perkawinan mereka.[50]

  1. Sifat dan Tujuan perkawinan Katolik

3.1 Sifat Perkawinan Katolik

Ajaran resmi Gereja menegaskan bahwa perkawinan bersifat monogam dan tidak terceraikan atas dasar tuntutan hukum ilahi positif (Wahyu dan Kitab Suci). Perkawinan yang sah dan halal serta telah disempurnakan dengan persetubuhan (ratum et comsummatum) tidak mungkin diceraikan baik melalui suatu hukum perceraian maupun campur tangan siapa pun.[51] Dalam perkawinan sakramental, pria dan wanita menerima satu pendasaran dan dukungan bahwa sakramen mengadakan suatu kapasitas dan kewajiban bagi mereka untuk menerima dan mempertahankan sifat monogami dan tidak terceraikan  dari perkawinan. Monogami dan tidak terceraikan bukanlah syarat ekstrinsik yang dapat dibuat menjadi penyempurnaan atau pemuas keinginan, melainkan sebagai sifat esensial dari perkawinan sakramental.[52]

 

3.1.1 Monogami

Monogami dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sistem perkawinan yang memperbolehkan seorang laki-laki hanya mempunyai satu istri pada jangka waktu tertentu.[53] Monogami menurut Gereja Katolik berarti perkawinan yang hanya terjadi antara seorang pria dan wanita.[54] Dalam perkawinan suami-istri dipanggil untuk bertumbuh dalam persekutuan melalui kesetiaan terhadap janji perkawinan untuk saling menyerahkan diri seutuhnya. Berdasarkan perjanjian perkawinan tersebut, pria dan wanita “ bukan lagi dua, melainkan satu daging” (Mat 19:6; bdk. Kej 2: 24).[55]

 

3.1.2 Tak Terceraikan (Indissolubilitas)

Gereja Katolik secara tegas menolak pendapat yang secara implisit maupun eksplisit menyatakan bahwa ikatan perkawinan yang sah dan sudah disempurnakan dengan hubungan sanggama dapat diceraikan. Alasanya ialah karena Allah sendiri yang merestui dan mengesahkan ikatan perkawinan tersebut. Perkawinan yang dikukuhkan dengan sakramen membentuk ikatan kesatuan baru, yang tidak dapat diceraikan. [56]

Ikatan perkawinan kristiani bersifat tidak terceraikan artinya tetap, untuk selamanya, seumur hidup. Gereja memperkukuh sifat tidak terceraikanya perkawinan dengan menandaskan bahwa perjanjian perkawinan yang diikrarkan oleh kedua mempelai untuk membentuk perkawinan merupakan dasar dari perkawinan. Perkawinan kristiani  yakni sekali dilangsungkan secara sah tidak dapat dibatalkan atau ditarik kembali.[57]

 

3.2 Tujuan Perkawinan Katolik

Gereja meyakini dan mengajarkan bahwa perkawinan baik sebagai sakramen maupun sebagai persekutuan memiliki tujuan yang ditentukan oleh kodrat perkawinan itu sendiri. Tujuan perkawinan yang dimaksud adalah hal-hal atau nilai yang hendak dicapai oleh orang yang hendak melaksanakan perkawinan tersebut. Nilai-nilai itulah yang menjadi motivasi untuk memilih hidup berkeluarga.[58]

Kitab Hukum Kanonik 1983 dalam salah satu kanonnya berbicara tentang tujuan perkawinan. Kanon merumuskan bahwa “dengan perjanjian perkawinan pria dan wanita membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah kepada kesejahteraan suami-istri serta kepada kelahiran anak. […].[59] Dari Kitab Hukum Kanonik 1983 tersebut tampak dengan jelas bahwa tujuan perkawinan itu ada dua yakni kesejahteraan suami-istri  (Bonum Coniugum) dan kelahiran serta pendidikan anak (bonum Prolis). Tujuan perkawinan tersebut ditentukan oleh kodrat dari perkawinan itu sendiri dan kehendak bebas dari kedua mempelai yang mengadakan janji perkawinan. Namun perlu ditambahkan bahwa kedua tujuan perkawinan tersebut bersifat integral (menyatu) dan komplementer (saling melengkapi).[60]

 

3.2.1 Kesejahteraan Suami-Istri

Prokreasi dalam hidup perkawinan dianggap sebagai tugas luhur, namun prokreasi bukanlah tujuan tunggal dari perkawinan. Dalam Konsili Vatikan II ditunjukkan bahwa hubungan suami-istri mempunyai nilai yang tidak hanya berkaitan dengan prokreasi. Hubungan sanggama secara mesra dan murni menyatukan suami-istri secara luhur dan terhormat. Tindakan ini menjadi tanda penyerahan diri timbal balik antara suami-istri dan cara saling memperkaya dengan hati gembira dan rasa syukur.[61]

Tujuan perkawinan selain prokreasi juga untuk saling mengisi dan mendukung dalam cinta antara suami-istri yang didasarkan pada ikatan mesra dan kerja sama antara keduanya. Tujuan ini ditegaskan oleh kisah penciptaan  dalam kitab kejadian ”tidak baik kalau seorang manusia seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya seorang penolong yang sepadan dengan dia” (Kej 2: 18). Manusia menanggapinya “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2: 23 24). Ungkapan di atas secara konkrit dan hidup menekankan moral untuk saling mengisi  antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil perkawinan.[62] Saling membantu dan mengisi yang dilakukan suami-istri bukan hanya dalam suasana kegembiraan dan kebahagiaan, melainkan juga dalam suasana penderitan dan sakit. Keadaan ini menganalogikan perkawinan dengan cinta antara Kristus dengan Gereja-Nya, apabila sedikit dari cinta yang diajarkan oleh Kristus terpancar di dalam keluarga dan diwujudnyatakan: Cinta lebih dari cinta diri adalah cinta yang memberikan tempat pada salib. Itulah perkawinan di dalam Tuhan.[63]

 

3.2.2 Kelahiran dan Pendidikan Anak

Kitab Suci memuat tujuan hakiki perkawinan adalah meneruskan hidup bangsa manusia. Hal ini diperlihatkan dengan jelas melalui pernyataan: ”beranak-cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1: 28). Perikop ini hendak menyatakan bahwa perkawinan bukan semata-mata sebagai ungkapan saling cinta antara suami-istri, tetapi juga suatu anugerah dengan kemampuan untuk memberikan hadiah besar yakni hidup kepada manusia baru yang merupakan cerminan hidup cinta kasih mereka.[64]

Paus Yohanes Paulus II menambahkan lebih lanjut bahwa suami-istri, selain mendapat tugas untuk menghadirkan ciptaan baru di dunia, juga berperan sebagai pendidik utama anak. Tugas ini berakar pada panggilan utama suami-istri untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Dengan membangkitkan cinta kasih seorang pribadi dalam dirinya mengemban panggilan untuk bertumbuh dan mengembangkan diri, orangtua bertugas mendampinginya secara efektif untuk menghayati hidup manusiawi seutuhnya. Karena itu orangtua memiliki kewajiban untuk menciptakan lingkup keluarga yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama, serta menjunjung keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak.[65]

 

BAB V

PENUTUP:

 KESIMPULAN DAN UPAYA/TINDAKAN PASTORAL

 

  1. Kesimpulan

Sebagai kesimpulan baiklah diberi suatu pernyataan bahwa pada prinsipnya status dan kedudukan perempuan tergolong inferior bila dibandingkan dengan lelaki dalam budaya Batak Toba. Namun, karena kemajuan pemikiran modern dan pengaruh kekristenan (Teologi Katolik secara khusus) perempuan dalam budaya Batak Toba dapat hidup semartabat dengan kaum laki-laki dalam beberapa bidang kehidupan. Fakta memang memperlihatkan bahwa dalam beberapa segi kehidupan laki-laki masih merupakan pemegang kendali hidup berkeluarga. Artinya, manusia Batak Toba secara kolektif mewarisi paham atau mentalitas itu dari keseluruhan pemikiran dan tata tingkah laku yang diturunkan oleh budaya itu sendiri. Namun, dalam lingkup Gereja (misalnya periodisasi pengurus Gereja), sebagaimana telah kita lihat dari hasil angket, perempuan masih lebih dipercayai menjadi pemimpin/jabatan pelayanan. Inferioritas perempuan lebih cenderung tampak dalam bidang struktur kebudayaan dan adat-istiadat. Hal ini menunjukkan bahwa teologi agama yang mengusung cita-cita peluhuran martabat manusia sangat signifikan ambil peranan dalam menerangi “pola pikir” budaya Batak Toba itu.

 

  1. Tindakan Pastoral
  2. Menelisik Makna Sejati “Boru” dalam Budaya Batak Toba – Status Paradoksal

            Kendati dalam hak berbicara di forum umum kaum perempuan tidak menonjol, tidak benar bahwa kaum perempuan tidak didengarkan dalam masyarakat Batak Toba. Fungsi shaman, sibaso (“sejenis dukun”)  – yang hampir semuanya adalah wanita – adalah orang terhormat. Nasihat dan perkataannya tidak boleh diabaikan begitu saja.

Memang, perempuan dalam budaya Batak Toba disapa na tinuhor, na nialap (yang dibeli, yang diambil), dan partalaga, namun ada juga padanan sapaan dan panggilan untuk mereka, “tuan boru”, “inanta soripada” (tuan puteri, ibu seripaduka). Sapaan ini sungguh memperlihatkan hormat dan posisi yang diperhitungkan dalam masyarakat Batak Toba.[66]

Secara teoritis pula berhadapan dengan kenyataan kemungkinan perkawinan poligami, tampaknya perempuan tidak berdaya. Namun, tidak demikianlah yang terjadi. “Marimbang” adalah ungkapan boru orang Batak yang dimadu suaminya. Kata itu mengandung makna negative “maralo” (berlawanan, bermusuhan). Inilah determinasi boru Batak Toba untuk perkawinan monogami.[67]

 

  1. 2. Mendesaknya Pastoral Keluarga – demi Kebahagiaan Sejati Keluarga Kristiani

Sebagaimana benda ’terbakar’ adalah bukti bahwa api menunjukkan fungsinya, demikian pula ’kebahagiaan’ adalah realitas ketika manusia menunjukkan wujud kehidupannya. Ketika manusia tidak bahagia, ia sebenarnya mengalami penyimpangan.

Kebahagiaan tampil dalam beberapa wajah. Orang yang berbahagia adalah orang yang punya kepercayaan diri; bukan kepercayaan diri yang egois, melainkan kepercayaan diri yang disertai dengan kepekaan dan mudah tergerak pada penderitaan orang lain. Ia tidak hanya ditandai ketika orang mampu tertawa ceria bebas, tetapi juga ditandai dengan kemampuan untuk menanggung penderitaan, jika ini menjadi konsekuensi dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

Orang yang berbahagia adalah orang yang memiliki api ’mimpi’; ia memiliki keinginan mulia yang membuat dia terus gelisah dan bergairah dalam hidup untuk mewujudkan mimpi tersebut. Orang yang berbahagia bukan hanya hidup untuk ’masa depan’, melainkan juga adalah orang yang memperhatikan hidup ’sekarang dan di sini’. Ia tetap peka terhadap lingkungan dan peristiwa yang ada di depan mata.

Berbicara tentang pastoral keluarga, pada prinsipnya berbicara tentang bagaimana membuat keluarga bahagia. Ia mengandung unsur ’upaya’. Dengan demikian, terdengar kontradiksi. Apakah bahagia bisa diupayakan? Apakah ia bisa dicapai lewat latihan, kursus atau manajemen? Bukankah kebahagiaan akan semakin menjauh ketika kita lelah mengejar-ngejar hal ini?

Pastoral adalah penggembalaan. Penggembalaan itu berbeda dengan ’peternakan’. Penggembalaan itu berlawanan dengan – atau setidaknya – koreksi atas peternakan. Yang terakhir sebenarnya mirip penjara. Yaitu bentuk sistematisasi atau pendisiplinan ketika kambing atau ayam kita jadikan sarana untuk berbisnis mencari keuntungan. Binatang dimasukkan ke kandang yang sempit supaya kalori tidak terbuang sia-sia, sebaliknya dirombak menjadi daging atau telur. Tugas binatang dalam kandang hanya makan dan istirahat, serta berproduksi. Penggembalaan tentu memiliki maksud dan tujuan yang tidak jauh berbeda. Tetapi dalam penggembalaan, kambing dibiarkan bebas mencari makanan sendiri tanpa pengawasan yang ketat.

Kebahagiaan kerap dianggap sebagai perasaan yang susah ditebak bentuk dan wujudnya. Kebahagiaan keluarga menjadi lebih sulit lagi, mengingat di dalamnya merupakan proses menyatukan beberapa pribadi dengan beberapa karakter yang berbeda-beda pula. Dengan demikian, sistem pastoral menjadi sistem yang lebih pas untuk menggali kebahagiaan keluarga. Kita harus memberikan kebebasan orang-orang di dalamnya secara cukup untuk menemukan sendiri ’rumput dan makanan’ yang paling cocok. Pengarahan diberikan secukupnya sebagai kondisi agar mereka menemukan apa yang paling membahagiakan untuk diri mereka sendiri.

Bagaimana membuat keluarga menjadi ’gayeng’, banyak canda dan akrab tentu penting. Keluarga tentu akan menjadi segar ketika spontanitas diberi ruang. Tetapi dalam hidup nyata, kejadian gembira dan kecewa, kabar suka dan duka, kerap datang menyerupai petir atau halilintar yang datang menggelegar pada waktu yang tidak kita sangka. Keluarga harus siap akan hal ini. Terutama adalah ketika penderitaan dan kesulitan mendatangi sebuah keluarga. Daya tahan menghadapi kesulitan ini adalah keutamaan penting. Keluarga yang berbahagia adalah keluarga yang mampu mengolah pengalaman ini. Daya tahan semacam ini tidak mungkin dimiliki kalau segala sesuatu dicekoki. Ia harus melewati sebuah proses pencarian terus-menerus.

Tantangan riil yang dihadapi Gereja ternyata lebih kompleks dari sekadar metafora ’penggembalaan’ dan ’peternakan’ di atas. Kambing berkembang menjadi semakin banyak, pengelolaan secara tradisional menjadi semakin sulit. Mereka juga memiliki karakter yang bervariasi. Di tengah-tengah kambing juga muncul serigala dan binatang buas lain yang siap melahap kambing ini. Dalam situasi tersebut, pendisiplinan, aturan main, dan hukum – sangat wajar – dibakukan. Tetap harus kita sadari, keluarga Katolik tidak akan menjadi Gereja Kecil yang kokoh di tengah kesulitan dan gelombang keras, jika hanya dididik lewat hukum, peraturan dan disiplin.[68]

  1. Perlunya Perhatian Khusus dari Pastor Paroki terhadap Umat di Parokinya[69]

3.1. Tugas Pokok Pastoral Perkawinan dari Pastor Paroki

Pastoral perkawinan memiliki masalah yang rumit dan kompleks seiring dengan masalah keluarga dewasa ini, karena rumit dan kompleksnya maka perlu mendapat perhatian serius dari Pastor Paroki. Kendati rumit, keluarga adalah bagian penting yang merupakan dasar terbentuknya Gereja dan Masyarakat. Jika keluarga (Gereja kecil – rumah tangga) kristiani sehat dan baik maka Gereja dan Masyarakat besar akan menjadi baik pula.

Demikian juga ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI dalam pesannya pada hari perdamaian dunia, tgl. 1 Januari 2008: “Kehidupan keluarga yang sehat melahirkan pengalaman-pengalaman fundamental bagi perdamaian: keadilan dan cinta kasih di antara sesama saudara, fungsi otoritas yang tergambar dari orang tua, pelayanan yang penuh cinta kepada anggota yang lebih lemah, yaitu orang-orang yang kecil, sakit dan tua, kesediaan untuk menerima yang lain. Untuk itu keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama dan tidak tergantikan”. Keluarga alami, di mana ada kesatuan hidup dan cinta, yang didasarkan atas perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, membangun tempat pertama dalam “pemanusiaan” manusia dan masyarakat, tempat lahirnya kehidupan dan cinta kasih. Oleh karena itu, keluarga dikualifikasikan sebagai masyarakat alami yang pertama. Sebuah institusi Ilahi yang merupakan dasar dari hidup manusia, sebagai prototipe dari setiap norma sosial”.

Dalam Pastoral Perkawinan Pastor Paroki, dalam konteks Gereja lokal, adalah Pemimpin (leader) dari umat beriman kristiani yang reksa pastoralnya (tugas kegembalaan/kepemimpinan) diserahkan oleh Uskup Diosesan kepada seorang imam yang layak dan pantas untuk memimpin, mengajar, menguduskan dengan kuasa kewenangan yang diberikan kepadanya atas umat beriman yang berdomisili di wilayah teritorial tertentu di dalam keuskupan.[70]

Dalam Pastoral perkawinan Pastor Paroki wajib mengusahakan agar keluarga kristiani berkembang dalam kesempurnaan. Pendampingan dan pembinaan keluarga kristiani meliputi: (1) menyiapkan calon penganten dengan kotbah, katekese yang disesuaikan bagi anak-anak dan orang muda dan dewasa, (2) memberi kursus persiapan perkawinan bagi calon yang hendak menikah, (3) meneguhkan perkawinan dengan perayaan liturgi yang membawa hasil yang memancarkan kasih suami-isteri dan mengambil bagian dalam misteri kesatuan cinta kasih yang subur antara Kristus dan Gereja-Nya, (4) memberi pendampingan dan pembinaan keluarga kristiani (bina lanjut keluarga kristiani) melalui katekese, khotbah dan rekoleksi-retret keluarga, agar keluarga yang telah diteguhkan setia dan mampu memelihara perjanjian perkawinan itu sampai pada penghayatan hidup keluarga yang semakin suci dan utuh, (5) Dan, yang tidak kalah penting adalah pendampingan pastoral hendaknya terus dilanjutkan setelah perkawinan.[71] Inilah tugas pokok pastoral perkawinan dari Pastor Paroki dan  tugas ini merupakan hal esensial yang harus dijalankan oleh Pastor Paroki.[72]

 

3.2. Prinsip utama Pastoral Perkawinan dalam Menghadapi Masalah Perkawinan

Pastor Paroki hendaknya hati-hati dan bijaksana dalam menangani masalah-masalah keluarga/perkawinan. Dalam segala perkara (pertengkaran, ketidakadilan, dll), prinsip pertama dan utama yang harus dipegang Pastor Paroki adalah peradilan formal harus dihindari (trials should be avoided). Proses peradilan formal di Tribunal hanya merupakan upaya terakhir (the last resort), setelah segala upaya pastoral ditempuh. Maka segala sengketa, kasus-kasus perkawinan di dalam Paroki, hendaknya Pastor Paroki mengadakan upaya pastoral dengan berusaha untuk berdamai (rujuk, rekonsiliasi) antara kedua pihak yang bersengketa. Jika masih ada kemungkinan untuk berdamai Pastor Paroki tidak perlu mengabulkan permohonan itu ke Tribunal. Usaha pastoral rekonsiliasi antara pihak yang bertikai, dari keluarga kristiani di wilayah Pastor berkarya merupakan bagian penting dan utama dari Pastoral Perkawinan. Upaya itu dituntut oleh hukum sendiri dalam kanon 1446, 1676 dan 1695.[73]

  1. Keterampilan Gembala Umat untuk Membangun Relasi Dialogis Interpersonal Suami-isteri: dari ‘Practical Thinking’ (Logika Praktis) ke ‘Moral Thinking’ (Paham Moral)[74]

Modernitas yang dihasilkan oleh masyarakat memiliki dua kekuatan yang ambigu. Modernitas menghasilkan nilai-nilai yang baik (the good), dan juga sesuatu yang selalu menjadi masalah. Ilmu pendampingan pastoral telah menjadi suatu disiplin tersendiri, terlepas dari ilmu lain yang sepadan seperti psikologi, agama dan medikal, dan berusaha untuk membantu manusia dalam rupa-rupa pengalaman spiritual, mental dan psikologisnya. Pendampingan pastoral adalah suatu praktek yang kompleks. Layaknya setiap bentuk tindakan, pendampingan pastoral dilakukan melalui tahapan ‘reasoning’ dan ‘decision’ (identifikasi dan pengambilan keputusan). Sebagai suatu praktek yang kompleks, pendampingan pastoral tidak bisa dijalankan melalui kebiasaan-kebiasaan yang telah tertanam dalam budaya dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat modern, demikian pun masyarakat plural, terdapat perbedaan institusional, sehingga tradisi pendampingan yang selama ini diterapkan juga menghadapi berbagai masalah, bergantung pada aspek-aspek sosial di dalam masyarakat itu sendiri.

Di sini setiap pastor dan gembala umat dituntut memiliki keterampilan ‘practical thinking’ (logika praktis). Dalam logika praktis itu, perlu pula ‘moral thinking’; dalam kenyataannya, ‘moral thinking’ itu memiliki karakteristik khusus. Sebab dipercaya ada hubungan antara agama dan moralitas, dengan kata lain, perilaku agama adalah perilaku etika agama.

Walaupun demikian, pendampingan pastoral tidak mesti melepaskan kaitannya dengan psikologi. Berbagai teori psikologi yang selalu bisa dijadikan acuan. Pendampingan pastoral perlu dilihat sebagai suatu proses mendapatkan gambaran identitas dan perilaku individu di mana setiap individu adalah pusat dari tindakan pendampingan pastoral.

Pentinglah bahwa pasangan suami-istri itu hari demi hari mengalami pertumbuhan personalitasnya untuk mencapai tujuan jangka panjang dalam hidup berpasangan atau keluarganya. Ini bukanlah sebuah persoalan teologis etis semata, tetapi juga seksual, dan hubungan interpersonal. Karena itu, sepasang suami istri membangun relasi dengan dirinya, gereja dan juga masyarakat. Pasangan suami-isteri hendaknya didorong untuk membangun apa yang disebut ‘the good’ (kebaikan umum) dalam relasi interpersonal.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Budayapranata, AL.. Membangun Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius,1981.

Cooke, Bernard. Perkawinan Kristen. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Dagun, Save M. Filsafat Eksistensialisme. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.

Dokumen Konsili Vatikan II. Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993.

Eminyan, Maurice. Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

“Etika Pendampingan Pastoral”, dalam http://kutikata.blogspot.com/2008/12/etika-agama-dan-pendampingan-pastoral.html, tanggal 29 Mei 2012.

Fau, Eligius Anselmus F. Persiapan Perkawinan Katolik. Ende: Nusa Indah, 1996.

Gultom Marpodang, D.J. Dalihan Na Tolu: Nilai Budaya Suku Batak. Medan: Armada, 1992.

Hadiwardoyo, AL.  Purwa. Perkawinan Menurut Islam dan Katolik: Implikasinya dalam Kawin Campur. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Hamidly, Basyral – Hotman M. Siahaan. Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan terhadap Perilaku Batak Toba di Angkola-Mandailing. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar, 1987.

Hutagalung, W. Adat taringot tu Ruhut-ruhut ni Pardongan Saripeon di Halak Batak. Jakarta: [tanpa penerbit], 1963.

Katekismus Gereja Katolik. Diterjemahkan berdasarkan Edisi Jerman oleh P. Herman Embuiru. Ende: Nusa Indah, 1995.

Kitab Hukum Kanonik 1983 (Codek Iuris Canonici 1983). Diterjemahkan oleh sekretariat KWI. Jakarta: Obor, 1991.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kasih Setia dalam Suka Duka Pedoman Persiapan Perkawinan di Lingkungan Katolik. Jakarta: Triasco, 1997.

Loeb, Edwin M. Sumatera: Its History and People. Kuala Lumpur: Bangunan Loke Yew, 1972.

Marbun, M.A. – I.M.T. Hutapea. Kamus Budaya Batak Toba. Jakarta: Balai Pustaka:1987.

Paus Yohanes paulus II. Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (Keluarga), (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 30). Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1981.

“Pastoral Keluarga”, dalam http://www.hidupkatolik.com/2011/06/13/pastoral-keluarga, tanggal 29 Mei 2012.

Peschke, Karl-Heinz. Etika Kristiani,  jilid III: kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi. Maumere: Ledalero, 2003.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Ramadhani, Deshi. Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Sihombing, T.M. Jambar Hata: Dongan tu Ulaon Adat. [tanpa kota]: Tulus Jaya, 1989.

Simamora, Serpulus Tano. “Boru ni Raja Hatoban: Tinjauan Filsafat Anthropologis atas Kaum Perempuan di dalam Budaya Batak Toba”, dalam Logos: Jurnal Filsafat – Teologi, vol. 1 no. 1 (Juni 2002), hlm. 1-19.

Simanjuntak, Bungaran Antonius. Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba. Yogyakarta: Jendela, 2002.

Situmorang, Jaulahan. Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon dohot Mula ni Paradaton-Mula ni Marga-Mula ni Umpasa. Pematangsiantar: [tanpa penerbit], 1965

Surat Gembala KWI. Sayangilah Kehidupan: Pedoman Pastoral tentang Menghormati Kehidupan. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan, KWI, 1990.

Snijders, Adelbert. Manusia: Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

“Tanggung Jawab Pastor Paroki dalam hal Perkawinan”, dalam http://katolisitas.org/4888/tanggung-jawab-pastor-paroki-dalam-pastoral-perkawinan, tanggal 29 Mei 2012.

Vergouwen, J. C. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Jakarta: Pustaka Azet, 1985.

[1] Serpulus Tano Simamora, “Boru ni Raja Hatoban: Tinjauan Filsafat Anthropologis atas Kaum Perempuan di dalam Budaya Batak Toba”, dalam Logos: Jurnal Filsafat – Teologi, vol. 1 no. 1 (Juni 2002), hlm. 3.

[2] Serpulus Tano Simamora, “Boru …”, hlm. 4.

[3] Pengalaman eksistensial artinya pengalaman yang dialami oleh manusia sebagai hal yang natural; terberi demikian. Pengalaman lahir, menjadi tua, mati dialami oleh manusia sebagai pengalaman eksistensial. Pengalaman ruang dan waktu itu adalah bagian hidup manusia. Eksistensial berasal dari kata eksistensi yang secara etimologis berakar pada dua kata Latin: ex (keluar) dan sistentia (sistere = berdiri). Kata “eksistensi” dikhususkan untuk cara berada manusia yang khas. Manusia bukan obyek, ia adalah subyek yang mampu menentukan dirinya (self determination). Eksistensi tidak dapat disamakan dengan berada. Pohon, anjing dan segala yang lain pun ada, tetapi tidak bereksistensi. [Lihat Adelbert Snijders, Manusia: Paradoks dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 25; bdk. Save M. Dagun, Filsafat Eksistensialisme (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 19.]

[4] Simamora, Serpulus Tano, “Boru …”, hlm. 2, 14.

[5] Secara harafiah Dalihan na tolu berarti “tungku yang tiga”. Dahulu tungku terdiri dari tiga buah batu di atas mana orang menempatkan sarana untuk memasak. Dari situlah tiga sistem kekerabatan orang Batak Toba dirumuskan. Hulahula adalah pihak marga dari mana suatu marga menikahi perempuan sebagai isteri. Dongan tubu adalah pihak yang tergolong saudara-saudara (semarga). Sedangkan boru adalah pihak marga kepada mana puteri dinikahkan. [Lihat Simamora, Serpulus Tano, “Boru …”, hlm. 8]. Hal ini masih akan kita lihat pada bab berikutnya.

[6] tentang paradoks akan diuraikan secara tersendiri dalam bab selanjutnya.

[7] Jumlah responden ada 50 orang (20 laki-laki dan 30 perempuan). Usia responden bervariasi, namun mereka semua sudah berkeluarga. Daerah tempat tinggal responden: Aekkanopan, Paroki Jl. Medan, Stasi Sibaganding – Paroki St. Josep Jl Bali, Kisaran, dan Stasi Pulian Baru – Kuasi Paroki Raya.

[8] Boru adalah golongan atau pihak penerima isteri. Kelompok boru terdiri dari: a. puteri atau anak perempuan, b. hela (menantu pria), c. kakak atau adik, d. suami dari kakak atau adik dan keturunannya, e. saudari ayah, f. suami dari saudari ayah dan keturunannya, g. ayah dan ibu dari saudara-saudara b,d,f,g. Kedudukan boru  adalah sebagai parhobas (pelayan) dalam setiap kegiatan. Hal itu terungkap dalam umpasa berikut ini: siporsan na dokdok, sialap na dao, na so mabiar di ari golap, siboan indahan na so ra bari, siboan tuak na so ansom. [Lihat M.A. Marbun, I.M.T. Hutapea, Kamus Budaya Batak Toba (Jakarta: Balai Pustaka:1987), hlm. 35; bdk. W. Hutagalung, Adat taringot tu Ruhut-ruhut ni Pardongan Saripeon di Halak Batak (Jakarta: [tanpa penerbit], 1963), hlm. 33.]

[9] D.J. Gultom Marpodang, Dalihan Na Tolu: Nilai Budaya Suku Batak (Medan: Armada, 1992), hlm. 274.

[10] Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba (Yogyakarta: Jendela, 2002), hlm. 94-95.

[11] Kata “stratifikasi” berbeda dengan “diferensiasi”. Dalam kata stratifikasi termuat kesan negatif: tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas sosial bersifat vertikal. Sementara itu, dalam kata diferensiasi termuat nada perbedaan tetapi perbedaan yang sifatnya positif (horizontal). [Lihat Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm. 264, 1095]

[12] Jaulahan Situmorang, Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon dohot Mula ni Paradaton-Mula ni Marga-Mula ni Umpasa (Pematangsiantar: [tanpa penerbit], 1965), hlm. 30-33.

[13] T.M. Sihombing, Jambar Hata: Dongan tu Ulaon Adat ([tanpa kota]: Tulus Jaya, 1989), hlm. 261.

[14] Basyral Hamidly, Hotman M. Siahaan, Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan terhadap Perilaku Batak Toba di Angkola-Mandailing (Jakarta: Sanggar Willem Iskandar, 1987), hlm. 133.

[15] Artinya: sulur halumpang [yang cukup rapuh] menjadi tali pengikat/penuntun lembu dan kerbau [yang sudah sangat tua] yang akan dibawa ke Lapogambiri. Semoga hidup panjang umur mengikuti para cucu sampai cicit-cicit.

 

[16] Antonius Bungaran Simanjuntak,  Konflik …., hlm. 103.

[17] Artinya: Tampak ke arah Purba, tetapi lebih tampak lagi ke arah Angkola. Tampak kita kalau makmur, tetapi lebih tampak lagi kita kalau kaya.

[18] T.M. Sihombing, Filsafat Batak: …, hlm. 105.

[19] W. Hutagalung, Adat …, hlm. 21-22.

[20] J. C. Vergouwen, Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba (Jakarta: Pustaka Azet, 1985), hlm. 305.

[21]  W. Hutagalung, Adat …, hlm. 134, 152.

[22] W. Hutagalung, Adat …, hlm. 191-192.

[23] Simamora, Serpulus Tano, “Boru …”, hlm. 10.

[24] T.M. Sihombing, Jambar …, hlm. 78.

[25] Edwin M. Loeb, Sumatera: Its History and People (Kuala Lumpur: Bangunan Loke Yew, 1972), hlm. 69.

[26] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan berdasarkan Edisi Jerman oleh P. Herman Embuiru (Ende: Nusa Indah, 1995), no. 357. Untuk pengutipan selanjutnya, cukup disingkat KGK diikuti nomor.

[27] Deshi Ramadhani, Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 51.

[28] KGK, no. 369.

[29] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 50.

[30] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 52.

[31] Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Kasih Setia dalam Suka Duka Pedoman Persiapan Perkawinan di Lingkungan Katolik (Jakarta: Triasco, 1997), hlm. 29.

[32] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 35.

[33] KGK, no. 371

[34] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 53-54.

[35] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 56.

[36] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 58-59.

[37] KGK, no. 372.

[38] Deshi Ramadhani, Lihatlah …, hlm. 62.

[39] Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern (GS), no. 02, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor,1993), hlm. 569. Selanjutnya disingkat GS diikuti dengan nomor.

[40] Surat Gembala KWI, Sayangilah Kehidupan: Pedoman Pastoral tentang Menghormati Kehidupan (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan, KWI, 1990), hlm.  8.

[41] Surat Gembala KWI, Sayangilah … , hlm. 12.

[42] AL. Budayapranata, Membangun Keluarga Kristiani (Yogyakarta: Kanisius,1981), hlm. 73.

[43] Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Kasih …, hlm. 39.

[44] AL.  Purwa Hadiwardoyo, Perkawinan Menurut Islam dan Katolik: Implikasinya dalam Kawin Campur (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 87-88.

[45] AL. Budayapranata, Membangun …, hlm. 26-27.

[46] AL. Budayapranata, Membangun…, hlm. 134.

[47] Bernard Cooke, Perkawinan Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 66-71.

[48] KWI, Kasih …, hlm. 44.

[49] KWI, Kasih …, hlm. 45.

[50] Paus Yohanes paulus II, Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (Keluarga), (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 30), diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1981), hlm. 34, no. 18. Selanjutnya akan disingkat FC saja diikuti nomor.

[51] Eligius Anselmus F. Fau, Persiapan Perkawinan Katolik (Ende: Nusa Indah, 1996), hlm. 59-60.

[52] GS, no. 48.

[53] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus …., hlm. 591.

[54] KGK, no 1664.

[55] KGK, no. 1644; bdk. KWI, Kasih …, hlm. 42.

[56] Kitab Hukum Kanonik 1983 (Codek Iuris Canonici 1983), diterjemahkan oleh sekrtariat KWI (Jakarta: Obor, 1991), Kan 1056. Selanjutnya disingkat Kan diikuti nomor; bdk. KWI, Kasih…, hlm. 41.

[57] Eligius Anselmus F. Fau, Persiapan…, hlm. 60; bdk. Kan 1057 §2

[58] AL.  Purwa Hadiwardoyo, Perkawinan …, hlm. 21.

[59] Kan1055 §1

[60] Eligius Anselmus F. Fau, Persiapan…, hlm. 57.

[61] GS,  no. 49.

[62] Karl-Heinz Peschke, Etika Kristiani,  jilid III: kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi (Maumere: Ledalero, 2003), hlm. 327.

[63] Karl-Heinz Peschke, Etika…, hlm. 328-329.

[64] FC, no. 14; bdk. GS, no. 50.

[65] FC, no. 36.

[66] Simamora, Serpulus Tano, “Boru …”, hlm. 12.

[67] Simamora, Serpulus Tano, “Boru …”, hlm. 13.

[68] “Pastoral Keluarga”, dalam http://www.hidupkatolik.com/2011/06/13/pastoral-keluarga, tanggal 29 Mei 2012.

[69] “Tanggung Jawab Pastor Paroki dalam hal Perkawinan”, dalam http://katolisitas.org/4888/tanggung-jawab-pastor-paroki-dalam-pastoral-perkawinan, tanggal 29 Mei 2012.

 

 

[70] bdk. Kan 515

[71] bdk. Kan. 1063,§4

[72] bdk. Kan 1063; GS, 47-52.

[73] bdk. Kan 1713-1716

[74] “Etika Pendampingan Pastoral”, dalam http://kutikata.blogspot.com/2008/12/etika-agama-dan-pendampingan-pastoral.html, tanggal 29 Mei 2012.

 

IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI (Yak 2:14-26)

Catatan Awal

             Sebutan “surat-surat katolik” secara tradisional dipakai untuk menunjuk kepada suatu kelompok tulisan dalam Perjanjian Baru yang mencakup surat Yakobus, 1-2 Petrus, 1-3 Yohanes, dan Yudas. Kelompok tujuh surat ini sering disebut sebagai surat-surat katolik karena tidak dialamatkan untuk gereja lokal tertentu, tetapi untuk gereja secara keseluruhan. Di sini kata “katolik” berasal dari kata Yunani katholikos (καθολικός) yang artinya umum, universal. Kata Yunani ini merupakan gabungan dari dua kata, yakni kata (κατά) yang artinya menurut atau mengenai dan holos (όλος) yang artinya keseluruhan. Maka, kata katholikos secara harafiah berarti mengenai keseluruhan atau bisa juga hanya diartikan sebagai universal, umum.

Pembahasan dalam tulisan sederhana ini adalah perikop Yak 2:14-26. Ada perdebatan serius di antara para pakar mengenai siapa yang mengarang Surat Yakobus. Bila Yakobus sungguh pengarangnya, maka ini tentunya Yakobus anak Alfeus (Mat 10:3), atau lebih mungkin Yakobus, saudara Tuhan Yesus (Gal 1:19; juga lihat Mrk 6:3). Terlebih-lebih, Yakobus adalah tokoh Gereja Perdana; Yesus yang bangkit menampakkan diri kepadanya (1Kor 15:7); ia menjadi pemimpin kedua jemaat Yerusalem (Kis 12:7), dan merupakan tokoh pemimpin dalam keterbukaan Gereja untuk menerima keanggotaan dari bangsa-bangsa lain (kafir), baik dalam memimpin sidang di Yerusalem dalam Kis 15 dan dalam peneguhannya atas karya Paulus di antara bangsa-bangsa kafir (Gal 2:9). Dialah tokoh yang dikunjungi Paulus dalam perjalanannya yang terakhir ke Yerusalem (Kis 21:17-18). Namun, seperti dalam masalah Surat-surat Pastoral dan Surat-surat Katolik, ada argumen kuat bahwa surat ini tidak diketahui pengarang sesungguhnya, hanya dianggap karangan Yakobus.

Perikop 2:14-26 adalah jantung surat Yakobus, yang memberikan dasar teoritis untuk hidup praktis. Perhatian utama Yakobus adalah ketekunan dalam bertobat kepada Allah dan berkembang dalam menghayati moralitas Injil. Ia melihat hubungan erat antara iman kepada Allah dan kasih kepada sesama, karena keduanya merupakan ciri iman perjanjian.

 

  1. Tesis Utama (2:14-17)

 

Pokok bahasan perikop ini yaitu bagaimana iman harus nyata dalam tindakan/karya cinta kepada yang lain. Haruslah dicatat bahwa tema iman dan karya merupakan benang merah surat Yakobus. Hal ini terutama dibahas dalam ayat 14-17.

Ayat 14: …seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman…. Berdasarkan Yak 1:3,6;2:1,5;5:15, Yakobus memaksudkan iman sebagai penerimaan bebas atas pewahyuan Allah yang menyelamatkan. …tidak mempunyai perbuatan? Kata ‘perbuatan’ di sini dimaksud sebagai ketaatan melaksanakan pewahyuan Allah dalam setiap aspek hidup. Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? ‘Keselamatan’ di sini mencakup keselamatan dari penghakiman (lihat Yak 2:3; 5:15). Pada waktu pengadilan terakhir, iman saja tidak mampu menyelamatkan. Pemikiran seperti ini tertemukan dalam Perjanjian Baru dan bukanlah merupakan hal baru (bdk. Luk 3:7-14; Mat 7:15-27; 5:16). Paulus sendiri yang menekankan peranan iman dalam Surat Roma; juga menuntut karya iman (1 Kor 13:2;15:58; 2 Kor 10:5-6; Gal 6:4-6).

Ayat 15: Analogi yang sederhana diungkapkan dalam ayat ini, “jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari …” Secara harfiah, kata “telanjang” (tidak mempunyai pakaian, nudus) bisa dibandingkan dengan Kej 2:25; 3:7. Dalam bahasa Yunani (gumnos) pada umumnya mengindikasikan kurangnya pakaian (seperti dalam Ayb 22:6; Yes 20:2,3; 58:7; 2 Mak 11:12), kadang-kadang menunjuk orang yang telanjang bulat (bdk. Mrk 14:52), tetapi di lain tempat menunjuk orang yang sedang tidak mengenakan ‘penutup tubuh’ (seperti pengalaman murid dalam Yoh 21:7; lih, juga Mat 25:36).

Ayat 16: Selamat jalan, kenakanlah kain panas …. Kata “menghangatkan” sering dilukiskan dalam Perjanjian Lama dengan memakai pakaian hangat (bdk. Hos 7:7) dan dalam Perjanjian Baru, yakni Mrk 14:54; Yoh 18:18,25. ….makanlah sampai kenyang adalah ungkapan vulgar yang biasa pada Tradisi Yunani kuno.

Mereka yang membiarkan pergi saudaranya yang kekurangan tanpa member mereka pakaian dan makanan akan diadili dalam pengadilan terakhir sebagaimana dikisahkan dalam Mat 25:41. Tampaknya, di sini, Yakobus banyak dipengaruhi juga oleh “doa Tuhan” (‘makanan sehari-hari’ dibandingkan dengan ‘apa yang perlu bagi tubuhnya’).

Ayat 17: Demikian…. Analogi atas pernyataan-pernyataan tentang iman dan karya dibuat eksplisit dengan kata ini. …halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati…. Iman tidak disertai perbuatan adalah lawan dari Gal 5:6. Hal itu tidak akan menyelamatkan pada kehidupan yang kekal (lihat 2:14). Karya bukanlah unsur tambahan, tetapi merupakan unsur hakiki dari iman. Surat ini tidak memberikan argument bahwa karya lebih utama dari iman, atau menekankan yang sebaliknya; surat ini tidak menimpakan satu di atas yang lain, tetapi menunjukkan betapa penting peranan iman dan karya, sebagaimana tubuh dan roh satu sama lain tidak dapat dipisahkan, keduanya harus bersatu. Perkataan saja tidak cukup tetapi harus didampingi perbuatan. Yakobus bukan mau mempertentangkan iman dan perbuatan, melainkan dia mau menekankan perlunya iman yang hidup.

 

  1. Beberapa Contoh Praksis (2:18-26)

Ayat 18: Tetapi mungkin ada orang berkata…. Kata “-mu” dan “-ku” yang muncul sesudahnya mau menentang beberapa orang yang hidup hanya oleh iman (kelompok spiritual). Juga, menekankan beberapa orang yang menekankan hanya karya tanpa iman. Ungkapan-ungkapan berikut: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” adalah jawaban Yakobus kepada para lawan-lawannya, menantang mereka untuk memberi bukti tentang eksistensi iman yang terpisah dari perbuatan-perbuatan.

Ayat 19: Engkau percaya hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Perjanjian Lama sangat menekankan keesaan Allah sebagai basis iman (Ul 6:4). Hal ini terdapat juga dalam Perjanjian Baru (Mrk 12:29; 1 Kor 8:4,6; Ef 4:6). Yakobus membandingkan iman tanpa perbuatan dengan iman setan-setan. Perbandingan itu diawali dengan menyebut ajaran utama yang dianut baik oleh Yakobus maupun para lawannya. Pernyataan ini dapat dibaca sebagai pernyataan sederhana tentang iman monoteis. Pengakuan ini bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah dikatakan dalam Perjanjian Lama (bdk. Ul. 6:4-5: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”). Pengakuan iman ini tidak diangkat untuk meragukan apa yang diyakini oleh para lawannya, tetapi untuk menunjukkan bahwa iman kepada Allah mempunyai implikasi praktis.

Setan-setan menjadi obyek kemarahan Allah. Mereka seakan-akan saja percaya kepada satu Allah. Semua menjadi kosong jika kehendak jauh dari Allah. Setan-setan dapat mengenal dan mengerti kebenaran religious, tetapi hal itu tidak menyelamatkan mereka, bahkan sebaliknya lebih mencelakakan mereka karena tidak melaksanakan dan mempraktikkan apa yang mereka kenal dan mengerti. Konstruksi verbal “meyakini bahwa Allah ada” (Yun. pisteuein hoti) sebagai ganti dari “percaya kepada Allah” menekankan penerimaan intelektual (dalam pikiran).

Ayat 20: …maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Dalam bahasa Yunani, ada permainan kata antara “tanpa perbuatan” (chōris ergōn) dan “kosong” (argē- dari a-ergos).

Ayat 21: Bukankah Abraham, bapa kita…. Yakobus memperkuat argumennya untuk melawan para musuhnya dengan menampilkan contoh iman Abraham, bapa kaum beriman (bdk. Kej. 15:6 dan 22:16-17). Gelar yang umum dipakai oleh orang Yahudi untuk Abraham adalah “bapa kita”. Bagi Paulus (bdk. Rm 4; Gal 3-4), Abraham adalah bapa orang percaya. …dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya…. Bentuk pasif mengimplisitkan adanya campur tangan yang ilahi. “Perbuatan-perbuatan” itu adalah ketika mempersembahkan Ishak. Ia rela mengorbankan anaknya sendiri ketika diminta oleh Allah (bdk. Kej. 22:1-18). Ketaatan iman itu diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran. Dalam ketaatan Abraham mengurbankan anaknya sendiri, iman dan perbuatan sungguh-sungguh saling terkait satu sama lain. Perbuatan menunjukkan iman dan iman menginspirasi perbuatan. Yak menggabungkan pernyataan tentang pembenaran Abraham (Kej 15:6) dengan ketaatannya (Kej 22). Dasar untuk kombinasi menyusul kemudian.

Ayat 22: …iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Ketaatan Abraham pada perintah Allah yang sulit itu mengindikasikan imannya yang kuat. Iman dan perbuatan itu adalah satu kesatuan. Hal itu dapat juga dibandingkan dengan “tubuh” dan “jiwa” yang merupakan satu kesatuan. Tubuh tanpa jiwa adalah tubuh (corpus) kosong dan tidak hidup. Tubuh menjadi hidup hanya oleh Roh.

Ayat 23: …genaplah nas…. Kej 15:6 dipakai sebagai kenabian yang terpenuhi/tergenapi oleh peristiwa dalam Kej 22 (lihat 1 Mak 2:52).  Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah”. Ketaatan iman menjadikan Abraham sebagai “sahabat Allah.” Lukisan tentang Abraham sebagai “sahabat Allah” berasal dari Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7. Allah berbicara dengan Abraham sebagai sahabat. Yesus memakai gelar ini pula untuk menyebut rasul-rasul-Nya: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15:15). Istilah ini tidak hanya digunakan untuk Abraham dan para rasul, tetapi juga untuk semua orang. Allah memanggil semua orang untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya. Ia ingin bersahabat akrab dan intim dengan semua orang seperti dengan Abraham dan para Rasul.

Tindakan Abraham kini dinyatakan “memenuhi” teks dalam Kej 15:6. Kata “memperhitungkan” (to reckon, Yun. logisomai) sering dipakai sebagai terminus technicus dalam LXX untuk mengungkapkan bahwa seseorang “sepadan dengan” atau “mempunyai berat/bobot yang sama dengan yang lain”. Pengurbanan Isak oleh Abraham, sebagaimana ditulis kembali dalam Yak 2:21 adalah bukti iman Abraham yang nyata dalam tindakannya. Dalam LXX, arti kata kerja dikaioō bukan “dibuat benar” tetapi “dinyatakan benar” (bdk. Ul 25:1; 1Raj 8:32; Sir 13:22; 42:2), sementara dalam Kel 23:7 kata itu lebih diartikan “melunasi/membenarkan” (to acquit).

Ayat 24: Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan…. Sebuah kesimpulan digambarkan dari Kitab Suci: apa yang benar dalam diri Abraham adalah benar secara universal. …karena perbuatan-perbuatan dan bukan hanya karena iman…. Jelas dari konteks bahwa, hal ini tidak bermaksud bahwa iman sejati tidak memadai untuk pembenaran, tetapi bahwa iman yang tidak disertai perbuatan tidaklah sejati.

Beberapa memberi hipotesis bahwa Yakobus hendak mengoreksi ajaran dan paham Paulus tentang pembenaran oleh iman. Namun, patut dicatat bahwa hipotesis itu tidak benar. Yakobus bukan menyerang Paulus atau secara radikal tidak menyetujuinya. Mereka berbicara mengenai dua masalah yang berbeda (lihat diskusi dia atas masalah tersebut dalam 1:19-25). Paulus melawan pandangan orang Yahudi bahwa prinsip keselamatan adalah menaati hukum. Dengan mewartakan Injil kepada orang kafir, ia menyadari bahwa Allah tidak berpihak dalam memilih semua untuk keselamatan – semua yang percaya kepada Allah dan Yesus Kristus. Jadi, dengan menghormati pembenaran mendasar di hadapan Allah, Paulus melihat bahwa justru bukan jumlah sedikit orang yang taat kepada hukum yang diselamatkan, melainkan semua yang percaya kepada janji Allah diundang kepada kehidupan. Itulah sebabnya: hukum melawan iman.

Yakobus berbicara mengenai masalah yang berbeda; ia mengandaikan pembenaran melalui iman dan menyinggung dua macam iman: iman yang aktif melawan iman yang mati. Ia mencoba memperlihatkan bahwa agama yang benar bukanlah hanya pengakuan dengan kata-kata, yang dilakukan orang yang bertobat dan kemudian ia lupakan. Agama yang sejati adalah iman perjanjian kepada Allah dan perjanjian kasih kepada sesama, yang menyatakan diri dalam tindakan kasih, yang adalah aktif dan hidup.

Ayat 25: Yakobus mengangkat pula contoh penghayatan iman Rahab. Contoh iman seorang perempuan pendosa diangkat sebagai contoh iman yang membawa keselamatan. Kisah itu diceritakan dalam kitab Yosua (Yos. 2:1-21; 6:17-25). Rahab, yang tinggal di antara suku Kanaan, menyelamatkan hidup dua mata-mata Israel yang dikirim oleh Yosua ke Yeriko. Tindakan penyelamatan ini didasarkan pada keyakinan imannya kepada Allah yang menyertai orang Israel (bdk. Yos. 2:9-13; bdk. Ibr. 11:31).

Tindakan Rahab di atas diganjari oleh orang Israel. Rahab dan keluarganya diselamatkan ketika orang Israel menyerang kota Yerikho. Tindakan ini pula dihormati sebagai salah seorang dari empat perempuan asing yang disebutkan dalam silsilah Tuhan Yesus (bdk. Mat. 1:5). Contoh iman perempuan berdosa ini memperlihatkan ajaran inti bahwa iman harus diungkapkan dalam perbuatan konkrit supaya bisa diselamatkan.

Ayat 26: Yakobus mengulang kembali pesan dan ajaran intinya dengan menampilkan sebuah analogi. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian pula iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Di sini Roh (Yunani: Pneuma) menunjuk kepada “nafas kehidupan” (bdk. Kej. 2:7, 6:17; Yeh. 37:8; Pkh. 7:7). Analoginya sangat jelas, yakni tubuh kita dihidupi oleh nafas. Jika kita tidak mempunyai nafas hidup, tubuh kita akan mati. Seperti Roh memberi hidup bagi tubuh sehingga tubuh dapat bergerak dan merasakan sesuatu, demikian pula kasih memberi hidup bagi iman. Perbuatan kasih memperlihatkan iman yang hidup.

Catatan Akhir

             “Iman tanpa perbuatan ada hakikatnya adalah mati”, demikian judul yang diberi oleh Kitab Suci LAI untuk perikop Yak 2:14-26. Secara filosofis, hakikat menunjuk esensi; yang satu menjadi tak bernilai tanpa yang lain. Maka Yakobus menolak spiritualisme (mendewakan iman teoritis), tetapi bukan juga “aktivisme” (mendewakan perbuatan, “Kerjaku adalah doaku!”): “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yak 2:18b). Iman yang sejati tampak dalam perbuatan nyata sehari-hari, pun dalam tindakan yang paling kecil dan sepele. Nilai dan kualitas dalam perkara besar ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana.

 

BIBLIOGRAFI

 Adamson, James. “The Epistle of James”, dalam The New International Commentary on The New Testament. New-York: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989.

 Bergant, Dianne – Robert J. Karris (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Judul asli:  The Collegeville Bible Commentary. Diterjemahkan oleh A.S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Jehadut, Alfons. “Iman dan Perbuatan (Yak 2:14-26)”, dalam http://biblikaindonesia. blogspot.com /2011 /10 /iman-dan-perbuatan-yak.html, tanggal 25 Mei 2012.

Leahy, Thomas W. “The Epistle of James”, dalam Raymond E. Brown – Joseph A. Fitzmyer – Roland E. Murphy (ed.). The New Jerome Biblical Commentary. London: Geoffrey Chapman, 1993.

Mahulae, Kristinus C. Surat-surat Katolik. Sinaksak: STFT St. Yohanes, [tanpa tahun]. (Diktat).

 

 

 

MENELADANI YESUS DAN BUNDA MARIA DALAM KERENDAHAN HATI

  1. Pengantar

Sebelum mendalami apa itu kerendahan hati ada baiknya kita berhenti sejenak melihat anekdot di bawah ini.

Konon pernah tinggal seorang sopir yang sombong di daerah Qi, di negara di China. Dia adalah sopir Perdana Menteri negara. Suatu hari, Perdana Menteri kebetulan melewati jalan di daerah rumah sopir Perdana Mentri itu. Beberapa tetangga yang melihatnya sedang mengantar Perdana Menteri dan sangat gembira. Salah satu tetangga sopir berlari ke rumah dan berkata kepada istri sopir, “Cepat! Lihat siapa yang mengemudi kereta Perdana Menteri? Suami Anda.” Sang istri berlari keluar untuk melihat suaminya mengemudi kereta Perdana Menteri. Dia melihat suaminya mengemudi kereta melewatinya dengan kepala terangkat tinggi di udara, sombong dan angkuh. Ketika sopir kembali ke rumah malam itu, istrinya tidak berbicara dengannya. Dia bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak bahagia.” Dia berkata, “Aku ingin bercerai denganmu.” Pengemudi itu sangat terkejut. Dia berkata, “Mengapa, Mengapa kamu bercerai denganku?” Dia menjawab, “Lihatlah Perdana Menteri, ia duduk dengan penuh kesopanan dalam kereta, ramah dan menyapa para penduduk. Tetapi kamu seorang sopir, namun kamu begitu sombong, itu sebabnya aku ingin meninggalkan kamu.” Sopir menyadari kesalahannya. Dia mengerti bahwa betapa penting menjadi lebih baik dan lebih rendah hati yang seharusnya dia lakukan untuk mendapatkan rasa hormat. Sejak hari itu dan seterusnya, ia menjadi lebih rendah hati. Perdana menteri melihat perubahan dalam dirinya. Dia bertanya kepada sopir, “Kenapa kau berubah sikap dan perilaku?” Sopir menjawab, “Istri saya menegur saya, dan saya pikir dia benar.” Perdana Menteri mengagumi perubahan dalam sikapnya, dan membawanya menghadap pada raja dan berkata, “Yang Mulia, sopir saya adalah seorang yang memiliki kebajikan, ia memiliki keberanian untuk mengoreksi kesalahan sendiri.” Memperhatikan hal itu, raja berkata, “Bagus! Dia harus diberi jabatan.” Sopir itu diberi jabatan seorang perwira. Dia jalani tugasnya dengan kerendahan hati, dan setelah itu hidup bahagia selamanya.

             Kerendahan hati merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita. Kerendahan hati merupakan tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.

Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata ‘praios’ (terjemahan Ingris: meek) artinya lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit (beatitudes) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut (praios), karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram (bahasa yang Yesus gunakan) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut (meek) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan (praios, praiotes). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/kelemahlembutan.

2. Kerendahan Hati Menurut Para Kudus

            Orang Kudus tidak ada yang hidup di dunia ini. Mereka hidup dan berbahagia di surga. Mereka disebut Kudus, karena hidupnya menghidupkan hidup yang menghidupi kehidupan. Tentulah dengan menghidupkan hidup itu mereka berjuang, rela menderita, berkanjang dan memancarkan kerendahan Hati Yesus dan Maria. Apa yang dikatakan oleh para Kudus tentang kerendahan Hati?

2.1 Menurut St. Benediktus (480-547)

Nilai-nilai yang termasuk kerendahan hati adalah ketaatan, kesabaran dan kesederhanaan. Ketaatan dan kesabaran berkaitan dengan kerendahan hati yang berhubungan dengan sikap hati, sedangkan kesederhanaan berhubungan dengan sikap yang dapat terlihat dari luar. St. Benediktus membagi kerendahan hati menjadi 12 hal: tujuh di antaranya berhubungan dengan sikap hati, dan lima di antaranya berhubungan dengan sikap yang terlihat dari luar.

Ketujuh sikap hati yang berdasarkan atas ketaatan dan kesabaran tersebut adalah: takut akan Tuhan, ketaatan kepada Tuhan, ketaatan kepada pembimbing spiritual, sabar dalam menanggung keadaan yang sukar, mau mengakui kesalahan kita (terutama kepada pembimbing spiritual), bersedia untuk menerima hal-hal yang tidak nyaman, dan melihat diri sendiri sebagai yang tidak utama. Sedangkan kelima sikap tubuh yang berhubungan dengan kesederhanaan adalah: menghindari pemegahan diri sendiri, hening, tertawa tidak berlebihan, tidak banyak bicara, dan kesederhanaan dalam bersikap.

2.2 Menurut St. Ignatius (1491-1556).

Terdapat tiga tingkatan kerendahan hati,

  1. ‘necessary humility‘: penyerahan diri kepada hukum Tuhan untuk menghindari dosa berat,
  2. ‘perfect humility’: ketidak-terikatan pada kekayaan ataupun kemiskinan, kesehatan ataupun sakit… yang terpenting adalah menghindari dosa dan kecenderungan berbuat dosa
  3. ‘most perfect humility’‘: sikap meniru Kristus, termasuk menerima dengan rela penderitaan (salib) dan penghinaan, dalam persatuan dengan Kristus, demi kasih kita kepada-Nya.

Menurut St. Ignatius, mengikuti teladan Yesus dan cara hidupNya adalah bentuk kerendahan hati yang paling sempurna yaitu jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih untuk hidup miskin seperti Kristus, menderita bersama-Nya daripada menjadi kaya dan dihormati dan dianggap bijak oleh dunia.Sikap ini didasari oleh kesadaran bahwa Allah mengasihi kita lebih daripada kita mengasihi diri sendiri, sehingga Ia telah menyerahkan DiriNya untuk membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati ini tidak dapat dibandingkan dengan segala pemahaman kita akan kebahagiaan menurut ukuran dunia. Ketetapan hati meninggalkan kebahagiaan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan surgawi adalah sikap kerendahan hati yang paling sempurna.

2.3 St. Fransiskus Asisi: Waspadalah terhadap kerendahan hati yang ‘palsu’ (‘false humility’)

Suku Eskimo yang mendiami Kutub Utara memiliki tehnik yang unik untuk berburu serigala sebagai santapan hariannya. Mereka menggunakan pisau yang sangat tajam, lalu merendamnya di dalam darah hewan lain. Darah yang menyelimuti pisau itu mereka biarkan membeku. Selanjutnya pisau yang sudah dilumuri darah beku tersebut, ditanam di dataran tinggi tempat serigala sering bermain. Pisau itu sendiri ditanam dengan posisi bagian ujung (mata pisau) mencuat ke atas.

            Dengan trik seperti itu, acapkali serigala datang dan mengendus-endus bau darah yang menyelimuti pisau tersebut. Tentu saja, mata pisau yang tajam dengan sendirinya melukai lidah si serigala. Walaupun demikian, udara yang dingin membuat sang serigala tidak merasa sakit, meski ia menjilati pisau yang tajam dan darahnya sendiri. Lama kelamaan serigala mati lemas karena kehabisan darah. Selanjutnya dapat ditebak! Suku Eskimo dapat dengan mudah membawa serigala itu untuk dijadikan santapan.

Dunia dan kemajuan sekarang sering menawarkan kenikmatan dan menjadikan manusia menjadi mahluk penikmat (carpe diem). Kaum religius juga boleh jadi masuk dalam kelemahan ini. Tidak usah bersusah-susah, semua tersedia. Dengan demikian, inti kekristenan – SALIB – menjadi kurang/tidak laku dan ditinggalkan. Umumnya yang dicari adalah yang cepat saji, yang instant, yang mudah, yang nikmat. Hal ini membuatanya terpana dan jatuh pada jurang yang dalam dan mengerikan. Daya juang berkurang dan tidak sanggup berkanjang karena tergiur akan kenikmatan badani.

St. Fransiskus mengingatkan kita, agar jangan mempunyai sikap kerendahan hati yang ‘palsu’ Misalnya, dengan mengatakan bahwa kita lemah dan tidak bisa apa-apa, tetapi begitu orang lain memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita katakan itu, lalu kita menjadi kecewa. Atau, kita merendah supaya kemudian dipuji orang. Ini adalah kerendahan hati yang palsu. Kerendahan hati yang sesungguhnya tidak mengatakan tentang diri sendiri bahwa ’saya ini rendah hati.” Kerendahan hati yang sesungguhnya berkaitan dengan menyembunyikan diri dalam artian tidak menonjolkan diri untuk dipuji, dan menyatakan kebajikan hanya untuk maksud mengasihi.
St. Fransiskus juga menekankan supaya kita tidak menggunakan alasan ‘tidak layak’ atau ‘aku masih berdosa’, sehingga kita tidak mau berdoa, atau tidak mau membagikan talenta untuk melayani Gereja, pun juga tidak mau melayani sesama. Menurutnya, ini tindakan tidak baik (evil) karena menyembunyikan cinta diri di balik kedok kerendahan hati. Jika kita tinggal dalam kepalsuan, hal itu akan membawa kenikmatan tersendiri bagi kita dan hal itu sulit diobah. Akhirnya kita seperti serigala tersebut, mati sendiri karena kebodohannya. Yang tidak mau melepaskan diri dari kenikmatan yang membawa maut.

Sebenarnya masih banyak pendapat yang diungkapkan oleh para Kudus dan mereka menghidup apa yang mereka ungkapkan itu. Hal itu masih bisa kita gali lain kali atau kita baca dari sumber lain.

3. Kerendahan Hati Bunda Maria: Tinjauan Biblis atas Luk 1: 26-38//46-56[2]

Injil mengisahkan dialog malaikat Gabriel dan Maria. Penginjil menegaskan bagaimana Yesus dikandung dan dilahirkan secara istimewa, jauh melebihi Yohanes Pemandi. Yesus lahir dari seorang perawan, anak manusia yang murni dan dikandung berkat kekuatan Roh Kudus, maka disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Janji Allah kepada Daud kini dipenuhi. Tuhan memilih dan membangun kediaman yang pantas bagi-Nya dan Roh Kuduslah yang melakukan itu. Lewat karya Roh Kudus Sabda Allah kini menjelma di tengah-tengah manusia. Putera Allah diam di tengah-tengah kita.

Siapakah Maria yang telah dipilih Allah menjadi ‘rumah’ yang mengandung dan melahirkan Putera-Nya. Di Jerusalem terdapat banyak gadis cantik, kaya, terpelajar, puteri kaum bangsawan atau imam agung. Tetapi Allah menjatuhkan pilihannya pada Maria, gadis dusun, tempat kelahirannya pun tak terkenal di Galilea. Terhadap sapaan Allah yang istimewa itu, Maria terkejut. Awalnya Maria menanggapi sabda Allah dengan pertimbangan manusiawi, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi sebab aku belum bersuami?” Allah menuntut penyerahan diri yang utuh. Dalam iman, Maria menjawab, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Maria menjawab panggilan Tuhan bukan dengan logika dan pertimbangan manusiawi. Iman dan keyakinan bahwa tangan Tuhan, Roh Allah menaungi dia, membuat Maria menyerahkan diri dalam tangan Tuhan.

Terpilih, terpanggil menjadi Ibu Tuhan, bagi Maria bukan sesuatu yang mesti digembar-gemborkan. Sebaliknya, merupakan sebuah tugas dan pelayanan. Maria peka dan tanggap akan apa yang mesti dibuat. Ia pergi melintasi pegunungan untuk mengunjungi Elisabet yang sudah hamil tua. Maria hadir memberi bantuan, mengulurkan tangan bagi orang yang sedang mengalami kesulitan seperti Elisabeth yang mengandung pada masa tuanya. Ibu Tuhan datang melayani. Maria tinggal di sana selama tiga bulan. Periode yang cukup lama untuk memberi bantuan bagi seorang tua yang baru melahirkan.

Maria menyerahkan diri menjadi alat di tangan Tuhan, supaya rencana Allah menyelamatkan dunia terwujud. Pilihan Tuhan tidak berarti mengecualikan Maria dari cobaan dan tantangan. Justru orang beriman seperti Maria mengalami pergumulan yang berat, tetapi ia selalu kembali pada pilihan dasar hidupnya, menjadi hamba dan alat Tuhan. Kebesaran Maria ada pada penyerahan dirinya secara menyeluruh terhadap tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam karya yang dimulai Allah dalam dirinya.

3.1 Yesus, teladan kerendahan hati yang sempurna

Tuhan telah memberikan pada kita contoh yang sempurna dalam hal kerendahan hati, yaitu Yesus Kristus, Putera-Nya. Kerendahan hati-Nya tercermin dalam dua hal utama: Pertama, untuk menyelamatkan kita, Yesus yang adalah Tuhan mau menjelma menjadi manusia, tergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa. Yesus, “Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia… Dan Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-8). Inilah yang kita kenal dengan Inkarnasi dan Kenosis.[3]

Kedua, Yesus merendahkan diri dengan ketaatan-Nya untuk melaksanakan tugas misi yang diterima-Nya dari Allah Bapa, yaitu untuk menyelamatkan kita, para pendosa (Rom 5:8), termasuk dengan segala keadaan yang berkaitan dengan tugas penyelamatan itu. Seluruh hidup-Nya adalah cerminan kerendahan hati yang sempurna: lahir di kandang, hidup miskin sepanjang hidup-Nya di dunia (2 Kor 8:9), dipukuli, dihina, dilucuti pakaian-Nya, dan wafat di Salib.

3.2 Bunda Maria, Teladan Kerendahan Hati

Selain Kristus, Bunda Maria adalah contoh yang sempurna tentang kerendahan hati dan kesempurnaan kasih. Kerendahan hati Maria-lah yang mendorong Allah untuk memilihnya sebagai ibu Putera-Nya Yesus. Bunda Maria menyadari bahwa ia dikaruniai oleh rahmat yang istimewa dengan menjadi Bunda Allah yang Mahatinggi, namun ia tetap rendah hati, dengan menganggap dirinya sebagai hamba di hadapan Allah. Ia hanya mencari kehendak Tuhan, dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38).” Melalui kidung Magnificat, kita mengetahui bahwa Maria menganggap segala yang baik pada dirinya sebagai karunia belas kasih Tuhan. Dengan rahmat Tuhan, Bunda Maria hidup dengan rendah hati, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan dan sesama, dan bekerja sama dengan misi Keselamatan Kristus.[4]

Gereja  Katolik memperingati “Maria menerima khabar gembira”. Dan sebenarnya inilah awal mula sejarah keselamatan umat manusia. Allah telah  memilih Maria, seorang perawan, untuk menjadi Bunda Allah. Injil Lukas 1:26-38, menceriterakan  bagaimana  malaikat Gabriel memperlihatkan diri kepada Perawan Maria, bahwa Maria akan mengandung seorang anak laki-laki yang harus diberi nama Yesus. Tentu saja Perawan Maria merasa gundah, karena ia belum bersuami. Apa yang menjadi  gejolak hati Perawan Maria sudah diketahui oleh Allah. “Roh Kudus  akan turun atas kamu dan kuasa Allah yang  Maha tinggi akan menaungi engkau; sebab  itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”. Mendengar kata-kata itu Perawan Maria tentu makin terkejut, namun akhirnya ia mengatakan:” Sesungguhnya aku hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.[5]

Dengan menerima khabar gembira itu, maka Maria  menyerahkan sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi. Ia menerima dengan suka rela. Ia taat akan penyelenggaraan Ilahi. Ia mau bekerjasama dengan Allah akan hal-hal yang terjadai pada dirinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sering menjadi teladan hidup kita, terutama dalam kerendahan hati, serta ketaatannya  kepada Allah.

4. Meneladani Yesus dan Maria dalam hal kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah

Ungkapan di atas mendorong kita mencintai Tuhan dan sesama. Cinta kasih merupakan pengikat kita untuk sampai pada kesempurnaan hidup. Tak ada yang lebih perlu dalam kehidupan bersama selain daripada cinta kasih. Banyak contoh dari cinta kasih ini, misalnya mau mendengarkan dengan sepenuh hati, mau mengampuni dengan ketulusan, menghargai orang lain, tidak menganggap diri yang paling bagus, suci dll. Cinta kasih juga berarti bersedia menerima orang lain apa adanya, lebih senang memberi daripada diberi , lebih senang melayani daripada dituntut. Cinta kasih juga berarti rela berkorban demi sesamanya.

Bunda Maria sangat berperan di dalam karya keselamatan manusia. Seandainya Bunda Maria waktu itu menolak menjadi bunda Yesus, apa jadinya. Apakah keadaannya seperti sekarang ini? Nobody knows, kata orang. Ada begitu banyak gelar untuk Maria. Semuanya itu  adalah dalam rangka menghormati peran Bunda Maria di dalam karya keselamatan umat manusia.

Maria, dalam nama yang agung itu, terdapat banyak hal yang dapat menuntun kita kepada hidup yang lebih baik. Salah satu diantaranya adalah: Maria menjadi teladan kerendahan hati. Hati adalah pusat dan pengendali tubuh dan jiwa. Hati Maria sungguh suci dan terberkati, sehingga mampu menerima dan menyimpan segala misteri ilahi yang dipercayakan Allah kepadanya.

Dalam kerendahan hati yang tanpa batas, Maria menanggung deritanya mulai dari pemberitahuan malaikat bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus sampai dengan wafat dan kebangkitan Yesus putranya. Umat manusia yang percaya kepada Yesus, mengakui Maria sebagai Bunda Putera Allah. Teladan itulah yang diwariskan kepada kita. Memiliki hati yang lembut, penuh kasih dan kerendahan hati, merupakan hal yang harus diperjuangkan dan di upayakan terus menerus dalam hidup harian kita.

 

                [1] Sr. M. Secilia Siringoringo, FCJM, Menabur Kasih Menua Damai, (Pematangsiantar: tp, 2005), hlm. 24-26.

                [2] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 36-57, 59-66, bdk. Juga Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (judul asli: The Collegeiville Bible Commentary), diterjemahkan oleh A. S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 116-119.

                [3] Tom Jacobs, Yesus Anak Maria, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 28-29.

                [4] Tom Jacobs, Yesus Anak Maria, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 48.

                [5] Tom Jacobs, Yesus Anak Maria, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 43-44.

                [6] Sr. M. Secilia Siringoringo, FCJM, Menabur …, hlm. 24.

                [7] Bdk. Br. Theo Riyanto dan Br. Martin Handoko, FIC, “Membangun Hidup Religius yang Damai dan Sejahtera” (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm.125-126.

                [8] Muder M. Clara Pfänder, dalam Sr. M. Secilia Siringoringo, FCJM, “Menabur …,” hlm. 25.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑